Shahih Al-Bukhari hadits nomor 347

٨ – بَابٌ التَّيَمُّمُ ضَرۡبَةٌ

8. Bab tayammum itu satu tepukan

٣٤٧ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سَلَامٍ قَالَ: أَخۡبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ شَقِيقٍ قَالَ: كُنۡتُ جَالِسًا مَعَ عَبۡدِ اللهِ وَأَبِي مُوسَى الۡأَشۡعَرِيِّ، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: لَوۡ أَنَّ رَجُلًا أَجۡنَبَ، فَلَمۡ يَجِدِ الۡمَاءَ شَهۡرًا، أَمَا كَانَ يَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّي؟ فَكَيۡفَ تَصۡنَعُونَ بِهَٰذِهِ الۡآيَةِ فِي سُورَةِ الۡمَائِدَةِ: ﴿فَلَمۡ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا﴾ [المائدة: ٦]؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: لَوۡ رُخِّصَ لَهُمۡ فِي هَٰذَا، لَأَوۡشَكُوا إِذَا بَرُدَ عَلَيۡهِمۡ الۡمَاءُ أَنۡ يَتَيَمَّمُوا الصَّعِيدَ. قُلۡتُ: وَإِنَّمَا كَرِهۡتُمۡ هَٰذَا لِذَا؟ قَالَ: نَعَمۡ. فَقَالَ أَبُو مُوسَى: أَلَمۡ تَسۡمَعۡ قَوۡلَ عَمَّارٍ لِعُمَرَ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَاجَةٍ، فَأَجۡنَبۡتُ فَلَمۡ أَجِدِ الۡمَاءَ، فَتَمَرَّغۡتُ فِي الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَةُ، فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (إِنَّمَا كَانَ يَكۡفِيكَ أَنۡ تَصۡنَعَ هَٰكَذَا) فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرۡبَةً عَلَى الۡأَرۡضِ، ثُمَّ نَفَضَهَا، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا ظَهۡرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ، أَوۡ ظَهۡرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجۡهَهُ؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: أَفَلَمۡ تَرَ عُمَرَ لَمۡ يَقۡنَعۡ بِقَوۡلِ عَمَّارٍ؟ وَزَادَ يَعۡلَى: عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ شَقِيقٍ: كُنۡتُ مَعَ عَبۡدِ اللهِ وَأَبِي مُوسَى، فَقَالَ أَبُو مُوسَى: أَلَمۡ تَسۡمَعۡ قَوۡلَ عَمَّارٍ لِعُمَرَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ بَعَثَنِي أَنَا وَأَنۡتَ، فَأَجۡنَبۡتُ، فَتَمَعَّكۡتُ بِالصَّعِيدِ، فَأَتَيۡنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَأَخۡبَرۡنَاهُ، فَقَالَ: (إِنَّمَا كَانَ يَكۡفِيكَ هَٰكَذَا) وَمَسَحَ وَجۡهَهُ وَكَفَّيۡهِ وَاحِدَةً؟
[طرفه في: ٣٣٨].
347. Muhammad bin Salam telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Mu'awiyah mengabarkan kepada kami, dari Al-A'masy, dari Syaqiq, beliau berkata: Aku pernah duduk bersama 'Abdullah dan Abu Musa Al-Asy'ari. Abu Musa berkata kepada 'Abdullah: Kalau seseorang junub dan tidak mendapatkan air selama satu bulan, apakah ia tidak tayammum dan shalat? Lalu bagaimana yang kalian perbuat terhadap ayat di surah Al-Maidah ini, yang artinya, “Lalu kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang baik.” (QS. Al-Maidah: 6)? 'Abdullah berkata: Sekiranya mereka diberi keringanan dalam keadaan tersebut, niscaya nanti apabila air terasa dingin bagi mereka, mereka akan bersegera untuk tayammum dengan tanah. Aku berkata (kepada Syaqiq): Kalian tidak menyukai melakukan tayammum hanya karena alasan itu? Beliau berkata: Iya. Abu Musa berkata: Apakah engkau belum mendengar perkataan 'Ammar kepada 'Umar: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu aku junub dan tidak mendapati air. Maka aku pun berguling-guling di tanah sebagaimana bergulingnya binatang. Lalu aku menceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata, “Kamu sebenarnya cukup hanya melakukan begini.” Beliau menepuk dengan telapak tangan satu tepukan ke tanah, lalu mengibaskannya, kemudian mengusap dengan punggung telapak tangannya dengan tangan kiri, atau punggung tangan kiri dengan telapak tangannya. Kemudian beliau mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. 'Abdullah berkata: Tidakkah engkau melihat bahwa 'Umar tidak merasa puas dengan perkataan 'Ammar? Ya'la menambahkan: Dari Al-A'masy, dari Syaqiq: Aku pernah bersama 'Abdullah dan Abu Musa. Abu Musa berkata: Apakah engkau belum mendengar ucapan 'Ammar kepada 'Umar: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus aku dan engkau. Lalu aku mengalami junub, kemudian berguling-guling di tanah. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi kami, kemudian kami beritahu hal tersebut. Beliau bersabda, “Sebenarnya kamu cukup hanya melakukan demikian.” Beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya satu kali.

Taisirul 'Allam - Hadits ke-36

الۡحَدِيثُ السَّادِسُ وَالثَّلَاثُونَ

٣٦ – عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ رَأَى رَجُلًا مُعۡتَزِلًا لَمۡ يُصَلِّ فِي الۡقَوۡمِ فَقَالَ: (يَا فُلَانُ مَا مَنَعَكَ أَنۡ تُصَلِّيَ فِي الۡقَوۡمِ؟) فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَصَابَتۡنِي جَنَابَةٌ وَلَا مَاءَ فَقَالَ ﷺ: (عَلَيۡكَ بِالصَّعِيدِ فَإِنَّهُ يَكۡفِيكَ)[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ[2].
36. Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki menyendiri tidak shalat bersama orang-orang, lantas beliau bertanya, “Wahai Fulan, apa yang menghalangimu untuk shalat bersama orang-orang?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, saya sedang junub sedangkan air tidak ada.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atasmu untuk bersuci menggunakan tanah, karena tanah itu cukup untukmu bersuci.” (HR. Al-Bukhari).
غَرِيبُ الۡحَدِيثِ:
مُعۡتَزِلًا: مُنۡفَرِدًا عَنِ الۡقَوۡمِ، مُتَنَحِّيًا عَنۡهُمۡ،وَهُوَ خَلَّادُ بۡنُ رَافِعٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَكَانَ مِمَّنۡ شَهِدَ بَدۡرًا.
الصَّعِيدُ: وَجۡهُ الۡاَرۡضِ وَمَا عَلَا مِنۡهَا.
Kosa-kata asing di dalam hadits:
  1. مُعۡتَزِلًا: menyendiri dari orang-orang, menjauhi mereka. Beliau adalah Khallad bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. Beliau termasuk orang yang mengikuti perang Badr.
  2. الصَّعِيد: permukaan tanah dan permukaan yang lebih tinggi dari tanah.
الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِيُّ:
صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ بِالصَّحَابَةِ صَلَاةَ الصُّبۡحِ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنۡ صَلَاتِهِ رَأَى رَجُلًا لَمۡ يُصَلِّ مَعَهُمۡ.
فَكَانَ مِنۡ كَمَالِ لُطۡفِ النَّبِيِّ ﷺ، وَحُسۡنِ دَعۡوَتِهِ إِلَى اللهِ، أَنَّهُ لَمۡ يُعَنِّفۡهُ عَلَى تَخَلُّفِهِ عَنِ الۡجَمَاعَةِ، حَتَّى يَعۡلَمَ السَّبَبَ فِي ذٰلِكَ.
فَقَالَ: يَا فُلَانُ، مَا مَنَعَكَ أَنۡ تُصَلِّيَ مَعَ الۡقَوۡمِ؟
فَشَرَحَ عُذۡرَهُ –فِي ظَنِّهِ- لِلنَّبِيِّ ﷺ بِأَنَّهُ قَدۡ أَصَابَتۡهُ جَنَابَةٌ وَلَا مَاءَ عِنۡدَهُ، فَأَخَّرَ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِدَ الۡمَاءَ وَيَتَطَهَّرَ.
فَقَالَ ﷺ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدۡ جَعَلَ لَكَ –مِنۡ لُطۡفِهِ- مَا يَقُومُ مَقَامَ الۡمَاءِ فِي التَّطَهُّرِ، وَهُوَ الصَّعِيدُ، فَعَلَيۡكَ بِهِ، فَإِنَّهُ يَكۡفِيكَ عَنِ الۡمَاءِ.
Makna secara umum:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Subuh bersama para shahabat. Selesai shalat beliau melihat seseorang tidak ikut shalat bersama mereka. Termasuk kelembutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan indahnya dakwah beliau yaitu beliau tidak serta merta mengkritik shahabat itu atas perbuatan meninggalkan shalat jama’ah, sampai beliau tahu sebabnya. Maka beliau pun bertanya, “Wahai Fulan, apa yang menghalangimu shalat bersama orang-orang?” Maka, shahabat tersebut menjelaskan udzur –menurut persangkaannya- kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia sedang mengalami junub dalam keadaan tidak ada air. Lalu ia pun menunda shalat sampai ia mendapatkan air lalu bersuci. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa sungguh Allah ta’ala dengan kasih sayangNya telah menjadikan sesuatu yang dapat menggantikan air, yaitu tanah. Maka wajib atasmu untuk bersuci menggunakannya, karena itu mencukupimu dari air.
مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:
١ – التَّيَمُّمُ يَنُوبُ مَنَابَ الۡغُسۡلِ فِي التَّطَهُّرِ مِنَ الۡجَنَابَةِ.
٢ – أَنَّ التَّيَمُّمَ لَا يَكُونُ إِلَّا لِعَدَمِ الۡمَاءِ أَوۡ الۡمُتَضَرِّرُ بِاسۡتِعۡمَالِهِ وَقَدۡ بَسَطَ الرَّجُلُ عُذۡرَهُ وَهُوَ عَدَمُ الۡمَاءِ، فَأَقَرَّهُ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى ذٰلِكَ.
٣ – لَا يَنۡبَغِي لِمَنۡ رَأَى مُقَصِّرًا فِي عَمَلٍ، أَنۡ يُبَادِرَهُ بِالتَّعۡنِيفِ أَوِ اللَّوۡمِ، حَتَّى يَسۡتَوۡضِحَ عَنِ السَّبَبِ فِي ذٰلِكَ، فَلَعَلَّ لَهُ عُذۡرًا، وَأَنۡتَ تَلُومُ.
٤ – جَوَازُ الۡاجۡتِهَادِ فِي مَسَائِلِ الۡعِلۡمِ بِحَضۡرَةِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَدۡ ظَنَّ الصَّحَابِيُّ أَنۡ مَنۡ أَصَابَتۡهُ الۡجَنَابَةُ لَا يُصَلِّي حَتَّى يَجِدَ الۡمَاءَ، وَانۡصَرَفَ ذِهۡنُهُ إِلَى أَنَّ آيَةَ التَّيَمُّمِ خَاصَّةٌ بِالۡحَدَثِ الۡأَصۡغَرِ.
Faidah hadits:
  1. Tayammum bisa menggantikan mandi dalam bersuci dari junub.
  2. Tayammum hanya boleh dilakukan apabila tidak ada air atau ketika menggunakan air akan bermudharat. Shahabat tersebut telah menjelaskan udzurnya, yaitu tidak air, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan tayammum berdasar udzur tersebut.
  3. Tidak sepantasnya bagi orang yang melihat orang lain meninggalkan suatu amalan, untuk tergesa-gesa mengkritiknya atau mencelanya, sampai ia terlebih dulu meminta penjelasan penyebab ia melakukan hal itu. Barangkali ia memiliki udzur, namun engkau malah mencelanya.
  4. Boleh berijtihad di dalam perkara ilmu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup dan hadir. Shahabat tersebut mengira bahwa siapa yang mengalami junub, maka ia tidak shalat sampai ia mendapatkan air. Ia berpendapat bahwa ayat tayammum itu khusus untuk hadats kecil saja. 

[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٣٤٨) فِي التَّيَمُّمِ: بَابٌ (٩)، وَرَوَاهُ أَحۡمَدُ فِي (الۡمُسۡنَدِ) (٤/٤٣٤). 
[2] قَالَ الصَّنۡعَانِيُّ: لَمۡ أَرَهُ فِي مُسۡلِمٍ، وَلَا نَبَّهَ عَلَيۡهِ الزَّرۡكَشِيُّ، وَلَا ابۡنُ حَجَرٍ. اهـ.

Taisirul 'Allam - Bab Tayammum

بَابُ التَّيَمُّمِ

التَّيَمُّمُ فِي اللُّغَةِ: الۡقَصۡدُ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَا آمِّينَ الۡبَيۡتَ الۡحَرَامَ﴾ [المائدة: ٢].
ثُمَّ نَقَلَ –فِي عُرۡفِ الۡفُقَهَاءِ- إِلَى مَسۡحِ الۡوَجۡهِ وَالۡيَدَيۡنِ، بِشَيۡءٍ مِنَ الصَّعِيدِ، لِأَنَّ الۡمَاسِحَ قَصَدَ إِلَى الصَّعِيدِ. وَقَدۡ عَرَّفَهُ الۡعُلَمَاءُ بِقَوۡلِهِ: طَهَارَةٌ تُرَابِيَّةٌ تَشۡتَمِلُ عَلَى مَسۡحِ الۡوَجۡهِ وَالۡيَدَيۡنِ عِنۡدَ عَدَمِ الۡمَاءِ أَوۡ عَدَمِ الۡقُدۡرَةِ عَلَى اسۡتِعۡمَالِهِ.
Tayammum secara bahasa artinya adalah tujuan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah.” (QS. Al-Maidah: 2).
Kemudian pengertian ini menurut istilah ahli fikih berubah menjadi mengusap wajah dan kedua tangan menggunakan sedikit tanah. Disebut tayammum karena orang yang mengusap (قَصَدَ إِلَى الصَّعِيدِ) akan menuju tanah. Dan para ulama memberi definisi untuk tayammum dengan: bersuci menggunakan tanah yang meliputi mengusap wajah dan kedua tangan ketika tidak ada air atau tidak bisa untuk menggunakan air. 
وَهُوَ مِنۡ خَصَائِصِ هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ الۡمُحَمَّدِيَّةِ الَّتِي يَسَّرَ اللهُ أُمُورَهَا، وَسَهَّلَ عَلَيۡهَا شَرِيعَتَهَا، وَجَعَلَ لَهَا مِنَ الۡحَرَجِ فَرَجًا، وَمِنَ الضَّيِّقِ مَخۡرَجًا، وَطَهَّرَ بَاطِنَهَا وَظَاهِرَهَا، بِبَرَكَةِ هَٰذَا النَّبِيِّ الۡكَرِيمِ ﷺ.
فَإِنَّ مِنۡ عَدَمِ الۡمَاءِ –الَّذِي هُوَ أَحَدُ أَصۡلَيۡ الۡحَيَاةِ- تُعَوَّضُ عَنۡهُ بِالۡأَصۡلِ الثَّانِي الَّذِي هُوَ التُّرَابُ، لِئَلَّا يَفۡقُدَ الطَّهَارَةُ إِطۡلَاقًا، فَإِنَّ طَهَارَةَ الۡمَاءِ تُطۡهِرُ الظَّاهِرَةَ وَالۡبَاطِنَ.
فَإِذَا عَدَمَتۡ هَٰذِهِ الۡأَدَاةُ الۡكَامِلَةُ، رَجَعۡنَا إِلَى صُورَةِ الطَّهَارَةِ بِأَدَاةِ التُّرَابِ، لِتَحۡصِيلِ الطَّهَارَةِ الۡبَاطِنَةِ.
Tayammum ini termasuk kekhususan umat Nabi Muhammad ini yang Allah telah mudahkan urusannya, Allah telah permudah syariatNya, dan Allah telah menjadikan untuk umat ini dari kesulitan ada kelapangan dan dari kesempitan ada jalan keluar. Serta Allah telah sucikan batin dan lahir umat ini dengan berkah Nabi yang mulia ini shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sesungguhnya disebabkan tidak adanya air –yang air itu merupakan salah satu dari dua asal-usul kehidupan- dapat digantikan dengan asal kehidupan yang kedua yaitu tanah. Agar jangan sampai tidak bersuci sama sekali. Karena sesungguhnya bersuci dengan air itu membersihkan lahir dan batin. Sehingga, apabila tidak ada alat bersuci yang sempurna ini, kita kembali ke bentuk bersuci menggunakan media tanah supaya dapat terwujud kesucian batin.
فَلَا شَكَّ فِي حِكۡمَتِهِ، وَلَا رَيۡبَ فِي فَائِدَتِهِ، لِمَنۡ رُزِقَ السَّعَادَةُ فِي الۡفَهۡمِ.
وَهُوَ ثَابِتٌ فِي الۡكِتَابِ الۡعَزِيزِ، وَالسُّنَّةِ الۡمُطَهَّرَةِ، وَإِجۡمَاعِ الۡأُمَّةِ الۡمُحَمَّدِيَّةِ الۡمَهۡدِيَّةِ وَيَقۡتَضِيهِ الۡقِيَاسُ الصَّحِيحُ.
Sehingga, tidak ada keraguan terhadap hikmah tayammum dan tidak ada kebimbangan terhadap faidahnya bagi siapa yang diberi rezeki berupa kelapangan dalam memahami.
Dan syariat tayammum ini telah tetap di dalam Al-Qur`an yang mulia, Sunnah yang suci, ijma’ umat Nabi Muhammad yang diberi petunjuk, dan konsekuensi dari kias yang benar.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 85

٦٩ – بِأَيِّ الۡيَدَيۡنِ يَتَمَضۡمَضُ؟

69. Tangan mana yang digunakan untuk berkumur-kumur

٨٥ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡمُغِيرَةِ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ - هُوَ ابۡنُ سَعِيدِ بۡنِ كَثِيرِ بۡنِ دِينَارٍ الۡحِمۡصِيُّ -، عَنۡ شُعَيۡبٍ - هُوَ ابۡنُ أَبِي حَمۡزَةَ -، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، أَخۡبَرَنِي عَطَاءُ بۡنُ يَزِيدَ، عَنۡ حُمۡرَانَ، أَنَّهُ رَأَى عُثۡمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ، فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدَيۡهِ مِنۡ إِنَائِهِ، فَغَسَلَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَمِينَهُ فِي الۡوَضُوءِ، فَتَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، وَيَدَيۡهِ إِلَى الۡمِرۡفقَيۡنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأۡسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجۡلٍ مِنۡ رِجۡلَيۡهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ تَوَضَّأَ وُضُوئِي هَٰذَا، ثُمَّ قَالَ: (مَنۡ تَوَضَّأَ مِثۡلَ وُضُوئِي هَٰذَا، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكۡعَتَيۡنِ - لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفۡسَهُ بِشَيۡءٍ -؛ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ). [ق].
85. Ahmad bin Muhammad ibnul Mughirah telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: 'Utsman bin Sa'id bin Katsir bin Dinar Al-Himshi menceritakan kepada kami, dari Syu'aib bin Abu Hamzah, dari Az-Zuhri, 'Atha` bin Yazid mengabarkan kepadaku, dari Humran, bahwa beliau melihat 'Utsman meminta didatangkan air untuk wudhu`. Lalu beliau menuangkan air ke kedua telapak tangannya dari bejana dan beliau mencuci tiga kali. Kemudian beliau mencelupkan tangan kanannya ke air, lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Kemudian beliau mencuci wajahnya tiga kali dan tangannya sampai siku tiga kali. Kemudian beliau mengusap kepala. Kemudian beliau mencuci setiap dari dua kaki sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berkata: Aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu` dengan wudhu`ku ini, lalu beliau bersabda, “Siapa yang berwudhu` semisal wudhu`ku ini, lalu ia shalat dua raka'at -dimana tidak terbetik sedikit pun perkara dunia padanya-, maka Allah akan ampuni dosanya yang lalu.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 84

٦٨ – الۡمَضۡمَضَةُ وَالۡاسۡتِنۡشَاقُ

68. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung

٨٤ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا سُوَيۡدُ بۡنُ نَصۡرٍ، قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَبۡدُ اللهِ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَزِيدَ اللَّيۡثِيِّ، عَنۡ حُمۡرَانَ بۡنِ أَبَانَ، قَالَ: رَأَيۡتُ عُثۡمَانَ بۡنَ عَفَّانَ -رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ- تَوَضَّأَ، فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدَيۡهِ ثَلَاثًا، فَغَسَلَهُمَا، ثُمَّ تَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيۡهِ؛ الۡيُمۡنَى إِلَى الۡمِرۡفَقِ ثَلَاثًا، ثُمَّ الۡيُسۡرَى مِثۡلَ ذٰلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأۡسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ قَدَمَهُ الۡيُمۡنَى ثَلَاثًا، ثُمَّ الۡيُسۡرَى مِثۡلَ ذٰلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ تَوَضَّأَ نَحۡوَ وُضُوئِي، ثُمَّ قَالَ: (مَنۡ تَوَضَّأَ نَحۡوَ وُضُوئِي هٰذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكۡعَتَيۡنِ - لَا يُحَدِّثُ نَفۡسَهُ فِيهِمَا بِشَيۡءٍ -؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ). [(صحيح أبي داود)(٩٤)، ق].
84. Suwaid bin Nashr telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: 'Abdullah memberitakan kepada kami, dari Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari 'Atha` bin Yazid Al-Laitsi, dari Humran bin Aban, beliau berkata: Aku melihat 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu berwudhu`. Beliau menuangkan air ke atas kedua telapak tangannya tiga kali dan mencucinya. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Kemudian beliau mencuci wajahnya tiga kali. Kemudian beliau mencuci kedua tangannya. Tangan kanan sampai siku tiga kali kemudian tangan kiri semisal itu pula. Kemudian beliau mengusap kepala. Kemudian beliau mencuci telapak kaki kanan tiga kali, kemudian kaki kiri semisal itu pula. Kemudian beliau berkata: Aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu` seperti wudhu`ku kemudian bersabda, “Siapa yang berwudhu` seperti wudhu`ku ini, kemudian dia shalat dua raka'at dimana ketika shalat tidak terbetik sesuatu pun di dalam benak selain perkara shalatnya, maka dosanya yang lalu akan diampuni.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 106

٥٠ – بَابُ صِفَةِ وُضُوءِ النَّبِيِّ ﷺ

50. Bab tata cara wudhu` Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

١٠٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡحُلۡوَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَزِيدَ اللَّيۡثِيِّ، عَنۡ حُمۡرَانَ بۡنِ أَبَانَ مَوۡلَى عُثۡمَانَ بۡنِ عَفَّانَ، قَالَ: رَأَيۡتُ عُثۡمَانَ بۡنَ عَفَّانَ تَوَضَّأَ: فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدَيۡهِ ثَلَاثًا فَغَسَلَهُمَا، ثُمَّ تَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡثَرَ، وَغَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا، وَغَسَلَ يَدَهُ الۡيُمۡنَى إِلَى الۡمِرۡفَقِ ثَلَاثًا، ثُمَّ الۡيُسۡرَى مِثۡلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأۡسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ قَدَمَهُ الۡيُمۡنَى ثَلَاثًا، ثُمَّ الۡيُسۡرَى مِثۡلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ تَوَضَّأَ مِثۡلَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ قَالَ: (مَنۡ تَوَضَّأَ مِثۡلَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكۡعَتَيۡنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفۡسَهُ، غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ). [ق].
106. Al-Hasan bin 'Ali Al-Hulwani telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: 'Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ma'mar mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari 'Atha` bin Yazid Al-Laitsi, dari Humran bin Aban maula 'Utsman bin 'Affan, beliau berkata: Aku melihat 'Utsman bin 'Affan berwudhu`. Beliau menuangkan air ke atas kedua telapak tangannya tiga kali dan mencucinya. Kemudian beliau berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya, dan mencuci wajahnya tiga kali. Beliau mencuci tangan kanannya sampai siku tiga kali, kemudian tangan kiri semisal itu pula. Kemudian beliau mengusap kepala. Kemudian beliau mencuci telapak kaki kanan tiga kali, kemudian kaki kiri semisal itu pula. Kemudian berkata: Aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu` semisal wudhu`ku ini, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang berwudhu` seperti wudhu`ku ini, lalu shalat dua raka'at yang tidak terbetik dalam benaknya kecuali perkara shalatnya, maka Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.”

Shahih Muslim hadits nomor 226

٣ – بَابُ صِفَةِ الۡوُضُوءِ وَكَمَالِهِ

3. Bab tata cara wudhu` dan kesempurnaannya

٣ – (٢٢٦) – حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحۡمَدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ سَرۡحٍ، وَحَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَى التُّجِيبِيُّ، قَالَا: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ يُونُسَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: أَنَّ عَطَاءَ بۡنَ يَزِيدَ اللَّيۡثِيَّ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ حُمۡرَانَ مَوۡلَى عُثۡمَانَ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ عُثۡمَانَ بۡنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ، فَغَسَلَ كَفَّيۡهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضۡمَضَ وَاسۡتَثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الۡيُمۡنَى إِلَى الۡمِرۡفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الۡيُسۡرَى مِثۡلَ ذٰلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأۡسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَهُ الۡيُمۡنَى إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ الۡيُسۡرَى مِثۡلَ ذٰلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ تَوَضَّأَ نَحۡوَ وُضُوئِي هٰذَا، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ تَوَضَّأَ نَحۡوَ وُضُوئِي هَٰذَا، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكۡعَتَيۡنِ، لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفۡسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ).
قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ: هَٰذَا الۡوُضُوءُ أَسۡبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلَاةِ.
[البخاري: كتاب الوضوء، باب الوضوء ثلاثًا ثلاثًا، رقم: ١٥٩].
3. (226). Abuth Thahir Ahmad bin 'Amr bin 'Abdullah bin 'Amr bin Sarh dan Harmalah bin Yahya At-Tujibi telah menceritakan kepadaku, mereka berdua berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, dari Yunus, dari Ibnu Syihab: Bahwa 'Atha` bin Yazid Al-Laitsi mengabarkan kepadanya: Bahwa Humran maula 'Utsman mengabarkan kepadanya: Bahwa 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu meminta dibawakan air. Kemudian beliau berwudhu`, beliau mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya, kemudian beliau mencuci wajahnya tiga kali. Kemudian beliau mencuci tangan kanan sampai siku tiga kali. Kemudian mencuci tangan kiri seperti itu juga. Kemudian beliau mengusap kepala. Kemudian mencuci kaki kanan sampai mata kaki tiga kali. Kemudian mencuci kaki kiri seperti itu juga. Kemudian beliau berkata: Aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu` seperti wudhu`ku ini. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berwudhu` seperti wudhu`ku ini, lalu shalat dua raka'at, dan tidak terbetik di dalam hatinya selain perkara shalatnya, maka dosanya yang lalu akan diampuni.”
Ibnu Syihab berkata: Para ulama kami mengatakan: Wudhu` ini adalah wudhu` paling sempurna yang hendaknya dilakukan setiap orang untuk shalat.
٤ - (…) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَزِيدَ اللَّيۡثِيِّ، عَنۡ حُمۡرَانَ مَوۡلَى عُثۡمَانَ: أَنَّهُ رَأَى عُثۡمَانَ دَعَا بِإِنَاءٍ، فَأَفۡرَغَ عَلَى كَفَّيۡهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ، فَغَسَلَهُمَا، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَمِينَهُ فِي الۡإِنَاءِ، فَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَيَدَيۡهِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأۡسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ تَوَضَّأَ نَحۡوَ وُضُوئِي هَٰذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكۡعَتَيۡنِ، لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفۡسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ).
4. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Ya'qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari 'Atha` bin Yazid Al-Laitsi, dari Humran maula 'Utsman: Bahwa beliau melihat 'Utsman meminta dibawakan bejana. Kemudian 'Utsman menuangkan air ke telapak tangannya tiga kali dan mencuci keduanya. Kemudian beliau mencelupkan tangan kanan ke dalam bejana, lalu berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung, dan mengeluarkannya. Kemudian beliau mencuci wajah tiga kali dan kedua tangan sampai siku tiga kali. Kemudian beliau mengusap kepala. Kemudian mencuci kedua kaki tiga kali. Kemudian beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang berwudhu` seperti wudhu`ku ini lalu shalat dua raka'at dan tidak terbetik dalam hatinya selain perkara shalatnya, maka akan diampuni dosanya yang lalu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 164

٢٨ – بَابُ الۡمَضۡمَضَةِ فِي الۡوُضُوءِ

28. Bab berkumur-kumur ketika wudhu`

قَالَهُ ابۡنُ عَبَّاسٍ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَيۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.
Ibnu 'Abbas dan 'Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhum mengatakannya, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
١٦٤ – حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَطَاءُ بۡنُ يَزِيدَ، عَنۡ حُمۡرَانَ مَوۡلَى عُثۡمَانَ بۡنِ عَفَّانَ: أَنَّهُ رَأَى عُثۡمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ، فَأَفۡرَغَ عَلَى يَدَيۡهِ مِنۡ إِنَائِهِ، فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَمِينَهُ فِي الۡوَضُوءِ، ثُمَّ تَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡشَقَ وَاسۡتَنۡثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيۡهِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ ثَلَاثًا، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأۡسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجۡلٍ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: رَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَتَوَضَّأُ نَحۡوَ وُضُوئِي هٰذَا وَقَالَ: (مَنۡ تَوَضَّأَ نَحۡوَ وُضُوئِي هٰذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكۡعَتَيۡنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفۡسَهُ، غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ). [طرفه في: ١٥٩].
164. Abul Yaman telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu'aib mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, beliau berkata: 'Atha` bin Yazid mengabarkan kepadaku, dari Humran maula 'Utsman bin 'Affan: Bahwa beliau melihat 'Utsman meminta air wudhu`, lalu beliau menuangkan air dari bejana ke tangan dan mencuci kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian beliau mencelupkan tangan kanannya ke dalam air, lalu berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya. Kemudian beliau mencuci wajahnya tiga kali dan kedua tangannya sampai siku tiga kali. Kemudian beliau mengusap kepala. Kemudian beliau mencuci setiap kakinya tiga kali. Kemudian beliau berkata: Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu` seperti wudhu`ku ini lantas bersabda, “Siapa yang berwudhu` seperti wudhu`ku ini, lalu ia shalat dua raka'at dan tidak terbetik di dalam hatinya selain perkara shalatnya, maka Allah akan ampuni dosanya yang lalu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 348

٣٤٨ – حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ قَالَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا عَوۡفٌ، عَنۡ أَبِي رَجَاءٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنٍ الۡخُزَاعِيُّ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ رَأَى رَجُلًا مُعۡتَزِلًا، لَمۡ يُصَلِّ فِي الۡقَوۡمِ، فَقَالَ: (يَا فُلَانُ، مَا مَنَعَكَ أَنۡ تُصَلِّيَ فِي الۡقَوۡمِ؟) فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَصَابَتۡنِي جَنَابَةٌ وَلَا مَاءَ، قَالَ: (عَلَيۡكَ بِالصَّعِيدِ، فَإِنَّهُ يَكۡفِيكَ).
348. 'Abdan telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: 'Abdullah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: 'Auf mengabarkan kepada kami, dari Abu Raja`, beliau berkata: 'Imran bin Hushain Al-Khuza'i menceritakan kepada kami: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seseorang menyendiri tidak shalat bersama orang-orang. Beliau bertanya, “Wahai Fulan, apa yang menghalangimu untuk shalat bersama orang-orang?” Orang itu menjawab: Wahai Rasulullah, aku mengalami junub sedangkan air tidak ada. Nabi bersabda, “Wajib engkau menggunakan tanah, sungguh itu cukup untukmu.”

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Pengertian Kalam

تَعۡرِيفُ الۡكَلَامِ

قَالَ الۡمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ: بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيمِ الۡكَلَامُ هُوَ اللَّفۡظُ الۡمُرَكَّبُ الۡمُفِيدُ بِالۡوَضۡعِ.
Ibnu Aajrum rahimahullah berkata: Bismillahirrahmanirrahim. Kalam adalah lafazh yang tersusun, berfaidah, dengan wadh'.
أَقُولُ وَبِاللهِ التَّوۡفِيقُ: بَدَأَ الۡمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ بِالۡبَسۡمَلَةِ عَلَى الۡقَوۡلِ بِأَنَّهَا مِنۡ كَلَامِهِ؛ اقۡتِدَاءً بِالۡكِتَابِ الۡعَزِيزِ وَتَأَسِّيًا بِالنَّبِيِّ ﷺ فِي مُكَاتَبَاتِهِ وَمُرَاسَلَاتِهِ.
Ahmad bin Tsabit berkata wa billahit taufiq: Penulis rahimahullah memulai dengan basmalah berdasar pendapat bahwa basmalah ini termasuk ucapan beliau. Beliau melakukan ini dalam rangka mencontoh Al-Qur`an dan meneladani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam surat-menyurat beliau.
وَالۡكَلَامُ عِنۡدَ النَّحۡوِيِّينَ هُوَ مَا اجۡتَمَعَ فِيهِ أَرۡبَعَةُ أُمُورٍ:
الۡأَوَّلُ: أَنۡ يَكُونَ لَفۡظًا. الثَّانِي: أَنۡ يَكُونَ مُرَكَّبًا. الثَّالِثُ: أَنۡ يَكُونَ مُفِيدًا. الرَّابِعُ: أَنۡ يَكُونَ مَوۡضُوعًا، أَيۡ: بِالۡوَضۡعِ الۡعَرَبِيِّ.
Kalam menurut ahli nahwu adalah setiap yang empat perkara terkumpul padanya: 
  1. Berupa lafazh 
  2. Tersusun 
  3. Berfaidah 
  4. Ditetapkan oleh orang Arab. 
فَمَعۡنَى (اللَّفۡظُ): الصَّوۡتُ الۡمُشۡتَمِلُ عَلَى بَعۡضِ الۡحُرُوفِ الۡهِجَائِيَّةِ، الَّتِي أَوَّلُهَا الۡأَلِفُ وَآخِرُهَا الۡيَاءُ. وَذٰلِكَ نَحۡوُ: (زَيۡدٌ) فَإِنَّهُ لَفۡظٌ؛ لِأَنَّهُ صَوۡتٌ مُشۡتَمِلٌ عَلَى بَعۡضِ الۡحُرُوفِ الۡهِجَائِيَّةِ وَهِيَ -الزَّاي وَالۡيَاءُ وَالدَّالُ-.
فَخَرَجَ (بِاللَّفۡظِ): الۡإِشَارَةُ وَالۡكِتَابَةُ وَنَحۡوُهُمَا مِمَّا لَيۡسَ بِلَفۡظٍ؛ فَلَا تُسَمَّى كَلَامًا عِنۡدَ الۡنُّحَاةِ.
Makna “lafazh” adalah suara yang mengandung sebagian huruf hijaiyyah, yang huruf pertamanya alif dan huruf terakhirnya ya`. Contohnya: زَيۡدٌ adalah lafazh, karena ia merupakan suara yang mengandung sebagian huruf hijaiyyah, yaitu: huruf zay, ya`, dan dal. Sehingga keluar dari makna “lafazh” adalah isyarat, tulisan, dan yang seperti keduanya yang bukan lafazh; sehingga tidak disebut kalam menurut ahli nahwu.
وَمَعۡنَى (الۡمُرَكَّبُ): مَا تَرَكَّبَ مِنۡ كَلِمَتَيۡنِ فَأَكۡثَرُ، نَحۡوُ: (سَافَرَ مُحَمَّدٌ) وَ(الۡعِلۡمُ خَيۡرُ تِجَارَةٍ) فَالۡمِثَالُ الۡأَوَّلُ لَفۡظٌ مُرَكَّبٌ مِنۡ كَلِمَتَيۡنِ: الۡأُولَى (سَافَرَ) وَالثَّانِيَةِ (مُحَمَّدٌ)، وَالۡمِثَالُ الثَّانِي لَفۡظٌ مُرَكَّبٌ مِنۡ ثَلَاثِ كَلِمَاتٍ: الۡأُولَى: (الۡعِلۡمُ) وَالثَّانِيَةِ: (خَيۡرُ) وَالثَّالِثَةِ: (تِجَارَةٍ). فَخرَجَ (بِالۡمُرَكَّبِ) الۡمُفۡرَدُ نَحۡوُ: (زَيۡدٍ)؛ فَلَا يُقَالُ لَهُ كَلَامٌ عِنۡدَ النُّحَاةِ.
Makna “tersusun” adalah setiap lafazh yang tersusun dari dua kata atau lebih. Contoh: سَافَرَ مُحَمَّدٌ dan الۡعِلۡمُ خَيۡرُ تِجَارَةٍ. Contoh pertama adalah lafazh tersusun dari dua kata: سَافَرَ dan مُحَمَّدٌ. Contoh kedua adalah lafazh tersusun dari tiga kata: pertama الۡعِلۡمُ, kedua خَيۡرُ, dan ketiga تِجَارَةٍ. Jadi, kata tunggal tidak masuk makna “tersusun”, contoh: زَيۡدٌ, sehingga ia tidak disebut kalam menurut ahli nahwu.
وَمَعۡنَى (الۡمُفِيدُ): مَا أَفَادَ فَائِدَةً تَامَّةً يَحۡسُنُ سُكُوتُ الۡمُتَكَلِّمُ عَلَيۡهَا، بِحَيۡثُ لَا يَبۡقَى السَّامِعُ مُنۡتَظِرًا لِشَيۡءٍ آخَرَ، نَحۡوُ: (حَضَرَ زَيۡدٌ) فَهٰذَا الۡكَلَامُ مُفِيدٌ؛ لِأَنَّهُ أَفَادَ فَائِدَةً تَامَّةً يَحۡسُنُ سُكُوتُ الۡمُتَكَلِّمِ عَلَيۡهَا. وَهِيَ الۡإِخۡبَارُ بِحُضُورِ زَيۡدٍ.
فَإِنَّ السَّامِعَ إِذَا سَمِعَ ذٰلِكَ لَا يَنۡتَظِرُ شَيۡئًا آخَرَ، وَيَعُدُّ سُكُوتَهُ حَسَنًا.
فَخَرَجَ (بِالۡمُفِيدِ) غَيۡرُ الۡمُفِيدِ كَـ(عَبۡدِ اللهِ، وَزَيۡدٍ، وَإِنۡ قَامَ زَيۡدٌ) وَنَحۡوِ ذٰلِكَ مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ.
Makna “berfaidah” adalah setiap lafazh yang memberikan faidah sempurna yang si pembicara sudah bisa diam padanya, dimana si pendengar tidak lagi menunggu-nunggu perkataan lain. Contoh: حَضَرَ زَيۡدٌ ini adalah kalam yang berfaidah, karena ia memberikan faidah sempurna yang si pembicara sudah tidak perlu mengucapkan perkataan lain. Maknanya adalah mengabarkan dengan kedatangan Zaid. Karena si pendengar jika mendengar ucapan itu, ia tidak lagi menunggu ucapan berikutnya, dan si pendengar akan menganggap bahwa diamnya si pembicara sudah benar. Sehingga keluar dari makna “berfaidah” adalah ucapan yang tidak berfaidah, seperti: عَبۡدِ اللهِ, زَيۡدٍ, dan إِنۡ قَامَ زَيۡدٌ, serta contoh lain ucapan yang tidak ada faidahnya.
وَمَعۡنَى (الۡوَضۡعُ الۡعَرَبِيُّ): أَنۡ تَكُونَ الۡأَلۡفَاظُ الَّتِي نَتَكَلَّمُ بِهَا مِنَ الۡأَلۡفَاظِ الَّتِي وَضَعَتۡهَا الۡعَرَبُ لِلدَّلَالَةِ عَلَى مَعۡنًى مِنَ الۡمَعَانِي نَحۡوُ: (قَامَ) -مَثَلًا- فَإِنَّهُ لَفۡظٌ عَرَبِيٌّ جَعَلَتۡهُ الۡعَرَبُ دَالًّا عَلَى مَعۡنًى، وَهُوَ الۡقِيَامُ فِي الزَّمَنِ الۡمَاضِي.
وَمِثۡلُهُ (زَيۡدٌ) فَإِنَّهُ لَفۡظٌ عَرَبِيٌّ جَعَلَتۡهُ الۡعَرَبُ دَالًّا عَلَى مَعۡنًى وَهُوَ الذَّاتُ الَّتِي وَضَعَ عَلَيۡهَا لَفۡظُ (زَيۡدٍ). فَإِذَا قُلۡتَ (قَامَ زَيۡدٌ)، كُنۡتَ قَدۡ اسۡتَعۡمَلۡتَ كَلَامًا عَرَبِيًّا اسۡتَعۡمَلَتۡهُ الۡعَرَبُ فِي كَلَامِهَا.
فَخَرَجَ (بِالۡوَضۡعِ الۡعَرَبِيِّ): كَلَامُ الۡعَجَمِ كَالۡتُّرۡكِ وَالۡبَرۡبَرِ وَنَحۡوِهِمَا؛ فَلَا يُقَالُ لَهُ كَلَامٌ عِنۡدَ النُّحَاةِ.
Makna “ditetapkan oleh orang 'Arab” adalah lafazh-lafazh yang kita ucapkan termasuk dari lafazh-lafazh yang ditetapkan oleh orang 'Arab yang menunjukkan suatu makna. Contoh: قَامَ adalah lafazh 'Arab yang orang 'Arab gunakan untuk menunjukkan sebuah makna, yaitu berdiri di waktu lampau. Contoh lain: زَيۡدٌ, ini adalah lafazh 'Arab yang orang 'Arab gunakan untuk menunjukkan sebuah makna, yaitu suatu dzat yang dikenakan padanya lafazh Zaid. Sehingga, apabila engkau katakan قَامَ زَيۡدٌ, maka engkau telah menggunakan kalam 'Arab yang orang 'Arab gunakan dalam pembicaraan. Keluar dari makna “ditetapkan oleh orang 'Arab” ini adalah pembicaraan selain orang 'Arab, seperti Turki, Barbar, dan semisal keduanya. Sehingga ia tidak disebut kalam menurut ahli nahwu.
مِثَالُ الۡكَلَامِ الۡجَامِعِ لِلۡأُمُورِ الۡأَرۡبَعَةِ قَوۡلُكَ: (يَنۡجَحُ الۡمُجۡتَهِدُ)، وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿اسۡتَعِينُوا بِالصَّبۡرِ وَالصَّلَٰوةِ﴾ [البقرة: ١٥٣] فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنۡ هٰذَيۡنِ الۡمِثَالَيۡنِ يُسَمَّى كَلَامًا فِي اصۡطِلَاحِ النُّحَاةِ؛ لِأَنَّهُ جَمَعَ الۡأُمُورَ الۡأَرۡبَعَةَ فَهُوَ (لَفۡظٌ)؛ لِأَنَّهُ صَوۡتٌ مُشۡتَمِلٌ عَلَى بَعۡضِ الۡحُرُوفِ الۡهِجَائِيَّةِ. وَ(مُرَكَّبٌ)؛ لِتَرَكُّبِهِ مِنۡ كَلِمَتَيۡنِ أَوۡ أَكۡثَرَ. وَ(مُفِيدٌ)؛ لِأَنَّهُ أَفَادَ فَائِدَةً تَامَّةً يَحۡسُنُ السُّكُوتُ عَلَيۡهَا، وَ(مَوۡضُوعٌ بِالۡوَضۡعِ الۡعَرَبِيِّ)؛ لِأَنَّهُ مِمَّا اسۡتَعۡمَلَتۡهُ الۡعَرَبُ فِي كَلَامِهَا.
Contoh kalam yang mengumpulkan empat perkara tersebut adalah ucapanmu: يَنۡجَحُ الۡمُجۡتَهِدُ dan firman Allah ta'ala: اسۡتَعِينُوا بِالصَّبۡرِ وَالصَّلَٰوةِ (QS. Al-Baqarah: 153). Jadi setiap dari dua contoh ini disebut kalam menurut istilah ahli nahwu. Karena ia mengumpulkan empat perkara. Yaitu “lafazh” karena ia adalah suara yang mengandung sebagian huruf hijaiyyah. “Tersusun” karena susunannya dari dua kata atau lebih. “Berfaidah” karena ia memberi faidah sempurna dimana diamnya si pembicara sudah benar. Dan “ditetapkan dengan kaidah orang 'Arab” karena orang 'Arab menggunakannya di dalam pembicaraan.


Lihat juga:

At-Tuhfatus Saniyyah - Zharaf Zaman dan Zharaf Makan

ظَرۡفُ الزَّمَانِ وَظَرۡفُ الۡمَكَانِ

(بَابُ ظَرْفِ الزَّمَانِ وَظَرْفِ الْمَكَانِ) ظَرْفُ الزَّمَانِ هُوَ: اسْمُ الزَّمَانِ الْمَنْصُوبُ بِتَقْدِيرِ (فِي) نَحْوُ الْيَوْمَ، وَاللَّيْلَةَ، وَغُدْوَةً، وَبُكْرَةً، وَسَحَرًا، وَغَدًا، وَعَتَمَةً، وَصَبَاحًا، وَمَسَاءَ، وَأَبَدًا، وَأَمَدً، وَحِينًا، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.
Bab Zharaf zaman dan Zharaf makan. Zharaf zaman adalah isim zaman yang dinashab dengan taqdir فِي, seperti: الۡيَوۡمَ, اللَّيۡلَةَ, غُدۡوَةً, بُكۡرَةً, سَحَرًا, غَدًا, عَتَمَةً, صَبَاحًا, مَسَاءَ, أَبَدًا, أَمَدًا, dan حِينًا, serta yang menyerupai itu.
وَأَقُولُ: الظَّرۡفُ مَعۡنَاهُ فِي اللُّغَةِ: الۡوِعَاءُ، وَالۡمُرَادُ بِهِ فِي عُرۡفِ النُّحَاةِ الۡمَفۡعُولُ فِيهِ، وَهُوَ نَوۡعَانِ: الۡأَوَّلُ: ظَرۡفُ الزَّمَانِ، وَالثَّانِي: ظَرۡفُ الۡمَكَانِ.
Zharaf secara bahasa maknanya adalah wadah / tempat. Yang diinginkan di sini menurut pengertian ahli nahwu adalah maf’ul fih. Maf’ul fih ada dua jenis: Zharaf zaman (keterangan waktu) dan Zharaf makan (keterangan tempat).
أَمَّا ظَرۡفُ الزَّمَانِ: فَهُوَ عِبَارَةٌ عَنِ الۡاسۡمِ الَّذِي يَدُلُّ عَلَى الزَّمَانِ الۡمَنۡصُوبِ بِاللَّفۡظِ الدَّالِّ عَلَى الۡمَعۡنَى الۡوَاقِعِ ذٰلِكَ الۡمَعۡنَى فِيهِ، بِمُلَاحَظَةِ مَعۡنَى (فِي) الدَّالَّةِ عَلَى الظَّرۡفِيَّةِ، وَذٰلِكَ مِثۡلُ قَوۡلِكَ: (صُمۡتُ يَوۡمَ الۡاثۡنَيۡنِ) فَإِنَّ (يَوۡمَ الۡاثۡنَيۡنِ) ظَرۡفُ زَمَانٍ مَفۡعُولٌ فِيهِ، وَهُوَ مَنۡصُوبٌ بِقَوۡلِكَ: (صُمۡتُ) وَهٰذَا الۡعَامِلُ دَالٌّ عَلَى مَعۡنًى وَهُوَ الصِّيَامُ، وَالۡكَلَامُ عَلَى مُلَاحَظَةِ مَعۡنَى (فِي) أَيۡ: أَنَّ الصِّيَامَ حَدَثَ فِي الۡيَوۡمِ الۡمَذۡكُورِ؛ بِخِلَافِ قَوۡلِكَ: (يَخَافُ الۡكَسُولُ يَوۡمَ الۡامۡتِحَانِ) فَإِنَّ مَعۡنَى ذٰلِكَ أَنَّهُ يَخَافُ نَفۡسَ يَوۡمِ الۡامۡتِحَانِ وَلَيۡسَ مَعۡنَاهُ أَنَّهُ يَخَافُ شَيۡئًا وَاقِعًا فِي هٰذَا الۡيَوۡمِ.
Adapun zharaf zaman adalah ungkapan untuk isim yang menunjukkan waktu yang dinashab dengan lafazh yang menunjukkan kepada makna kapan terjadinya, dengan penyisipan makna فِي yang menunjukkan keterangan tempat. Contohnya seperti ucapanmu:صُمۡتُ يَوۡمَ الۡاثۡنَيۡنِ, di sini يَوۡمَ الۡاثۡنَيۡنِ adalah zharaf zaman maf’ul fih, ia dinashab dengan ucapanmu صُمۡتُ. Ini adalah ‘amil yang menunjukkan suatu makna yaitu puasa. Ucapan tersebut disisipkan makna فِي, sehingga artinya bahwa puasa itu terjadi pada hari yang disebutkan. Beda halnya dengan ucapanmu: يَخَافُ الكَسُولُ يَوۡمَ الۡامۡتِحَانِ (Pemalas itu khawatir terhadap hari ujian), karena makna contoh tersebut adalah bahwa ia takut dari hari ujian itu sendiri dan bukan bermakna bahwa dia takut terhadap sesuatu yang terjadi pada hari itu.
وَاعۡلَمۡ أَنَّ الزَّمَانَ يَنۡقَسِمُ إِلَى قِسۡمَيۡنِ: الۡأَوَّلُ الۡمُخۡتَصُّ، وَالثَّانِي الۡمُبۡهَمُ.
أَمَّا الۡمُخۡتَصُّ فَهُوَ (مَا دَلَّ عَلَى مِقۡدَارٍ مُعَيَّنٍ مَحۡدُودٍ مِنَ الزَّمَانِ).
وَأَمَّا الۡمُبۡهَمُ فَهُوَ (مَا دَلَّ عَلَى مِقۡدَارٍ غَيۡرِ مُعَيَّنٍ وَلَا مَحۡدُودٍ).
وَمِثَالُ الۡمُخۡتَصِّ: الشَّهۡرُ، وَالسَّنَةُ، وَالۡيَوۡمُ، وَالۡعَامُ، وَالۡأُسۡبُوعُ.
وَمِثَالُ الۡمُبۡهَمِ: اللَّحۡظَةُ، وَالۡوَقۡتُ، وَالزَّمَانُ، وَالۡحِينُ.
وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنۡ هٰذَيۡنِ النَّوۡعَيۡنِ يَجُوزُ انۡتِصَابُهُ عَلَى أَنَّهُ مَفۡعُولٌ فِيهِ.
Ketahuilah, bahwa waktu itu terbagi menjadi dua bagian:
  1. Dikhususkan, yaitu yang menunjukkan ukuran waktu tertentu, contoh: الشَّهۡر (bulan), السَّنَة (tahun), الۡيَوۡم (hari), الۡعَام (tahun), dan الۡأسۡبُوع (pekan).
  2. Mubham (tidak jelas), yaitu yang menujukkan ukuran waktu yang tidak ditentukan dan tidak dibatasi, contoh: اللَّحۡظَة, الۡوَقۡت, الزَّمَان, dan الۡحِين.
Setiap bagian tersebut bisa dinashab sebagai maf’ul fih.
وَقَدۡ ذَكَرَ الۡمُؤَلِّفُ مِنَ الۡأَلۡفَاظِ الدَّالَّةِ عَلَى الزَّمَانِ اثۡنَي عَشَرَ لَفۡظًا:
Penulis telah menyebutkan lafazh-lafazh yang menunjukkan waktu sebanyak dua belas lafazh:
الۡأَوَّلُ: (الۡيَوۡمَ) وَهُوَ مِنۡ طُلُوعِ الۡفَجۡرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمۡسِ، تَقُولُ: (صُمۡتُ الۡيَوۡمَ) أَوۡ (صُمۡتُ يَوۡمَ الۡخَمِيسِ) أَوۡ (صُمۡتُ يَوۡمًا طَوِيلًا).
1. الۡيَوۡمَ yaitu waktu dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Engkau katakan: صُمۡتُ الۡيَوۡمَ, atau صُمۡتُ يَوۡمَ الۡخَمِيسِ, atau صُمۡتُ يَوۡمًا طَوِيلًا.
وَالثَّانِي: (اللَّيۡلَةَ) وَهِيَ مِنۡ غُرُوبِ الشَّمۡسِ إِلَى طُلُوعِ الۡفَجۡرِ، تَقُولُ: (اعۡتَكَفۡتُ اللَّيۡلَةَ الۡبَارِحَةَ) أَوۡ (اعۡتَكَفۡتُ لَيۡلَةً) أَوۡ (اعۡتَكَفۡتُ لَيۡلَةَ الۡجُمُعَةِ).
2. اللَّيۡلَةَ yaitu waktu dari tenggelamnya matahari sampai terbitnya fajar. Engkau katakan: اعۡتَكَفۡتُ اللَّيۡلَةَ الۡبَارِحَةَ, اعۡتَكَفۡتُ لَيۡلَةً, atau اعۡتَكَفۡتُ لَيۡلَةَ الۡجُمُعَةِ.
الثَّالِثُ: (غُدۡوَةً) وَهِيَ الۡوَقۡتُ مَا بَيۡنَ صَلَاةِ الصُّبۡحِ وَطُلُوعِ الشَّمۡسِ، تَقُولُ: (زَارَنِي صَدِيقِي غُدۡوَةَ الۡأَحَدِ) أَوۡ (زَارَنِي غُدۡوَةً).
3. غُدۡوَةً adalah waktu antara shalat subuh dengan terbitnya matahari. Engkau katakan: زَارَنِي صَدِيقِي غُدۡوَةَ الۡأَحَدِ atau زَارَنِي غُدۡوَةً.
وَالرَّابِعُ: (بُكۡرَةً) وَهِيَ أَوَّلُ النَّهَارِ، تَقُولُ: (أَزُورُكَ بُكۡرَةَ السَّبۡتِ)، وَ(أَزُورُكَ بُكۡرَةً).
4. بُكۡرَةً adalah waktu di awal siang. Engkau katakan: أَزُورُكَ بُكۡرَةَ السَّبۡتِ dan أَزُورُكَ بُكۡرَةً.
وَالۡخَامِسُ: (سَحَرًا) وَهُوَ آخِرُ اللَّيۡلِ قُبَيۡلَ الۡفَجۡرِ، تَقُولُ: (ذَاكَرۡتُ دَرۡسِي سَحَرًا).
5. سَحَرًا adalah waktu di akhir malam sejenak sebelum fajar. Engkau katakan: ذَاكَرۡتُ دَرۡسِي سَحَرًا.
وَالسَّادِسُ: (غَدًا) وَهُوَ اسۡمٌ لِلۡيَوۡمِ الَّذِي بَعۡدَ يَوۡمِكَ الَّذِي أَنۡتَ فِيهِ، تَقُولُ: (إِذَا جِئۡتَنِي غَدًا أَكۡرَمۡتُكَ).
6. غَدًا adalah nama untuk hari setelah harimu yang engkau jalani. Engkau katakan: إِذَا جِئۡتَنِي غَدًا أَكۡرَمۡتُكَ.
وَالسَّابِعُ: (عَتَمَةً) وَهِيَ اسۡمٌ لِثُلُثِ اللَّيۡلِ الۡأَوَّلِ، تَقُولُ: (سَأَزُورُكَ عَتَمَةً).
7. عَتَمَةً adalah nama untuk sepertiga malam awal. Engkau katakan: سَأَزُورُكَ عَتَمَةً.
وَالثَّامِنُ: (صَبَاحًا) وَهُوَ اسۡمٌ لِلۡوَقۡتِ الَّذِي يَبۡتَدِىءُ مِنۡ أَوَّلِ نِصۡفِ اللَّيۡلِ الثَّانِي إِلَى الزَّوَالِ، تَقُولُ: (سَافَرَ أَخِي صَبَاحًا).
8. صَبَاحًا adalah nama untuk waktu yang dimulai dari awal tengah malam yang kedua sampai tergelincirnya matahari. Engkau katakan: سَافَرَ أَخِي صَبَاحًا.
وَالتَّاسِعُ: (مَسَاءً) وَهُوَ اسۡمٌ لِلۡوَقۡتِ الَّذِي يَبۡتَدِىءُ مِنَ الزَّوَالِ إِلَى نَصۡفِ اللَّيۡلِ، تَقُولُ: (وَصَلَ الۡقِطَارُ بِنَا مَسَاءً).
9. مَسَاءً adalah nama waktu yang dimulai dari tergelincirnya matahari sampai pertengahan malam. Engkau katakan: وَصَلَ الۡقِطَارُ بِنَا مَسَاءً.
وَالۡعَاشِرُ: (أَبَدًا)، وَالۡحَادِي عَشَرَ: (أَمَدًا): وَكُلٌّ مِنۡهُمَا اسۡمٌ لِلزَّمَانِ الۡمُسۡتَقۡبَلِ الَّذِي لَا غَايَةَ لِانۡتِهَائِهِ، تَقُولُ: (لَا أَصۡحَبُ الۡأَشۡرَارَ أَبَدًا) وَ(لَا أَقۡتَرِفُ الشَّرَّ أَمَدًا).
10. أَبَدًا dan 11. أَمَدًا setiap dari dua kata ini adalah nama untuk waktu yang akan datang yang tidak ada akhirnya. Engkau katakan: لَا أَصۡحَبُ الۡأَشۡرَارَ أَبَدًا dan لَا أَقۡتَرِفُ الشَّرَّ أَمَدًا.
وَالثَّانِي عَشَرَ: (حِينًا) وَهُوَ اسۡمٌ لِزَمَانٍ مُبۡهَمٍ غَيۡرِ مَعۡلُومِ الۡابۡتِدَاءِ وَلَا الۡانۡتِهَاءِ، تَقُولُ: (صَاحَبۡتُ عَلِيًّا حِينًا مِنَ الدَّهۡرِ).
12. حِينًا adalah nama untuk waktu yang tidak tertentu yang tidak diketahui permulaan dan akhirnya. Engkau katakan: صَاحَبۡتُ عَلِيًّا حِينًا مِنَ الدَّهۡرِ.
وَيَلۡحَقُ بِذٰلِكَ مَا أَشۡبَهَهُ مِنۡ كُلِّ اسۡمٍ دَالٍّ عَلَى الزَّمَانِ: سَوَاءٌ أَكَانَ مُخۡتَصًّا مِثۡلَ ضَحۡوَةٍ، وَضُحًى، أَمۡ كَانَ مُبۡهَمًا مِثۡلَ وَقۡتٍ، وَسَاعَةٍ، وَلَحۡظَةٍ، وَزَمَانٍ، وَبُرۡهَةٍ؛ فَإِنَّ هٰذِهِ وَمَا مَاثَلَهَا يَجُوزُ نَصۡبُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنۡهَا عَلَى أَنَّهُ مَفۡعُولٌ فِيهِ.
Demikian pula isim-isim yang menyerupainya yang termasuk setiap isim yang menunjukkan waktu. Sama saja apakah isim yang dikhususkan semisal ضَحۡوَةً dan ضُحًى. Ataukah isim yang mubham semisal وَقۡتٍ, سَاعَةٍ, لَحۡظَةٍ, زَمَانٍ, dan بُرۡهَةٍ. Isim-isim ini dan yang menyerupainya boleh dinashab sebagai maf’ul fih.


Lihat juga:

Taisirul 'Allam - Hadits ke-35

الۡحَدِيثُ الۡخَامِسُ وَالثَّلَاثُونَ

٣٥ – عَنۡ أَبِي جَعۡفَرٍ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيِّ بۡنِ الۡحُسَيۡنِ بۡنِ عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ أَنَّهُ كَانَ هُوَ وَأَبُوهُ عِنۡدَ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ وَعِنۡدَهُ قَوۡمٌ، فَسَأَلُوهُ عَنِ الۡغُسۡلِ فَقَالَ: يَكۡفِيكَ صَاعٌ.
فَقَالَ رَجُلٌ: مَا يَكۡفِينِي. فَقَالَ جَابِرٌ: كَانَ يَكۡفِي مَنۡ هُوَ أَوۡفَرُ مِنۡكَ شَعۡرًا وَخَيۡرٌ مِنۡكَ –يُرِيدُ رَسُولَ اللهِ ﷺ- ثُمَّ أَمَّنَا فِي ثَوۡبٍ[1]. وَفِي لَفۡظٍ (كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُفۡرِغُ الۡمَاءَ عَلَى رَأۡسِهِ ثَلَاثًا)[2].
قَالَ الۡمُصَنِّفُ: الرَّجُلُ الَّذِي قَالَ: (مَا يَكۡفِينِي) هُوَ الۡحَسَنُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، أَبُوهُ مُحَمَّدُ بۡنُ الۡحَنَفِيَّةِ.
35. Dari Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Al-Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhum bahwa beliau dan ayahnya pernah di sisi Jabir bin ‘Abdullah dan ada orang-orang di sisi beliau. Mereka bertanya kepada beliau mengenai mandi. Lantas beliau berkata: Satu sha’ air cukup untukmu.
Seseorang berkata: Satu sha’ tidak cukup untukku. Jabir berkata: Satu sha’ itu sudah cukup untuk orang yang rambutnya lebih banyak daripada engkau dan lebih baik daripada engkau. Yang beliau maksud adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau mengimami kami dengan mengenakan satu pakaian. Dalam lafazh lain, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menuangkan air ke kepala sebanyak tiga kali.”
Penyusun berkata: Orang yang berkata, “Satu sha’ tidak cukup untukku” adalah Al-Hasan bin Muhammad bin ‘Ali bin Abu Thalib. Ayah beliau adalah Muhammad ibnul Hanafiyyah.
الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِيُّ:
كَانَ أَبُو جَعۡفَرٍ وَأَبُوهُ، عِنۡدَ الصَّحَابِي الۡجَلِيلِ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ وَعِنۡدَهُ قَوۡمٌ، فَسَأَلَ الۡقَوۡمُ جَابِرًا عَمَّا يَكۡفِي مِنَ الۡمَاءِ فِي غُسۡلِ الۡجَنَابَةِ فَقَالَ: يَكۡفِيكَ صَاعٌ.
وَكَانَ الۡحَسَنُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡحَنَفِيَّةِ مَعَ الۡقَوۡمِ عِنۡدَ جَابِرٍ، فَقَالَ: إِنَّ هٰذَا الۡقَدۡرَ لَا يَكۡفِينِي لِلۡغُسۡلِ مِنَ الۡجَنَابَةِ.
فَقَالَ جَابِرٌ: كَانَ يَكۡفِي مَنۡ هُوَ أَوۡفَرُ وَأَكۡثَفُ مِنۡكَ شَعۡرًا، وَخَيۡرٌ مِنۡكَ، فَيَكُونُ أَحۡرَصُ مِنۡكَ عَلَى طَهَارَتِهِ وَدِينِهِ- يَعۡنِي النَّبِيَّ ﷺ.
ثُمَّ بَعۡدَ أَنۡ اغۡتَسَلَ بِهٰذَا الصَّاعِ أَمَّنَا فِي الصَّلَاةِ، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ تُطَهِّرُ بِهٰذَا الصَّاعِ الطَّهَارَةُ الۡكَافِيَةُ.
Makna secara umum:
Abu Ja’far dan ayahnya pernah di sisi shahabat yang mulia Jabir bin ‘Abdullah. Di sekitar beliau ada orang-orang. Mereka bertanya kepada Jabir tentang berapakah air yang cukup untuk mandi junub. Maka Jabir berkata: Satu sha’ air cukup untuk engkau.
Ketika itu, Al-Hasan bin Muhammad ibnul Hanafiyyah bersama orang-orang yang berada di sekitar Jabir. Al-Hasan berkata: Sesungguhnya ukuran tersebut tidak cukup bagiku untuk mandi junub.
Jabir menimpali: Satu sha’ air itu cukup untuk orang yang rambutnya lebih banyak dan lebih tebal daripada engkau, dan lebih baik daripada engkau. Dan orang itu lebih bersemangat untuk kesucian badan dan agamanya. Yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian setelah beliau mandi dengan satu sha’ air tersebut, beliau mengimami kami shalat. Ini menunjukkan bahwa bersuci yang sempurna dengan satu sha’ air sudah dapat mensucikan.
مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:
١ – وُجُوبُ الۡغُسۡلِ مِنَ الۡجَنَابَةِ، وَذٰلِكَ بِإِفَاضَةِ الۡمَاءِ عَلَى الۡعُضۡوِ، وَسَيَلَانِهِ عَلَيۡهِ، فَمَتَى حَصَلَ ذٰلِكَ تَأَدَّى الۡوَاجِبَ.
٢ – قَالَ فِي بِدَايَةِ الۡمُجۡتَهِدِ، لَا يُسۡتَدَلُّ بِهِ عَلَى لُزُومِ الدَّلۡكِ وَلَا عَلَى عَدَمِهِ.
٣ – أَنَّ الصَّاعَ الَّذِي هُوَ أَرۡبَعَةُ أَمۡدَادٍ، يَكۡفِي لِلۡغُسۡلِ مِنَ الۡجَنَابَةِ. قَالَ ابۡنُ دَقِيقِ الۡعِيدِ: وَلَيۡسَ ذٰلِكَ عَلَى سَبِيلِ التَّحۡدِيدِ، فَقَدۡ دَلَّتۡ الۡأَحَادِيثُ عَلَى مَقَادِيرَ مُخۡتَلِفَةٍ، وَذٰلِكَ وَاللهُ أَعۡلَمُ –لِاخۡتِلَافِ الۡأَوۡقَاتِ أَوۡ الۡحَالَاتِ، كَقِلَّةِ الۡمَاءِ وَكَثۡرَتِهِ، وَالسَّفَرِ وَالۡحَضرِ.
٤ – اسۡتِحۡبَابُ التَّخۡفِيفِ فِي مَاءِ الطَّهَارَةِ.
٥ – الۡإِنۡكَارُ عَلَى مَنۡ يُخَالِفُ سُنَّةَ النَّبِيِّ ﷺ.
Faidah hadits:
  1. Wajibnya mandi junub. Caranya adalah dengan menuangkan air ke anggota tubuh dan mengalirkannya. Sehingga kapan sudah tercapai hal tersebut, maka ia sudah menunaikan kewajiban.
  2. Beliau berkata di dalam Bidayatul Mujtahid, hadits ini tidak dijadikan dalil untuk wajibnya menggosok-gosok, tidak pula sebagai dalil untuk meniadakannya.
  3. Bahwa satu sha’ yaitu empat mud itu cukup untuk mandi junub. Ibnu Daqiqil ‘Id berkata: Ukuran itu bukan pembatasan. Sungguh hadits-hadits lain telah menunjukkan ukuran air yang berbeda-beda. Hal itu –wallahu a’lam- disebabkan perbedaan waktu dan keadaan, seperti ketika air sedikit atau banyak, ketika safar atau mukim.
  4. Disukainya irit menggunakan air untuk bersuci.
  5. Pengingkaran terhadap orang yang menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٢٥٢) فِي الۡغُسۡلِ، وَرَوَاهُ أَيۡضًا النَّسَائِيُّ (١/١٢٧، ١٢٨) فِي الطَّهَارَةِ. 
[2] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٢٥٥) فِي الۡغُسۡلِ.

Taisirul 'Allam - Hadits ke-34

الۡحَدِيثُ الرَّابِعُ وَالثَّلَاثُونَ

٣٤ – عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا جَلَسَ بَيۡنَ شُعَبِهَا الۡأَرۡبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا وَجَبَ الۡغُسۡلُ)[1] وَفِي لَفۡظٍ لِمُسۡلِمٍ (وَإِنۡ لَمۡ يُنۡزِلۡ).
34. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya, lalu ia bersungguh-sungguh padanya, maka telah wajib mandi.” Dalam lafazh Imam Muslim, “Meskipun tidak keluar mani.”
غَرِيبُ الۡحَدِيثِ:
١ – شُعَبِهَا الۡأَرۡبَعِ – يُرِيدُ بِذٰلِكَ يَدَيۡهَا وَرِجۡلَيۡهَا، وَهُوَ كِنَايَةٌ عَنِ الۡجِمَاعِ.
٢ – ثُمَّ جَهَدَهَا – بِفَتۡحِ الۡجِيمِ وَالۡهَاءِ، مَعۡنَاهُ: بَلَغَ الۡمَشَقَّةَ بِكَدِّهَا، وَهُوَ كِنَايَةٌ عَنِ الۡإِيلَاجِ.
Kosa kata asing dalam hadits:
  1. Empat cabang istrinya maksudnya dua tangan dan dua kaki istri. Ini adalah ungkapan yang lebih halus untuk jima’ (bersetubuh).
  2. ثُمَّ جَهَدَهَا (lalu ia bersungguh-sungguh kepadanya), dengan memfathah huruf jim dan ha`. Maknanya adalah telah sampai rasa payah dengan bersungguh-sungguh melakukannya. Ini adalah ungkapan yang lebih halus dari memasukkan.
الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِيُّ:
يَقُولُ النَّبِيُّ ﷺ مَا مَعۡنَاهُ: إِذَا جَلَسَ الرَّجُلُ بَيۡنَ شُعَبِ الۡمَرۡأَةِ الۡأَرۡبَعِ اللَّاتِي هُنَّ الۡيَدَانِ وَالرِّجۡلَانِ، ثُمَّ أَوۡلَجَ ذَكَرَهُ فِي فَرۡجِ الۡمَرۡأَةِ، فَقَدۡ وَجَبَ عَلَيۡهِمَا الۡغُسۡلُ مِنَ الۡجَنَابَةِ وَإِنۡ لَمۡ يَحۡصُلۡ إِنۡزَالُ مَنِيٍّ، لِأَنَّ الۡإِيلَاجَ وَحۡدَهُ أَحَدُ مُوجِبَاتِ الۡغُسۡلِ.
Makna secara umum:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan ucapan yang bermakna: Jika seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya, yaitu dua tangan dan dua kaki, lalu ia memasukkan kemaluannya ke kelamin istrinya, maka sungguh wajib mandi junub bagi keduanya. Meskipun tidak terjadi keluarnya mani. Karena memasukkan kemaluan itu saja adalah salah satu yang mewajibkan mandi.
مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:
١ – وُجُوبُ الۡغُسۡلِ مِنۡ إِيلَاجِ الذَّكَرِ فِي الۡفَرۡجِ، وَإِنۡ لَمۡ يَحۡصُلۡ إِنۡزَالٌ.
٢ – يَكُونُ هٰذَا الۡحَدِيثُ نَاسِخًا لِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ (الۡمَاءُ مِنَ الۡمَاءِ) الۡمَفۡهُومُ مِنۡهُ بِطَرِيقِ الۡحَصۡرِ، أَنَّهُ لَا غُسۡلَ إِلَّا مِنۡ إِنۡزَالِ الۡمَنِيِّ.
Faidah hadits:
  1. Wajibnya mandi karena memasukkan kemaluan ke alat kelamin wanita meskipun tidak keluar mani.
  2. Hadits ini menjadi penghapus untuk hadits Abu Sa’id “Air (mandi junub) itu dari air (mani yang keluar)” yang mana dipahami dari hadits Abu Sa’id tersebut, pembatasan bahwa tidak ada mandi kecuali jika keluar mani. 

[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٢٩١) فِي الۡغُسۡلِ، وَمُسۡلِمٌ (٣٤٨) فِي الۡحَيۡضِ، وَرَوَاهُ أَيۡضًا أَبُو دَاوُدَ (٢١٦) فِي الطَّهَارَةِ، وَالنَّسَائِيُّ (١/١١٠، ١١١) فِي الطَّهَارَةِ.

Syarh Al-Ushulus Sittah - Pondasi Ketiga (2)

فَبَيَّنَ النَّبِيُّ ﷺ هٰذَا بَيَانًا شَائِعًا ذَائِعًا بِكُلِّ وَجۡهٍ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡبَيَانِ شَرۡعًا وَقَدَرًا.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan perkara ini dengan penjelasan yang luas dan detail dari segala sisi berbagai penjelasan baik secara syar’i maupun qadari.[1]
(ثُمَّ صَارَ هٰذَا الۡأَصۡلُ لَا يُعۡرَفُ عِنۡدَ أَكۡثَرَ مَنۡ يَدَّعِي الۡعِلۡمَ فَكَيۡفَ الۡعَمَلُ بِهِ).
Kemudian pondasi ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang yang mengaku punya ilmu, lalu bagaimana bisa mengamalkannya.[2]

[1] حَيۡثُ قَالَ ﷺ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ). 
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: Dimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan untuk mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, wajib untuk memegang sunnahku dan sunnah para khalifah yang terbimbing dan mendapat petunjuk.” 
هٰذَا الۡأَصۡلُ الثَّالِثُ: السَّمۡعُ وَالطَّاعَةُ: (اسۡمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ) فَلَا يُمۡكِنُ أَنۡ تَحۡصُلَ جَمَاعَةٌ لِلۡمُسۡلِمِينَ إِلَّا بِوَلِيِّ أَمۡرٍ مُسۡلِمٍ وَلَوۡ لَمۡ يَكُنۡ ذَا نَسَبِ عَرَبِيٍّ بَلۡ لَوۡ كَانَ مَمۡلُوكًا. 
Pondasi yang ketiga ini adalah mendengar dan taat kepada pemerintah: “Dengarlah dan taatlah kalian, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.” Karena tidak mungkin tercapai jamaah kaum muslimin kecuali ada yang memegang urusan kaum muslimin, meskipun ia tidak memiliki keturunan ‘Arab, bahkan meskipun ia seorang budak. 
[2] صَارَ هٰذَا الۡأَصۡلُ لَا يُعۡرَفُ عِنۡدَ كَثِيرٍ مِمَّنۡ يَدَّعِي الۡعِلۡمَ، فَيَجۡهَلُونَ مَسۡأَلَةَ السَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ وَمَا لَهَا مِنۡ فَضۡلٍ وَمَا لَهَا مِنۡ أَهَمِّيَةٍ، فَكَيۡفَ بِالۡعَوَامِّ وَهُمۡ أَشَدُّ جَهۡلًا فِي هٰذَا؟ 
Pondasi ini menjadi tidak dikenal oleh sebagian besar orang yang mengaku berilmu. Mereka tidak mengerti permasalahan mendengar dan taat kepada pemerintah, keutamaan serta urgensi perkara ini. Lalu bagaimana dengan orang awam, mereka lebih tidak mengerti dalam perkara ini. 
فَصَارَ الشُّجَاعُ -الَّذِي يَأۡمُرُ بِالۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَى عَنِ الۡمُنۡكَرِ عِنۡدَهُمۡ وَالَّذِي لَا تَأۡخُذُهُ فِي اللهِ لَوۡمَةَ لَائِمٍ، عِنۡدَهُمۡ-: هُوَ الَّذِي يَخۡرُجُ عَلَى إِمَامِ الۡمُسۡلِمِينَ، وَيَخۡلَعُ يَدَ الطَّاعَةِ، وَيُنَادِي بِالثَّوۡرَةِ عَلَى الۡحُكَّامِ الۡمُسۡلِمِينَ بِمُجَرَّدِ حُصُولِ خَطَأٍ مِنۡهُمۡ، أَوۡ مَعۡصِيَةٍ لَا تَصِلُ إِلَى حَدِّ الۡكُفۡرِ. 
Keadaan sekarang berubah menjadi pengertian orang yang pemberani –yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan tidak mempedulikan celaan para pencela- menurut mereka adalah orang yang keluar menentang pemimpin muslimin, melepas ketaatan, menyeru untuk memberontak kepada pemerintah muslimin hanya karena adanya kesalahan pada diri sebagian mereka atau adanya suatu maksiat yang tidak sampai kepada kekufuran. 
وَصَارَ حَدِيثُ الۡمَجَالِسِ وَالنَّدَوَاتِ وَالۡمُحَاضَرَاتِ فِي تَتَبُّعِ عَثۡرَاتِ الۡوُلَاةِ وَتَفۡخِيمِهَا وَالنَّفۡخِ فِيهَا، حَتَّى يَئُولَ الۡأَمۡرُ إِلَى تَفَرُّقِ الۡكَلِمَةِ، وَتَنۡفِيرِ الرَّعِيَّةِ مِنۡ طَاعَةِ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ حَتَّى يَخۡتَلَّ الۡأَمۡنُ وَتُسۡفَكَ الدِّمَاءُ، وَيَئُولَ الۡأَمۡرُ إِلَى فَسَادٍ أَشَدَّ مِنَ الۡفَسَادِ الَّذِي يَحۡصُلُ مِنَ الصَّبۡرِ عَلَى طَاعَةِ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ الۡفَاسِقِ وَالظَّالِمِ الَّذِي عِنۡدَهُمۡ لَمۡ يَصۡدُرۡ مِنۡهُ كُفۡرٌ بَوَّاحٌ عِنۡدَهُمۡ عَلَيۡهِ مِنَ اللهِ سُلۡطَانُ. 
Dan topik pembicaraan di majlis-majlis, orasi-orasi, dan ceramah-ceramah menjadi mencari-cari ketergelinciran para pemimpin lalu membesar-besarkannya. Akibatnya kondisi berubah menjadi perpecahan dan menjauhkan rakyat dari mentaati pemimpin sehingga keamanan hilang dan darah tertumpah. Dan kondisi berubah menjadi kerusakan yang lebih parah daripada kerusakan akibat dari kesabaran dalam mentaati pemerintah yang fasik dan zhalim yang belum nampak kekafiran yang nyata, yang mereka memiliki bukti dari Allah tentangnya.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 230

٢٣٠ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي جَعۡفَرٍ، قَالَ: تَمَارَيۡنَا فِي الۡغُسۡلِ عِنۡدَ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، فَقَالَ جَابِرٌ: يَكۡفِي مِنَ الۡغُسۡلِ مِنَ الۡجَنَابَةِ صَاعٌ مِنۡ مَاءٍ؟ قُلۡنَا: مَا يَكۡفِي صَاعٌ وَلَا صَاعَانِ، قَالَ جَابِرٌ: قَدۡ كَانَ يَكۡفِي مَنۡ كَانَ خَيۡرًا مِنۡكُمۡ وَأَكۡثَرَ شَعۡرًا! [(صحيح الأدب المفرد)(٧٥٣): ق].
230. Qutaibah bin Sa'id telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Abul Ahwash menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Abu Ja'far, beliau berkata: Kami saling berdebat tentang mandi di sisi Jabir bin 'Abdullah. Jabir berkata: Satu sha' air cukup untuk mandi junub. Kami katakan: Satu dan dua sha' air tidak cukup. Lantas Jabir berkata: Sungguh satu sha' air sudah cukup untuk orang yang lebih baik dan lebih banyak rambutnya daripada kalian.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 255

٢٥٥ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مِخۡوَلِ بۡنِ رَاشِدٍ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُفۡرِغُ عَلَى رَأۡسِهِ ثَلَاثًا. [طرفه في: ٢٥٢].
255. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ghundar menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Mikhwal bin Rasyid, dari Muhammad bin 'Ali, dari Jabir bin 'Abdullah, beliau berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa menuangkan air ke kepala beliau sebanyak tiga kali.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 252

٢٥٢ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ آدَمَ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيۡرٌ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو جَعۡفَرٍ، أَنَّهُ كَانَ عِنۡدَ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ هُوَ وَأَبُوهُ، وَعِنۡدَهُ قَوۡمٌ، فَسَأَلُوهُ عَنِ الۡغُسۡلِ، فَقَالَ: يَكۡفِيكَ صَاعٌ. فَقَالَ رَجُلٌ: مَا يَكۡفِينِي، فَقَالَ جَابِرٌ: كَانَ يَكۡفِي مَنۡ هُوَ أَوۡفَى مِنۡكَ شَعَرًا وَخَيۡرٌ مِنۡكَ، ثُمَّ أَمَّنَا فِي ثَوۡبٍ. [الحديث ٢٥٢ – طرفاه في: ٢٥٥، ٢٥٦].
252. 'Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami, beliau berkata: Zuhair menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, beliau berkata: Abu Ja'far menceritakan kepada kami, bahwa beliau dan ayahnya pernah bersama Jabir bin 'Abdullah. Waktu itu, bersama Jabir ada orang-orang. Mereka bertanya kepada beliau tentang mandi. Beliau mengatakan: Satu sha' air cukup untukmu. Seseorang berkata: Satu sha' tidak cukup untukku. Maka Jabir mengatakan: Satu sha' itu cukup untuk orang yang lebih banyak rambutnya dan lebih baik daripada engkau. Kemudian Jabir mengimami kami dengan mengenakan satu pakaian.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 191

١٢٩ – بَابُ وُجُوبِ الۡغُسۡلِ إِذَا الۡتَقَى الۡخِتَانَانِ

129. Bab wajibnya mandi apabila dua khitan telah bersentuhan

١٩١ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ، قَالَ: سَمِعۡتُ الۡحَسَنَ يُحَدِّثُ عَنۡ أَبِي رَافِعٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا جَلَسَ بَيۡنَ شُعَبِهَا الۡأَرۡبَعِ، ثُمَّ اجۡتَهَدَ؛ فَقَدۡ وَجَبَ الۡغُسۡلُ). [(ابن ماجه)(٦١٠)، (إرواء الغليل)(٨٠ و ١٢٧)، ق].
191. Muhammad bin 'Abdul A'la telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Khalid menceritakan kepada kami, beliau berkata: Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, beliau berkata: Aku mendengar Al-Hasan menceritakan dari Abu Rafi', dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya lalu ia bersungguh-sungguh, maka sungguh telah wajib mandi.”

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 610

٦١٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡفَضۡلُ بۡنُ دُكَيۡنٍ، عَنۡ هِشَامٍ الدُّسۡتُوَائِيِّ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ أَبِي رَافِعٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا جَلَسَ الرَّجُلُ بَيۡنَ شُعَبِهَا الۡأَرۡبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدۡ وَجَبَ الۡغُسۡلُ). [(صحيح أبي داود)(٢٠٩)، (الإرواء)(١/ ١٢٢): ق].
610. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Fadhl bin Dukain menceritakan kepada kami, dari Hisyam Ad-Dustuwa`i, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Abu Rafi', dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda, “Jika seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya, lalu ia bersungguh-sungguh kepadanya, maka sungguh telah wajib mandi.”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 192

١٩٢ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ يَعۡقُوبَ بۡنِ إِسۡحَاقَ الۡجُوزَجَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَشۡعَثُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمَلِكِ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا قَعَدَ بَيۡنَ شُعَبِهَا الۡأَرۡبَعِ، ثُمَّ اجۡتَهَدَ؛ فَقَدۡ وَجَبَ الۡغُسۡلُ) قَالَ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ: هٰذَا خَطَأٌ وَالصَّوَابُ أَشۡعَثُ عَنِ الۡحَسَنِ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، وَقَدۡ رَوَى الۡحَدِيثَ عَنۡ شُعۡبَةَ النَّضۡرُ بۡنُ شُمَيۡلٍ وَغَيۡرُهُ كَمَا رَوَاهُ خَالِدٌ. [انظر ما قبله].
192. Ibrahim bin Ya'qub bin Ishaq Al-Juzajani telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: 'Abdullah bin Yusuf menceritakan kepadaku, beliau berkata: 'Isa bin Yunus menceritakan kepada kami, beliau berkata: Asy'ats bin 'Abdul Malik menceritakan kepada kami, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya, lalu ia bersungguh-sungguh, maka sungguh telah wajib mandi.” Abu 'Abdurrahman berkata: Ini keliru. Yang benar adalah Asy'ats dari Al-Hasan dari Abu Hurairah, dan An-Nadhr bin Syumail dan selain beliau telah meriwayatkan hadits ini dari Syu'bah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Khalid.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 216

٢١٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسۡلِمُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ الۡفَرَاهِيدِيُّ، قَالَ: ثَنَا هِشَامٌ وَشُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ أَبِي رَافِعٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا قَعَدَ بَيۡنَ شُعَبِهَا الۡأَرۡبَعِ، وَأَلۡزَقَ الۡخِتَانَ بِالۡخِتَانِ، فَقَدۡ وَجَبَ الۡغُسۡلُ). [ق].
216. Muslim bin Ibrahim Al-Farahidi telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Hisyam dan Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Abu Rafi', dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika seseorang telah duduk di antara empat cabang istrinya dan khitan suami telah bersentuhan dengan khitan istri, maka sungguh telah wajib mandi.”

Shahih Muslim hadits nomor 348

٢٢ – بَابُ نَسۡخِ (الۡمَاءُ مِنَ الۡمَاءِ)، وَوُجُوبِ الۡغُسۡلِ بِالۡتِقَاءِ الۡخِتَانَيۡنِ

22. Bab dihapusnya hukum “Air (mandi junub) itu dari air (keluarnya mani)” dan wajibnya mandi karena bersentuhannya dua khitan

٨٧ – (٣٤٨) – وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَأَبُو غَسَّانَ الۡمِسۡمَعِيُّ. (ح) وَحَدَّثَنَاهُ مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ وَابۡنُ بَشَّارٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ هِشَامٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ قَتَادَةَ وَمَطَرٌ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ أَبِي رَافِعٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا جَلَسَ بَيۡنَ شُعَبِهَا الۡأَرۡبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدۡ وَجَبَ عَلَيۡهِ الۡغُسۡلُ).
وَفِي حَدِيثِ مَطَرٍ: (وَإِنۡ لَمۡ يُنۡزِلۡ).
قَالَ زُهَيۡرٌ مِنۡ بَيۡنِهِمۡ: (بَيۡنَ أَشۡعُبِهَا الۡأَرۡبَعِ).
87. (348). Zuhair bin Harb dan Abu Ghassan Al-Misma'i telah menceritakan kepadaku. (Dalam riwayat lain) Muhammad ibnul Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan hadits ini kepada kami, mereka berkata: Mu'adz bin Hisyam menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Qatadah dan Mathar menceritakan kepadaku dari Al-Hasan, dari Abu Rafi', dari Abu Hurairah: Bahwa Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya, lalu ia bersungguh-sungguh padanya, maka sungguh dia wajib mandi.”
Di dalam hadits Mathar, “Meskipun tidak keluar mani.”
Zuhair di antara mereka berkata: “Di antara empat cabang-cabang istrinya.”
(…) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ عَبَّادِ بۡنِ جَبَلَةَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي عَدِيٍّ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنِي وَهۡبُ بۡنُ جَرِيرٍ، كِلَاهُمَا عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ. غَيۡرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ شُعۡبَةَ: (ثُمَّ اجۡتَهَدَ) وَلَمۡ يَقُلۡ: (وَإِنۡ لَمۡ يُنۡزِلۡ).
Muhammad bin 'Amr bin 'Abbad bin Jabalah telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Abu 'Adi menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Wahb bin Jarir menceritakan kepadaku, keduanya dari Syu'bah, dari Qatadah, dengan sanad ini... semisal ini. Namun di dalam hadits Syu'bah lafazhnya, “tsumma ijtahada (lalu ia bersungguh-sungguh)” dan beliau tidak mengatakan, “Meskipun tidak keluar mani.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 291

٢٨ – بَابٌ إِذَا الۡتَقَى الۡخِتَانَانِ

28. Bab apabila dua khitan telah bersentuhan

٢٩١ – حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ فَضَالَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ أَبِي رَافِعٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا جَلَسَ بَيۡنَ شُعَبِهَا الۡأَرۡبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدۡ وَجَبَ الۡغُسۡلُ). تَابَعَهُ عَمۡرُو بۡنُ مَرۡزُوقٍ، عَنۡ شُعۡبَةَ: مِثۡلَهُ. وَقَالَ مُوسَى: حَدَّثَنَا أَبَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: أَخۡبَرَنَا الۡحَسَنُ: مِثۡلَهُ.
291. Mu'adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Hisyam menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Abu Rafi', dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya, lalu ia bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib mandi.” 'Amr bin Marzuq mengiringi hadits ini, dari Syu'bah semisal hadits ini. Musa berkata: Aban menceritakan kepada kami, beliau berkata: Qatadah menceritakan kepada kami: Al-Hasan mengabarkan kepada kami semisal hadits ini.

At-Tuhfatus Saniyyah - Jenis-jenis Maf'ul Mutlak

أَنۡوَاعُ الۡمَفۡعُولِ الۡمُطۡلَقِ

وَهُوَ قِسْمَانِ: لَفْظِيٌّ وَمَعْنَوِيٌّ، فَإِنْ وَافَقَ لَفْظُهُ لَفْظَ فِعْلِهِ فَهُوَ لَفْظِيٌّ، نَحْوُ: قَتَلْتُهُ قَتْلًا، وَإِنْ وَافَقَ مَعْنَى فِعْلِهِ دُونَ لَفْظِهِ فَهُوَ مَعْنَوِيٌّ، نَحْوُ: جَلَسْتُ قُعُودًا، وَقُمْتُ وُقُوفًا، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.
Maf’ul mutlak ada dua bagian: lafzhi dan maknawi. Jika lafazh maf’ul mutlak sama dengan lafazh fi’ilnya maka ini adalah lafzhi. Contoh: قَتَلۡتُهُ قَتۡلًا. Dan jika maknanya yang sama sedangkan lafazhnya tidak, maka ini adalah maknawi. Contoh: جَلَسۡتُ قُعُودًا dan قُمۡتُ وُقُوفًا, serta yang semisal itu.
وَأَقُولُ: يَنۡقَسِمُ الۡمَصۡدَرُ الَّذِي يُنۡصَبُ عَلَى أَنَّهُ مَفۡعُولٌ مُطۡلَقٌ إِلَى قِسۡمَيۡنِ:
الۡقِسۡمُ الۡأَوَّلُ: مَا يُوَافِقُ الۡفِعۡلَ النَّاصِبَ لَهُ فِي لَفۡظِهِ، بِأَنۡ يَكُونَ مُشۡتَمِلًا عَلَى حُرُوفِهِ، وَفِي مَعۡنَاهُ أَيۡضًا بِأَنۡ يَكُونَ الۡمَعۡنَى الۡمُرَادُ مِنَ الۡفِعۡلِ هُوَ الۡمَعۡنَى الۡمُرَادُ مِنَ الۡمَصۡدَرِ، وَذٰلِكَ نَحۡوُ: (قَعَدۡتُ قُعُودًا)، وَ(ضَرَبۡتُهُ ضَرۡبًا) وَ(ذَهَبۡتُ ذَهَابًا) وَمَا أَشۡبَهَ ذٰلِكَ.
الۡقِسۡمُ الثَّانِي: مَا يُوَافِقُ الۡفِعۡلَ النَّاصِبَ لَهُ فِي مَعۡنَاهُ، وَلَا يُوَافِقُهُ فِي حُرُوفِهِ، بِأَنۡ تَكُونَ حُرُوفُ الۡمَصۡدَرِ غَيۡرَ حُرُوفِ الۡفِعۡلِ، وذٰلِكَ نَحۡوُ: (جَلَسۡتُ قُعُودًا) فَإِنَّ مَعۡنَى (جَلَسَ) هُوَ مَعۡنَى الۡقُعُودِ، وَلَيۡسَتۡ حُرُوفُ الۡكَلِمَتَيۡنِ وَاحِدَةً، وَمِثۡلُ ذٰلِكَ (فَرِحۡتُ جَذَلًا) وَ(ضَرَبۡتُهُ لَكۡمًا)، وَ(أَهَنۡتُهُ احۡتِقَارًا)، وَ(قُمۡتُ وُقُوفًا) وَمَا أَشۡبَهَ ذٰلِكَ، وَاللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى أَعۡلَى وَأَعۡلَمُ.
Mashdar yang dinashab sebagai maf’ul mutlak terbagi menjadi dua bagian:
  1. Lafazhnya sama dengan fi’il yang menashabkannya.Yaitu lafazhnya mengandung huruf-huruf fi’ilnya dan makna yang dinginkan fi’il sama dengan makna yang diinginkan oleh mashdar. Contoh: قَعَدۡتُ قُعُودًا, ضَرَبۡتُهُ ضَرۡبًا, ذَهَبۡتُ ذَهَابًا, dan yang serupa dengan itu.
  2. Maknanya sama dengan fi’il yang menashabkannya, namun tidak sama dalam huruf-hurufnya, yaitu huruf mashdar berbeda dengan huruf fi’il. Contoh: جَلَسۡتُ قُعُودًا, karena makna جَلَسَ sama dengan makna الۡقُعُود, dan huruf dua kata tersebut tidak sama. Contoh lain: فَرِحۡتُ جَذَلًا, ضَرَبۡتُهُ لَكۡمًا, أَهَنۡتُهُ احۡتِقَارًا, قُمۡتُ وُقُوفًا, dan yang serupa dengan itu. Dan Allah subhanahu wa ta’ala maha tinggi dan maha mengetahui.