Shahih Muslim hadits nomor 56

٩٧ - (٥٦) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ نُمَيۡرٍ وَأَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنۡ قَيۡسٍ، عَنۡ جَرِيرٍ، قَالَ: بَايَعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ.
[البخاري: كتاب الإيمان، باب قول النبي ﷺ: (الدين النصيحة...)، رقم: ٥٧].
97. (56). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Numair dan Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Abu Khalid, dari Qais, dari Jarir. Beliau mengatakan: Aku membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap muslim.
٩٨ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ زِيَادِ بۡنِ عِلَاقَةَ، سَمِعَ جَرِيرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ يَقُولُ: بَايَعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ عَلَى النُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ.
[البخاري: كتاب الإيمان، باب قول النبي ﷺ: (الدين النصيحة...)، رقم: ٥٨].
98. Abu Bakr bin Abu Syaibah, Zuhair bin Harb, dan Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ziyad bin ‘Ilaqah. Beliau mendengar Jarir bin ‘Abdullah mengatakan: Aku membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menasihati setiap muslim.
٩٩ - (...) - حَدَّثَنَا سُرَيۡجُ بۡنُ يُونُسَ وَيَعۡقُوبُ الدَّوۡرَقِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ عَنۡ سَيَّارٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ جَرِيرٍ، قَالَ: بَايَعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ عَلَى السَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، فَلَقَّنَنِي: (فِيمَا اسۡتَطَعۡتَ)، وَالنُّصۡحِ لِكُلِّ مُسۡلِمٍ.
قَالَ يَعۡقُوبُ فِي رِوَايَتِهِ: قَالَ: حَدَّثَنَا سَيَّارٌ.
[البخاري: كتاب الأحكام، باب كيف يبايع الإمام الناس، رقم: ٦٧٧٨].
99. Suraij bin Yunus dan Ya’qub Ad-Dauraqi telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Husyaim menceritakan kepada kami dari Sayyar, dari Asy-Sya’bi, dari Jarir. Beliau mengatakan: Aku membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, lalu beliau menuntunku untuk mengucapkan, “Pada hal yang aku mampu,” serta untuk menasihati setiap muslim.
Ya’qub berkata di dalam riwayatnya: Beliau berkata: Sayyar menceritakan kepada kami.

Shahih Muslim hadits nomor 54

٢٢ - بَابُ بَيَانِ أَنَّهُ لَا يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ إِلَّا الۡمُؤۡمِنُونَ، وَأَنَّ مَحَبَّةَ الۡمُؤۡمِنِينَ مِنَ الۡإِيمَانِ، وَأَنَّ إِفۡشَاءَ السَّلَامِ سَبَبًا لِحُصُولِهَا
22. Bab keterangan bahwa tidak masuk surga kecuali kaum mukminin, mencintai kaum mukminin adalah bagian dari iman, dan bahwa menyebarkan salam merupakan sebab untuk mewujudkannya

٩٣ - (٥٤) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تَدۡخُلُونَ الۡجَنَّةَ حَتَّى تُؤۡمِنُوا، وَلَا تُؤۡمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمۡ عَلَى شَيۡءٍ إِذَا فَعَلۡتُمُوهُ تَحَابَبۡتُمۡ؟ أَفۡشُوا السَّلَامَ بَيۡنَكُمۡ).
93. (54). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah dan Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian suatu perbuatan jika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.”
٩٤ - (...) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: أَنۡبَأَنَا جَرِيرٌ عَنِ الۡأَعۡمَشِ بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَا تَدۡخُلُونَ الۡجَنَّةَ حَتَّى تُؤۡمِنُوا...) بِمِثۡلِ حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٍ.
94. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Jarir memberitakan kepada kami dari Al-A’masy melalui sanad ini. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman…” Semisal hadis Abu Mu’awiyah dan Waki’.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2

٢ – بَابٌ
2. Bab

٢ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ الۡحَارِثَ بۡنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيۡفَ يَأۡتِيكَ الۡوَحۡيُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَحۡيَانًا يَأۡتِينِي مِثۡلَ صَلۡصَلَةِ الۡجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيُفۡصَمُ عَنِّي وَقَدۡ وَعَيۡتُ عَنۡهُ مَا قَالَ، وَأَحۡيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ الۡمَلَكُ رَجُلًا، فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ)، قَالَتۡ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: وَلَقَدۡ رَأَيۡتُهُ يَنۡزِلُ عَلَيۡهِ الۡوَحۡيُ فِي الۡيَوۡمِ الشَّدِيدِ البَرۡدِ، فَيَفۡصِمُ عَنۡهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا. [الحديث ٢ – طرفه في: ٣٢١٥].
2. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Malik mengabarkan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah ibunda kaum mukminin radhiyallahu ‘anha:
Bahwa Al-Harits bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu datang kepadamu?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Terkadang wahyu datang kepadaku seperti dentang genta dan itu yang aku rasa paling berat. Dan ketika telah selesai, aku telah menghafal apa yang dia (Jibril) katakan. Terkadang malaikat menjelma menjadi seorang pria kepadaku, lalu dia berbicara kepadaku, lalu aku menghafal apa yang dia katakan.”
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Aku sungguh pernah melihat beliau ketika wahyu turun kepada beliau di hari yang sangat dingin. Dan ketika selesai, beliau dalam keadaan keningnya bersimbah peluh.”

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4258

٣١ - بَابُ ذِكۡرِ الۡمَوۡتِ وَالۡاسۡتِعۡدَادِ لَهُ
31. Bab mengingat mati dan bersiap-siap untuknya

٤٢٥٨ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ غَيۡلَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡفَضۡلُ بۡنُ مُوسَى، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَكۡثِرُوا مِنۡ ذِكۡرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ) يَعۡنِي الۡمَوۡتَ. [(المشكاة)(١٦١٠)، (الإرواء)(٦٨٢)].
4258. Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-Fadhl bin Musa menceritakan kepada kami dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan.” Yakni kematian.

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 1824

٣ - كَثۡرَةُ ذِكۡرِ الۡمَوۡتِ
3. Banyak mengingat mati

١٨٢٤ – (حسن صحيح) أَخۡبَرَنَا الۡحُسَيۡنُ بۡنُ حُرَيۡثٍ قَالَ: أَنۡبَأَنَا الۡفَضۡلُ بۡنُ مُوسَى عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرٍو ح وَأَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡمُبَارَكِ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ: أَنۡبَأَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرٍو عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَكۡثِرُوا ذِكۡرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ). [(ابن ماجه)(٤٢٥٨)].
1824. Al-Husain bin Huraits telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Al-Fadhl bin Musa memberitakan kepada kami dari Muhammad bin ‘Amr. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin ‘Abdullah bin Al-Mubarak telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Yazid menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad bin Ibrahim memberitakan kepada kami dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus berbagai kelezatan.”

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2307

٤ - بَابُ مَا جَاءَ فِي ذِكۡرِ الۡمَوۡتِ
4. Bab tentang mengingat kematian

٢٣٠٧ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ غَيۡلَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡفَضۡلُ بۡنُ مُوسَى، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَكۡثِرُوا ذِكۡرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ). يَعۡنِي الۡمَوۡتَ. وَفِي الۡبَابِ عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ. هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ [صَحِيحٌ] غَرِيبٌ. [(ابن ماجه)(٤٢٥٨)].
2307. Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-Fadhl bin Musa menceritakan kepada kami dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus berbagai kelezatan.” Yakni kematian. Di dalam bab ini ada riwayat dari Abu Sa’id. Ini adalah hadis hasan sahih garib.

Shahih Muslim hadits nomor 53

٩٢ - (٥٣) - وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡحَارِثِ الۡمَخۡزُومِيُّ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو الزُّبَيۡرِ: أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (غِلَظُ الۡقُلُوبِ وَالۡجَفَاءُ فِي الۡمَشۡرِقِ، وَالۡإِيمَانُ فِي أَهۡلِ الۡحِجَازِ).
92. (53). Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Al-Harits Al-Makhzumi mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij. Beliau berkata: Abu Az-Zubair mengabarkan kepadaku: Bahwa beliau mendengar Jabir bin ‘Abdullah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kerasnya hati dan sikap kasar ada di masyrik, sedangkan iman ada pada penduduk Hijaz.”

Shahih Muslim hadits nomor 52

٨٢ - (٥٢) - حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهۡرَانِيُّ: أَنۡبَأَنَا حَمَّادٌ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (جَاءَ أَهۡلُ الۡيَمَنِ، هُمۡ أَرَقُّ أَفۡئِدَةً: الۡإِيمَانُ يَمَانٍ، وَالۡفِقۡهُ يَمَانٍ، وَالۡحِكۡمَةُ يَمَانِيَةٌ).
82. (52). Abu Ar-Rabi’ Az-Zahrani telah menceritakan kepada kami: Hammad memberitakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami: Muhammad menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang penduduk Yaman. Mereka paling lembut hatinya. Iman ada pada penduduk Yaman, fikih ada pada penduduk Yaman, dan hikmah ada pada penduduk Yaman.”
٨٣ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ. (ح) وَحَدَّثَنِي عَمۡرٌو النَّاقِدُ: حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ يُوسُفَ الۡأَزۡرَقُ، كِلَاهُمَا عَنِ ابۡنِ عَوۡنٍ، عَنۡ مُحَمَّدٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ... بِمِثۡلِهِ.
83. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Amr An-Naqid telah menceritakan kepadaku: Ishaq bin Yusuf Al-Azraq menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Ibnu ‘Aun, dari Muhammad, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda… semisal hadis tersebut.
٨٤ – (...) – وَحَدَّثَنِي عَمۡرٌو النَّاقِدُ وَحَسَنٌ الۡحُلۡوَانِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ – وَهُوَ ابۡنُ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ سَعۡدٍ -: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَتَاكُمۡ أَهۡلُ الۡيَمَنِ، هُمۡ أَضۡعَفُ قُلُوبًا وَأَرَقُّ أَفۡئِدَةً: الۡفِقۡهُ يَمَانٍ، وَالۡحِكۡمَةُ يَمَانِيَةٌ).
84. ‘Amr An-Naqid dan Hasan Al-Hulwani telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Al-A’raj. Beliau berkata: Abu Hurairah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penduduk Yaman telah mendatangi kalian. Mereka paling lunak hatinya dan paling lembut nuraninya. Fikih ada pada penduduk Yaman dan hikmah (ilmu) ada pada penduduk Yaman.”
٨٥ - (...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (رَأۡسُ الۡكُفۡرِ نَحۡوَ الۡمَشۡرِقِ، وَالۡفَخۡرُ وَالۡخُيَلَاءُ فِي أَهۡلِ الۡخَيۡلِ وَالۡإِبِلِ، الۡفَدَّادِينَ، أَهۡلِ الۡوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهۡلِ الۡغَنَمِ).
[البخاري: كتاب بدء الخلق، باب خير مال المسلم غنم...، رقم: ٣١٢٥].
85. Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku membaca di hadapan Malik dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puncak kekufuran ada di arah timur. Keangkuhan dan kesombongan ada pada pemilik kuda dan unta, yaitu orang-orang yang bersuara nyaring, pemilik bulu unta. Adapun ketenangan ada pada pemilik kambing.”
٨٦ - (...) - وَحَدَّثَنِي يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ وَقُتَيۡبَةُ وَابۡنُ حُجۡرٍ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ جَعۡفَرٍ، قَالَ ابۡنُ أَيُّوبَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ: قَالَ: أَخۡبَرَنِي الۡعَلَاءُ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (الۡإِيمَانُ يَمَانٍ، وَالۡكُفۡرُ قِبَلَ الۡمَشۡرِقِ، وَالسَّكِينَةُ فِي أَهۡلِ الۡغَنَمِ، وَالۡفَخۡرُ وَالرِّيَاءُ فِي الۡفَدَّادِينَ، أَهۡلِ الۡخَيۡلِ وَالۡوَبَرِ).
86. Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hujr telah menceritakan kepadaku dari Isma’il bin Ja’far. Ibnu Ayyub berkata: Isma’il menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-‘Ala` mengabarkan kepadaku dari ayahnya, dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman ada pada penduduk Yaman dan kekufuran ada di arah timur. Ketenangan ada pada pemilik kambing, sementara keangkuhan dan ria ada pada orang-orang yang bersuara nyaring, yaitu pemilik kuda dan bulu unta.”
٨٧ - (...) - وَحَدَّثَنِي حَرۡمَلَةُ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (الۡفَخۡرُ وَالۡخُيَلَاءُ فِي الۡفَدَّادِينَ أَهۡلِ الۡوَبَرِ، وَالسَّكِينَةُ فِي أَهۡلِ الۡغَنَمِ).
87. Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Yunus mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadaku: Bahwa Abu Hurairah mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keangkuhan dan kesombongan ada pada orang-orang yang bersuara nyaring, yaitu pemilik bulu unta. Sedangkan ketenangan ada pada pemilik kambing.”
٨٨ - (...) - وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الدَّارِمِيُّ: أَخۡبَرَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ وَزَادَ: (الۡإِيمَانُ يَمَانٍ، وَالۡحِكۡمَةُ يَمَانِيَةٌ).
[البخاري: كتاب المناقب، باب قول الله تعالى: ﴿يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى﴾...، رقم: ٣٣٠٨].
88. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ad-Darimi telah menceritakan kepada kami: Abu Al-Yaman mengabarkan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri melalui sanad ini… semisal hadis tersebut. Beliau menambahkan, “Iman ada pada penduduk Yaman dan hikmah (ilmu) ada pada penduduk Yaman.”
٨٩ - (...) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ: أَخۡبَرَنَا أَبُو الۡيَمَانِ، عَنۡ شُعَيۡبٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: حَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ الۡمُسَيِّبِ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (جَاءَ أَهۡلُ الۡيَمَنِ، هُمۡ أَرَقُّ أَفۡئِدَةً وَأَضۡعَفُ قُلُوبًا، الۡإِيمَانُ يَمَانٍ وَالۡحِكۡمَةُ يَمَانِيَةٌ، السَّكِينَةُ فِي أَهۡلِ الۡغَنَمِ، وَالۡفَخۡرُ وَالۡخُيَلَاءُ فِي الۡفَدَّادِينَ أَهۡلِ الۡوَبَرِ، قِبَلَ مَطۡلِعِ الشَّمۡسِ).
89. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman telah menceritakan kepada kami: Abu Al-Yaman mengabarkan kepada kami dari Syu’aib, dari Az-Zuhri: Sa’id bin Al-Musayyib menceritakan kepadaku: Bahwa Abu Hurairah mengatakan: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penduduk Yaman telah datang. Mereka adalah orang yang paling lembut hatinya dan paling lunak kalbunya. Iman ada pada penduduk Yaman dan hikmah ada pada penduduk Yaman. Ketenangan ada pada pemilik kambing, sedangkan kebanggaan dan keangkuhan ada pada orang-orang yang bersuara nyaring, para pemilik bulu unta, di arah terbitnya matahari.”
٩٠ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَتَاكُمۡ أَهۡلُ الۡيَمَنِ، هُمۡ أَلۡيَنُ قُلُوبًا وَأَرَقُّ أَفۡئِدَةً، الۡإِيمَانُ يَمَانٍ وَالۡحِكۡمَةُ يَمَانِيَةٌ، رَأۡسُ الۡكُفۡرِ قِبَلَ الۡمَشۡرِقِ).
90. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penduduk Yaman telah mendatangi kalian. Mereka paling lembut kalbunya dan paling halus hatinya. Iman ada pada penduduk Yaman dan hikmah (ilmu) ada pada penduduk Yaman. Sedangkan puncak kekufuran ada di arah masyrik.”
(...) - وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنِ الۡأَعۡمَشِ... بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ: (رَأۡسُ الۡكُفۡرِ قِبَلَ الۡمَشۡرِقِ).
Qutaibah bin Sa’id dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Al-A’masy… melalui sanad ini. Namun beliau tidak menyebutkan, “Puncak kekufuran ada di arah masyrik.”
٩١ - (...) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ. (ح) وَحَدَّثَنِي بِشۡرُ بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ - يَعۡنِي ابۡنَ جَعۡفَرٍ - قَالَا: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ مِثۡلَ حَدِيثِ جَرِيرٍ.
وَزَادَ: (وَالۡفَخۡرُ وَالۡخُيَلَاءُ فِي أَصۡحَابِ الۡإِبِلِ، وَالسَّكِينَةُ وَالۡوَقَارُ فِي أَصۡحَابِ الشَّاءِ).
[البخاري: كتاب المغازي، باب قدوم الأشعريين وأهل اليمن، رقم: ٤١٢٧].
91. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Bisyr bin Khalid telah menceritakan kepadaku: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy melalui sanad ini semisal hadis Jarir.
Beliau menambahkan, “Keangkuhan dan kesombongan ada pada pemilik unta, sedangkan ketenteraman dan ketenangan ada pada pemilik kambing.”

Al-Isti'ab - 1843. 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani

١٨٤٣ – عَقۡبَةُ بۡنُ عَامِرٍ الۡجُهَنِيُّ
1843. ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani

عُقۡبَةُ بۡنُ عَامِرِ بۡنِ عَبۡسٍ الۡجُهَنِيُّ، مِنۡ جُهَيۡنَةَ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ سَوۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ اِلۡحَافِ بۡنِ قُضَاعَةَ.
‘Uqbah bin ‘Amir bin ‘Abs Al-Juhani dari Juhainah bin Zaid bin Saud bin Aslam bin ‘Amr bin Ilhaf bin Qudha’ah.
وَقَدۡ اخۡتُلِفَ فِي هَٰذَا النَّسَبِ عَلَى مَا ذَكَرۡنَا فِي (كِتَابِ الۡقَبَائِلِ) وَالۡحَمۡدُ لِلهِ. يُكۡنَى أَبَا حَمَّادٍ: وَقِيلَ: أَبَا أُسَيۡدٍ. وَقِيلَ: أَبَا عَمۡرٍو، وَقِيلَ: أَبَا سَعۡدٍ. وَقِيلَ: أَبَا الۡأَسۡوَدِ، وَقِيلَ أَبَا عَمَّارٍ. وَقِيلَ أَبَا عَامِرٍ.
Telah diperselisihkan pada nasab ini sesuai apa yang telah kita sebutkan di dalam kitab Al-Qaba`il, alhamdulillah. Beliau dipanggil dengan kunyah Abu Hammad. Ada yang mengatakan: Abu Usaid, Abu ‘Amr, Abu Sa’d, Abu Al-Aswad, Abu ‘Ammar, dan Abu ‘Amir.
ذَكَرَ خَلِيفَةُ بۡنُ خَيَّاطٍ قَالَ: قُتِلَ أَبُو عَامِرٍ عُقۡبَةُ بۡنُ عَامِرٍ الۡجُهَنِيُّ يَوۡمَ النَّهۡرَوَانِ شَهِيدًا، وَذٰلِكَ سَنَةَ ثَمَانٍ وَثَلَاثِينَ، وَهَٰذَا غَلَطٌ مِنۡهُ، وَفِي كِتَابِهِ بَعۡدُ: وَفِي سَنَةِ ثَمَانٍ وَخَمۡسِينَ تُوُفِّيَ عُقۡبَةُ بۡنُ عَامِرٍ الۡجُهَنِيُّ.
Khalifah bin Khayyath menyebutkan dengan berkata: Abu ‘Amir ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani terbunuh pada hari Nahrawan sebagai syahid. Kejadian itu pada tahun 38 hijriah. Namun, ini adalah kekeliruan dari beliau. Di dalam kitab beliau setelah itu: Dan pada tahun 58 hijriah ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani wafat.
قَالَ أَبُو عُمَرَ: سَكَنَ عُقۡبَةُ بۡنُ عَامِرٍ مِصۡرَ، وَكَانَ وَالِيًا عَلَيۡهَا، وَابۡتَنَى بِهَا دَارًا، وَتُوُفِّيَ فِي آخِرِ خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ؛ رَوَى عَنۡهُ مِنَ الصَّحَابَةِ جَابِرٌ، وَابۡنُ عَبَّاسٍ، وَأَبُو أُمَامَةَ. وَمَسۡلَمَةُ بۡنُ مُخَلَّدٍ؛ وَأَمَّا رُوَاتُهُ مِنَ التَّابِعِينَ فَكَثِيرٌ.
Abu ‘Umar berkata: ‘Uqbah bin ‘Amir tinggal di Mesir, pernah menjadi penguasanya, dan membangun sebuah rumah di sana. Beliau wafat di akhir kekhilafahan Mu’awiyah. Sahabat yang meriwayatkan dari beliau adalah Jabir, Ibnu ‘Abbas, Abu Umamah, dan Maslamah bin Mukhallad. Adapun periwayat beliau dari kalangan tabiin ada banyak.
قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: سَمِعۡتُ يَحۡيَى بۡنَ مَعِينٍ يَقُولُ: عُقۡبَةُ بۡنُ عَامِرٍ الۡجُهَنِيُّ كُنۡيَتُهُ أَبُو حَمَّادٍ. وَكَذٰلِكَ قَالَ ابۡنُ لَهِيعَةَ.
Ibnu ‘Abbas berkata: Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani, kunyah beliau adalah Abu Hammad. Seperti itu pula yang dikatakan oleh Ibnu Lahi’ah.

Shahih Muslim hadits nomor 51

٢١ - بَابُ تَفَاضُلِ أَهۡلِ الۡإِيمَانِ فِيهِ، وَرُجۡحَانِ أَهۡلِ الۡيَمَنِ فِيهِ
21. Bab bertingkat-tingkatnya keimanan kaum mukminin dan keunggulan penduduk Yaman dalam hal ini

٨١ - (٥١) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ إِدۡرِيسَ، كُلُّهُمۡ عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ حَبِيبٍ الۡحَارِثِيُّ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرٌ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ، قَالَ: سَمِعۡتُ قَيۡسًا يَرۡوِي عَنۡ أَبِي مَسۡعُودٍ، قَالَ: أَشَارَ النَّبِيُّ ﷺ بِيَدِهِ نَحۡوَ الۡيَمَنِ، فَقَالَ: (أَلَا إِنَّ الۡإِيمَانَ هٰاهُنَا، وَإِنَّ الۡقَسۡوَةَ وَغِلَظَ الۡقُلُوبِ فِي الۡفَدَّادِينَ، عِنۡدَ أُصُولِ أَذۡنَابِ الۡإِبِلِ، حَيۡثُ يَطۡلُعُ قَرۡنَا الشَّيۡطَانِ فِي رَبِيعَةَ، وَمُضَرَ).
[البخاري: كتاب بدء الخلق، باب خير مال المسلم غنم...، رقم: ٣١٢٦].
81. (51). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Ibnu Idris menceritakan kepada kami. Mereka semuanya dari Isma’il bin Abu Khalid. (Dalam riwayat lain) Yahya bin Habib Al-Haritsi telah menceritakan kepada kami—lafal hadis ini milik beliau—: Mu’tamir menceritakan kepada kami dari Isma’il. Beliau berkata: Aku mendengar Qais meriwayatkan dari Abu Mas’ud. Beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya ke arah Yaman, lantas beliau bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya iman itu ada di sini dan sesungguhnya keras dan kakunya hati ada pada orang yang bersuara nyaring (yaitu penggembala unta) ketika berada di dekat pangkal ekor unta. Yaitu di tempat dua tanduk setan akan muncul, di kabilah Rabi’ah dan Mudhar.”

Al-Isti'ab - 1992. 'Imran bin Hushain

١٩٩٢ – عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنٍ الۡكَعۡبِيُّ
1992. ‘Imran bin Hushain Al-Ka’bi

عِمۡرَانُ بۡن حُصَيۡنِ بۡنِ عُبَيۡدِ بۡنِ خَلَفِ بۡنِ عَبۡدِ نُهۡمِ بۡنِ سَالِمِ بۡنِ غَاضِرَةَ بۡنِ سَلُولِ بۡنِ حَبَشِيَّةَ بۡنِ سَلُولِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ عَمۡرٍو الۡخُزَاعِيُّ الۡكَعۡبِيُّ، يُكۡنَى أَبَا نَجِيدٍ بِابۡنِهِ نَجِيدِ بۡنِ عِمۡرَانَ.
‘Imran bin Hushain bin ‘Ubaid bin Khalaf bin ‘Abdu Nuhm bin Salim bin Ghadhirah bin Salul bin Habasyiyyah bin Salul bin Ka’b bin ‘Amr Al-Khuza’i Al-Ka’bi. Dipanggil dengan Abu Najid sesuai nama putranya yaitu Najid bin ‘Imran.
أَسۡلَمَ أَبُو هُرَيۡرَةَ وَعِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنٍ عَامَ خَيۡبَرَ. وَقَالَ خَلِيفَةُ: اسۡتَقۡضَى عَبۡدُ اللهِ بۡن عَامِرٍ عِمۡرَانَ بۡنَ حُصَيۡنٍ [عَامَ خَيۡبَرَ] عَلَى الۡبَصۡرَةِ، فَأَقَامَ قَاضِيًا يَسِيرًا [أَيَّامًا]، ثُمَّ اسۡتَعۡفَى فَأَعۡفَاهُ.
Abu Hurairah dan ‘Imran bin Hushain masuk Islam pada tahun Khaibar. Khalifah berkata: ‘Abdullah bin ‘Amir mengangkat ‘Imran bin Hushain sebagai kadi (hakim) pada tahun Khaibar di Bashrah. Beliau bertugas sebagai kadi dalam jangka waktu yang singkat, hanya beberapa hari. Kemudian beliau meminta dibebastugaskan, lalu ‘Abdullah bin ‘Amir melepaskan beliau dari tugas tersebut.
وَكَانَ [عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنٍ] مِنۡ فُضَلَاءِ الصَّحَابَةِ وَفُقَهَائِهِمۡ، يَقُولُ عَنۡهُ أَهۡلُ الۡبَصۡرَةِ: إِنَّهُ كَانَ يَرَى الۡحَفَظَةَ وَكَانَتۡ تُكَلِّمُهُ حَتَّى اكۡتَوَى.
‘Imran bin Hushain termasuk sahabat yang mulia dan ahli fikih. Penduduk Bashrah berkata tentang beliau: Sesungguhnya beliau dahulu bisa melihat malaikat pengawasnya dan malaikat tersebut mengajak bicara beliau sampai beliau melakukan pengobatan dengan cara kayy (terapi besi panas).
قَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ سِيرِينَ: أَفۡضَلُ مَنۡ نَزَلَ الۡبَصۡرَةَ مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡن، وَأَبُو بَكۡرَةَ.
Muhammad bin Sirin berkata: Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling utama yang tinggal di Bashrah adalah ‘Imran bin Hushain dan Abu Bakrah.
سَكَنَ عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنٍ الۡبَصۡرَةَ، وَمَاتَ بِهَا سَنَةَ ثِنۡتَيۡنِ وَخَمۡسِينَ فِي خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ. رَوَى عَنۡهُ جَمَاعَةٌ مِنۡ تَابِعِي أَهۡلِ الۡبَصۡرَةِ وَالۡكُوفَةِ.
‘Imran bin Hushain tinggal di Bashrah dan meninggal di sana tahun 52 hijriah di masa kekhilafahan Mu’awiyah. Yang meriwayatkan dari beliau adalah sekelompok tabiin penduduk Bashrah dan Kufah.

Shahih Muslim hadits nomor 50

٨٠ - (٥٠) - حَدَّثَنِي عَمۡرٌو النَّاقِدُ، وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ النَّضۡرِ، وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ، وَاللَّفۡظُ لِعَبۡدٍ. قَالُوا: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ سَعۡدٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ صَالِحِ بۡنِ كَيۡسَانَ، عَنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ جَعۡفَرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَكَمِ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ الۡمِسۡوَرِ، عَنۡ أَبِي رَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَا مِنۡ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبۡلِي، إِلَّا كَانَ لَهُ مِنۡ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصۡحَابٌ، يَأۡخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقۡتَدُونَ بِأَمۡرِهِ. ثُمَّ إِنَّهَا تَخۡلُفُ مِنۡ بَعۡدِهِمۡ خُلُوفٌ، يَقُولُونَ مَا لَا يَفۡعَلُونَ، وَيَفۡعَلُونَ مَا لَا يُؤۡمَرُونَ، فَمَنۡ جَاهَدَهُمۡ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَمَنۡ جَاهَدَهُمۡ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَمَنۡ جَاهَدَهُمۡ بِقَلۡبِهِ فَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَيۡسَ وَرَاءَ ذٰلِكَ مِنَ الۡإِيمَانِ حَبَّةُ خَرۡدَلٍ).
80. (50). ‘Amr An-Naqid, Abu Bakr bin An-Nadhr, dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepadaku. Lafal hadis ini milik ‘Abd. Mereka berkata: Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Shalih bin Kaisan, dari Al-Harits, dari Ja’far bin ‘Abdullah bin Al-Hakam, dari ‘Abdurrahman bin Al-Miswar, dari Abu Rafi’, dari ‘Abdullah bin Mas’ud: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada nabi yang Allah utus pada umat sebelumku kecuali pasti ada di antara umatnya yang menjadi para penolong dan sahabat. Mereka mengambil sunahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian akan datang generasi setelah mereka yang mengucapkan apa yang tidak mereka perbuat dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Maka, siapa saja yang berjihad melawan mereka dengan tangannya, maka dia seorang mukmin. Dan siapa saja yang berjihad melawan mereka dengan lisannya, maka dia seorang mukmin. Dan siapa saja yang berjihad melawan mereka dengan hatinya, maka dia seorang mukmin. Dan tidak ada iman di belakang itu sebesar biji sawi.”
قَالَ أَبُو رَافِعٍ: فَحَدَّثۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ فَأَنۡكَرَهُ عَلَيَّ، فَقَدِمَ ابۡنُ مَسۡعُودٍ فَنَزَلَ بِقَنَاةَ، فَاسۡتَتۡبَعَنِي إِلَيۡهِ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ يَعُودُهُ. فَانۡطَلَقۡتُ مَعَهُ، فَلَمَّا جَلَسۡنَا سَأَلۡتُ ابۡنَ مَسۡعُودٍ عَنۡ هَٰذَا الۡحَدِيثِ فَحَدَّثَنِيهِ كَمَا حَدَّثۡتُهُ ابۡنَ عُمَرَ.
قَالَ صَالِحٌ: وَقَدۡ تُحُدِّثَ بِنَحۡوِ ذٰلِكَ عَنۡ أَبِي رَافِعٍ.
Abu Rafi’ berkata: Aku menceritakannya kepada ‘Abdullah bin ‘Umar, namun beliau mengingkarinya. Lalu, Ibnu Mas’ud tiba dan singgah di lembah Qanah. ‘Abdullah bin ‘Umar meminta untuk mengikutiku pergi mengunjungi Ibnu Mas’ud. Aku berangkat bersama beliau. Ketika kami telah duduk, aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang hadis ini. Lalu beliau menceritakannya kepadaku sebagaimana yang telah aku ceritakan kepada Ibnu ‘Umar.
Shalih berkata: Dan telah ada yang menceritakan semisal itu dari Abu Rafi’.
(...) وَحَدَّثَنِيهِ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ إِسۡحَاقَ بۡنِ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ مُحَمَّدٍ. قَالَ: أَخۡبَرَنِي الۡحَارِثُ بۡنُ الۡفُضَيۡلِ الۡخَطۡمِيُّ، عَنۡ جَعۡفَرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَكَمِ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ الۡمِسۡوَرِ بۡنِ مَخۡرَمَةَ، عَنۡ أَبِي رَافِعٍ مَوۡلَى النَّبِيِّ ﷺ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَا كَانَ مِنۡ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدۡ كَانَ لَهُ حَوَارِيُّونَ، يَهۡتَدُونَ بِهَدۡيِهِ، وَيَسۡتَنُّونَ بِسُنَّتِهِ...) مِثۡلَ حَدِيثِ صَالِحٍ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ قُدُومَ ابۡنِ مَسۡعُودٍ وَاجۡتِمَاعَ ابۡنِ عُمَرَ مَعَهُ.
Abu Bakr bin Ishaq bin Muhammad telah menceritakannya kepadaku: Ibnu Abu Maryam mengabarkan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-Harits bin Al-Fudhail Al-Khathmi mengabarkan kepadaku dari Ja’far bin ‘Abdullah bin Al-Hakam, dari ‘Abdurrahman bin Al-Miswar bin Makhramah, dari Abu Rafi’ maula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari ‘Abdullah bin Mas’ud: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu, tidak ada seorang nabi pun kecuali memiliki para hawari (pembela). Mereka mengambil petunjuk dengan petunjuknya dan mengikuti sunahnya…” Semisal hadis Shalih. Namun beliau tidak menyebutkan kedatangan Ibnu Mas’ud dan berkumpulnya Ibnu ‘Umar bersama beliau.

Shahih Muslim hadits nomor 48

٧٧ - (٤٨) - حَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَمُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ، جَمِيعًا عَنِ ابۡنِ عُيَيۡنَةَ، قَالَ ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو؛ أَنَّهُ سَمِعَ نَافِعَ بۡنَ جُبَيۡرٍ يُخۡبِرُ عَنۡ أَبِي شُرَيۡحٍ الۡخُزَاعِيِّ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُحۡسِنۡ إِلَى جَارِهِ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ ضَيۡفَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيَقُلۡ خَيۡرًا أَوۡ لِيَسۡكُتۡ).
[البخاري: كتاب الأدب، باب من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره، رقم: ٦٠١٩].
77. (48). Zuhair bin Harb dan Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Ibnu ‘Uyainah. Ibnu Numair berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr; Bahwa beliau mendengar Nafi’ bin Jubair mengabarkan dari Abu Syuraih Al-Khuza’i; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat ihsan kepada tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.”

Shahih Muslim hadits nomor 46

١٨ – بَابُ بَيَانِ تَحۡرِيمِ إِيذَاءِ الۡجَارِ
18. Bab keterangan pengharaman mengganggu tetangga

٧٣ – (٤٦) – حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ وَقُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ، جَمِيعًا عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ جَعۡفَرٍ، قَالَ ابۡنُ أَيُّوبَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي الۡعَلَاءُ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ مَنۡ لَا يَأۡمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ).
73. (46). Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa’id, dan ‘Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Isma’il bin Ja’far. Ibnu Ayyub berkata: Isma’il menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-‘Ala` mengabarkan kepadaku dari ayahnya, dari Abu Hurairah; Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masuk surga siapa saja yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya.”

Shahih Muslim hadits nomor 44

١٦ - بَابُ وُجُوبِ مَحَبَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَكۡثَرَ مِنَ الۡأَهۡلِ وَالۡوَلَدِ وَالۡوَالِدِ وَالنَّاسِ أجۡمَعِينَ، وَإِطۡلَاقِ عَدَمِ الۡإِيمَانِ عَلَى مَنۡ لمۡ يُحِبَّهُ هَٰذِهِ الۡمَحَبَّةَ
16. Bab wajibnya mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kecintaan terhadap istri, anak, orang tua, dan manusia seluruhnya; dan pemutlakan tiadanya iman pada siapa saja yang tidak mencintai beliau dengan kecintaan seperti ini

٦٩ - (٤٤) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عُلَيَّةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، كِلَاهُمَا عَنۡ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ، عَنۡ أَنَسٍ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يُؤۡمِنُ عَبۡدٌ - وَفِي حَدِيثِ عَبۡدِ الۡوَارِثِ: الرَّجُلُ - حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيۡهِ مِنۡ أَهۡلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجۡمَعِينَ).
[البخاري: كتاب الإيمان، باب حب الرسول ﷺ من الإيمان، رقم: ١٥].
69. (44). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Isma’il bin ‘Ulayyah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Syaiban bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari ‘Abdul ‘Aziz, dari Anas; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman seorang hamba pun—di dalam hadis ‘Abdul Warits: seorang pun—sampai aku lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya, dan manusia seluruhnya.” 
٧٠ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى وَابۡنُ بَشَّارٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ. حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، قَالَ: سَمِعۡتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يُؤۡمِنُ أَحَدُكُمۡ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيۡهِ مِنۡ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجۡمَعِينَ).
[البخاري: كتاب الإيمان، باب حب الرسول ﷺ من الإيمان، رقم: ١٥].
70. Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Qatadah menceritakan dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang kalian beriman sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.”

Al-Ishabah - 6010. 'Imran bin Hushain

٦٠١٠ - عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنِ بۡنِ عُبَيۡدِ بۡنِ خَلَفِ بۡنِ عَبۡدِ نُهۡمِ بۡنِ حُذَيۡفَةَ بۡنِ جَهۡمَةَ بۡنِ غَاضِرَةَ بۡنِ حُبۡشِيَّةَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ عَمۡرٍو الۡخُزَاعِيُّ:
6010. ‘Imran bin Hushain bin ‘Ubaid bin Khalaf bin ‘Abdu Nuhm bin Hudzaifah bin Jahmah bin Ghadhirah bin Hubsyiyyah bin Ka’b bin ‘Amr Al-Khuza’i

هَٰكَذَا نَسَبَهُ ابۡنُ الۡكَلۡبِيِّ وَمَنۡ تَبِعَهُ، وَعِنۡدَ أَبِي عُمَرَ: عَبۡدِ نُهۡمِ بۡنِ سَالِمِ بۡنِ غَاضِرَةَ.
Demikian Ibnu Al-Kalbi dan yang mengikuti beliau menyebutkan nasab beliau. Sedangkan menurut Abu ‘Umar: ‘Abdu Nuhm bin Salim bin Ghadhirah.
وَيُكۡنَى أَبَا نُجَيۡدٍ - بِنُونٍ وَجِيمٍ مُصَغَّرًا.
Beliau dipanggil dengan kunyah Abu Nujaid dengan huruf nun dan jim berbentuk tashghir.
رَوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ عِدَّةَ أَحَادِيثَ، وَكَانَ إِسۡلَامُهُ عَامَ خَيۡبَرَ، وَغَزَا عِدَّةَ غَزَوَاتٍ، وَكَانَ صَاحِبَ رَايَةِ خُزَاعَةَ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ، قَالَهُ ابۡنُ الۡبَرۡقِيِّ،
وَقَالَ الطَّبۡرَانِيُّ: أَسۡلَمَ قَدِيمًا هُوَ وَأَبُوهُ وَأُخۡتُهُ، وَكَانَ يَنۡزِلُ بِبِلَادِ قَوۡمِهِ، ثُمَّ تَحَوَّلَ إِلَى الۡبَصۡرَةِ، إِلَى أَنۡ مَاتَ بِهَا.
Beliau meriwayatkan dari Nabi beberapa hadis. Beliau masuk Islam pada tahun Khaibar dan ikut berperang dalam beberapa peperangan. Beliau adalah pembawa panji Khuza’ah pada hari Fathu Makkah. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Al-Barqi. Ath-Thabrani berkata: ‘Imran sudah masuk Islam sejak lama, beserta ayah dan saudara perempuannya. Beliau dulu tinggal di negeri kaumnya kemudian pindah ke Bashrah sampai meninggal di sana.
رَوَى عَنۡهُ ابۡنُهُ نُجَيۡدٌ، وَأَبُو الۡأَسۡوَدِ الدُّؤَلِيُّ، وَأَبُو رَجَاءٍ الۡعُطَارِدِيُّ، وَرِبۡعِيُّ بۡنُ حِرَاشٍ، وَمُطَرِّفٌ، وَأَبُو الۡعَلَاءِ، ابۡنَا عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الشِّخِّيرِ، وَزَهۡدَمٌ الۡجَرۡمِيُّ، وَصَفۡوَانُ بۡنُ مُحۡرِزٍ، وَزُرَارَةُ بۡنُ أَبِي أَوۡفَى، وَآخَرُونَ.
Yang meriwayatkan dari beliau adalah putranya yaitu Nujaid, Abu Al-Aswad Ad-Duali, Abu Raja` Al-‘Utharidi, Rib’i bin Hirasy, Mutharrif, Abu Al-‘Ala`—dua putra ‘Abdullah bin Asy-Syikhkhir—, Zahdam Al-Jarmi, Shafwan bin Muhriz, Zurarah bin Abu Aufa, dan lain-lain.
وَأَخۡرَجَ الطَّبۡرَانِيُّ، بِسَنَدٍ صَحِيحٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي هِلَالٍ، عَنۡ أَبِي الۡأَسۡوَدِ الدُّؤَلِيِّ، قَالَ: قَدِمۡتُ الۡبَصۡرَةَ، وَبِهَا عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنٍ، وَكَانَ عُمَرُ بَعَثَهُ لِيُفَقِّهَ أَهۡلَهَا.
Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Sa’id bin Abu Hilal, dari Abu Al-Aswad Ad-Duali. Beliau berkata: Aku datang ke Bashrah. Di sana ada ‘Imran bin Hushain. Dulu, ‘Umar mengutusnya untuk mengajarkan ilmu agama kepada penduduknya.
وَقَالَ خَلِيفَةُ: اسۡتَقۡضَى عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَامِرٍ عِمۡرَانَ بۡنَ حُصَيۡنٍ عَلَى الۡبَصۡرَةِ، فَأَقَامَ أَيَّامًا، ثُمَّ اسۡتَعۡفَاهُ.
Khalifah berkata: ‘Abdullah bin ‘Amir mengangkat ‘Imran bin Hushain sebagai kadi (hakim) di Bashrah. Lalu ‘Imran melakukan tugas tersebut selama beberapa hari, kemudian minta dibebastugaskan.
وَقَالَ ابۡنُ سَعۡدٍ: اسۡتَقۡضَاهُ زِيَادٌ ثُمَّ اسۡتَعۡفَاهُ فَأَعۡفَاهُ.
Ibnu Sa’d berkata: Ziyad mengangkat ‘Imran sebagai kadi kemudian beliau minta dibebastugaskan, lalu Ziyad melepasnya dari tugas tersebut.
وَأَخۡرَجَ الطَّبۡرَانِيُّ وَابۡنُ مَنۡدَةَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ، قَالَ: لَمۡ يَكُنۡ تَقَدَّمَ عَلَى عِمۡرَانَ أَحَدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ مِمَّنۡ نَزَلَ الۡبَصۡرَةَ.
وَقَالَ أَبُو عُمَرَ: كَانَ مِنۡ فُضَلَاءِ الصَّحَابَةِ وَفُقَهَائِهِمۡ، يَقُولُ عَنۡهُ أَهۡلُ الۡبَصۡرَةِ: إِنَّهُ كَانَ يَرَى الۡحَفَظَةَ، وَكَانَتۡ تُكَلِّمُهُ حَتَّى اكۡتَوَى.
Ath-Thabrani dan Ibnu Mandah meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Ibnu Sirin. Beliau berkata: Tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang tinggal di Bashrah yang melebihi ‘Imran. Abu ‘Umar berkata: Beliau termasuk sahabat yang mulia dan paham ilmu agama. Penduduk Bashrah berkata tentang ‘Imran: Sesungguhnya dahulu beliau melihat malaikat pengawasnya dan malaikat itu mengajak beliau berbicara sampai ‘Imran melakukan kayy.
وَأَخۡرَجَ الۡحَدِيثَ ابۡنُ أَبِي أُسَامَةَ مِنۡ طَرِيقِ هِشَامٍ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ عِمۡرَانَ: أَنَّهُ شُقَّ بَطۡنُهُ، فَلَبِثَ زَمَانًا طَوِيلًا، فَدَخَلَ عَلَيۡهِ رَجُلٌ... فَذَكَرَ قِصَّتَهُ، فَقَالَ: إِنَّ أَحَبَّ ذٰلِكَ إِلَيَّ أَحَبُّهُ إِلَى اللهِ، قَالَ: حَتَّى اكۡتَوَى قَبۡلَ وَفَاتِهِ بِسَنَتَيۡنِ، وَكَانَ تُسَلَّمُ عَلَيۡهِ فَلَمَّا اكۡتَوَى فَقَدَهُ، ثُمَّ عَادَ إِلَيۡهِ.
Ibnu Abu Usamah meriwayatkan hadis dari jalan Hisyam, dari Al-Hasan, dari ‘Imran: Bahwa beliau dibedah perutnya, lalu beliau tetap tinggal di rumahnya dalam jangka waktu yang lama. Seseorang datang masuk menemuinya… lalu beliau menyebutkan kisahnya. ‘Imran mengatakan: Sesungguhnya hal yang paling aku cintai adalah yang paling Allah cintai. Beliau berkata: Sampai beliau melakukan kayy (pengobatan menggunakan besi panas) dua tahun sebelum wafatnya. Sebelumnya, ada malaikat yang mengucapkan salam kepada ‘Imran, namun setelah beliau melakukan kayy, beliau tidak lagi mendapatinya. Kemudian (setelah meninggalkan kayy), malaikat itu kembali mengunjunginya.
وَقَالَ ابۡنُ سِيرِينَ: أَفۡضَلُ مَنۡ نَزَلَ الۡبَصۡرَةَ مِنَ الصَّحَابَةِ عِمۡرَانُ وَأَبُو بَكۡرَةَ، وَكَانَ الۡحَسَنُ يَحۡلِفُ أَنَّهُ مَا قَدِمَ الۡبَصۡرَةَ وَالسَّرۡوَ خَيۡرٌ لَهُمۡ مِنۡ عِمۡرَانَ.
أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ فِي الزُّهۡدِ، عَنۡ سُفۡيَانَ، قَالَ: كَانَ الۡحَسَنُ يَقُولُ نَحۡوَهُ. وَكَانَ قَدِ اعۡتَزَلَ الۡفِتۡنَةَ فَلَمۡ يُقَاتِلۡ فِيهَا.
Ibnu Sirin berkata: Sahabat yang tinggal di Bashrah yang paling utama adalah ‘Imran dan Abu Bakrah. Al-Hasan pernah bersumpah bahwa tidak ada yang datang ke Bashrah dan Sarw lebih baik untuk mereka daripada ‘Imran. Ahmad meriwayatkannya di dalam Az-Zuhd dari Sufyan. Beliau berkata: Al-Hasan pernah mengucapkan yang seperti itu. Dan ‘Imran menjauh ketika terjadi cobaan (perang antara kaum muslimin), sehingga beliau tidak ikut berperang dalam peristiwa itu.
وَقَالَ أَبُو نُعَيۡمٍ: كَانَ مُجَابَ الدَّعۡوَةِ وَقَالَ الدَّارِمِيُّ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو هِلَالٍ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنۡ مُطَرِّفٍ: قَالَ عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنٍ، إِنِّي مُحَدِّثُكَ بِحَدِيثٍ: إِنَّهُ كَانَ يُسَلَّمُ عَلَيَّ، وَإِنَّ ابۡنَ زِيَادٍ أَمَرَنِي، فَاكۡتَوَيۡتُ، فَاحۡتَبَسَ عَنِّي حَتَّى ذَهَبَ أَثَرُ الۡكَيِّ... فَذَكَرَ الۡحَدِيثَ، فِي سُنَّةِ الۡحَجِّ.
Abu Nu’aim berkata: ‘Imran adalah orang yang mustajab doanya. Ad-Darimi berkata: Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami: Abu Hilal menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami dari Mutharrif: ‘Imran bin Hushain berkata: Sesungguhnya aku akan menceritakan kepadamu satu hadis: Sesungguhnya dahulu aku disalami (oleh malaikat), lalu Ibnu Ziyad memerintahkan aku untuk melakukan kayy. Aku pun melakukannya, namun aku tidak disalami lagi sampai bekas kayy tersebut menghilang… lalu beliau menceritakan hadis tentang sunah haji.
مَاتَ سَنَةَ اثۡنَتَيۡنِ وَخَمۡسِينَ، وَقِيلَ سَنَةَ ثَلَاثٍ.
Beliau meninggal tahun 52 hijriah. Ada yang mengatakan tahun 53 hijriah.

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3490

٣٤٩٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ رَافِعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، وَيُونُسُ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ الۡحُصَيۡنِ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الۡكَيِّ، فَاكۡتَوَيۡتُ فَمَا أَفۡلَحۡتُ وَلَا أَنۡجَحۡتُ. [(التعليق على ابن ماجه)].
3490. ‘Amr bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Husyaim menceritakan kepada kami dari Manshur dan Yunus, dari Al-Hasan, dari ‘Imran bin Hushain. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari kayy (pengobatan menggunakan besi panas). Namun, aku melakukan kayy dan ternyata aku tidak beruntung dan tidak berhasil.

Usdul Ghabah - 4048. 'Imran bin Hushain

٤٠٤٨ - عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنٍ
4048. ‘Imran bin Hushain

ب د ع: عِمۡرَانُ بۡنُ حُصَيۡنِ بۡنِ عُبَيۡدِ بۡنِ خَلَفِ بۡنِ عَبۡدِ نُهۡمِ بۡنِ حُذَيۡفَةَ بۡنِ جَهۡمَةَ بۡنِ غَاضِرَةَ بۡنِ حُبۡشِيَّةَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ عَمۡرِو الۡخُزَاعِيُّ الۡكَعۡبِيُّ. قَالَهُ ابۡنُ مَنۡدَه وَأَبُو نُعَيۡمٍ.
‘Imran bin Hushain bin ‘Ubaid bin Khalaf bin ‘Abdu Nuhm bin Hudzaifah bin Jahmah bin Ghadhirah bin Hubsyiyyah bin Ka’b bin ‘Amr Al-Khuza’i Al-Ka’bi. Demikian dikatakan oleh Ibnu Mandah dan Abu Nu’aim.
وَقَالَ أَبُو عَمۡرٍو: عَبۡدِ نُهۡمِ بۡنِ سَالِمِ بۡنِ غَاضِرَةَ. وَقَالَ الۡكَلۡبِيُّ: عَبۡدِ نُهۡمِ بۡنِ جُرۡمَةَ بۡنِ جُهَيۡمَةَ، وَاتَّفَقُوا فِي الۡبَاقِي.
Abu ‘Amr berkata: ‘Abdu Nuhm bin Salim bin Ghadhirah. Al-Kalbi berkata: ‘Abdu Nuhm bin Jurmah bin Juhaimah. Namun mereka bersepakat pada sisanya.
يُكۡنَى أَبَا نُجَيۡدٍ، بِابۡنِهِ نُجَيۡدٍ. أَسۡلَمَ عَامَ خَيۡبَرَ، وَغَزَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ غَزَوَاتٍ، بَعَثَهُ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ إِلَى الۡبَصۡرَةِ، لِيُفَقِّهَ أَهۡلَهَا وَكَانَ مِنۡ فُضَلَاءِ الصَّحَابَةِ، وَاسۡتَقۡضَاهُ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَامِرٍ عَلَى الۡبَصۡرَةِ، فَأَقَامَ قَاضِيًا يَسِيرًا، ثُمَّ اسۡتُعۡفِيَ فَأَعۡفَاهُ.
Dipanggil dengan kunyah Abu Nujaid, sesuai putranya yang bernama Nujaid. Beliau masuk Islam pada tahun Khaibar dan berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa peperangan. ‘Umar bin Al-Khaththab mengutusnya ke Bashrah untuk memahamkan penduduknya. Beliau termasuk sahabat yang mulia. ‘Abdullah bin ‘Amir menjadikannya sebagai kadi (hakim) di Bashrah lalu beliau menjabat kadi sebentar. Kemudian beliau meminta dibebastugaskan, lalu ‘Abdullah bin ‘Amir melepaskan tugas itu dari beliau.
قَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ سِيرِينَ: لَمۡ نَرَ فِي الۡبَصۡرَةِ أَحَدًا مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ يَفۡضُلُ عَلَى عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ.
Muhammad bin Sirin berkata: Kami tidak melihat di Bashrah seorangpun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih utama daripada ‘Imran bin Hushain.
وَكَانَ مُجَابَ الدَّعۡوَةِ، وَلَمۡ يَشۡهَدِ الۡفِتۡنَةَ، رَوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ وَرَوَى عَنۡهُ الۡحَسَنُ، وَابۡنُ سِيرِينَ وَغَيۡرُهُمَا.
Beliau adalah orang yang mustajab doanya. Beliau tidak ikut campur dalam cobaan (peperangan yang terjadi antara kaum muslimin). Beliau meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain adalah Al-Hasan, Ibnu Sirin, dan selain keduanya.
أَنۡبَأَنَا إِسۡمَاعِيلُ وَإِبۡرَاهِيمُ وَغَيۡرُهُمَا بِإِسۡنَادِهِمۡ إِلَى مُحَمَّدِ بۡنِ عِيسَى قَالَ: أَنۡبَأَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ نَهَى عَنِ الۡكَيِّ - قَالَ عِمۡرَانُ: فَاكۡتَوَيۡنَا فَمَا أَفۡلَحۡنَا وَلَا أَنۡجَحۡنَا.
Isma’il, Ibrahim, dan selain keduanya memberitakan kepada kami melalui sanad mereka sampai pada Muhammad bin ‘Isa[1]. Beliau berkata: Muhammad bin Basysyar memberitakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari ‘Imran bin Hushain: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari kayy (pengobatan menggunakan besi panas). ‘Imran berkata: Kami tetap melakukan kayy, maka kami tidak beruntung dan tidak berhasil.
وَكَانَ فِي مَرَضِهِ تُسَلِّمُ عَلَيۡهِ الۡمَلَائِكَةُ، فَاكۡتَوَى فَفَقَدَ التَّسۡلِيمَ، ثُمَّ عَادَتۡ إِلَيۡهِ، وَكَانَ بِهِ اسۡتِسۡقَاءٌ فَطَالَ بِهِ سِنِينَ كَثِيرَةً، وَهُوَ صَابِرٌ عَلَيۡهِ، وَشُقَّ بَطۡنُهُ، وَأُخِذَ مِنۡهُ شَحۡمٌ، وَثُقِبَ لَهُ سَرِيرٌ فَبَقِيَ عَلَيۡهِ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَدَخَلَ عَلَيۡهِ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا نُجَيۡدٍ، وَاللهِ إِنَّهُ لَيَمۡنَعُنِي مِنۡ عِيَادَتِكَ مَا أَرَى بِكَ! فَقَالَ: يَا ابۡنَ أَخِي، فَلَا تَجۡلِسۡ، فَوَاللّٰهِ إِنَّ أَحَبَّ ذٰلِكَ إِليَّ أَحَبُّهُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Ketika beliau sakit, malaikat mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian beliau melakukan kayy, sehingga beliau tidak lagi mendapatkan salam. Kemudian (setelah meninggalkan kayy), malaikat kembali menjenguknya. Beliau menderita penyakit istisqa` (pembesaran perut) selama bertahun-tahun dalam keadaan beliau sabar menanggungnya. Lalu perut beliau dibedah dan diambil lemak darinya. Dibuatlah lubang untuk beliau di pembaringan dan beliau berada di situ selama tiga puluh tahun. Seseorang masuk menemui beliau dan berkata: Wahai Abu Nujaid, demi Allah, hal yang menghalangi aku untuk menjengukmu adalah apa yang aku lihat dari keadaanmu. ‘Imran berkata: Wahai putra saudaraku, kalau begitu janganlah engkau duduk. Demi Allah, karena hal yang paling aku cintai adalah apa yang Allah azza wajalla cintai.
وَتُوُفِّيَ بِالۡبَصۡرَةِ سَنَةَ اثۡنَتَيۡنِ وَخَمۡسِينَ، وَكَانَ أَبۡيَضَ الرَّأۡسِ وَاللِّحۡيَةِ، وَبَقِيَ لَهُ عَقِبٌ بِالۡبَصۡرَةِ.
Beliau wafat di Bashrah pada tahun 52 hijriah. Beliau adalah seseorang yang berambut dan berjenggot putih. Anak-anaknya tetap tinggal di Bashrah.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2049

١٠ - بَابُ مَا جَاءَ فِي كَرَاهِيَةِ التَّدَاوِي بِالۡكَيِّ
10. Bab tentang dibencinya berobat menggunakan kayy (terapi besi panas)

٢٠٤٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ نَهَى عَنِ الۡكَيِّ، قَالَ: فَابۡتُلِينَا فَاكۡتَوَيۡنَا فَمَا أَفۡلَحۡنَا وَلَا أَنۡجَحۡنَا. هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. [(ابن ماجه)(٣٤٩٠)].
2049. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari ‘Imran bin Hushain, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari kayy (pengobatan menggunakan besi panas). ‘Imran berkata: Kami diberi cobaan (dengan penyakit) lalu kami melakukan kayy, ternyata kami tidak beruntung dan tidak berhasil. Ini adalah hadis hasan sahih.
٢٠٤٩ (م) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡقُدُّوسِ بۡنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَاصِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ، قَالَ: نُهِينَا عَنِ الۡكَيِّ. وَفِي الۡبَابِ عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ، وَعُقۡبَةَ بۡنِ عَامِرٍ، وَابۡنِ عَبَّاسٍ. وَهَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
2049. ‘Abdul Quddus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Amr bin ‘Ashim menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Hammam menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari ‘Imran bin Hushain. Beliau mengatakan: Kami dilarang dari melakukan kayy. Di dalam bab ini ada riwayat dari Ibnu Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amir, dan Ibnu ‘Abbas. Dan ini adalah hadis hasan sahih.

Shahih Muslim hadits nomor 43

١٥ - بَابُ بَيَانِ خِصَالٍ مَنِ اتَّصَفَ بِهِنَّ وَجَدَ حَلَاوَةَ الۡإِيمَانِ
15. Bab keterangan beberapa perangai barang siapa yang memiliki sifat demikian, maka ia akan merasakan manisnya iman

٦٧ - (٤٣) حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ يَحۡيَىٰ بۡنِ أَبِي عُمَرَ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، جَمِيعًا عَنۡ الثَّقَفِيِّ، قَالَ ابۡنُ أَبِي عُمَرَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. قَالَ: (ثَلَاثٌ مَنۡ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الۡإِيمَانِ: مَنۡ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيۡهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنۡ يُحِبَّ الۡمَرۡءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنۡ يَكۡرَهَ أَنۡ يَعُودَ فِي الۡكُفۡرِ بَعۡدَ أَنۡ أَنۡقَذَهُ اللهُ مِنۡهُ، كَمَا يَكۡرَهُ أَنۡ يُقۡذَفَ فِي النَّارِ).
[البخاري: كتاب الإيمان، باب حلاوة الإيمان، رقم: ١٦].
67. (43). Ishaq bin Mibrahim, Muhammad bin Yahya bin Abu ‘Umar, dan Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Ats-Tsaqafi. Ibnu Abu ‘Umar berkata: ‘Abdul Wahhab menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Tiga hal yang terdapat pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: (1) Siapa saja yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; (2) Dia mencintai seseorang hanya karena Allah; (3) Dia membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam neraka.”
٦٨ - (...) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى، وَابۡنُ بَشَّارٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: سَمِعۡتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنۡ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ثَلَاثٌ مَنۡ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعۡمَ الۡإِيمَانِ: مَنۡ كَانَ يُحِبُّ الۡمَرۡءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَمَنۡ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيۡهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَمَنۡ كَانَ أَنۡ يُلۡقَى فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيۡهِ مِنۡ أَنۡ يَرۡجِعَ فِي الۡكُفۡرِ بَعۡدَ أَنۡ أَنۡقَذَهُ اللهُ مِنۡهُ).
68. Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Qatadah menceritakan dari Anas. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga hal yang siapa saja hal itu ada pada dirinya, maka ia akan mendapatkan lezatnya iman: (1) Siapa saja yang mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah; (2) Siapa saja yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; (3) Siapa saja yang lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya.”
(...) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَنۡبَأَنَا النَّضۡرُ بۡنُ شُمَيۡلٍ: أَنۡبَأَنَا حَمَّادٌ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ... بِنَحۡوِ حَدِيثِهِمۡ. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: (مِنۡ أَنۡ يَرۡجِعَ يَهُودِيًّا، أَوۡ نَصۡرَانِيًّا).
Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami: An-Nadhr bin Syumail memberitakan kepada kami: Hammad memberitakan kepada kami dari Tsabit, dari Anas. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda… semisal hadis mereka. Hanya saja beliau bersabda, “Daripada kembali menjadi orang Yahudi atau Nasrani.”

Shahih Muslim hadits nomor 42

٦٦ - (٤٢) - وَحَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ يَحۡيَىٰ بۡنِ سَعِيدٍ الۡأُمَوِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي: حَدَّثَنَا أَبُو بُرۡدَةَ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي بُرۡدَةَ بۡنِ أَبِي مُوسَى، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الۡإِسۡلَامِ أَفۡضَلُ؟ قَالَ: (مَنۡ سَلِمَ الۡمُسۡلِمُونَ مِنۡ لِسَانِهِ وَيَدِهِ).
[البخاري: كتاب الإيمان، باب أي الإسلام أفضل، رقم: ١١].
66. (42). Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al-Umawi telah menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku: Abu Burdah bin ‘Abdullah bin Abu Burdah bin Abu Musa menceritakan kepada kami dari Abu Burdah, dari Abu Musa. Beliau mengatakan: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, Islam yang mana yang paling utama?” Nabi menjawab, “Yaitu muslim yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
وَحَدَّثَنِيهِ إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡجَوۡهَرِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي بُرَيۡدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: أَيُّ الۡمُسۡلِمِينَ أَفۡضَلُ؟... فَذَكَرَ مِثۡلَهُ.
Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari telah menceritakannya kepadaku: Abu Usamah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Buraid bin ‘Abdullah menceritakan kepadaku melalui sanad ini. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Muslim yang mana yang paling utama?” Lalu beliau menyebutkan semisal hadis tersebut.

Shahih Muslim hadits nomor 41

٦٥ - (٤١) - حَدَّثَنَا حَسَنٌ الۡحُلۡوَانِيُّ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ، جَمِيعًا عَنۡ أَبِي عَاصِمٍ، قَالَ عَبۡدٌ: أَنۡبَأَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ؛ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الزُّبَيۡرِ يَقُولُ: سَمِعۡتُ جَابِرًا يَقُولُ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (الۡمُسۡلِمُ مَنۡ سَلِمَ الۡمُسۡلِمُونَ مِنۡ لِسَانِهِ وَيَدِهِ).
65. (41). Hasan Al-Hulwani dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Abu ‘Ashim. ‘Abd berkata: Abu ‘Ashim memberitakan kepada kami dari Ibnu Juraij; Bahwa beliau mendengar Abu Az-Zubair berkata: Aku mendengar Jabir mengatakan: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim itu adalah seseorang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”

Sang Pemilik Hari Uhud

Gunung Uhud menjadi saksi bisu atas keberanian dan pengorbanan para generasi terbaik umat ini. Benderang perang telah tertabuh, dua pasukan pun terlibat pertempuran sengit. Masing-masing memperjuangkan yang mereka yakini. Gemerlap kilatan pedang tersorot ke setiap arah dan gemerincingnya semakin menambah kerinduan untuk mendapatkan syahid. Saat itu para ksatria muslim bagaikan singa yang mengamuk dan menerkam mangsanya, keperkasaan mereka tiada banding. Pedang-pedang para kekasih Allah itu menyambar dan menyabet setiap musuh yang menghadang. Hal ini menjadikan orang-orang musyrik kocar-kacir sehingga mereka mundur, dan ghanimah pun bertabur.

Hampir-hampir kemenangan diraih kaum muslimin, namun –Qaddarallah wama sya’a fa’al- pasukan pemanah yang melindungi kaum muslimin di Gunung Rumat (anak Gunung Uhud) turun darinya karena tergiur dengan ghanimah yang berserakan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan emas ini, orang-orang musyrik pun berbalik menuju Uhud dan menguasainya. Keadaan menjadi terbalik, kaum muslimin menjadi terjepit dan barisan mereka pun porak poranda. Terlebih setelah terdengar teriakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah gugur.

Di saat itulah pengorbanan yang luar biasa ditunjukkan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu. Sebagai bukti cinta kepada sang kekasih, bukan hanya harta, tetapi jiwa dan raga ia pertaruhkan. Thalhah bin Ubaidillah, salah seorang shahabat yang memiliki keutamaan yang melimpah. Bahkan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu apabila disebutkan kepadanya Perang Uhud beliau berkata, “Hari itu seluruhnya milik Thalhah bin Ubaidillah.”

Beliau dikenal dengan Thalhah Al Juud (sang dermawan), Thalhah Al Khair (pecinta kebaikan), dan Thalhah Al Fayyadh (yang banyak berbuat kebaikan). Semua itu adalah gelar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikan kepadanya pada berbagai kesempatan. Hal ini menunjukkan keutamaan dan kedudukan beliau yang tinggi.

PERTEMPURAN DI GUNUNG UHUD


Tatkala orang-orang musyrik melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selamat, maka perhatian mereka pun terfokus kepada beliau. Beliaulah sasaran utama yang hendak mereka tumpas. Maka tertumpuklah peperangan di sekitar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para shahabat bersegera mengelilingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikan badan-badan mereka sebagai tameng hidup. Maka mulailah mereka bertempur habis-habisan sampai tetes darah yang terakhir. Bagai hujan yang tiada henti sabetan pedang dan anak panah merobek dan menusuk tubuh-tubuh para shahabat. Satu persatu para kekasih Allah meraih syahid.

Sungguh Thalhah saat itu mendapatkan ujian yang terindah, beliau bertempur dengan sebelas orang musyrik sehingga jari-jarinya terputus dan terdapat 70 lebih luka di sekujur tubuhnya, akibat sayatan dan hujaman pedang.

Berkata Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya yang menyaksikan Perang Uhud, “Sungguh Thalhah pada hari Uhud mendapatkan ujian yang indah. Ia telah melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan badannya dan menahan lesatan anak panah dengan tangannya sehingga menjadikan tangannya lumpuh, dan kepalanya terkena sabetan pedang. Pada pertempuran yang sangat mendebarkan itu, beliau sempat menggendong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang saat itu terluka) sampai meletakkannya di atas batu dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Hari ini telah wajib bagi Thalhah, wahai, Abu Bakar.

Berkata Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Thalhah bin Ubaidillah sungguh telah wajib untukmu surga dan telah disediakan untukmu bidadari yang cantik jelita.” Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, Qais bin Abi Hazm (seorang ulama tabiin) berkata, “Aku melihat tangan Thalhah lumpuh, karena melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Perang Uhud.”

Sungguh pertunjukan pembuktian cinta yang mempesona dari generasi termulia umat ini. Benar, telah tertanam dalam sanubari mereka bahwa cinta butuh pembuktian tidak hanya pengakuan. Allahummarzuqnaa iimaanan shaadiqan.

SYAHID YANG BERJALAN DI ATAS BUMI


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَـٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيۡهِ ۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبۡدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada (pula) yang gugur (wafat). Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” [Q.S. Al Ahzab: 23].

Berkata Ibnu Abbas dan Hasan Al Bashri, “Kata مِنۡهُمۡ مَنۡ قَضَى نَحۡبَهُ (di antara mereka ada (pula) yang gugur) adalah orang yang gugur di atas kejujuran (imannya) dan menunaikan janji kepada Allah.” Diriwayatkan dari Isa bin Thalhah bin Ubaidillah, “Bahwasanya seorang Arab badui datang kepada Nabi dan bertanya, “Siapakah (yang disebut dalam ayat) مِنۡهُمۡ مَنۡ قَضَى نَحۡبَهُ (orang yang gugur di atas penunaian janji kepada Allah)?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya. Kemudian dia bertanya lagi dan beliau pun berpaling lagi, kemudian datang Thalhah dari pintu masjid dan dia memakai pakaian hijau, maka Nabi bersabda yang artinya, “Inilah orang yang gugur (wafat) di atas penunaian janji kepada Allah.

Demikian pula dalam hadis yang diriwayatkan dari shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa menyukai untuk melihat seorang syahid berjalan di atas permukaan bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim dishahihkan Syaikh Al Albani rahimahullah].

WAFATNYA SANG SYAHID


Berkata Ibnu Abdil Barr rahimahullah, “Thalhah radhiyallahu ‘anhu ikut terlibat dalam peperangan fitnah melawan pasukan Ali radhiyallahu ‘anhu. Sebagian ulama mengatakan bahwa pada saat gentingnya pertempuran, Ali memanggil dan menyebutkan keutamaan dan terdahulunya Thalhah dalam Islam. Maka Thalhah pun menarik diri dari memerangi Ali. Beliau pun akhirnya meninggalkan shaf peperangan, kemudian terkena anak panah dan mengenai urat kakinya, maka darahnya terus keluar sampai wafat.”

Sungguh kehidupan yang bertabur bunga kemuliaan, pengorbanan, dan perjuangan. Harumnya semerbak sepanjang masa. Jasanya terhadap Islam selalu diingat oleh setiap generasi umat. Semoga kita bisa meneladaninya radhiyallahu ‘anhu.

Referensi:
  • Kitab Sirah Nabawiyyah, karya Ibnu Katsir.
  • Kitab Rakhiqil Makhtum, karya Mubarakfuri.
  • Kitab Al Isti’ab fii Ma’rifatil Ashab, karya Ibnu Abdil Barr.
  • Kitab Al A’lam, karya Zarkali.
  • Kitab Tafsir, karya Thabari.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 54 vol.05 1439 H rubrik Khairul Ummah. Pemateri: Al Ustadz Abu Ma'mar Abbas bin Husein.

Istri Para Syuhada

Nama beliau adalah Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdil Uzza bin Rayyah bin Abdillah Al Qurasyiyah Al Adawiyyah radhiyallahu ‘anha. Beliau adalah saudari seayah dari Said bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, salah seorang dari sepuluh orang yang dijanjikan surga. Beliau adalah anak perempuan dari paman Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Sedang ibu beliau adalah Ummu Kuraiz binti Abdillah bin Ammar bin Malik Al Hadramiyah. Atikah termasuk wanita yang dikaruniai paras yang rupawan dan budi pekerti yang baik. Demikian pula beliau termasuk wanita yang memiliki kepandaian dalam syair. Beliau termasuk wanita Quraisy yang ikut berhijrah ke negeri Madinah.

Atikah binti Zaid radhiyallahu ‘anha menikah beberapa kali dengan para shahabat yang utama. Cukuplah kita melihat kemuliaan shahabat wanita ini dengan para pendamping hidupnya. Di antara shahabat mulia yang menikah dengan beliau adalah Abdullah bin Abu Bakar. Pada pernikahan beliau ini sempat terjadi perceraian antara keduanya. Ini disebabkan permintaan sang ayah, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang melihat bahwa putranya –Abdullah- terlalu tersibukkan dengan cintanya kepada Atikah dari hak-hak Allah. Dengan sebab cintanya kepada sang istri, sang anak terlalaikan dari hak Allah, demikian anggapan ayah beliau. Demi mengikuti nasihat sang ayah, Abdullah bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma pun menceraikan istrinya. Namun, perpisahan tersebut menyebabkan kesedihan yang mendalam bagi sang suami, demikian pula dengan Atikah. Dengan sebab perpisahan ini Abdullah membuat bait-bait syair kesedihan yang terdengar sampai kepada Abu Bakar Ash Shiddiiq dan menyebabkan beliau merasa iba. Abu Bakar pun mengijinkan putranya untuk merujuk kembali sang istri. Namun, pernikahan ini pun hanya berjalan beberapa waktu lamanya dan berakhir dengan gugurnya Abdullah bin Abi Bakar terkena anak panah saat berperang di Thaif bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah kepergian sang suami dan selesai dari masa iddah, Atikah pun dipersunting oleh Zaid bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Namun, suami beliau ini pun gugur dalam peristiwa perang Yamamah.

Pada tahun 12 hijriah, Atikah radhiyallahu ‘anha menikah dengan Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Umar bin Al Khaththab sendiri adalah kakak ipar dari Said bin Zaid yang menikahi Fathimah binti Al Khaththab. Oleh karenanya, telah ada hubungan kedekatan antara keluarga Atikah dan keluarga Umar bin Khaththab sebelumnya. Dalam pernikahan ini, Atikah mempersyaratkan kepada Umar bin Al Khaththab agar dirinya tidak dilarang untuk turut hadir dalam salat berjamaah bersama kaum muslimin di Masjid Nabi dan tidak memukulnya. Maka, Umar bin Al Khaththab pun menyetujui syarat tersebut dengan berat hati. Dalam pernikahan ini, lahir seorang anak laki-laki bernama Iyadh bin Umar bin Al Khaththab. Selama sekitar 10 tahun lamanya beliau setia mendampingi khalifah Umar bin Al Khaththab. Hingga beliau meninggal terbunuh syahid oleh seorang majusi di tahun ke-22 hijriah.

Lalu beliau pun dipinang oleh Az Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, sang hawari (pengikut setia) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga. Beliau pun menerima pinangan tersebut dengan meminta syarat yang sama dengan yang beliau ajukan kepada suami sebelumnya, yaitu meminta syarat untuk tidak dilarang menghadiri salat jamaah di masjid Nabi. Maka, Az Zubair pun memenuhi syarat tersebut.

Namun saat datang waktu salat Isya’, dan sang istri bersiap menghadirinya, Az Zubair pun merasa berat dengan hal ini, akan tetapi beliau tidak kuasa melarangnya disebabkan syarat yang telah diajukan tersebut. Demikianlah kecemburuan para suami atas istri mereka ketika mereka keluar rumah. Walaupun tujuan keluarnya adalah demi beribadah kepada-Nya di masjid-Nya.

Maka tatkala sang istri beranjak pergi, Az-Zubair mendahului beliau dan menunggu sang istri melewatinya di tempat yang tidak terlihat. Maka tatkala sang istri lewat, Az Zubair mencolek sang istri. Maka seketika itu sang istri beristirja’ dan berlari pulang. Sang istri tidak mengetahui bahwa yang mencoleknya adalah suaminya sendiri. Sejak itu Atikah tidak lagi keluar mengikuti salat berjamaah karena merasa takut akan diganggu manusia. Demikianlah seharusnya sikap yang ditunjukkan kaum mukminah, berusaha menjaga dirinya dari gangguan manusia. Terlebih di zaman ini, zaman yang penuh kemungkaran dan telah mulai menipis ketakwaan manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pernikahan berakhir dengan syahidnya Az Zubair dalam Perang Jamal.

Setelah kematian Az Zubair, sang khalifah di saat itu adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali pun berkeinginan untuk meminang Atikah binti Zaid. Namun, Atikah binti Zaid menolak pinangan Ali bin Abi Thalib disebabkan saat itu Ali menjadi pemimpin kaum muslimin. Sedangkan beliau melihat bahwa para suaminya meninggal semua dalam keadaan syahid. Beliau pun takut hal ini juga terjadi atas sang khalifah sebagaimana telah menimpa kepada suami beliau sebelumnya. Maka Ali bin Abi Thalib mengurungkan pinangan tersebut.

Lalu beliau dilamar oleh Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dan ini adalah suami beliau yang terakhir. Walau dalam pernikahan ini Atikah radhiyallahu ‘anha telah memasuki masa senja, namun, beliau tetaplah menjadi wanita yang disayangi dan dihormati oleh sang suami, Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya, sebelum pernikahan terjadi, Atikah telah mempersyaratkan agar calon suaminya tersebut tidak boleh melakukan jihad. Hal ini disebabkan kecemasan beliau terhadap kematian yang mungkin juga akan menimpa sang suami sebagaimana syahidnya suami-suami beliau sebelumnya. Akan tetapi, takdir Allah tidaklah dapat diganti dan diubah. Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan Al Hasan meninggal pula sebagai syahid meninggalkan beliau seorang diri.

Setelah kematian Al Hasan beliau pun hendak dilamar oleh Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, namun beliau menolaknya dan mengatakan, “Cukuplah bagiku menjadi wanita menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Atikah radhiyallahu ‘anha meninggal di masa kekuasaan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu. [Ustadz Hammam]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 73 vol. 07 1439H-2017M rubrik Figur.

Shahih Muslim hadits nomor 39

١٤ - بَابُ بَيَانِ تَفَاضُلِ الۡإِسۡلَامِ وَأَيُّ أُمُورِهِ أَفۡضَلُ
14. Bab keterangan bahwa Islam itu bertingkat-tingkat dan perkara mana yang paling utama

٦٣ - (٣٩) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رُمۡحِ بۡنِ الۡمُهَاجِرِ: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنۡ أَبِي الۡخَيۡرِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ: أَيُّ الۡإِسۡلَامِ خَيۡرٌ؟ قَالَ: (تُطۡعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقۡرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنۡ عَرَفۡتَ، وَمَنۡ لَمۡ تَعۡرِفۡ).
[البخاري: كتاب الإيمان، باب إطعام الطعام في الإسلام، رقم: ١٢].
63. (39). Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Laits menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Rumh bin Al-Muhajir telah menceritakan kepada kami: Al-Laits mengabarkan kepada kami dari Yazid bin Abu Habib, dari Abu Al-Khair, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam yang manakah yang terbaik?” Nabi menjawab, “Engkau memberi makanan dan engkau menyampaikan salam kepada orang yang engkau kenali dan yang tidak engkau kenal.”

Shahih Muslim hadits nomor 36

٥٩ - (٣٦) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَعَمۡرٌو النَّاقِدُ، وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ، سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ رَجُلًا يَعِظُ أَخَاهُ فِي الۡحَيَاءِ، فَقَالَ: (الۡحَيَاءُ مِنَ الۡإِيمَانِ).
59. (36). Abu Bakr bin Abu Syaibah, ‘Amr An-Naqid, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang yang sedang menasihati saudaranya tentang sikap malu (berbuat maksiat). Lantas Nabi bersabda, “Malu adalah sebagian dari iman.”
(...) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَقَالَ: مَرَّ بِرَجُلٍ مِنَ الۡأَنۡصَارِ يَعِظُ أَخَاهُ.
‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri melalui sanad ini. Beliau berkata: Nabi melewati seorang sahabat ansar yang sedang menasihati saudaranya.

Shahih Muslim hadits nomor 34

١١ - بَابُ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ مَنۡ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالۡإِسۡلَامِ دَينًا وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ رَسُولًا فَهُوَ مُؤۡمِنٌ وَإِنِ ارۡتَكَبَ الۡمَعَاصِي
11. Bab dalil yang menunjukkan bahwa siapa saja yang rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul, maka dia mukmin walaupun melakukan maksiat

٥٦ - (٣٤) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يَحۡيَىٰ بۡنِ أَبِي عُمَرَ الۡمَكِّيُّ، وَبِشۡرُ بۡنُ الۡحَكَمِ، قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ - وَهُوَ ابۡنُ مُحَمَّدٍ - الدَّرَاوَرۡدِيُّ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ الۡهَادِ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَامِرِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنِ الۡعَبَّاسِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ؛ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (ذَاقَ طَعۡمَ الۡإِيمَانِ: مَنۡ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالۡإِسۡلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا).
56. (34). Muhammad bin Yahya bin Abu ‘Umar Al-Makki dan Bisyr bin Al-Hakam telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Ad-Darwardi menceritakan kepada kami dari Yazid bin Al-Had, dari Muhammad bin Ibrahim, dari ‘Amir bin Sa’d, dari Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib; Bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman, siapa saja yang rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”

Shahih Muslim hadits nomor 32

٥٣ - (٣٢) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: أَخۡبَرَنَا مُعَاذُ بۡنُ هِشَامٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ قَتَادَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ؛ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ، وَمُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحۡلِ، قَالَ: (يَا مُعَاذُ) قَالَ: لَبَّيۡكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعۡدَيۡكَ، قَالَ: (يَا مُعَاذُ) قَالَ: لَبَّيۡكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعۡدَيۡكَ، قَالَ: (يَا مُعَاذُ) قَالَ: لَبَّيۡكَ رَسُولَ اللهِ وَسَعۡدَيۡكَ، قَالَ: (مَا مِنۡ عَبۡدٍ يَشۡهَدُ أَنَّ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ، إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا أُخۡبِرُ بِهَا النَّاسَ فَيَسۡتَبۡشِرُوا؟ قَالَ: (إِذًا يَتَّكِلُوا)، فَأَخۡبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنۡدَ مَوۡتِهِ، تَأَثُّمًا.
53. (32). Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami: Mu’adz bin Hisyam mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Qatadah. Beliau berkata: Anas bin Malik menceritakan kepada kami; Bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam memboncengkan Mu’adz bin Jabal di atas unta. Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu Rasulullah dengan senang hati.” Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu Rasulullah dengan senang hati.” Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Aku penuhi panggilanmu Rasulullah dengan senang hati.” Nabi bersabda, “Tidaklah seorang hambapun yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya kecuali Allah haramkan neraka baginya.” Mu’adz bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah aku kabarkan kepada orang-orang sehingga mereka bisa bergembira?” Nabi bersabda, “(Jangan) nanti mereka akan bersandar.” Mu’adz mengabarkan hadis ini menjelang kematiannya karena khawatir jatuh ke dalam dosa.

Shahih Muslim hadits nomor 31

٥٢ - (٣١) - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ يُونُسَ الۡحَنَفِيُّ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو كَثِيرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيۡرَةَ، قَالَ: كُنَّا قُعُودًا حَوۡلَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، مَعَنَا أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ، فِي نَفَرٍ، فَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنۡ بَيۡنِ أَظۡهُرِنَا، فَأَبۡطَأَ عَلَيۡنَا، وَخَشِينَا أَنۡ يُقۡتَطَعَ دُونَنَا، وَفَزِعۡنَا فَقُمۡنَا، فَكُنۡتُ أَوَّلَ مَنۡ فَزِعَ، فَخَرَجۡتُ أَبۡتَغِي رَسُولَ اللهِ ﷺ حَتَّى أَتَيۡتُ حَائِطًا لِلۡأَنۡصَارِ لِبَنِي النَّجَّارِ، فَدُرۡتُ بِهِ هَلۡ أَجِدُ لَهُ بَابًا. فَلَمۡ أَجِدۡ، فَإِذَا رَبِيعٌ يَدۡخُلُ فِي جَوۡفِ حَائِطٍ مِنۡ بِئۡرٍ خَارِجَةٍ - وَالرَّبِيعُ الۡجَدۡوَلُ – فَاحۡتَفَزۡتُ كَمَا يَحۡتَفِزُ الثَّعۡلَبُ، فَدَخَلۡتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (أَبُو هُرَيۡرَةَ؟) فَقُلۡتُ: نَعَمۡ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (مَا شَأۡنُكَ؟) قُلۡتُ: كُنۡتَ بَيۡنَ أَظۡهُرِنَا، فَقُمۡتَ فَأَبۡطَأۡتَ عَلَيۡنَا، فَخَشِينَا أَنۡ تُقۡتَطَعَ دُونَنَا، فَفَزِعۡنَا، فَكُنۡتُ أَوَّلَ مَنۡ فَزِعَ، فَأَتَيۡتُ هَٰذَا الۡحَائِطَ، فَاحۡتَفَزۡتُ كَمَا يَحۡتَفِزُ الثَّعۡلَبُ، وَهَٰؤُلَاءِ النَّاسُ وَرَائِي. فَقَالَ: (يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ) - وَأَعۡطَانِي نَعۡلَيۡهِ - قَالَ: (اذۡهَبۡ بِنَعۡلَيَّ هَاتَيۡنِ، فَمَنۡ لَقِيتَ مِنۡ وَرَاءِ هَٰذَا الۡحَائِطِ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، مُسۡتَيۡقِنًا بِهَا قَلۡبُهُ، فَبَشِّرۡهُ بِالۡجَنَّةِ)، فَكَانَ أَوَّلَ مَنۡ لَقِيتُ عُمَرُ.
52. (31). Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: ‘Umar bin Yunus Al-Hanafi menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu Katsir menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Abu Hurairah menceritakan kepadaku. Beliau mengatakan: Kami pernah duduk di sekitar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersama kami ada Abu Bakr dan ‘Umar dalam sekelompok orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit (meninggalkan) kami. Lalu beliau tidak kunjung kembali kepada kami. Kami khawatir beliau dicegat musuh di luar pengawasan kami. Kami tersentak sadar. Aku adalah orang yang paling awal bergerak. Aku keluar mencari-cari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai aku mendatangi suatu kebun milik seorang ansar Bani An-Najjar. Aku berkeliling untuk mencari pintu masuknya, namun aku tidak menemukan. Ternyata ada sebuah sungai kecil yang masuk ke dalam tengah kebun yang berasal dari sumur di luar. Aku pun masuk dari situ dengan menciutkan diri seperti rubah yang menciutkan tubuhnya. Aku masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya, “Abu Hurairah kah itu?” Aku menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Nabi bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Aku menjawab, “Engkau tadi ada di tengah-tengah kami, lalu engkau bangkit pergi dan tak kunjung kembali kepada kami. Kami khawatir engkau dicegat musuh di luar pengawasan kami sehingga kami tersentak sadar. Aku adalah orang yang paling awal bergerak. Aku pun mendatangi kebun ini, lalu aku menciutkan diri seperti rubah yang menciutkan tubuhnya sementara orang-orang masih berada di belakangku. Nabi bersabda, “Wahai Abu Hurairah.” Sembari Nabi memberi dua sandalnya kepadaku, beliau melanjutkan, “Pergilah membawa kedua sandalku ini. Siapa saja yang engkau jumpai di belakang kebun ini yang orang itu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, maka berilah kabar gembira surga kepadanya.” Orang yang pertama aku jumpai adalah ‘Umar.
فَقَالَ: مَا هَاتَانِ النَّعۡلَانِ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ؟ فَقُلۡتُ: هَاتَانِ نَعۡلَا رَسُولِ اللهِ ﷺ، بَعَثَنِي بِهِمَا، مَنۡ لَقِيتُ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ مُسۡتَيۡقِنًا بِهَا قَلۡبُهُ، بَشَّرۡتُهُ بِالۡجَنَّةِ، فَضَرَبَ عُمَرُ بِيَدِهِ بَيۡنَ ثَدۡيَيَّ. فَخَرَرۡتُ لِاسۡتِي، فَقَالَ: ارۡجِعۡ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ، فَرَجَعۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَأَجۡهَشۡتُ بُكَاءً. وَرَكِبَنِي عُمَرُ، فَإِذَا هُوَ عَلَى أَثَرِي، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا لَكَ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ؟) قُلۡتُ: لَقِيتُ عُمَرَ فَأَخۡبَرۡتُهُ بِالَّذِي بَعَثۡتَنِي بِهِ، فَضَرَبَ بَيۡنَ ثَدۡيَيَّ ضَرۡبَةً، خَرَرۡتُ لِاسۡتِي، قَالَ: ارۡجِعۡ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا عُمَرُ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا فَعَلۡتَ؟) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنۡتَ وَأُمِّي، أَبَعَثۡتَ أَبَا هُرَيۡرَةَ بِنَعۡلَيۡكَ، مَنۡ لَقِيَ يَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُسۡتَيۡقِنًا بِهَا قَلۡبُهُ، بَشَّرَهُ بِالۡجَنَّةِ؟ قَالَ: (نَعَمۡ) قَالَ: فَلَا تَفۡعَلۡ، فَإِنِّي أَخۡشَىٰ أَنۡ يَتَّكِلَ النَّاسُ عَلَيۡهَا، فَخَلِّهِمۡ يَعۡمَلُونَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (فَخَلِّهِمۡ).
‘Umar bertanya, “Dua sandal apa ini wahai Abu Hurairah?” Aku menjawab, “Ini sepasang sandal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengutusku membawa ini dengan berpesan siapa saja yang aku jumpai, dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, maka aku memberi kabar gembira surga kepadanya.” ‘Umar lalu mendorong di antara dua dadaku dengan tangannya sehingga aku terjatuh di atas pantatku. ‘Umar mengatakan, “Kembalilah wahai Abu Hurairah.” Aku kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku serasa ingin menangis. ‘Umar membuntutiku. Ternyata beliau persis di belakangku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Kenapa engkau wahai Abu Hurairah.” Aku menjawab, “Aku berjumpa dengan ‘Umar lalu aku kabarkan kepadanya apa yang engkau utus aku tadi. Lalu beliau mendorong di antara dadaku dengan kuat sehingga aku terjatuh di atas pantatku. Dia berkata: Kembalilah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Umar, apa yang mendorongmu melakukan perbuatan itu?” ‘Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Apa benar engkau mengutus Abu Hurairah dengan membawa sepasang sandalmu dengan pesan siapa saja yang dia jumpai dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, lalu dia beri kabar gembira surga kepada orang itu?” Nabi menjawab, “Iya.” ‘Umar mengatakan, “Jangan engkau lakukan. Karena aku khawatir orang-orang akan bersandar padanya. Jadi biarkan saja mereka beramal.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya, biarkan mereka beramal.”