Al-Ishabah - 615. Al-Bara` bin 'Azib

٦١٥ – الۡبَرَاءُ بۡنُ عَازِبِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ عَدِيِّ بۡنِ جُشَمِ بۡنِ مَجۡدَعَةَ بۡنِ حَارِثَةَ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الۡأَوۡسِ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡأَوۡسِيُّ

615. Al-Bara` bin ‘Azib bin Al-Harits bin ‘Adi bin Jusyam bin Majda’ah bin Haritsah bin Al-Harits bin ‘Amr bin Malik bin Al-Aus Al-Anshari Al-Ausi

يُكۡنَى أَبَا عُمَارَةَ، وَيُقَالُ أَبُو عَمۡرٍو، وَلَهُ وَلِأَبِيهِ صُحۡبَةٌ، وَلَمۡ يَذۡكُرِ ابۡنُ الۡكَلۡبِيِّ فِي نَسَبِهِ مَجۡدَعَةَ وَهُوَ أَصۡوَبُ.
Berkunyah Abu ‘Umarah, disebut pula Abu ‘Amr. Beliau dan ayahnya adalah shahabat Nabi. Ibnul Kalbi tidak menyebutkan Majda’ah dalam nasab beliau dan dia lebih tepat.
قَالَ أَحۡمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ عَنۡ شُرَيۡكٍ عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ عَنِ الۡبَرَاءِ قَالَ: اسۡتَصۡغَرَنِيِ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمَ بَدۡرٍ أَنَا وَابۡنَ عُمَرَ فَرَدَّنَا، فَلَمۡ نَشۡهَدۡهَا.
Ahmad berkata: Yazid menceritakan kepada kami dari Syuraik dari Abu Ishaq dari Al-Bara`, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapku dan Ibnu ‘Umar masih kecil pada hari perang Badr sehingga beliau menolak kami ikut berperang. Jadi kami tidak mengikuti perang Badr.
وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ فِي مُسۡنَدِهِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، سَمِعَ الۡبَرَاءَ يَقُولُ: اسۡتُصۡغِرۡتُ أَنَا وَابۡنُ عُمَرَ يَوۡمَ بَدۡرٍ.
Abu Dawud Ath-Thayalisi berkata di Musnadnya: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, beliau mendengar Al-Bara` berkata: Aku dan Ibnu ‘Umar dianggap terlalu muda pada perang Badr.
وَرَوَاهُ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡسَجَةَ عَنِ الۡبَرَاءِ نَحۡوَهُ، وَزَادَ: وَشَهِدۡتُ أُحُدًا، أَخۡرَجَهُ السَّرَّاجُ.
‘Abdurrahman bin ‘Ausajah meriwayatkan yang semisal itu dari Al-Bara`. Beliau menambahkan: Namun aku mengikuti Uhud. As-Sarraj mengeluarkan riwayat ini.
وَرُوِيَ عَنۡهُ أَنَّهُ غَزَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَرۡبَعَ عَشۡرَةَ غَزۡوَةً. وَفِي رِوَايَةٍ خَمۡسَ عَشۡرَةَ، إِسۡنَادُهُ صَحِيحٌ.
Diriwayatkan dari beliau, bahwa beliau berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak empat belas peperangan. Dalam satu riwayat, lima belas. Sanadnya sahih.
وَعَنۡهُ قَالَ: سَافَرۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَفَرًا، أَخۡرَجَهُ أَبُو ذَرٍّ الۡهَرَوِيُّ.
Dari beliau pula, beliau berkata: Aku bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam delapan belas perjalanan. Abu Dzarr Al-Harawi mengeluarkan riwayat ini.
وَرَوَى أَحۡمَدُ مِنۡ طَرِيقِ الثَّوۡرِيِّ عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ عَنِ الۡبَرَاءِ قَالَ: مَا كُلُّ مَا نُحَدِّثُكُمُوهُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ سَمِعۡنَاهُ مِنۡهُ، حَدَّثَنَاهُ أَصۡحَابُنَا، وَكَانَ يَشۡغَلُنَا رِعۡيَةُ الۡإِبِلِ.
Ahmad meriwayatkan dari jalan Ats-Tsauri dari Abu Ishaq dari Al-Bara`, beliau berkata: Tidak setiap yang kami ceritakan kepada kalian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami dengar langsung dari beliau. Tapi ada hadits yang diceritakan oleh shahabat kami karena dahulu kami sibuk mengurus unta.
وَهُوَ الَّذِي افۡتَتَحَ الرَّيَّ سَنَةَ أَرۡبَعِ وَعِشۡرِينَ[1] فِي قَوۡلِ أَبِي عَمۡرٍو الشَّيۡبَانِيِّ وَخَالَفَهُ غَيۡرُهُ، وَشَهِدَ غَزۡوَةَ تُسۡتَرَ مَعَ أَبِي مُوسَى، وَشَهِدَ الۡبَرَاءُ مَعَ عَلِيٍّ الۡجَمَلَ وَصِفِّينَ، وَقِتَالَ الۡخَوَارِجِ، وَنَزَلَ الۡكُوفَةَ وَابۡتَنَى بِهَا دَارًا وَمَاتَ فِي إِمَارَةِ مُصۡعَبِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، وَأَرَّخَهُ ابۡنُ حِبَّانَ سَنَةَ اثۡنَتَيۡنِ وَسَبۡعِينَ. وَقَدۡ رَوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ جُمۡلَةً مِنَ الۡأَحَادِيثِ، وَعَنۡ أَبِيهِ وَأَبِي بَكۡرٍ وَعُمَرَ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ أَكَابِرِ الصَّحَابَةِ. وَرَوَى عَنۡهُ مِنَ الصَّحَابَةِ أَبُو جُحَيۡفَةَ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ يَزِيدَ الۡخَطۡمِيُّ، وَجَمَاعَةٌ آخِرُهُمۡ أَبُو إِسۡحَاقَ السَّبِيعِيُّ.
Beliaulah yang menaklukkan Rayy pada tahun 24 H menurut pendapat Abu ‘Amr Asy-Syaibani, namun selain beliau menyelisihi pendapat tersebut. Beliau mengikuti perang Tustar bersama Abu Musa. Al-Bara` mengikuti perang Jamal, Shiffin, dan memerangi Khawarij bersama ‘Ali. Beliau tinggal di Kufah dan membangun rumah di sana. Beliau meninggal pada masa pemerintahan Mush’ab bin Az-Zubair. Ibnu Hibban memastikannya terjadi pada tahun 72 H. Beliau meriwayatkan sejumlah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga dari ayah beliau, Abu Bakr, ‘Umar, dan lain-lain dari kalangan pembesar shahabat. Dan diriwayatkan dari beliau dari shahabat oleh Abu Juhaifah, ‘Abdullah bin Yazid Al-Khathmi, dan sekelompok tabi’in. Yang paling akhirnya adalah Abu Ishaq As-Sabi’i. 

[1] انۡظُرۡ: (تَارِيخَ الۡيَعۡقُوبِيِّ) (٢/١٥٦) (٢/١٩٧) وَ(طَبَقَاتِ ابۡنِ سَعۡدٍ) (٧/٤٠٩) وَ(مروج الذهبِ) (٣/٢١١) (٣/٣٧١).

Astrologi Dalam Islam

Al Ustadz Ahmad Hamdani

"Motivasi yang menggebu-gebu untuk mengejar tujuan sangat membantu karier atau studi. Kali ini adalah peluang baik untuk memulai obsesi yang terpendam selama ini. Buatlah kesempatan."

Tunggu dulu! Jangan terburu-buru saudara menyangka saya mengetahui masa depan dan aktivitas saudara terutama bagi saudara yang terlahir pada tanggal 23 Oktober - 21 November atau seringnya orang menyebut saudara berbintang Scorpio. Akan tetapi kalimat di atas adalah secuplik kalimat ramalan astrolog yang kami ambil dari sebuah koran ternama di kota pelajar dalam rubrik perbintangan.

Dilihat dari nama rubriknya, dapat diketahui bahwa dasar pemikiran para astrolog atau yang sejalan pemikirannya dengan mereka adalah letak dan konfigurasi bintang-bintang di langit. Misalnya, bila letak gugusan bintang Bima Sakti di arah A lalu kebetulan ada seorang bayi lahir tepat pada malam ketika bintang itu terbit maka diramalkan bayi itu akan menjadi orang terkenal setelah besar nanti.

Apabila kita perhatikan ramalan di atas, akan terlihat bahwa si peramal mencoba atau seolah-olah mengetahui hal-hal ghaib. Seakan ia mampu membaca dan menentukan nasib seseorang. Dengan dasar ini ia memerintah dan melarang pasiennya untuk berbuat sesuatu. Bahkan ia sering menakut-nakutinya meskipun akhirnya memberi kabar gembira atau hiburan dengan kata-kata manis. Bagi orang yang senang akan rubrik seperti tersebut di atas atau yang suka membaca buku-buku astrologi (ramalan-ramalan bohong) terkadang ramalan itu cocok dengan keadaan yang di alami. Namun yang menjadi permasalahan, dari mana pikiran peramal itu mencuat? Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah ini?

Sesungguhnya perkara-perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui. Dan ini adalah hak prerogatif Allah semata, selain makhluk yang Ia beritahukan tentangnya, seperti sebagian Malaikat dan para Rasul sebagai mukjizat. Dalam hal ini, Allah berfirman:
عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ۝٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدًا
"(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya." (QS. Al Jin : 26-27)

Barangsiapa mengaku mengetahui perkara atau ilmu ghaib selain orang yang dikecualikan sebagaimana ayat di atas, maka ia telah kafir. Baik mengetahuinya dengan perantaraan membaca garis-garis tangan, di dalam gelas, perdukunan, sihir, dan ilmu perbintangan atau selain itu. Yang terakhir ini yang biasa dilakukan oleh paranormal. Bila ada orang sakit bertanya kepadanya tentang sebab sakitnya maka akan dijawab: "Saudara sakit karena perbuatan orang yang tidak suka kepada saudara." Dari mana dia tahu bahwa penyebab sakitnya adalah dari perbuatan seseorang, sementara tidak ada bukti-bukti yang kuat sebagai dasar tuduhannya? Sebenarnya hal ini tidak lain adalah karena bantuan jin dan para syaithan. Mereka menampakkan kepada khalayak dengan cara-cara di atas (melihat letak bintang, misalnya) hanyalah tipuan belaka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Para dukun dan yang sejenis dengan mereka sebenarnya mempunyai pembantu atau pendamping (qarin) dari kalangan syaithan yang mengabarkan perkara-perkara ghaib yang dicuri dari langit. Kemudian para dukun itu menyampaikan berita tersebut dengan tambahan kedustaan. Di antara mereka ada yang mendatangi syaithan dengan membawa makanan, buah-buahan, dan lain-lain (untuk dipersembahkan) … . Dengan bantuan jin, mereka ada yang dapat terbang ke Makkah atau Baitul Maqdis atau tempat lainnya." (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)

Sungguh benar kabar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengenai syaithan yang mencuri berita dari langit. Diceritakan dalam sebuah hadits: Tatkala Allah memutuskan perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayap, mereka merasa tunduk dengan firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap itu bunyi gemerincing rantai di atas batu besar. Ketika telah hilang rasa takut, mereka saling bertanya: "Apakah yang dikatakan Rabbmu? Dia berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar." Lalu firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit. Para pencuri berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu melemparkan hasil curiannya itu kepada teman di bawahnya. (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu)

Seorang dukun atau paranormal yang memberitakan perkara-perkara ghaib sebenarnya menerima kabar dari syaithan itu dengan jalan melihat letak bintang untuk menentukan atau mengetahui peristiwa-peristiwa di bumi, seperti letak benda yang hilang, nasib seseorang, perubahan musim, dan lain-lain. Inilah yang biasa disebut ilmu perbintangan atau tanjim. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: "… Kemudian melemparkan benda itu kepada orang yang di bawahnya sampai akhirnya kepada dukun atau tukang sihir. Terkadang setan itu terkena panah bintang sebelum menyerahkan berita dan terkadang berhasil. Lalu setan itu menambah berita itu dengan seratus kedustaan." (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu)

Meskipun demikian, masih banyak orang yang mempercayai dan mau mendatangi peramal atau astrolog atau para dukun, bukan saja dari kalangan orang yang berpendidikan dan ekonomi rendahan bahkan dari orang-orang yang berpendidikan dan berstatus sosial tinggi. Perbuatan orang yang mendatangi atau yang didatangi dalam hal ini para dukun sama-sama mendapatkan dosa dan ancaman keras dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berupa dosa syirik dan tidak diterima shalatnya selama 40 malam.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang mendatangi dukun dan menanyakan tentang sesuatu lalu membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya 40 malam." (HR. Muslim dari sebagian istri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam)

Pada kesempatan lain, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga mengancam mereka tergolong orang-orang yang ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: "Barangsiapa yang mendatangi dukun (peramal) dan membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia telah ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam." (HR. Abu Dawud)

Ancaman dalam hadits di atas berlaku untuk yang mendatangi dan menanyakan, baik membenarkan atau tidak. (Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh 1979)

Tujuan Penciptaan Bintang-Bintang


Alam dan segala isinya diciptakan dengan hikmah karena diciptakan oleh Dzat yang memiliki sifat Maha Memberi Hikmah dan Maha Mengetahui. Dia Maha Mengetahui apa yang di depan dan di balik ciptaan-Nya. Sehingga mustahil Allah mencipta makhluk dengan main-main. Sebab itu, kewajiban atas makhluk-Nya ialah tunduk dan menerima berita, perintah, dan larangan-Nya. Sebagai contoh, yang berhubungan dengan pembahasan kali ini ialah penciptaan bintang-bintang di langit.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan bahwa penciptaan bintang-bintang itu ialah untuk penerang, hiasan langit, penunjuk jalan, dan pelempar setan yang mencuri wahyu yang sedang diucapkan di hadapan para malaikat. Sebagaimana Dia firmankan:
وَلَقَدۡ زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَـٰبِيحَ وَجَعَلۡنَـٰهَا رُجُومًا لِّلشَّيَـٰطِينِ
"Dan sungguh, Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan." (QS. Al Mulk : 5)

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan bintang-bintang itu untuk tujuan sebagai hiasan langit, alat pelempar setan, dan rambu-rambu jalan. Maka barangsiapa mempergunakannya untuk selain tujuan itu, sungguh terjerumus ke dalam kesalahan, kehilangan bagian akhiratnya, dan terbebani dengan satu hal yang tak diketahuinya. (Perkataan dalam kitab Shahih Bukhari di atas adalah ucapan Qatadah rahimahullah)

Hukum Mempelajari Ilmu Falak


Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum mempelajari ilmu perbintangan atau ilmu falak (astrologi). Qatadah rahimahullah (seorang tabi'in) dan Sufyan bin Uyainah (seorang ulama hadits, wafat pada tahun 198 H) mengharamkan secara mutlak mempelajari ilmu falak. Sedangkan Imam Ahmad dan Ishaq rahimahullah memperbolehkan dengan syarat tertentu. Menurut Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz As Sulaiman Al Qarawi --yang berusaha mengkompromikan perbedaan pendapat para ulama di atas-- bahwa mempelajarinya adalah: 

Pertama, kafir bila meyakini bintang-bintang itu sendiri yang mempengaruhi segala aktivitas makhluk di bumi. Ini yang pertama.

Kedua, mempelajarinya untuk menentukan kejadian-kejadian yang ada, akan tetapi semua itu diyakini karena takdir dan kehendak-Nya. Maka yang kedua ini hukumnya haram.

Ketiga, mempelajarinya untuk mengetahui arah kiblat, penunjuk jalan, waktu, menurut jumhur ulama hal ini diperbolehkan (jaiz).

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa mengaku mengetahui ilmu ghaib menyebabkan pelakunya kafir. Sedangkan mendatangi dukun dan bertanya kepadanya, hukumnya haram, baik ia membenarkan atau tidak. Dan yang disebut dukun sekarang ini banyak julukannya. Kadang ia disebut orang pintar atau paranormal, astrolog, fortuneteller, atau yang lainnya. Walaupun begitu, hakikatnya sama saja. Penggunaan julukan yang berbeda-beda hanyalah sebagai pelaris dagangan saja (atau agar terkesan tidak ketinggalan jaman). Hal ini karena mempelajari ilmu falak yang ditujukan untuk meramal nasib atau mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan tindakan kekufuran. Tujuan penciptaan bintang adalah sebagaimana yang telah diterangkan Allah dan para ulama, bukan untuk mengetahui perkara ghaib seperti yang diyakini oleh sebagian besar astrolog. Ayat yang mengatakan:
وَعَلَـٰمَـٰتٍ ۚ وَبِٱلنَّجۡمِ هُمۡ يَهۡتَدُونَ
"Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka (mendapat petunjuk)." (QS. An Nahl : 16)

Maksudnya, agar manusia mengetahui arah jalan dengan mengetahui letak bintang-bintang, bukan untuk mengetahui perkara ghaib. Banyak hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang mengharamkan dan melarang mempelajari ilmu nujum (perbintangan) dengan tujuan yang dilarang syariat, seperti hadits:
مَنِ اقۡتَبَسَ عِلۡمًا مِنَ النُّجُومِ اقۡتَبَسَ شُعۡبَةً مِنَ السِّحۡرِ
"Barangsiapa mempelajari satu cabang dari cabang ilmu nujum (perbintangan) sungguh ia telah mempelajari satu cabang ilmu sihir … ." (HR. Ahmad[1], Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

Sementara Islam mengharamkan orang yang menyihir atau meminta sihir. Dan mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan perkara yang membatalkan atau menggugurkan tauhid dan keimanan orang karena menandingi Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam sifat Rububiyah. (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)

Wallahul Musta'an.

[1] Hadits hasan, dihasankan oleh Syaikh Ibnu Alis Sinan dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' nomor 5950 dan dalam Ash Shahihah nomor 793.

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-32 Tahun ke-1 / 25 Juli 2003 M / 25 Jumadil Ula 1424 H.

Al-Ishabah - 900. Tsabit bin Qais

٩٠٠ – ثَابِتُ بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ شَمَّاسِ بۡنِ زُهَيۡرِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡخَزۡرَجِيُّ

900. Tsabit bin Qais bin Syammas bin Zuhair bin Malik bin Umru`ul Qais bin Malik bin Tsa’labah bin Ka’b bin Al-Khazraj Al-Anshari Al-Khazraji

خَطِيبُ الۡأَنۡصَارِ، رَوَى ابۡنُ السَّكَنِ مِنۡ طَرِيقِ ابۡنِ أَبِي عَدِيٍّ عَنۡ حُمَيۡدٍ عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: خَطَبَ ثَابِتُ بۡنُ قَيۡسٍ مَقۡدَمَ رَسُولِ اللهِ ﷺ الۡمَدِينَةَ، فَقَالَ: نَمۡنَعُكَ مِمَّا نَمۡنَعُ مِنۡهُ أَنۡفُسَنَا وَأَوۡلَادَنَا، فَمَا لَنَا؟ قَالَ: (الۡجَنَّةُ)، قَالُوا: رَضِينَا. وَقَالَ جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ عَنۡ ثَابِتٍ عَنۡ أَنَسٍ: كَانَ ثَابِتُ بۡنُ قَيۡسٍ خَطِيبَ الۡأَنۡصَارِ.
Beliau adalah khatib orang Anshar. Ibnus Sakan meriwayatkan dari jalan Ibnu Abu ‘Adi dari Humaid dari Anas, beliau berkata: Tsabit bin Qais berkhotbah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah. Tsabit bin Qais berkata: Kami melindungi engkau dari setiap apa yang kami lindungi diri-diri dan anak-anak kami darinya. Lalu apa yang akan kami dapatkan? Rasulullah menjawab, “Surga.” Orang-orang Anshar berkata: Kami ridha. Ja’far bin Sulaiman berkata dari Tsabit dari Anas: Tsabit bin Qais adalah khatibnya orang Anshar.
يُكۡنَى أَبَا مُحَمَّدٍ، وَقِيلَ أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، لَمۡ يَذۡكُرۡهُ أَصۡحَابَ الۡمَغَازِي فِي الۡبَدۡرِيِّينَ، وَقَالُوا: أَوَّلُ مَشَاهِدِهِ أُحُدٌ وَشَهِدَ مَا بَعۡدَهَا، وَبَشَّرَهُ النَّبِيُّ ﷺ بِالۡجَنَّةِ فِي قِصَّةٍ شَهِيرَةٍ، رَوَاهَا مُوسَى بۡنُ أَنَسٍ عَنۡ أَبِيهِ، أَخۡرَجَ أَصۡلَ الۡحَدِيثِ مُسۡلِمٌ، وَفِي التِّرۡمِذِيِّ، بِإِسۡنَادٍ حَسَنٍ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَفَعَهُ: (نِعۡمَ الرَّجُلُ ثَابِتُ بۡنُ قَيۡسٍ)[1].
Berkunyah Abu Muhammad. Dan dipanggil pula dengan Abu ‘Abdurrahman. Tidak disebutkan bahwa beliau termasuk pasukan perang Badr. Mereka berkata: Perang pertama beliau adalah Uhud, dan beliau mengikuti perang setelah Uhud. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira beliau dengan surga dalam kisah yang terkenal. Musa bin Anas meriwayatkannya dari ayahnya, asal hadits ini dikeluarkan oleh Muslim, demikian pula dalam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan dari Abu Hurairah, yang beliau memarfu’kannya, “Sebaik-baik orang adalah Tsabit bin Qais.”
وَفِي الۡبُخَارِيِّ مُخۡتَصَرًا وَالطَّبۡرَانِيِّ مُطَوَّلًا عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: لَمَّا انۡكَشَفَ النَّاسُ يَوۡمَ الۡيَمَامَةِ. قُلۡتُ لِثَابِتِ بۡنِ قَيۡسٍ: أَلَا تَرَى يَا عَمُّ؟ وَوَجَدۡتُهُ يَتَحَنَّطُ فَقَالَ: مَا هَٰكَذَا كُنَّا نُقَاتِلُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ: بِئۡسَ مَا عَوَّدۡتُمۡ أَقۡرَانَكُمۡ، اللّٰهُمَّ إِنِّي أَبۡرَأُ إِلَيۡكَ مِمَّا جَاءَ بِهِ هٰؤُلَاءِ وَمِمَّا صَنَعَ هٰؤُلَاءِ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ، وَكَانَ عَلَيۡهِ دِرۡعٌ نَفِيسَةٌ فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ مُسۡلِمٌ فَأَخَذَهَا، فَبَيۡنَمَا رَجُلٌ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ نَائِمٌ أَتَاهُ ثَابِتٌ فِي مَنَامِهِ، فَقَالَ: إِنِّي أُوصِيكَ بِوَصِيَّةٍ فَإِيَّاكَ أَنۡ تَقُولَ هٰذَا حُلۡمٌ فَتُضَيِّعَهُ، إِنِّي لَمَّا قُتِلۡتُ أَخَذَ دِرۡعِي فُلَانٌ وَمَنۡزِلُهُ فِي أَقۡصَى النَّاسِ، وَعِنۡدَ خِبَائِهِ فَرَسٌ يَسۡتَنُّ، وَقَدۡ كَفَأَ عَلَى الدِّرۡعِ بُرۡمَةً وَفَوۡقَهَا رَحۡلٌ فَائۡتِ خَالِدًا فَمُرۡهُ فَلۡيَأۡخُذۡهَا، وَلۡيَقُلۡ لِأَبِي بَكۡرٍ: إِنَّ عَلَيَّ مِنَ الدَّيۡنِ كَذَا وَكَذَا، وَفُلَانٌ عَتِيقٌ، فَاسۡتَيۡقَظَ الرَّجُلُ، فَأَتَى خَالِدًا فَأَخۡبَرَهُ، فَبَعَثَ إِلَى الدِرۡعِ فَأُتِيَ بِهَا، وَحَدَّثَ أَبَا بَكۡرٍ بِرُؤۡيَاهُ، فَأَجَازَ وَصِيَّتَهُ[2]، وَرَوَاهُ الۡبَغَوِيُّ مِنۡ وَجۡهٍ آخَرَ عَنۡ عَطَاءٍ الۡخُرَاسَانِيِّ عَنۡ بِنۡتِ ثَابِتِ بۡنِ قَيۡسٍ مُطَوَّلًا.
Di dalam Al-Bukhari secara ringkas dan Ath-Thabrani secara panjang lebar dari Anas, beliau berkata: Ketika kaum muslimin kocar-kacir pada hari perang Yamamah, aku berkata kepada Tsabit bin Qais: Tidakkah engkau lihat apa yang dialami kaum muslimin, wahai pamanku? Aku mendapati Tsabit menggunakan hanuth (minyak wangi untuk mayat). Tsabit berkata: Bukan begini dulu kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alangkah jeleknya yang kalian biasakan terhadap musuh kalian. Ya Allah, sungguh aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang mereka lakukan dan dari apa yang mereka perbuat. Kemudian Tsabit maju berperang sampai terbunuh. Beliau memiliki baju besi yang bagus. Ada seseorang muslim yang melewati jenazahnya lalu mengambil baju besi tersebut. Lalu di antara kaum muslimin ada yang tidur dan didatangi Tsabit bin Qais dalam mimpinya. Kemudian Tsabit berkata: Sesungguhnya aku memberi wasiat kepadamu dengan sebuah wasiat. Janganlah engkau mengatakan ini hanyalah mimpi kosong belaka lalu engkau abaikan. Sesungguhnya ketika aku terbunuh, Fulan mengambil baju besiku dan kemahnya ada di tempat yang paling jauh. Di sisi kemahnya ada kuda yang berjalan mondar mandir tanpa penunggang. Orang tersebut meletakkan baju besi di balik periuk dan di atasnya ada pelana. Datangilah Khalid dan suruhlah ia untuk mengambilnya. Lalu katakan kepada Abu Bakr bahwa aku memiliki utang ini dan itu serta si Fulan sudah dibebaskan dari perbudakan. Lalu orang tersebut terbangun kemudian mendatangi Khalid dan mengabarkan mimpi itu kepada beliau. Lalu Khalid mengutus utusan untuk mengambil baju besi tersebut dan ternyata benar, didatangkanlah baju besi itu. Setelah itu, orang tadi menceritakan kepada Abu Bakr tentang mimpinya lalu Abu Bakr melaksanakan wasiat beliau. Al-Baghawi meriwayatkan dari jalan lain dari ‘Atha` Al-Khurasani dari putri Tsabit bin Qais dengan panjang lebar. 

[1] أَخۡرَجَهُ التِّرۡمِذِيُّ فِي (٥٠) كِتَابِ: الۡمَنَاقِبِ، (٣٣) بَابِ: مَنَاقِبِ مُعَاذِ بۡنِ جَبَلٍ وَزَيۡدٍ...، (الۡحَدِيثِ: ٣٧٩٥). وَأَخۡرَجَهُ ابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ فِي (مُصَنَّفِهِ)، (الۡحَدِيثِ: ١٢/١٣٧). وَذَكَرَهُ ابۡنُ سَعۡدٍ فِي (الطَّبَقَاتِ الۡكُبۡرَى)، (الۡحَدِيثِ: ٣/١/٣٠٠). 
[2] أَخۡرَجَهُ الۡبُخَارِيُّ فِي (٥٦) كِتَابِ: الۡجِهَادِ، (٣٩) بَابِ: التَّحَنُّطِ عِنۡدَ الۡقِتَالِ، (الۡحَدِيثِ: ٢٨٤٥). وَأَخۡرَجَهُ الطَّبۡرَانِيُّ فِي (الۡمُعۡجَمِ الۡكَبِيرِ)، (الۡحَدِيثِ: ٢/٦٥، ٧٠، ٧١). وَأَخۡرَجَهُ الۡهَيۡثَمِيُّ فِي (مَجۡمَعِ الزَّوَائِدِ)، (الۡحَدِيثِ: ١٥٧٨٤).

Sholat Istikharah

Tanya: Assalamu 'alaikum wr. wb. Saya minta tolong dijelaskan tata cara salat istikharah yang benar menurut tuntunan Rosulullah. Jangan lupa doa-doanya ya. Terima kasih. Wassalamu 'alaikum wr. wb.
Irfan Savitchevic (irf...@hotmail.com)

Jawab: Wa 'alaikum salam wa rohmatullah wa barokatuh. Sholat Istikharah termasuk sejumlah bagian dari sholat-sholat tathowwu' / sunnah. Adapun tata cara pelaksanaannya, sama seperti halnya Saudara melakukan sholat sunnah, tidak ada praktik khusus, hanya Saudara niatkan sholatnya untuk istikharah dan menyertakan do'anya. Dalilnya adalah hadits Jabir radhiyallahu 'anhu adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengajari kami istikharah dalam segala urusan, seperti mengajari surat dari Al Qur'an. Beliau berkata, "Apabila salah seorang di antara kalian berazzam untuk melakukan suatu urusan hendaklah ia ruku' / sholat dua roka'at di luar sholat wajib / selain sholat wajib, kemudian mengucapkan (do'a) ... (HR Bukhori dan yang lainnya). Do'a yang terkandung dalam hadits itu ialah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسۡتَخِيرُكَ بِعِلۡمِكَ وَأَسۡتَقۡدِرُكَ بِقُدۡرَتِكَ وَأَسۡأَلُكَ مِنۡ فَضۡلِكَ الۡعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقۡدِرُ وَلَا أَقۡدِرُ وَتَعۡلَمُ وَلَا أَعۡلَمُ وَأَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنۡ كُنۡتَ تَعۡلَمُ أَنَّ هَذَا الۡأَمۡرَ خَيۡرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمۡرِي فِي عَاجِلِ أَمۡرِي وَآجِلِهِ فَاقۡدُرۡهُ لِي وَإِنۡ كُنۡتَ تَعۡلَمُ أَنَّ هَذَا الۡأَمۡرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمۡرِي فِي عَاجِلِ أَمۡرِي وَآجِلِهِ فَاصۡرِفۡهُ عَنِّي وَاصۡرِفۡنِي عَنۡهُ وَاقۡدُرۡ لِي الۡخَيۡرَ حَيۡثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ
Allahumma inni astakhiruka bi 'ilmika wa astaqdiruka bi qudrotika, wa as`aluka min fadhlikal azhim fainnaka taqdiru wa la aqdiru, wa ta'lamu wa la a'lam, wa anta 'allamul ghuyub. Allahumma in kunta ta'lam anna hadzal amro khoirun lii fi diini wa ma'aasyi wa 'aaqibati amri fi 'aajili amrii wa aajilihi faqdurhu lii wa in kunta ta'lam anna hadzal amro syarrun lii fi diini wa ma'aasyi wa 'aaqibati amri fi 'aajili amri wa aajilihi fashrifhu 'anni washrifnii 'anhu waqdurlii khoiro haitsu kaana tsumma rodhinii bihi

Kemudian menyebutkan keperluannya. Mengenai kapan dibacanya do'a ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memfatwakan bahwa boleh membacanya sebelum tasyahud atau setelahnya, namun yang paling dekat setelah salam. Wal 'ilmu 'indallah.

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-31 Tahun ke-1 / 18 Juli 2003 M / 18 Jumadil Ula 1424 H.

Al-Ishabah - 732. Bilal bin Rabah

٧٣٢ – بِلَالُ بۡنُ رَبَاحٍ الۡحَبَشِيُّ

732. Bilal bin Rabah Al-Habasyi

الۡمُؤَذِّنُ وَهُوَ بِلَالُ بۡنُ حَمَامَةَ، وَهِيَ أُمُّهُ، اشۡتَرَاهُ أَبُو بَكۡرٍ الصِّدِّيقُ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ لَمَّا كَانُوا يُعَذِّبُونَهُ عَلَى التَّوۡحِيدِ، فَأَعۡتَقَهُ، فَلَزِمَ النَّبِيَّ ﷺ، وَأَذَّنَ لَهُ، وَشَهِدَ مَعَهُ جَمِيعَ الۡمَشَاهِدِ، وَآخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ أَبِي عُبَيۡدَةَ بۡنِ الۡجَرَّاحِ، ثُمَّ خَرَجَ بِلَالٌ بَعۡدَ النَّبِيِّ ﷺ مُجَاهِدًا إِلَى أَنۡ مَاتَ بِالشَّامِ. قَالَ أَبُو نُعَيۡمٍ: كَانَ تِرۡبَ أَبِي بَكۡرٍ، وَكَانَ خَازِنَ رَسُولِ اللهِ ﷺ.
Beliau seorang muazin. Beliau adalah Bilal putra Hamamah. Hamamah adalah ibu beliau. Abu Bakr Ash-Shiddiq membeli beliau dari orang-orang musyrik ketika mereka menyiksa Bilal karena ketauhidannya. Kemudian Abu Bakr membebaskan Bilal, lalu Bilal menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengumandangkan azan untuk beliau. Beliau mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan beliau dengan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah. Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, Bilal keluar berjihad sampai beliau meninggal di Syam. Abu Nu’aim berkata: Bilal sepantar dengan Abu Bakr dan penjaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
وَرَوَى أَبُو إِسۡحَاقَ الۡجُوزۡجَانِيُّ فِي تَارِيخِهِ مِنۡ طَرِيقِ مَنۡصُورٍ عَنۡ مُجَاهِدٍ قَالَ: قَالَ عَمَّارٌ: كُلٌّ قَدۡ قَالَ مَا أَرَادُوا، يَعۡنِي الۡمُشۡرِكِينَ، غَيۡرَ بِلَالٍ.
Abu Ishaq Al-Juzjani meriwayatkan di dalam kitab tarikh beliau dari jalan Manshur dari Mujahid, beliau berkata: ‘Ammar berkata: Semuanya telah terpaksa mengucapkan apa yang orang-orang musyrik maukan, kecuali Bilal.
وَمَنَاقِبُهُ كَثِيرَةٌ مَشۡهُورَةٌ.
Keutamaan beliau sangat banyak dan dikenal.
قَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ: كَانَ لِبَعۡضِ بَنِي جُمَحَ مُوَلَّدًا مِنۡ مُوَلَّدِيهِمۡ وَاسۡمُ أُمِّهِ حَمَامَةُ. وَكَانَ أُمَيَّةُ بۡنُ خَلَفٍ يُخۡرِجُهُ إِذَا حَمِيَتِ الظَّهِيرَةُ، فَيَطۡرَحُهُ عَلَى ظَهۡرِهِ فِي بَطۡحَاءِ مَكَّةَ ثُمَّ يَأۡمُرُ بِالصَّخۡرَةِ الۡعَظِيمَةِ عَلَى صَدۡرِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: لَا يَزَالُ عَلَى ذٰلِكَ حَتَّى يَمُوتَ أَوۡ يَكۡفُرَ بِمُحَمَّدٍ، فَيَقُولُ وَهُوَ فِي ذٰلِكَ: أَحَدٌ أَحَدٌ، فَمَرَّ بِهِ أَبُو بَكۡرٍ، فَاشۡتَرَاهُ مِنۡهُ بِعَبۡدٍ لَهُ أَسۡوَدَ جَلۡدٍ.
Ibnu Ishaq berkata: Dahulu, Bilal adalah budak dari sebagian Bani Jumah, salah seorang muwallad (anak yang dilahirkan di negeri ‘Arab tapi bukan orang ‘Arab) mereka. Nama ibu beliau adalah Hamamah. Dulu Umayyah bin Khalaf pernah mengeluarkannya ketika panas terik, menelentangkannya di atas padang pasir Makkah, lalu memerintahkan agar batu besar diletakkan di atas dada Bilal, kemudian dia berkata: Dia akan tetap dalam keadaan demikian sampai dia meninggal atau mengingkari Muhammad. Dalam keadaan demikian Bilal berkata: Ahad, Ahad. Ketika Abu Bakr melewati beliau, maka Abu Bakr membeli Bilal dari Umayyah dengan status budak yang memiliki kulit hitam.
وَقَالَ الۡبُخَارِيُّ: مَاتَ بِالشَّامِ، فِي زَمَنِ عُمَرَ. وَقَالَ ابۡنُ بُكَيۡرٍ مَاتَ فِي طَاعُونِ عَمۡوَاسَ، وَقَالَ عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ: مَاتَ سَنَةَ عِشۡرِينَ. وَقَالَ ابۡنُ زَبۡرٍ مَاتَ بِدَارَيَّا. وَفِي الۡمَعۡرِفَةِ لِابۡنِ مَنۡدَةَ: أَنَّهُ دُفِنَ بِحَلَبَ[1].
Al-Bukhari berkata: Bilal meninggal di Syam pada zaman pemerintahan ‘Umar. Ibnu Bukair mengatakan bahwa Bilal meninggal pada saat wabah / taun ‘Amwas. ‘Amr bin ‘Ali berkata: Bilal meninggal pada tahun 20 H. Ibnu Zabr berkata: Beliau meninggal di Darayya. Dan di dalam Ma’rifatush Shahabah karya Ibnu Mandah: Bahwa Bilal dikubur di Halab (Aleppo). 

[1] انۡظُرۡ: (جَامِعَ الۡمَسَانِدِ وَالسُّنَنِ) (٢/٣٣٩).

Tawakkal itu Ibadah

Setiap langkah dari kehidupan kita tentu tidaklah lepas dari pengawasan dan pengetahuan sang Maha Melihat dan Maha Mengetahui Allah subhanahu wa ta'ala.
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَـٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَ‌ٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُوا۟ ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا۟ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ
"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS Al Mujaadilah: 7).
Amatlah pantas bagi kita dan seluruh manusia sebagai makhlukNya untuk senantiasa memohon, mengharap, serta bertawakkal padaNya, sebuah tanda konsekwensi ibadah dan bukti keimanan yang hakiki terhadapNya. Allah berfirman,
وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ۝٢١٧ ٱلَّذِى يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ۝٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِى ٱلسَّـٰجِدِينَ
"Dan bertawakallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang melihat kamu ketika kamu berdiri dan melihat pula perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud." (QS Asy Syu'ara: 217-219).
Allah juga berfirman,
وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
"Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS Al Maidah: 23).
Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, "Ini menunjukkan akan lenyapnya iman ketika lenyapnya tawakkal, barangsiapa yang tidak memiliki tawakkal berarti ia tidak memiliki iman." (Lihat Madaarijus Saalikin).

Pengertian Tawakkal


Tawakkal secara bahasa berarti penyerahan, dan di dalam "Mukhtaarush Shihaah" hal: 786, tawakkal ialah menampakkan kelemahan dan bersandar kepada yang lain. Sedangkan menurut istilah: bersandarnya hati dengan benar kepada Allah dalam mendatangkan kemanfaatan dan menolak kemudharatan dengan mengambil sebab yang diperbolehkan secara syari'at." Imam Ahmad mengatakan, "Tawakkal adalah ibadah hati." Bila demikian maka tentu tawakkal dalam diri manusia bertingkat-tingkat, dimana ia (tawakkal) akan menguat dalam diri seseorang sejalan dengan bertambahnya iman pada dirinya dan sebaliknya ia akan melemah dengan berkurangnya keimanan dalam dirinya. Allah berfirman,
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَـٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhannyalah mereka bertawakkal." (QS Al Anfal: 2).

Hakikat Tawakkal


Pembaca -semoga dirahmati Allah- tawakkal adalah bagian dari ibadah, dalil yang menunjukkan hal ini di antaranya firman Allah subhanahu wa ta'ala di atas dalam Al Qur'an surat Al Maaidah ayat 23. Sisi pendalilan dari ayat itu: pertama, Allah memerintahkan kita agar bertawakkal di mana ini menunjukkan bahwa ia sebagai ibadah. Kedua: Allah menjadikan tawakkal dalam ayat itu sebagai syarat dari keimanan. Kemudian dalil lainnya, firman Allah,
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓ
"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)." (QS Ath Thalaq: 3).
Pada ayat ini Allah menjanjikan atas siapa saja yang bertawakkal padanya dengan diberikan balasan berupa kecukupan, balasan yang besar ini tentu tidak akan tercapai kecuali dengan ibadah yang besar pula, pendek kata tawakkal adalah ibadah yang agung, yang dengannya seorang hamba mendekatkan diri kepada sang Penciptanya.

Hal yang mendorong seorang hamba untuk bertawakkal kepada Allah, menyandarkan hati padaNya ialah hendaknya mengetahui bahwa bukanlah hak makhluk memberikan kemanfaatan dan kemudharatan, hidayah dan kesesatan, meninggikan dan merendahkan, serta memuliakan dan menghinakan. Tetapi Dialah Rabbnya yang telah menciptakannya, memberi rizkinya, memberi petunjuk padanya, serta menganugerahkan segala nikmat untuknya. Manusia dalam hal bertawakkal kepada Allah terbagi tiga golongan, pertama: orang-orang yang meniadakan sebab / usaha dalam rangka menjaga keutuhan tawakkal, mereka mengira bahwa tawakkal tidak akan sempurna kecuali dengan meninggalkan sebab. Kedua: orang-orang yang meninggalkan tawakkal dan bertumpu pada sebab / usaha. Ketiga: orang-orang yang mengetahui bahwa tawakkal tidak akan sempurna kecuali dengan melakukan sebab, golongan ketiga inilah yang benar sedangkan yang sebelumnya mereka berada di atas kebodohan dan kesesatan. Mengambil sebab yang disyariatkan adalah dalil akan kebenaran tawakkal dan kejujuran orang yang bertawakkal, ingatlah tatkala Nabi Musa 'alaihis salam meminta air untuk kaumnya, maka Allah memerintahkan agar memukul batu dengan tongkatnya.
وَإِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ فَقُلۡنَا ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَ ۖ فَٱنفَجَرَتۡ مِنۡهُ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَيۡنًا
"Dan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air..." (QS Al Baqarah: 60).
Juga Allah berfirman kepada Maryam,
وَهُزِّىٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَـٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبًا جَنِيًّا
"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (QS Maryam: 25).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Meninggalkan sebab berarti celaan terhadap syariat dan akal, sedangkan bersandar pada sebab (tanpa tawakkal, -pent.) adalah kesyirikan." (Majmu'ul Fatawa: 8/175-176). Berkata Ibnul Qoyyim, "Telah menjadi kesepakatan bahwa tawakkal tidaklah menafikan untuk mendatangkan sebab / usaha. Tidak sah tawakkal kecuali dengan itu, jika tidak maka hal itu adalah kebatilan dan tawakkal yang rusak. Suhail bin Abdillah berkata, 'Barangsiapa mencela usaha / sebab, berarti ia telah mencela sunnah, barangsiapa mencela tawakkal berarti ia telah mencela iman, maka bertawakkal adalah keadaan nabi sedangkan usaha adalah sunnahnya. Siapa saja yang beramal dengan keadaannya, janganlah meninggalkan sunnahnya.'" (Lihat Madaarijus Saalikin: 2/116). Jadi pelanggaran yang terbesar terhadap syariat ialah meninggalkan sebab karena beranggapan bahwa hal itu sebagai kesempurnaan tauhid, Allah berfirman,
وَمَن لَّمۡ يَجۡعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورًا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ
"Siapa yang tidak diberikan cahaya oleh Allah, maka ia tidak mempunyai cahaya."

Pembaca, jika tawakkal sebagai ibadah, maka tidak boleh memalingkannya kepada selain Allah -dalam perkara yang tidak dimampui kecuali olehNya- sebab hal itu adalah bentuk kesyirikan, karenanya Allah berfirman,
وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ
"Dan bertawakkallah kepada yang hidup yang tidak akan mati."
Begitu pula dalam hal mengambil sebab, tidak dibolehkan mengambil sebab, kecuali yang diperkenankan menurut syariat.

Ditulis oleh Abu Hamzah Al Atsary.

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-31 Tahun ke-1 / 18 Juli 2003 M / 18 Jumadil Ula 1424 H.

Posisi Ma`mum

Tanya: Assalamu 'alaikum wr. wb.
Mau tanya nih, kalau sholat jama'ah dengan istri, posisi istri ada di sedikit belakang, di sebelah kanan atau kiri imam? Terima kasih atas jawabannya. Jazakumulloh, wassalam wr. wb. (Eko Hidayanto, S. Si. (eko...@yahoo.com)).

Jawab: Wa 'alaikum salam wa rahmatullahi wa barokatuh. Saudara Eko, sebenarnya bila saudara menjadi imam dan istri sebagai ma'mumnya, tidaklah seperti yang saudara sebutkan bahwa si istri berada sedikit di belakang, baik sebelah kanan ataupun sebelah kiri, akan tetapi yang benar adalah si istri berada tepat di belakang imam. Hal ini telah menjadi kesepakatan / ijma' ahlul ilmi, dengan dalil, ketika Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai makan di rumah Anas bin Malik, beliau berkata, "Bangkitlah! Aku akan sholat bersama kalian." Anas bin Malik berkata, "Aku bangun menuju tikar milik kami yang telah berwarna hitam karena sering dan lama dipakai, lalu aku gosok dengan air, kemudian Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri di atasnya dan aku dengan yatim (yakni Domir bin Sa'ad al Himyari) membuat shaf di belakangnya, sedangkan al a'juuz (yakni ibu Anas / Ummu Sulaim) berada di belakang kami... (HR. Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik).

Adapun bila saudara sholat bersama seorang laki-laki, dan kebetulan saudara menjadi imamnya, maka posisi si laki-laki itu berada di sebelah kanan imam, sejajar dengannya tidak mundur sedikit. Ini pendapat mayoritas / jumhur ulama, dengan dalil dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dimana beliau sholat bersama Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada sholat malam, lalu beliau -Ibnu Abbas- berdiri di samping kiri Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian Rosulullah menariknya dan menjadikannya di sebelah kanannya. (HR. Bukhori dan Muslim). Yang beranggapan jika sholat berdua, maka si ma'mumnya mundur sedikir dari imam, ini tidak ada dalilnya. Demikianlah Saudara Eko. Wal 'ilmu 'indallah.

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-30 Tahun ke-1 / 11 Juli 2003 M / 11 Jumadil Ula 1424 H.

Al-Ishabah - 89. Usamah bin Zaid

٨٩ – أُسَامَةُ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ بۡنِ شَرَاحِيلَ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّى بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ عَبۡدِ وُدِّ بۡنِ عَوۡفِ بۡنِ كِنَانَةَ بۡنِ بَكۡرِ بۡنِ عَوۡفِ بۡنِ عُذۡرَةَ بۡنِ زَيۡدِ اللَّاتِ بۡنِ رُفَيۡدَةَ بۡنِ ثَوۡرِ بۡنِ كَلۡبِ بۡنِ وَبَرَةَ الۡكَلۡبِيُّ

89. Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syarahil bin ‘Abdul ‘Uzza bin Zaid bin Umru`ul Qais bin ‘Amir bin An-Nu’man bin ‘Amir bin ‘Abdu Wudd bin ‘Auf bin Kinanah bin Bakr bin ‘Auf bin ‘Udzrah bin Zaid Al-Laat bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabarah Al-Kalbi.

الۡحِبُّ بۡنُ الۡحِبِّ، يُكۡنَى أَبَا مُحَمَّدٍ، وَيُقَالُ: أَبُو زَيۡدٍ .وَأُمُّهُ أُمُّ أَيۡمَنَ حَاضِنَةُ النَّبِيِّ ﷺ.
Kesayangan putra dari kesayangan. Berkunyah Abu Muhammad. Dan disebut pula Abu Zaid. Ibu beliau adalah Ummu Aiman pengasuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
قَالَ ابۡنُ سَعۡدٍ: وُلِدَ أُسَامَةُ فِي الۡإِسۡلَامِ، وَمَاتَ النَّبِيُّ ﷺ وَلَهُ عِشۡرُونَ سَنَةً. وَقَالَ ابۡنُ أَبِي خَيۡثَمَةَ: ثَمَانِي عَشۡرَةَ، وَكَانَ أَمَّرَهُ عَلَى جَيۡشٍ عَظِيمٍ، فَمَاتَ النَّبِيُّ ﷺ قَبۡلَ أَنۡ يَتَوَجَّهَ، فَأَنۡفَذَهُ أَبُو بَكۡرٍ، وَكَانَ عُمَرُ يُجِلُّهُ وَيُكۡرِمُهُ، وَفَضَّلَهُ فِي الۡعَطَاءِ عَلَى وَلَدِهِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، وَاعۡتَزَلَ أُسَامَةُ الۡفِتَنَ بَعۡدَ قَتۡلِ عُثۡمَانَ إِلَى أن مَاتَ فِي أَوَاخِرِ خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ، وَكَانَ قَدۡ سَكَنَ الۡمِزَّةَ مِنۡ عَمَلِ دِمَشۡقَ، ثُمَّ رَجَعَ فَسَكَنَ وَادِيَ الۡقُرَى، ثُمَّ نَزَلَ إِلَى الۡمَدِينَةِ، فَمَاتَ بِهَا بِالۡجُرۡفِ. وَصَحَّحَ ابۡنُ عَبۡدِ الۡبَرِّ: أَنَّهُ مَاتَ سَنَةَ أَرۡبَعٍ وَخَمۡسِينَ[1].
Ibnu Sa’d berkata: Usamah dilahirkan dalam agama Islam dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, Usamah berusia dua puluh tahun. Ibnu Abu Khaitsamah berkata: Delapan belas tahun. Nabi menjadikan beliau sebagai pemimpin pasukan yang besar, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal sebelum pasukan tersebut berangkat. Maka Abu Bakr melanjutkan pemberangkatannya. ‘Umar menghormati dan memuliakannya, beliau juga melebihkan dalam pemberian daripada anak beliau sendiri ‘Abdullah bin ‘Umar. Usamah menjauhkan diri dari fitnah setelah terbunuhnya ‘Utsman sampai beliau mati pada akhir masa khilafah Mu’awiyah. Beliau pernah tinggal di Al-Mizzah daerah Damaskus, kemudian beliau pulang lalu tinggal di Wadi Al-Qura, setelah itu beliau bermukim di Madinah, dan beliau meninggal di situ di Al-Jurf. Ibnu ‘Abdul Barr mensahihkan bahwa beliau meninggal pada tahun 54 H.
وَقَدۡ رَوَى عَنۡ أُسَامَةَ مِنَ الصَّحَابَةِ أَبُو هُرَيۡرَةَ، وَابۡنُ عَبَّاسٍ. وَمِنۡ كِبَارِ التَّابِعِينَ أَبُو عُثۡمَانَ النَّهۡديُّ، وَأَبُو وَائِلٍ وَآخَرُونَ، وَفَضَائِلُهُ كَثِيرَةٌ وَأَحَادِيثُهُ شَهِيرَةٌ.
Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas telah meriwayatkan dari Usamah dari shahabat. Demikian pula pembesar tabi’in di antaranya Abu ‘Utsman An-Nahdi, Abu Wa`il, dan lain-lain. Keutamaan Usamah sangat banyak dan hadits-hadits beliau terkenal.

[1] انۡظُرۡ: (الۡاسۡتِيعَاب) (١/١٧٢).

Al-Ishabah - 275. Anas bin Malik

٢٧٥ – أَنَسُ بۡنُ مَالِكِ بۡنِ النَّضَرِ بۡنِ ضَمۡضَمِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ حَرَامِ بۡنِ جُنۡدُبِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ غَنۡمِ بۡنِ عَدِي بۡنِ النَّجَّارِ، أَبُو حَمۡزَةَ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡخَزۡرَجِيُّ

275. Anas bin Malik bin Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haram bin Jundub bin ‘Amir bin Ghanm bin ‘Adi bin An-Najjar, Abu Hamzah Al-Anshari Al-Khazraji

خَادِمُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَأَحَدُ الۡمُكۡثِرِينَ مِنَ الرِّوَايَةِ عَنۡهُ، صَحَّ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الۡمَدِينَةَ وَأَنَا ابۡنُ عَشۡرِ سِنِينَ، وَأَنَّ أُمَّهُ أُمُّ سُلَيۡمٍ أَتَتۡ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ لَمَّا قَدِمَ فَقَالَتۡ لَهُ: هَٰذَا أَنَسٌ غُلَامٌ يَخۡدُمُكَ فَقَبِلَهُ. وَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَنَّاهُ أَبَا حَمۡزَةَ بِبَقۡلَةٍ، كَانَ يَجۡتَنِيهَا، وَمَازَحَهُ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ لَهُ: (يَا ذَا الۡأُذُنَيۡنِ).
Beliau adalah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salah satu shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari beliau. Telah sahih dari beliau, bahwa beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah ketika aku masih anak-anak berumur sepuluh tahun. Dan bahwa ibu beliau Ummu Sulaim datang bersama Anas kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau telah sampai di Madinah, lalu berkata kepada beliau: Ini adalah Anas, seorang anak yang akan melayanimu. Maka Nabi menerimanya. Dan sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya kunyah Abu Hamzah karena sebuah tanaman yang biasa Anas petik. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda dengannya dan mengatakan kepadanya, “Wahai yang memiliki dua telinga”.
وَقَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيُّ: خَرَجَ أَنَسٌ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى بَدۡرٍ، وَهُوَ غُلَامٌ يَخۡدُمُهُ، أَخۡبَرَنِي أَبِي عَنۡ مَوۡلًى لِأَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ لِأَنَسٍ: أَشَهِدۡتَ بَدۡرًا؟ قَالَ: وَأَيۡنَ أَغِيبُ عَنۡ بَدۡرٍ، لَا أُمَّ لَكَ[1].
Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari berkata: Anas keluar berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Badr dan beliau adalah seorang anak yang melayani Nabi. Ayahku mengabarkan kepadaku dari seorang maula kepada Anas, bahwa beliau bertanya kepada Anas: Apakah engkau mengikuti perang Badr? Beliau menjawab: Di mana aku kalau aku sampai absen dari perang Badr, tidak ada ibu bagimu.
قُلۡتُ: وَإِنَّمَا لَمۡ يَذۡكُرُوهُ فِي الۡبَدۡرِيِّينَ لِأَنَّهُ لَمۡ يَكُنۡ فِي سِنِّ مَنۡ يُقَاتِلُ.
Aku katakan: Mereka yang tidak menyebutkan termasuk orang yang mengikuti perang Badr karena belum mencapai usia berperang.
وَقَالَ التِّرۡمِذِيُّ: حَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ غَيۡلَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ عَنۡ أَبِي خَلۡدَةَ قُلۡتُ لِأَبِي الۡعَالِيَةِ: أَسَمِعَ أَنَسٌ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ؟ قَالَ: خَدَمَهُ عَشۡرَ سِنِينَ وَدَعَا لَهُ النَّبِيُّ ﷺ، وَكَانَ لَهُ بُسۡتَانٌ يَحۡمِلُ الۡفَاكِهَةَ فِي السَّنَةِ مَرَّتَيۡنِ، وَكَانَ فِيهِ رَيۡحَانٌ يَجِيءُ مِنۡهُ رِيحُ الۡمِسۡكِ.
At-Tirmidzi berkata: Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Abu Dawud menceritakan kepada kami dari Abu Khaldah: Aku bertanya kepada Abul ‘Aliyah: Apakah Anas mendengar hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: Anas melayani Nabi selama sepuluh tahun dan Nabi mendoakan kebaikan untuknya. Anas memiliki kebun yang beliau panen buahnya dua kali dalam setahun. Anas juga memiliki wangi-wangian yang berbau misik.
وَكَانَتۡ إِقَامَتُهُ بَعۡدَ النَّبِيِّ ﷺ بِالۡمَدِينَةِ، ثُمَّ شَهِدَ الۡفُتُوحَ، ثُمَّ قَطَنَ الۡبَصۡرَة وَمَاتَ بِهَا. قَالَ عَلِيُّ بۡنُ الۡمَدِينِيِّ: كَانَ آخِرَ الصَّحَابَةِ مَوۡتًا بِالۡبَصۡرَةِ[2].
Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau tinggal di Madinah, kemudian beliau mengikuti berbagai perang penaklukan. Kemudian beliau menetap di Bashrah dan meninggal di sana. ‘Ali bin Al-Madini berkata: Beliau adalah shahabat yang terakhir meninggal di Bashrah.
وَقَالَ الۡبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا مُوسَى، حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ عُثۡمَانَ: سَأَلۡتُ مُوسَى بۡنَ أَنَسٍ: كَمۡ غَزَا أَنَسٌ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ؟ قَالَ: ثَمَانِيَ غَزَوَاتٍ[3].
Al-Bukhari berkata: Musa menceritakan kepada kami, Ishaq bin ‘Utsman menceritakan kepada kami: Aku bertanya kepada Musa bin Anas: Berapa kali Anas perang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: Delapan peperangan.
وَرَوَى ابۡنُ السَّكَنِ مِنۡ طَرِيقِ صَفۡوَانِ بۡنِ هُبَيۡرَةَ عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ ثَابِتُ الۡبُنَانِيُّ: قَالَ لِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ: هَٰذِهِ شَعۡرَةٌ مِنۡ شَعۡرِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَضَعۡهَا تَحۡتَ لِسَانِي، قَالَ فَوَضَعۡتُهَا تَحۡتَ لِسَانِهِ، فَدُفِنَ وَهِيَ تَحۡتَ لِسَانِهِ.
Ibnus Sakan meriwayatkan dari jalan Shafwan bin Hubairah dari ayahnya, beliau berkata: Tsabit Al-Bunani berkata: Anas bin Malik berkata kepadaku: Ini sehelai rambut dari rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, letakkan ini di bawah lidahku. Tsabit berkata: Maka aku meletakkannya di bawah lidahnya, dan Anas dikubur sedang rambut tersebut masih di bawah lidahnya.
وَقَالَ مُعۡتَمِرٌ عَنۡ أَبِيهِ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يَقُولُ: لَمۡ يَبۡقَ أَحَدٌ صَلَّى الۡقِبۡلَتَيۡنِ غَيۡرِي.
Mu’tamir berkata dari ayahnya: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Tidak tersisa lagi seorang pun yang pernah shalat menghadap dua kiblat kecuali aku.
قَالَ جَرِيرُ بۡنُ حَازِمٍ: قُلۡتُ لِشُعَيۡبِ بۡنِ الۡحَبۡحَابِ: مَتَى مَاتَ أَنَسٌ؟ قَالَ: سَنَةَ تِسۡعِينَ، أَخۡرَجَهُ ابۡنُ شَاهِينٍ.
Jarir bin Hazim berkata: Aku bertanya kepada Syu’aib bin Al-Habhab: Kapan Anas meninggal? Beliau menjawab: Tahun 90 H, Ibnu Syahin mengeluarkan riwayat ini.
وَقَالَ سَعِيدُ بۡنُ عُفَيۡرٍ، وَالۡهَيۡثَمُ بۡنُ عَدِيِّ وَمُعۡتَمِرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ: مَاتَ سَنَةَ إِحۡدَى وَتِسۡعِينَ.
Sa’id bin ‘Ufair, Al-Haitsam bin ‘Adi, dan Mu’tamir bin Sulaiman berkata: Anas meninggal tahun 91 H.
وَقَالَ ابۡنُ شَاهِينٍ: حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَحۡمَدَ، حَدَّثَنَا حَنۡبَلٍ، حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ عَنۡ حُمَيۡدٍ مِثۡلَهُ، وَزَادَ: وَكَانَ عُمۡرُهُ مِائَةَ سَنَةٍ إِلَّا سَنَةً.
Ibnu Syahin berkata: ‘Utsman bin Ahmad menceritakan kepada kami, Hanbal menceritakan kepada kami, Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Humaid semisal perkataan tersebut. Dan beliau menambahkan: Umur beliau waktu itu 99 tahun.
قَالَ ابۡنُ سَعۡدٍ عَنِ الۡوَاقِدِيِّ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ الۡهُذَلِيِّ أَنَّهُ حَضَرَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ سَنَةَ اثۡنَتَيۡنِ وَتِسۡعِينَ.
Ibnu Sa’d berkata dari Al-Waqidi, dari ‘Abdullah bin Zaid Al-Hudzali, bahwa beliau menghadiri Anas bin Malik tahun 92 H.
وَقَالَ أَبُو نُعَيۡمٍ الۡكُوفِيُّ مَاتَ سَنَةَ ثَلَاثِ وَتِسۡعِينَ، وَفِيهَا أَرَّخَهُ الۡمَدَائِنِيُّ وَخَلِيفَةُ، وَزَادَ: وَلَهُ مِائَةٌ وَثَلَاثَ سِنِينَ. وَحَكَى ابۡنُ شَاهِينٍ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ بُكَيۡرٍ: أَنَّهُ مَاتَ وَلَهُ مِائَةُ سَنَةٍ وَسَنَةٌ، قَالَ: وَقِيلَ مِائَةٌ وَسَبۡعُ سِنِينَ، وَرَوَاهُ الۡبَغَوِيُّ عَنۡ عُمَرَ بۡنِ شَبَّةَ عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ لۡأَنۡصَارِيِّ كَذٰلِكَ.
Abu Nu’aim Al-Kufi berkata: Anas meninggal tahun 93 H. Dan pada tahun inilah yang dipastikan oleh Al-Madaini dan Khalifah, dan beliau menambahkan: Beliau berumur 103 tahun. Ibnu Syahin menghikayatkan, dari Yahya bin Bukair: Bahwa Anas meninggal dan beliau berumur 101 tahun. Beliau berkata: Dan dikatakan 107 tahun. Al-Baghawi meriwayatkannya dari ‘Umar bin Syabbah dari Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari seperti itu.
وَقَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا جَعۡفَرٌ الۡفِرۡيَابِيُّ، حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ عُثۡمَانَ الۡمِصِّيصِيُّ، حَدَّثَنَا مَخۡلَدُ بۡنُ الۡحُسَيۡنِ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ حَسَّانٍ عَنۡ حَفۡصَةَ عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: قَالَتۡ أُمُّ سُلَيۡمٍ: يَا رَسُولَ اللهِ ادۡعُ اللهَ لِأَنَسٍ، فَقَالَ: (اللّٰهُمَّ أَكۡثِرۡ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكۡ لَهُ فِيهِ)، قَالَ أَنَسٌ: فَلَقَدۡ دَفَنۡتُ مِنۡ صُلۡبِي سِوَى وَلَدِ وَلَدِي مِائَةً وَخَمۡسَةً وَعِشۡرِينَ، وَإِنَّ أَرۡضِي لَتُثۡمِرُ فِي السَّنَةِ مَرَّتَيۡنِ.
Ath-Thabrani berkata: Ja’far Al-Firyabi menceritakan kepada kami, Ibrahim bin ‘Utsman Al-Mishshishi menceritakan kepada kami, Makhlad bin Al-Husain menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Hassan dari Hafshah dari Anas, beliau berkata: Ummu Sulaim berkata: Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah untuk Anas. Lantas Nabi bersabda, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, dan berkahilah ia.” Anas berkata: Aku benar-benar telah menguburkan anak dari tulang sulbiku –di luar cucuku- sebanyak 125 anak dan sungguh ladangku berbuah dua kali dalam setahun.
وَقَالَ جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ عَنۡ ثَابِتٍ عَنۡ أَنَسٍ: جَاءَتۡ بِي أُمُّ سُلَيۡمٍ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَأَنَا غُلَامٌ، فَقَالَتۡ يَا رَسُولَ اللهِ: أُنَيۡسٌ ادۡعُ اللهَ لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (اللّٰهُمَّ أَكۡثِرۡ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَأَدۡخِلۡهُ الۡجَنَّةَ)[4]، قَالَ: قَدۡ رَأَيۡتُ اثۡنَتَيۡنِ وَأَنَا أَرۡجُو الثَّالِثَةَ.
Ja’far bin Sulaiman berkata dari Tsabit dari Anas: Ummu Sulaim membawaku kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika aku masih kecil. Ummu Sulaim berkata: Wahai Rasulullah, ini Anas kecil. Berdoalah kepada Allah untuk dia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta masukkan ia ke dalam surga.” Anas berkata: Sungguh aku telah melihat terkabulnya dua (banyak harta dan anak) dan aku mengharapkan yang ketiga (masuk surga).
وَقَالَ جَعۡفَرٌ أَيۡضًا عَنۡ ثَابِتٍ: كُنۡتُ مَعَ أَنَسٍ فَجَاءَ قَهۡرَمَانُه فَقَالَ: يَا أَبَا حَمۡزَةَ عَطِشَتۡ أَرۡضُنَا، قَالَ: فَقَامَ أَنَسٌ فَتَوَضَّأَ وَخَرَجَ إِلَى الۡبَرِّيَّةِ فَصَلَّى رَكۡعَتَيۡنِ ثُمَّ دَعَا، فَرَأَيۡتُ السَّحَابَ يَلۡتَئِمُ قَالَ: ثُمَّ مَطَرَتۡ حَتَّى مَلَأَتۡ كُلَّ شَيۡءٍ، فَلَمَّ سَكَنَ الۡمَطَرُ بَعَثَ أَنَسٌ بَعۡضَ أَهۡلِهِ فَقَالَ: انۡظُرۡ أَيۡنَ بَلَغَتِ السَّمَاءُ؟ فَنَظَرَ فَلَمۡ تَعۡدُ أَرۡضَهُ إِلَّا يَسِيرًا، وَذٰلِكَ فِي الصَّيۡفِ.
Ja’far juga berkata dari Tsabit: Aku pernah bersama Anas, lalu Qahramanuh datang dan berkata: Wahai Abu Hamzah, tanah kami kekeringan. Tsabit berkata: Lantas Anas bangkit, berwudhu`, lalu keluar menuju suatu dataran dan shalat dua raka’at, kemudian berdoa. Maka, aku melihat awan berkumpul. Tsabit berkata: Kemudian turun hujan sampai air memenuhi semua tempat. Ketika hujan telah berhenti, Anas mengutus sebagian keluarganya dan berkata: Lihatlah sampai mana awan tadi menghujani. Lalu setelah dilihat ternyata hujan tadi turun tidak melebihi batas tanah beliau kecuali sedikit, dan hal itu terjadi di musim panas.
وَقَالَ عَلِيُّ بۡنُ الۡجَعۡدِ عَنۡ شُعۡبَةَ عَنۡ ثَابِتٍ، قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: مَا رَأَيۡتُ أَحَدًا أَشۡبَهَ صَلَاةً بِرَسُولِ اللهِ ﷺ مِنِ ابۡنِ أُمِّ سُلَيۡمٍ، يَعۡنِي أَنَسًا[5].
‘Ali bin Al-Ja’d dari Syu’bah dari Tsabit, Abu Hurairah berkata: Aku tidak melihat seorang pun yang lebih mirip sholatnya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada putra Ummu Sulaim, yakni Anas.
وَرَوَى الطَّبۡرَانِيُّ فِي الۡأَوۡسَطِ مِنۡ طَرِيقِ عُبَيۡدِ بۡنِ عَمۡرٍو الۡأَصۡبَحِيِّ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَخۡبَرَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُشِيرُ فِي الصَّلَاةِ[6]، وَقَالَ: لَا نَعۡلَمُ رَوَى أَبُو هُرَيۡرَةَ عَنۡ أَنَسٍ غَيۡرَ هَٰذَا الۡحَدِيثِ.
Ath-Thabrani meriwayatkan di dalam Al-Ausath dari jalan ‘Ubaid bin ‘Amr Al-Ashbahi dari Abu Hurairah: Anas bin Malik mengabarkan kepadaku bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi isyarat ketika shalat. Dan beliau berkata: Kami tidak mengetahui Abu Hurairah meriwayatkan dari Anas kecuali hadits ini.
وَقَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيُّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عَوۡنٍ عَنۡ مُوسَى بۡنِ أَنَسٍ: أَنَّ أَبَا بَكۡرٍ لَمَّا اسۡتُخۡلِفَ بَعَثَ إِلَى أَنَسٍ لِيُوَجِّهَهُ إِلَى الۡبَحۡرَيۡنِ عَلَى السِّعَايَةِ، فَدَخَلَ عَلَيۡهِ عُمَرُ فَاسۡتَشَارَهُ، فَقَالَ: ابۡعَثۡهُ فَإِنَّهُ لَبِيبٌ كَاتِبٌ، قَالَ فَبَعَثَهُ.
Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari berkata: Ibnu ‘Aun menceritakan kepada kami dari Musa bin Anas: Bahwa Abu Bakr ketika diangkat menjadi khalifah, beliau ingin mengutus Anas menuju Bahrain untuk mengumpulkan zakat. Lalu ketika ‘Umar datang menemui Abu Bakr, beliau bermusyawarah dengannya. Lalu ‘Umar berkata: Sungguh Anas itu orang yang cerdas dan pandai baca tulis. Lalu Abu Bakr pun jadi mengutus Anas.
وَمَنَاقِبُ أَنَسٍ وَفَضَائِلُهُ كَثِيرَةٌ جِدًّا.
Dan kedudukan Anas serta keutamaan beliau sangat banyak. 

[1] أَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ (٣٦) كِتَابُ: الۡأَدَبِ، (٩٢) بَابُ: مَا جَاءَ فِي الۡمَزَاحِ، (الۡحَدِيث: ٥٠٠٢). وَأَخۡرَجَهُ التِّرۡمِذِيُّ فِي (٢٨) كِتَابِ: الۡبِرِّ وَالصِّلَةِ، (٥٧) بَابُ: مَا جَاءَ فِي الۡمَزَاحِ، (الۡحَدِيث: ١٩٩٢). وَأَخۡرَجَهُ الۡإِمَامُ أَحۡمَدُ فِي (مُسۡنَدِهِ)، (الۡحَدِيث: ١٢١٦٥) ج ٤٠ وَأَخۡرَجَهُ الطَّبۡرَانِيُّ فِي (الۡمُعۡجَمِ الۡكَبِيرِ)، (الۡحَدِيث: ١/٢٤٠). وَأَخۡرَجَهُ الۡبَيۡهَقِيُّ فِي (السُّنَنِ الۡكُبۡرَى)، (الۡحَدِيث: ١٠/٢٤٨). وَذَكَرَهُ الۡمتقي الۡهِنۡدِي فِي (كَنۡزِ الۡعُمَّالِ)، (الۡحَدِيث: ٣٦٨٣٦). 
[2] أَخۡرَجَهُ التِّرۡمِذِيُّ فِي (٥٠) كِتَابِ: الۡمَنَاقِبِ، (٤٦) بَابِ: مَنَاقِبٍ لِأَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، (الۡحَدِيث: ٣٨٣٣). 
[3] ذَكَرَهُ الۡبُخَارِيُّ فِي (التَّرِيخِ الۡكَبِيرِ)، (الۡحَدِيث: ١/١/٣٩٨). 
[4] أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ فِي (٥) كِتَابِ: الۡمَسَاجِدِ، (٤٨) بَابِ: جَوَازِ الۡجَمَاعَةِ فِي النَّافِلَةِ، وَالصَّلَاةِ عَلَى حَصِيرٍ...، (الۡحَدِيث: ١٤٩٩). أَخۡرَجَهُ التِّرۡمِذِيُّ فِي (٥٠) كِتَابِ: الۡمَنَاقِبِ، (٤٦) بَابِ: مَنَاقِبٍ لِأَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، (الۡحَدِيث: ٣٨٢٩). وَذَكَرَهُ الۡبُخَارِيُّ فِي (التَّرِيخِ الۡكَبِيرِ)، (الۡحَدِيث: ٨/١٢٧). وَذَكَرَهُ الۡبَيۡهَقِيُّ فِي (دَلَائِلِ النُّبُوَّةِ)، (الۡحَدِيث: ٦/١٩٤). 
[5] أَخۡرَجَهُ ابۡنُ مَاجَهۡ فِي (٥) كِتَابِ: إِقَامَةِ الصَّلَاةِ، (٧) بَابِ: الۡقِرَاءَةِ فِي الظُّهۡرِ وَالۡعَصۡرِ، (الۡحَدِيث: ٨٢٧). 
[6] أَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ فِي (٢) كِتَابِ: الصَّلَاةِ، (١٧٥) بَابِ: الۡإِشَارَةِ فِي الصَّلَاةِ، (الۡحَدِيث: ٩٤٣). وَأَخۡرَجَهُ ابۡنُ مَاجَهۡ فِي (٥) كِتَابِ: إِقَامَةِ الصَّلَاةِ، (٥٦) بَابِ: الۡمُصَلَّى يُسَلَّمُ عَلَيۡهِ كَيۡفَ يَرُدُّ، (الۡحَدِيث: ١٠١٧). وَأَخۡرَجَهُ الۡحَاكِمُ فِي (مُسۡتَدۡرَكِهِ)، (الۡحَدِيث: ٣/١٢). وَأَخۡرَجَهُ عَبۡدُ الرَّزَّاقِ فِي (مُصَنَّفِهِ)، (الۡحَدِيث: ٣٥٩٧).

Kenikmatan Melihat Allah

Satu kenikmatan dan kebahagiaan yang akan dirasakan kaum mu'minin tatkala menghadap Rabbnya di hari akhirat dalam keadaan beriman, sebaliknya sungguh malapetaka, kebingungan yang luar biasa serta penyesalan yang sangat mendalam dirasakan orang-orang kafir di hari itu. Allah menggambarkan keadaan mereka dalam firmanNya,
وَوُجُوهٌ يَوۡمَئِذٍۭ بَاسِرَةٌ ۝٢٤ تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
"Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (QS Al Qiyamah: 24-25).
Orang-orang yang beriman yakin betul dengan firman Allah,
فَمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS Al Kahfi: 110).
Sehingga Allah menggambarkan keadaan mereka di akhirat dengan firmanNya,
وُجُوهٌ يَوۡمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ۝٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat." (QS Al Qiyaamah: 22-23).

Para pembaca, tentang dapat melihatnya orang-orang mu'min kepada sang penciptanya, Dzat yang Maha Besar Allah subhanahu wa ta'ala di akhirat adalah perkara yang menyangkut masalah aqidah, betapa tidak, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Yang menjadi kesepakatan para salaf, bahwa barangsiapa yang mengingkari ru'yatullah (melihat Allah) di akhirat ia telah kafir." Kemudian beliau menukil pernyataan Imam Ahmad, "Siapa yang mengira bahwa Allah tidak dapat dilihat (secara mutlak -pent.) ia telah kafir dan mendustakan al Qur'an, dikembalikan urusannya kepada Allah, diterima taubatnya bila ia bertaubat, bila tidak maka diperangi / dibunuh! (Dari Majmu'ul Fatawa: 6/486 dan 500). Adakah golongan yang menolak ru'yatullah secara mutlak? Karya-karya para ulama terdahulu menjadi saksi akan keberadaan golongan ini, kitab-kitab mereka dipenuhi dengan bantahan-bantahan atasnya, sehingga masalah ini (ru'yatullah) adalah masalah prinsip yang membedakan antara aqidah Islam dan aqidah yang tidak berasal dari Islam, muncul sejumlah nama besar para penentang ru'yatullah seperti al Jahm bin Shofwan as Samarkondy dengan gerakan Jahmiyahnya, Amr bin Ubaid, dan Washil bin Atho' al Fazaary dengan gerakan Mu'tazilahnya serta golongan al Imamiyah dan az Zaidiyah dari kelompok Syi'ah, mereka memelintir nash-nash yang berkaitan dengan ru'yatullah, berusaha mempreteli dan menjauhkan umat dari aqidah yang benar, bukan hanya mereka yang tengah berusaha menyimpangkan umat, tetapi juga muncul dari kelompok suluk kaum sufi yang beranggapan bahwa Allah dapat dilihat di dunia dan di akhirat, bahkan sebagian dari mereka kelompok hululiyah menyatakan bahwa Dzat Allah dapat bersatu dengan makhlukNya, juga al Ittihadiyyah yang mengatakan bahwa makhluk adalah Allah, dan Allah adalah makhluk, wal 'iyaadzu billah.

Para pembaca, sejumlah golongan sesat itu, meski para tokoh dan nama gerakannya telah tiada - seperti al Jahm bin Shofwan yang telah berhasil dibunuh Salim bin Ahwaz di Irak pada tahun 121 H - tetapi pemikiran dan keyakinannya telah menyebar luas hingga generasi kita, perubahan nama tidaklah merubah hakikatnya, berhati-hatilah!

Telah sepakat para salaf tentang penetapan melihat Allah dengan mata di akhirat bagi orang-orang yang beriman serta peniadaan dari melihatNya di dunia. Allah berfirman,
لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُوا۟ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ
"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." (QS Yunus: 26).
Yang dimaksud "tambahannya" ialah melihat wajahNya (Allah) yang mulia, sebagaimana penafsiran sejumlah para sahabat di antaranya, Abu Bakar ash Shiddiq, Hudzaifah ibnul Yaman, Abdullah ibnu Abbas, Sa'id ibnul Musayyab, dan yang lainnya. (Lihat Tafsirul Qur'anil Azhim: 4/435). Demikian pula Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menafsirkan beliau bersabda, "Apabila ahli surga telah memasuki surga, Allah berkata pada mereka, "Apakah kalian mau Aku tambahkan sesuatu?" Ahli surga menjawab, "Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?" Rosulullah berkata, "(Maka Allah membuka hijab/ penghalang, maka tidak ada sesuatu pun yang telah diberikan pada mereka (penghuni surga) yang paling mereka senangi daripada melihat kepada Rabbnya Azza wa Jalla." (HR Muslim -Kitabul Iman dari Suhaib radhiyallahu 'anhu). Allah juga berfirman,
كَلَّآ إِنَّهُمۡ عَن رَّبِّهِمۡ يَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوبُونَ
"Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) tuhan mereka." (QS Al Muthaffifiin: 15).
Berkata Imam Syafi'i rahimahullah, "Maka, ketika Allah subhanahu wa ta'ala dengan kebencianNya menghalangi mereka (orang-orang kafir) dari melihatNya, ini berarti dalil bahwa mereka (para wali Allah, orang-orang mu'min) melihatNya dengan keridhoanNya." (Syarh Ushulul I'tiqaad: 3/506).

Teramat banyak hadits-hadits yang memuat tentang orang mu'min melihat Allah di akhirat, bahkan dikategorikan sebagai hadits yang mutawatir oleh Ibnu Hajar al Atsqolaaniy dan lainnya, kami sebutkan di antaranya. "Orang-orang bertanya kepada Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Wahai Rosulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?' Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Apakah kalian terhalangi dari melihat bulan pada malam purnama?' Mereka menjawab, 'Tidak, wahai Rosulullah.' Beliau berkata lagi, 'Apakah kalian terhalangi dari melihat matahari yang tak ada awan di bawahnya?' Mereka menjawab, 'Tidak.' Kemudian Rosulullah berkata, 'Sesungguhnya kalian akan melihatnya (yakni Rabb) seperti itu (yakni jelas tanpa ada penghalang).'" (HR Bukhori -Kitabut Tauhid- dan Muslim -Kitabul Iman-, dari sahabat Abu Hurairoh). Ibnul Qoyyim berkata, "Al Qur'an dan Sunnah yang mutawatir, serta ijma / kesepakatan para sahabat dan para ulama Islam serta ahli hadits menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala dapat dilihat pada hari kiamat dengan mata secara nyata, seperti halnya bulan, dapat dilihat dengan jelas pada malam purnama yang cerah dan seperti halnya matahari dapat dilihat dengan jelas di siang hari." (lihat Haadii al Arwaah).

Demikianlah para pembaca, semoga kita tergolong kepada orang-orang yang mendapat nikmat melihat wajah Allah subhanahu wa ta'ala di surga dan semoga kita disatukan untuk itu. Amiin ya Mujiibassaailiin. Wal 'ilmu 'indallah.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-30 Tahun ke-1 / 11 Juli 2003 M / 11 Jumadil Ula 1424 H.

Khudz 'Aqidatak - Daftar Pos & PDF

Alhamdulillah. Berikut daftar pos dari terjemahan خذ عقيدتك من الكتاب والسنة الصحيحة "Ambillah Akidahmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang Shahih".

Khudz 'Aqidatak - Doa Mustajab

الدُّعَاءُ الۡمُسۡتَجَابُ

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
مَا أَصَابَ عَبۡدًا هَمٌّ وَلَا حُزۡنٌ فَقَالَ:
(اللٌّهُمَّ إِنِّي عَبۡدُكَ، وَابۡنُ عَبۡدِكَ، وَابۡنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكۡمُكَ، عَدۡلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسۡأَلُكَ بِكُلِّ اسۡمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيۡتَ بِهِ نَفۡسَكَ، أَوۡ أَنۡزَلۡتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوۡ عَلَّمۡتَهُ أَحَدًا مِنۡ خَلۡقِكَ، أَوِ اسۡتَأۡثَرۡتَ بِهِ فِي عِلۡمِ الۡغَيۡبِ عِنۡدَكَ، أَنۡ تَجۡعَلَ الۡقُرۡآنَ رَبِيعَ قَلۡبِي، وَنُورَ صَدۡرِي، وَجَلَاءَ حُزۡنِي، وَذَهَابَ هَمِّي – إِلَّا أَذۡهَبَ اللهُ هَمَّهُ وَحُزۡنَهُ، وَأَبۡدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَجًا) (صَحِيحٌ رَوَاهُ أَحۡمَدُ).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba ditimpa kesusahan dan kesedihan, lalu mengatakan: Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba sahayaMu, putra hambaMu yang laki-laki dan putra hambaMu yang perempuan. Ubun-ubunku di tanganMu, keputusanMu berlaku padaku, ketetapanMu kepadaku adalah adil. Aku memintaMu dengan setiap nama yang Engkau miliki - yang telah Engkau namai Dirimu dengannya, atau yang telah Engkau turunkan di kitabMu, atau yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhlukMu, atau yang Engkau simpan di ilmu gaib di sisiMu – agar Engkau menjadikan Al-Qur`an penghidup hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku, penghilang kesusahanku; kecuali Allah pasti hilangkan kesusahan dan kesedihannya lalu Allah tukar dengan kelapangan.” (Sahih riwayat Ahmad).