Cari Blog Ini

Abu Ubaid Al Qasim Bin Sallam Al Harawi

~Ulama Keturunan Romawi~


Abu Ubaid Al Qasim bin Sallam Al Harawi rahimahullah, salah seorang ulama yang berasal dari Harrah, suatu kota besar daerah Khurasan. Yaqut Al Hamawi dalam Mu’jam Buldan menggambarkan kota tersebut, “Selama saya di Khurasan, belum pernah saya melihat kota yang lebih megah, besar, bagus, indah dan lebih banyak penduduknya dibandingkan Harrah. Di sana ada kebun-kebun yang banyak, airnya melimpah, harta yang banyak, banyak para ulama, dan dipenuhi oleh orang-orang utama serta dermawan.”

Ayah Abu Ubaid sebelumnya adalah seorang budak berkebangsaan Romawi milik salah seorang suku Azdi penduduk kota tersebut. Suatu hari, Sallam (ayah Abu Ubaid Al Qasim, red.) keluar untuk suatu keperluan, sedangkan Abu Ubaid ketika itu bersama putra bekas tuannya di Kuttab, tempat belajar anak-anak. Sallam berpesan kepada sang pengajar dengan bahasa Arabnya yang masih berdialek ‘ajam (non-Arab), “Ajarilah Al Qasim, sesungguhnya dia anak yang cerdas.”

Abu Ubaid dilahirkan di kota Harrah pada tahun 157 Hijriah. Dalam perjalanan hidupnya beliau tidak hanya menetap di satu tempat akan tetapi berpindah-pindah ke negeri-negeri Islam. Tercatat beberapa kota seperti Bashrah, Kufah, Baghdad, Mesir, Thursus, Damaskus, dan lainnya pernah beliau kunjungi demi mencari ilmu. Jadilah beliau sebagai sosok ulama yang memiliki ilmu yang banyak dan dalam, serta berkemampuan dengan tata bahasa Arab yang mapan.

Beliau berambut dan berjenggot merah karena menggunakan inai. Beliau adalah sosok yang memiliki kewibawaan tersendiri bagi yang memandangnya.

Abu Ubaid tumbuh dalam rasa cinta terhadap ilmu dan ulama. Bahkan, beliau telah bertemu dengan mayoritas ulama besar di masa beliau, para fuqaha’, para imam ilmu bahasa Arab, sastra, nahwu, tokoh-tokoh besar ahli qiraah, dan para ahli hadits dari penjuru negeri Islam. Beliau duduk bersimpuh menekuk lutut beliau dalam rangka mencari ilmu di hadapan para ulama tersebut, mendengar ilmu langsung dari lautan ilmu, mengambil riwayat dari mereka, pun menyetorkan periwayatan hadits di hadapan mereka.

Begitu banyak bidang ilmu yang beliau telah kuasai. Ilmu qiraah, hadits, tajwid, tata bahasa Arab, fikih, sastra, dan berbagai disiplin ilmu. Beliau mengambil ilmu qiraah dari guru beliau, kemudian beliau perdengarkan kembali kepada guru-guru beliau. Guru-guru beliau pun merupakan guru yang masyhur di bidangnya. Al Kisa’i, Suja’ bin Nashr Al Balkhi, Ismail bin Ja’far, Yahya bin Adam, Hajjaj bin Muhammad, Sulaiman bin Hammad, Abdul A’la bin Mishar, Hisyam bin Ammar, dan sederetan nama yang lainnya dari para ulama ahli qiraah.

Adapun hadits, beliau telah mendengar dari Ismail bin Ja’far, Syarik bin Abdillah, Husyaim bin Bisyr, Ismail bin Ayyasy, Sa’id bin Abdirrahman Al Jumahi, Ubaidillah Al Asyja’i, Hafsh bin Ghiyats, Ghundar, Waki’, Abdullah bin Idris, Abbad bin Abbad, Marwan bin Mu’awiyah, Abbad bin Awwam, Jarir bin Abdil Hamid, Abu Mu’awiyah adh Dharir, Yahya bin Sa’id Al Qaththan, Ishaq bin Yusuf Al Azraq, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Sa’id bin Abi Maryam, Hammad bin Salamah. Nama-nama yang tidak asing lagi bagi mereka yang mendalami ilmu periwayatan hadits. Beliau memiliki guru yang begitu banyak dalam ilmu ini. Hal ini membuktikan pengagungan beliau terhadap hadits dan ahli hadits.

Beliau mendalami ilmu fikih langsung kepada Al Imam Asy Syafi’i, Qadhi Abu Yusuf, dan Muhammad Hasan Asy Syaibani. Dua nama yang terakhir disebutkan merupakan dua murid senior Al Imam Abu Hanifah.

Adapun bahasa Arab, sastra, dan gharib (kosakata yang sukar dan jarang ditemui), beliau menuntut ilmunya kepada para ulama paling terkenal di Bashrah dan Kufah seperti Abu Ubaidah Ma’mar bin Al Mutsanna, Abu Zaid Al Anshari, Al Ashma’i, Abu Muhammad Al Yazidi, Abu Amr Asy Syaibani, Abu Ziyad Al Kilabi, Al Umawi, Al Kisa’i, Al Farra’, Ali bin Al Mubarak, Al Ahmar, Ibnul A’rabi, dan yang lainnya.

Sampai-sampai para ulama mengatakan bahwa Abu Ubaid adalah orang yang paling berilmu di bidang nahwu, bahasa Arab, dan fikih.

Saat tinggal di Khurasan, beliau pernah menjadi seorang muaddib, pendidik bagi anak-anak. Yang beliau didik adalah Hartsamah bin A’yun, salah satu komandan tinggi di masa kepemimpinan Ar Rasyid dan Al Ma’mun. Beliau juga pernah menjadi pendidik di negeri Samurra’ untuk putra-putra Thahir bin Al Husain setelah beliau bertemu dengannya.

Beliau pun pernah menetap beberapa waktu di Baghdad. Di negeri tersebut, orang-orang sempat mendengarkan ilmu yang banyak dari beliau. Sewaktu beliau di Baghdad itulah, Tsabit bin Nashr Al Khuza’i, penanggung jawab pemerintahan di daerah perbatasan negeri muslimin, menjadikan Abu Ubaid sebagai pendidik putranya.

Selang beberapa tahun, ketika usia menginjak 38 tahun, Abu Ubaid pun pindah ke Thursus bersama Tsabit. Sesampainya di Thursus, Tsabit menunjuk Abu Ubaid sebagai hakim daerah tersebut. Selama 18 tahun, Abu Ubaid menjalani hari-hari beliau di kota tersebut sebagai hakim, selama Tsabit bertugas di Thursus.

Pada tahun 213 Hijriyah, di usia yang ke-56, Abu Ubaid meninggalkan kegiatan sebagai hakim di wilayah Thursus. Beliau melakukan perjalanan ke Mesir bersama Yahya bin Ma’in. Sesampainya di Mesir, beliau langsung menimba ilmu, mendengarkan ilmu dari para ulama Mesir. Beliau menyusun karya tulis tatkala berada di Mesir. Setelah beberapa lama tinggal di Mesir, beliau menuju Damaskus untuk mencari ilmu kembali. Demikianlah semangat Abu Ubaid dalam menimba ilmu agama, walaupun usia beliau sudah tidak muda lagi. Inilah realisasi cinta dari seorang pecinta ilmu.

Setelah beberapa lama berada di Damaskus, beliau pun kembali ke Baghdad dan mulai menyampaikan hadits di sana. Di Baghdad, beliau disambut oleh para penuntut ilmu.

Beliau sangat perhatian dengan agama dalam kesehariannya. Seorang yang wara’, dermawan, berakal jernih, teliti dalam menilai, memiliki banyak keutamaan, terjaga dari aib, memiliki sistem pembelajaran yang bagus, unggul dalam amalan, rabbani dalam ilmunya, menguasai sekian bidang ilmu Islam, bagus dalam periwayatan, benar dalam penukilan. Sungguh tak ada seorang pun yang mampu mengkritik beliau dari sisi agama walau sedikit. Bahkan, yang ada adalah pujian dan sanjungan ulama kepadanya.

Abu Qudamah rahimahullah pernah ditanya tentang Asy Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahuyah, dan Abu Ubaid. Maka beliau berkata, “Adapun yang paling fakih di antara mereka berempat adalah Asy Syafi’i. Hanya saja, beliau sedikit haditsnya. Yang paling wara’ adalah Ahmad bin Hambal. Yang paling kuat hafalannya adalah Ishaq bin Rahuyah. Adapun yang paling mengerti tentang seluk-beluk bahasa Arab adalah Abu Ubaid.”

Kata al Hilal Ar-Raqi rahimahullah, “Abu Ubaid menafsirkan Gharibul Hadits (kata-kata yang sulit dalam hadits). Kalaulah tidak demikian, tentunya orang-orang sudah terjerumus dalam kesalahan dalam memahami hadits.”

Kata Ishaq bin Rahuyah rahimahullah, “Abu Ubaid adalah orang yang paling luas ilmunya di antara kami, paling banyak sastranya, dan paling banyak mengumpulkan ilmu. Kami butuh kepada Abu Ubaid, sedangkan Abu Ubaid tidak butuh kepada kami.”

Kata Ishaq bin Rahuyah dalam kesempatan lain, “Allah ‘azza wa jalla mencintai kebenaran. [Kebenarannya,] Abu Ubaid lebih faqih dibanding saya, lebih berilmu dibanding saya. Sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran. Abu Ubaid lebih berilmu dibanding saya, dibanding Ahmad bin Hambal, dan Asy-Syafi’i.”

Kata Abdullah bin Thahir rahimahullah, “Seakan-akan Abu Ubaid sebuah gunung yang ditiupkan ruh, berbicara pada setiap bidang ilmu.”

Kebiasaan beliau membagi malamnya menjadi tiga bagian, sepertiga untuk shalat malam, sepertiga untuk tidur, dan sepertiga untuk menulis kitab-kitab.

Pada tahun 219 Hijriah, ketika mulai memasuki usia 62 tahun, beliau mengarahkan perjalanan ke Makkah. Beliau hendak menunaikan haji. Setelah itu, menetap di Makkah. Beliau wafat pada usia yang ke-76 bertepatan pada tahun 224 Hijriah di masa pemerintahan Al Mu’tashim. Rahimahullahu ta’ala rahmatan wasi’an. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi beliau rahmat yang luas. Amin. [Ustadz Abdullah]
 
 
Sumber: Majalah Qudwah edisi 14 vol.02 1435H/2014M, rubrik Biografi.