Sunan An-Nasa`i hadits nomor 3217

٣٢١٧ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَفَّانُ قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ عَنۡ ثَابِتٍ عَنۡ أَنَسٍ، أَنَّ نَفَرًا مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ بَعۡضُهُمۡ: لَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ! وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: لَا آكُلُ اللَّحۡمَ! وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ! وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: أَصُومُ فَلَا أُفۡطِرُ! فَبَلَغَ ذٰلِكَ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَحَمِدَ اللهَ، وَأَثۡنَى عَلَيۡهِ، ثُمَّ قَالَ: (مَا بَالُ أَقۡوَامٍ يَقُولُونَ كَذَا وَكَذَا؟! لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُومُ وَأُفۡطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ؛ فَمَنۡ رَغِبَ عَنۡ سُنَّتِي فَلَيۡسَ مِنِّي). [(إرواء الغليل)(١٧٨٢)، (التعليق الرغيب)(١/٤٦١)، ق].
3217. [Sahih] Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: ‘Affan memberitakan kepada kami. Beliau berkata: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Tsabit, dari Anas, bahwa beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagian mereka berkata: Aku tidak akan menikahi para wanita. Sebagiannya berkata: Aku tidak akan makan daging. Sebagian lagi berkata: Aku tidak akan tidur di atas kasur. Sebagian lainnya berkata: Aku akan terus berpuasa dan tidak berbuka. Ucapan mereka sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, “Bagaimana keadaan suatu kaum yang mengucapkan ini dan ini?! Akan tetapi aku salat malam dan tidur, berpuasa dan berbuka, dan aku menikahi para istri. Siapa saja yang membenci sunahku, maka bukan golonganku.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 27

١٩ - بَابُ إِذَا لَمۡ يَكُنِ الۡإِسۡلَامُ عَلَى الۡحَقِيقَةِ وَكَانَ عَلَى الۡاسۡتِسۡلَامِ أَوِ الۡخَوۡفِ مِنَ الۡقَتۡلِ
19. Bab jika keislaman tidak secara hakiki dan keislamannya hanya penyerahan diri atau takut dari pembunuhan

لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿قَالَتِ الۡأَعۡرَابُ آمَنَّا قُلۡ لَمۡ تُؤۡمِنُوا وَلَٰكِنۡ قُولُوا أَسۡلَمۡنَا﴾ [الحجرات: ١٤] فَإِذَا كَانَ عَلَى الۡحَقِيقَةِ، فَهُوَ عَلَى قَوۡلِهِ جَلَّ ذِكۡرُهُ: ﴿إِنَّ الدِّينَ عِنۡدَ اللهِ الۡإِسۡلَامُ﴾ [آل عمران: ١٩]
Berdasar firman Allah taala (yang artinya), “Orang-orang Arab Badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakanlah: Kamu belum beriman, tapi katakanlah kami telah tunduk.” (QS. Al-Hujurat: 14). Namun jika sesuai dengan hakikatnya, maka hal itu sesuai dengan firman Allah jalla dzikruh (yang artinya), “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19).
٢٧ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَامِرُ بۡنُ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنۡ سَعۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَعۡطَى رَهۡطًا وَسَعۡدٌ جَالِسٌ، فَتَرَكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ رَجُلًا هُوَ أَعۡجَبُهُمۡ إِلَيَّ فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا لَكَ عَنۡ فُلَانٍ؟ فَوَاللهِ إِنِّي لَأُرَاهُ مُؤۡمِنًا، فَقَالَ: (أَوۡ مُسۡلِمًا). فَسَكَتُّ قَلِيلًا، ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَعۡلَمُ مِنۡهُ فَعُدۡتُ لِمَقَالَتِي فَقُلۡتُ: مَا لَكَ عَنۡ فُلَانٍ؟ فَوَاللهِ إِنِّي لَأَرَاهُ مُؤۡمِنًا، فَقَالَ: (أَوۡ مُسۡلِمًا). ثُمَّ غَلَبَنِي مَا أَعۡلَمُ مِنۡهُ، فَعُدۡتُ لِمَقَالَتِي، وَعَادَ رَسُولُ اللهِ ﷺ ثُمَّ قَالَ: (يَا سَعۡدُ، إِنِّي لَأُعۡطِي الرَّجُلَ وَغَيۡرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنۡهُ خَشۡيَةَ أَنۡ يَكُبَّهُ اللهُ فِي النَّارِ).
وَرَوَاهُ يُونُسُ، وَصَالِحٌ وَمَعۡمَرٌ، وَابۡنُ أَخِي الزُّهۡرِيِّ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ. 
[الحديث ٢٧ – طرفه في: ١٤٧٨].
27. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash mengabarkan kepadaku dari Sa’d radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi harta kepada beberapa orang dalam keadaan Sa’d duduk (di situ). Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi seseorang, padahal menurutku orang itu yang paling aku sukai di antara mereka.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, ada apa engkau dengan si Polan? Demi Allah, sungguh aku berpendapat bahwa dia adalah seorang mukmin.”
Nabi bersabda, “Atau seorang muslim.”
Aku berhenti sebentar, namun pengetahuanku terhadap orang tadi mendorongku mengulangi ucapanku. Aku berkata, “Ada apa engkau dengan si Polan? Demi Allah, sungguh aku berpendapat bahwa dia adalah seorang mukmin.”
Nabi bersabda, “Atau seorang muslim.”
Kemudian pengetahuanku terhadap orang tadi mendorongku mengulangi ucapanku.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengulangi ucapan beliau kemudian beliau bersabda, “Wahai Sa’d, sungguh aku memberi seseorang, padahal orang selain dia lebih aku sukai daripada dia, karena khawatir (jika orang tersebut tidak aku beri, maka) Allah akan menelungkupkannya di dalam neraka.”
Yunus, Shalih, Ma’mar, dan keponakan Az-Zuhri juga meriwayatkan hadis tersebut dari Az-Zuhri.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6307

٣ - بَابُ اسۡتِغۡفَارِ النَّبِيِّ ﷺ فِي الۡيَوۡمِ وَاللَّيۡلَةِ
3. Bab istigfar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sehari semalam

٦٣٠٧ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (وَاللهِ إِنِّي لَأَسۡتَغۡفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ فِي الۡيَوۡمِ أَكۡثَرَ مِنۡ سَبۡعِينَ مَرَّةً).
6307. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: Abu Hurairah mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sungguh aku benar-benar meminta ampun dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 3209, 3210, dan 3211

٣٢٠٩ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ عَنِ الۡأَعۡمَشِ عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ عُمَيۡرٍ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ يَزِيدَ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا مَعۡشَرَ الشَّبَابِ! مَنِ اسۡتَطَاعَ مِنۡكُمُ الۡبَاءَةَ فَلۡيَنۡكِحۡ؛ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلۡبَصَرِ وَأَحۡصَنُ لِلۡفَرۡجِ، وَمَنۡ لَا فَلۡيَصُمۡ؛ فَإِنَّ الصَّوۡمَ لَهُ وِجَاءٌ). [ق، مضى (٢٢٤٢)].
3209. [Sahih] Muhammad bin Manshur telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari ‘Umarah bin ‘Umair, dari ‘Abdurrahman bin Yazid, dari ‘Abdullah (bin Mas’ud). Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, “Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu menikah, maka hendaknya dia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa saja yang belum mampu, maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa adalah pemutus syahwatnya.”
٣٢١٠ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الۡأَعۡمَشِ عَنۡ عُمَارَةَ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ يَزِيدَ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا مَعۡشَرَ الشَّبَابِ! مَنِ اسۡتَطَاعَ مِنۡكُمُ الۡبَاءَةَ فَلۡيَتَزَوَّجۡ...) وَسَاقَ الۡحَدِيثَ. [ق، راجع ما قبله].
3210. [Sahih] Muhammad bin Al-‘Ala` telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari ‘Umarah, dari ‘Abdurrahman bin Yazid, dari ‘Abdullah (bin Mas’ud). Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, “Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu menikah, maka hendaknya dia menikah…” Beliau membawakan hadis itu.
٣٢١١ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَرۡبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الۡأَعۡمَشِ عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ عَنۡ عَلۡقَمَةَ، قَالَ: كُنۡتُ أَمۡشِي مَعَ عَبۡدِ اللهِ بِمِنًى، فَلَقِيَهُ عُثۡمَانُ، فَقَامَ مَعَهُ يُحَدِّثُهُ، فَقَالَ: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ! أَلَا أُزَوِّجُكَ جَارِيَةً شَابَّةً! فَلَعَلَّهَا أَنۡ تُذَكِّرَكَ بَعۡضَ مَا مَضَى مِنۡكَ؟! فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: أَمَا لَئِنۡ قُلۡتَ ذَاكَ، لَقَدۡ قَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا مَعۡشَرَ الشَّبَابِ! مَنِ اسۡتَطَاعَ مِنۡكُمُ الۡبَاءَةَ فَلۡيَتَزَوَّجۡ). [ق، انظر ما قبله].
3211. [Sahih] Ahmad bin Harb telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah. Beliau berkata: Aku dahulu pernah berjalan bersama ‘Abdullah (bin Mas’ud) di Mina. Lalu ‘Utsman menemuinya dan berdiri bersamanya sambil bercerita kepadanya. ‘Utsman berkata, “Wahai Abu ‘Abdurrahman, maukah aku nikahkan engkau dengan seorang gadis belia? Barangkali dia bisa mengingatkanmu dengan sebagian masa lalumu.” ‘Abdullah mengatakan, “Jika engkau berkata itu, maka sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 3206, 3207, dan 3208

٣ - الۡحَثُّ عَلَى النِّكَاحِ
3. Anjuran menikah

٣٢٠٦ – (صحيح الإسناد) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ زُرَارَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنۡ أَبِي مَعۡشَرٍ عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ عَنۡ عَلۡقَمَةَ، قَالَ: كُنۡتُ مَعَ ابۡنِ مَسۡعُودٍ - وَهُوَ عِنۡدَ عُثۡمَانَ - رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ -، فَقَالَ عُثۡمَانُ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى فِتۡيَةٍ، - قَالَ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ فَلَمۡ أَفۡهَمۡ فِتۡيَةً كَمَا أَرَدۡتُ - فَقَالَ: (مَنۡ كَانَ مِنۡكُمۡ ذَا طَوۡلٍ فَلۡيَتَزَوَّجۡ؛ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلۡبَصَرِ وَأَحۡصَنُ لِلۡفَرۡجِ، وَمَنۡ لَا فَالصَّوۡمُ لَهُ وِجَاءٌ) [مضى (٢٢٤٣)].
3206. [Sahih sanad] ‘Amr bin Zurarah telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Isma’il menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yunus menceritakan kepada kami dari Abu Ma’syar, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah. Beliau berkata: Aku pernah bersama Ibnu Mas’ud ketika beliau berada di dekat ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu. ‘Utsman berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui beberapa pemuda. Abu ‘Abdurrahman (An-Nasa`i) berkata: Aku tidak memahami kata fityah sebagaimana aku inginkan. Lalu Nabi bersabda, “Siapa saja di antara kalian yang memiliki kecukupan, maka hendaknya dia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa saja yang belum memiliki kecukupan, maka puasa dapat memutus syahwatnya.”
٣٢٠٧ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا بِشۡرُ بۡنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ عَنۡ شُعۡبَةَ عَنۡ سُلَيۡمَانَ عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ عَنۡ عَلۡقَمَةَ، أَنَّ عُثۡمَانَ قَالَ لِابۡنِ مَسۡعُودٍ: هَلۡ لَكَ فِي فَتَاةٍ أُزَوِّجُكَهَا؟! فَدَعَا عَبۡدُ اللهِ عَلۡقَمَةَ، فَحَدَّثَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ، قَالَ: (مَنِ اسۡتَطَاعَ الۡبَاءَةَ فَلۡيَتَزَوَّجۡ؛ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلۡبَصَرِ وَأَحۡصَنُ لِلۡفَرۡجِ، وَمَنۡ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ فَلۡيَصُمۡ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ). [ق، مضى (٢٢٤٠)].
3207. [Sahih] Bisyr bin Khalid telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Sulaiman, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, bahwa ‘Utsman berkata kepada Ibnu Mas’ud: Apakah engkau memiliki keinginan terhadap seorang pemudi sehingga aku bisa menikahkan engkau dengannya? Maka ‘Abdullah memanggil ‘Alqamah, lalu beliau bercerita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang mampu untuk menikah, maka hendaknya dia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa saja yang tidak mampu, maka hendaknya dia puasa, karena puasa adalah pemutus syahwatnya.”
٣٢٠٨ – (صحيح) أَخۡبَرَنِي هَارُونُ بۡنُ إِسۡحَقَ الۡهَمۡدَانِيُّ الۡكُوفِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مُحَمَّدٍ الۡمُحَارِبِيُّ عَنۡ الۡأَعۡمَشِ عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ عَنۡ عَلۡقَمَةَ وَالۡأَسۡوَدُ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنِ اسۡتَطَاعَ مِنۡكُمُ الۡبَاءَةَ فَلۡيَتَزَوَّجۡ، وَمَنۡ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ فَعَلَيۡهِ بِالصَّوۡمِ؛ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ). قَالَ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡأَسۡوَدُ فِي هَٰذَا الۡحَدِيثِ لَيۡسَ بِمَحۡفُوظٍ. [ق، مضى (٢٢٤١)].
3208. [Sahih] Harun bin Ishaq Al-Hamdani Al-Kufi telah mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Muharibi menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah dan Al-Aswad, dari ‘Abdullah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, “Siapa saja di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Dan siapa saja yang belum mampu, maka hendaknya dia berpuasa karena puasa adalah pemutus syahwatnya.” Abu ‘Abdurrahman berkata: (Penyebutan) Al-Aswad di dalam hadis ini tidak selaras dengan periwayatan para rawi yang lebih tepercaya.

Al-Jami' li 'Ibadatillah

الۡجَامِعُ لِعِبَادَةِ اللهِ

لِشَيۡخِ الۡإِسۡلَامِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ رَحِمَهُ اللهُ


الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ:
Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta. Semoga Allah mencurahkan selawat, salam, dan berkah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabat beliau semuanya.
قَالَ الشَّيۡخُ الۡإِمَامُ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ –رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-:
Syekh Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—semoga Allah taala merahmatinya—berkata:
فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا الۡجَامِعُ لِعِبَادَةِ اللهِ وَحۡدَهُ؟
قُلۡتَ: طَاعَتُهُ بِامۡتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجۡتِنَابِ نَوَاهِيهِ.
Jika ada yang bertanya, “Apa cakupan ibadah kepada Allah semata?”
Maka, engkau jawab, “Menaati-Nya dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”
فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا أَنۡوَاعُ الۡعِبَادَةِ الَّتِي لَا تَصۡلُحُ إِلَّا لِلهِ تَعَالَى؟
قُلۡتَ: مِنۡ أَنۡوَاعِهَا الدُّعَاءُ وَالۡاسۡتِعَانَةُ وَالۡاسۡتِغَاثَةُ وَذَبۡحُ الۡقُرۡبَانِ وَالنَّذَرُ وَالۡخَوۡفُ وَالرَّجَاءُ وَالتَّوَكُّلُ وَالۡإِنَابَةُ وَالۡمَحَبَّةُ وَالۡخَشۡيَةُ وَالرَّغۡبَةُ وَالرَّهۡبَةُ وَالتَّأَلُّهُ وَالرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ وَالۡخُشُوعُ وَالتَّذَلُّلُ وَالتَّعۡظِيمُ الَّذِي هُوَ مِنۡ خَصَائِصِ الۡإِلٰهِيَّةِ.
Jika ada yang bertanya, “Apa saja macam-macam ibadah yang hanya boleh untuk Allah taala?” 
Maka, engkau jawab, “Termasuk jenis-jenis ibadah adalah doa, istianah (meminta pertolongan), istigasah (meminta keselamatan dari musibah yang menimpa), menyembelih hewan kurban, nazar, khauf (kekhawatiran), harapan, tawakal, inabah (kembali kepada Allah), mahabah (cinta), khasyyah (takut), raghbah (rasa harap), rahbah (cemas), penyembahan, rukuk, sujud, khusyuk, perendahan diri, dan pengagungan yang termasuk kekhususan ilahi.”
وَدَلِيلُ الدُّعَاءِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨].
وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿لَهُۥ دَعۡوَةُ ٱلۡحَقِّ ۖ وَٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسۡتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىۡءٍ إِلَّا كَبَـٰسِطِ كَفَّيۡهِ إِلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَـٰلِغِهِۦ ۚ وَمَا دُعَآءُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ إِلَّا فِى ضَلَـٰلٍ﴾ [الرعد: ١٤].
Dalil doa adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan bahwa masjid-masjid itu adalah milik Allah, jadi janganlah kalian berdoa kepada sesuatupun di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18). Dan firman Allah yang artinya, “Hanya bagi-Nya lah doa yang benar. Dan orang-orang yang berdoa kepada sesembahan selain Dia, maka sesembahan itu tidak sanggup untuk memenuhi permintaan mereka sedikit pun, kecuali seperti orang yang membentangkan telapak tangannya di air agar air itu bisa sampai ke mulutnya dan ternyata air itu tidak bisa sampai ke mulutnya. Dan tidaklah doa orang-orang kafir itu kecuali sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14)
وَدَلِيلُ الۡاسۡتِعَانَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ [الفاتحة: ٥].
Dalil istianah adalah firman Allah taala yang artinya, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5).
وَدَلِيلُ الۡاسۡتِغَاثَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ﴾ [الأنفال: ٩].
Dalil istigasah adalah firman Allah yang artinya, “Ketika kalian beristigasah kepada Rabb kalian, lalu Dia memenuhi permintaan kalian.”
وَدَلِيلُ الذَّبۡحِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ [الأنعام: ١٦٢].
Dalil penyembelihan adalah firman Allah taala yang artinya, “Katakan, sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku untuk Allah Rabb alam semesta.” (QS. Al-An’am: 162).
وَدَلِيلُ النَّذۡرِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمًا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرًا﴾ [الإنسان: ٧].
Dalil nazar adalah firman Allah taala yang artinya, “Mereka menunaikan nazar dan takut terhadap suatu hari ketika keburukan hari itu merata.” (QS. Al-Insan: 7).
وَدَلِيلُ الۡخَوۡفِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّمَا ذ‌ٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [آل عمران: ١٧٥].
Dalil khauf adalah firman Allah taala yang artinya, “Itu hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan teman-temannya, maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175).
وَدَلِيلُ الرَّجَاءِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا﴾ [الكهف: ١١٠]. 
Dalil raja` (berharap) adalah firman Allah taala yang artinya, “Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaknya dia beramal dengan amalan saleh dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110).
وَدَلِيلُ التَّوَكُّلِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [الۡمَائدة: ٢٣].
Dalil tawakal adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan kepada Allah sajalah, kalian bertawakal jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23).
وَدَلِيلُ الۡإِنَابَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُوا۟ لَهُۥ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ﴾ [الزمر: ٥٤].
Dalil inabah adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepada kalian kemudian kalian tidak akan ditolong.” (QS. Az-Zumar: 54).
وَدَلِيلُ الۡمَحَبَّةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥].
Dalil mahabah adalah firman Allah taala yang artinya, “Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan yang mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165).
وَدَلِيلُ الۡخَشۡيَةِ: ﴿فَلَا تَخۡشَوُا۟ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ﴾ [الۡمَائدة: ٤٤].
Dalil khasyyah, “Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan taktlah kepada-Ku.” (QS. Al-Maidah: 44).
وَدَلِيلُ الرَّغۡبَةِ وَالرَّهۡبَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ﴾ [الأنبياء: ٩٠].
Dalil raghbah dan rahbah adalah firman Allah taala yang artinya, “Sesungguhnya mereka bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan perasaan harap dan cemas, serta mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya`: 90).
وَدَلِيلُ التَّأَلُّهِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ﴾ [البقرة: ١٦٣]. 
Dalil ta`alluh (penyembahan) adalah firman Allah taala yang artinya, “Sembahan kalian adalah sembahan yang esa, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163).
وَدَلِيلُ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱرۡكَعُوا۟ وَٱسۡجُدُوا۟ وَٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُوا۟ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ﴾ [الحج: ٧٧].
Dalil rukuk dan sujud adalah firman Allah taala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Rabb kalian, serta berbuatlah kebaikan agar kalian beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77).
وَدَلِيلُ الۡخُشُوعِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ لَمَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُمۡ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِمۡ خَـٰشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشۡتَرُونَ بِـءَايَـٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ﴾ [آل عمران: ١٩٩] وَنَحۡوُهَا.
Dalil khusyuk adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab itu benar-benar ada yang beriman kepada Allah, beriman dengan wahyu yang diturunkan kepada kalian dan yang diturunkan kepada mereka. Mereka khusyuk kepada Allah dan tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali ‘Imran: 199).
Dan ayat-ayat semisal itu.
فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِاللهِ غَيۡرَهُ.
Sehingga, siapa saja yang memalingkan salah satu jenis ibadah ini kepada selain Allah taala, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah.
فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا أَجَلُّ أَمۡرٍ أَمَرَ اللهُ بِهِ؟
قِيلَ: تَوۡحِيدُهُ بِالۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ بَيَانُهُ، وَأَعۡظَمُ نَهۡيٍ نَهَى اللهُ عَنۡهُ الشِّرۡكُ بِهِ، وَهُوَ أَنۡ يَدۡعُوَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ.
فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدِ اتَّخَذَهُ رَبًّا وَإِلٰهًا، وَأَشۡرَكَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ مِنَ الۡآيَاتِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَٰذَا هُوَ الشِّرۡكُ الَّذِي نَهَى اللهُ عَنۡهُ، وَأَنۡكَرَهُ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ، وَقَدۡ قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلًۢا بَعِيدًا﴾ [النساء: ١١٦]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ﴾ [المائدة: ٧٢]. وَاللهُ أَعۡلَمُ.
Jika ada yang bertanya, “Lalu apa perkara paling mulia yang Allah perintahkan?”
Maka engkau katakan, “Menauhidkan Allah dalam ibadah. Hal itu telah dijelaskan sebelumnya. Dan larangan terbesar yang Allah larang darinya adalah berbuat syirik kepada Allah, yaitu di samping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selain-Nya atau menujukan jenis-jenis ibadah yang lain kepada selain-Nya.”
Jadi siapa saja yang memalingkan sedikit saja dari berbagai macam ibadah tadi untuk selain Allah taala, maka dia telah menjadikannya sebagai tuhan dan sesembahan dan dia telah menjadikannya sekutu di samping Allah. Atau dia menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah. Dan telah berlalu ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ini merupakan kesyirikan yang telah Allah larang dan Allah ingkari terhadap orang-orang musyrik. Allah taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`: 116). Allah taala berfirman yang artinya, “Siapa saja yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah haramkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma`idah: 72). Wallahualam.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ.
Semoga Allah mencurahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga dan sahabatnya.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2284

٣٩ - بَابٌ فِي نَفَقَةِ الۡمَبۡتُوتَةِ
39. Bab tentang nafkah wanita yang telah ditalak tiga

٢٢٨٤ – (صحيح) حَدَّثَنَا الۡقَعۡنَبِيُّ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ يَزِيدَ - مَوۡلَى الۡأَسۡوَدِ بۡنِ سُفۡيَانَ - عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ فَاطِمَةَ بِنۡتِ قَيۡسٍ، أَنَّ أَبَا عَمۡرِو بۡنَ حَفۡصٍ طَلَّقَهَا الۡبَتَّةَ، وَهُوَ غَائِبٌ، فَأَرۡسَلَ إِلَيۡهَا وَكِيلَهُ بِشَعِيرٍ فَتَسَخَّطَتۡهُ فَقَالَ: وَاللهِ مَا لَكِ عَلَيۡنَا مِنۡ شَيۡءٍ، فَجَاءَتۡ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَذَكَرَتۡ ذٰلِكَ لَهُ، فَقَالَ لَهَا: (لَيۡسَ لَكِ عَلَيۡهِ نَفَقَةٌ) وَأَمَرَهَا أَنۡ تَعۡتَدَّ فِي بَيۡتِ أُمِّ شَرِيكٍ، ثُمَّ قَالَ: (إِنَّ تِلۡكَ امۡرَأَةٌ يَغۡشَاهَا أَصۡحَابِي، اعۡتَدِّي فِي بَيۡتِ ابۡنِ أُمِّ مَكۡتُومٍ، فَإِنَّهُ رَجُلٌ أَعۡمَى تَضَعِينَ ثِيَابَكِ، وَإِذَا حَلَلۡتِ فَآذِنِينِي). قَالَتۡ: فَلَمَّا حَلَلۡتُ ذَكَرۡتُ لَهُ أَنَّ مُعَاوِيَةَ بۡنَ أَبِي سُفۡيَانَ وَأَبَا جَهۡمٍ خَطَبَانِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَّا أَبُو جَهۡمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنۡ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعۡلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ، انۡكِحِي أُسَامَةَ بۡنَ زَيۡدٍ) قَالَتۡ: فَكَرِهۡتُهُ، ثُمَّ قَالَ: (انۡكِحِي أُسَامَةَ بۡنَ زَيۡدٍ) فَنَكَحۡتُهُ، فَجَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ خَيۡرًا [كَثِيرًا] وَاغۡتَبَطۡتُ بِهِ. [م].
2284. [Sahih] Al-Qa’nabi telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari ‘Abdullah bin Yazid maula Al-Aswad bin Sufyan, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, dari Fathimah binti Qais. Bahwa Abu ‘Amr bin Hafsh telah menceraikannya talak tiga dalam keadaan Abu ‘Amr tidak berada di tempat. Dia mengirimkan wakilnya membawa jelai kepada Fathimah, namun Fathimah kurang puas dengan pemberian itu.
Utusan itu berkata, “Demi Allah, kami tidak memiliki kewajiban sedikit pun terhadapmu.”
Fathimah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menyebutkan hal itu kepada beliau.
Nabi bersabda kepadanya, “Engkau tidak memiliki hak nafkah darinya.” Beliau menyuruh Fathimah agar menjalani masa idah di rumah Ummu Syarik, namun beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya (rumah) wanita itu sering didatangi para sahabatku, jalanilah masa idahmu di rumah Ibnu Ummu Maktum karena dia adalah pria yang buta sehingga engkau bisa meletakkan pakaianmu. Dan apabila engkau sudah selesai (melalui masa idah), beri tahu aku.”
Fathimah berkata: Ketika aku telah selesai, aku menyebutkan kepada beliau bahwa Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm melamarku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah, “Adapun Abu Jahm, dia tidak meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sedangkan Mu’awiyah adalah orang yang fakir tidak punya harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” 
Fathimah berkata bahwa aku tidak menyukainya. Namun beliau bersabda, “Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” Maka, aku pun menikah dengan Usamah. Kemudian Allah taala menjadikan kebaikan yang banyak pada pernikahanku dan aku menjadi bahagia karenanya.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2098

٢٦ - بَابٌ فِي الثَّيِّبِ
26. Bab tentang janda

٢٠٩٨ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ قَالَا: نا مَالِكٌ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡفَضۡلِ، عَنۡ نَافِعِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡأَيِّمُ أَحَقُّ بِنَفۡسِهَا مِنۡ وَلِيِّهَا، وَالۡبِكۡرُ تُسۡتَأۡذَنُ فِي نَفۡسِهَا، وَإِذۡنُهَا صُمَاتُهَا). وَهَٰذَا لَفۡظُ الۡقَعۡنَبِيِّ. [م].
2098. [Sahih] Ahmad bin Yunus dan ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Malik menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin Al-Fadhl, dari Nafi’ bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya, sedangkan gadis dimintai izin pada dirinya. Izinnya adalah diamnya.” Ini adalah lafal Al-Qa’nabi.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2047

٢ - بَابُ مَا يُؤۡمَرُ بِهِ مِنۡ تَزۡوِيجِ ذَاتِ الدِّينِ
2. Bab diperintahkannya menikahi wanita yang baik agamanya

٢٠٤٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا يَحۡيَى - يَعۡنِي ابۡنَ سَعِيدٍ - حَدَّثَنِي عُبَيۡدُ اللهِ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ أَبِي سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (تُنۡكَحُ النِّسَاءُ لِأَرۡبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظۡفَرۡ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتۡ يَدَاكَ). [ق].
2047. [Sahih] Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah menceritakan kepadaku: Sa’id bin Abu Sa’id menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2046

١ - بَابُ التَّحۡرِيضِ عَلَى النِّكَاحِ
1. Bab anjuran untuk menikah

٢٠٤٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، نا جَرِيرٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ، قَالَ: إِنِّي لَأَمۡشِي مَعَ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ بِمِنًى إِذۡ لَقِيَهُ عُثۡمَانُ فَاسۡتَخۡلَاهُ، فَلَمَّا رَأَى عَبۡدُ اللهِ أَنۡ لَيۡسَتۡ لَهُ حَاجَةٌ قَالَ لِي: تَعَالَ يَا عَلۡقَمَةُ، فَجِئۡتُ، فَقَالَ لَهُ عُثۡمَانُ: أَلَا نُزَوِّجُكَ يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ جَارِيَةً بِكۡرًا، لَعَلَّهُ يَرۡجِعُ إِلَيۡكَ مِنۡ نَفۡسِكَ مَا كُنۡتَ تَعۡهَدُ؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: لَئِنۡ قُلۡتَ ذَاكَ لَقَدۡ سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنِ اسۡتَطَاعَ مِنۡكُمُ الۡبَاءَةَ فَلۡيَتَزَوَّجۡ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلۡبَصَرِ، وَأَحۡصَنُ لِلۡفَرۡجِ، وَمَنۡ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ مِنۡكُمۡ فَعَلَيۡهِ بِالصَّوۡمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ).
2046. [Sahih] ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah. Beliau berkata: Sungguh aku benar-benar pernah berjalan bersama ‘Abdullah bin Mas’ud di Mina, ketika ‘Utsman menemuinya lalu mengajaknya menyepi.
Ketika ‘Abdullah berpandangan bahwa sudah tidak ada kebutuhan, beliau memanggilku, “Kemari, wahai ‘Alqamah.”
Aku pun datang. ‘Utsman berkata kepada beliau, “Tidakkah kami nikahkan engkau, wahai Abu ‘Abdurrahman, dengan seorang gadis perawan, barangkali sebagian jiwa mudamu akan kembali kepadamu?”
‘Abdullah berkata, “Jika engkau berkata begitu, sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa saja yang mampu untuk menikah, maka hendaknya dia menikah, karena menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa saja di antara kalian yang belum mampu, maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa dapat memutus syahwatnya.”

Al-Isti'ab - 3313. Jamilah binti Tsabit

٣٣١٣ - جَمِيلَةُ بِنۡتُ ثَابِتٍ
3313. Jamilah binti Tsabit

جَمِيلَةُ بِنۡتُ ثَابِتِ بۡنِ أَبِي الۡأَقۡلَحِ الۡأَنۡصَارِيَّةُ، أُخۡتُ عَاصِمِ بۡنِ ثَابِتِ بۡنِ أَبِى الۡأَقۡلَحِ، امۡرَأَةُ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ. تُكۡنَى أُمُّ عَاصِمٍ بِابۡنِهَا عَاصِمِ بۡنِ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ، كَانَ اسۡمُهَا عَاصِيَةَ، فَسَمَّاهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ جَمِيلَةَ.
Jamilah binti Tsabit bin Abu Al-Aqlah Al-Anshariyyah, saudara perempuan ‘Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqlah, istri ‘Umar bin Al-Khaththab. Dipanggil dengan kunyah Ummu ‘Ashim karena putranya bernama ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khaththab. Beliau dahulu bernama ‘Ashiyah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya Jamilah.
تَزَوَّجَهَا عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ فِي سَنَةِ سَبۡعٍ مِنَ الۡهِجۡرَةِ، فَوَلَدَتۡ لَهُ عَاصِمَ بۡنَ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ، ثُمَّ طَلَّقَهَا عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ، فَتَزَوَّجَهَا يَزِيدُ بۡنُ جَارِيَةَ، فَوَلَدَتۡ لَهُ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ يَزِيدَ بۡنِ جَارِيَةَ؛ فَعَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ يَزِيدَ بۡنِ جَارِيَةَ أَخُو عَاصِمِ بۡنِ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ لِأُمِّهِ. وَهِيَ الَّتِي أَتَى فِيهَا الۡحَدِيثُ فِي الۡمُوَطَّأِ وَغَيۡرِهِ – أَنَّ عُمَرَ رَكِبَ إِلَى قُبَاءٍ فَوَجَدَ ابۡنَهُ عَاصِمًا يَلۡعَبُ مَعَ الصِّبۡيَانِ فحَمَلَهُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ، فَأَدۡرَكَتۡهُ جَدَّتُهُ الشَّمُوسُ بِنۡتُ أَبِي عَامِرٍ، فَنَازَعَتۡهُ إِيَّاهُ حَتَّى انۡتَهَى إِلَى أَبِي بَكۡرٍ الصِّدِّيقِ، فَقَالَ لَهُ أَبُو بَكۡرٍ: خَلِّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُ، فَمَا رَاجَعَهُ، وَسَلَّمَهُ إِلَيۡهَا.
‘Umar bin Al-Khaththab menikahinya pada tahun 7 hijriah, lalu melahirkan ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khaththab untuknya. Kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab menalaknya, lalu Yazid bin Jariyah menikahinya. Jamilah melahirkan ‘Abdurrahman bin Yazid bin Jariyah untuknya. Jadi ‘Abdurrahman bin Yazid bin Jariyah adalah saudara seibu ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khaththab. Dia adalah wanita yang tersirat dalam hadis di dalam kitab Al-Muwaththa` dan selainnya, bahwa ‘Umar menaiki tunggangan ke Quba`. Beliau mendapati putranya, yaitu ‘Ashim, sedang bermain bersama anak-anak. Beliau pun membawanya di depannya. Lalu nenek ‘Ashim, yaitu Asy-Syamus binti Abu ‘Amir menyusulnya dan memperebutkannya. Hingga berujung di hadapan Abu Bakr Ash-Shiddiq. Abu Bakr berkata kepada ‘Umar: Jangan halangi antara nenek dengan ‘Ashim. Abu Bakr tidak mengembalikan ‘Ashim kepada ‘Umar dan menyerahkan ‘Ashim kepada nenek.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3003

٥٠ - بَابُ كَمِ اعۡتَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ؟
50. Bab berapa kali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah?

٣٠٠٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو إِسۡحَاقَ الشَّافِعِيُّ إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا دَاوُدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ: اعۡتَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَرۡبَعَ عُمَرٍ: عُمۡرَةَ الۡحُدَيۡبِيَةِ، وَعُمۡرَةَ الۡقَضَاءِ مِنۡ قَابِلٍ، وَالثَّالِثَةَ مِنَ الۡجِعِرَّانَةِ، وَالرَّابِعَةَ الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ. [(صحيح أبي داود)(١٧٣٩)].
3003. [Sahih] Abu Ishaq Asy-Syafi’i Ibrahim bin Muhammad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Dawud bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Dinar, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas; Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak empat kali: umrah Hudaibiyah, umrah qadha` tahun berikutnya, umrah ketiga dari Ji’irranah, dan umrah keempat adalah umrah yang menyertai haji beliau.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3001 dan 3002

٤٩ - بَابُ مَنۡ أَهَلَّ بِعُمۡرَةٍ مِنۡ بَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ
49. Bab barang siapa yang memulai ihram untuk umrah dari Baitulmakdis

٣٠٠١ – (ضعيف) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَى بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَى، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِسۡحَاقَ، قَالَ: حَدَّثَنِي سُلَيۡمَانُ بۡنُ سُحَيۡمٍ، عَنۡ أُمِّ حَكِيمٍ بِنۡتِ أُمَيَّةَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ أَهَلَّ بِعُمۡرَةٍ مِنۡ بَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ غُفِرَ لَهُ). [(المشكاة)(٣٥٣٢)، (الضعيفة)(٢١١)، (التعليق الرغيب)(٢/١١٩-١٢٠)].
3001. [Daif] Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdul A’la bin ‘Abdul A’la menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ishaq. Beliau berkata: Sulaiman bin Suhaim menceritakan kepadaku dari Ummu Hakim binti Umayyah, dari Ummu Salamah; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang memulai ihram untuk umrah dari Baitulmakdis, maka dia akan diampuni.”
٣٠٠٢ – (ضعيف) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُصَفَّى الۡحِمۡصِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ خَالِدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِسۡحَاقَ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي سُفۡيَانَ، عَنۡ أُمِّهِ أُمِّ حَكِيمٍ بِنۡتِ أُمَيَّةَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَتۡ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ أَهَلَّ بِعُمۡرَةٍ مِنۡ بَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ، كَانَتۡ لَهُ كَفَّارَةً لِمَا قَبۡلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ). قَالَتۡ: فَخَرَجَتۡ – أَيۡ: مِنۡ بَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ – بِعُمۡرَةٍ. [وهو مكرر ما قبله].
3002. [Daif] Muhammad bin Al-Mushaffa Al-Himshi telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ahmad bin Khalid menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abu Sufyan, dari ibunya, yaitu Ummu Hakim binti Umayyah, dari Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang memulai ihram untuk umrah dari Baitulmakdis, maka hal itu menjadi penebus dosa-dosa yang telah lalu untuknya.” Ummu Hakim berkata: Maka, Ummu Salamah keluar menuju Baitulmakdis untuk memulai umrah.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1860

٧ - بَابُ تَزۡوِيجِ الۡأَبۡكَارِ
7. Bab menikahi perawan

١٨٦٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا هَنَّادُ بۡنُ السَّرِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدَةُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ؛ قَالَ: تَزَوَّجۡتُ امۡرَأَةً عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَلَقِيتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (أَتَزَوَّجۡتَ يَا جَابِرُ؟!) قُلۡتُ: نَعَمۡ. قَالَ: (أَبِكۡرًا أَوۡ ثَيِّبًا؟) قُلۡتُ: ثَيِّبًا، قَالَ: (فَهَلَّا بِكۡرًا تُلَاعِبُهَا؟) قُلۡتُ: كُنَّ لِي أَخَوَاتٌ، فَخَشِيتُ أَنۡ تَدۡخُلَ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُنَّ. قَالَ: (فَذَاكَ إِذَنۡ). [(صحيح أبي داود)(١٧٨٧)، (الإرواء)(١٧٨٥): ق].
1860. [Sahih] Hannad bin As-Sari telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdah bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik, dari ‘Atha`, dari Jabir bin ‘Abdullah; Beliau mengatakan: Aku menikahi seorang wanita di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, aku bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau bertanya, “Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?”
Aku menjawab, “Sudah.”
Nabi bertanya, “Dengan perawan atau janda?”
Aku menjawab, “Janda.”
Nabi bertanya, “Mengapa tidak dengan perawan sehingga engkau bisa bermain-main dengannya?”
Aku menjawab, “Aku memiliki saudara-saudara perempuan, sehingga aku khawatir dia akan turut campur antara aku dengan mereka.”
Nabi bersabda, “Bagus kalau begitu.”

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 2999 dan 3000

٤٨ - بَابُ الۡعُمۡرَةِ مِنَ التَّنۡعِيمِ
48. Bab umrah dari Tan’im

٢٩٩٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَأَبُو إِسۡحَاقَ الشَّافِعِيُّ، إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡعَبَّاسِ بۡنِ عُثۡمَانَ بۡنِ شَافِعٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرُو بۡنُ أَوۡسٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَهُ أَنۡ يُرۡدِفَ عَائِشَةَ فَيُعۡمِرَهَا مِنَ التَّنۡعِيمِ. [(الإرواء)(١٠٩٠)، (صحيح أبي داود)(١٧٤١)، (الحج الكبير): ق].
2999. [Sahih] Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Ishaq Asy-Syafi’i Ibrahim bin Muhammad bin Al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ teah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Dinar. Beliau berkata: ‘Amr bin Aus mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: ‘Abdurrahman bin Abu Bakr menceritakan kepadaku bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dia untuk memboncengkan ‘Aisyah supaya bisa umrah dari Tan’im.
٣٠٠٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدَةُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ قَالَتۡ: خَرَجۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي حَجَّةِ الۡوَدَاعِ، نُوَافِي هِلَالَ ذِي الۡحِجَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ أَرَادَ مِنۡكُمۡ أَنۡ يُهِلَّ بِعُمۡرَةٍ فَلۡيُهۡلِلۡ، فَلَوۡلَا أَنِّي أَهۡدَيۡتُ لَأَهۡلَلۡتُ بِعُمۡرَةٍ). قَالَتۡ: فَكَانَ مِنَ الۡقَوۡمِ مَنۡ أَهَلَّ بِعُمۡرَةٍ، وَمِنۡهُمۡ مَنۡ أَهَلَّ بِحَجٍّ، فَكُنۡتُ أَنَا مِمَّنۡ أَهَلَّ بِعُمۡرَةٍ. قَالَتۡ: فَخَرَجۡنَا حَتَّى قَدِمۡنَا مَكَّةَ، فَأَدۡرَكَنِي يَوۡمُ عَرَفَةَ وَأَنَا حَائِضٌ، لَمۡ أَحِلَّ مِنۡ عُمۡرَتِي، فَشَكَوۡتُ ذٰلِكَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (دَعِي عُمۡرَتَكِ، وَانۡقُضِي رَأۡسَكِ، وَامۡتَشِطِي، وَأَهِلِّي بِالۡحَجِّ). قَالَتۡ: فَفَعَلۡتُ، فَلَمَّا كَانَتۡ لَيۡلَةُ الۡحَصۡبَةِ، وَقَدۡ قَضَى اللهُ حَجَّنَا، أَرۡسَلَ مَعِي عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ أَبِي بَكۡرٍ، فَأَرۡدَفَنِي وَخَرَجَ إِلَى التَّنۡعِيمِ، فَأَحۡلَلۡتُ بِعُمۡرَةٍ، فَقَضَى اللهُ حَجَّنَا وَعُمۡرَتَنَا، وَلَمۡ يَكُنۡ فِي ذٰلِكَ هَدۡيٌ وَلَا صَدَقَةٌ وَلَا صَوۡمٌ. [(صحيح أبي داود)(١٥٥٩)، (الحج الكبير)(١١/١): ق].
3000. [Sahih] Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdah bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah; Beliau mengatakan: Kami pernah keluar bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji wadak bertepatan dengan hilal bulan Zulhijah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang suka berihlal (memulai ihram) untuk umrah, silakan ia berihlal. Seandainya aku tidak membawa hewan hadyu (hewan kurban haji), tentu aku akan berihlal untuk umrah.” Maka, di antara kaum muslimin ada yang berihlal untuk umrah dan di antara mereka ada pula yang berihlal untuk haji. Aku termasuk orang yang berihlal untuk umrah.
‘Aisyah berkata: Lalu kami keluar hingga kami tiba di Makkah. Ketika hari Arafah, aku dalam keadaan haid dan belum tahalul dari umrahku. Aku mengadukan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tinggalkan umrahmu, lepaskan ikatan rambutmu, bersisirlah, dan berihlallah untuk haji.”
‘Aisyah berkata: Aku pun melakukannya. Ketika malam Hashbah dan Allah menetapkan kami menyelesaikan haji, beliau mengutus ‘Abdurrahman bin Abu Bakr bersamaku ke Tan’im. ‘Abdurrahman memboncengkanku dan keluar menuju Tan’im. (Setelah selesai umrah) aku tahalul umrah, sehingga Allah menetapkan kami menyelesaikan haji dan umrah.
Dalam kasus itu tidak ada hewan hadyu, sedekah, dan tidak pula puasa.

Ad-Dararil Mudhiyyah - Bab Riwayat tentang Pengasuhan Anak

بَابُ مَاجَاءَ فِي الۡحَضَانَةِ

الۡأَوۡلَى بِالطِّفۡلِ أُمُّهُ، مَالَمۡ تُنۡكَحۡ، ثُمَّ الۡخَالَةُ، ثُمَّ الۡأَبُ، ثُمَّ يُعَيِّنُ الۡحَاكِمُ مِنَ الۡقَرَابَةِ مَنۡ رَأَى فِيهِمۡ صَلَاحًا، وَبَعۡدَ بُلُوغِ سِنِّ الۡاسۡتِقۡلَالِ يُخَيَّرُ الصَّبِيُّ بَيۡنَ أَبِيهِ وَأُمِّهِ، فَإِنۡ لَمۡ يُوجَدَا كَفَلَهُ مَنۡ كَانَ لَهُ فِي كَفَالَتِهِ مَصۡلَحَةٌ.
Yang paling berhak terhadap anak adalah ibunya selama si ibu belum menikah lagi. Kemudian khalah (saudara perempuan ibu). Kemudian ayah. Kemudian hakim menentukan di antara kerabat si anak, orang yang dia anggap baik. Setelah si anak sampai usia mandiri, dia diberi pilihan antara ayah dan ibunya. Jika tidak didapati ayah atau ibunya, maka yang mengurusnya adalah orang yang pengurusannya dapat membawa maslahat bagi si anak itu.
أَقُولُ: أَمَّا الۡأُمُّ، فَلِحَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو: (أَنَّ امۡرَأَةً قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ ابۡنِي هَٰذَا كَانَتۡ بَطۡنِي لَهُ وِعَاءً، وَحَجۡرِي لَهُ حِوَاءً، وَثَدۡيِي لَهُ سِقَاءً، وَزَعَمَ أَبُوهُ أَنَّهُ يَنۡزِعُهُ مِنِّي، فَقَالَ: أَنۡتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمۡ تَنۡكِحِي) أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ، وَالۡحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ، وَقَدۡ وَقَعَ الۡإِجۡمَاعُ عَلَى أَنَّ الۡأُمَّ أَوۡلَى مِنَ الۡأَبِ. وَحَكَى ابۡنُ الۡمُنۡذِرِ الۡإِجۡمَاعَ عَلَى أَنَّ حَقَّهَا يَبۡطُلُ بِالنِّكَاحِ. وَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ عُثۡمَانَ أَنَّهُ لَا يَبۡطُلُ بِالنِّكَاحِ، وَإِلَيۡهِ ذَهَبَ الۡحَسَنُ الۡبَصۡرِيُّ وَابۡنُ حَزۡمٍ، وَاحۡتَجُّوا بِبَقَاءِ ابۡنِ أُمِّ سَلَمَةَ فِي كَفَالَتِهَا بَعۡدَ أَنۡ تَزَوَّجَتۡ بِالنَّبِيِّ ﷺ. وَيُجَابُ عَنۡ ذٰلِكَ بِأَنَّ مُجَرَّدَ الۡبَقَاءِ مَعَ عَدَمِ الۡمُنَازِعِ لَا يُحۡتَجُّ بِهِ لِاحۡتِمَالِ أَنَّهُ لَمۡ يَبۡقَ لَهُ قَرِيبٌ غَيۡرُهَا، وَاحۡتَجُّوا أَيۡضًا بِمَا سَيَأۡتِي فِي حَدِيثِ ابۡنَةِ حَمۡزَةَ، فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَضَى بِأَنَّ الۡحَقَّ لِخَالَتِهَا، وَكَانَتۡ تَحۡتَ جَعۡفَرِ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ، وَقَدۡ قَالَ: الۡخَالَةُ بِمَنۡزِلَةِ الۡأُمِّ، وَيُجَابُ عَنۡ هَٰذَا بِأَنَّهُ لَا يَدۡفَعُ النَّصَّ الۡوَارِدَ فِي الۡأُمِّ، وَيُمۡكِنُ أَنۡ يُقَالَ إِنَّ هَٰذَا يَكُونُ دَلِيلًا عَلَى مَا ذَهَبَتۡ إِلَيۡهِ الۡحَنَفِيَّةُ وَالۡهَادَوِيَّةُ مِنۡ أَنَّ النِّكَاحَ إِذَا كَانَ بِمَنۡ هُوَ رَحِمٌ لِلصَّغِيرِ فَلَا يُبۡطِلُ بِهِ الۡحَقَّ، وَيَكُونُ حَدِيثُ ابۡنَةِ حَمۡزَةَ مُقَيِّدًا لِقَوۡلِهِ ﷺ: (مَالَمۡ تَنۡكِحِي).
Aku (Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah) berkata:
Ibu (yang paling berhak mengasuh anak) berdasarkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amr: Bahwa ada seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya putraku ini, dahulunya perutku adalah tempat untuknya, pangkuanku adalah tempat berlindung baginya, dan payudaraku adalah tempat minum baginya, kemudian ayahnya menyatakan akan mengambilnya dariku.” Nabi bersabda, “Engkau lebih berhak terhadap anakmu selama engkau belum menikah lagi.”[1] Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim. Al-Hakim menilainya sahih.
Telah terjadi kesepakatan bahwa ibu lebih berhak daripada ayah. Ibnu Al-Mundzir mengisahkan kesepakatan bahwa hak ibu menjadi batal karena pernikahannya.
Namun juga diriwayatkan dari ‘Utsman bahwa hak pengasuhan tidak menjadi batal karena pernikahan. Yang berpendapat seperti ini adalah Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Hazm. Mereka beralasan dengan tetapnya putra Ummu Salamah berada di bawah asuhan ibunya setelah Ummu Salamah menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu bisa dijawab, bahwa semata-mata tetapnya putra Ummu Salamah tanpa ada orang yang ingin mengambilnya, tidak bisa dijadikan alasan. Karena ada kemungkinan anak itu tidak memiliki kerabat selain Ummu Salamah.
Mereka juga beralasan dengan hadis putri Hamzah yang akan datang. Alasannya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan hak pengasuhan kepada khalah-nya (bibi dari garis ibu/saudara perempuan ibu), yang ketika itu merupakan istri Ja’far bin Abu Thalib. Dan Nabi bersabda, “Khalah berkedudukan seperti ibu.”[2] Namun alasan itu bisa dijawab bahwa hadis itu tidak bisa menolak nas yang ada tentang ibu. Mungkin juga untuk dikatakan bahwa hadis ini merupakan dalil pendapat yang dipegangi oleh mazhab Hanafi dan Hadawiyyah bahwa jika si ibu menikah dengan orang yang merupakan kerabat si anak kecil, maka tidak membatalkan hak pengasuhan si ibu. Dan hadis putri Hamzah membatasi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Selama engkau belum menikah.”
وَأَمَّا كَوۡنُ الۡخَالَةُ أَوۡلَى بَعۡدَ الۡأُمِّ مِمَّنۡ عَدَاهَا، فَلِحَدِيثِ الۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ فِي الصَّحِيحَيۡنِ وَغَيۡرِهِمَا: (أَنَّ ابۡنَةَ حَمۡزَةَ اخۡتَصَمَ فِيهَا عَلِيٌّ وَجَعۡفَرٌ وَزَيۡدٌ، فَقَالَ عَلِيٌّ: أَنَا أَحَقُّ بِهَا هِيَ ابۡنَةُ عَمِّي، وَقَالَ جَعۡفَرٌ: بِنۡتُ عَمِّي وَخَالَتُهَا تَحۡتِي، وَقَالَ زَيۡدٌ: ابۡنَةُ أَخِي، فَقَضَى بِهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ لِخَالَتِهَا وَقَالَ: الۡخَالَةُ بِمَنۡزِلَةِ الۡأُمِّ). وَالۡمُرَادُ بِقَوۡلِ زَيۡدٍ ابۡنَةُ أَخِي أَنَّ حَمۡزَةَ قَدۡ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ آخَي بَيۡنَهُمَا. وَوَجۡهُ الۡاسۡتِدۡلَالِ بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ أَنَّهُ قَدۡ ثَبَتَ بِالۡإِجۡمَاعِ أَنَّ الۡأُمَّ أَقۡدَمُ الۡحَوَاضِنِ، فَمُقۡتَضَى التَّشۡبِيهِ أَنَّ الۡخَالَةَ أَقۡدَمُ مِنۡ غَيۡرِهَا مِنۡ غَيۡرِ فَرۡقٍ بَيۡنَ الۡأَبِ وَغَيۡرِهِ، وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّ الۡأَبَ أَقۡدَمُ مِنۡهَا إِجۡمَاعًا وَلَيۡسَ ذٰلِكَ بِصَحِيحٍ، وَالۡخِلَافُ مَعۡرُوفٌ وَالۡحَدِيثُ يَحُجُّ مَنۡ خَالَفَهُ.
Adapun khalah (bibi dari garis ibu/saudara perempuan ibu) lebih berhak setelah ibu daripada orang lain, maka berdasar hadis Al-Bara` bin ‘Azib di dalam dua kitab Shahih dan selainnya: Bahwa pengasuhan putri Hamzah diperebutkan oleh ‘Ali, Ja’far, dan Zaid. ‘Ali berkata, “Aku lebih berhak terhadapnya. Dia putri pamanku.” Ja’far berkata, “Dia putri pamanku dan khalah-nya adalah istriku.” Zaid berkata, “Dia adalah putri saudaraku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan pengasuhan putri Hamzah untuk khalah-nya dan beliau bersabda, “Khalah berkedudukan seperti ibu.”[3] Maksud ucapan Zaid bahwa putri Hamzah adalah putri saudaraku karena Hamzah dahulu pernah dipersaudarakan dengan Zaid oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sisi pendalilan dengan hadis ini bahwa telah pasti ada kesepakatan bahwa ibu adalah pengasuh anak yang paling didahulukan, sehingga konsekuensi dari penyerupaan (antara khalah dengan ibu) adalah khalah lebih didahulukan daripada selain dia, tanpa membedakan apakah ayah atau selain ayah.
Ada yang berpendapat bahwa ayah lebih didahulukan daripada khalah berdasarkan ijmak. Namun pernyataan itu tidak sahih dan perselisihan pendapat dalam hal ini sudah makruf. Hadis ini menjadi argumen pihak yang menyelisihi pendapat ini.
وَأَمَّا إِثۡبَاتُ حَقِّ الۡأَبِ فِي الۡحَضَانَةِ، فَهُوَ وَإِنۡ لَمۡ يَرِدۡ دَلِيلٌ يَخُصُّهُ، لَكِنَّهُ قَدۡ اسۡتُفِيدَ مِنۡ قَوۡلِهِ ﷺ لِلۡأُمِّ: (أَنۡتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمۡ تَنۡكِحِي)، فَإِنَّ هَٰذَا يَدُلُّ عَلَى ثُبُوتِ أَصۡلِ الۡحَقِّ لِلۡأَبِ بَعۡدَ الۡأُمِّ، وَمَنۡ بِمَنۡزِلَتِهَا وَهِيَ الۡخَالَةُ، وَكَذٰلِكَ إِثۡبَاتُ التَّخۡيِيرِ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ الۡأُمِّ فِي الۡكَفَالَةِ؛ فَإِنَّهُ يُفِيدُ إِثۡبَاتَ حَقٍّ لَهُ فِي الۡجُمۡلَةِ.
Adapun penetapan ada hak bagi ayah dalam pengasuhan anak, maka meskipun tidak ada dalil yang mengkhususkannya, akan tetapi diambil faedah dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk si ibu, “Engkau lebih berhak terhadap anakmu selama engkau belum menikah.” Sesungguhnya hadis ini menunjukkan ketetapan asal hak untuk si bapak setelah si ibu dan orang yang berkedudukan seperti ibu, yaitu khalah (saudara perempuan ibu). Demikian pula penetapan adanya pemberian pilihan pada si anak antara ayah dengan ibu dalam hal pengurusan anak. Hal itu memberi faedah penetapan hak bagi si ayah secara umum.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ يُعَيِّنُ الۡحَاكِمُ مِنَ الۡقَرَابَةِ مَنۡ رَأَى فِيهِ صَلَاحًا، فَلِأَنَّهُ إِذَا عَدَمَتِ الۡأُمُّ وَالۡخَالَةُ وَالۡأَبُ، وَالصَّبِيُّ مُحۡتَاجٌ إِلَى مَنۡ يَحۡضُنُهُ بِالضَّرُورَةِ وَالۡقَرَابَةُ أَشۡفَقُ بِهِ، فَيُعَيِّنُ الۡحَاكِمُ مَنۡ يَقُومُ بِأَمۡرِهِ مِنۡهُمۡ مِمَّنۡ يَرَى فِيهِ صَلَاحًا لِلصَّبِيِّ. وَقَدۡ أَخۡرَجَ عَبۡدُ الرَّزَّاقِ عَنۡ عِكۡرِمَةَ قَالَ: (إِنَّ امۡرَأَةَ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ خَاصَمَتۡهُ إِلَى أَبِي بَكۡرٍ فِي وَلَدٍ عَلَيۡهَا؛ فَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: هِيَ أَعۡطَفُ وَأَلۡطَفُ وَأَرۡحَمُ وَأَحۡنَى، وَهِيَ أَحَقٌّ بِوَلَدِهَا مَا لَمۡ تَتَزَوَّجۡ)، فَهَٰذِهِ الۡأَوۡصَافُ تُفِيدُ أَنَّ أَبَا بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ جَعَلَ الۡعِلَّةَ الۡعَطۡفَ وَاللُّطۡفَ وَالرَّحۡمَةَ وَالۡحُنُوَّ.
Adapun hakim menentukan di antara kerabatnya, orang yang dia anggap baik, maka hal itu karena ketika tidak ada ibu, khalah, dan ayah, kemudian si anak pasti butuh orang yang mengasuhnya sementara yang paling sayang dengannya adalah kerabatnya, maka hakim menentukan orang yang mengurusi urusannya di antara mereka yang dia anggap ada kebaikan untuk si anak.
‘Abdurrazzaq telah meriwayatkan dari ‘Ikrimah. Beliau berkata: Sesungguhnya istri ‘Umar bin Al-Khaththab (yang telah diceraikan) mengadukan ‘Umar kepada Abu Bakr dalam hal pengasuhan anak. Abu Bakr berkata, “Dia lebih cinta, lebih lembut, lebih sayang, dan lebih mengasihi. Dan dia lebih berhak terhadap anaknya selama dia belum menikah lagi.” Sifat-sifat ini memberi faedah bahwa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menjadikan faktor penyebabnya adalah rasa cinta, lembut, sayang, dan mengasihi.
وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَثۡبُتُ التَّخۡيِيرُ لِلصَّبِيِّ بَعۡدَ بُلُوغِ سِنِّ الۡاسۡتِقۡلَالِ بَيۡنَ الۡأُمِّ وَالۡأَبِ، فَلِحَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عِنۡدَ أَحۡمَدَ وَأَهۡلِ السُّنَنِ وَصَحَّحَهُ التِّرۡمِذِيُّ. (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَيَّرَ غُلَامًا بَيۡنَ أَبِيهِ وَأُمِّهِ). وَفِي لَفۡظٍ: (أَنَّ امۡرَأَةً جَاءَتۡ فَقَالَتۡ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ زَوۡجِي يُرِيدُ أَنۡ يَذۡهَبَ بِابۡنِي، وَقَدۡ سَقَانِي مِنۡ بِئۡرِ أَبِي عِنَبَةَ وَقَدۡ نَفَعَنِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: اسۡتَهِمَا عَلَيۡهِ؛ قَالَ زَوۡجُهَا: مَنۡ يُحَاقُّنِي فِي وَلَدِي؟ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ هَٰذَا أَبُوكَ وَهَٰذِهِ أُمُّكَ؛ فَخُذۡ بِيَدِ أَيِّهِمَا شِئۡتَ، فَأَخَذَ بِيَدِ أُمِّهِ، فَانۡطَلَقَتۡ بِهِ) أَخۡرَجَهُ أَهۡلُ السُّنَنِ وَابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَصَحَّحَهُ التِّرۡمِذِيُّ وَابۡنُ حِبَّانَ وَابۡنُ الۡقَطَّانِ؛ وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابۡنُ مَاجَة، وَالدَّارَقُطۡنِيُّ مِنۡ حَدِيثِ عَبۡدِ الۡحَمِيدِ بۡنِ جَعۡفَرٍ الۡأَنۡصَارِيِّ عَنۡ جَدِّهِ: (أَنَّ جَدَّهُ أَسۡلَمَ وَأَبَتۡ امۡرَأَتُهُ أَنۡ تُسۡلِمَ، فَجَاءَ بِابۡنٍ صَغِيرٍ لَهُ لَمۡ يَبۡلُغۡ، قَالَ: فَأَجۡلَسَ النَّبِيُّ ﷺ الۡأَبَ هَهُنَا، وَالۡأُمَّ هَهُنَا، ثُمَّ خَيَّرَهُ وَقَالَ: اللّٰهُمَّ اهۡدِهِ، فَذَهَبَ إِلَى أَبِيهِ.
Adapun tetapnya pemberian pilihan bagi anak setelah sampai usia mandiri antara ibu dan ayah, maka berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menurut riwayat Ahmad dan penyusun kitab Sunan. Hadis ini dinilai sahih oleh At-Tirmidzi. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada anak antara ayah dan ibunya.[4]
Dalam lafal lain: Bahwa ada seorang wanita datang seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya suamiku ingin untuk pergi membawa putraku, padahal anakku telah mengambilkan air untukku dari sumur Abu ‘Inabah dan dia telah memberi manfaat untukku.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Undilah dia!”
Suaminya berkata, “Siapa yang merasa lebih pantas terhadap anakku daripada aku?”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada si anak), “Ini ayahmu dan ini ibumu. Peganglah tangan mana dari mereka berdua yang engkau inginkan.”
Lalu si anak memegang tangan ibunya, sehingga ibunya pergi membawanya.[5] Hadis ini dikeluarkan oleh penyusun kitab Sunan dan Ibnu Abu Syaibah. Dinilai sahih oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Al-Qaththan.
Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Daraquthni meriwayatkan dari hadis ‘Abdul Hamid bin Ja’far Al-Anshari dari kakeknya: Bahwa kakeknya masuk Islam sementara istrinya tidak mau masuk Islam. Lalu dia datang membawa anaknya yang masih kecil belum balig. Perawi berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendudukkan si ayah di sini dan si ibu di sini. Kemudian memberikan pilihan kepada si anak dan berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk kepadanya.” Lalu si anak bergerak menuju tempat ayahnya.[6]
وَأَمَّا كَوۡنُهُ يَكۡفُلُهُ مَنۡ كَانَ لَهُ فِي كَفَالَتِهِ مَصۡلَحَةٌ إِذَا لَمۡ يُوجَدۡ، فَلِكَوۡنِهِ مُحۡتَاجًا إِلَى ذٰلِكَ، وَلَمۡ يُوجَدۡ مَنۡ لَهُ فِي ذٰلِكَ حَقٌّ بِنَصِّ الشَّرۡعِ، فَكَانَتِ الۡمَصۡلَحَةُ مُعۡتَبَرَةً فِي مَصۡلَحَةِ بَدَنِهِ كَمَا اعۡتُبِرَتۡ فِي مَالِهِ، وَقَدۡ دَلَّتۡ عَلَى ذٰلِكَ الۡأَدِلَّةُ الۡوَارِدَةُ فِي أَمۡوَالِ الۡيَتَامَى مِنَ الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.
Adapun perihal bahwa yang mengurusnya adalah orang yang bisa memberikan maslahat kepadanya ketika mengurusinya apabila tidak didapati (orang tuanya), maka berdasarkan kebutuhan si anak terhadap hal itu sementara sudah tidak didapati orang yang berhak terhadapnya dalam pengurusan itu berdasarkan nas syariat. Maka, maslahat adalah yang menjadi patokan, dalam maslahat badannya sebagaimana maslahat hartanya. Yang menunjukkan akan hal itu adalah dalil-dalil yang datang tentang harta-harta anak yatim dari Alquran dan Sunah.

[1] HR. Abu Dawud nomor 2276 dan Ahmad 2/182.
[3] Lihat catatan kaki sebelumnya.
[4] HR. Ibnu Majah nomor 2351, At-Tirmidzi nomor 1357, dan Ahmad dalam Musnad 2/246.
[6] HR. Abu Dawud nomor 2244, Ibnu Majah nomor 2352, dan Ahmad dalam Musnad 5/446.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 2998

٤٧ - بَابُ الۡعُمۡرَةِ فِي رَجَبٍ
47. Bab umrah di bulan Rajab

٢٩٩٨ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ آدَمَ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَيَّاشٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ حَبِيبٍ - يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي ثَابِتٍ -، عَنۡ عُرۡوَةَ، قَالَ: سُئِلَ ابۡنُ عُمَرَ: فِي أَيِّ شَهۡرٍ اعۡتَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ؟ قَالَ فِي رَجَبٍ، فَقَالَتۡ عَائِشَةُ: مَا اعۡتَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي رَجَبٍ قَطُّ، وَمَا اعۡتَمَرَ إِلَّا وَهُوَ مَعَهُ – تَعۡنِي: ابۡنَ عُمَرَ -. [(صحيح أبي داود) أَيضًا].
2998. [Sahih] Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami dari Abu Bakr bin ‘Ayyasy, dari Al-A’masy, dari Habib bin Abu Tsabit, dari ‘Urwah. Beliau berkata: Ibnu ‘Umar ditanya: Di bulan apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah? Beliau menjawab: Di bulan Rajab. ‘Aisyah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan umrah di bulan Rajab dan beliau tidak melakukan umrah kecuali Ibnu ‘Umar bersamanya.

Usdul Ghabah - 6817. Jamilah binti Tsabit bin Abu Al-Aqlah

٦٨١٧ - جَمِيلَةُ بِنۡتُ ثَابِتِ بۡنِ أَبِي الۡأَقۡلَحِ
6817. Jamilah binti Tsabit bin Abu Al-Aqlah

ب د ع: جَمِيلَةُ بِنۡتُ ثَابِتِ بۡنِ أَبِي الۡأَقۡلَحِ الۡأَنۡصَارِيَّةُ، أُخۡتُ عَاصِمِ بۡنِ ثَابِتٍ، امۡرَأَةُ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ، تُكۡنَى أُمُّ عَاصِمٍ بِابۡنِهَا عَاصِمِ بۡنِ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ، سَمَّتۡهُ بِاسۡمِ أَخِيهَا.
Jamilah binti Tsabit bin Abu Al-Aqlah Al-Anshariyyah, saudara perempuan ‘Ashim bin Tsabit dan istri ‘Umar bin Al-Khaththab. Dipanggil dengan kunyah Ummu ‘Ashim karena putranya bernama ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khaththab. Dia menamainya sama dengan nama saudaranya.
رَوَى حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ: أَنَّهَا كَانَ اسۡمُهَا عَاصِيَةَ، فَلَمَّا أَسۡلَمَتۡ سَمَّاهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ جَمِيلَةَ.
Hammad bin Salamah telah meriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar: Bahwa beliau dahulu bernama ‘Ashiyah, lalu ketika masuk Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya Jamilah.[1]
تَزَوَّجَهَا عُمَرُ سَنَةَ سَبۡعٍ مِنَ الۡهِجۡرَةِ، فَوَلَدَتۡ لَهُ عَاصِمًا، ثُمَّ طَلَّقَهَا عُمَرُ فَتَزَوَّجَهَا يَزِيدُ بۡنُ جَارِيَةَ، فَوَلَدَتۡ لَهُ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ يَزِيدَ، فَهُوَ أَخُو عَاصِمٍ لِأُمِّهِ، وَهِيَ الَّتِي جَاءَ فِيهَا الۡحَدِيثُ: أَنَّ عُمَرَ رَكِبَ إِلَى قُبَاءٍ، فَوَجَدَ ابۡنَهُ عَاصِمًا يَلۡعَبُ مَعَ الصِّبۡيَانِ، فَحَمَلَهُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ، فَأَدۡرَكَتۡهُ جَدَّتُهُ الشَّمُوسُ بِنۡتُ أَبِي عَامِرٍ، فَنَازَعَتۡهُ إِيَّاهُ، حَتَّى انۡتَهَى إِلَى أَبِي بَكۡرٍ الصِّدِّيقِ، فَقَالَ لَهُ أَبُو بَكۡرٍ: خَلِّ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَهَا. فَمَا رَاجَعَهُ وَسَلَّمَهُ إِلَيۡهَا.
‘Umar menikahinya pada tahun 7 hijriah, lalu Jamilah melahirkan ‘Ashim untuk beliau. Kemudian ‘Umar menceraikannya, lalu Yazid bin Jariyah menikahinya. Jamilah melahirkan ‘Abdurrahman bin Yazid untuknya. Sehingga ‘Abdurrahman adalah saudara seibu bagi ‘Ashim.
Jamilah inilah yang tersirat dalam hadis: Bahwa ‘Umar menaiki tunggangan menuju Quba`, lalu dia mendapati anaknya, yaitu ‘Ashim, sedang bermain bersama anak-anak. ‘Umar menggendongnya di depan, namun nenek si anak itu, yaitu Asy-Syamus binti Abu ‘Amir menyusulnya, sehingga dia dan ‘Umar memperebutkan ‘Ashim, sampai berujung di hadapan Abu Bakr Ash-Shiddiq. Abu Bakr berkata kepada ‘Umar: Jangan halangi ‘Ashim dengan dia. Abu Bakr tidak mengembalikan ‘Ashim kepada ‘Umar dan Abu Bakr menyerahkannya kepada nenek.
أَخۡرَجَهَا الثَّلَاثَةُ.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar).

[1] HR. Ahmad dalam Musnad beliau (2/18), Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 820, dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (24/544).

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 2996 dan 2997

٤٦ - بَابُ الۡعُمۡرَةِ فِي ذِي الۡقَعۡدَةِ
46. Bab umrah di bulan Zulkaidah

٢٩٩٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ زَكَرِيَّا بۡنِ أَبِي زَائِدَةَ، عَنِ ابۡنِ أَبِي لَيۡلَى، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ: لَمۡ يَعۡتَمِرۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَّا فِي ذِي الۡقَعۡدَةِ. [(صحيح أبي داود)(١٧٣٩)].
2996. [Sahih] ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yahya bin Zakariyya bin Abu Za`idah menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Laila, dari ‘Atha`, dari Ibnu ‘Abbas; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan umrah kecuali di bulan Zulkaidah.
٢٩٩٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ نُمَيۡرٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ قَالَتۡ: لَمۡ يَعۡتَمِرۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ عُمۡرَةً إِلَّا فِي ذِي الۡقَعۡدَةِ. [(صحيح أبي داود)(١٧٣٨): ق نحوه].
2997. [Sahih] Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Mujahid, dari ‘Aisyah; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu umrah pun kecuali di bulan Zulkaidah.

Shahih Muslim hadits nomor 124

٥٦ - بَابُ صِدۡقِ الۡإِيمَانِ وَإِخۡلَاصِهِ
56. Bab kejujuran iman dan pemurniannya

١٩٧ - (١٢٤) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ إِدۡرِيسَ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ﴾ [الأنعام: ٨٢] شَقَّ ذٰلِكَ عَلَى أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَقَالُوا: أَيُّنَا لَا يَظۡلِمُ نَفۡسَهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَيۡسَ هُوَ كَمَا تَظُنُّونَ، إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقۡمَانُ لِابۡنِهِ: ﴿يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ﴾ [لقمان: ١٣]).
[البخاري: كتاب الإيمان، باب ظلم دون ظلم، رقم: ٣٢].
197. (124). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Idris, Abu Muawiyah, dan Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah. Beliau berkata: Ketika turun ayat yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman.” (QS. Al-An’am: 82), ayat tersebut membuat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat. Mereka berkata, “Siapa di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ayat itu tidak sebagaimana kalian kira. Arti ayat itu sebagaimana perkataan Luqman kepada putranya: Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu benar-benar kezaliman yang besar. (QS. Luqman: 13).”
١٩٨ - (...) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بۡنُ خَشۡرَمٍ، قَالَا: أَخۡبَرَنَا عِيسَى، وَهُوَ ابۡنُ يُونُسَ. (ح) وَحَدَّثَنَا مِنۡجَابُ بۡنُ الۡحَارِثِ التَّمِيمِيُّ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ مُسۡهِرٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ إِدۡرِيسَ كُلُّهُمۡ عَنِ الۡأَعۡمَشِ بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ.
قَالَ أَبُو كُرَيۡبٍ: قَالَ ابۡنُ إِدۡرِيسَ: حَدَّثَنِيهِ أَوَّلًا أَبِي، عَنۡ أَبَانَ بۡنِ تَغۡلِبَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، ثُمَّ سَمِعۡتُهُ مِنۡهُ.
198. Ishaq bin Ibrahim dan ‘Ali bin Khasyram telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Minjab bin Al-Harits At-Tamimi telah menceritakan kepada kami: Ibnu Mushir mengabarkan kpeada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Ibnu Idris mengabarkan kepada kami. Mereka semua dari Al-A’masy melalui sanad ini.
Abu Kuraib berkata: Ibnu Idris berkata: Awalnya, ayahku menceritakan hadis ini kepadaku dari Aban bin Taghlib, dari Al-A’masy. Kemudian aku mendengar hadis ini dari beliau langsung.

Pembangkitan dan Pengumpulan

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah di dalam kitab Lum'atul I'tiqad berkata:
١٩ - وَيُحۡشَرُ النَّاسُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرۡلًا بُهۡمًا فَيَقِفُونَ فِي مَوۡقِفِ الۡقِيَامَةِ، حَتَّى يَشۡفَعَ فِيهِمۡ نَبِيُّنَا ﷺ.
19. Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tanpa busana, tidak berkhitan, dan tangan hampa. Mereka berdiri di suatu tempat berdiri pada hari kiamat hingga Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafaat kepada mereka.[1]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah di dalam syarahnya berkata:
[1] الۡبَعۡثُ وَالۡحَشۡرُ:
الۡبَعۡثُ لُغَةً: الۡإِرۡسَالُ وَالنَّشۡرُ، وَشَرۡعًا: إِحۡيَاءُ الۡأَمۡوَاتِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ.
وَالۡحَشۡرُ لُغَةً: الۡجَمۡعُ، وَشَرۡعًا: جَمۡعُ الۡخَلَائِقِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ لِحِسَابِهِمۡ وَالۡقَضَاءِ بَيۡنَهُمۡ.
وَالۡبَعۡثُ وَالۡحَشۡرُ حَقٌّ ثَابِتٌ بِالۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجۡمَاعِ الۡمُسۡلِمِينَ.
Pembangkitan dan Pengumpulan: 
Al-ba’ts secara bahasa artinya pengutusan dan penyebaran. Sedangkan secara istilah syariat adalah perbuatan menghidupkan makhluk yang sudah mati pada hari kiamat.
Al-hasyr secara bahasa artinya pengumpulan. Secara istilah syariat adalah pengumpulan makhluk-makhluk pada hari kiamat untuk perhitungan mereka dan pemutusan perkara antara mereka.
Pembangkitan dan pengumpulan adalah peristiwa yang benar terjadi dan telah dipastikan dalam Alquran, sunah, dan kesepakatan kaum muslimin.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبۡعَثُنَّ﴾ [التغابن: ٧]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿قُلۡ إِنَّ الۡأَوَّلِينَ وَالۡآخِرِينَ ۝٤٩ لَمَجۡمُوعُونَ إِلَىٰ مِيقَاتِ يَوۡمٍ مَعۡلُومٍ﴾ [الواقعة: ٤٩، ٥٠].
Allah taala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Memang, demi Rabb-ku kalian benar-benar akan dibangkitkan.” (Q.S. At-Taghabun: 7).
Allah taala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Sesungguhnya dari yang awal sampai akhir, benar-benar akan dikumpulkan sampai hari yang dikenal.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 49-50).
وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يُحۡشَرُ النَّاسُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ عَلَى أَرۡضٍ بَيۡضَاءَ عَفۡرَاءَ كَقُرۡصَةِ النَّقِيِّ لَيۡسَ فِيهَا عَلَمٌ لِأَحَدٍ). مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di atas bumi yang putih kemerahan seperti roti yang bersih yang tidak ada tanda milik seorang pun.” (Muttafaq ‘alaih, HR. Al-Bukhari nomor 6521 dan Muslim nomor 2790).
وَأَجۡمَعَ الۡمُسۡلِمُونَ عَلَى ثُبُوتِ الۡحَشۡرِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ.
Kaum muslimin telah bersepakat terhadap kepastian pengumpulan pada hari kiamat.
وَيُحۡشَرُ النَّاسُ حُفَاةً لَا نِعَالَ عَلَيۡهِمۡ عُرَاةً لَا كِسۡوَةَ عَلَيۡهِمۡ غُرۡلًا لَا خِتَانَ فِيهِمۡ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿كَمَا بَدَأۡنَا أَوَّلَ خَلۡقٍ نُعِيدُه﴾ [الأنبياء: ١٠٤].
وَقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (إِنَّكُمۡ تُحۡشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرۡلًا ثُمَّ قَرَأَ: ﴿كَمَا بَدَأۡنَا أَوَّلَ خَلۡقٍ نُعِيدُهُ وَعۡدًا عَلَيۡنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ﴾ [الأنبياء: ١٠٤]. وَأَوَّلُ مَنۡ يُكۡسَى إِبۡرَاهِيمُ). مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ.
Manusia dikumpulkan dalam keadaan hufatan/tidak beralas kaki, ‘uratan/tidak berpakaian, ghurlan/tidak berkhitan. Berdasarkan firman Allah taala (yang artinya), “Sebagaimana Kami mulai pada awal kali penciptaan, begitulah Kami akan mengulanginya.” (QS. Al-Anbiya`: 104).
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, tanpa busana, tidak berkhitan. Kemudian beliau membaca: Sebagaimana Kami mulai awal kali penciptaan, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji bagi Kami. Sesungguhnya Kami akan melakukannya. (QS. Al-Anbiya`: 104). Orang yang pertama kali diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim.” (Muttafaq ‘alaih, HR. Al-Bukhari nomor 6524 dan Muslim nomor 2860).
وَفِي حَدِيثِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أُنَيۡسٍ الۡمَرۡفُوعِ الَّذِي رَوَاهُ أَحۡمَدُ: (يُحۡشَرُ النَّاُس يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ عُرَاةً غُرۡلًا بُهۡمًا)، قُلۡنَا: وَمَا بُهۡمًا؟ قَالَ: (لَيۡسَ مَعَهُمۡ شَيۡءٌ...) الۡحَدِيث.
Di dalam hadis ‘Abdullah bin Unais yang marfuk diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tanpa busana, tidak berkhitan, dan buhman.” Kami bertanya, “Apa artinya buhman?” Nabi menjawab, “Tidak ada apapun yang bersamanya…”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6524

٦٥٢٤ – حَدَّثَنَا عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: قَالَ عَمۡرٌو: سَمِعۡتُ سَعِيدَ بۡنَ جُبَيۡرٍ: سَمِعۡتُ ابۡنُ عَبَّاسٍ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّكُمۡ مُلَاقُو اللهِ حُفَاةً عُرَاةً مُشَاةً غُرۡلًا). قَالَ سُفۡيَانُ: هَٰذَا مِمَّا نَعُدُّ أَنَّ ابۡنَ عَبَّاسٍ سَمِعَهُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ. [طرفه في: ٣٣٤٩].
6524. ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Amr berkata: Aku mendengar Sa’id bin Jubair: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan bertemu Allah dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa busana, berjalan kaki, dan tidak berkhitan.” Sufyan berkata: Hadis ini termasuk hadis yang kami anggap bahwa Ibnu ‘Abbas mendengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shahih Muslim hadits nomor 123

٥٥ - بَابُ بَيَانِ حُكۡمِ عَمَلِ الۡكَافِرِ إِذَا أَسۡلَمَ بَعۡدَهُ
55. Bab keterangan hukum amalan orang kafir apabila dia masuk Islam setelahnya

١٩٤ - (١٢٣) - حَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ حَكِيمَ بۡنَ حِزَامٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ: أَرَأَيۡتَ أُمُورًا كُنۡتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، هَلۡ لِي فِيهَا مِنۡ شَيۡءٍ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَسۡلَمۡتَ عَلَى مَا أَسۡلَفۡتَ مِنۡ خَيۡرٍ) وَالتَّحَنُّثُ: التَّعَبُّدُ.
[البخاري: كتاب الزكاة، باب من تصدق في الشرك ثم أسلم، رقم: ١٣٦٩].
194. (123). Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Yunus mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku: Bahwa Hakim bin Hizam mengabarkan kepadanya: Bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa pendapatmu tentang perkara-perkara yang dahulu aku beribadah dengannya di masa jahiliah? Apakah ada pahala untukku padanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Engkau masuk Islam dalam keadaan masih membawa kebaikan yang engkau lakukan dahulu.” Tahannuts artinya beribadah.
١٩٥ - (...) - وَحَدَّثَنَا حَسَنٌ الۡحُلۡوَانِيُّ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ. قَالَ الۡحُلۡوَانِيُّ: حَدَّثَنَا، وَقَالَ عَبۡدٌ: حَدَّثَنِي يَعۡقُوبُ - وَهُوَ ابۡنُ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ سَعۡدٍ -: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ حَكِيمَ بۡنَ حِزَامٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ: أَيۡ رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيۡتَ أُمُورًا كُنۡتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ: مِنۡ صَدَقَةٍ أَوۡ عَتَاقَةٍ أَوۡ صِلَةِ رَحِمٍ، أَفِيهَا أَجۡرٌ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَسۡلَمۡتَ عَلَى مَا أَسۡلَفۡتَ مِنۡ خَيۡرٍ).
195. Hasan Al-Hulwani dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami. Al-Hulwani berkata: Telah menceritakan kepada kami. ‘Abd berkata: Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepadaku: Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku: Bahwa Hakim bin Hizam mengabarkan kepadanya: Bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang perkara-perkara yang dahulu aku beribadah dengannya di masa jahiliah berupa sedekah, pembebasan budak, atau silaturahmi? Apakah padanya tetap ada pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau masuk Islam dalam keadaan masih membawa kebaikan yang engkau lakukan dahulu.”
(...) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ، قَالَا: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ.
(ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ حَكِيمِ بۡنِ حِزَامٍ. قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَشۡيَاءَ كُنۡتُ أَفۡعَلُهَا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ .- قَالَ هِشَامٌ: يَعۡنِي أَتَبَرَّرُ بِهَا - فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَسۡلَمۡتَ عَلَى مَا أَسۡلَفۡتَ لَكَ مِنَ الۡخَيۡرِ). قُلۡتُ: فَوَاللهِ، لَا أَدَعُ شَيۡئًا صَنَعۡتُهُ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ إِلَّا فَعَلۡتُ فِي الۡإِسۡلَامِ مِثۡلَهُ.
Ishaq bin Ibrahim dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri melalui sanad ini.
(Dalam riwayat lain) Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami: Hisyam bin ‘Urwah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Hakim bin Hizam.
Beliau berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan amalan yang dahulu aku lakukan di masa jahiliah?” Hisyam berkata: Yakni yang aku berbuat baik dengannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau masuk Islam dalam keadaan masih membawa kebaikan yang engkau lakukan dahulu.”
Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak meninggalkan suatu kebaikan yang telah aku lakukan di masa jahiliah kecuali aku lakukan semisal itu di masa Islam.”
١٩٦ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ نُمَيۡرٍ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّ حَكِيمَ بۡنَ حِزَامٍ أَعۡتَقَ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ مِائَةَ رَقَبَةٍ، وَحَمَلَ عَلَى مِائَةِ بَعِيرٍ، ثُمَّ أَعۡتَقَ فِي الۡإِسۡلَامِ مِئَةَ رَقَبَةٍ، وَحَمَلَ عَلَى مِئَةِ بَعِيرٍ. ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ... فَذَكَرَ نَحۡوَ حَدِيثِهِمۡ.
196. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya: Bahwa Hakim bin Hizam pernah membebaskan seratus budak di masa jahiliah dan memberikan seratus unta untuk dijadikan tunggangan. Kemudian di masa Islam beliau juga membebaskan seratus budak dan memberikan seratus unta untuk dijadikan tunggangan. Kemudian beliau datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… lalu perawi menceritakan semisal hadis mereka.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 2995

٢٩٩٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ وَاقِدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَمۡرٍو، عَنۡ عَبۡدِ الۡكَرِيمِ، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنۡ جَابِرٍ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (عُمۡرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعۡدِلُ حَجَّةً). [(الإرواء) أَيضًا، (الحج الكبير)].
2995. [Sahih] Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ahmad bin ‘Abdul Malik bin Waqid menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Amr menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Karim, dari ‘Atha`, dari Jabir; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadan setara dengan haji.”

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 2991, 2992, dan 2993

٤٥ - بَابُ الۡعُمۡرَةِ فِي رَمَضَانَ
45. Bab umrah di bulan Ramadan

٢٩٩١ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَعَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ بَيَانٍ؛ وَجَابِرٌ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ وَهۡبِ بۡنِ خَنۡبَشَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (عُمۡرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعۡدِلُ حَجَّةً). [(الإرواء)(٨٦٩ و١٥٨٧)، (الحج الكبير): ق].
2991. [Sahih] Abu Bakr bin Abu Syaibah dan ‘Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Waki’ menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Bayan; Jabir juga menceritakan kepada kami dari Asy-Sya’bi, dari Wahb bin Khanbasy. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadan setara dengan haji.”
٢٩٩٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّبَّاحِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ. (ح) وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدٍ، وَعَمۡرُو بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، جَمِيعًا، عَنۡ دَاوُدَ بۡنِ يَزِيدَ الزَّعَافِرِيِّ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ هَرِمِ بۡنِ خَنۡبَشَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (عُمۡرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعۡدِلُ حَجَّةً). [(الإرواء) أيضًا]. 
2992. [Sahih] Muhammad bin Ash-Shabbah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sufyan menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Ali bin Muhammad dan ‘Amr bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Waki’ menceritakan kepada kami. Semuanya dari Dawud bin Yazid Az-Za’afiri, dari Asy-Sya’bi, dari Harim bin Khanbasy; Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umrah di bulan Ramadan setara dengan haji.” 
٢٩٩٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا جُبَارَةُ بۡنُ الۡمُغَلِّسِ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ عُثۡمَانَ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ يَزِيدَ، عَنۡ أَبِي مَعۡقِلٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (عُمۡرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعۡدِلُ حَجَّةً). [(الإرواء) أَيضًا، (صحيح أبي داود)(١٧٣٥-١٧٣٦)]. 
2993. [Sahih] Jubarah bin Al-Mughallis telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibrahim bin ‘Utsman menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Al-Aswad bin Yazid, dari Abu Ma’qil, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Umrah di bulan Ramadan setara dengan haji.”