Muhammad bin Abdil Wahhab, Bukan Pencetus Wahabi

Cap sebagai Wahabi sering disematkan kepada seseorang yang menentang tradisi masyarakat, ritual maupun kepercayaan yang tidak ada tuntunannya dalam Islam. Bahkan, mereka dituding bertolak belakang dengan ajaran Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Demikianlah fenomena yang sering terjadi hingga saat ini.

Gelar ini merupakan nisbat yang keliru kepada Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Padahal, justru Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah adalah orang yang berusaha mengamalkan agama berdasarkan Al-Quran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun itu berkonsekuensi menyelisihi tradisi. Memang, inilah salah satu ujian bagi siapa saja berpegang teguh dengan ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Akan ada sebagian orang yang menggelarinya dengan gelar yang buruk. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu disebut tukang sihir, syair, dan berbagai gelar jelek lainnya? Bukankah Imam Asy-Syafi’i dulu disebut mujassim (kelompok sesat dalam penetapan sifat Allah subhanahu wa ta’ala), padahal beliau berlepas diri darinya? Bukankah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah banyak mendapatkan sebutan yang sama sekali tidak benar?

Di samping itu, jika kita perhatikan, Wahabi justru merupakan nisbat kepada Al-Wahhab (Sang Pemberi, Allah subhanahu wa ta’ala). Inilah salah satu Asmaul Husna (nama indah) yang dimiliki oleh Allah ‘azza wa jalla.

Nah, siapakah sebenarnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab? Siapakah yang banyak disebut sebagai pemilik mazhab kelima ini? Siapakah yang kerap dianggap sebagai pembuat onar ini?

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad At-Tamimi. Beliau dilahirkan pada tahun 1115 H di sebuah tempat yang bernama Uyainah. Yaitu sebuah daerah yang terletak di sebelah utara kota Riyadh. Ayahanda beliau adalah seorang qadhi (hakim) di zamannya dan bahkan kakek beliau yang bernama Sulaiman adalah ulama besar di masanya. Beliau dikaruniai hafalan yang sangat kuat. Terbukti pada usia 10 tahun beliau telah mampu menghafal Al-Qur’an. Selain itu juga beliau juga diberi kelebihan berupa kefasihan dalam berbicara dan berargumen. Tak ayal, potensi besar ini membuat orang-orang merasa sangat kagum. Beliau terus tumbuh dewasa dan semakin tekun mempelajari berbagai bidang ilmu. Seperti ilmu tafsir, hadits, pendapat para ulama dari berbagai mazhab, dan lain sebagainya. Sehingga tidak sedikit penuntut ilmu yang mengajak beliau untuk berdiskusi dan bertukar faedah.

Suatu ketika, Syaikh pergi meninggalkan tempat kelahirannya menuju ke Makkah. Beliau pergi ke sana dalam rangka untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Seusai melaksanakan ibadah haji, beliau pun melanjutkan perjalanan menuju kota Madinah. Beliau sempat singgah di masjid Nabawi dan mengunjungi makam Nabi dan para shahabatnya. Di sana pula, beliau menimba ilmu dari para ulama kota Madinah di antaranya adalah Syaikh Muhammad Hayatus Sindi. Beliau adalah seorang ahli hadits yang sangat ternama hingga kemudian Syaikh memberikan ijazah kepada beliau untuk meriwayatkan hadits-hadits darinya. Demikian halnya beliau juga belajar kepada Syaikh Abdullah bin Ibrahim Asy-Syamiri. Selanjutnya beliau bertolak menuju ke Bashrah untuk belajar ilmu bahasa, hadits, dan yang lainnya.

Setelah melakukan rihlah menuntut ilmu ini, akhirnya beliau kembali ke kampung halaman. Namun begitu, bukan berarti usai pula safari beliau dalam mencari ilmu dan berdakwah. Beliau terus belajar dan menelaah karya-karya para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Beliau memang pribadi yang sangat rajin dalam menulis dan mencatat faedah-faedah yang diperoleh dari para ulama. Sehingga tidak sedikit karya tulis yang lahir dari tangan beliau. Bahkan hingga kini karya-karya beliau terus dipelajari dan dimanfaatkan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Kitab Tauhid, Ushul Tsalatsah, Kasyfu Syubhat adalah kitab-kitab beliau yang sangat populer di kalangan kaum muslimin.

Usai rihlah dalam mencari ilmu syar’i, beliau dikejutkan dengan berbagai fenomena yang sangat memprihatinkan di sekitar Nejed, Haramain (Makkah dan Madinah), Irak, dan negeri yang lainnya. Di sana beliau melihat berbagai kesyirikan, khurafat, dan bid’ah merajalela. Di negerinya beliau mendengar sebagian wanita yang bertawasul dengan pohon kurma yang besar. Para wanita itu menjadikan pohon tersebut sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah agar keinginan mereka terkabulkan. Sementara di Hijaz, beliau melihat pengultusan terhadap kuburan sebagian shahabat atau Ahli Bait. Semua ini tentu bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang peribadatan kepada selain Allah dalam bentuk apa pun. Bahkan selama berada tinggal di kota Madinah, beliau sempat menyaksikan ritual istighatsah dan doa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Spontan beliau bertanya kepada sang guru, Syaikh Muhammad Hayatus Sindi, “Apa pendapat anda wahai Syaikh tentang perbuatan mereka ini?” Sang guru pun langsung menjawab dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” Beliau mulai melancarkan dakwah secara terang-terangan setelah meninggalnya sang ayah pada tahun 1153 H. Beliau sangat gencar dalam menyebarkan dakwah tauhid dan membasmi kesyirikan serta bid’ah. Dakwah beliau ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintahan dinasti Su’udiyah yang saat itu masih berkuasa. Akhirnya dakwah tauhid pun semakin tersebar dan disambut oleh kaum muslimin di berbagai penjuru Saudi Arabia. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyeru kaum muslimin supaya menauhidkan Allah dan menjauhi berbagai kesyirikan.

Dakwah tauhid ini rupanya mengusik keberadaan Quburiyyun (pengagung kuburan) dan para ahli bid’ah. Sehingga mereka sangat membenci dan menentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Berbagai cara dilakukan untuk menghalangi dan memerangi dakwah beliau. Mulai dari menyebarluaskan berita dusta dan keji, sampai ada sebagian orang yang berupaya melakukan pembunuhan terhadap beliau. Namun Allah memberikan penjagaan dan pertolongan-Nya sehingga dakwah tauhid terus berlangsung dan tersebar luas di negeri Hijaz dan lainnya. Maha Benar Allah yang telah menjamin pertolongan kepada siapa saja yang menolong agama-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” [Q.S. Muhammad:7]

Berbagai macam tuduhan telah dilontarkan kepada beliau. Sehingga tersebarlah fitnah yang sangat besar di tengah-tengah kaum muslimin. Sebagaimana penuturan syaikh sendiri dalam salah satu kitabnya, bahwa salah satu tuduhan yang disebarkan adalah beliau tidak mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anti shalawat. Jelas tuduhan semacam ini sama sekali tidak berlandaskan dalil yang ilmiah dan bahkan sangat bertolak belakang dengan realita yang terjadi. Tuduhan semacam ini tetap eksis hingga saat ini, bagi orang-orang yang dicap sebagai Wahabi. Hal ini disebabkan mereka tidak mau melantunkan shalawat-shalawat yang tidak ada tuntunannya dalam Islam dengan cara yang bid’ah. Sementara itu, banyak di antara shalawat-shalawat tersebut yang mengandung kesyirikan. Padahal, kenyataannya dalam berbagai karya tulisnya, beliau sering menjelaskan tentang wajibnya setiap muslim untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Lebih dari itu, beliau menulis sebuah kitab tentang sejarah Nabi yang berjudul Mukhtashar Siratir Rasul (Ringkasan Biografi Rasul). Jelas ini menjadi bukti cinta beliau kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Termasuk tuduhan dusta yang dilontarkan oleh para penentang dakwah tauhid adalah bahwa beliau mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itulah, beliau anti kepada shalawat, kata mereka. Siapa pun yang pernah mempelajari kitab-kitab karya beliau pasti bisa menilai bahwa ini merupakan kedustaan yang nyata. Sebagai contoh dalam Kitab At-Tauhid, beliau membuat sebuah bab yang berjudul Syafaat.

Sejatinya, beliau tidak mengingkari syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang beliau ingkari adalah syafaat yang diharapkan orang-orang musyrik pada hari kiamat nanti. Syafaat yang diharapkan dari makhluk yang disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala. Karena orang-orang musyrik mengharapkan syafaat tersebut dari sesembahan-sesembahan yang mereka ibadahi.

Kemudian, beliau jelaskan hakikat syafaat yang sebenarnya dengan menukilkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Syafaat Allah subhanahu wa ta’ala tersebut hanya menjadi hak orang-orang yang bertauhid dengan seizin-Nya. Syafaat ini tidak akan diberikan kepada siapa saja yang berbuat syirik kepada-Nya. Pada hakikatnya, syafaat adalah karunia dari Allah kepada orang-orang yang bertauhid. Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni mereka melalui perantara siapa saja yang Dia beri izin untuk memberi syafaat. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala bisa saja langsung memberikan ampunan tanpa melalui perantaraan syafaat siapa pun. Hal ini dalam rangka untuk memuliakan orang yang diberi izin memberi syafaat. Tujuannya agar dia memperoleh kedudukan yang mulia. Demikianlah hakekat syafaat yang beliau jelaskan dalam kitab tersebut.

Demikian halnya dengan tuduhan-tuduhan buruk yang lainnya terhadap beliau. Sungguh, seseorang yang menilai dengan sikap yang adil dan obyektif akan mengetahui bahwa beliau adalah ulama Ahlus Sunnah yang berakidah lurus. Berbagai tuduhan buruk kepada beliau tidak berlandaskan referensi yang otentik dan sangat kontradiktif dengan realita yang ada. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 9 vol.01 1434H/2013M rubrik Ulama. Pemateri: Ustadz Abu Hafiy Abdullah.