Shahih Muslim hadits nomor 110

١٧٦ - (١١٠) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا مُعَاوِيَةُ بۡنُ سَلَّامِ بۡنِ أَبِي سَلَّامٍ الدِّمَشۡقِيُّ، عَنۡ يَحۡيَىٰ بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ: أَنَّ أَبَا قِلَابَةَ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ ثَابِتَ بۡنَ الضَّحَّاكِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ بَايَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ تَحۡتَ الشَّجَرَةِ، وَأَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ بِمِلَّةٍ غَيۡرِ الۡإِسۡلَامِ كَاذِبًا فَهُوَ كَمَا قَالَ، وَمَنۡ قَتَلَ نَفۡسَهُ بِشَيۡءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَلَيۡسَ عَلَى رَجُلٍ نَذۡرٌ فِي شَيۡءٍ لَا يَمۡلِكُهُ).
176. (110). Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Mu’awiyah bin Sallam bin Abu Sallam Ad-Dimasyqi mengabarkan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir: Bahwa Abu Qilabah mengabarkan kepadanya: Bahwa Tsabit bin Adh-Dhahhak mengabarkan kepadanya: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaiat di bawah pohon dan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang bersumpah dengan agama selain Islam dalam keadaan dusta, maka dia sebagaimana yang dia katakan. Dan siapa saja yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka dia akan disiksa dengannya pada hari kiamat. Dan tidak ada kewajiban nazar bagi seseorang pada sesuatu yang tidak ia miliki.”
(...) - حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الۡمِسۡمَعِيُّ: حَدَّثَنَا مُعَاذٌ - وَهُوَ ابۡنُ هِشَامٍ - قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ يَحۡيَىٰ بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو قِلَابَةَ، عَنۡ ثَابِتِ بۡنِ الضَّحَّاكِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَيۡسَ عَلَى رَجُلٍ نَذۡرٌ فِيمَا لَا يَمۡلِكُ، وَلَعۡنُ الۡمُؤۡمِنِ كَقَتۡلِهِ، وَمَنۡ قَتَلَ نَفۡسَهُ بِشَيۡءٍ فِي الدُّنۡيَا عُذِّبَ بِهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَمَنِ ادَّعَى دَعۡوَى كَاذِبَةً لِيَتَكَثَّرَ بِهَا لَمۡ يَزِدۡهُ اللهُ إِلَّا قِلَّةً، وَمَنۡ حَلَفَ عَلَى يَمِينِ صَبۡرٍ فَاجِرَةٍ).
Abu Ghassan Al-Misma’i telah menceritakan kepadaku: Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Yahya bin Abu Katsir. Beliau berkata: Abu Qilabah menceritakan kepadaku dari Tsabit bin Adh-Dhahhak, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tidak ada kewajiban nazar bagi seseorang pada sesuatu yang tidak ia miliki. Melaknat seorang mukmin seperti membunuhnya. Siapa saja yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka dia akan disiksa dengannya pada hari kiamat. Siapa saja yang mengklaim dengan suatu klaim yang dusta agar dia bisa memperbanyak harta, maka Allah tidak akan menambahnya kecuali kesedikitan. Demikian pula siapa saja yang bersumpah dengan sumpah dusta.”
١٧٧ - (...) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، وَإِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، وَعَبۡدُ الۡوَارِثِ بۡنُ عَبۡدِ الصَّمَدِ، كُلُّهُمۡ عَنۡ عَبۡدِ الصَّمَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَارِثِ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ، عَنۡ ثَابِتِ بۡنِ الضَّحَّاكِ الۡأَنۡصَارِيِّ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّزَّاقِ، عَنِ الثَّوۡرِيِّ، عَنۡ خَالِدٍ الۡحَذَّاءِ، عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ، عَنۡ ثَابِتِ بۡنِ الضَّحَّاكِ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنۡ حَلَفَ بِمِلَّةٍ سِوَى الۡإِسۡلَامِ كَاذِبًا مُتَعَمِّدًا فَهُوَ كَمَا قَالَ، وَمَنۡ قَتَلَ نَفۡسَهُ بِشَيۡءٍ عَذَّبَهُ اللهُ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ).
هَٰذَا حَدِيثُ سُفۡيَانَ، وَأَمَّا شُعۡبَةُ فَحَدِيثُهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ حَلَفَ بِمِلَّةٍ سِوَىٰ الۡإِسۡلَامِ كَاذِبًا فَهُوَ كَمَا قَالَ، وَمَنۡ ذَبَحَ نَفۡسَهُ بِشَيۡءٍ ذُبِحَ بِهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ).
177. Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Manshur, dan ‘Abdul Warits bin ‘Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami. Mereka semua dari ‘Abdush Shamad bin ‘Abdul Warits, dari Syu’bah, dari Ayyub, dan Abu Qilabah, dari Tsabit bin Adh-Dhahhak Al-Anshari. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami dari ‘Abdurrazzaq, dari Ats-Tsauri, dari Khalid Al-Hadzdza`, dari Abu Qilabah, dari Tsabit bin Adh-Dhahhak. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang bersumpah dengan agama selain Islam dalam keadaan dusta dan sengaja, maka dia sebagaimana yang dia katakan. Dan siapa saja yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka Allah akan menyiksa dia dengan sesuatu itu di dalam neraka jahanam.”
Ini adalah hadis Sufyan. Adapun Syu’bah, maka hadisnya adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja bersumpah dengan agama selain Islam dalam keadaan dia berdusta, maka dia sebagaimana yang dia katakan. Dan siapa yang menyembelih dirinya dengan suatu benda, maka dia akan disembelih dengan benda itu pada hari kiamat.”

Shahih Muslim hadits nomor 109

٤٧ - بَابُ غِلَظِ تَحۡرِيمِ قَتۡلِ الۡإِنۡسَانِ نَفۡسَهُ، وَأَنَّ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسَهُ بِشَيۡءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي النَّارِ وَأَنَّهُ لَا يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ إِلَّا نَفۡسٌ مُسۡلِمَةٌ
47. Bab kerasnya pengharaman bunuh diri dan bahwa siapa saja yang bunuh diri dengan sesuatu maka dia akan disiksa dengannya di dalam neraka serta bahwa tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang berserah diri

١٧٥ - (١٠٩) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو سَعِيدٍ الۡأَشَجُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ قَتَلَ نَفۡسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي بَطۡنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنۡ شَرِبَ سُمًّا، فَقَتَلَ نَفۡسَهُ، فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنۡ تَرَدَّى مِنۡ جَبَلٍ، فَقَتَلَ نَفۡسَهُ، فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا).
175. (109). Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Sa’id Al-Asyajj telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang membunuh dirinya dengan suatu benda tajam, maka benda tajam itu akan berada di tangannya dan dia akan menusukkannya ke perutnya di neraka jahanam dalam keadaan kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan siapa saja yang meminum suatu racun sehingga membunuh dirinya, maka dia akan meminumnya di neraka jahanam dalam keadaan kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan siapa saja menjatuhkan diri dari gunung sehingga membunuh dirinya, maka dia akan menjatuhkan diri di neraka jahanam dalam keadaan kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.”
(...) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ عَمۡرٍو الۡأَشۡعَثِيُّ: حَدَّثَنَا عَبۡثَرٌ. (ح) وَحَدَّثَنِي يَحۡيَىٰ بۡنُ حَبِيبٍ الۡحَارِثِيُّ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ - يَعۡنِي ابۡنَ الۡحَارِثِ -: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ. كُلُّهُمۡ بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ مِثۡلَهُ.
وَفِي رِوَايَةِ شُعۡبَةَ عَنۡ سُلَيۡمَانَ قَالَ: سَمِعۡتُ ذَكۡوَانَ.
[البخاري: كتاب الطب، باب شرب السم والدواء به...، رقم: ٥٤٤٢].
Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Jarir menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Sa’id bin ‘Amr Al-Asy’atsi telah menceritakan kepada kami: ‘Abtsar menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Yahya bin Habib Al-Haritsi telah menceritakan kepadaku: Khalid bin Al-Harits menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Mereka semua melalui sanad ini semisal hadis tersebut.
Di dalam riwayat Syu’bah dari Sulaiman, beliau berkata: Aku mendengar Dzakwan.

Shahih Muslim hadits nomor 108

١٧٣ - (١٠٨) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ - وَهَٰذَا حَدِيثُ أَبِي بَكۡرٍ - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ثَلَاثٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَلَا يَنۡظُرُ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ، وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ: رَجُلٌ عَلَى فَضۡلِ مَاءٍ بِالۡفَلَاةِ يَمۡنَعُهُ مِنَ ابۡنِ السَّبِيلِ، وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلًا بِسِلۡعَةٍ بَعۡدَ الۡعَصۡرِ فَحَلَفَ لَهُ بِاللهِ لَأَخَذَهَا بِكَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ، وَهُوَ عَلَى غَيۡرِ ذٰلِكَ، وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنۡيَا، فَإِنۡ أَعۡطَاهُ مِنۡهَا وَفَىٰ، وَإِنۡ لَمۡ يُعۡطِهِ مِنۡهَا لَمۡ يَفِ). 
173. (108). Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah—ini adalah hadis Abu Bakr—. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga golongan orang yang Allah tidak ajak bicara mereka pada hari kiamat, Allah tidak memandang mereka dan tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih. Yaitu, seseorang yang memiliki kelebihan air di padang tandus yang tidak ada airnya lalu dia tidak memberikan air itu kepada orang yang sedang melakukan perjalanan; seseorang yang menjual dagangannya kepada orang lain setelah asar lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa dia membelinya dengan harga sekian dan sekian kemudian si pembeli mempercayai si penjual itu padahal keadaan sebenarnya tidak demikian; dan seseorang yang membaiat seorang pemimpin namun dia tidak membaiatnya kecuali untuk kepentingan duniawi, jika pemimpin itu memberinya, maka dia menunaikan baiat tersebut dan jika pemimpin itu tidak memberinya, maka dia tidak menunaikannya.” 
(...) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ عَمۡرٍو الۡأَشۡعَثِيُّ: أَخۡبَرَنَا عَبۡثَرٌ، كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ. غَيۡرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ: (وَرَجُلٌ سَاوَمَ رَجُلًا بِسِلۡعَةٍ). 
[البخاري: كتاب المساقاة، باب من رأى صاحب الحوض والقربة أحق بمائه، رقم: ٢٢٤٠]. 
Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Jarir menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Sa’id bin ‘Amr Al-Asy’atsi telah menceritakan kepada kami: ‘Abtsar mengabarkan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Al-A’masy melalui sanad ini… semisal hadis tersebut. Hanya saja di dalam hadis Jarir, “Dan seseorang yang membicarakan harga dagangannya dengan orang lain.” 
١٧٤ - (...) - وَحَدَّثَنِي عَمۡرٌو النَّاقِدُ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: أُرَاهُ مَرۡفُوعًا. قَالَ: (ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ وَلَا يَنۡظُرُ إِلَيۡهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ: رَجُلٌ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ بَعۡدَ صَلَاةِ الۡعَصۡرِ عَلَى مَالِ مُسۡلِمٍ فَاقۡتَطَعَهُ). وَبَاقِي حَدِيثِهِ نَحۡوُ حَدِيثِ الۡأَعۡمَشِ. 
174. ‘Amr An-Naqid telah menceritakan kepadaku: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Aku mengiranya hadis yang marfuk. Nabi bersabda, “Tiga golongan orang yang Allah tidak ajak bicara mereka, tidak pandang mereka, dan bagi mereka azab yang pedih. Yaitu: seseorang bersumpah pada suatu sumpah setelah salat Asar terhadap harta seorang muslim, sehingga ia bisa mengambil sebagiannya.” Sisa hadisnya semisal hadis Al-A’masy.

Shahih Muslim hadits nomor 107

١٧٢ - (١٠٧) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ - قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ: وَلَا يَنۡظُرُ إِلَيۡهِمۡ - وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيۡخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسۡتَكۡبِرٌ). 
172. (107). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Waki’ dan Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga orang yang Allah tidak ajak bicara mereka pada hari kiamat dan tidak menyucikan mereka—Abu Mu’awiyah berkata: Dan Allah tidak memandang mereka—dan untuk mereka azab yang pedih. Yaitu: Orang yang sudah tua berzina, raja yang tukang bohong, dan orang fakir yang sombong.”

Shahih Muslim hadits nomor 105

٤٥ - بَابُ بَيَانِ غِلَظِ تَحۡرِيمِ النَّمِيمَةِ 
45. Bab keterangan sangat diharamkannya adu domba 

١٦٨ - (١٠٥) - وَحَدَّثَنِي شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحمَّدِ بۡنِ أَسۡمَاءَ الضُّبُعِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا مَهۡدِيٌّ، وَهُوَ ابۡنُ مَيۡمُونٍ: حَدَّثَنَا وَاصِلٌ الۡأَحۡدَبُ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ حُذيۡفَةَ: أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَجُلًا يَنِمُّ الۡحَدِيثَ. فَقَالَ حُذَيۡفَةُ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَا يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ نَمَّامٌ). 
168. (105). Syaiban bin Farrukh dan ‘Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adh-Dhuba’i telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Mahdi bin Maimun menceritakan kepada kami: Washil Al-Ahdab menceritakan kepada kami dari Abu Wa`il, dari Hudzaifah: Bahwa sampai kepadanya ada seseorang yang menyampaikan ucapan untuk mengadu domba. Hudzaifah mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang sering mengadu domba.” 
١٦٩ - (...) - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ السَّعۡدِيُّ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ. قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ الۡحَارِثِ، قَالَ: كَانَ رَجُلٌ يَنۡقُلُ الۡحَدِيثَ إِلَى الۡأَمِيرِ، فَكُنَّا جُلُوسًا فِي الۡمَسۡجِدِ، فَقَالَ الۡقَوۡمُ: هَٰذَا مِمَّنۡ يَنۡقُلُ الۡحَدِيثَ إِلَى الۡأَمِيرِ، قَالَ: فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ إِلَيۡنَا، فَقَالَ حُذَيۡفَةُ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَا يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ قَتَّاتٌ). 
[البخاري: كتاب الأدب، باب ما يكره من النميمة رقم: ٥٧٠٩]. 
169. ‘Ali bin Hujr As-Sa’di dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Ishaq berkata: Jarir mengabarkan kepada kami dari Manshur, dari Ibrahim, dari Hammam bin Al-Harits. Beliau berkata: Dahulu ada seseorang yang biasa menukilkan pembicaraan kepada pemimpin. Ketika itu, kami sedang duduk di dalam masjid, lalu ada yang berkata: Ini di antara orang yang suka menukilkan pembicaraan kepada pemimpin. Beliau berkata: Lalu dia datang hingga duduk bergabung dengan kami. Hudzaifah mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang suka mengadu domba.” 
١٧٠ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ. (ح) وَحَدَّثَنَا مِنۡجَابُ بۡنُ الۡحَارِثِ التَّمِيمِيُّ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ مُسۡهِرٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ الۡحَارِثِ، قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا مَعَ حُذَيۡفَةَ فِي الۡمَسۡجِدِ، فَجَاءَ رَجُلٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَيۡنَا. فَقِيلَ لِحُذَيۡفَةَ: إِنَّ هَٰذَا يَرۡفَعُ إِلَى السُّلۡطَانِ أَشۡيَاءَ، فَقَالَ حُذَيۡفَةُ، إِرَادَةَ أَنۡ يُسۡمِعَهُ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَا يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ قَتَّاتٌ). 
170. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah dan Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy. (Dalam riwayat lain) Minjab bin Al-Harits At-Tamimi telah menceritakan kepada kami—lafal hadis ini milik beliau—: Ibnu Mushir mengabarkan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Hammam bin Al-Harits. Beliau berkata: Dulu, kami pernah duduk bersama Hudzaifah di dalam masjid. Lalu datanglah seseorang hingga dia duduk bersama kami. Ada yang berkata kepada Hudzaifah: Sesungguhnya orang ini menyampaikan beberapa perkara kepada penguasa. Hudzaifah mengatakan dalam keadaan beliau ingin memperdengarkan kepada orang itu: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang suka mengadu domba tidak akan masuk surga.”

Shahih Muslim hadits nomor 104

١٦٧ - (١٠٤) - حَدَّثَنَا الۡحَكَمُ بۡنُ مُوسَى الۡقَنۡطَرِيُّ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ حَمۡزَةَ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ يَزِيدَ بۡنِ جَابِرٍ: أَنَّ الۡقَاسِمَ بۡنَ مُخَيۡمِرَةَ حَدَّثَهُ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو بُرۡدَةَ بۡنُ أَبِي مُوسَى، قَالَ: وَجِعَ أَبُو مُوسَى وَجَعًا فَغُشِيَ عَلَيۡهِ، وَرَأۡسُهُ فِي حِجۡرِ امۡرَأَةٍ مِنۡ أَهۡلِهِ، فَصَاحَتِ امۡرَأَةٌ مِنۡ أَهۡلِهِ، فَلَمۡ يَسۡتَطِعۡ أَنۡ يَرُدَّ عَلَيۡهَا شَيۡئًا، فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ: أَنَا بَرِيءٌ مِمَّا بَرِىءَ مِنۡهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ بَرِىءَ مِنَ الصَّالِقَةِ وَالۡحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ. 
167. (104). Al-Hakam bin Musa Al-Qanthari telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Hamzah menceritakan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Yazid bin Jabir: Bahwa Al-Qasim bin Mukhaimirah menceritakan kepadanya. Beliau berkata: Abu Burdah bin Abu Musa menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Abu Musa mengalami sakit sehingga pingsan dalam keadaan kepala beliau berada di dalam kamar salah seorang istrinya. Serta merta si istri itu menjerit, namun Abu Musa tidak mampu untuk mengatakan apa-apa kepadanya. Ketika Abu Musa sudah sadar kembali, beliau mengatakan: Aku berlepas diri dari apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari wanita yang menjerit, menggunduli kepala, dan merobek leher baju ketika musibah.” 
(...) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، قَالَا: أَخۡبَرَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ عَوۡنٍ: أَخۡبَرَنَا أَبُو عُمَيۡسٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا صَخۡرَةَ يَذۡكُرُ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ يَزِيدَ وَأَبِي بُرۡدَةَ بۡنِ أَبِي مُوسَى، قَالَا: أُغۡمِيَ عَلَى أَبِي مُوسَى وَأَقۡبَلَتِ امۡرَأَتُهُ أُمُّ عَبۡدِ اللهِ تَصِيحُ بِرَنَّةٍ، قَالَا: ثُمَّ أَفَاقَ، قَالَ: أَلَمۡ تَعۡلَمِي - وَكَانَ يُحَدِّثُهَا - أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنۡ حَلَقَ وَسَلَقَ وَخَرَقَ)؟! 
[البخاري: كتاب الجنائز، باب ما ينهى من الحلق عند المصيبة، رقم: ١٢٣٤]. 
‘Abd bin Humaid dan Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Ja’far bin ‘Aun mengabarkan kepada kami: Abu ‘Umais mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Abu Shakhrah menyebutkan dari ‘Abdurrahman bin Yazid dan Abu Burdah bin Abu Musa. Keduanya berkata: Abu Musa pingsan dan istrinya, yaitu Ummu ‘Abdullah, menjerit menangis. Keduanya berkata: Kemudian Abu Musa tersadar. Beliau mengatakan: Tidakkah engkau tahu—beliau bercerita kepada istrinya—bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku berlepas diri dari siapa saja yang menggunduli kepala, menjerit, dan menyobek (pakaian) ketika musibah.” 
(...) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُطِيعٍ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ عَنۡ حُصَيۡنٍ، عَنۡ عِيَاضٍ الۡأَشۡعَرِيِّ، عَنِ امۡرَأَةِ أَبِي مُوسَى، عَنۡ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. 
‘Abdullah bin Muthi’ telah menceritakan kepada kami: Husyaim bin Hushain menceritakan kepada kami dari ‘Iyadh Al-Asy’ari, dari istri Abu Musa, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
(ح) وَحَدَّثَنِيهِ حَجَّاجُ بۡنُ الشَّاعِرِ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الصَّمَدِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي: حَدَّثَنَا دَاوُدُ - يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي هِنۡدَ -: حَدَّثَنَا عَاصِمٌ، عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ مُحۡرِزٍ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. 
(Dalam riwayat lain) Hajjaj bin Asy-Sya’ir telah menceritakannya kepadaku: ‘Abdush Shamad menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Dawud bin Abu Hind menceritakan kepada kami: ‘Ashim menceritakan kepada kami dari Shafwan bin Muhriz, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(ح) وَحَدَّثَنِي الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡحُلۡوَانِيُّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الصَّمَدِ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ رِبۡعِيِّ بۡنِ حِرَاشٍ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ. غَيۡرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ عِيَاضٍ الۡأَشۡعَرِيِّ قَالَ: (لَيۡسَ مِنَّا) وَلَمۡ يَقُلۡ: (بَرِيءٌ). 
(Dalam riwayat lain) Al-Hasan bin ‘Ali Al-Hulwani telah menceritakan kepadaku: ‘Abdush Shamad menceritakan kepada kami: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Rib’i bin Khirasy, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hadis ini. Hanya saja di dalam hadis ‘Iyadh Al-Asy’ari beliau berkata, “Bukan termasuk golongan kami,” dan tidak mengatakan, “berlepas diri.”

Shahih Muslim hadits nomor 103

٤٤ - بَابُ تَحۡرِيمِ ضَرۡبِ الۡخُدُودِ وَشَقِّ الۡجُيُوبِ وَالدُّعَاءِ بِدَعۡوَى الۡجَاهِلِيَّةِ 
44. Pengharaman memukul pipi, merobek leher baju, dan menyeru dengan seruan jahiliah 

١٦٥ - (١٠٣) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: جَمِيعًا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَيۡسَ مِنَّا مَنۡ ضَرَبَ الۡخُدُودَ، أَوۡ شَقَّ الۡجُيُوبَ، أَوۡ دَعَا بِدَعۡوَى الۡجَاهِلِيَّةِ). 
هَٰذَا حَدِيثُ يَحۡيَىٰ. وَأَمَّا ابۡنُ نُمَيۡرٍ وَأَبُو بَكۡرٍ فَقَالَا: (وَشَقَّ وَدَعَا) بِغَيۡرِ أَلِفٍ. 
[البخاري: كتاب الجنائز، باب ليس منا من ضرب الخدود، رقم: ١٢٩٧]. 
165. (103). Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah dan Waki’ menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Semuanya dari Al-A’masy, dari ‘Abdullah bin Murrah, dari Masruq, dari ‘Abdullah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak termasuk golongan kami, siapa saja yang memukul pipi, atau merobek leher baju, atau menyeru dengan seruan jahiliah.” 
Ini adalah hadis Yahya. Adapun Ibnu Numair dan Abu Bakr, keduanya mengatakan, “Dan merobek dan menyeru,” tanpa huruf alif. 
١٦٦ - (...) - وَحَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بۡنُ خَشۡرَمٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ، جَمِيعًا عَنِ الۡأَعۡمَشِ... بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَقَالَا: (وَشَقَّ وَدَعَا). 
166. ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Ibrahim dan ‘Ali bin Khasyram telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Isa bin Yunus menceritakan kepada kami. Semuanya dari Al-A’masy… melalui sanad ini. Keduanya berkata, “Dan merobek dan menyeru.”

Shahih Muslim hadits nomor 102

(١٠٢) - وَحَدَّثَنِي يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ وَقُتَيۡبَةُ وَابۡنُ حُجۡرٍ، جَمِيعًا عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ جَعۡفَرٍ، قَالَ ابۡنُ أَيُّوبَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: أَخۡبَرَنِي الۡعَلَاءُ عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَرَّ عَلَى صُبۡرَةِ طَعَامٍ، فَأَدۡخَلَ يَدَهُ فِيهَا. فَنَالَتۡ أَصَابِعُهُ بَلَلًا. فَقَالَ: (مَا هَٰذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ؟) قَالَ: أَصَابَتۡهُ السَّمَاءُ، يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (أَفَلَا جَعَلۡتَهُ فَوۡقَ الطَّعَامِ كَيۡ يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنۡ غَشَّ فَلَيۡسَ مِنِّي). 
(102). Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hujr telah menceritakan kepadaku. Semuanya dari Isma’il bin Ja’far. Ibnu Ayyub berkata: Isma’il menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-‘Ala` mengabarkan kepadaku dari ayahnya, dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati segunduk makanan. Lalu beliau memasukkan tangan beliau ke dalamnya, ternyata jari-jemari beliau menyentuh sesuatu yang basah. Nabi bertanya, “Apa ini, wahai pemilik makanan?” Dia menjawab, “Air hujan mengenainya, wahai Rasulullah.” Nabi bersabda, “Apa tidak engkau letakkan yang basah itu di atas makanan supaya orang-orang melihatnya? Siapa saja yang curang, maka tidak termasuk golongan kami.”

Shahih Muslim hadits nomor 101

٤٣ - بَابُ قوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (مَنۡ غَشَّنَا فَلَيۡسَ مِنَّا) 
43. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa saja yang mencurangi kami, maka tidak termasuk golongan kami” 

١٦٤ - (١٠١) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ - وَهُوَ ابۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡقَارِيُّ -. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ مُحَمَّدُ بۡنُ حَيَّانَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي حَازِمٍ، كِلَاهُمَا عَنۡ سُهَيۡلِ بۡنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ حَمَلَ عَلَيۡنَا السِّلَاحَ فَلَيۡسَ مِنَّا، وَمَنۡ غَشَّنَا فَلَيۡسَ مِنَّا). 
164. (101). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Ya’qub bin ‘Abdurrahman Al-Qari menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Al-Ahwash Muhammad bin Hayyan telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Hazim menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Suhail bin Abu Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang menenteng senjata untuk menyerang kami, maka tidak termasuk golongan kami. Dan siapa saja yang mencurangi kami, maka tidak termasuk golongan kami.”

Shahih Muslim hadits nomor 100

١٦٣ - (١٠٠) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ بَرَّادٍ الۡأَشۡعَرِيُّ وَأَبُو كُرَيۡبٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ بُرَيۡدٍ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ حَمَلَ عَلَيۡنَا السِّلَاحَ فَلَيۡسَ مِنَّا). 
[البخاري: كتاب الفتن، باب قول النبي ﷺ: (من حمل علينا السلاح...) رقم: ٦٦٦٠]. 
163. (100). Abu Bakr bin Abu Syaibah, ‘Abdullah bin Barrad Al-Asy’ari, dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Siapa saja yang menenteng senjata untuk menyerang kami, maka bukan termasuk golongan kami.”

Shahih Muslim hadits nomor 99

١٦٢ - (٩٩) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُصۡعَبٌ - وَهُوَ ابۡنُ الۡمِقۡدَامِ -: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ، عَنۡ إِيَاسِ بۡنِ سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ سَلَّ عَلَيۡنَا السَّيۡفَ فَلَيۡسَ مِنَّا).
162. (99). Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Mush’ab bin Al-Miqdam menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami dari Iyas bin Salamah, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Siapa saja yang menghunuskan pedang kepada kami, maka tidak termasuk golongan kami.”

Shahih Muslim hadits nomor 98

٤٢ - بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (مَنۡ حَمَلَ عَلَيۡنَا السِّلَاحَ فَلَيۡسَ مِنَّا) 
42. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa saja yang membawa senjata untuk menyerang kami, maka tidak termasuk golongan kami” 

١٦١ - (٩٨) - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى، قَالَا: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ - وَهُوَ الۡقَطَّانُ -. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ، كُلُّهُمۡ عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. (ح) وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ - وَاللَّفۡظُ لَهُ - قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ حَمَلَ عَلَيۡنَا السِّلَاحَ فَلَيۡسَ مِنَّا). 
161. (98). Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Yahya Al-Qaththan menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah dan Ibnu Numair menceritakan kepada kami. Mereka semua dari ‘Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dalam riwayat lain) Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami—lafal hadis ini milik beliau—. Beliau berkata: Aku membaca di hadapan Malik, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang membawa senjata untuk menyerang kami, maka dia tidak termasuk golongan kami.”

Shahih Muslim hadits nomor 97

١٦٠ - (٩٧) - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ الۡحَسَنِ بۡنِ خِرَاشٍ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَاصِمٍ: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرٌ، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي يُحَدِّثُ: أَنَّ خَالِدًا الۡأَثۡبَجَ، ابۡنَ أَخِي صَفۡوَانَ بۡنِ مُحۡرِزٍ، حَدَّثَ عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ مُحۡرِزٍ: أَنَّهُ حَدَّثَ: أَنَّ جُنۡدَبَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ الۡبَجَلِيَّ بَعَثَ إِلَى عَسۡعَسِ بۡنِ سَلَامَةَ، زَمَنَ فِتۡنَةِ ابۡنِ الزُّبَيۡرِ، فَقَالَ: اجۡمَعۡ لِي نَفَرًا مِنۡ إِخۡوَانِكَ حَتَّى أُحَدِّثَهُمۡ، فَبَعَثَ رَسُولًا إِلَيۡهِمۡ، فَلَمَّا اجۡتَمَعُوا جَاءَ جُنۡدَبٌ وَعَلَيۡهِ بُرۡنُسٌ أَصۡفَرُ، فَقَالَ: تَحَدَّثُوا بِمَا كُنۡتُمۡ تَحَدَّثُونَ بِهِ حَتَّى دَارَ الۡحَدِيثُ، فَلَمَّا دَارَ الۡحَدِيثُ إِلَيۡهِ حَسَرَ الۡبُرۡنُسَ عَنۡ رَأۡسِهِ، فَقَالَ: إِنِّي أَتَيۡتُكُمۡ وَلَا أُرِيدُ أَنۡ أُخۡبِرَكُمۡ عَنۡ نَبِيِّكُمۡ. 
160. (97). Ahmad bin Al-Hasan bin Khirasy telah menceritakan kepada kami: ‘Amr bin ‘Ashim menceritakan kepada kami: Mu’tamir menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar ayahku menceritakan: Bahwa Khalid Al-Atsbaj, keponakan Shafwan bin Muhriz menceritakan dari Shafwan bin Muhriz bahwa beliau menceritakan: Bahwa Jundab bin ‘Abdullah Al-Bajali mengutus utusan kepada ‘As’as bin Salamah di masa cobaan Ibnu Az-Zubair, lalu mengatakan: Kumpulkan untukku sekelompok saudara-saudaramu sehingga aku dapat menceritakan kepada mereka. ‘As’as mengutus seorang utusan kepada mereka. Ketika mereka telah berkumpul, Jundab datang dalam keadaan memakai burnus (jubah yang memiliki penutup kepala) berwarna kuning. Beliau mengatakan: Ceritakanlah apa yang dahulu kalian ceritakan, sehingga ceritanya bergiliran. Ketika giliran cerita beliau, beliau menyingkap penutup kepala dari kepalanya, lalu mengatakan: Sesungguhnya aku datang kepada kalian dan tadinya aku tidak ingin mengabarkan cerita dari Nabi kalian kepada kalian. 
إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ بَعَثَ بَعۡثًا مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ إِلَى قَوۡمٍ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ، وَإِنَّهُمُ الۡتَقَوۡا، فَكَانَ رَجُلٌ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ إِذَا شَاءَ أَنۡ يَقۡصِدَ إِلَى رَجُلٍ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ قَصَدَ لَهُ فَقَتَلَهُ، وَإِنَّ رَجُلًا مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ قَصَدَ غَفۡلَتَهُ. قَالَ: وَكُنَّا نُحَدَّثُ أَنَّهُ أُسَامَةُ بۡنُ زَيۡدٍ، فَلَمَّا رَفَعَ عَلَيۡهِ السَّيۡفَ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، فَقَتَلَهُ، فَجَاءَ الۡبَشِيرُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَسَأَلَهُ، فَأَخۡبَرَهُ حَتَّى أَخۡبَرَهُ خَبَرَ الرَّجُلِ كَيۡفَ صَنَعَ، فَدَعَاهُ، فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: (لِمَ قَتَلۡتَهُ؟) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَوۡجَعَ فِي الۡمُسۡلِمِينَ، وَقَتَلَ فُلَانًا وَفُلَانًا. وَسَمَّى لَهُ نَفَرًا، وَإِنِّي حَمَلۡتُ عَلَيۡهِ. فَلَمَّا رَأَى السَّيۡفَ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ. 
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus pasukan dari kaum muslimin kepada suatu kaum dari kalangan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya mereka telah saling berhadapan. Ketika itu ada salah seorang musyrikin ingin menyasar salah seorang muslimin. Dia menyasarnya dan berhasil membunuhnya. Dan sesungguhnya ada salah seorang muslimin lain yang mengintai kelengahan orang musyrik itu. Beliau berkata: Kami ketika itu diberitahu bahwa orang muslim itu adalah Usamah bin Zaid. Ketika Usamah mengangkat pedang untuk menebasnya, orang musyrik tadi mengucapkan: Laa ilaaha illallaah (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah). Namun Usamah tetap membunuhnya. 
Pembawa kabar gembira datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi menanyainya. Lalu dia mengabarkan kepada beliau. Sampai dia mengabarkan kisah orang tadi dan apa yang dia lakukan. Nabi pun memanggil orang itu dan menanyainya. Beliau bertanya, “Mengapa engkau membunuhnya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, orang itu sangat gigih dalam memerangi kaum muslimin dan dia berhasil membunuh si Polan dan si Polan.” Dia menyebutkan beberapa orang. “Sesungguhnya aku mengejarnya. Ketika dia melihat pedang, dia mengatakan: Laa ilaaha illallaah.” 
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَقَتَلۡتَهُ؟) قَالَ: نَعَمۡ. قَالَ: (فَكَيۡفَ تَصۡنَعُ بـ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ إِذَا جَاءَتۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ؟) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، اسۡتَغۡفِرۡ لِي، قَالَ: (وَكَيۡفَ تَصۡنَعُ بِـ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ إِذَا جَاءَتۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ؟) قَالَ: فَجَعَلَ لَا يَزِيدُهُ عَلَى أَنۡ يَقُولَ: (كَيۡفَ تَصۡنَعُ بِـ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ إِذَا جَاءَتۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ؟). 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau membunuhnya?” Orang itu menjawab, “Iya.” Nabi bertanya, “Lalu apa yang engkau perbuat dengan ucapan laa ilaaha illallaah, ketika nanti akan datang pada hari kiamat?” Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, mintakan ampunan untukku.” Nabi bersabda, “Apa yang akan engkau perbuat dengan ucapan laa ilaaha illallaah, ketika nanti datang pada hari kiamat?” Beliau berkata: Nabi tidak menambah ucapan selain, “Apa yang engkau perbuat dengan ucapan laa ilaaha illallaah, jika nanti datang pada hari kiamat?”

Shahih Muslim hadits nomor 96

١٥٨ - (٩٦) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الۡأَحۡمَرُ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ أَبِي مُعَاوِيَةَ، كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي ظِبۡيَانَ، عَنۡ أُسَامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ. وَهَٰذَا حَدِيثُ ابۡنِ أَبِي شَيۡبَةَ - قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي سَرِيَّةٍ، فَصَبَّحۡنَا الۡحُرَقَاتِ مِنۡ جُهَيۡنَةَ، فَأَدۡرَكۡتُ رَجُلًا، فَقَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، فَطَعَنۡتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفۡسِي مِنۡ ذٰلِكَ، فَذَكَرۡتُهُ لِلنَّبِيِّ ﷺ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَقَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلۡتَهُ؟) قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوۡفًا مِنَ السِّلَاحِ. قَالَ: (أَفَلَا شَقَقۡتَ عَنۡ قَلۡبِهِ حَتَّى تَعۡلَمَ أَقَالَهَا أَمۡ لَا). 
فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيۡتُ أَنِّي أَسۡلَمۡتُ يَوۡمَئِذٍ. قَالَ: فَقَالَ سَعۡدٌ: وَأَنَا وَاللهِ لَا أَقۡتُلُ مُسۡلِمًا حَتَّى يَقۡتُلَهُ ذُو الۡبُطَيۡنِ، يَعۡنِي أُسَامَةَ. قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: أَلَمۡ يَقُلِ اللهُ: ﴿وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلهِ﴾ [الأنفال: ٣٩]، فَقَالَ سَعۡدٌ: قَدۡ قَاتَلۡنَا حَتَّى لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ، وَأَنۡتَ وَأَصۡحَابُكَ تُرِيدُونَ أَنۡ تُقَاتِلُوا حَتَّى تَكُونَ فِتۡنَةٌ. 
[البخاري: كتاب المغازي، باب بعث النبي ﷺ أسامة بن زيد...، رقم: ٤٠٢١]. 
158. (96). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Khalid Al-Ahmar menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Kuraib dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami dari Abu Mu’awiyah. Masing-masing keduanya dari Al-A’masy, dari Abu Zhibyan, dari Usamah bin Zaid. Ini adalah hadis Ibnu Abu Syaibah. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim kami dalam suatu pasukan, lalu kami menyerang Al-Huruqat, wilayah bagian Juhainah, di pagi hari. Aku mendapati seseorang lalu dia berkata: Laa ilaaha illallaah (tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah). Lalu aku menusuknya. Aku mendapati ada perasaan yang mengganjal pada diriku dari kejadian itu, lalu aku menyebutkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah dia sudah mengatakan laa ilaaha illallaah dan engkau tetap membunuhnya?”
Usamah berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, dia mengatakannya hanya karena takut dari senjata.”
Nabi bersabda, “Tidakkah engkau membelah hatinya sehingga engkau tahu apakah dia mengucapkannya karena itu atau tidak.” Beliau terus-menerus mengulanginya kepadaku sampai aku berangan-angan masuk Islam pada hari itu.
Beliau berkata: Sa’d bin Abu Waqqash mengatakan: Demi Allah, aku tidak akan membunuh seorang muslim pun sampai Dzul Buthain, yakni Usamah, membunuhnya. Beliau berkata: Ada seseorang yang berkata: Bukankah Allah berfirman, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (akibat jelek dari suatu cobaan) dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al-Anfal: 39). Sa’d berkata: Sungguh kami telah berperang (melawan orang-orang kafir) sampai tidak ada fitnah, sedangkan engkau dan sahabat-sahabatmu malah ingin berperang (melawan kaum muslimin) sehingga muncul fitnah.
١٥٩ - (...) - حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ الدَّوۡرَقِيُّ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ: أَخۡبَرَنَا حُصَيۡنٌ: حَدَّثَنَا أَبُو ظِبۡيَانَ، قَالَ: سَمِعۡتُ أُسَامَةَ بۡنَ زَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ يُحَدِّثُ، قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى الۡحُرَقَةِ مِنۡ جُهَيۡنَةَ، فَصَبَّحۡنَا الۡقَوۡمَ فَهَزَمۡنَاهُمۡ. وَلَحِقۡتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ رَجُلًا مِنۡهُمۡ، فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، فَكَفَّ عَنۡهُ الۡأَنۡصَارِيُّ. وَطَعَنۡتُهُ بِرُمۡحِي حَتَّى قَتَلۡتُهُ. قَالَ: فَلَمَّا قَدِمۡنَا بَلَغَ ذٰلِكَ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ لِي: (يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلۡتَهُ بَعۡدَ مَا قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ؟) قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا. قَالَ: فَقَالَ: (أَقَتَلۡتَهُ بَعۡدَ مَا قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ؟). قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيۡتُ أَنِّي لَمۡ أَكُنۡ أَسۡلَمۡتُ قَبۡلَ ذٰلِكَ الۡيَوۡمِ. 
159. Ya’qub Ad-Dauraqi telah menceritakan kepada kami: Husyaim menceritakan kepada kami: Hushain mengabarkan kepada kami: Abu Zhibyan menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Usamah bin Zaid bin Haritsah menceritakan. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke Huraqah, wilayah bagian Juhainah. Kami menyerang kaum itu di pagi hari dan mengalahkan mereka. Aku dan salah seorang ansar mengejar seseorang di antara mereka. Ketika kami sudah mengepungnya, dia berkata: Laa ilaaha illallaah (tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah). Lalu orang ansar itu menahan diri darinya, sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga aku membunuhnya. Usamah berkata: Ketika kami tiba kembali, kejadian itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka beliau bersabda kepadaku, “Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah dia berkata: Laa ilaaha illallaah?”
Usamah berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, dia hanya melindungi dirinya.” 
Usamah berkata: Nabi bersabda, “Apakah engkau membunuhnya setelah dia berkata: Laa ilaaha illallaah?”
Usamah berkata: Beliau terus-menerus mengulanginya kepadaku sampai aku berangan-angan bahwa aku belum masuk Islam sebelum hari itu.

Sabar terhadap Taqdir Allah

Di antara jenis sabar adalah sabar terhadap taqdir Allah. Hal ini berkaitan dengan tauhid rububiyyah, karena sesungguhnya pengaturan makhluk dan menentukan taqdir atas mereka adalah termasuk dari tuntutan rububiyyah Allah Ta'ala. 

Perbedaan antara Al-Qadar & Al-Maqduur


Qadar atau taqdiir mempunyai dua makna. Yang pertama: al-maqduur yaitu sesuatu yang ditaqdirkan. Yang kedua: fi'lu Al-Muqaddir yaitu perbuatannya Al-Muqaddir (Allah Ta'ala). Adapun jika dinisbahkan/dikaitkan kepada perbuatannya Allah maka wajib atas manusia untuk ridha dengannya dan bersabar. Dan jika dinisbahkan kepada al-maqduur maka wajib atasnya untuk bersabar dan disunnahkan ridha. 

Contohnya adalah: Allah telah menaqdirkan mobilnya seseorang terbakar, hal ini berarti Allah telah menaqdirkan mobil tersebut terbakar. Maka ini adalah qadar yang wajib atas manusia agar ridha dengannya, karena hal ini merupakan di antara kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Adapun jika dinisbahkan kepada al-maqduur yaitu terbakarnya mobil maka wajib atasnya untuk bersabar dan ridha dengannya adalah sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih (kuat). 

Sedangkan al-maqduur itu sendiri bisa berupa ketaatan-ketaatan, kemaksiatan-kemaksiatan dan kadang-kadang merupakan dari perbuatannya Allah semata. Adapun yang berupa ketaatan maka wajib ridha dengannya, sedangkan bila berupa kemaksiatan maka tidak boleh ridha dengannya dari sisi bahwasanya hal itu adalah al-maqduur, adapun dari sisi bahwasanya itu adalah taqdir Allah maka wajib ridha dengan taqdir Allah pada setiap keadaan, dan karena inilah Ibnul Qayyim berkata: 

"Maka karena itulah kita ridha dengan qadha` (ketentuan Allah) dan kita marah terhadap sesuatu yang ditentukan apabila berupa kemaksiatan." 

Maka barangsiapa yang melihat dengan kacamata Al-Qadha` wal Qadar kepada seseorang yang berbuat maksiat maka wajib atasnya ridha karena sesungguhnya Allahlah yang telah menaqdirkan hal itu dan padanya ada hikmah dalam taqdir-Nya. Dan sebaliknya apabila dia melihat kepada perbuatan orang tersebut maka tidak boleh ridha dengannya karena perbuatannya tadi adalah maksiat. Inilah perbedaan antara al-qadar dan al-maqduur. 

Bagaimana Manusia Menghadapi Musibah?


Di dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkatan: 

Pertama: marah, yaitu ketika menghadapi musibah dia marah baik dengan hatinya seperti benci terhadap Rabbnya dan marah terhadap taqdir Allah atasnya, dan kadang-kadang sampai kepada tingkat kekufuran, Allah berfirman: 
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
"Dan di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj:11)

Atau dia marah dengan lisannya seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan dan yang sejenisnya. Atau marah dengan anggota badannya seperti menampar pipi, merobek saku baju, menjambak rambut, membenturkan kepala ke tembok dan yang sejenisnya. 

Kedua: sabar, yaitu sebagaimana ucapan penyair: 
الصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ   لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ
"Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu."

Maka orang yang sabar itu akan melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya, akan tetapi dia membawanya kepada kesabaran, dan tidaklah sama di sisinya antara adanya musibah dengan tidak adanya, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah. 

Ketiga: ridha, dan ini lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua perkara tadi (ada dan tidak adanya musibah) di sisinya adalah sama ketika dinisbahkan/disandarkan terhadap qadha dan qadar (taqdir/ketentuan Allah) walaupun bisa jadi dia bersedih karena musibah tersebut, Karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang sedang berenang dalam qadha dan qadar, kemana saja qadha dan qadar singgah maka dia pun singgah bersamanya, baik di atas kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurnanya ridhanya kepada Rabbnya, dia bergerak sesuai dengan kehendak Rabbnya. 

Bagi orang yang ridha, adanya musibah ataupun tidak, adalah sama, karena dia melihat bahwasanya musibah tersebut adalah ketentuan Rabbnya. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar. 

Keempat: bersyukur, dan ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan jadilah dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bersyukur ketika dia melihat bahwa di sana terdapat musibah yang lebih besar darinya, dan bahwasanya musibah-musibah dunia lebih ringan daripada musibah-musibah agama, dan bahwasanya 'adzab dunia lebih ringan daripada 'adzab akhirat, dan bahwasanya musibah ini adalah sebab agar dihapuskannya dosa-dosanya, dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا 
"Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhariy no.5640 dan Muslim no.2572 dari 'A`isyah) 
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ 
"Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya." (HR. Al-Bukhariy no.5641, 5642 dari Abu Sa'id Al-Khudriy dan Abu Hurairah) 

Bahkan kadang-kadang akan bertambahlah iman seseorang dengan musibah tersebut. 

Bagaimana Mendapatkan Ketenangan? 


Allah Ta'ala berfirman: 
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ 
"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (At-Taghaabun:11) 

Yang dimaksud dengan "beriman kepada Allah" dalam ayat ini adalah beriman kepada taqdir-Nya. 

Firman-Nya: "niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya" yaitu Allah akan memberikan ketenangan kepadanya. Dan hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu berkaitan dengan hati, apabila hatinya mendapat petunjuk maka anggota badannya pun akan mendapat petunjuk pula, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ 
"Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhariy no.52 dan Muslim no.1599 dari An-Nu'man bin Basyir) 

Berkata 'Alqamah (menafsirkan ayat di atas): "Yaitu seseorang yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah maka dia pun ridha dan menerima (berserah diri kepada-Nya)." 

Tafsiran 'Alqamah ini menunjukkan bahwasanya ridha terhadap taqdir Allah merupakan konsekuensinya iman, karena sesungguhnya barangsiapa yang beriman kepada Allah maka berarti dia mengetahui bahwasanya taqdir itu dari Allah, sehingga dia ridha dan menerimanya. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya musibah itu dari Allah, akan tenang dan senanglah hatinya dan karena inilah di antara penyebab terbesar seseorang merasakan ketenangan dan kesenangan adalah beriman kepada qadha dan qadar. 

Tanda Kebaikan & Kejelekan Seorang Hamba 


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 
"Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220) 

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hamba-Nya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah: 
وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ 
"Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim no.771 dari 'Ali bin Abi Thalib) 

Maka barangsiapa menginginkan kejelekan kepada dzatnya maka kejelekan itu disandarkan kepadanya. Akan tetapi Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah sehingga jadilah hal itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya. 

Sesungguhnya seluruh perkara itu di tangan Allah 'Azza wa Jalla dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya karena Allah berfirman tentang diri-Nya: 
إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ 
"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (Huud:107) 

Dan juga Dia berfirman: 
إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ 
"Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj:18) 

Maka semua perkara itu di tangan Allah. 

Dan seseorang tidak akan lepas dari salah/keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban, maka apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, akan Allah segerakan baginya balasan (dari perbuatan dosanya) di dunia, apakah diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian-ujian tersebut. 

Yang jelas, dia akan disegerakan balasan (dari perbuatan dosanya). Karena sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa dengan diuji pada hartanya, keluarganya ataupun dirinya, itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan. Maka apabila seorang hamba disegerakan balasannya dan Allah hapuskan kesalahannya dengan hal itu, maka berarti Allah mencukupkan balasan kepadanya dan hamba tersebut tidak mempunyai dosa lagi karena dosa-dosanya telah dibersihkan dengan adanya musibah dan bencana yang menimpanya. 

Bahkan kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki supaya terhapus dosa-dosa tersebut, sehingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena sesungguhnya 'adzab dunia itu lebih ringan daripada 'adzab akhirat. 

Akan tetapi apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka akan Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan akan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya dan Allah hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya. 

Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa lalu dia pun di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya tersebut. Kita meminta kepada Allah keselamatan. 

Maka apabila engkau melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta dituangkan kepadanya berbagai kenikmatan maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan kejelekan kepadanya, karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat. 

Apabila Allah Mencintai Suatu Kaum 


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: 
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ 
"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah)." (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Silsilah Ash-Shahiihah no.146) 

"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian" yakni semakin besar ujian, semakin besar pula balasannya. Maka cobaan yang ringan balasannya pun ringan sedangkan cobaan yang besar/berat maka pahalanya pun besar karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mempunyai keutamaan terhadap manusia. Apabila mereka ditimpa musibah yang berat maka pahalanya pun besar dan apabila musibahnya ringan maka pahalanya pun ringan. 

"Dan sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka" ini merupakan kabar gembira bagi orang beriman, apabila ditimpa suatu musibah maka janganlah dia menyangka bahwa Allah membencinya bahkan bisa jadi musibah ini sebagai tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba. Allah uji hamba tersebut dengan musibah-musibah, apabila dia ridha, bersabar dan mengharap pahala kepada Allah atas musibah tersebut maka baginya keridhaan (dari Allah), dan sebaliknya apabila dia marah maka baginya kemarahan (Allah). 

Dalam hadits ini terdapat anjuran, pemberian semangat sekaligus perintah agar manusia bersabar terhadap musibah-musibah yang menimpanya sehingga ditulis/ditetapkan untuknya keridhaan dari Allah 'Azza wa Jalla. Wallaahul Muwaffiq. 

Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufiid 2/41-44 dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/125-126 dengan beberapa perubahan.

Sumber: Buletin Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-6 Tahun ke-3 / 31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H.

Shahih Muslim hadits nomor 771

٢٠١ - (٧٧١) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ الۡمُقَدَّمِيُّ: حَدَّثَنَا يُوسُفُ الۡمَاجِشُونُ: حَدَّثَنِي أَبِي عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ: (وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالۡأَرۡضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ. اللّٰهُمَّ أَنۡتَ الۡمَلِكُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنۡتَ، أَنۡتَ رَبِّي وَأَنَا عَبۡدُكَ. ظَلَمۡتُ نَفۡسِي وَاعۡتَرَفۡتُ بِذَنۡبِي فَاغۡفِرۡ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا. إِنَّهُ لَا يَغۡفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنۡتَ. وَاهۡدِنِي لِأَحۡسَنِ الۡأَخۡلَاقِ. لَا يَهۡدِي لِأَحۡسَنِهَا إِلَّا أَنۡتَ. وَاصۡرِفۡ عَنِّي سَيِّئَهَا. لَا يَصۡرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنۡتَ. لَبَّيۡكَ وَسَعۡدَيۡكَ، وَالۡخَيۡرُ كُلُّهُ فِي يَدَيۡكَ، وَالشَّرُّ لَيۡسَ إِلَيۡكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيۡكَ، تَبَارَكۡتَ وَتَعَالَيۡتَ، أَسۡتَغۡفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيۡكَ). 
201. (771). Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddami telah menceritakan kepada kami: Yusuf Al-Majisyun menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepadaku dari ‘Abdurrahman Al-A’raj, dari ‘Ubaidullah bin Abu Rafi’, dari ‘Ali bin Abu Thalib, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Bahwa beliau ketika berdiri untuk salat, beliau mengucapkan, “Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi, dalam keadaan hanif (mengarah kepada kebenaran) dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup, dan matiku untuk Allah Rabb semesta alam. Dia tidak memiliki sekutu. Dengan itulah aku diperintah dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah raja. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Engkau. Engkau adalah Rabb-ku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang paling baik kecuali Engkau. Dan hindarkan aku dari akhlak yang jelek. Tidak ada yang dapat menghindarkan aku dari kejelekan akhlak kecuali Engkau. Aku akan terus melakukan ketaatan kepada-Mu dan mengikuti perintah-Mu. Kebaikan seluruhnya berada di kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu. Aku meminta pertolongan kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu. Mahasuci dan Mahatinggi Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.” 
وَإِذَا رَكَعَ قَالَ: (اللّٰهُمَّ لَكَ رَكَعۡتُ، وَبِكَ آمَنۡتُ، وَلَكَ أَسۡلَمۡتُ، خَشَعَ لَكَ سَمۡعِي وَبَصَرِي، وَمُخِّي وَعَظۡمِي وَعَصَبِي). وَإِذَا رَفَعَ قَالَ: (اللّٰهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الۡحَمۡدُ مِلۡءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلۡءَ الۡأَرۡضِ وَمِلۡءَ مَا بَيۡنَهُمَا وَمِلۡءَ مَا شِئۡتَ مِنۡ شَيۡءٍ بَعۡدُ). وَإِذَا سَجَدَ قَالَ: (اللّٰهُمَّ لَكَ سَجَدۡتُ، وَبِكَ آمَنۡتُ، وَلَكَ أَسۡلَمۡتُ، سَجَدَ وَجۡهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمۡعَهُ وَبَصَرَهُ. تَبَارَكَ اللهُ أَحۡسَنُ الۡخَالِقِينَ) ثُمَّ يَكُونُ مِنۡ آخِرِ مَا يَقُولُ بَيۡنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسۡلِيمِ: (اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِي مَا قَدَّمۡتُ وَمَا أَخَّرۡتُ، وَمَا أَسۡرَرۡتُ وَمَا أَعۡلَنۡتُ، وَمَا أَسۡرَفۡتُ، وَمَا أَنۡتَ أَعۡلَمُ بِهِ مِنِّي. أَنۡتَ الۡمُقَدِّمُ وَأَنۡتَ الۡمُؤَخِّرُ. لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنۡتَ). 
Dan apabila beliau rukuk, beliau mengucapkan, “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku rukuk. Aku beriman kepada-Mu. Aku berserah diri kepada-Mu. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, dan urat sarafku khusyuk kepada-Mu.” Dan ketika beliau bangkit dari rukuk, beliau mengucapkan, “Ya Allah, Rabb kami, hanya untuk-Mu pujian sepenuh langit-langit, sepenuh bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya, dan sepenuh segala sesuatu yang Engkau inginkan selain itu.” Dan ketika sujud, beliau mengucapkan, “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku sujud. Aku beriman kepada-Mu. Aku berserah diri kepada-Mu. Wajahku sujud kepada Yang telah menciptakan dan membentuknya dan Yang telah membuka pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.” Kemudian akhir ucapan beliau antara tasyahud dan salam adalah, “Ya Allah, ampunilah aku segala (dosa) yang telah aku lakukan dan yang akan datang, segala dosa yang aku sembunyikan dan yang aku lakukan terang-terangan, segala yang aku lakukan secara berlebihan, dan segala dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkau yang mendahulukan dan yang mengakhirkan. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Engkau.” 
٢٠٢ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا أَبُو النَّضۡرِ. قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ عَمِّهِ الۡمَاجِشُونِ بۡنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَقَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا اسۡتَفۡتَحَ الصَّلَاةَ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ: (وَجَّهۡتُ وَجۡهِي) وَقَالَ: (وَأَنَا أَوَّلُ الۡمُسۡلِمِينَ) وَقَالَ: وَإِذَا رَفَعَ رَأۡسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَالَ: (سَمِعَ اللهُ لِمَنۡ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الۡحَمۡدُ) وَقَالَ: (وَصَوَّرَهُ فَأَحۡسَنَ صُوَرَهُ) وَقَالَ: وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: (اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِي مَا قَدَّمۡتُ) إِلَى آخِرِ الۡحَدِيثِ وَلَمۡ يَقُلۡ: بَيۡنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسۡلِيمِ. 
202. Zuhair bin Harb telah menceritakannya kepada kami: ‘Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Abu An-Nadhr mengabarkan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Abu Salamah menceritakan kepada kami dari pamannya, yaitu Al-Majisyun bin Abu Salamah, dari Al-A’raj melalui sanad ini. Beliau berkata: Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memulai salat, beliau bertakbir kemudian mengucapkan, “Aku hadapkan wajahku.” Beliau berkata, “Dan aku adalah orang pertama yang menyerahkan diri.” Beliau berkata: Ketika beliau mengangkat kepala dari rukuk, beliau mengucapkan, “Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya. Ya Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian.” Beliau juga mengucapkan, “Dan Allah membentuk rupanya dan memperindah rupanya.” Beliau berkata: Ketika beliau salam, beliau mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku dosa yang telah aku lakukan.” Sampai akhir hadis dan beliau tidak mengatakan: Antara tasyahud dan salam.

Shahih Muslim hadits nomor 2572

٤٦ - (٢٥٧٢) - حَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ. جَمِيعًا عَنۡ جَرِيرٍ. قَالَ زُهَيۡرٌ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنِ الۡأَسۡوَدِ، قَالَ: دَخَلَ شَبَابٌ مِنۡ قُرَيۡشٍ عَلَىٰ عَائِشَةَ، وَهِيَ بِمِنًى: وَهُمۡ يَضۡحَكُونَ. فَقَالَتۡ: مَا يُضۡحِكُكُمۡ؟ قَالُوا: فُلَانٌ خَرَّ عَلَىٰ طُنُبِ فُسۡطَاطٍ، فَكَادَتۡ عُنُقُهُ أَوۡ عَيۡنُهُ أَنۡ تَذۡهَبَ. فَقَالَتۡ: لَا تَضۡحَكُوا. فَإِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَا مِنۡ مُسۡلِمٍ يُشَاكُ شَوۡكَةً فَمَا فَوۡقَهَا، إِلَّا كُتِبَتۡ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَمُحِيَتۡ عَنۡهُ بِهَا خَطِيئَةٌ). 
46. (2572). Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Jarir. Zuhair berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Ibrahim, dari Al-Aswad. Beliau berkata: Beberapa pemuda dari suku Quraisy masuk menemui ‘Aisyah ketika beliau sedang di Mina. Mereka tertawa. ‘Aisyah bertanya: Apa yang membuat kalian tertawa? Mereka berkata: Ada seseorang jatuh menimpa tali kemah sampai hampir-hampir leher atau matanya copot. ‘Aisyah mengatakan: Kalian jangan tertawa karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim pun yang tertusuk duri atau lebih dari itu kecuali dengan sebab itu ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu kesalahan darinya.” 
٤٧ - (...) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ، وَاللَّفۡظُ لَهُمَا. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ الۡحَنۡظَلِيُّ. قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنِ الۡأَسۡوَدِ، عَنۡ عَائِشَةَ. قَالَتۡ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا يُصِيبُ الۡمُؤۡمِنَ مِنۡ شَوۡكَةٍ فَمَا فَوۡقَهَا، إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، أَوۡ حَطَّ عَنۡهُ بِهَا خَطِيئَةً). 
47. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Lafal ini milik mereka berdua. (Dalam riwayat lain) Ishaq Al-Hanzhali telah menceritakan kepada kami. Ishaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Dua orang lainnya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa duri atau lebih dari itu kecuali dengan sebab itu Allah mengangkatnya satu derajat atau Allah hilangkan satu kesalahan darinya.” 
٤٨ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بِشۡرٍ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ. قَالَتۡ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تُصِيبُ الۡمُؤۡمِنَ شَوۡكَةٌ فَمَا فَوۡقَهَا، إِلَّا قَصَّ اللهُ بِهَا مِنۡ خَطِيئَتِهِ). 
48. Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah mengenai seorang mukmin suatu duri atau lebih daripada itu kecuali Allah kurangi sebagian kesalahannya dengan sebab itu.”
(...) - حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. 
Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami melalui sanad ini. 
٤٩ - (...) - حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ وَيُونُسُ بۡنُ يَزِيدَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنۡ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَا مِنۡ مُصِيبَةٍ يُصَابُ بِهَا الۡمُسۡلِمُ إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنۡهُ، حَتَّى الشَّوۡكَةِ يُشَاكُهَا). 
49. Abu Ath-Thahir telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Malik bin Anas dan Yunus bin Yazid mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah satu musibah pun yang menimpa seorang muslim kecuali akan dihapuskan dosanya karena itu sampai pun hanya sebuah duri yang menusuknya.” 
٥٠ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو الطَّاهِرِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ خُصَيۡفَةَ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنۡ عَائِشَةَ، زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يُصِيبُ الۡمُؤۡمِنَ مِنۡ مُصِيبَةٍ حَتَّى الشَّوۡكَةِ، إِلَّا قُصَّ بِهَا مِنۡ خَطَايَاهُ، أَوۡ كُفِّرَ بِهَا مِنۡ خَطَايَاهُ). 
لَا يَدۡرِي يَزِيدُ أَيَّتُهُمَا قَالَ عُرۡوَةُ. 
50. Abu Ath-Thahir telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Malik bin Anas mengabarkan kepadaku dari Yazid bin Khushaifah, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah satu musibah pun yang menimpa seorang mukmin sampaipun duri (yang menusuknya) kecuali sebagian kesalahan-kesalahannya akan dikurangi atau akan dihapus.” 
Yazid tidak tahu yang mana di antara dua itu yang dikatakan oleh ‘Urwah. 
٥١ - (...) - حَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنَا حَيۡوَةُ: حَدَّثَنَا ابۡنُ الۡهَادِ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ حَزۡمٍ، عَنۡ عَمۡرَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَا مِنۡ شَيۡءٍ يُصِيبُ الۡمُؤۡمِنَ، حَتَّى الشَّوۡكَةِ تُصِيبُهُ، إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، أَوۡ حُطَّتۡ عَنۡهُ بِهَا خَطِيئَةٌ). 
51. Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami: Haiwah mengabarkan kepada kami: Ibnu Al-Had menceritakan kepada kami dari Abu Bakr bin Hazm, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu musibah pun yang menimpa seorang mukmin, sampai pun duri yang menusuknya, kecuali Allah tetapkan satu kebaikan untuknya atau dihapuskan satu kesalahan darinya dengan sebab itu.”

Delegasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau bernama Syuja’ bin Wahb bin Rabiah bin Asad bin Shuhaib bin Malik bin Kabiir bin Ghannam bin Duudan bin Asad bin Khuzaimah Al Asady radhiyallahu ‘anhu. Berkuniah Abu Wahb. Syuja’ adalah shahabat Nabi yang termasuk Muhajirin dan As Sabiqunal Awwalun (yang pertama masuk Islam), di Negeri Mekkah, beliau adalah sekutu dari Bani Abdusy Syams. Berperawakan tinggi, kurus dengan badan yang agak bungkuk. 

Di antara keutamaan beliau adalah beliau merupakan satu di antara shahabat yang ikut dalam hijrah ke Negeri Habasyah yang kedua. Lalu pulang kembali ke Mekkah karena menyangka bahwa penduduknya telah berislam. Maka saat mengetahui bahwa keislaman penduduk Mekkah adalah sekedar kabar burung, beliau pun berangkat menuju ke Madinah bersama saudara beliau Abu Sinan Uqbah bin Wahb radhiyallahu ‘anhu, untuk berhijrah. Ini terjadi setelah datang perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhijrah ke negeri tersebut. Dengan ini beliau termasuk sebagai Muhajirin yang pertama. 

Di Negeri Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan beliau dengan Aus bin Abdillah bin Al Harits Al Khazraji radhiyallahu ‘anhu. Mengikuti Perang Badar, semua peperangan dan peristiwa besar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian di antara keutamaan shahabat yang mulia ini. 

Dalam sebuah peristiwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Syuja’ bin Wahb radhiyallahu ‘anhu bersama dengan pasukan kecil berjumlah 24 orang kepada Bani Amir, salah satu inti Kabilah Hawazin, yang bertempat tinggal di daerah Siyyi, ujung Negeri Rukbah pada bulan Rabiul Awwal tahun 8 Hijriyyah. Tujuan pengiriman pasukan ini adalah untuk mengacaukan keadaan mereka, Kabilah Hawazin. Sebab kabilah ini adalah salah satu kabilah Arab yang sangat keras penentangannya terhadap Islam. Di antara buktinya adalah mereka merupakan kabilah badui yang bekerjasama dengan Quraisy dalam Perang Ahzab, dan menjadi salah satu pasukan besar di barisan musuh. Maka pasukan Syuja’ inipun menyerang mereka di waktu Subuh. Serangan yang mendadak dan mengejutkan. Dengan bantuan Allah, maka pasukan ini bisa mengalahkan musuh dengan mudah. Bahkan, kaum muslimin memperoleh harta ghanimah berupa unta dan kambing dalam jumlah yang banyak. Masing-masing anggota pasukan mendapatkan 15 ekor unta dari ghanimah tersebut. 

DELEGASI KEPADA RAJA-RAJA SEKITAR JAZIRAH 


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus beliau sebagai utusan kepada Al Mundzir bin Al Harits bin Abi Syamr Al Ghassani. Dia adalah raja yang berada di Guthah, Damaskus. Ia termasuk raja yang menjadi bagian dari kekaisaran Romawi. Beliau pun keluar dari Madinah menuju Guthah pada bulan Dzulhijjah tahun 6 Hijriyyah. Saat pengutusan ini, beliau menceritakan kisah tentang penjaga pintu Al Harits yang bernama Muraii, seorang berkebangsaan Romawi. Ia bertanya kepada beliau tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan isi dakwah beliau. Maka Syuja’ pun menceritakan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sifat-sifat beliau. Maka orang inipun menangis dan berkata, “Sungguh aku telah membaca Injil. Aku mendapatkan di dalamnya sifat-sifat Nabi ini, dan dulu aku menyangka beliau sedang safar menuju ke daerah Syam. Akupun melihatnya telah keluar dari negeri Al Qardh. Maka aku pun beriman kepadanya dan membenarkannya. Namun aku takut Al Harits membunuhku”. Maka tatkala Syuja’ bin Wahb pulang kembali ke Madinah, beliau pun menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan salam Muraii kepada beliau, dan mengabarkan bahwa ia berada di atas agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membenarkan cerita dan kabar tentang orang itu. Dalam riwayat lain, selain kepada Al Mundzir, Beliau juga diutus kepada penguasa Ghassan yang lain, yaitu kepada Jabalah bin Al Aiham Al Ghassani. 

Beliau diutus pula kepada Kisra, raja persia. Sesampai di salah satu Negeri Persia, tepatnya di ibukota persia, yaitu Kota Madain, beliau pun meminta izin menemui Kisra guna menyampaikan surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka sebelum Syuja’ masuk, Kisra telah menghiasi istananya dan mengumpulkan para pembesarnya. Setelah Syuja’ bin Wahb masuk, Kisra memerintahkan untuk mengambil surat itu dari tangan beliau. Namun, beliau menolak memberikannya kecuali beliau sendirilah yang memberikannya kepada Kisra. Maka, setelah diterima oleh Kisra, surat itu diserahkan kepada juru tulis Kisra untuk dibacakan. Baru saja dibacakan surat itu, Kisra telah marah. Ia marah sebab nama Rasulullahlah yang ditulis pertama kali sebelum namanya. Baginya, bangsa Arab adalah bangsa budak bagi kekaisaran Persia yang begitu besar, sehingga tidak layak menurutnya nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut terlebih dahulu sebelum namanya. Diambillah surat itu dan dirobek-robek sambil berteriak marah. Seketika itu juga, Syuja’ diusir keluar istana. 

Sebenarnya setelah kemarahan Kisra mereda, ia meminta pada pengawalnya untuk memanggil kembali Syuja’, namun beliau telah bersegera pergi dari istana tersebut. Bahkan pencarian Syuja’ pun dilanjutkan hingga di daerah Al Hirah, sebelah utara Kufah. Namun Syuja’ telah pergi mendahului mereka dan datang menghadap Rasulullah untuk menyampaikan kabar tentang Kisra yang merobek surat beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan 
مَزَّقَ كِسۡرَى مُلۡكَهُ
“Kisra telah merobek-robek kerajaannya” 

Benarlah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan, sang raja Persia itupun akhirnya harus tewas di tangan putranya sendiri. Dan semakin hari, kekuasaan Persia tercabik-cabik, dan akhirnya tunduk kepada kekuasaan Islam di masa kekhilafahan Al Faruq, Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu.

KEMATIAN BELIAU 


Beliau meninggal dalam pertempuran Yamamah dalam rangka memerangi Musailamah Al Kadzdzab dan orang-orang yang murtad pada tahun sebelas Hijriyah. Beliau gugur bersama syuhada yang lainnya, para veteran perang Badar, Uhud, dan para Qurra, penghafal Al Quran di kalangan Muhajirin dan Anshar. Saat itu beliau berumur 40 an tahun. Semoga Allah meridhainya. [Ustadz Hammam] 


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 78 vol.07 1439H-2018H rubrik Figur.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2413 dan 2414

٤٦ - بَابُ قَدۡرِ مَسِيرَةِ مَا يُفۡطَرُ فِيهِ 
46. Bab jarak perjalanan yang boleh untuk membatalkan puasa 

٢٤١٣ – (ضعيف) حَدَّثَنَا عِيسَى بۡنُ حَمَّادٍ، أنا اللَّيۡثُ - يَعۡنِي ابۡنَ سَعۡدٍ -، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنۡ أَبِي الۡخَيۡرِ، عَنۡ مَنۡصُورٍ الۡكَلۡبِيِّ، أَنَّ دِحۡيَةَ بۡنَ خَلِيفَةَ خَرَجَ مِنۡ قَرۡيَةٍ مِنۡ دِمَشۡقَ مَرَّةً إِلَى قَدۡرِ قَرۡيَةِ عَقَبَةَ مِنَ الۡفُسۡطَاطِ، وَذٰلِكَ ثَلَاثَةُ أَمۡيَالٍ، فِي رَمَضَانَ، ثُمَّ إِنَّهُ أَفۡطَرَ وَأَفۡطَرَ مَعَهُ نَاسٌ، وَكَرِهَ آخَرُونَ أَنۡ يُفۡطِرُوا، فَلَمَّا رَجَعَ إِلَى قَرۡيَتِهِ قَالَ: وَاللهِ لَقَدۡ رَأَيۡتُ الۡيَوۡمَ أَمۡرًا مَا كُنۡتُ أَظُنُّ أَنِّي أَرَاهُ! إِنَّ قَوۡمًا رَغِبُوا عَنۡ هَدۡيِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَأَصۡحَابِهِ، يَقُولُ ذٰلِكَ لِلَّذِينَ صَامُوا، ثُمَّ قَالَ عِنۡدَ ذٰلِكَ: اللّٰهُمَّ اقۡبِضۡنِي إِلَيۡكَ!. 
2413. [Daif] ‘Isa bin Hammad telah menceritakan kepada kami: Al-Laits bin Sa’d mengabarkan kepada kami dari Yazid bin Abu Habib, dari Abu Al-Khair, dari Manshur Al-Kalbi, bahwa Dihyah bin Khalifah pernah suatu kali keluar dari suatu kampung di Damaskus ke suatu tempat sejarak kampung ‘Aqabah dari Fusthath, yaitu berjarak tiga mil, di bulan Ramadan. Kemudian beliau membatalkan puasa. Ada orang-orang yang membatalkan puasa bersama beliau dan yang lain tidak suka untuk membatalkan puasa. Ketika beliau kembali ke kampungnya, beliau berkata: Demi Allah, sungguh aku melihat pada hari ini suatu perkara yang aku kira aku tidak akan melihatnya. Sesungguhnya ada suatu kaum yang tidak menyukai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Beliau mengatakan hal itu kepada orang-orang yang berpuasa. Kemudian beliau berkata setelah itu: Ya Allah, cabutlah nyawaku kepada-Mu. 
٢٤١٤ – (صحيح موقوف) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا الۡمُعۡتَمِرُ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، أَنَّ ابۡنَ عُمَرَ كَانَ يَخۡرُجُ إِلَى الۡغَابَةِ فَلَا يُفۡطِرُ وَلَا يَقۡصِرُ. 
2414. [Sahih Mauquf] Musaddad telah menceritakan kepada kami: Al-Mu’tamir menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah, dari Nafi’, bahwa Ibnu ‘Umar pernah keluar ke Al-Ghabah, namun beliau tidak membatalkan puasa dan tidak mengqasar salat.

Qiyamul Lail

قَالَ أَبُو سُلَيۡمَانَ الدَّارَانِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: أَهۡلُ اللَّيۡلِ فِي لَيۡلِهِمۡ أَلَذُّ مِنۡ أَهۡلِ اللَّهۡوِ فِي لَهۡوِهِمۡ، وَلَوۡ لَا اللَّيۡلُ مَا أَحۡبَبۡتُ الۡبَقَاءَ في الدُّنۡيَا.
Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah berkata, "Orang yang biasa beribadah di malam hari lebih merasakan kelezatan dalam malam mereka dibandingkan orang-orang yang asyik larut bermain dalam senda gurau mereka. Kalaulah bukan karena ada malam, tentu aku tidak suka untuk tetap tinggal di dunia."

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2412

٤٥ - بَابُ مَتَى يُفۡطِرُ الۡمُسَافِرُ إِذَا خَرَجَ؟ 
45. Bab kapan musafir membatalkan puasa ketika telah keluar? 

٢٤١٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ، حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يَزِيدَ، ح، وَنا جَعۡفَرُ بۡنُ مُسَافِرٍ، نا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يَحۡيَى، الۡمَعۡنَى، [قَالَا]: حَدَّثَنِي سَعِيدُ – يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي أَيُّوبَ -، زَادَ جَعۡفَرٌ: وَاللَّيۡثُ – قَالَ: حَدَّثَنِي يَزِيدُ بۡنُ أَبِي حَبِيبٍ، أَنَّ كُلَيۡبَ بۡنَ ذُهۡلٍ الۡحَضۡرَمِيَّ أَخۡبَرَهُ، عَنۡ عُبَيۡدٍ - قَالَ جَعۡفَرٌ: ابۡنُ جَبۡرٍ - قَالَ: كُنۡتُ مَعَ أَبِي بَصۡرَةَ الۡغِفَارِيِّ صَاحِبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي سَفِينَةٍ مِنَ الۡفُسۡطَاطِ فِي رَمَضَانَ، فَرُفِعَ، ثُمَّ قُرِّبَ غَدَاؤُهُ - قَالَ جَعۡفَرٌ فِي حَدِيثِهِ: فَلَمۡ يُجَاوِزِ الۡبُيُوتَ حَتَّى دَعَا بِالسُّفۡرَةِ - قَالَ: اقۡتَرِبۡ، قُلۡتُ: أَلَسۡتَ تَرَى الۡبُيُوتَ؟ قَالَ أَبُو بَصۡرَةَ: أَتَرۡغَبُ عَنۡ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ؟. قَالَ جَعۡفَرٌ فِي حَدِيثِهِ: فَأَكَلَ. 
2412. [Sahih] ‘Ubaidullah bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Yazid menceritakan kepadaku. (Dalam riwayat lain) Ja’far bin Musafir telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Yahya menceritakan kepada kami makna hadis tersebut. Keduanya berkata: Sa’id bin Abu Ayyub menceritakan kepadaku. Ja’far menambahkan: Juga Al-Laits. Beliau berkata: Yazid bin Abu Habib menceritakan kepadaku bahwa Kulaib bin Dzuhl Al-Hadhrami mengabarkan kepadanya dari ‘Ubaid. Ja’far berkata: bin Jabr. Beliau berkata: Aku pernah bersama Abu Bashrah Al-Ghifari, seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di sebuah kapal dari Fusthath di bulan Ramadan. Kapal itu berangkat kemudian makanan paginya dihidangkan. Ja’far berkata di dalam hadisnya: Belum sampai melewati rumah-rumah, beliau sudah meminta dihidangkan makanan. Beliau berkata: Dekatkanlah! Aku berkata: Bukankah engkau masih bisa melihat rumah-rumah? Abu Bashrah mengatakan: Apakah engkau membenci sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ja’far berkata dalam hadisnya: Lalu beliau makan.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2410 dan 2411

٢٤١٠ – (ضعيف) حَدَّثَنَا حَامِدُ بۡنُ يَحۡيَى، نا هَاشِمُ بۡنُ الۡقَاسِمِ، ح، وَنا عُقۡبَةُ بۡنُ مُكۡرَمٍ، نا أَبُو قُتَيۡبَةَ، الۡمَعۡنَى، قَالَا: نا عَبۡدُ الصَّمَدِ بۡنُ حَبِيبِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ الۡأَزۡدِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي حَبِيبُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: سَمِعۡتُ سِنَانَ بۡنَ سَلَمَةَ بۡنِ الۡمُحَبَّقِ الۡهُذَلِيِّ يُحَدِّثُ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ كَانَتۡ لَهُ حَمُولَةٌ تَأۡوِي إِلَى شِبَعٍ فَلۡيَصُمۡ رَمَضَانَ حَيۡثُ أَدۡرَكَهُ). 
2410. [Daif] Hamid bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Uqbah bin Mukram telah menceritakan kepada kami: Abu Qutaibah menceritakan kepada kami makna hadis tersebut. Keduanya berkata: ‘Abdush Shamad bin Habib bin ‘Abdullah Al-Azdi menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Habib bin ‘Abdullah menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar Sinan bin Salamah bin Al-Muhabbaq Al-Hudzali menceritakan dari ayahnya. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang memiliki tunggangan yang dapat menjaga (penunggangnya) tetap dalam keadaan kenyang, maka hendaknya dia berpuasa Ramadan di mana saja dia mendapati bulan Ramadan itu.” 
٢٤١١ – (ضعيف) حَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ الۡمُهَاجِرِ، نا عَبۡدُ الصَّمَدِ – يَعۡنِي ابۡنَ عَبۡدِ الۡوَارِثِ – نا عَبۡدُ الصَّمَدِ بۡنُ حَبِيبٍ، [قَالَ]: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ سِنَانِ بۡنِ سَلَمَةَ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡمُحَبَّقِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ أَدۡرَكَهُ رَمَضَانُ فِي السَّفَرِ)، فَذَكَرَ مَعۡنَاهُ. 
2411. [Daif] Nashr bin Al-Muhajir telah menceritakan kepada kami: ‘Abdush Shamad bin ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami: ‘Abdush Shamad bin Habib menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Sinan bin Salamah, dari Salamah bin Al-Muhabbaq. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang mendapati bulan Ramadan ketika safar,” lalu beliau menyebutkan makna hadis tersebut.

Shahih Muslim hadits nomor 95

٤١ - بَابُ تَحۡرِيمِ قَتۡلِ الۡكَافِرِ بَعۡدَ أَنۡ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ 
41. Bab pengharaman membunuh orang kafir setelah dia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) 

١٥٥ - (٩٥) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رُمۡحٍ - وَاللَّفۡظُ مُتَقَارِبٌ -: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَزِيدَ اللَّيۡثِيِّ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَدِيِّ بۡنِ الۡخِيَارِ، عَنِ الۡمِقۡدَادِ بۡنِ الۡأَسۡوَدِ، أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيۡتَ إِنۡ لَقِيتُ رَجُلًا مِنَ الۡكُفَّارِ، فَقَاتَلَنِي، فَضَرَبَ إِحۡدَى يَدَيَّ بِالسَّيۡفِ فَقَطَعَهَا، ثُمَّ لَاذَ مِنِّي بِشَجَرَةٍ، فَقَالَ: أَسۡلَمۡتُ لِلهِ. أَفَأَقۡتُلُهُ يَا رَسُولَ اللهِ بَعۡدَ أَنۡ قَالَهَا؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تَقۡتُلۡهُ). قَالَ: فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُ قَدۡ قَطَعَ يَدِي، ثُمَّ قَالَ ذٰلِكَ بَعۡدَ أَنۡ قَطَعَهَا، أَفَأَقۡتُلُهُ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تَقۡتُلۡهُ فَإِنۡ قَتَلۡتَهُ فَإِنَّهُ بِمَنۡزِلَتِكَ قَبۡلَ أَنۡ تَقۡتُلَهُ. وَإِنَّكَ بِمَنۡزِلَتِهِ قَبۡلَ أَنۡ يَقُولَ كَلِمَتَهُ الَّتِي قَالَ). 
[البخاري: كتاب المغازي، باب شهود الملائكة بدرًا، رقم: ٣٧٩٤]. 
155. (95). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Laits menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Rumh telah menceritakan kepada kami—dan lafal hadis ini saling berdekatan—: Al-Laits mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Atha` bin Yazid Al-Laitsi, dari ‘Ubaidullah bin ‘Adi bin Al-Khiyar, dari Al-Miqdad bin Al-Aswad, bahwa beliau mengabarkan kepadanya bahwa beliau mengatakan, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu apabila aku bertemu salah seorang kafir, lalu dia memerangiku, menebas salah satu tanganku dengan pedang, dan dia berhasil memotongnya. Kemudian dia kabur dariku dan berlindung di suatu pohon seraya berkata: Aku berserah diri kepada Allah. Apakah aku boleh membunuhnya, wahai Rasulullah, setelah dia mengucapkan itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan engkau bunuh dia.” Al-Miqdad berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah memutus tanganku kemudian dia mengatakan hal itu setelah memutusnya, apa aku boleh membunuhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan engkau bunuh dia. Jika engkau membunuhnya, maka sesungguhnya dia berada di kedudukanmu sebelum engkau membunuhnya. Dan sesungguhnya engkau berada di kedudukannya sebelum mengatakan ucapannya.” 
١٥٦ - (...) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ، قَالَا: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ مُوسَى الۡأَنۡصَارِيُّ: حَدَّثَنَا الۡوَلِيدُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، عَنِ الۡأَوۡزَاعِيِّ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ، جَمِيعًا عَنِ الزُّهۡرِيِّ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. 
أَمَّا الۡأَوۡزَاعِيُّ وَابۡنُ جُرَيۡجٍ، فَفِي حَدِيثِهِمَا قَالَ: أَسۡلَمۡتُ لِلهِ. كَمَا قَالَ اللَّيۡثُ فِي حَدِيثِهِ. وَأَمَّا مَعۡمَرٌ فَفِي حَدِيثِهِ: فَلَمَّا أَهۡوَيۡتُ لِأَقۡتُلَهُ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ. 
156. Ishaq bin Ibrahim dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Musa Al-Anshari telah menceritakan kepada kami: Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami dari Al-Auza’i. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. Semuanya dari Az-Zuhri melalui sanad ini. 
Adapun Al-Auza’i dan Ibnu Juraij, maka di dalam hadis keduanya, dia berkata: Aku berserah diri kepada Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Laits dalam hadisnya. Adapun Ma’mar, dalam hadisnya: Ketika aku hendak membunuhnya dia berkata: Laa ilaaha illallaah (tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah). 
١٥٧ - (...) - وَحَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَطَاءُ بۡنُ يَزِيدَ اللَّيۡثِيُّ، ثُمَّ الۡجُنۡدَعِيُّ: أَنَّ عُبَيۡدَ اللهِ بۡنَ عَدِيِّ بۡنِ الۡخِيَارِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ الۡمِقۡدَادَ بۡنَ عَمۡرِو ابۡنَ الۡأَسۡوَدِ الۡكِنۡدِيَّ - وَكَانَ حَلِيفًا لِبَنِي زُهۡرَةَ، وَكَانَ مِمَّنۡ شَهِدَ بَدۡرًا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ - أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيۡتَ إِنۡ لَقِيتُ رَجُلًا مِنَ الۡكُفَّارِ؟ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ اللَّيۡثِ. 
157. Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Yunus mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: ‘Atha` bin Yazid Al-Laitsi kemudian Al-Junda’i menceritakan kepadaku: Bahwa ‘Ubaidullah bin ‘Adi bin Al-Khiyar mengabarkan kepadanya: Bahwa Al-Miqdad bin ‘Amr bin Al-Aswad Al-Kindi—dahulu beliau adalah sekutu Bani Zuhrah dan beliau termasuk orang yang mengikuti perang Badr bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa beliau mengatakan, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bertemu salah seorang kafir?” Kemudian beliau menyebutkan semisal hadis Al-Laits.