Syarh Al-Ushulus Sittah - Pondasi Ketiga (2)

فَبَيَّنَ النَّبِيُّ ﷺ هٰذَا بَيَانًا شَائِعًا ذَائِعًا بِكُلِّ وَجۡهٍ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡبَيَانِ شَرۡعًا وَقَدَرًا.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan perkara ini dengan penjelasan yang luas dan detail dari segala sisi berbagai penjelasan baik secara syar’i maupun qadari.[1]
(ثُمَّ صَارَ هٰذَا الۡأَصۡلُ لَا يُعۡرَفُ عِنۡدَ أَكۡثَرَ مَنۡ يَدَّعِي الۡعِلۡمَ فَكَيۡفَ الۡعَمَلُ بِهِ).
Kemudian pondasi ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang yang mengaku punya ilmu, lalu bagaimana bisa mengamalkannya.[2]

[1] حَيۡثُ قَالَ ﷺ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ). 
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: Dimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan untuk mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, wajib untuk memegang sunnahku dan sunnah para khalifah yang terbimbing dan mendapat petunjuk.” 
هٰذَا الۡأَصۡلُ الثَّالِثُ: السَّمۡعُ وَالطَّاعَةُ: (اسۡمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ) فَلَا يُمۡكِنُ أَنۡ تَحۡصُلَ جَمَاعَةٌ لِلۡمُسۡلِمِينَ إِلَّا بِوَلِيِّ أَمۡرٍ مُسۡلِمٍ وَلَوۡ لَمۡ يَكُنۡ ذَا نَسَبِ عَرَبِيٍّ بَلۡ لَوۡ كَانَ مَمۡلُوكًا. 
Pondasi yang ketiga ini adalah mendengar dan taat kepada pemerintah: “Dengarlah dan taatlah kalian, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.” Karena tidak mungkin tercapai jamaah kaum muslimin kecuali ada yang memegang urusan kaum muslimin, meskipun ia tidak memiliki keturunan ‘Arab, bahkan meskipun ia seorang budak. 
[2] صَارَ هٰذَا الۡأَصۡلُ لَا يُعۡرَفُ عِنۡدَ كَثِيرٍ مِمَّنۡ يَدَّعِي الۡعِلۡمَ، فَيَجۡهَلُونَ مَسۡأَلَةَ السَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ وَمَا لَهَا مِنۡ فَضۡلٍ وَمَا لَهَا مِنۡ أَهَمِّيَةٍ، فَكَيۡفَ بِالۡعَوَامِّ وَهُمۡ أَشَدُّ جَهۡلًا فِي هٰذَا؟ 
Pondasi ini menjadi tidak dikenal oleh sebagian besar orang yang mengaku berilmu. Mereka tidak mengerti permasalahan mendengar dan taat kepada pemerintah, keutamaan serta urgensi perkara ini. Lalu bagaimana dengan orang awam, mereka lebih tidak mengerti dalam perkara ini. 
فَصَارَ الشُّجَاعُ -الَّذِي يَأۡمُرُ بِالۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَى عَنِ الۡمُنۡكَرِ عِنۡدَهُمۡ وَالَّذِي لَا تَأۡخُذُهُ فِي اللهِ لَوۡمَةَ لَائِمٍ، عِنۡدَهُمۡ-: هُوَ الَّذِي يَخۡرُجُ عَلَى إِمَامِ الۡمُسۡلِمِينَ، وَيَخۡلَعُ يَدَ الطَّاعَةِ، وَيُنَادِي بِالثَّوۡرَةِ عَلَى الۡحُكَّامِ الۡمُسۡلِمِينَ بِمُجَرَّدِ حُصُولِ خَطَأٍ مِنۡهُمۡ، أَوۡ مَعۡصِيَةٍ لَا تَصِلُ إِلَى حَدِّ الۡكُفۡرِ. 
Keadaan sekarang berubah menjadi pengertian orang yang pemberani –yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan tidak mempedulikan celaan para pencela- menurut mereka adalah orang yang keluar menentang pemimpin muslimin, melepas ketaatan, menyeru untuk memberontak kepada pemerintah muslimin hanya karena adanya kesalahan pada diri sebagian mereka atau adanya suatu maksiat yang tidak sampai kepada kekufuran. 
وَصَارَ حَدِيثُ الۡمَجَالِسِ وَالنَّدَوَاتِ وَالۡمُحَاضَرَاتِ فِي تَتَبُّعِ عَثۡرَاتِ الۡوُلَاةِ وَتَفۡخِيمِهَا وَالنَّفۡخِ فِيهَا، حَتَّى يَئُولَ الۡأَمۡرُ إِلَى تَفَرُّقِ الۡكَلِمَةِ، وَتَنۡفِيرِ الرَّعِيَّةِ مِنۡ طَاعَةِ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ حَتَّى يَخۡتَلَّ الۡأَمۡنُ وَتُسۡفَكَ الدِّمَاءُ، وَيَئُولَ الۡأَمۡرُ إِلَى فَسَادٍ أَشَدَّ مِنَ الۡفَسَادِ الَّذِي يَحۡصُلُ مِنَ الصَّبۡرِ عَلَى طَاعَةِ وَلِيِّ الۡأَمۡرِ الۡفَاسِقِ وَالظَّالِمِ الَّذِي عِنۡدَهُمۡ لَمۡ يَصۡدُرۡ مِنۡهُ كُفۡرٌ بَوَّاحٌ عِنۡدَهُمۡ عَلَيۡهِ مِنَ اللهِ سُلۡطَانُ. 
Dan topik pembicaraan di majlis-majlis, orasi-orasi, dan ceramah-ceramah menjadi mencari-cari ketergelinciran para pemimpin lalu membesar-besarkannya. Akibatnya kondisi berubah menjadi perpecahan dan menjauhkan rakyat dari mentaati pemimpin sehingga keamanan hilang dan darah tertumpah. Dan kondisi berubah menjadi kerusakan yang lebih parah daripada kerusakan akibat dari kesabaran dalam mentaati pemerintah yang fasik dan zhalim yang belum nampak kekafiran yang nyata, yang mereka memiliki bukti dari Allah tentangnya.