Syarh Al-Ajurrumiyyah - Tanda-tanda Isim

ثُمَّ ذَكَرَ الۡمُؤَلِّفُ –رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى- فِيمَا يَلِي عَلَامَةَ الۡاسۡمِ؛ حَتَّى إِذَا وَجَدۡنَا هٰذِهِ الۡعَلَامَةَ عَرَفۡنَا أَنَّهُ اسۡمٌ، فَقَالَ:
عَلَامَاتُ الۡأَسۡمَاءِ:
قَوۡلُهُ: (فَالۡاسۡمُ يُعۡرَفُ بِالۡخَفۡضِ وَالتَّنۡوِينِ، وَدُخُولِ الۡأَلِفِ وَاللَّامِ، وَحُرُوفِ الۡخَفۡضِ): هٰذِهِ أَرۡبَعُ عَلَامَاتٍ لِلۡاسۡمِ.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah berkata:
Kemudian mualif –semoga Allah taala merahmatinya- menyebutkan berikutnya tanda isim, hingga ketika kita mendapati tanda-tanda ini, maka kita mengetahui bahwa kata itu adalah isim. Beliau mengatakan:

Tanda-tanda Isim

Ucapan beliau, “Isim dikenali dengan khafdh, tanwin, diawali huruf alif dan lam, dan diawali huruf khafdh.” Ini adalah empat tanda untuk isim.
فَهُوَ يُعۡرَفُ بِالۡخَفۡضِ، وَالۡخَفۡضُ هُوَ الۡجَرُّ، لٰكِنَّ الۡكُوفِيِّينَ يُعَبِّرُونَ عَنِ الۡجَرِّ بِالۡخَفۡضِ، يَقُولُ ابۡنُ مَالِكٍ فِي أَلۡفِيَّتِهِ:
بِالۡجَرِّ وَالتَّنۡوِينِ وَالنِّدَاءِ وَأَلۡ .......................
وَالۡبَصۡرِيُّونَ يُعَبِّرُونَ عَنِ الۡخَفۡضِ بِالۡجَرِّ، وَإِلَّا فَالۡمَعۡنَى وَاحِدٌ، لٰكِنۡ هٰذَا اصۡطِلَاحٌ لِهُمۡ، الۡكُوفِيُّ يَقُولُ: خَفۡضٌ، وَالۡبَصۡرِيُّ يَقُولُ: جَرٌّ، فَإِذَا وَجَدۡنَا كَلِمَةً مَخۡفُوضَةً عَرَفۡنَا أَنَّهَا اسۡمٌ، مِثۡل: (كِتَابُ عَلِيٍّ) فَـ(عَلِيٍّ) اسۡمٌ؛ لِأَنَّهُ مَخۡفُوضٌ بِالۡإِضَافَةِ، وَكَذٰلِكَ: (مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ كَرِيمٍ)، فَـ(كَرِيمٍ) عَلَامَتُهَا الۡخَفۡضُ، يَعۡنِي: جُرَّتۡ، فَإِذَا رَأَيۡنَا كَلِمَةً مَجۡرُورَةً، أَوۡ مَخۡفُوضَةً عَلَى تَعۡبِيرِ الۡمُؤَلِّفِ، فَهِيَ اسۡمٌ.
Isim dikenali dengan khafdh. Khafdh adalah jarr. Tetapi orang-orang Kufah memilih istilah khafdh daripada jarr. Ibnu Malik berkata di dalam Alfiyyah-nya, “Dengan jarr, tanwin, nida` (panggilan), dan al…”
Adapun orang-orang Bashrah memilih istilah jarr daripada khafdh. Namun, sesungguhnya maknanya sama saja. Ini hanya istilah yang mereka miliki. Orang Kufah mengatakan khafdh, sementara orang Bashrah mengatakan jarr. Jadi, jika kita mendapati sebuah kata yang di-khafdh, kita mengenali bahwa kata itu adalah isim. Semisal ucapan “كِتَابُ عَلِيٍّ (Kitab ‘Ali)”. Jadi “عَلِيٍّ” adalah isim karena di-khafdh karena idhafah. Demikian pula ucapan “مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ كَرِيمٍ (Aku melewati seseorang yang dermawan).” “كَرِيمٍ” tandanya adalah khafdh, yakni di-jarr. Jika kita melihat ada kata yang di-jarr atau di-khafdh sesuai istilah mualif, maka kata tersebut merupakan isim.
كَذٰلِكَ يُعۡرَفُ بِالتَّنۡوِينِ، فَالتَّنۡوِينُ لَا يَدۡخُلُ إِلَّا عَلَى الۡأَسۡمَاءِ، فَإِذَا وَجَدۡتَ كَلِمَةً مُنَوَّنَةً فَاعۡلَمۡ أَنَّهَا اسۡمٌ، سَوَاءٌ فِي ذٰلِكَ إِنۡ كَانَ التَّنۡوِينُ بِالۡفَتۡحِ مِثۡل: (زَيۡدًا)، أَوِ الضَّمِّ مِثۡل: (زَيۡدٌ)، أَوِ الۡخَفۡضِ مِثۡل: (زَيۡدٍ)، فَلَوۡ قُلۡتَ: (زَيۡدٌ قَائِمٌ) فَكُلٌّ مِنۡ هَاتَيۡنِ الۡكَلِمَتَيۡنِ اسۡمٌ، وَعَلَامَةُ اسۡمِيَّتِهِمَا التَّنۡوِينُ.
فَإِذَا قِيلَ: (هٰذَا رَجُلٌ)، فَـ(رَجُلٌ) اسۡمٌ، عَلِمۡنَا هٰذَا مِنَ التَّنۡوِينِ، وَ(مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ) (رَجُلٍ) اسۡمٌ، وَفِيهِ عَلَامَتَانِ: الۡخَفۡضُ وَالتَّنۡوِينُ، وَمِثۡلُ هَٰذَا لَوۡ قُلۡنَا: (هَٰذِهِ دَارٌ وَاسِعَةٌ)، وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٍ﴾ [الأعراف: ١١٦]، فَـ(سِحۡرٍ) اسۡمٌ، وَعَلَامَتُهُ التَّنۡوِينُ وَالۡخَفۡضُ، وَدُخُولُ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ، وَ(عَظِيمٍ) اسۡمٌ، وَعَلَامَتُهُ التَّنۡوِينُ وَالۡخَفۡضُ.
Demikian pula isim dikenali dengan tanwin, karena tanwin hanya masuk kepada isim. Jadi, ketika engkau mendapati suatu kata yang ditanwin, maka ketahuilah bahwa kata itu merupakan isim. Sama saja apakah tanwinnya dengan fatah, seperti “زَيۡدًا”; atau damah seperti “زَيۡدٌ”; atau kasrah seperti “زَيۡدٍ”. Jadi, kalau engkau katakan “زَيۡدٌ قَائِمٌ (Zaid berdiri)”, maka setiap dari dua kata ini adalah isim. Tanda isimnya adalah tanwin.
Jika ada yang berkata “هٰذَا رَجُلٌ (Ini adalah seorang pria)”, maka “رَجُلٌ” adalah isim. Kita mengetahuinya dari tanwin. Atau “مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ (Aku melewati seseorang)”, maka “رَجُلٍ” adalah isim. Dalam kata ini ada dua tanda, yaitu: khafdh dan tanwin.
Seperti ini pula jika kita katakan “هَٰذِهِ دَارٌ وَاسِعَةٌ (Ini adalah rumah yang luas).” Dan firman Allah taala, “وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٍ (Serta mereka mendatangkan sihir yang besar)” (QS. Al-A’raf: 116), “سِحۡرٍ” adalah isim. Tandanya adalah tanwin, khafdh, dan diawali oleh huruf khafdh. “عَظِيمٍ” adalah isim. Tandanya adalah tanwin dan khafdh.
الثَّالِثُ: (دُخُولُ الۡأَلِفِ وَاللَّامِ)، وَالۡبَصۡرِيُّونَ يَقُولُونَ: دُخُولُ (أل)، وَالۡخِلَافُ فِي هٰذَا يَسِيرٌ، فَالۡبَصۡرِيُّونَ يَقُولُونَ: إِنَّ هٰذِهِ كَلِمَةٌ مُكَوَّنَةٌ مِنۡ حَرۡفَيۡنِ، وَالۡكَلِمَةُ مِنۡ حَرۡفَيۡنِ يُنۡطَقُ بِلَفۡظِهَا، وَالۡكُوفِيُّونَ يَقُولُونَ: إِنَّهَا كَلِمَةٌ مُكَوَّنَةٌ مِنۡ حَرۡفَيۡنِ، لٰكِنَّهُمَا حَرۡفَانِ هِجَائِيَّانِ، أَحَدُهُمَا لَيۡسَ أَصۡلِيًّا، وَهُوَ الۡهَمۡزَةُ، فَالۡهَمۡزَةُ فِي (أل) هَمۡزَةُ وَصۡلٍ، تَسۡقُطُ عِنۡدَ الدَّرۡجِ وَالۡوَصۡلِ، فَهِيَ لَيۡسَتۡ أَصۡلِيَّةً حَتَّى نَقُولَ: إِنَّنَا نَنۡطِقُ بِلَفۡظِهَا، إِذَنۡ نَنۡطِقُ بِاسۡمِهَا، فَنَقُولُ: (الۡأَلِفُ وَاللَّامُ).
Tanda ketiga adalah diawali oleh huruf alif dan lam. Adapun orang-orang Bashrah berkata: diawali oleh “al”. Perselisihan dalam hal ini adalah sesuatu yang sepele. Orang-orang Bashrah berkata: Sesungguhnya ini adalah sebuah kata yang tersusun dari dua huruf dan kata yang terdiri dari dua huruf diucapkan dengan melafalkannya. Adapun orang-orang Kufah mengatakan: Sesungguhnya ini adalah sebuah kata yang tersusun dari dua huruf. Akan tetapi keduanya adalah huruf hijaiah, salah satunya bukan huruf asli, yaitu hamzah. Karena hamzah di dalam “al” adalah hamzah wasal yang gugur (tidak dibaca) di tengah kalimat atau ketika disambung. Maka, hamzah bukan huruf asli sehingga tidak bisa kita katakan: Sesungguhnya kita mengucapkan dengan melafalkannya. Jadi kita mengucapkan dengan namanya, sehingga kita katakan: huruf alif dan lam.
تَنۡبِيهٌ: صَارَ الۡكُوفِيُّونَ وَالۡبَصۡرِيُّونَ يَخۡتَلِفُونَ –أَيۡضًا- فِي (أل)، فِي مِثۡلِ قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿ذَٰلِكَ الۡكِتَٰبُ﴾ [البقرة: ٢]، فَالۡبَصۡرِيُّونَ يَقُولُونَ: عَلَامَةُ اسۡمِيَّةِ (الۡكِتَاب) (أل)، أَمَّ الۡكُوفِيُّونَ فَيَقُولُونَ: إِنَّ عَلَامَةَ اسۡمِيَّتِهَا (الۡأَلِفُ وَاللَّامُ).
وَحُجَّةُ الۡبَصۡرِيِّينَ أَنَّ (ألۡ) حَرۡفَانِ، وَالۡكَلِمَةُ إِذَا كَانَتۡ حَرۡفَيۡنِ يُنۡطَقُ بِلَفۡظِهَا؛ وَلِهٰذَا تَقُولُ: (مِنۡ) حَرۡفُ جَرٍّ، وَلَا تَقُولُ: (الۡمِيمُ وَالنُّونُ) حَرۡفُ جَرٍّ، وَتَقُولُ: (اللَّامُ) حَرۡفُ جَرٍّ، وَلَا تَقُولُ (لِ) حَرۡفُ جَرٍّ.
لٰكِنَّ الۡكُوفِيِّينَ يَقُولُونَ: إِنَّ الۡهَمۡزَةَ لَيۡسَتۡ أَصۡلِيَّةً فِي الۡكَلِمَةِ؛ لِأَنَّ الۡهَمۡزَةَ يُؤۡتَى بِهَا لِلۡوَصۡلِ؛ وَلِهٰذَا تَسۡقُطُ عِنۡدَ الدَّرۡجِ وَالۡاتِّصَالِ، فَتَقُولُ مَثَلًا: (أَكۡرَمۡتُ الرَّجُلَ)، فَهُنَا سَقَطَتِ الۡهَمۡزَةُ، وَتَقُولُ مَثَلًا: ﴿وَالۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا﴾ [الشمس: ٢]، فَهُنَا سَقَطَتِ الۡهَمۡزَةُ مِنۡ قَوۡلِهِ: (وَالۡقَمَرِ)؛ إِذَنۡ نَنۡطِقُ بِسۡمِهَا، وَنَقُولُ: (الۡأَلِفُ وَاللَّامُ).
لٰكِنَّ هَٰذَا الۡخِلَافَ لَا يَتَرَتَّبُ عَلَيۡهِ شَيۡءٌ؛ لِأَنَّهُ خِلَافٌ لَفۡظِيٌّ.
Peringatan: Orang-orang Kufah dan Bashrah juga berselisih dalam “al” seperti di dalam firman Allah taala “ذَٰلِكَ الۡكِتَٰبُ (Itu adalah kitab)” (QS. Al-Baqarah: 2). Orang-orang Bashrah berkata: Tanda isim “الۡكِتَٰبُ” adalah “al”, sedangkan orang-orang Kufah berkata bahwa tanda isimnya adalah huruf alif dan lam.
Argumen orang-orang Bashrah bahwa “al” adalah dua huruf dan sebuah kata jika berupa dua huruf, maka diucapkan dengan melafalkannya. Atas dasar ini engkau katakan “min” huruf jarr dan engkau tidak katakan “huruf mim dan nun” huruf jarr. Dan engkau mengatakan “huruf lam” huruf jarr dan engkau tidak mengatakan “li” huruf jarr.
Tetapi orang-orang Kufah berkata: Sesungguhnya hamzah bukan huruf asli dalam kata tersebut karena hamzah didatangkan untuk wasal. Karena itu, hamzah ini tidak dibaca ketika di tengah kalimat dan ketika disambung. Contoh, engkau katakan “أَكۡرَمۡتُ الرَّجُلَ (Aku memuliakan pria itu).” Dalam kalimat ini, hamzah tidak dibaca. Contoh lain, engkau katakan “وَالۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا (dan bulan apabila mengiringinya)” (QS. Asy-Syams: 2). Di sini hamzah tidak dibaca dalam pengucapan “وَالۡقَمَرِ”, jadi kita mengucapkannya dengan namanya sehingga kita katakan “huruf alif dan lam”.
Akan tetapi, ini adalah perselisihan yang tidak memberi dampak apa-apa, karena ini hanyalah perselisihan secara lafal.
إِذَنۡ: إِذَا وَجَدۡتَ كَلِمَةً فِيهَا الۡأَلِفُ وَاللَّامُ؛ فَاعۡلَمۡ أَنَّهَا اسۡمٌ، كَمَا فِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوجِ﴾ [البروج: ١]، فَـ(السَّمَاءِ) اسۡمٌ، وَعَلَامَتُهُ دُخُولُ الۡأَلِفِ وَاللَّامِ، وَالۡخَفۡضُ، وَقَوۡلُهُ: ﴿وَلَقَدۡ زَيَّنَّا السَّمَآءَ﴾ [الملك: ٥]، فَـ(السَّمَاءَ) هُنَا أَيۡضًا اسۡمٌ، وَعَلَامَتُهُ الۡأَلِفُ وَاللَّامُ، وَتَقُولُ: (اللَّيۡلُ فِي هٰذِهِ الۡأَيَّامِ قَصِيرٌ)، فَـ(اللَّيۡلُ) فِيهَا مِنۡ عَلَامَتِ الۡاسۡمِ الۡأَلِفُ وَاللَّامُ، وَ(قَصِيرٌ) فِيهَا مِنۡ عَلَامَاتِ الۡاسۡمِ التَّنۡوِينُ.
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿فَلۡيَعۡبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الۡبَيۡتِ﴾ [قريش: ٣]، فَالۡبَيۡتُ: اسۡمٌ وَعَلَامَتُهُ الۡخَفۡضُ، وَدُخُولُ الۡأَلِفِ وَاللَّامِ.
Jadi, jika engkau mendapati suatu kata, ada huruf alif dan lam, maka ketahuilah bahwa kata itu adalah isim. Sebagaimana di dalam firman Allah taala, “وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوجِ (Demi langit yang mempunyai gugusan bintang)” (QS. Al-Buruj: 1). “السَّمَاءِ” adalah isim. Tandanya adalah diawali huruf alif lam dan khafdh. Dan firman Allah, “وَلَقَدۡ زَيَّنَّا السَّمَآءَ (Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit)” (QS. Al-Mulk: 5). Jadi “السَّمَاءَ” di sini juga merupakan isim. Tandanya adalah huruf alif dan lam. Dan engkau katakan “اللَّيۡلُ فِي هٰذِهِ الۡأَيَّامِ قَصِيرٌ (Malam di hari-hari ini singkat)”, “اللَّيۡلُ” ada tanda isim yaitu huruf alif dan lam; dan “قَصِيرٌ” ada tanda isim yaitu tanwin.
Allah taala berfirman, “فَلۡيَعۡبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الۡبَيۡتِ (Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah))” (QS. Quraisy: 3). “الۡبَيۡت” adalah isim. Tandanya adalah khafdh dan diawali huruf alif dan lam.
الرَّابِعُ: (وَحُرُوفِ الۡخَفۡضِ)، فَدُخُولُ حَرۡفِ الۡجَرِّ عَلَى الۡكَلِمَةِ عَلَامَةٌ عَلَى أَنَّهَا اسۡمٌ.
قَالَ تَعَالَى: ﴿لِلهِ الۡأَمۡرُ مِنۡ قَبۡلُ وَمِن بَعۡدُ﴾ [الروم: ٤]، فَقَبۡلُ اسۡمٌ، وَعَلَامَتُهُ دُخُولُ (مِنۡ) عَلَيۡهِ.
وَقَالَ ﷺ: (وَلَا يَنۡفَعُ ذَا الۡجَدِّ مِنۡكَ الۡجَدُّ)، فَالۡكَافُ اسۡمٌ، لِدُخُولِ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ (مِنۡ) عَلَيۡهِ.
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿قُلۡ هُوَ اللهُ أَحَدٌ﴾ [الإخلاص: ١]، فَلَفۡظُ الۡجَلَالَةِ (الله) اسۡمٌ لِدُخُولِ الۡأَلِفِ وَاللَّامِ عَلَيۡهِ، وَ(أَحَدٌ) اسۡمٌ لِأَجۡلِ التَّنۡوِينِ.
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الۡحِنۡثِ الۡعَظِيمِ﴾ [الواقعة: ٤٦]، فَـ(الۡحِنۡث) اسۡمٌ، لِأَنَّهُ دَخَلَ عَلَيۡهِ الۡأَلِفُ وَاللَّامُ، وَحَرۡفُ الۡخَفۡضِ (عَلَى)، وَ(الۡعَظِيمِ) اسۡمٌ لِأَنَّهُ دَخَلَ عَلَيۡهِ الۡأَلِفُ وَاللَّامُ وَالۡخَفۡضُ.
Tanda isim keempat: “Diawali huruf khafdh”. Jadi masuknya huruf jarr pada sebuah kata merupakan sebuah tanda bahwa kata itu adalah isim.
Allah taala berfirman, “لِلّٰهِ الۡأَمۡرُ مِنۡ قَبۡلُ وَمِن بَعۡدُ (Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang))” (QS. Ar-Rum: 4). Maka قَبۡلُ adalah isim dan tandanya adalah diawali مِنۡ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “وَلَا يَنۡفَعُ ذَا الۡجَدِّ مِنۡكَ الۡجَدُّ (Kedudukan orang yang memiliki kedudukan tidak bermanfaat di sisi-Mu)”[1], huruf kaf adalah isim karena diawali huruf khafdh “min”.
Allah taala berfirman, “قُلۡ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa)” (QS. Al-Ikhlash: 1). Maka lafal jalalah “الله” adalah isim karena diawali huruf alif dan lam. Dan “أَحَدٌ” adalah isim karena ada tanwin.
Allah taala berfirman, “وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الۡحِنۡثِ الۡعَظِيمِ (Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar)” (QS. Al-Waqi’ah: 46). “الۡحِنۡث” adalah isim karena diawali huruf alif dan lam serta huruf khafdh “عَلَى”. Dan “الۡعَظِيمِ” adalah isim karena diawali huruf alif dan lam serta khafdh.
وَالۡمُرَادُ مِنۡ ذٰلِكَ أَنَّ أَيَّ كَلِمَةٍ فِيهَا إِحۡدَى هَٰذِهِ الۡعَلَامَاتِ، أَوۡ تَقۡبَلُ إِحۡدَاهَا فَهِيَ اسۡمٌ.
تَنۡبِيهٌ: اخۡتَصَرَ الۡمُؤَلِّفُ –رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى- فِي مَتۡنِهِ ذٰلِكَ، وَإِلَّا فَهُوَ قَدۡ تَرَكَ عَلَامَةً هِيَ مِنۡ أَهَمِّ الۡعَلَامَاتِ، أَلَا وَهِيَ الۡإِسۡنَادِ.
Yang dimaukan dari itu semua adalah bahwa kata apa saja yang memiliki salah satu dari tanda-tanda ini atau menerima salah satunya maka ia adalah isim.
Peringatan: Mualif –semoga Allah taala merahmatinya- mencukupkan matannya dengan itu saja. Karena sesungguhnya, beliau telah meninggalkan sebuah tanda yang termasuk tanda terpenting, yaitu isnad (kaitan antara musnad dengan musnad ilaih).