Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2442

٣ - بَابٌ لَا يَظۡلِمُ الۡمُسۡلِمُ الۡمُسۡلِمَ وَلَا يُسۡلِمُهُ 
3. Bab seorang muslim tidak boleh menzalimi muslim lain dan tidak boleh membiarkannya (tidak ditolong) 


٢٤٤٢ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: أَنَّ سَالِمًا أَخۡبَرَهُ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَخۡبَرَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (الۡمُسۡلِمُ أَخُو الۡمُسۡلِمِ، لَا يَظۡلِمُهُ وَلَا يُسۡلِمُهُ، وَمَنۡ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنۡ فَرَّجَ عَنۡ مُسۡلِمٍ كُرۡبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنۡهُ كُرۡبَةً مِنۡ كُرُبَاتِ يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ، وَمَنۡ سَتَرَ مُسۡلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ). [الحديث ٢٤٤٢ – طرفه في: ٦٩٥١]. 

2442. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab: Bahwa Salim mengabarkan kepadanya: Bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan kepadanya: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim saudara muslim lainnya. Tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (tidak menolongnya). Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantunya memenuhi kebutuhan dirinya. Dan siapa saja yang menghilangkan satu kesusahan dari seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan di hari kiamat. Dan siapa saja yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.”

Shahih Muslim hadits nomor 135

٢١٥ – (١٣٥) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡوَارِثِ بۡنُ عَبۡدِ الصَّمَدِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي عَنۡ جَدِّي، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ سِيرِينَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يَزَالُ النَّاسُ يَسۡأَلُونَكُمۡ عَنِ الۡعِلۡمِ، حَتَّى يَقُولُوا: هَٰذَا اللهُ خَلَقَنَا، فَمَنۡ خَلَقَ اللهَ؟)‏.‏ 

قَالَ: وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ رَجُلٍ فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ، قَدۡ سَأَلَنِي اثۡنَانِ وَهَٰذَا الثَّالِثُ، أَوۡ قَالَ: سَأَلَنِي وَاحِدٌ وَهَٰذَا الثَّانِي. 

215. (135). ‘Abdul Warits bin ‘Abdush Shamad telah menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Orang-orang akan terus-menerus bertanya kepada kalian tentang ilmu. Sampai mereka akan berkata: Allah telah menciptakan kita, lalu siapa yang menciptakan Allah?” 

Muhammad bin Sirin berkata: Abu Hurairah memegang tangan seseorang lalu berkata, “Allah dan Rasul-Nya telah benar. Sudah ada dua orang yang bertanya kepadaku dan orang ini yang ketiga.” Atau Abu Hurairah berkata, “Sudah ada satu orang yang bertanya kepadaku dan orang ini yang kedua.” 

وَحَدَّثَنِيهِ زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَيَعۡقُوبُ الدَّوۡرَقِيُّ قَالَا: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ - وَهُوَ ابۡنُ عُلَيَّةَ - عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ مُحَمَّدٍ قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: (لَا يَزَالُ النَّاسُ...)‏ بِمِثۡلِ حَدِيثِ عَبۡدِ الۡوَارِثِ، غَيۡرَ أَنَّهُ لَمۡ يَذۡكُرِ النَّبِيَّ ﷺ فِي الۡإِسۡنَادِ، وَلٰكِنۡ قَدۡ قَالَ فِي آخِرِ الۡحَدِيثِ: صَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ. 

Zuhair bin Harb dan Ya’qub Ad-Dauraqi telah menceritakannya kepadaku. Keduanya berkata: Isma’il bin ‘Ulayyah menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Muhammad. Beliau berkata: Abu Hurairah berkata, “Senantiasa orang-orang…” semisal hadis ‘Abdul Warits. Hanya saja beliau tidak menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sanadnya, akan tetapi beliau berkata di akhir hadis: Allah dan Rasul-Nya telah benar. 

وَحَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الرُّومِيِّ: حَدَّثَنَا النَّضۡرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ، وَهُوَ ابۡنُ عَمَّارٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ: حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَزَالُونَ يَسۡأَلُونَكَ، يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ، حَتَّى يَقُولُوا: هَٰذَا اللهُ، فَمَنۡ خَلَقَ اللهَ؟) قَالَ: فَبَيۡنَا أَنَا فِي الۡمَسۡجِدِ إِذۡ جَاءَنِي نَاسٌ مِنَ الۡأَعۡرَابِ. فَقَالُوا: يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ، هَٰذَا اللهُ، فَمَنۡ خَلَقَ اللهَ؟ قَالَ فَأَخَذَ حَصًى بِكَفِّهِ فَرَمَاهُمۡ، ثُمَّ قَالَ: قُومُوا، قُومُوا، صَدَقَ خَلِيلِي. 

‘Abdullah bin Ar-Rumi telah menceritakan kepadaku: An-Nadhr bin Muhammad menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami: Abu Salamah menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Mereka akan senantiasa bertanya kepadamu, wahai Abu Hurairah, sampai mereka berkata: Allah (Yang menciptakan), lalu siapa yang menciptakan Allah?” Abu Hurairah berkata: Ketika aku sedang berada di dalam masjid, tiba-tiba orang-orang dari arab badui datang kepadaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, Allah (Yang menciptakan), lalu siapa yang menciptakan Allah?” Beliau berkata: Lalu Abu Hurairah mengambil kerikil dengan telapak tangannya dan melempari mereka. Kemudian beliau berkata, “Berdirilah, berdirilah, khalilku (Nabi Muhammad) telah benar.” 

٢١٦ – (...) - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا كَثِيرُ بۡنُ هِشَامٍ: حَدَّثَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ بُرۡقَانَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ الۡأَصَمِّ، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَيَسۡأَلَنَّكُمُ النَّاسُ عَنۡ كُلِّ شَىۡءٍ، حَتَّى يَقُولُوا: اللهُ خَلَقَ كُلَّ شَىۡءٍ، فَمَنۡ خَلَقَهُ؟). 

216. Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepadaku: Katsir bin Hisyam menceritakan kepada kami: Ja’far bin Burqan menceritakan kepada kami: Yazid bin Al-Ashamm menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang benar-benar akan bertanya kepada kalian tentang segala sesuatu. Sampai mereka berkata: Allah menciptakan segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan-Nya?”

Shahih Muslim hadits nomor 134

٢١٢ – (١٣٤) - حَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ مَعۡرُوفٍ وَمُحَمَّدُ بۡنُ عَبَّادٍ - وَاللَّفۡظُ لِهَارُونَ – قَالَا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ: هَٰذَا خَلَقَ اللهُ الۡخَلۡقَ، فَمَنۡ خَلَقَ اللهَ؟ فَمَنۡ وَجَدَ مِنۡ ذٰلِكَ شَيۡئًا فَلۡيَقُلۡ: آمَنۡتُ بِاللهِ). 

[البخاري: كتاب بدء الخلق، باب صفة إبليس وجنوده، رقم: ٣١٠٢]. 

212. (134). Harun bin Ma’ruf dan Muhammad bin ‘Abbad telah menceritakan kepada kami. Lafal hadis ini milik Harun. Keduanya berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang senantiasa saling bertanya, sampai ada yang berkata: Allah telah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Maka siapa saja yang mendapatkan sesuatu dari ucapan itu, maka hendaknya dia ucapkan: Aku beriman kepada Allah.” 

٢١٣ – (...) - وَحَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ غَيۡلَانَ: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضۡرِ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الۡمُؤَدِّبُ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (يَأۡتِي الشَّيۡطَانُ أَحَدَكُمۡ فَيَقُولُ: مَنۡ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ مَنۡ خَلَقَ الۡأَرۡضَ؟ فَيَقُولُ: اللهُ...)، ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثۡلِهِ. وَزَادَ: (وَرُسُلِهِ). 

213. Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami: Abu An-Nadhr menceritakan kepada kami: Abu Sa’id Al-Muaddib menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah melalui sanad ini: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan mendatangi salah seorang kalian lalu bertanya: Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi? Lalu orang yang didatangi itu akan menjawab: Allah…” Kemudian beliau menyebutkan semisal hadis tersebut. Beliau menambahkan, “(Aku beriman kepada Allah) dan para rasul-Nya.” 

٢١٤ – (...) - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ، جَمِيعًا عَنۡ يَعۡقُوبَ. قَالَ زُهَيۡرٌ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَخِي ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَمِّهِ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَأۡتِي الشَّيۡطَانُ أَحَدَكُمۡ فَيَقُولُ: مَنۡ خَلَقَ كَذَا وَكَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ لَهُ: مَنۡ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَ ذٰلِكَ فَلۡيَسۡتَعِذۡ بِاللهِ وَلۡيَنۡتَهِ). 

214. Zuhair bin Harb dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepadaku. Semuanya dari Ya’qub. Zuhair berkata: Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami: Putra saudara Ibnu Syihab menceritakan kepada kami dari pamannya. Beliau berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku: Bahwa Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan mendatangi salah seorang kalian lalu bertanya: Siapa yang menciptakan ini dan ini? Sampai setan itu akan bertanya kepadanya: Siapa yang menciptakan Rabb-mu? Maka, jika pertanyaannya sudah sampai hal itu, maka hendaknya berlindung kepada Allah dan berhenti.” 

(...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ شُعَيۡبِ بۡنِ اللَّيۡثِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ جَدِّي. قَالَ: حَدَّثَنِي عُقَيۡلُ بۡنُ خَالِدٍ، قَالَ: قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَأۡتِي الۡعَبۡدَ الشَّيۡطَانُ فَيَقُولُ: مَنۡ خَلَقَ كَذَا وَكَذَا؟...)؟ مِثۡلَ حَدِيثِ ابۡنِ أَخِي ابۡنِ شِهَابٍ. 

‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al-Laits telah menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku. Beliau berkata: ‘Uqaid bin Khalid menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Ibnu Syihab berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku: Bahwa Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan mendatangi seorang hamba lalu bertanya: Siapa yang menciptakan ini dan ini?...” Semisal hadis putra saudara Ibnu Syihab.

Shahih Muslim hadits nomor 133

٢١١ – (١٣٣) – حَدَّثَنَا يُوسُفُ بۡنُ يَعۡقُوبَ الصَّفَّارُ: حَدَّثَنِي عَلِيُّ بۡنُ عَثَّامٍ، عَنۡ سُعَيۡرِ بۡنِ الۡخِمۡسِ، عَنۡ مُغِيرَةَ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنِ الۡوَسۡوَسَةِ؟ قَالَ:‏ (تِلۡكَ مَحۡضُ الۡإِيمَانِ). 

211. (133). Yusuf bin Ya’qub Ash-Shaffar telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin ‘Atstsam menceritakan kepadaku dari Su’air bin Al-Khims, dari Mughirah, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waswasah (bisikan kejelekan oleh setan). Beliau bersabda, “Itulah iman yang murni.”

Shahih Al-Bukhari - 2. Kitab Iman

Kitab Iman

  1. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam dibangun di atas lima”
  2. Bab doa kalian adalah iman kalian; berdasarkan firman Allah taala (yang artinya), “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): Tuhanku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada doa kalian”
    1. Hadis nomor 8.
  3. Bab perkara-perkara keimanan
    1. Hadis nomor 9.
  4. Bab seorang muslim adalah siapa saja yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya
    1. Hadis nomor 10.
  5. Bab amalan Islam apa yang paling utama
    1. Hadis nomor 11.
  6. Bab memberi makanan termasuk keislaman
    1. Hadis nomor 12.
  7. Bab mencintai untuk saudaranya apa saja yang ia cintai untuk dirinya adalah termasuk keimanan
    1. Hadis nomor 13.
  8. Bab mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk keimanan
    1. Hadis nomor 14 dan 15.
  9. Bab manisnya iman
    1. Hadis nomor 16.
  10. Bab tanda keimanan adalah mencintai kaum ansar
    1. Hadis nomor 17.
  11. Bab
    1. Hadis nomor 18.
  12. Bab termasuk agama adalah menghindar dari cobaan
    1. Hadis nomor 19.
  13. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku paling berilmu tentang Allah di antara kalian”
    1. Hadis nomor 20.
  14. Bab siapa saja yang benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api, maka hal itu termasuk iman
    1. Hadis nomor 21.
  15. Bab bertingkat-tingkatnya pemilik keimanan dalam hal amalan
    1. Hadis nomor 22.
    2. Hadis nomor 23.
  16. Bab malu termasuk iman
    1. Hadis nomor 24.
  17. Bab “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” (QS. At-Taubah: 5)
    1. Hadis nomor 25.
  18. Bab barang siapa mengatakan: Sesungguhnya iman adalah amal
    1. Hadis nomor 26.
  19. Bab jika keislaman tidak secara hakiki dan keislamannya hanya penyerahan diri atau takut dari pembunuhan
    1. Hadis nomor 27.
  20. Bab mengucapkan salam termasuk keislaman
    1. Hadis nomor 28.
  21. Bab kufur terhadap suami dan kekufuran di bawah kekufuran (yaitu kufur yang tidak sampai mengeluarkan dari agama)
    1. Hadis nomor 29.
  22. Bab kemaksiatan termasuk perkara jahiliah namun pelakunya tidak lantas dikafirkan apabila melakukannya, kecuali kesyirikan
    1. Hadis nomor 30.
  23. Bab, “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya”, Allah menamai mereka sebagai orang-orang yang beriman
    1. Hadis nomor 31.
  24. Bab zhulmun duna zhulmin (kezaliman kecil)
    1. Hadis nomor 32.
  25. Bab tanda munafik
    1. Hadis nomor 33.
    2. Hadis nomor 34.
  26. Bab salat malam Lailatulkadar termasuk iman
    1. Hadis nomor 35.
  27. Bab jihad termasuk keimanan
    1. Hadis nomor 36.
  28. Bab salat sunah malam Ramadan termasuk iman
    1. Hadis nomor 37.
  29. Bab puasa Ramadan dengan mengharap pahala termasuk keimanan
    1. Hadis nomor 38.
  30. Bab agama ini mudah
    1. Hadis nomor 39.
  31. Bab salat termasuk keimanan
    1. Hadis nomor 40.
  32. Bab baiknya keislaman seseorang
    1. Hadis nomor 41 dan 42.
  33. Bab amalan agama yang paling Allah azza wajalla cintai adalah yang paling berkesinambungan
    1. Hadis nomor 43.
  34. Bab tambah dan kurangnya iman
    1. Hadis nomor 44 dan 45.
  35. Bab zakat adalah bagian dari Islam
    1. Hadis nomor 46.
  36. Bab mengiringi jenazah termasuk keimanan
    1. Hadis nomor 47.
  37. Bab kekhawatiran seorang mukmin apabila amalannya terhapus dalam keadaan dia tidak menyadarinya
    1. Hadis nomor 48 dan 49.
  38. Bab pertanyaan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang iman, islam, ihsan, dan ilmu kapan hari kiamat; dan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya
    1. Hadis nomor 50.
  39. Bab
    1. Hadis nomor 51.
  40. Bab keutamaan orang yang menjaga kemurnian agamanya
    1. Hadis nomor 52.
  41. Bab menunaikan seperlima ganimah termasuk keimanan
    1. Hadis nomor 53.
  42. Bab sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat dan harapan, dan setiap orang mendapatkan apa yang telah dia niatkan
    1. Hadis nomor 54.
    2. Hadis nomor 55.
    3. Hadis nomor 56.
  43. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Agama adalah nasihat untuk Allah, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan masyarakat awamnya”
    1. Hadis nomor 57 dan 58.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7204

٧٢٠٤ - حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ: أَخۡبَرَنَا سَيَّارٌ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ جَرِيرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: بَايَعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ عَلَى السَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، فَلَقَّنَنِي: (فِيمَا اسۡتَطَعۡتُ، وَالنُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ). [طرفه في: ٥٧]. 

7204. Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Husyaim menceritakan kepada kami: Sayyar mengabarkan kepada kami dari Asy-Sya’bi, dari Jarir bin ‘Abdullah. Beliau mengatakan: Aku telah membaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat. Lalu beliau menuntunku untuk menirukan ucapan, “Dalam hal yang aku mampu dan agar memberi nasihat kepada setiap muslim.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2714 dan 2715

٢٧١٤ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ زِيَادِ بۡنِ عِلَاقَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ جَرِيرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: بَايَعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَاشۡتَرَطَ عَلَيَّ: (وَالنُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ). [طرفه في: ٥٧]. 

2714. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ziyad bin ‘Ilaqah. Beliau berkata: Aku mendengar Jarir radhiyallahu ‘anhu mengatakan: Aku telah membaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mensyaratkan kepadaku, “Dan nasihat kepada setiap muslim.” 

٢٧١٥ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنِي قَيۡسُ بۡنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ جَرِيرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: بَايَعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ. [طرفه في: ٥٧]. 

2715. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Isma’il. Beliau berkata: Qais bin Abu Hazim menceritakan kepadaku dari Jarir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan: Aku telah membaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan nasihat kepada setiap muslim.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2157

٦٨ - بَابٌ هَلۡ يَبِيعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ بِغَيۡرِ أَجۡرٍ، وَهَلۡ يُعِينُهُ أَوۡ يَنۡصَحُهُ 
68. Bab apakah orang kota boleh menjualkan barang dagangan orang desa dengan tanpa upah? Dan apakah boleh membantu atau menasihatinya? 


وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِذَا اسۡتَنۡصَحَ أَحَدُكُمۡ أَخَاهُ فَلۡيَنۡصَحۡ لَهُ). وَرَخَّصَ فِيهِ عَطَاءٌ. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang kalian minta nasihat kepada saudaranya, maka hendaknya dia menasihatinya.” ‘Atha` bin Abu Rabah memberi rukhsah dalam hal ini. 

٢١٥٧ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ، عَنۡ قَيۡسٍ: سَمِعۡتُ جَرِيرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: بَايَعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَلَى شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَالنُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ. [طرفه في: ٥٧]. 

2157. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Isma’il, dari Qais: Aku mendengar Jarir radhiyallahu ‘anhu: Aku membaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan salat, menunaikan zakat, mendengar dan taat, dan nasihat kepada setiap muslim.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1401

٢ - بَابُ الۡبَيۡعَةِ عَلَى إِيتَاءِ الزَّكَاةِ 
2. Bab baiat untuk menunaikan zakat 


﴿فَإِنۡ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخۡوَانُكُمۡ فِي الدِّينِ﴾ [التوبة: ١١]. 

“Jika mereka bertobat, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudara kalian seagama.” (QS. At-Taubah: 11). 

١٤٠١ - حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ، عَنۡ قَيۡسٍ قَالَ: قَالَ جَرِيرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: بَايَعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ. [الحديث ١٤٠١ – طرفاه في: ٥٧، ٥٢٤]. 

1401. Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Isma’il menceritakan kepada kami dari Qais. Beliau berkata: Jarir bin ‘Abdullah berkata: Aku membaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan nasihat untuk setiap muslim.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 524

٣ - بَابُ الۡبَيۡعَةِ عَلَى إِقَامَةِ الصَّلَاةِ 
3. Bab baiat untuk menegakkan salat 


٥٢٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنَا قَيۡسٌ، عَنۡ جَرِيرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: بَايَعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ. [طرفه في: ٥٧]. 

524. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yahya menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Isma’il menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Qais menceritakan kepada kami dari Jarir bin ‘Abdullah. Beliau berkata: Aku membaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menegakkan salat, menunaikan zakat, dan nasihat kepada setiap muslim.”

Shahih Muslim hadits nomor 132

٦٠ - بَابُ بَيَانِ الۡوَسۡوَسَةِ فِي الۡإِيمَانِ وَمَا يَقُولُهُ مَنۡ وَجَدَهَا 
60. Bab keterangan waswasah (bisikan kejelekan oleh setan) dalam keimanan dan apa yang seseorang ucapkan apabila mendapatinya 


٢٠٩ – (١٣٢) - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنۡ سُهَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: جَاءَ نَاسٌ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنۡفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنۡ يَتَكَلَّمَ بِهِ‏.‏ قَالَ: (وَقَدۡ وَجَدۡتُمُوهُ؟). قَالُوا: نَعَمۡ،‏ قَالَ: (ذَاكَ صَرِيحُ الۡإِيمَانِ). 

209. (132). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Jarir menceritakan kepada kami dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Orang-orang dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, lalu mereka bertanya kepada Nabi, “Sesungguhnya kami mendapati pada jiwa-jiwa kami, bisikan-bisikan yang salah seorang kami merasa berat untuk mengucapkannya.” Nabi balik bertanya, “Apa kalian telah mendapatinya?” Mereka menjawab, “Iya.” Nabi bersabda, “Hal itu menunjukkan kejernihan iman.” 

٢١٠ – (...) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنۡ شُعۡبَةَ. (ح) وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ جَبَلَةَ بۡنِ أَبِي رَوَّادٍ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ إِسۡحَاقَ، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو الۡجَوَّابِ، عَنۡ عَمَّارِ بۡنِ رُزَيۡقٍ، كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ. 

210. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami dari Syu’bah. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin ‘Amr bin Jabalah bin Abu Rawwad dan Abu Bakr bin Ishaq telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Abu Al-Jawwab menceritakan kepada kami dari ‘Ammar bin Ruzaiq. Masing-masing keduanya dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dengan hadis ini.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6733

٦ - بَابُ مِيرَاثِ الۡبَنَاتِ 
6. Bab warisan anak-anak perempuan 


٦٧٣٣ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا الزُّهۡرِيُّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَامِرُ بۡنُ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: مَرِضۡتُ بِمَكَّةَ مَرَضًا، فَأَشۡفَيۡتُ مِنۡهُ عَلَى الۡمَوۡتِ، فَأَتَانِي النَّبِيُّ ﷺ يَعُودُنِي، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي مَالًا كَثِيرًا، وَلَيۡسَ يَرِثُنِي إِلَّا ابۡنَتِي، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيۡ مَالِي؟ قَالَ: (لَا). قَالَ: قُلۡتُ: فَالشَّطۡرُ؟ قَالَ: (لَا)، قُلۡتُ: الثُّلُثُ؟ قَالَ: (الثُّلُثُ كَبِيرٌ، إِنَّكَ إِنۡ تَرَكۡتَ وَلَدَكَ أَغۡنِيَاءَ خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ تَتۡرُكَهُمۡ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ، وَإِنَّكَ لَنۡ تُنۡفِقَ نَفَقَةً إِلَّا أُجِرۡتَ عَلَيۡهَا، حَتَّى اللُّقۡمَةَ تَرۡفَعُهَا إِلَى فِي امۡرَأَتِكَ). فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَأُخَلَّفُ عَنۡ هِجۡرَتِي؟ فَقَالَ: (لَنۡ تُخَلَّفَ بَعۡدِي، فَتَعۡمَلَ عَمَلًا تُرِيدُ بِهِ وَجۡهَ اللهِ، إِلَّا ازۡدَدۡتَ بِهِ رِفۡعَةً وَدَرَجَةً، وَلَعَلَّ أَنۡ تُخَلَّفَ بَعۡدِي حَتَّى يَنۡتَفِعَ بِكَ أَقۡوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ، لَكِنِ الۡبَائِسُ سَعۡدُ ابۡنُ خَوۡلَةَ). يَرۡثِي لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ مَاتَ بِمَكَّةَ. قَالَ سُفۡيَانُ: وَسَعۡدُ ابۡنُ خَوۡلَةَ رَجُلٌ مِنۡ بَنِي عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍّ. [طرفه في: ٥٦]. 

6733. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Az-Zuhri menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash mengabarkan kepadaku dari ayahnya. Beliau berkata: 

Aku sakit di Makkah. Sakit itu hampir mengantarkanku kepada kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menjengukku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta yang banyak dan tidak ada yang mewarisiku kecuali putriku. Apakah aku boleh bersedekah dengan dua pertiga hartaku?” 

Nabi besabda, “Jangan.” 

Sa’d berkata: Aku bertanya, “Bagaimana dengan separuh?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Sepertiga?” 

Nabi menjawab, “Sepertiga itu besar. Sesungguhnya engkau meninggalkan anakmu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin mengemis kepada orang-orang. Dan sesungguhnya tidaklah engkau mengeluarkan suatu nafkah kecuali engkau akan diberi pahalanya, sampai pun suapan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” 

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku akan tertinggal dari hijrahku?” 

Nabi bersabda, “Tidaklah engkau tertinggal sepeninggalku, lalu engkau beramal dengan suatu amalan yang engkau inginkan dengannya wajah Allah, kecuali keluhuran dan derajatmu akan bertambah. Dan semoga engkau berumur panjang sepeninggalku sehingga ada orang-orang yang mengambil manfaat dengan sebabmu, sedang yang lain dirugikan dengan sebabmu. Namun, yang malang adalah Sa’d bin Khaulah.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungkawa untuknya karena dia meninggal di Makkah. Sufyan berkata: Sa’d bin Khaulah adalah seorang pria dari Bani ‘Amir bin Lu`ayy.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6373

٦٣٧٣ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ شِهَابٍ عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدٍ: أَنَّ أَبَاهُ قَالَ: عَادَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَجَّةِ الۡوَدَاعِ، مِنۡ شَكۡوَى أَشۡفَيۡتُ مِنۡهَا عَلَى الۡمَوۡتِ، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، بَلَغَ بِي مَا تَرَى مِنَ الۡوَجَعِ، وَأَنَا ذُو مَالٍ، وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابۡنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيۡ مَالِي؟ قَالَ: (لَا). قُلۡتُ: فَبِشَطۡرِهِ؟ قَالَ: (الثُّلُثُ كَثِيرٌ، إِنَّكَ أَنۡ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغۡنِيَاءَ خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ تَذَرَهُمۡ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ، وَإِنَّكَ لَنۡ تُنۡفِقَ نَفَقَةً تَبۡتَغِي بِهَا وَجۡهَ اللهِ إِلَّا أُجِرۡتَ، حَتَّى مَا تَجۡعَلُ فِي فِي امۡرَأَتِكَ). قُلۡتُ: أَأُخَلَّفُ بَعۡدَ أَصۡحَابِي؟ قَالَ: (إِنَّكَ لَنۡ تُخَلَّفَ، فَتَعۡمَلَ عَمَلًا تَبۡتَغِي بِهِ وَجۡهَ اللهِ، إِلَّا ازۡدَدۡتَ دَرَجَةً وَرِفۡعَةً، وَلَعَلَّكَ تُخَلَّفُ حَتَّى يَنۡتَفِعَ بِكَ أَقۡوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ، اللّٰهُمَّ أَمۡضِ لِأَصۡحَابِي هِجۡرَتَهُمۡ، وَلَا تَرُدَّهُمۡ عَلَى أَعۡقَابِهِمۡ، لَكِنِ الۡبَائِسُ سَعۡدُ ابۡنُ خَوۡلَةَ). قَالَ سَعۡدٌ: رَثَى لَهُ النَّبِيُّ ﷺ مِنۡ أَنۡ تُوُفِّيَ بِمَكَّةَ. [طرفه في: ٥٦]. 

6373. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami: Ibnu Syihab mengabarkan kepada kami dari ‘Amir bin Sa’d: Bahwa ayahnya berkata: 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku ketika haji wadak karena aku sakit yang hampir mengantarku kepada kematian. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, penyakit ini sudah menjangkitiku separah yang engkau lihat, sementara aku punya banyak harta dan tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang putriku. Apakah aku boleh bersedekah dengan dua pertiga hartaku?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Dengan separuhnya?” 

Nabi menjawab, “Sepertiga itu banyak. Sesungguhnya apabila engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang-orang. Dan sesungguhnya tidaklah engkau mengeluarkan suatu nafkah yang engkau harapkan dengannya wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala. Sampai pun suapan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” 

Aku bertanya, “Apakah aku akan ditinggal para sahabatku?” 

Nabi menjawab, “Sesungguhnya tidaklah engkau tertinggal lalu engkau melakukan suatu amalan yang engkau harapkan dengannya wajah Allah, kecuali derajat dan keluhuranmu akan bertambah. Dan bisa jadi engkau berumur panjang sehingga ada orang-orang yang mengambil manfaat dengan sebabmu dan yang lain dirugikan dengan sebabmu. Ya Allah, sempurnakan hijrah para sahabatku dan jangan Engkau kembalikan mereka ke belakang. Akan tetapi, yang malang adalah Sa’d bin Khaulah.” 

Sa’d berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungkawa untuk Sa’d bin Khaulah karena dia wafat di Makkah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5668

٥٦٦٨ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي سَلَمَةَ: أَخۡبَرَنَا الزُّهۡرِيُّ، عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: جَاءَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَعُودُنِي مِنۡ وَجَعٍ اشۡتَدَّ بِي، زَمَنَ حَجَّةِ الۡوَدَاعِ، فَقُلۡتُ: بَلَغَ بِي مَا تَرَى، وَأَنَا ذُو مَالٍ، وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابۡنَةٌ لِي، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيۡ مَالِي؟ قَالَ: (لَا). قُلۡتُ: بِالشَّطۡرِ؟ قَالَ: (لَا). قُلۡتُ: الثُّلُثُ؟ قَالَ: (الثُّلُثُ كَثِيرٌ أَنۡ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغۡنِيَاءَ خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ تَذَرَهُمۡ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ، وَلَنۡ تُنۡفِقَ نَفَقَةً تَبۡتَغِي بِهَا وَجۡهَ اللهِ إِلَّا أُجِرۡتَ عَلَيۡهَا، حَتَّى مَا تَجۡعَلُ فِي فِي امۡرَأَتِكَ). [طرفه في: ٥٦]. 

5668. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Abu Salamah menceritakan kepada kami: Az-Zuhri mengabarkan kepada kami dari ‘Amir bin Sa’d, dari ayahnya. Beliau berkata: 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami dalam rangka menjengukku yang sedang sakit parah pada waktu haji wadak. Aku berkata, “Penyakitku telah separah yang engkau lihat dan aku memiliki banyak harta. Tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang putriku. Apakah aku boleh bersedekah dengan dua pertiga hartaku?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Dengan setengah?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Sepertiga?” 

Nabi menjawab, “Sepertiga itu banyak. Engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada orang-orang. Tidaklah engkau mengeluarkan suatu nafkah yang engkau harapkan dengannya wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala. Sampai pun suapan yang engkau letakkan di mulut istrimu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5659

١٣ - بَابُ وَضۡعِ الۡيَدِ عَلَى الۡمَرِيضِ 
13. Bab meletakkan tangan kepada orang yang sakit 


٥٦٥٩ - حَدَّثَنَا الۡمَكِّيُّ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا الۡجُعَيۡدُ، عَنۡ عَائِشَةَ بِنۡتِ سَعۡدٍ: أَنَّ أَبَاهَا قَالَ: تَشَكَّيۡتُ بِمَكَّةَ شَكۡوًا شَدِيدًا، فَجَاءَنِي النَّبِيُّ ﷺ يَعُودُنِي، فَقُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنِّي أَتۡرُكُ مَالًا، وَإِنِّي لَمۡ أَتۡرُكۡ إِلَّا ابۡنَةً وَاحِدَةً، فَأُوصِي بِثُلُثَيۡ مَالِي وَأَتۡرُكُ الثُّلُثَ؟ فَقَالَ: (لَا). قُلۡتُ: فَأُوصِي بِالنِّصۡفِ وَأَتۡرُكُ النِّصۡفَ؟ قَالَ: (لَا). قُلۡتُ: فَأُوصِي بِالثُّلُثِ وَأَتۡرُكُ لَهَا الثُّلُثَيۡنِ؟ قَالَ: (الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ). ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبۡهَتِهِ، ثُمَّ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى وَجۡهِي وَبَطۡنِي، ثُمَّ قَالَ: (اللّٰهُمَّ اشۡفِ سَعۡدًا، وَأَتۡمِمۡ لَهُ هِجۡرَتَهُ). فَمَا زِلۡتُ أَجِدُ بَرۡدَهُ عَلَى كَبِدِي - فِيمَا يُخَالُ إِلَيَّ - حَتَّى السَّاعَةِ. [طرفه في: ٥٦]. 

5659. Al-Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Al-Ju’aid mengabarkan kepada kami dari ‘Aisyah binti Sa’d: Bahwa ayahnya berkata: 

Aku sakit parah di Makkah lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menjengukku. Aku berkata, “Wahai Nabi, sesungguhnya aku akan meninggalkan banyak harta sementara aku tidak meninggalkan ahli waris kecuali seorang putri. Apakah aku boleh berwasiat dengan dua pertiga hartaku dan menyisakan sepertiga?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Apakah aku boleh berwasiat dengan setengah dan menyisakan setengah?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Apakah aku boleh berwasiat dengan sepertiga dan menyisakan dua pertiga untuknya?” 

Nabi menjawab, “Ya, sepertiga dan sepertiga itu banyak.” Kemudian Nabi meletakkan tangannya ke atas dahi Sa’d, kemudian Nabi mengusapkan tangannya ke wajah dan perutku, kemudian bersabda, “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’d dan sempurnakan hijrahnya.” Lalu aku terus merasakan sejuknya (telapak tangan beliau) pada hatiku sampai saat ini.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4409

٤٤٠٩ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ، هُوَ ابۡنُ سَعۡدٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: عَادَنِي النَّبِيُّ ﷺ فِي حَجَّةِ الۡوَدَاعِ، مِنۡ وَجَعٍ أَشۡفَيۡتُ مِنۡهُ عَلَى الۡمَوۡتِ، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، بَلَغَ بِي مِنَ الۡوَجَعِ مَا تَرَى، وَأَنَا ذُو مَالٍ، وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابۡنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيۡ مَالِي؟ قَالَ: (لَا). قُلۡتُ: أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطۡرِهِ؟ قَالَ: (لَا). قُلۡتُ: فَالثُّلُثِ؟، قَالَ: (الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، إِنَّكَ أَنۡ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغۡنِيَاءَ خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ تَذَرَهُمۡ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ، وَلَسۡتَ تُنۡفِقُ نَفَقَةً تَبۡتَغِي بِهَا وَجۡهَ اللهِ إِلَّا أُجِرۡتَ بِهَا، حَتَّى اللُّقۡمَةَ تَجۡعَلُهَا فِي فِي امۡرَأَتِكَ). قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَأُخَلَّفُ بَعۡدَ أَصۡحَابِي؟ قَالَ: (إِنَّكَ لَنۡ تُخَلَّفَ، فَتَعۡمَلَ عَمَلًا تَبۡتَغِي بِهِ وَجۡهَ اللهِ، إِلَّا ازۡدَدۡتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفۡعَةً، وَلَعَلَّكَ تُخَلَّفُ حَتَّى يَنۡتَفِعَ بِكَ أَقۡوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ؛ اللّٰهُمَّ أَمۡضِ لِأَصۡحَابِي هِجۡرَتَهُمۡ، وَلَا تَرُدَّهُمۡ عَلَى أَعۡقَابِهِمۡ، لَكِنِ الۡبَائِسُ سَعۡدُ ابۡنُ خَوۡلَةَ). رَثَى لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ تُوُفِّيَ بِمَكَّةَ. [طرفه في: ٥٦]. 

4409. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami: Ibnu Syihab menceritakan kepada kami dari ‘Amir bin Sa’d, dari ayahnya. Beliau berkata: 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku ketika haji wadak karena penyakit yang hampir mengantarku kepada kematian. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, penyakitku sudah separah yang engkau lihat sementara aku memiliki banyak harta dan tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang putriku saja. Apakah aku boleh bersedekah dengan dua pertiga hartaku?” 

Nabi bersabda, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Apakah aku boleh bersedekah dengan setengahnya?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Kalau sepertiga?” 

Nabi menjawab, “Ya sepertiga. Dan sepertiga pun sudah banyak. Sungguh engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada orang-orang. Tidaklah engkau mengeluarkan suatu nafkah yang engkau harapkan wajah Allah kecuali engkau diberi pahala dengannya. Sampai-sampai suapan yang engkau suapkan di mulut istrimu.” 

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku ditinggalkan para sahabatku?” 

Nabi bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak ditinggalkan, lalu engkau mengerjakan suatu amalan yang engkau harapkan wajah Allah, kecuali derajat dan keluhuranmu akan bertambah. Bisa jadi engkau berumur panjang sehingga orang-orang mendapatkan manfaat dengan sebabmu dan yang lain dirugikan dengan sebabmu. Ya Allah, sempurnakanlah hijrah para sahabatku dan jangan Engkau kembalikan mereka ke belakang. Tetapi yang malang adalah Sa’d bin Khaulah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungkawa untuknya karena dia wafat di Makkah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3936

٤٩ - بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (اللّٰهُمَّ أَمۡضِ لِأَصۡحَابِي هِجۡرَتَهُمۡ) 
49. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Allah, sempurnakanlah bagi para sahabatku hijrah mereka” 


وَمَرۡثِيَتِهِ لِمَنۡ مَاتَ بِمَكَّةَ. 

Dan duka cita beliau kepada orang-orang (muhajirin) yang meninggal di Makkah. 

٣٩٣٦ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ قَزَعَةَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: عَادَنِي النَّبِيُّ ﷺ عَامَ حَجَّةِ الۡوَدَاعِ مِنۡ مَرَضٍ أَشۡفَيۡتُ مِنۡهُ عَلَى الۡمَوۡتِ، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، بَلَغَ بِي مِنَ الۡوَجَعِ مَا تَرَى، وَأَنَا ذُو مَالٍ، وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابۡنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيۡ مَالِي؟ قَالَ: (لَا). قَالَ: فَأَتَصَدَّقُ بِشَطۡرِهِ؟ قَالَ: (الثُّلُثُ يَا سَعۡدُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، إِنَّكَ أَنۡ تَذَرَ ذُرِّيَّتَكَ أَغۡنِيَاءَ، خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ تَذَرَهُمۡ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ). 

3936. Yahya bin Qaza’ah telah menceritakan kepada kami: Ibrahim menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Amir bin Sa’d bin Malik, dari ayahnya. Beliau berkata: 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku pada tahun haji wadak karena sakit yang hampir mengantarku kepada kematian. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, penyakitku sudah sampai seperti yang engkau lihat, sementara aku memiliki harta. Tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang putriku saja. Apakah aku boleh bersedekah dengan dua pertiga hartaku?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Sa’d bertanya, “Apakah aku boleh bersedekah dengan setengahnya?” 

Nabi bersabda, “Sepertiga saja wahai Sa’d. Sepertiga pun sudah banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan keturunanmu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada manusia.” 

قَالَ أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ: (أَنۡ تَذَرَ ذُرِّيَّتَكَ، وَلَسۡتَ بِنَافِقٍ نَفَقَةً تَبۡتَغِي بِهَا وَجۡهَ اللهِ إِلَّا آجَرَكَ اللهُ بِهَا، حَتَّى اللُّقۡمَةَ تَجۡعَلُهَا فِي فِي امۡرَأَتِكَ). قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أُخَلَّفُ بَعۡدَ أَصۡحَابِي؟ قَالَ: (إِنَّكَ لَنۡ تُخَلَّفَ، فَتَعۡمَلَ عَمَلًا تَبۡتَغِي بِهَا وَجۡهَ اللهِ إِلَّا ازۡدَدۡتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفۡعَةً، وَلَعَلَّكَ تُخَلَّفُ حَتَّى يَنۡتَفِعَ بِكَ أَقۡوَامٌ، وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ، اللّٰهُمَّ أَمۡضِ لِأَصۡحَابِي هِجۡرَتَهُمۡ، وَلَا تَرُدَّهُمۡ عَلَى أَعۡقَابِهِمۡ، لَكِنِ الۡبَائِسُ سَعۡدُ ابۡنُ خَوۡلَةَ). يَرۡثِي لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ تُوُفِّيَ بِمَكَّةَ. 

وَقَالَ أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ وَمُوسَى، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ: (أَنۡ تَذَرَ وَرَثَتَكَ). [طرفه في: ٥٦]. 

Ahmad bin Yunus berkata dari Ibrahim, “Engkau meninggalkan keturunanmu. Tidaklah engkau mengeluarkan suatu nafkah yang engkau harapkan dengannya wajah Allah kecuali Allah akan memberimu pahala, sampai-sampai suapan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” 

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku ditinggal para sahabatku?” 

Nabi bersabda, “Sesungguhnya engkau tidaklah ditinggal lalu engkau beramal suatu amalan yang engkau harapkan wajah Allah, kecuali derajat dan keluhuranmu akan bertambah. Bisa jadi engkau akan berumur panjang sampai orang-orang mendapatkan manfaat dengan sebabmu dan yang lain akan dirugikan dengan sebabmu. Ya Allah sempurnakan hijrah bagi para sahabatku dan jangan Engkau kembalikan mereka ke belakang. Tetapi orang yang malang adalah Sa’d bin Khaulah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdukacita untuknya karena dia meninggal di Makkah. 

Ahmad bin Yunus dan Musa berkata, dari Ibrahim, “Engkau meninggalkan ahli warismu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2743 dan 2744

٣ – بَابُ الۡوَصِيَّةِ بِالثُّلُثِ 
3. Bab wasiat dengan sepertiga harta 


وَقَالَ الۡحَسَنُ: لَا يَجُوزُ لِلذِّمِّيِّ وَصِيَّةٌ إِلَّا الثُّلُثُ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنِ احۡكُمۡ بَيۡنَهُمۡ بِمَا أَنۡزَلَ اللهُ﴾ [المائدة: ٤٩]. 

Al-Hasan Al-Bashri berkata: Wasiat untuk orang kafir zimi tidak boleh kecuali sepertiga. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.” (QS. Al-Ma`idah: 49). 

٢٧٤٣ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: لَوۡ غَضَّ النَّاسُ إِلَى الرُّبُعِ، لِأَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، أَوۡ كَبِيرٌ). 

2743. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata: Andai orang-orang mengurangi wasiatnya hingga seperempat karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sepertiga saja dan sepertiga pun sudah banyak atau sudah besar.” 

٢٧٤٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحِيمِ: حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بۡنُ عَدِيٍّ: حَدَّثَنَا مَرۡوَانُ، عَنۡ هَاشِمِ بۡنِ هَاشِمٍ، عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: مَرِضۡتُ، فَعَادَنِي النَّبِيُّ ﷺ، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادۡعُ اللهَ أَنۡ لَا يَرُدَّنِي عَلَى عَقِبِي، قَالَ: (لَعَلَّ اللهَ يَرۡفَعُكَ، وَيَنۡفَعُ بِكَ نَاسًا)، قُلۡتُ: أُرِيدُ أَنۡ أُوصِيَ، وَإِنَّمَا لِي ابۡنَةٌ، قُلۡتُ: أُوصِي بِالنِّصۡفِ؟ قَالَ: (النِّصۡفُ كَثِيرٌ). قُلۡتُ: فَالثُّلُثِ؟ قَالَ: (الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، أَوۡ كَبِيرٌ). قَالَ: فَأَوۡصَى النَّاسُ بِالثُّلُثِ، وَجَازَ ذٰلِكَ لَهُمۡ. [طرفه في: ٥٦]. 

2744. Muhammad bin ‘Abdurrahim telah menceritakan kepada kami: Zakariyya` bin ‘Adi menceritakan kepada kami: Marwan menceritakan kepada kami dari Hasyim bin Hasyim, dari ‘Amir bin Sa’d, dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata: 

Aku sakit lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia tidak mengembalikan aku ke belakang (tidak mematikanku di negeri yang aku telah hijrah darinya).” 

Nabi bersabda, “Semoga Allah menyembuhkan dari penyakitmu dan memberi manfaat kepada orang-orang dengan sebabmu.” 

Aku berkata, “Aku ingin berwasiat dan aku hanya punya seorang putri.” Aku melanjutkan, “Apa aku boleh berwasiat dengan separuh hartaku?” 

Nabi menjawab, “Separuh itu banyak.” 

Aku bertanya, “Bagaimana dengan sepertiga?” Nabi menjawab, “Sepertiga saja. Dan sepertiga itu sudah banyak atau sudah besar.” 

Perawi berkata: Maka orang-orang berwasiat dengan sepertiga dan hal itu boleh bagi mereka.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2742

٢ - بَابُ أَنۡ يَتۡرُكَ وَرَثَتَهُ أَغۡنِيَاءَ خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ يَتَكَفَّفُوا النَّاسَ 
2. Bab meninggalkan ahli waris dalam keadaan kaya lebih baik daripada mereka mengemis kepada orang-orang 


٢٧٤٢ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَ النَّبِيُّ ﷺ يَعُودُنِي وَأَنَا بِمَكَّةَ، وَهُوَ يَكۡرَهُ أَنۡ يَمُوتَ بِالۡأَرۡضِ الَّتِي هَاجَرَ مِنۡهَا، قَالَ: (يَرۡحَمُ اللهُ ابۡنَ عَفۡرَاءَ) قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أُوصِي بِمَالِي كُلِّهِ؟ قَالَ: (لَا) قُلۡتُ: فَالشَّطۡرُ؟ قَالَ: (لَا) قُلۡتُ: الثُّلُثُ؟ قَالَ: (فَالثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، إِنَّكَ أَنۡ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغۡنِيَاءَ خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ تَدَعَهُمۡ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ فِي أَيۡدِيهِمۡ، وَإِنَّكَ مَهۡمَا أَنۡفَقۡتَ مِنۡ نَفَقَةٍ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ، حَتَّى اللُّقۡمَةُ الَّتِي تَرۡفَعُهَا إِلَى فِي امۡرَأَتِكَ، وَعَسَى اللهُ أَنۡ يَرۡفَعَكَ، فَيَنۡتَفِعَ بِكَ نَاسٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ). وَلَمۡ يَكُنۡ لَهُ يَوۡمَئِذٍ إِلَّا ابۡنَةٌ. [طرفه في: ٥٦]. 

2742. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Sa’d bin Ibrahim, dari ‘Amir bin Sa’d, dari Sa’d bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata: 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menjengukku ketika aku di Makkah. Nabi tidak suka untuk meninggal di negeri yang beliau telah hijrah darinya. Nabi bersabda, “Semoga Allah merahmati Ibnu ‘Afra`.” 

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah boleh aku berwasiat dengan seluruh hartaku?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Bagaimana kalau separuh?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Kalau sepertiga?” 

Nabi menjawab, “Sepertiga saja. Dan sepertiga pun sudah banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin mengemis kepada orang-orang. Sesungguhnya nafkah apa saja yang engkau berikan, maka itu adalah sedekah. Sampai-sampai suapan yang engkau suapkan ke mulut istrimu. Dan semoga Allah memanjangkan umurmu sehingga ada orang-orang yang bisa mengambil manfaat dengan sebab keberadaanmu dan yang lain dirugikan dengan sebab keberadaanmu.” 

Pada hari itu Sa’d hanya memiliki seorang putri.

Shahih Muslim hadits nomor 130

٢٠٦ - (١٣٠) - وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الۡأَحۡمَرُ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا كُتِبَتۡ لَهُ حَسَنَةً، وَمَنۡ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتۡ لَهُ عَشۡرًا إِلَى سَبۡعِمِائَةِ ضِعۡفٍ، وَمَنۡ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا، لَمۡ تُكۡتَبۡ، وَإِنۡ عَمِلَهَا، كُتِبَتۡ). 

206. (130). Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Abu Khalid Al-Ahmar menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang bertekad melakukan satu kebaikan namun belum melakukannya, maka dicatat satu kebaikan untuknya. Dan siapa saja yang bertekad melakukan satu kebaikan lalu dia kerjakan, maka dicatat sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat untuknya. Dan siapa saja yang bertekad melakukan kejelekan namun tidak dia kerjakan, maka tidak dicatat. Jika dia melakukannya, maka dicatat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5354

٥٣٥٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ سَعۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعُودُنِي وَأَنَا مَرِيضٌ بِمَكَّةَ، فَقُلۡتُ: لِي مَالٌ، أُوصِي بِمَالِي كُلِّهِ؟ قَالَ: (لَا). قُلۡتُ: فَالشَّطۡرِ؟ قَالَ: (لَا). قُلۡتُ: فَالثُّلُثِ؟ قَالَ: (الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، أَنۡ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغۡنِيَاءَ خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ تَدَعَهُمۡ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ فِي أَيۡدِيهِمۡ، وَمَهۡمَا أَنۡفَقۡتَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، حَتَّى اللُّقۡمَةَ تَرۡفَعُهَا فِي فِي امۡرَأَتِكَ، وَلَعَلَّ اللهَ يَرۡفَعُكَ، يَنۡتَفِعُ بِكَ نَاسٌ، وَيُضَرُّ بِكَ آخَرُونَ). [طرفه في: ٥٦]. 

5354. Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Sa’d bin Ibrahim, dari ‘Amir bin Sa’d, dari Sa’d radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata: 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjengukku ketika aku sakit di Makkah. Aku berkata, “Aku memiliki harta. Apakah aku boleh mewasiatkan seluruh hartaku?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Bagaimana kalau separuh?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Kalau sepertiga?” 

Nabi menjawab, “Sepertiga saja dan sepertiga pun sudah banyak. Engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka menengadahkan tangan mengemis kepada orang-orang. Dan apa saja yang engkau nafkahkan maka itu bernilai sedekah bagimu sampai pun suapan yang engkau suapkan ke mulut istrimu. Dan bisa jadi Allah mengangkat kedudukanmu, orang-orang bisa mendapatkan manfaat dengan sebab keberadaanmu, sementara yang lain dirugikan dengan sebab keberadaanmu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1295

٣٦ – بَابٌ رَثَى النَّبِيُّ ﷺ سَعۡدَ ابۡنَ خَوۡلَةَ 
36. Bab dukacita Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Sa’d bin Khaulah 


١٢٩٥ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنۡ أَبِيهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الۡوَدَاعِ، مِنۡ وَجَعٍ اشۡتَدَّ بِي، فَقُلۡتُ: إِنِّي قَدۡ بَلَغَ بِي مِنَ الۡوَجَعِ، وَأَنَا ذُو مَالٍ، وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابۡنَةٌ، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيِ مَالِي؟ قَالَ: (لَا). فَقُلۡتُ: بِالشَّطۡرِ؟ فَقَالَ: (لَا). ثُمَّ قَالَ: (الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَبِيرٌ، أَوۡ كَثِيرٌ، إِنَّكَ أَنۡ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغۡنِيَاءَ، خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ تَذَرَهُمۡ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ، وَإِنَّكَ لَنۡ تُنۡفِقَ نَفَقَةً تَبۡتَغِي بِهَا وَجۡهَ اللهِ إِلَّا أُجِرۡتَ بِهَا، حَتَّى مَا تَجۡعَلُ فِي فِي امۡرَأَتِكَ). فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أُخَلَّفُ بَعۡدَ أَصۡحَابِي؟ قَالَ: (إِنَّكَ لَنۡ تُخَلَّفَ فَتَعۡمَلَ عَمَلًا صَالِحًا إِلَّا ازۡدَدۡتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفۡعَةً، ثُمَّ لَعَلَّكَ أَنۡ تُخَلَّفَ حَتَّى يَنۡتَفِعَ بِكَ أَقۡوَامٌ، وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ، اللّٰهُمَّ أَمۡضِ لِأَصۡحَابِي هِجۡرَتَهُمۡ وَلَا تَرُدَّهُمۡ عَلَى أَعۡقَابِهِمۡ، لٰكِنِ الۡبَائِسُ سَعۡدُ ابۡنُ خَوۡلَةَ). يَرۡثِي لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ مَاتَ بِمَكَّةَ. [طرفه في: ٥٦]. 

1295. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash, dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata: 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjengukku pada tahun haji wadak karena penyakit parah yang menimpaku. 

Aku berkata, “Sesungguhnya penyakit telah menimpaku dalam keadaan aku memiliki harta. Tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang putri. Apakah aku boleh menyedekahkan dua pertiga hartaku?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” 

Aku bertanya, “Separuh?” 

Nabi menjawab, “Jangan.” Kemudian beliau bersabda, “Sepertiga saja dan sepertiga sudah banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka menengadahkan tangan mengemis kepada orang-orang. Dan sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah yang engkau harapkan dengannya wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala karenanya, sampai pun apa yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” 

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku akan ditinggal oleh sahabat-sahabatku?” 

Nabi bersabda, “Andai engkau ditinggal, namun engkau melakukan amal saleh, niscaya derajat dan kemuliaanmu akan bertambah. Kemudian bisa jadi engkau berumur panjang sehingga banyak orang yang akan mendapatkan manfaat dengan sebab keberadaanmu, sedangkan yang lain akan dirugikan dengan sebab keberadaanmu. Ya Allah, sempurnakan bagi para sahabatku hijrah mereka dan jangan Engkau kembalikan mereka ke belakang. Akan tetapi, orang yang malang adalah Sa’d bin Khaulah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbelasungkawa kepadanya karena dia meninggal di Makkah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5351

١ – بَابُ فَضۡلِ النَّفَقَةِ عَلَى الۡأَهۡلِ 
1. Bab keutamaan nafkah kepada keluarga 


﴿وَيَسۡأَلُونَكَ مَاذَا يُنۡفِقُونَ قُلِ الۡعَفۡوَ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ الۡآيَاتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ ۞ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ﴾ [البقرة: ٢١٩-٢٢٠]. وَقَالَ الۡحَسَنُ: الۡعَفۡوُ: الۡفَضۡلُ. 

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir, tentang dunia dan akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 219-220). Al-Hasan berkata, “الۡعَفۡوُ adalah kelebihan.” 

٥٣٥١ – حَدَّثَنَا آدَمُ بۡنُ أَبِي إِيَاسٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَدِيِّ بۡنِ ثَابِتٍ قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ يَزِيدَ الۡأَنۡصَارِيَّ، عَنۡ أَبِي مَسۡعُودٍ الۡأَنۡصَارِيِّ، فَقُلۡتُ: عَنِ النَّبِيِّ؟ فَقَالَ: عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا أَنۡفَقَ الۡمُسۡلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهۡلِهِ، وَهُوَ يَحۡتَسِبُهَا، كَانَتۡ لَهُ صَدَقَةً). [طرفه في: ٥٥]. 

5351. Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Adi bin Tsabit. Beliau berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Yazid Al-Anshari dari Abu Mas’ud Al-Anshari. Aku bertanya, “Dari Nabi?” Beliau menjawab: Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Apabila seorang muslim menginfakkan nafkah kepada keluarganya dalam keadaan dia mengharap pahala, maka hal itu bernilai sedekah baginya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4006

٤٠٠٦ – حَدَّثَنَا مُسۡلِمٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَدِيٍّ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ يَزِيدَ: سَمِعَ أَبَا مَسۡعُودٍ الۡبَدۡرِيَّ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (نَفَقَةُ الرَّجُلِ عَلَى أَهۡلِهِ صَدَقَةٌ). [طرفه في: ٥٥]. 

4006. Muslim telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Adi, dari ‘Abdullah bin Yazid: Beliau mendengar Abu Mas’ud Al-Badri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Nafkah seorang lelaki kepada keluarganya adalah sedekah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7556

٧٥٥٦ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ: حَدَّثَنَا قُرَّةُ بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو جَمۡرَةَ الضُّبَعِيُّ: قُلۡتُ لِابۡنِ عَبَّاسٍ، فَقَالَ: قَدِمَ وَفۡدُ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالُوا: إِنَّ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ الۡمُشۡرِكِينَ مِنۡ مُضَرَ، وَإِنَّا لَا نَصِلُ إِلَيۡكَ إِلَّا فِي أَشۡهُرٍ حُرُمٍ، فَمُرۡنَا بِجُمَلٍ مِنَ الۡأَمۡرِ إِنۡ عَمِلۡنَا بِهِ دَخَلۡنَا الۡجَنَّةَ، وَنَدۡعُو إِلَيۡهَا مَنۡ وَرَاءَنَا، قَالَ: (آمُرُكُمۡ بِأَرۡبَعٍ وَأَنۡهَاكُمۡ عَنۡ أَرۡبَعٍ: آمُرُكُمۡ بِالۡإِيمَانِ بِاللهِ، وَهَلۡ تَدۡرُونَ مَا الۡإِيمَانُ بِاللهِ؟ شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَإِقَامُ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ، وَتُعۡطُوا مِنَ الۡمَغۡنَمِ الۡخُمُسَ، وَأَنۡهَاكُمۡ عَنۡ أَرۡبَعٍ: لَا تَشۡرَبُوا فِي الدُّبَّاءِ، وَالنَّقِيرِ، وَالظُّرُوفِ الۡمُزَفَّتَةِ، وَالۡحَنۡتَمَةِ). [طرفه في: ٥٣]. 

7556. ‘Amr bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami: Qurrah bin Khalid menceritakan kepada kami: Abu Jamrah Adh-Dhuba’i menceritakan kepada kami: Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas, lalu beliau mengatakan: 

Utusan ‘Abdul Qais datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, “Sesungguhnya antara tempat kami dan engkau ada orang-orang musyrik dari Mudhar. Dan sungguh kami tidak bisa sampai ke tempatmu kecuali di bulan-bulan haram. Jadi perintahkanlah kami sejumlah perintah yang jika kami mengerjakannya, maka kami masuk janah dan kami bisa mengajak orang-orang yang tinggal di kampung halaman kami.” 

Nabi bersabda, “Aku perintahkan kalian dengan empat hal dan aku larang kalian dari empat hal. Aku perintahkan kalian agar beriman kepada Allah. Apakah kalian tahu apa iman kepada Allah? Syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberikan seperlima ganimah. Aku melarang kalian dari empat. Janganlah kalian meminum di dubba` (waluh yang sudah kosong untuk tempat minuman keras), naqir (batang kayu yang dikeruk untuk tempat minuman keras), wadah-wadah yang muzaffatah (dilapisi dengan ter/aspal untuk tempat minuman keras), dan hantamah (guci hijau untuk tempat minuman keras).”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7266

٥ - بَابُ وَصَاةِ النَّبِيِّ ﷺ وُفُودَ الۡعَرَبِ أَنۡ يُبَلِّغُوا مَنۡ وَرَاءَهُمۡ 
5. Bab wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada utusan Arab agar mereka menyampaikan kepada orang-orang yang tinggal di kampung halaman mereka 


قَالَهُ مَالِكُ بۡنُ الۡحُوَيۡرِثِ. 

Malik bin Al-Huwairits mengatakannya. 

٧٢٦٦ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ الۡجَعۡدِ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ. ح. وَحَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا النَّضۡرُ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَبِي جَمۡرَةَ قَالَ: كَانَ ابۡنُ عَبَّاسٍ يُقۡعِدُنِي عَلَى سَرِيرِهِ، فَقَالَ: إِنَّ وَفۡدَ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ لَمَّا أَتَوۡا رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنِ الۡوَفۡدُ؟) قَالُوا رَبِيعَةُ، قَالَ: (مَرۡحَبًا بِالۡوَفۡدِ وَالۡقَوۡمِ، غَيۡرَ خَزَايَا وَلَا نَدَامَى). قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ كُفَّارَ مُضَرَ، فَمُرۡنَا بِأَمۡرٍ نَدۡخُلُ بِهِ الۡجَنَّةَ وَنُخۡبِرُ بِهِ مَنۡ وَرَاءَنَا، فَسَأَلُوا عَنِ الۡأَشۡرِبَةِ، فَنَهَاهُمۡ عَنۡ أَرۡبَعٍ، وَأَمَرَهُمۡ بِأَرۡبَعٍ، أَمَرَهُمۡ بِالۡإِيمَانِ بِاللهِ، قَالَ: (هَلۡ تَدۡرُونَ مَا الۡإِيمَانُ بِاللهِ؟). قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعۡلَمُ، قَالَ: (شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامُ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ - وَأَظُنُّ فِيهِ صِيَامُ رَمَضَانَ - وَتُؤۡتُوا مِنَ الۡمَغَانِمِ الۡخُمُسَ). وَنَهَاهُمۡ عَنِ الدُّبَّاءِ وَالۡحَنۡتَمِ وَالۡمُزَفَّتِ وَالنَّقِيرِ. وَرُبَّمَا قَالَ: (الۡمُقَيَّرِ). قَالَ: (احۡفَظُوهُنَّ وَأَبۡلِغُوهُنَّ مَنۡ وَرَاءَكُمۡ). [طرفه في: ٥٣]. 

7266. ‘Ali bin Al-Ja’d telah menceritakan kepada kami: Syu’bah mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq telah menceritakan kepadaku: An-Nadhr mengabarkan kepada kami: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Abu Jamrah. Beliau berkata: Ibnu ‘Abbas pernah mendudukkanku di atas tempat tidurnya, lalu beliau berkata: 

Sesungguhnya utusan ‘Abdul Qais ketika datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau bertanya, “Siapa utusan itu?” 

Mereka berkata, “Rabi’ah.” 

Nabi bersabda, “Marhaban para utusan, tidak usah sungkan-sungkan dan tidak perlu menyesal.” 

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya antara tempat kami denganmu ada orang-orang kafir Mudhar. Jadi perintahkanlah kami dengan suatu perintah sehingga kami bisa masuk janah karenanya dan kami bisa kabarkan kepada orang-orang yang tinggal di kampung halaman kami.” Lalu mereka bertanya tentang minuman. 

Maka beliau melarang mereka dari empat dan memerintahkan empat hal kepada mereka. Beliau memerintahkan mereka agar beriman kepada Allah. Beliau bertanya, “Apakah kalian tahu apakah iman kepada Allah itu?” 

Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” 

Beliau bersabda, “Syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Menegakkan salat, memberikan zakat—aku mengira dalam riwayat ini juga disebutkan puasa Ramadan—dan memberikan seperlima ganimah.” Beliau melarang dari dubba` (waluh yang sudah kosong untuk tempat minuman keras), hantam (guci hijau untuk tempat minuman keras), muzaffat (tempat yang dilapisi dengan ter/aspal untuk tempat minuman keras), dan naqir (batang kayu yang dikeruk untuk tempat minuman keras). Barangkali beliau mengatakan, “Muqayyar (tempat yang dilapisi dengan ter/aspal untuk tempat minuman keras).” Beliau bersabda, “Hafalkanlah itu dan sampaikanlah kepada orang-orang yang tinggal di kampung halaman kalian.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6176

٩٨ - بَابُ قَوۡلِ الرَّجُلِ مَرۡحَبًا 
98. Bab ucapan seseorang, “Marhaban” 


وَقَالَتۡ عَائِشَةُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِفَاطِمَةَ عَلَيۡهَا السَّلَامُ: (مَرۡحَبًا بِابۡنَتِي). وَقَالَتۡ أُمُّ هَانِئٍ: جِئۡتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (مَرۡحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ). 

‘Aisyah mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Fathimah ‘alaihas salam, “Marhaban putriku.” Ummu Hani` berkata: Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berkata, “Marhaban Ummu Hani`.” 

٦١٧٦ - حَدَّثَنَا عِمۡرَانُ بۡنُ مَيۡسَرَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ: حَدَّثَنَا أَبُو التَّيَّاحِ، عَنۡ أَبِي جَمۡرَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: لَمَّا قَدِمَ وَفۡدُ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَرۡحَبًا بِالۡوَفۡدِ، الَّذِينَ جَاءُوا غَيۡرَ خَزَايَا وَلَا نَدَامَى). فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا حَيٌّ مِنۡ رَبِيعَةَ، وَبَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ مُضَرُ، وَإِنَّا لَا نَصِلُ إِلَيۡكَ إِلَّا فِي الشَّهۡرِ الۡحَرَامِ، فَمُرۡنَا بِأَمۡرٍ فَصۡلٍ نَدۡخُلُ بِهِ الۡجَنَّةَ، وَنَدۡعُو بِهِ مَنۡ وَرَاءَنَا، فَقَالَ: (أَرۡبَعٌ وَأَرۡبَعٌ: أَقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَآتُوا الزَّكَاةَ، وَصُومُوا رَمَضَانَ، وَأَعۡطُوا خُمُسَ مَا غَنِمۡتُمۡ، وَلَا تَشۡرَبُوا فِي الدُّبَّاءِ وَالۡحَنۡتَمِ وَالنَّقِيرِ وَالۡمُزَفَّتِ). [طرفه في: ٥٣]. 

6176. ‘Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami: Abu At-Tayyah menceritakan kepada kami dari Abu Jamrah, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan: 

Ketika utusan ‘Abdul Qais datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Marhaban para utusan, orang-orang yang datang tidak usah sungkan-sungkan dan tidak perlu menyesal.” 

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah penduduk suatu kampung dari Rabi’ah. Antara kami denganmu ada orang-orang kafir Mudhar. Kami tidak bisa sampai ke tempatmu kecuali di bulan haram. Jadi perintahkanlah suatu perintah yang jelas sehingga kami bisa masuk janah dan mengajak orang-orang yang tinggal di kampung halaman kami.” 

Nabi bersabda, “Empat dan empat. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, berpuasalah Ramadan, dan berikanlah seperlima ganimah kalian. Jangan kalian minum di dalam dubba` (waluh yang sudah kosong untuk tempat minuman keras), hantam (guci hijau untuk tempat minuman keras), naqir (batang kayu yang dikeruk untuk tempat minuman keras), dan muzaffat (tempat yang dilapisi dengan ter/aspal untuk tempat minuman keras).”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4368 dan 4369

٧١ - بَابُ وَفۡدِ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ 
71. Bab utusan ‘Abdul Qais 


٤٣٦٨ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا أَبُو عَامِرٍ الۡعَقَدِيُّ: حَدَّثَنَا قُرَّةُ، عَنۡ أَبِي جَمۡرَةَ، قُلۡتُ لِابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: إِنَّ لِي فِيهَا جَرَّةً يُنۡتَبَذُ لِي فِيهَا نَبِيذٌ، فَأَشۡرَبُهُ حُلۡوًا فِي جَرٍّ، إِنۡ أَكۡثَرۡتُ مِنۡهُ فَجَالَسۡتُ الۡقَوۡمَ فَأَطَلۡتُ الۡجُلُوسَ خَشِيتُ أَنۡ أَفۡتَضِحَ، فَقَالَ: قَدِمَ وَفۡدُ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (مَرۡحَبًا بِالۡقَوۡمِ، غَيۡرَ خَزَايَا وَلَا النَّدَامَى). فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ الۡمُشۡرِكِينَ مِنۡ مُضَرَ، وَإِنَّا لَا نَصِلُ إِلَيۡكَ إِلَّا فِي أَشۡهُرِ الۡحُرُمِ، حَدِّثۡنَا بِجُمَلٍ مِنَ الۡأَمۡرِ: إِنۡ عَمِلۡنَا بِهِ دَخَلۡنَا الۡجَنَّةَ، وَنَدۡعُو بِهِ مَنۡ وَرَاءَنَا. قَالَ: (آمُرُكُمۡ بِأَرۡبَعٍ وَأَنۡهَاكُمۡ عَنۡ أَرۡبَعٍ: الۡإِيمَانِ بِاللهِ، هَلۡ تَدۡرُونَ مَا الۡإِيمَانُ بِاللهِ؟ شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَإِقَامُ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ، وَصَوۡمُ رَمَضَانَ، وَأَنۡ تُعۡطُوا مِنَ الۡمَغَانِمِ الۡخُمُسَ؛ وَأَنۡهَاكُمۡ عَنۡ أَرۡبَعٍ: مَا انۡتُبِذَ فِي الدُّبَّاءِ وَالنَّقِيرِ وَالۡحَنۡتَمِ وَالۡمُزَفَّتِ). [طرفه في: ٥٣]. 

4368. Ishaq telah menceritakan kepadaku: Abu ‘Amir Al-‘Aqadi mengabarkan kepada kami: Qurrah menceritakan kepada kami dari Abu Jamrah. Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Sesungguhnya aku memiliki buyung (guci tembikar) untuk membuat nabidz (minuman keras dari air rendaman kurma), lalu aku meminumnya dalam keadaan manis di dalam guci-guci. Jika aku banyak minum darinya lalu aku duduk bersama orang-orang dan memperlama duduk, aku khawatir keburukanku tersingkap. Lalu Ibnu ‘Abbas berkata: 

Utusan ‘Abdul Qais datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda, “Marhaban, tidak usah sungkan-sungkan dan tidak perlu menyesal.” 

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya antara kami dengan engkau ada orang-orang musyrik dari Mudhar. Kami tidak bisa sampai ke tempatmu kecuali di bulan-bulan haram. Ceritakan kepada kami sejumlah perintah yang jika kami mengerakannya, maka kami bisa masuk janah dan kami dakwahkan kepada orang-orang di kampung halaman kami.” 

Nabi bersabda, “Aku memerintahkan empat hal kepada kalian dan aku melarang kalian dari empat hal. Iman kepada Allah. Apakah kalian tahu apakah iman kepada Allah? Yaitu syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan memberikan seperlima dari ganimah. Aku melarang kalian dari empat hal: Apa saja yang direndam di dalam dubba` (waluh yang sudah kosong untuk tempat minuman keras), naqir (batang kayu yang dikeruk untuk tempat minuman keras), hantam (guci hijau untuk tempat minuman keras), dan muzaffat (tempat yang dilapisi dengan ter/aspal untuk tempat minuman keras).” 

٤٣٦٩ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ أَبِي جَمۡرَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ: قَدِمَ وَفۡدُ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا هَٰذَا الۡحَيَّ مِنۡ رَبِيعَةَ، وَقَدۡ حَالَتۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ كُفَّارُ مُضَرَ، فَلَسۡنَا نَخۡلُصُ إِلَيۡكَ إِلَّا فِي شَهۡرٍ حَرَامٍ، فَمُرۡنَا بِأَشۡيَاءَ نَأۡخُذُ بِهَا، وَنَدۡعُو إِلَيۡهَا مَنۡ وَرَاءَنَا، قَالَ: (آمُرُكُمۡ بِأَرۡبَعٍ، وَأَنۡهَاكُمۡ عَنۡ أَرۡبَعٍ، الۡإِيمَانِ بِاللهِ: شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ - وَعَقَدَ وَاحِدَةً - وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَأَنۡ تُؤَدُّوا لِلهِ خُمۡسَ مَا غَنِمۡتُمۡ. وَأَنۡهَاكُمۡ عَنِ الدُّبَّاءِ وَالنَّقِيرِ وَالۡحَنۡتَمِ وَالۡمُزَفَّتِ). [طرفه في: ٥٣]. 

4369. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Abu Jamrah. Beliau berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: 

Utusan ‘Abdul Qais datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kampung kami ini dari Rabi’ah dan orang-orang kafir Mudhar menghalangi antara kami dengan engkau sehingga kami tidak bisa bebas pergi ke tempatmu kecuali di bulan haram. Jadi perintahkanlah beberapa hal kepada kami sehingga kami bisa mengambilnya dan mendakwahkannya kepada orang-orang yang berada di kampung halaman kami.” 

Nabi bersabda, “Aku memerintahkan kalian empat hal dan melarang kalian dari empat hal. Iman kepada Allah, yaitu syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah—beliau mengisyaratkan angka satu—, menegakkan salat, memberikan zakat, dan menunaikan seperlima ganimah untuk Allah. Aku melarang kalian dari dubba` (waluh yang sudah kosong untuk tempat minuman keras), naqir (batang kayu yang dikeruk untuk tempat minuman keras), hantam (guci hijau untuk tempat minuman keras), dan muzaffat (tempat yang dilapisi dengan ter/aspal untuk tempat minuman keras).”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3510

٣٥١٠ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنۡ أَبِي جَمۡرَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: قَدِمَ وَفۡدُ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا مِنۡ هَٰذَا الۡحَيِّ مِنۡ رَبِيعَةَ، قَدۡ حَالَتۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ كُفَّارُ مُضَرَ، فَلَسۡنَا نَخۡلُصُ إِلَيۡكَ إِلَّا فِي كُلِّ شَهۡرٍ حَرَامٍ، فَلَوۡ أَمَرۡتَنَا بِأَمۡرٍ نَأۡخُذُهُ عَنۡكَ وَنُبَلِّغُهُ مَنۡ وَرَاءَنَا، قَالَ: (آمُرُكُمۡ بِأَرۡبَعٍ، وَأَنۡهَاكُمۡ عَنۡ أَرۡبَعٍ: الۡإِيمَانِ بِاللهِ شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَأَنۡ تُؤَدُّوا إِلَى اللهِ خُمُسَ مَا غَنِمۡتُمۡ، وَأَنۡهَاكُمۡ عَنِ الدُّبَّاءِ، وَالۡحَنۡتَمِ وَالنَّقِيرِ، وَالۡمُزَفَّتِ). [طرفه في: ٥٣]. 

3510. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dari Abu Jamrah. Beliau berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: 

Utusan ‘Abdul Qais datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berasal dari kampung ini dari Rabi’ah. Antara kami denganmu terhalang oleh orang-orang kafir Mudhar, sehingga kami tidak bisa bebas ke tempatmu kecuali pada setiap bulan haram. Andai engkau memerintahkan kepada kami dengan suatu perintah yang kami ambil darimu dan kami sampaikan kepada orang-orang di kampung halaman kami.” 

Nabi bersabda, “Aku memerintahkan kalian dengan empat hal dan aku larang kalian dari empat hal. Iman kepada Allah, yaitu syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, menegakkan salat, memberikan zakat, dan menunaikan seperlima ganimah kalian kepada Allah. Dan aku larang kalian dari dubba` (waluh yang sudah kosong untuk tempat minuman keras), hantam (guci hijau untuk tempat minuman keras), naqir (batang kayu yang dikeruk untuk tempat minuman keras), dan muzaffat (tempat yang dilapisi dengan ter/aspal untuk tempat minuman keras).”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3095

٢ - بَابٌ أَدَاءُ الۡخُمُسِ مِنَ الدِّينِ 
2. Bab menunaikan seperlima ganimah termasuk agama 


٣٠٩٥ - حَدَّثَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنۡ أَبِي جَمۡرَةَ الضُّبَعِيِّ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: قَدِمَ وَفۡدُ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا هَٰذَا الۡحَيَّ مِنۡ رَبِيعَةَ، بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ كُفَّارُ مُضَرَ، فَلَسۡنَا نَصِلُ إِلَيۡكَ إِلَّا فِي الشَّهۡرِ الۡحَرَامِ، فَمُرۡنَا بِأَمۡرٍ نَأۡخُذُ بِهِ وَنَدۡعُو إِلَيۡهِ مَنۡ وَرَاءَنَا، قَالَ: (آمُرُكُمۡ بِأَرۡبَعٍ، وَأَنۡهَاكُمۡ عَنۡ أَرۡبَعٍ: الۡإِيمَانِ بِاللهِ شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ - وَعَقَدَ بِيَدِهِ - وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَأَنۡ تُؤَدُّوا لِلهِ خُمُسَ مَا غَنِمۡتُمۡ. وَأَنۡهَاكُمۡ عَنِ الدُّبَّاءِ، وَالنَّقِيرِ، وَالۡحَنۡتَمِ، وَالۡمُزَفَّتِ). [طرفه في: ٥٣]. 

3095. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dari Abu Jamrah Adh-Dhuba’i. Beliau berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: 

Utusan ‘Abdul Qais datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kampung ini dari Rabi’ah. Antara kami dengan engkau ada orang-orang kafir Mudhar sehingga kami tidak bisa sampai ke tempatmu kecuali di bulan haram. Jadi perintahkan kepada kami suatu perintah yang bisa kami pegangi dan kami dakwahkan kepada orang-orang yang tinggal di kampung halaman kami.” 

Nabi bersabda, “Aku perintahkan kalian dengan empat hal dan aku larang dari empat hal. Iman kepada Allah, yaitu syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah—beliau mengisyaratkan dengan tangannya (angka satu)—, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan menunaikan seperlima ganimah kalian untuk Allah. Dan aku melarang dari dubba` (waluh yang sudah kosong untuk tempat minuman keras), naqir (batang kayu yang dikeruk untuk tempat minuman keras), hantam (guci hijau untuk tempat minuman keras), muzaffat (tempat yang dilapisi dengan ter/aspal untuk tempat minuman keras).”