Cari Blog Ini

Al-Isti'ab - 3548. Hind binti ‘Utbah

٣٥٤٨ - [هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ]:

هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ بۡنِ عَبۡدِ شَمۡسِ بۡنِ عَبۡدِ مَنَافٍ، أُمُّ مُعَاوِيَةَ؛ أَسۡلَمَتۡ عَامَ الۡفَتۡحِ بَعۡدَ إِسۡلَامِ زَوۡجِهَا أَبِي سُفۡيَانَ بۡنِ حَرۡبٍ، فَأَقَرَّهُمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى نِكَاحِهِمَا، وَكَانَتِ امۡرَأَةً فِيمَا ذَكَرَهُ لَهَا نَفۡسٌ وَأَنَفَةٌ، شَهِدَتۡ أُحُدًا كَافِرَةً مَعَ زَوۡجِهَا أَبِي سُفۡيَانَ بۡنِ حَرۡبٍ، وَكَانَتۡ تَقُولُ يَوۡمَ أُحُدٍ:

نَحۡنُ بَنَاتُ طَارِقۡ     نَمۡشِي عَلَى النَّمَارِقۡ
وَالۡمِسۡكُ فِي الۡمَفَارِقۡ  وَالدُّرُّ فِي الۡمَخَانِقۡ
إِنۡ تُقۡبِلُوا نُعَانِقۡ       وَنَفۡرِشِ النَّمَارِقۡ
أَوۡ تُدۡبِرُوا نُفَارِقۡ      فِرَاقَ غَيۡرِ وَامِقۡ

Hind binti Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf, Umu Mu’awiyah. Dia masuk Islam pada tahun penaklukan Makkah setelah keislaman suaminya, Abu Sufyan bin Harb. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menetapkan keduanya tetap dalam pernikahan mereka. Dia adalah seorang wanita, menurut apa yang disebutkan, memiliki harga diri dan kehormatan yang tinggi. Dia menghadiri perang Uhud dalam keadaan kafir bersama suaminya, Abu Sufyan bin Harb. Pada hari Uhud, dia melantunkan syair:

Kami adalah putri-putri bintang thariq,
kami berjalan di atas hamparan permadani.

Minyak kasturi ada di belahan rambut,
dan mutiara ada di kalung leher.

Jika kalian maju menghadapi musuh, kami akan memeluk erat,
dan kami bentangkan permadani.

Namun jika kalian mundur melarikan diri, kami akan berpisah,
perpisahan tanpa ada rasa cinta lagi.

قَالَ الزُّبَيۡرُ: سَمِعۡتُ يَحۡيَى بۡنَ عَبۡدِ الۡمَلِكِ الۡهُدَيۡرِيَّ - وَقَدۡ ذَكَرَ قَوۡلَ هِنۡدٍ يَوۡمَ أُحُدٍ، * نَحۡنُ بَنَاتُ طَارِقۡ * فَقَالَ: أَرَادَتۡ: نَحۡنُ بَنَاتُ النَّجۡمِ، مِنۡ قَوۡلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَمَا أَدۡرَاكَ مَا الطَّارِقُ النَّجۡمُ الثَّاقِبُ﴾ [الطارق: ١-٣]، تَقُولُ: نَحۡنُ بَنَاتُ النَّجۡمِ.

Az-Zubair berkata: Aku mendengar Yahya bin ‘Abdul Malik Al-Hudairi—ketika menyebutkan perkataan Hind pada hari Uhud Kami adalah putri-putri thariq—lalu dia berkata: Yang dimaksud oleh Hind adalah: “Kami adalah putri-putri bintang,” diambil dari firman Allah taala: “Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? Yaitu bintang yang cahayanya menembus.” (QS At-Tariq: 1-3). Dia bermaksud mengatakan: Kami adalah putri-putri bintang.

قَالَ أَبُو عُمَرَ: قَالُوا: فَلَمَّا قُتِلَ حَمۡزَةُ وَثَبَتۡ عَلَيۡهِ فَمَثَّلَتۡ بِهِ، وَشَقَّتۡ بَطۡنَهُ، وَاسۡتَخۡرَجَتۡ كَبِدَهُ فَشَوَتۡ مِنۡهُ وَأَكَلَتۡ فِيمَا يُقَالُ؛ لِأَنَّهُ كَانَ قَدۡ قَتَلَ أَبَاهَا يَوۡمَ بَدۡرٍ. وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّ الَّذِي مَثَّلَ بِحَمۡزَةَ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ مُعَاوِيَةُ بۡنُ الۡمُغِيرَةِ بۡنِ أَبِي الۡعَاصِ بۡنِ أُمَيَّةَ، وَقَتَلَهُ النَّبِيُّ ﷺ صَبۡرًا مُنۡصَرَفَهُ مِنۡ أُحُدٍ فِيمَا ذَكَرَ الزُّبَيۡرُ، ثُمَّ خَتَمَ اللهُ لَهَا بِالۡإِسۡلَامِ، فَأَسۡلَمَتۡ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ،

Abu ‘Umar berkata: Mereka mengatakan: Ketika Hamzah gugur, Hind melompat ke jasadnya lalu memutilasinya, membelah perutnya, dan mengeluarkan hatinya, kemudian dia membakarnya lalu memakannya berdasarkan apa yang dikatakan orang-orang, karena Hamzah telah membunuh ayah Hind pada hari Badr. Namun ada pula yang mengatakan: Sesungguhnya orang yang memutilasi Hamzah bin ‘Abdul Muththalib adalah Mu’awiyah bin Al-Mughirah bin Abu Al-‘Ash bin Umayyah, dan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membunuh Mu’awiyah bin Al-Mughirah dengan cara dieksekusi sekembalinya beliau dari Uhud menurut apa yang disebutkan oleh Az-Zubair. Kemudian Allah mengakhiri jalan hidup Hind dengan Islam, sehingga dia masuk Islam pada hari penaklukan Makkah.

فَلَمَّا أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡبَيۡعَةَ عَلَى النِّسَاءِ - وَمِنَ الشَّرۡطِ فِيهَا (أَلَّا يَسۡرِقۡنَ وَلَا يَزۡنِينَ - قَالَتۡ لَهُ هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ: وَهَلۡ تَزۡنِي الۡحُرَّةُ وَتَسۡرِقُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَلَمَّا قَالَ: (وَلَا يَقۡتُلۡنَ أَوۡلَادَهُنَّ). قَالَتۡ: قَدۡ رَبَّيۡنَاهُمۡ صِغَارًا وَقَتَلۡتَهُمۡ أَنۡتَ بِبَدۡرٍ كِبَارًا - أَوۡ نَحۡوُ هٰذَا مِنَ الۡقَوۡلِ، وَشَكَتۡ إِلَى رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنَّ زَوۡجَهَا أَبَا سُفۡيَانَ لَا يُعۡطِيهَا مِنَ الطَّعَامِ مَا يَكۡفِيهَا وَوَلَدَهَا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: خُذِي مِنۡ مَالِهِ بِالۡمَعۡرُوفِ مَا يَكۡفِيكِ أَنۡتِ وَوَلَدَكِ).

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengambil baiat dari para wanita—yang di antara syaratnya adalah mereka tidak boleh mencuri dan tidak boleh berzina—, Hind binti ‘Utbah berkata kepada beliau, “Apakah mungkin seorang wanita merdeka berzina dan mencuri, wahai Rasulullah?”

Ketika beliau menyampaikan syarat: “Dan janganlah mereka membunuh anak-anak mereka,” Hind berkata, “Kami telah membesarkan mereka sejak kecil, lalu engkau membunuh mereka di Badr setelah mereka dewasa”—atau ucapan yang semisal itu.

Dia juga mengadu kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa suaminya, Abu Sufyan, tidak memberinya makanan yang mencukupi untuk dirinya dan anaknya. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya, “Ambillah dari hartanya dengan cara yang makruf apa yang mencukupi untukmu dan anakmu.”

وَتُوفِيَتۡ هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ فِي خِلَافَةِ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ فِي الۡيَوۡمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَبُو قُحَافَةَ وَالِدُ أَبِي بَكۡرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا.

Hind binti ‘Utbah wafat pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Al-Khaththab, tepat pada hari wafatnya Abu Quhafah, ayah dari Abu Bakr Ash-Shiddiq—radhiyallahu ‘anhuma.

Shahih Al-Bukhari - 42. Kitab Musaqat

 ﷽

٤٢ – كِتَابُ الۡمُسَاقَاةِ

Kitab Al-Musaqah

  1. Bab Perihal Minum
  2. Bab Perihal Minum, dan Barang Siapa yang Berpendapat Bahwa Sedekah Air, Hibahnya, dan Wasiatnya adalah Sah, Baik Air yang Telah Dibagi Maupun yang Belum Dibagi
    1. Hadis nomor 2351 dan 2352
  3. Bab Barang Siapa yang Berpendapat Bahwa Pemilik Air Lebih Berhak atas Air Tersebut hingga Ia Puas Minum, karena Sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Janganlah kelebihan air ditahan”
    1. Hadis nomor 2353 dan 2354
  4. Bab Barang Siapa yang Menggali Sumur di Tanah Miliknya Sendiri, Maka Ia Tidak Menanggung Ganti Rugi (Jika Ada yang Terperosok)
    1. Hadis nomor 2355
  5. Bab pertikaian tentang sumur dan penyelesaiannya
    1. Hadis nomor 2356 dan 2357
  6. Bab Dosa Orang yang Menahan Air dari Ibnusabil
    1. Hadis nomor 2358
  7. Bab Membendung Sungai-Sungai
    1. Hadis nomor 2359 dan 2360
  8. Bab Pengairan Lahan yang Lebih Tinggi Sebelum Lahan yang Lebih Rendah
    1. Hadis nomor 2361
  9. Bab Pengairan Lahan yang Lebih Tinggi hingga Setinggi Dua Mata Kaki
    1. Hadis nomor 2362
  10. Bab keutamaan memberi air minum
    1. Hadis nomor 2363
    2. Hadis nomor 2364
    3. Hadis nomor 2365
  11. Bab Barang Siapa Berpendapat bahwa Pemilik Kolam dan Wadah Air Lebih Berhak atas Airnya
    1. Hadis nomor 2366 dan 2367
    2. Hadis nomor 2368 dan 2369
  12. Bab tidak ada kawasan alam terlarang kecuali untuk Allah dan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam
    1. Hadis nomor 2370
  13. Bab manusia dan binatang minum dari sungai-sungai
    1. Hadis nomor 2371
    2. Hadis nomor 2372
  14. Bab Menjual Kayu Bakar dan Rumput
    1. Hadis nomor 2373 dan 2374
    2. Hadis nomor 2375
  15. Bab Tanah-Tanah Milik Negara yang Diberikan kepada Orang Tertentu
    1. Hadis nomor 2376
  16. Bab Pencatatan Pemberian Alokasi Tanah
    1. Hadis nomor 2377
  17. Bab Memerah Unta di Sumber Air Tempat Unta itu Minum
    1. Hadis nomor 2378
  18. Bab Seseorang yang Memiliki Hak Akses Jalan Lewat atau Hak Pengairan di Dalam Pekarangan Rumah atau Kebun Kurma
    1. Hadis nomor 2379 dan 2380
    2. Hadis nomor 2381
    3. Hadis nomor 2382 dan 2383

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2377

١٦ - بَابُ كِتَابَةِ الۡقَطَائِعِ
16. Bab Pencatatan Pemberian Alokasi Tanah


٢٣٧٧ - وَقَالَ اللَّيۡثُ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: دَعَا النَّبِيُّ ﷺ الۡأَنۡصَارَ لِيُقۡطِعَ لَهُمۡ بِالۡبَحۡرَيۡنِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنۡ فَعَلۡتَ، فَاكۡتُبۡ لِإِخۡوَانِنَا مِنۡ قُرَيۡشٍ بِمِثۡلِهَا، فَلَمۡ يَكُنۡ ذٰلِكَ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: (إِنَّكُمۡ سَتَرَوۡنَ بَعۡدِي أَثَرَةً، فَاصۡبِرُوا حَتَّى تَلۡقَوۡنِي). [طرفه في: ٢٣٧٦].

2377. Dan Al-Laits berkata, dari Yahya bin Sa’id, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memanggil kaum Ansar untuk memberikan alokasi tanah dari wilayah Bahrain kepada mereka, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau melakukannya, maka catatlah pula pemberian yang semisal dengannya untuk saudara-saudara kami dari kaum Quraisy.”

Namun tanah yang semisal itu tidak ada pada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat sifat egois sepeninggalku, maka bersabarlah sampai kalian menjumpai diriku.”

Shahih Muslim hadis nomor 260

٥٥ - (٢٦٠) - حَدَّثَنِي أَبُو بَكۡرِ بۡنُ إِسۡحَاقَ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ: أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: أَخۡبَرَنِي الۡعَلَاءُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ يَعۡقُوبَ، مَوۡلَىٰ الۡحُرَقَةِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَأَرۡخُوا اللِّحَىٰ. خَالِفُوا الۡمَجُوسَ).

55. (260). Abu Bakr bin Ishaq telah menceritakan kepadaku: Ibnu Abu Maryam mengabarkan kepada kami: Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami: Al-‘Ala` bin ‘Abdurrahman bin Ya‘qub—maula keluarga Al-Huraqah—mengabarkan kepadaku dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Potong habislah kumis dan biarkanlah janggut memanjang! Selisihilah orang-orang Majusi.”

Shahih Muslim hadis nomor 259

٥٢ - (٢٥٩) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ - يَعۡنِي ابۡنَ سَعِيدٍ – (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، جَمِيعًا عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ؛ قَالَ: (أَحۡفُوا الشَّوَارِبَ، وَأَعۡفُوا اللِّحَى).

52. (259). Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. Mereka semua dari ‘Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Potong habislah kumis dan biarkanlah janggut tumbuh lebat!”

٥٣ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ مَالِكِ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ نَافِعٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: أَنَّهُ أَمَرَ بِإِحۡفَاءِ الشَّوَارِبِ، وَإِعۡفَاءِ اللِّحۡيَةِ.

53. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan hadis tersebut kepada kami dari Malik bin Anas, dari Abu Bakr bin Nafi’, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Bahwasanya beliau memerintahkan untuk memotong habis kumis dan membiarkan janggut tumbuh lebat.

٥٤ - (...) - حَدَّثَنَا سَهۡلُ بۡنُ عُثۡمَانَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ، عَنۡ عُمَرَ بۡنِ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا نَافِعٌ عَنِ ابۡنِ عُمَرَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (خَالِفُوا الۡمُشۡرِكِينَ، أَحۡفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوۡفُوا اللِّحَىٰ).

[البخاري: كتاب اللباس، باب تقليم الأظفار، رقم: ٥٨٩٢].

54. Sahl bin ‘Utsman telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami dari ‘Umar bin Muhammad: Nafi’ menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Umar. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Selisihilah orang-orang musyrik; potong habislah kumis dan sempurnakanlah (biarkanlah) janggut!”

Musnad Ahmad hadis nomor 22762

٢٢٧٦٢ (٢٢٣٩٩) - حَدَّثَنَا الۡأَسۡوَدُ بۡنُ عَامِرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرٍ - يَعۡنِي ابۡنَ عَيَّاشٍ -، عَنۡ لَيۡثٍ، عَنۡ أَبِي الۡخَطَّابِ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ ثَوۡبَانَ. قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الرَّاشِيَ وَالۡمُرۡتَشِيَ وَالرَّائِشَ – يَعۡنِي الَّذِي يَمۡشِي بَيۡنَهُمَا.

22762. (22399). Al-Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami: Abu Bakr yaitu Ibnu ‘Ayyasy menceritakan kepada kami dari Laits, dari Abu Al-Khaththab, dari Abu Zur’ah, dari Tsauban. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melaknat penyuap, penerima suap, dan perantara; yaitu: orang yang menjadi penghubung antara keduanya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2373 dan 2374

١٤ - بَابُ بَيۡعِ الۡحَطَبِ وَالۡكَلَإِ
14. Bab Menjual Kayu Bakar dan Rumput


٢٣٧٣ - حَدَّثَنَا مُعَلَّى بۡنُ أَسَدٍ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ الزُّبَيۡرِ بۡنِ الۡعَوَّامِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَأَنۡ يَأۡخُذَ أَحَدُكُمۡ أَحۡبُلًا، فَيَأۡخُذَ حُزۡمَةً مِنۡ حَطَبٍ فَيَبِيعَ، فَيَكُفَّ اللهُ بِهِ وَجۡهَهُ، خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ يَسۡأَلَ النَّاسَ، أُعۡطِيَ أَمۡ مُنِعَ). [طرفه في: ١٤٧١].

2373. Mu’alla bin Asad telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, lalu membawa seikat kayu bakar kemudian menjualnya, sehingga dengan itu Allah menjaga kehormatan dirinya, hal itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada orang-orang, baik mereka memberinya atau menolaknya.”

٢٣٧٤ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي عُبَيۡدٍ مَوۡلَى عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَأَنۡ يَحۡتَطِبَ أَحَدُكُمۡ حُزۡمَةً عَلَى ظَهۡرِهِ، خَيۡرٌ لَهُ مِنۡ أَنۡ يَسۡأَلَ أَحَدًا فَيُعۡطِيَهُ أَوۡ يَمۡنَعَهُ). [طرفه في: ١٤٧٠].

2374. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Abu ‘Ubaid budak yang dimerdekakan ‘Abdurrahman bin ‘Auf: Dia mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar lalu memikul seikat kayu itu di atas punggungnya, hal itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5892

٥٨٩٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مِنۡهَالٍ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (خَالِفُوا الۡمُشۡرِكِينَ، وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحۡفُوا الشَّوَارِبَ). وَكَانَ ابۡنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ أَوِ اعۡتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحۡيَتِهِ، فَمَا فَضَلَ أَخَذَهُ. [الحديث ٥٨٩٢ - طرفه في: ٥٨٩٣].

5892. Muhammad bin Minhal telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: ‘Umar bin Muhammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Selisihilah orang-orang musyrik, lebatkanlah janggut, dan cukur habislah kumis!”

Ibnu ‘Umar apabila melakukan haji atau umrah, beliau menggenggam janggutnya, lalu beliau memotong janggut yang melebihi (dari satu genggaman).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2368 dan 2369

٢٣٦٨ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ أَيُّوبَ وَكَثِيرِ بۡنِ كَثِيرٍ، يَزِيدُ أَحَدُهُمَا عَلَى الۡآخَرِ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ قَالَ: قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يَرۡحَمُ اللهُ أُمَّ إِسۡمَاعِيلَ، لَوۡ تَرَكَتۡ زَمۡزَمَ - أَوۡ قَالَ: لَوۡ لَمۡ تَغۡرِفۡ مِنَ الۡمَاءِ - لَكَانَتۡ عَيۡنًا مَعِينًا، وَأَقۡبَلَ جُرۡهُمُ، فَقَالُوا: أَتَأۡذَنِينَ أَنۡ نَنۡزِلَ عِنۡدَكِ؟ قَالَتۡ: نَعَمۡ، وَلَا حَقَّ لَكُمۡ فِي الۡمَاءِ، قَالُوا: نَعَمۡ). [الحديث ٢٣٦٨ - أطرافه في: ٣٣٦٢، ٣٣٦٣، ٣٣٦٤، ٣٣٦٥].

2368. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Ayyub dan Katsir bin Katsir—salah seorang dari keduanya menambahkan lafaz riwayat di atas yang lain—, dari Sa’id bin Jubair. Ia berkata: Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda:

Semoga Allah merahmati Ibu Isma’il. Seandainya dia membiarkan Zamzam—atau beliau bersabda: seandainya dia tidak menciduk air itu—niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir menggenangi permukaan bumi.

Kemudian datanglah kaum Jurhum lalu mereka bertanya, “Apakah engkau mengizinkan kami untuk singgah menetap di tempatmu?”

Ibu Isma’il menjawab, “Ya, tetapi tidak ada hak bagi kalian atas air ini.”

Mereka berkata, “Baik.”

٢٣٦٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَلَا يَنۡظُرُ إِلَيۡهِمۡ: رَجُلٌ حَلَفَ عَلَى سِلۡعَةٍ لَقَدۡ أَعۡطَى بِهَا أَكۡثَرَ مِمَّا أَعۡطَى وَهُوَ كَاذِبٌ، وَرَجُلٌ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ كَاذِبَةٍ بَعۡدَ الۡعَصۡرِ لِيَقۡتَطِعَ بِهَا مَالَ رَجُلٍ مُسۡلِمٍ، وَرَجُلٌ مَنَعَ فَضۡلَ مَاءٍ، فَيَقُولُ اللهُ: الۡيَوۡمَ أَمۡنَعُكَ فَضۡلِي كَمَا مَنَعۡتَ فَضۡلَ مَا لَمۡ تَعۡمَلۡ يَدَاكَ). قَالَ عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ غَيۡرَ مَرَّةٍ، عَنۡ عَمۡرٍو: سَمِعَ أَبَا صَالِحٍ، يَبۡلُغُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ. [طرفه في: ٢٣٥٨].

2369. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr, dari Abu Shalih As-Samman, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak pula dilihat oleh-Nya: (pertama) seseorang yang bersumpah atas barang dagangannya bahwa dia telah ditawar dengan harga yang lebih tinggi daripada yang sebenarnya padahal dia berdusta, (kedua) seseorang yang bersumpah dengan sumpah dusta setelah asar untuk mengambil harta seorang muslim, dan (ketiga) seseorang yang menahan kelebihan air, maka Allah berfirman, ‘Pada hari ini Aku menahan karunia-Ku darimu, sebagaimana engkau telah menahan kelebihan dari apa yang tidak dikerjakan oleh kedua tanganmu’.”

‘Ali berkata: Sufyan telah menceritakan kepada kami tidak hanya sekali dari ‘Amr. Beliau mendengar Abu Shalih menyampaikannya sampai kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2366 dan 2367

١١ - بَابُ مَنۡ رَأَى أَنَّ صَاحِبَ الۡحَوۡضِ وَالۡقِرۡبَةِ أَحَقُّ بِمَائِهِ
11. Bab Barang Siapa Berpendapat bahwa Pemilik Kolam dan Wadah Air Lebih Berhak atas Airnya


٢٣٦٦ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أُتِيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقَدَحٍ فَشَرِبَ، وَعَنۡ يَمِينِهِ غُلَامٌ هُوَ أَحۡدَثُ الۡقَوۡمِ، وَالۡأَشۡيَاخُ عَنۡ يَسَارِهِ، قَالَ: (يَا غُلَامُ، أَتَأۡذَنُ لِي أَنۡ أُعۡطِيَ الۡأَشۡيَاخَ؟) فَقَالَ: مَا كُنۡتُ لِأُوثِرَ بِنَصِيبِي مِنۡكَ أَحَدًا يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَعۡطَاهُ إِيَّاهُ. [طرفه في: ٢٣٥١].

2366. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dibawakan sebuah wadah minuman, lalu beliau meminumnya. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak muda yang merupakan orang paling muda di antara kaum yang hadir, sedangkan para orang tua berada di sebelah kiri beliau. Beliau bertanya, “Wahai anak muda, apakah engkau mengizinkanku untuk memberikan (minuman ini) kepada para orang tua terlebih dahulu?”

Anak muda itu menjawab, “Aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun, wahai Rasulullah.”

Maka beliau pun memberikan wadah minuman itu kepadanya.

٢٣٦٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ زِيَادٍ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَأَذُودَنَّ رِجَالًا عَنۡ حَوۡضِي، كَمَا تُذَادُ الۡغَرِيبَةُ مِنَ الۡإِبِلِ عَنِ الۡحَوۡضِ).

2367. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ziyad: Aku mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan mengusir sekelompok orang dari telagaku sebagaimana unta asing diusir dari telaga.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2365

٢٣٦٥ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (عُذِّبَتِ امۡرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتۡهَا حَتَّى مَاتَتۡ جُوعًا، فَدَخَلَتۡ فِيهَا النَّارَ). قَالَ: فَقَالَ وَاللهُ أَعۡلَمُ: (لَا أَنۡتِ أَطۡعَمۡتِيهَا وَلَا سَقَيۡتِيهَا حِينَ حَبَسۡتِيهَا، وَلَا أَنۡتِ أَرۡسَلۡتِيهَا فَأَكَلَتۡ مِنۡ خَشَاشِ الۡأَرۡضِ). [الحديث ٢٣٦٥ - طرفاه في: ٣٣١٨، ٣٤٨٢].

2365. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Seorang wanita diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati kelaparan, lalu wanita itu masuk ke dalam neraka karenanya.” Nabi berkata: Lalu Allah berkata, dan Allah yang lebih mengetahui—, “Kamu tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum ketika kamu mengurungnya, dan kamu tidak pula melepaskannya sehingga ia dapat memakan binatang kecil yang ada di tanah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2362

٩ - بَابُ شُرۡبِ الۡأَعۡلَى إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ
9. Bab Pengairan Lahan yang Lebih Tinggi hingga Setinggi Dua Mata Kaki


٢٣٦٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنَا مَخۡلَدٌ قَالَ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ جُرَيۡجٍ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ: أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَنۡصَارِ خَاصَمَ الزُّبَيۡرَ فِي شِرَاجٍ مِنَ الۡحَرَّةِ يَسۡقِي بِهَا النَّخۡلَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ - فَأَمَرَهُ بِالۡمَعۡرُوفِ - ثُمَّ أَرۡسِلۡ إِلَى جَارِكَ). فَقَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: آنۡ كَانَ ابۡنَ عَمَّتِكَ؟ فَتَلَوَّنَ وَجۡهُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ قَالَ: (اسۡقِ ثُمَّ احۡبِسۡ، حَتَّى يَرۡجِعَ الۡمَاءُ إِلَى الۡجَدۡرِ). وَاسۡتَوۡعَى لَهُ حَقَّهُ، فَقَالَ الزُّبَيۡرُ: وَاللهِ إِنَّ هٰذِهِ الۡآيَةَ أُنۡزِلَتۡ فِي ذٰلِكَ: ﴿فَلَا وَرَبِّكِ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ﴾ [النساء: ٦٥]. قَالَ لِي ابۡنُ شِهَابٍ: فَقَدَّرَتِ الۡأَنۡصَارُ وَالنَّاسُ قَوۡلَ النَّبِيِّ ﷺ: (اسۡقِ ثُمَّ احۡبِسۡ حَتَّى يَرۡجِعَ إِلَى الۡجَدۡرِ) وَكَانَ ذٰلِكَ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ. [طرفه في: ٢٣٦٠].

2362. Muhammad telah menceritakan kepada kami: Makhlad mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku. Ia berkata: Ibnu Syihab menceritakan kepadaku dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya ia menceritakan kepadanya:

Ada seorang laki-laki dari kalangan Ansar berselisih dengan Az-Zubair mengenai saluran-saluran air dari bukit batu yang ia gunakan untuk mengairi pohon kurma. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair—beliau memerintahkannya dengan cara yang makruf—kemudian alirkanlah kepada tetanggamu.”

Orang Ansar itu berkata, “Apakah karena ia adalah anak bibimu?”

Berubahlah warna wajah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kemudian beliau bersabda, “Airilah (kebunmu) kemudian bendunglah sampai air menggenang setinggi dinding pembatas tanah!”

Beliau memenuhi hak Az-Zubair secara utuh. Az-Zubair berkata: Demi Allah, sesungguhnya ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut: “Maka demi Rabmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS An-Nisa’: 65).

Ibnu Syihab berkata kepadaku: Maka orang-orang Ansar dan manusia mengukur sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Airilah (kebunmu) kemudian bendunglah sampai air menggenang setinggi dinding pembatas tanah,” dan batasan tersebut adalah hingga setinggi dua mata kaki.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2361

٨ - بَابُ شُرۡبِ الۡأَعۡلَى قَبۡلَ الۡأَسۡفَلِ
8. Bab Pengairan Lahan yang Lebih Tinggi Sebelum Lahan yang Lebih Rendah


٢٣٦١ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ قَالَ: خَاصَمَ الزُّبَيۡرَ رَجُلٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يَا زُبَيۡرُ، اسۡقِ ثُمَّ أَرۡسِلۡ). فَقَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: إِنَّهُ ابۡنُ عَمَّتِكَ، فَقَالَ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ، حَتَّى يَبۡلُغَ الۡمَاءُ الۡجَدۡرَ، ثُمَّ أَمۡسِكۡ). فَقَالَ الزُّبَيۡرُ: فَأَحۡسِبُ هٰذِهِ الۡآيَةَ نَزَلَتۡ فِي ذٰلِكَ: ﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ﴾‏ [النساء: ٦٥]. [طرفه في: ٢٣٦٠].

2361. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah. Ia berkata:

Ada seorang laki-laki dari kalangan Ansar berselisih dengan Az-Zubair. Lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Wahai Zubair, airilah (kebunmu) kemudian alirkanlah!”

Orang Ansar itu berkata, “Apakah karena ia adalah anak bibimu?”

Maka beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—bersabda, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair, sampai air menggenang setinggi dinding pembatas tanah, lalu tahanlah!”

Az-Zubair berkata: Maka aku mengira ayat berikut ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut: “Maka demi Rabmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS An-Nisa’: 65).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2359 dan 2360

٧ - بَابُ سَكۡرِ الۡأَنۡهَارِ
7. Bab Membendung Sungai-Sungai


٢٣٥٩، ٢٣٦٠ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَنَّهُ حَدَّثَهُ: أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَنۡصَارِ، خَاصَمَ الزُّبَيۡرَ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ فِي شِرَاجِ الۡحَرَّةِ الَّتِي يَسۡقُونَ بِهَا النَّخۡلَ، فَقَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: سَرِّحِ الۡمَاءَ يَمُرُّ، فَأَبَى عَلَيۡهِ، فَاخۡتَصَمَا عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِلزُّبَيۡرِ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ، ثُمَّ أَرۡسِلِ الۡمَاء إِلَى جَارِكَ). فَغَضِبَ الۡأَنۡصَارِيُّ فَقَالَ: أَنۡ كَانَ ابۡنَ عَمَّتِكَ؟ فَتَلَوَّنَ وَجۡهُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ قَالَ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ، ثُمَّ احۡبِسِ الۡمَاءَ حَتَّى يَرۡجِعَ إِلَى الۡجَدۡرِ). فَقَالَ الزُّبَيۡرُ: وَاللهِ إِنِّي لَأَحۡسِبُ هٰذِهِ الۡآيَةَ نَزَلَتۡ فِي ذٰلِكَ: ‏﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ﴾ [النساء: ٦٥]. قَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَبَّاسِ: قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: لَيۡسَ أَحَدٌ يَذۡكُرُ عُرۡوَةَ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ إِلَّا اللَّيۡثُ فَقَطۡ.

[الحديث ٢٣٦٠ - أطرافه في: ٢٣٦١، ٢٣٦٢، ٢٧٠٨، ٤٥٨٥].

2359, 2360. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Syihab menceritakan kepadaku dari ‘Urwah, dari ‘Abdullah bin Az-Zubair—radhiyallahu 'anhuma—bahwasanya ia menceritakan kepadanya:

Ada seorang laki-laki dari kalangan Ansar berselisih dengan Az-Zubair di hadapan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengenai saluran air bukit batu yang mereka gunakan untuk mengairi pohon kurma. Orang Ansar itu berkata, “Lepaskanlah air itu agar mengalir,” tetapi Az-Zubair menolaknya.

Maka keduanya mengadukan perselisihan ini kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepada Az-Zubair, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair, kemudian alirkanlah air itu kepada tetanggamu.”

Orang Ansar itu pun marah lalu berkata, “Apakah karena ia adalah anak bibimu?”

Berubahlah warna wajah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kemudian beliau bersabda, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair, kemudian bendunglah air itu sampai menggenang setinggi dinding pembatas tanah!”

Az-Zubair berkata: Demi Allah, sungguh aku mengira ayat berikut ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut: “Maka demi Rabmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS An-Nisa’: 65).

Muhammad bin Al-‘Abbas berkata: Abu ‘Abdullah berkata: Tidak ada seorang pun yang menyebutkan periwayatan ‘Urwah dari ‘Abdullah, melainkan Al-Laits saja.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2358

٦ - بَابُ إِثۡمِ مَنۡ مَنَعَ ابۡنَ السَّبِيلِ مِنَ الۡمَاءِ
6. Bab Dosa Orang yang Menahan Air dari Ibnusabil


٢٣٥٨ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ بۡنُ زِيَادٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا صَالِحٍ يَقُولُ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ثَلَاثَةٌ لَا يَنۡظُرُ اللهُ إِلَيۡهِمۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ: رَجُلٌ كَانَ لَهُ فَضۡلُ مَاءٍ بِالطَّرِيقِ فَمَنَعَهُ مِنِ ابۡنِ السَّبِيلِ، وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنۡيَا، فَإِنۡ أَعۡطَاهُ مِنۡهَا رَضِيَ وَإِنۡ لَمۡ يُعۡطِهِ مِنۡهَا سَخِطَ، وَرَجُلٌ أَقَامَ سِلۡعَتَهُ بَعۡدَ الۡعَصۡرِ فَقَالَ: وَاللهِ الَّذِي لَا إِلٰهَ غَيۡرُهُ، لَقَدۡ أَعۡطَيۡتُ بِهَا كَذَا وَكَذَا، فَصَدَّقَهُ رَجُلٌ). ثُمَّ قَرَأَ هٰذِهِ الۡآيَةَ: ‏﴿إِنَّ الَّذِينَ يَشۡتَرُونَ بِعَهۡدِ اللهِ وَأَيۡمَانِهِمۡ ثَمَنًا قَلِيلًا﴾ [آل عمران: ٧٧].

2358. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan kepada kami dari Al-A’masy. Ia berkata: Aku mendengar Abu Shalih berkata: Aku mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu 'anhu—berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ada tiga golongan yang Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: (1) seseorang yang memiliki kelebihan air di jalan lalu ia menahannya dari ibnusabil; (2) seseorang yang membaiat seorang pemimpin yang tidaklah ia membaiatnya melainkan demi dunia, jika pemimpin itu memberinya bagian dari dunia maka ia rida, dan jika pemimpin itu tidak memberinya bagian dari dunia maka ia marah; serta (3) seseorang yang menawarkan barang dagangannya setelah asar lalu ia berkata, ‘Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, sungguh aku telah ditawar dengan harga sekian dan sekian untuk barang ini,’ lalu ada orang yang memercayainya.”

Kemudian beliau membaca ayat ini, “Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah” (QS Ali ‘Imran: 77).

Shahih Muslim hadis nomor 2655

٤ - بَابٌ كُلُّ شَيۡءٍ بِقَدَرٍ
4. Bab Segala Sesuatu Terjadi Berdasarkan Takdir


١٨ - (٢٦٥٥) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡأَعۡلَىٰ بۡنُ حَمَّادٍ. قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكِ بۡنِ أَنَسٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ مَالِكٍ، فِيمَا قُرِىءَ عَلَيۡهِ، عَنۡ زِيَادِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُسۡلِمٍ، عَنۡ طَاوُسٍ، أَنَّهُ قَالَ: أَدۡرَكۡتُ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَقُولُونَ: كُلُّ شَيۡءٍ بِقَدَرٍ. قَالَ: وَسَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ شَيۡءٍ بِقَدَرٍ. حَتَّى الۡعَجۡزُ وَالۡكَيۡسُ، أَوِ الۡكَيۡسُ وَالۡعَجۡزُ).

18. (2655). ‘Abdul A’la bin Hammad telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku membacakannya kepada Malik bin Anas. (Dalam riwayat lain) Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami dari Malik, berdasarkan apa yang dibacakan kepadanya, dari Ziyad bin Sa’id, dari ‘Amr bin Muslim, dari Thawus, bahwasanya ia berkata: Aku sempat menjumpai beberapa orang dari kalangan sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang mereka mengatakan, “Segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir.”

Thawus berkata: Dan aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir, sampai pun ketidakmampuan dan kecerdasan, atau kecerdasan dan ketidakmampuan.”

Shahih Muslim hadis nomor 2931

(٢٩٣١) - وَقَالَ سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ يَقُولُ: انۡطَلَقَ بَعۡدَ ذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ الۡأَنۡصَارِيُّ إِلَى النَّخۡلِ الَّتِي فِيهَا ابۡنُ صَيَّادٍ. حَتَّىٰ إِذَا دَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ النَّخۡلَ، طَفِقَ يَتَّقِي بِجُذُوعِ النَّخۡلِ. وَهُوَ يَخۡتِلُ أَنۡ يَسۡمَعَ مِنِ ابۡنِ صَيَّادٍ شَيۡئًا، قَبۡلَ أَنۡ يَرَاهُ ابۡنُ صَيَّادٍ. فَرَآهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ مُضۡطَجِعٌ عَلَىٰ فِرَاشٍ فِي قَطِيفَةٍ لَهُ فِيهَا زَمۡزَمَةٌ، فَرَأَتۡ أُمُّ ابۡنِ صَيَّادٍ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَهُوَ يَتَّقِي بِجُذُوعِ النَّخۡلِ. فَقَالَتۡ لِابۡنِ صَيَّادٍ: يَا صَافِ، وَهُوَ اسۡمُ ابۡنِ صَيَّادٍ، هٰذَا مُحَمَّدٌ. فَثَارَ ابۡنُ صَيَّادٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَوۡ تَرَكَتۡهُ بَيَّنَ).

(2931). Dan Salim bin ‘Abdullah berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata:

Setelah itu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan Ubay bin Ka’b Al-Anshari pergi menuju kebun kurma yang di dalamnya terdapat Ibnu Shayyad. Hingga ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memasuki kebun kurma itu, beliau mulai berjalan dengan berlindung di balik batang-batang pohon kurma. Beliau mengendap-endap agar dapat mendengar sesuatu dari Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad melihat beliau. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihatnya sedang berbaring di atas tempat tidur di dalam sehelai kain beludru miliknya yang terdengar suara gumaman darinya. Kemudian ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang sedang berlindung di balik batang-batang pohon kurma. Maka ia berkata kepada Ibnu Shayyad, “Wahai Shaf—dan itu adalah nama Ibnu Shayyad—ini ada Muhammad.”

Lalu Ibnu Shayyad langsung bangkit. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Seandainya ibunya membiarkannya, niscaya akan menjadi jelas perkara yang sebenarnya.”

(١٦٩) - قَالَ سَالِمٌ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ: فَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي النَّاسِ فَأَثۡنَىٰ عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: (إِنِّي لَأُنۡذِرُكُمُوهُ. مَا مِنۡ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدۡ أَنۡذَرَهُ قَوۡمَهُ. لَقَدۡ أَنۡذَرَهُ نُوحٌ قَوۡمَهُ. وَلَكِنۡ أَقُولُ لَكُمۡ فِيهِ قَوۡلًا لَمۡ يَقُلۡهُ نَبِيٌّ لِقَوۡمِهِ. تَعَلَّمُوا أَنَّهُ أَعۡوَرُ. وَأَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ لَيۡسَ بِأَعۡوَرَ).

(169). Salim berkata: ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri di hadapan manusia, kemudian beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, setelah itu beliau menyebutkan tentang Dajjal seraya bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar memperingatkan kalian darinya. Tidak ada seorang nabi pun melainkan ia telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjal itu. Sungguh Nuh telah memperingatkan kaumnya tentang dia. Akan tetapi, aku akan mengatakan kepada kalian suatu perkataan tentangnya yang belum pernah dikatakan oleh seorang nabi pun kepada kaumnya. Ketahuilah oleh kalian bahwa dia buta sebelah matanya dan sesungguhnya Allah—tabaraka wa ta’ala—tidaklah buta sebelah matanya.”

- قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: وَأَخۡبَرَنِي عُمَرُ بۡنُ ثَابِتٍ الۡأَنۡصَارِيُّ؛ أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ بَعۡضُ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ، يَوۡمَ حَذَّرَ النَّاسَ الدَّجَّالَ: (إِنَّهُ مَكۡتُوبٌ بَيۡنَ عَيۡنَيۡهِ كَافِرٌ. يَقۡرَؤُهُ مَنۡ كَرِهَ عَمَلَهُ، أَوۡ يَقۡرَؤُهُ كُلُّ مُؤۡمِنٍ). وَقَالَ: (تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنۡ يَرَىٰ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّىٰ يَمُوتَ).

Ibnu Syihab berkata: ‘Umar bin Tsabit Al-Anshari mengabarkan kepadaku: Sebagian sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengabarkan kepadanya: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda pada hari ketika beliau memperingatkan manusia tentang Dajjal, “Sesungguhnya tertulis di antara kedua matanya kata ‘kafir’. Tulisan itu dapat dibaca oleh orang yang membenci perbuatannya atau dapat dibaca oleh setiap orang mukmin.”

Dan beliau bersabda, “Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan melihat Rabnya—‘azza wa jalla—hingga ia mati.”

Musnad Ahmad hadis nomor 15870

١٥٨٧٠ (١٥٧٧٨) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِدۡرِيسَ- يَعۡنِي الشَّافِعِيَّ- عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ؛ أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ، أَنَّ أَبَاهُ كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ كَانَ يُحَدِّثُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: إِنَّمَا نَسَمَةُ الۡمُؤۡمِنِ طَائِرٌ يَعۡلُقُ فِي شَجَرِ الۡجَنَّةِ، حَتَّى يُرۡجِعَهُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوۡمَ يَبۡعَثُهُ. [راجع: ١٥٨٦٨].

15870. (15778). Muhammad bin Idris—yakni Asy-Syafi’i—telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari ‘Abdurrahman bin Ka’b bin Malik; bahwasanya ia mengabarkan kepadanya: Ayahnya, Ka’b bin Malik, pernah menceritakan; bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Roh seorang mukmin itu bagaikan seekor burung yang bertengger di pohon janah, hingga Allah—tabaraka wa ta’ala—mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2355

٤ - بَابُ مَنۡ حَفَرَ بِئۡرًا فِي مِلۡكِهِ لَمۡ يَضۡمَنۡ
4. Bab Barang Siapa yang Menggali Sumur di Tanah Miliknya Sendiri, Maka Ia Tidak Menanggung Ganti Rugi (Jika Ada yang Terperosok)


٢٣٥٥ - حَدَّثَنَا مَحۡمُودٌ: أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ إِسۡرَائِيلَ، عَنۡ أَبِي حَصِينٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡمَعۡدِنُ جُبَارٌ، وَالۡبِئۡرُ جُبَارٌ، وَالۡعَجۡمَاءُ جُبَارٌ، وَفِي الرِّكَازِ الۡخُمُسُ).

2355. Mahmud telah menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah mengabarkan kepada kami dari Israil, dari Abu Hashin, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kecelakaan akibat galian tambang tidak ada tebusan denda, kecelakaan akibat sumur tidak ada tebusan denda, kecelakaan akibat binatang ternak tidak ada tebusan denda, dan kewajiban pada rikaz (temuan harta yang dikubur pada masa jahiliah) adalah seperlima.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2353 dan 2354

٣ - بَابُ مَنۡ قَالَ: إِنَّ صَاحِبَ الۡمَاءِ أَحَقُّ بِالۡمَاءِ حَتَّى يَرۡوَى، لِقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَا يُمۡنَعُ فَضۡلُ الۡمَاءِ)
3. Bab Barang Siapa yang Berpendapat Bahwa Pemilik Air Lebih Berhak atas Air Tersebut hingga Ia Puas Minum, karena Sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Janganlah kelebihan air ditahan”


٢٣٥٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يُمۡنَعُ فَضۡلُ الۡمَاءِ لِيُمۡنَعَ بِهِ الۡكَلَأُ). [الحديث ٢٣٥٣ - طرفاه في: ٢٣٥٤، ٦٩٦٢].

2353. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah kelebihan air ditahan yang akibatnya dapat menghalangi tumbuhnya rumput liar.”

٢٣٥٤ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنِ ابۡنِ الۡمُسَيَّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا تَمۡنَعُوا فَضۡلَ الۡمَاءِ لِتَمۡنَعُوا بِهِ فَضۡلَ الۡكَلَإِ). [طرفه في: ٢٣٥٣].

2354. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Ibnu Al-Musayyab dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah kalian menahan kelebihan air untuk menghalangi tumbuhnya kelebihan rumput liar.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2351 dan 2352

١ - بَابٌ في الشُّرۡبِ
1. Bab Perihal Minum


وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَجَعَلۡنَا مِنَ الۡمَاءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ﴾ [الأنبياء: ٣٠]، وَقَوۡلِهِ جَلَّ ذِكۡرُهُ: ﴿أَفَرَأَيۡتُمُ الۡمَاءَ الَّذِي تَشۡرَبُونَ * أَأَنۡتُمۡ أَنۡزَلۡتُمُوهُ مِنَ الۡمُزۡنِ أَمۡ نَحۡنُ الۡمُنۡزِلُونَ * لَوۡ نَشَاءُ جَعَلۡنَاهُ أُجَاجًا فَلَوۡلَا تَشۡكُرُونَ﴾ [الواقعة: ٦٨-٧٠]. ثَجَّاجًا [النبأ: ١٤]: مُنۡصَبًّا. الۡمُزۡنُ: السَّحَابُ. الۡأُجَاجُ: الۡمُرُّ. فُرَاتًا [المرسلات: ٢٧]: عَذۡبًا.

Dan Firman Allah Taala: “...dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS Al-Anbiya’: 30).

Dan firman-Nya—jalla dzikruh—: “Maka pernahkah kalian melihat air yang kalian minum? Kaliankah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, maka mengapa kalian tidak bersyukur?” (QS Al-Waqi’ah: 68-70).

Tsajjajan (QS An-Naba: 14) artinya yang tercurah dengan deras. Al-Muzn artinya awan. Al-Ujaj artinya pahit. Furatan (QS Al-Mursalat: 27) artinya tawar lagi segar.

٢ - بَابٌ في الشُّرۡبِ وَمَنۡ رَأَى صَدَقَةَ الۡمَاءِ وَهِبَتَهُ وَوَصِيَّتَهُ جَائِزَةً، مَقۡسُومًا كَانَ أَوۡ غَيۡرَ مَقۡسُومٍ
2. Bab Perihal Minum, dan Barang Siapa yang Berpendapat Bahwa Sedekah Air, Hibahnya, dan Wasiatnya adalah Sah, Baik Air yang Telah Dibagi Maupun yang Belum Dibagi


وَقَالَ عُثۡمَانُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنۡ يَشۡتَرِي بِئۡرَ رُومَةَ فَيَكُونُ دَلۡوُهُ فِيهَا كَدِلَاءِ الۡمُسۡلِمِينَ). فَاشۡتَرَاهَا عُثۡمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ.

‘Utsman berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa yang membeli sumur Rumah, maka timbanya di sumur itu sama seperti timba-timba kaum muslimin lainnya.”

Lalu ‘Utsman—radhiyallahu ‘anhu—membelinya.

٢٣٥١ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِقَدَحٍ فَشَرِبَ مِنۡهُ، وَعَنۡ يَمِينِهِ غُلَامٌ أَصۡغَرُ الۡقَوۡمِ، وَالۡأَشۡيَاخُ عَنۡ يَسَارِهِ، فَقَالَ: (يَا غُلَامُ، أَتَأۡذَنُ لِي أَنۡ أُعۡطِيَهُ الۡأَشۡيَاخَ؟) قَالَ: مَا كُنۡتُ لَأُوثِرَ بِفَضۡلِي مِنۡكَ أَحَدًا يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَعۡطَاهُ إِيَّاهُ. [الحديث ٢٣٥١ - أطرافه في: ٢٣٦٦، ٢٤٥١، ٢٦٠٢، ٢٦٠٥، ٥٦٢٠].

2351. Sa’id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami: Abu Ghassan menceritakan kepada kami. Ia berkata: Abu Hazim menceritakan kepadaku dari Sahl bin Sa’d—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Sebuah wadah berisi minuman pernah dibawakan kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau minum darinya. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak muda yang merupakan orang paling muda di antara kaum yang hadir, sedangkan para tetua ada di sebelah kiri beliau. Maka beliau bertanya, “Wahai anak muda, apakah kamu mengizinkanku untuk memberikan minuman ini kepada para tetua ini terlebih dahulu?”

Anak muda itu menjawab, “Aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun, wahai Rasulullah.”

Maka beliau pun memberikan wadah itu kepadanya.

٢٣٥٢ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّهَا حُلِبَتۡ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ شَاةٌ دَاجِنٌ، وَهِيَ فِي دَارِ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، وَشِيبَ لَبَنُهَا بِمَاءٍ مِنَ الۡبِئۡرِ الَّتِي فِي دَارِ أَنَسٍ، فَأَعۡطَى رَسُولَ اللهِ ﷺ الۡقَدَحَ فَشَرِبَ مِنۡهُ، حَتَّى إِذَا نَزَعَ الۡقَدَحَ مِنۡ فِيهِ، وَعَلَى يَسَارِهِ أَبُو بَكۡرٍ، وَعَنۡ يَمِينِهِ أَعۡرَابِيٌّ، فَقَالَ عُمَرُ، وَخَافَ أَنۡ يُعۡطِيَهُ الۡأَعۡرَابِيَّ: أَعۡطِ أَبَا بَكۡرٍ يَا رَسُولَ اللهِ عِنۡدَكَ، فَأَعۡطَاهُ الۡأَعۡرَابِيَّ الَّذِي عَلَى يَمِينِهِ، ثُمَّ قَالَ: (الۡأَيۡمَنَ فَالۡأَيۡمَنَ). [الحديث ٢٣٥٢ - أطرافه في: ٢٥٧١، ٥٦١٢، ٥٦١٩].

2352. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Ia berkata: Anas bin Malik menceritakan kepadaku:

Susu dari seekor domba piaraan pernah diperah untuk Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, yang mana domba tersebut berada di rumah Anas bin Malik. Kemudian susunya dicampur dengan air dari sumur yang berada di rumah Anas. Lalu wadah minuman itu diberikan kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan beliau pun minum darinya. Ketika beliau menarik wadah itu dari mulut beliau, di sebelah kiri beliau ada Abu Bakr, sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang Arab badui. Maka ‘Umar berkata karena khawatir beliau akan memberikannya kepada orang Arab badui tersebut, “Berikanlah kepada Abu Bakr, ya Rasulullah. Ia berada di sisimu.”

Namun beliau tetap memberikannya kepada orang Arab badui yang berada di sebelah kanan beliau, kemudian beliau bersabda, “Yang kanan dahulu, lalu yang kanan.”

Musnad Ahmad hadis nomor 2154

٢١٥٤ – قَالَ هُشَيۡمٌ، أَخۡبَرَنَا ابۡنُ أَبِي لَيۡلَى، عَنۡ دَاوُدَ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: صُومُوا يَوۡمَ عَاشُورَاءَ، وَخَالِفُوا فِيهِ الۡيَهُودَ، صُومُوا قَبۡلَهُ يَوۡمًا، أَوۡ بَعۡدَهُ يَوۡمًا. [إسناده ضعيف. صححه ابن خزيمة (٢٠٩٥)].

2154. Husyaim berkata: Ibnu Abu Laila mengabarkan kepada kami dari Dawud bin ‘Ali, dari ayahnya, dari kakeknya, yaitu Ibnu ‘Abbas. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi pada hari itu; berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”

Tafsir Surah Al-'Alaq

تَفۡسِيرُ سُورَةِ اقۡرَأۡ


[وَهِيَ] مَكِّيَّةٌ

Surah Al-‘Alaq adalah surah makiyah.


﴿ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ * ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ * ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ * عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ * كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ * أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ ۝٧ إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجۡعَىٰٓ * أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِى يَنۡهَىٰ * عَبۡدًا إِذَا صَلَّىٰٓ ۝١٠ أَرَءَيۡتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ۝١١ أَوۡ أَمَرَ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ * أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ * أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ * كَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ * نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ * فَلۡيَدۡعُ نَادِيَهُۥ * سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ * كَلَّا لَا تُطِعۡهُ وَٱسۡجُدۡ وَٱقۡتَرِب ۩﴾‏

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Rabmu yang menciptakan,
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Rabmulah Yang Maha Mulia,
  4. Yang mengajar (manusia) dengan pena,
  5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
  6. Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas,
  7. karena melihat dirinya serbakecukupan.
  8. Sungguh, hanya kepada Rabmulah tempat kembali(mu).
  9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
  10. seorang hamba ketika dia melaksanakan salat?
  11. Bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang itu) berada di atas kebenaran (petunjuk),
  12. atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
  13. Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) mendustakan dan berpaling?
  14. Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?
  15. Sekali-kali tidak! Jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka),
  16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka
  17. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
  18. Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah,
  19. Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta mendekatlah (kepada Allah).

۝١ هٰذِهِ السُّورَةُ أَوَّلُ السُّوَرِ الۡقُرۡآنِيَّةِ نُزُولًا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ.

Surah ini adalah surah Al-Qur’an yang pertama kali turun kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

فَإِنَّهَا نَزَلَتۡ عَلَيۡهِ فِي مَبَادِىءِ النُّبُوَّةِ، إِذۡ كَانَ لَا يَدۡرِي مَا الۡكِتَابُ وَلَا الۡإِيمَانُ.

Sesungguhnya surah ini turun kepada beliau di masa-masa awal kenabian, saat beliau belum mengetahui apa itu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan apa itu iman.

فَجَاءَهُ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِالرِّسَالَةِ، وَأَمَرَهُ أَنۡ يَقۡرَأَ فَامۡتَنَعَ وَقَالَ: (مَا أَنَا بِقَارِىءٍ) فَلَمۡ يَزَلۡ بِهِ حَتَّى قَرَأَ.

Lalu Jibril—‘alaihish-shalatu was-salam—datang kepadanya membawa risalah dan memerintahkannya untuk membaca, namun beliau enggan dan berkata, “Aku tidak bisa membaca.”

Jibril terus mendekapnya hingga beliau membaca.

فَأَنۡزَلَ اللهُ عَلَيۡهِ: ﴿ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ﴾ عُمُومَ الۡخَلۡقِ.

Maka Allah menurunkan kepadanya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabmu yang menciptakan” yang mencakup penciptaan secara umum.

۝٢ ثُمَّ خَصَّ الۡإِنۡسَانَ وَذَكَرَ ابۡتِدَاءَ خَلۡقِهِ ﴿مِنۡ عَلَقٍ﴾ فَالَّذِي خَلَقَ الۡإِنۡسَانَ وَاعۡتَنَى بِتَدۡبِيرِهِ، لَا بُدَّ أَنۡ يَدُبِّرَهُ بِالۡأَمۡرِ وَالنَّهۡيِ، وَذٰلِكَ بِإِرۡسَالِ الرَّسُولِ إِلَيۡهِمۡ، وَإِنۡزَالِ الۡكُتُبِ عَلَيۡهِمۡ.

Kemudian mengkhususkan manusia dan menyebutkan awal penciptaannya “dari segumpal darah”. Maka Zat yang telah menciptakan manusia dan memperhatikan pengurusannya, pasti akan mengaturnya dengan perintah dan larangan, yaitu dengan mengutus rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka.

وَلِهٰذَا ذَكَرَ بَعۡدَ الۡأَمۡرِ بِالۡقِرَاءَةِ خَلۡقَهُ لِلۡإِنۡسَانِ.

Oleh karena itu, setelah perintah membaca, Dia menyebutkan penciptaan-Nya terhadap manusia.

۝٣-۝٥ ثُمَّ قَالَ: ﴿ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ﴾ أَيۡ: كَثِيرُ الصِّفَاتِ وَاسِعُهَا، كَثِيرُ الۡكَرَمِ وَالۡإِحۡسَانِ، وَاسِعُ الۡجُودِ الَّذِي مِنۡ كَرَمِهِ أَنۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ، وَ﴿عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ * عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ﴾ فَإِنَّهُ تَعَالَى أَخۡرَجَهُ مِنۡ بَطۡنِ أُمِّهِ لَا يَعۡلَمُ شَيۡئًا، وَجَعَلَ لَهُ السَّمۡعَ وَالۡبَصَرَ وَالۡفُؤَادَ، وَيَسَّرَ لَهُ أَسۡبَابَ الۡعِلۡمِ.

Kemudian Dia berfirman, “Bacalah, dan Rabmulah Yang Maha Mulia” artinya: memiliki sifat yang banyak lagi luas, banyak kemuliaan dan kebaikan-Nya, luas kedermawanan-Nya, yang mana di antara kemuliaan-Nya adalah Dia mengajar dengan pena.

Dan “Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. Karena sesungguhnya Allah taala mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia menjadikan baginya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, serta memudahkan baginya sarana-sarana ilmu.

فَعَلَّمَهُ الۡقُرۡآنَ وَعَلَّمَهُ الۡحِكۡمَةَ، وَعَلَّمَهُ بِالۡقَلَمِ، الَّذِي بِهِ تُحۡفَظُ الۡعُلُومُ وَتُضۡبَطُ الۡحُقُوقُ وَتَكُونُ رُسُلًا لِلنَّاسِ، تَنُوبُ مَنَابَ خِطَابِهِمۡ.

Maka Dia mengajarkan Al-Qur’an kepadanya, mengajarkan hikmah kepadanya, dan mengajarkan dengan pena kepadanya, yang dengan pena tersebut ilmu-ilmu terjaga, hak-hak tercatat, dan menjadi utusan bagi manusia yang menggantikan kedudukan ucapan mereka.

فَلِلهِ الۡحَمۡدُ وَالۡمِنَّةُ، الَّذِي أَنۡعَمَ عَلَى عِبَادِهِ بِهٰذِهِ النِّعَمِ، الَّتِي لَا يَقۡدِرُونَ لَهَا عَلَى جَزَاءٍ وَلَا شُكُورٍ، ثُمَّ مَنَّ عَلَيۡهِمۡ بِالۡغِنَى وَسَعَةِ الرِّزۡقِ.

Hanya bagi Allah segala puji dan sanjungan, yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat ini kepada hamba-hamba-Nya, yang mana mereka tidak akan mampu membalas ataupun mensyukurinya sebagaimana mestinya. Kemudian Dia melimpahkan karunia kepada mereka berupa kekayaan dan kelapangan rezeki.

۝٦-۝٨ وَلَكِنَّ الۡإِنۡسَانَ – لِجَهۡلِهِ وَظُلۡمِهِ – إِذَا رَأَى نَفۡسَهُ غَنِيًّا طَغَى وَبَغَى وَتَجَبَّرَ عَنِ الۡهُدَى، وَنَسِيَ أَنَّ إِلَى رَبِّهِ الرُّجۡعَى، وَلَمۡ يَخَفِ الۡجَزَاءَ، بَلۡ رُبَّمَا وَصَلَتۡ بِهِ الۡحَالُ أَنَّهُ يَتۡرُكُ الۡهُدَى بِنَفۡسِهِ، وَيَدۡعُو [غَيۡرَهُ] إِلَى تَرۡكِهِ، فَيَنۡهَى عَنِ الصَّلَاةِ الَّتِي هِيَ أَفۡضَلُ أَعۡمَالِ الۡإِيمَانِ، يَقُولُ اللهُ لِهٰذَا الۡمُتَمَرِّدِ الۡعَاتِي:

Akan tetapi manusia—karena kebodohan dan kezalimannya—apabila melihat dirinya serbakecukupan, dia melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan bersikap sombong terhadap petunjuk. Dia lupa bahwa hanya kepada Rabnyalah tempat kembali dan dia tidak takut terhadap balasan. Bahkan terkadang keadaannya sampai pada tahap dia sendiri meninggalkan petunjuk dan mengajak orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang salat yang merupakan amalan iman yang paling utama. Allah berfirman kepada orang yang membangkang lagi melampaui batas ini:

۝٩-۝١٢ ﴿أَرَءَيۡتَ﴾ أَيُّهَا النَّاهِي لِلۡعَبۡدِ إِذَا صَلَّى ﴿إِن كَانَ﴾ الۡعَبۡدُ الۡمُصَلِّي ﴿عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ﴾ الۡعِلۡمِ بِالۡحَقِّ وَالۡعَمَلِ بِهِ ﴿أَوۡ أَمَرَ﴾ غَيۡرَهُ ﴿بِٱلتَّقۡوَىٰٓ﴾.

“Bagaimana pendapatmu” wahai orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan salat, “jika dia” hamba yang salat itu “berada di atas petunjuk” yaitu berilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya, “atau dia menyuruh” orang lain “bertakwa” (kepada Allah)?

فَهَلۡ يَحۡسُنُ أَنۡ يُنۡهَى مَنۡ هٰذَا وَصۡفُهُ؟ أَلَيۡسَ نَهۡيُهُ مِنۡ أَعۡظَمِ الۡمُحَادَّةِ لِلهِ وَالۡمُحَارَبَةِ لِلۡحَقِّ؟ فَإِنَّ النَّهۡيَ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَّا لِمَنۡ هُوَ فِي نَفۡسِهِ عَلَى غَيۡرِ الۡهُدَى، أَوۡ كَانَ يَأۡمُرُ غَيۡرَهُ بِخِلَافِ التَّقۡوَى.

Maka apakah pantas orang yang memiliki sifat seperti ini dilarang? Bukankah melarangnya termasuk bentuk penentangan terbesar kepada Allah dan peperangan terhadap kebenaran? Karena sesungguhnya larangan itu tidak ditujukan kecuali kepada orang yang dirinya sendiri berada di atas selain petunjuk, atau orang yang menyuruh orang lain kepada sesuatu yang menyelisihi ketakwaan.

۝١٣، ۝١٤ ﴿أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ﴾ النَّاهِي بِالۡحَقِّ ﴿وَتَوَلَّىٰٓ﴾ عَنِ الۡأَمۡرِ، أَمَا يَخَافُ اللهَ وَيَخۡشَى عِقَابَهُ؟ ﴿أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ﴾ مَا يَعۡمَلُ وَيَفۡعَلُ؟

“Bagaimana pendapatmu jika dia” orang yang melarang itu “mendustakan” kebenaran “dan berpaling” dari perintah? Tidakkah dia takut kepada Allah dan ngeri terhadap siksaan-Nya?

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat” segala yang dia amalkan dan perbuat?

۝١٥، ۝١٦ ثُمَّ تَوَعَّدَهُ إِنِ اسۡتَمَرَّ عَلَى حَالِهِ فَقَالَ: ﴿كَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ﴾ عَمَّا يَقُولُ وَيَفۡعَلُ ﴿لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ﴾ أَيۡ: لَنَأۡخُذَنۡ بِنَاصِيَتِهِ أَخۡذًا عَنِيفًا، وَهِيَ حَقِيقَةٌ بِذٰلِكَ، فَإِنَّهَا ﴿نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ﴾ أَيۡ: كَاذِبَةٍ فِي قَوۡلِهَا خَاطِئَةٍ فِي فِعۡلِهَا.

Kemudian Allah mengancamnya jika dia terus-menerus dalam keadaannya tersebut, lalu berfirman, “Sekali-kali tidak! Jika dia tidak berhenti” dari apa yang dia katakan dan perbuat, “niscaya Kami tarik ubun-ubunnya” artinya: niscaya benar-benar Kami pegang ubun-ubunnya dengan pegangan yang keras. Ubun-ubun tersebut memang layak diperlakukan demikian, karena ia adalah “ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka” artinya: berdusta dalam ucapannya lagi bersalah dalam perbuatannya.

۝١٧ ﴿فَلۡيَدۡعُ﴾ هٰذَا الَّذِي حَقَّ عَلَيۡهِ الۡعِقَابُ ﴿نَادِيَهُۥ﴾ أَيۡ: أَهۡلَ مَجۡلِسِهِ وَأَصۡحَابَهُ، وَمَنۡ حَوۡلَهُ لِيُعِينُوهُ عَلَى مَا نَزَلَ بِهِ.

“Maka biarlah dia memanggil” orang yang telah pasti mendapatkan hukuman ini “golongannya” artinya: orang-orang di tempat majelisnya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang di sekitarnya, agar mereka membantunya menghadapi azab yang menimpanya.

۝١٨ ﴿سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ﴾ أَيۡ: خَزَنَةَ جَهَنَّمَ لِأَخۡذِهِ وَعُقُوبَتِهِ.

“Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah” artinya: malaikat penjaga jahanam untuk menyeret dan menghukumnya.

فَلۡيَنۡظُرۡ أَيُّ الۡفَرِيقَيۡنِ أَقۡوَى وَأَقۡدَرُ؟ فَهٰذِهِ حَالَةُ النَّاهِي وَمَا تُوُعِّدَ بِهِ مِنَ الۡعُقُوبَةِ.

Maka silakan lihat, golongan manakah yang lebih kuat dan lebih kuasa? Demikianlah keadaan orang yang melarang beserta ancaman hukuman yang ditujukan kepadanya.

وَأَمَّا حَالَةُ الۡمَنۡهِيِّ، فَأَمَرَهُ اللهُ أَنۡ لَا يُصۡغَى إِلَى هٰذَا النَّاهِي وَلَا يَنۡقَادَ لِنَهۡيِهِ فَقَالَ:

Adapun keadaan orang yang dilarang, maka Allah memerintahkannya agar tidak mendengarkan orang yang melarang ini dan tidak tunduk pada larangannya, lalu Dia berfirman,

۝١٩ ﴿كَلَّا لَا تُطِعۡهُ﴾ [أَيۡ]: فَإِنَّهُ لَا يَأۡمُرُ إِلَّا بِمَا فِيهِ خَسَارَةُ الدَّارَيۡنِ.

“Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya” artinya: karena sesungguhnya dia tidak memerintahkan kecuali pada hal yang mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat.

﴿وَٱسۡجُدۡ﴾ لِرَبِّكَ ﴿وَٱقۡتَرِب﴾ مِنۡهُ فِي السُّجُودِ وَغَيۡرِهِ مِنۡ أَنۡوَاعِ الطَّاعَاتِ وَالۡقُرُبَاتِ، فَإِنَّهَا كُلَّهَا تُدۡنِي مِنۡ رِضَاهُ وَتُقَرِّبُ مِنۡهُ، وَهٰذَا عَامٌّ لِكُلِّ نَاهٍ عَنِ الۡخَيۡرِ وَمَنۡهِيٍّ عَنۡهُ، وَإِنۡ كَانَتۡ نَازِلَةً فِي شَأۡنِ أَبِي جَهۡلٍ حِينَ نَهَى رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الصَّلَاةِ وَعَبِثَ بِهِ وَآذَاهُ.

“Dan sujudlah” kepada Rabmu “serta mendekatlah” kepada-Nya dalam sujud serta jenis ketaatan dan ibadah lainnya, karena semua itu mendekatkan diri pada rida-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan orang yang dilarang darinya, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan urusan Abu Jahl ketika dia melarang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari melaksanakan salat, mencemooh, serta menyakiti beliau.

تَمَّتۡ وَلِلهِ الۡحَمۡدُ

Selesai. Alhamdulillah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5761

٥٧٦١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ أَبِي مَسۡعُودٍ قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنۡ ثَمَنِ الۡكَلۡبِ، وَمَهۡرِ الۡبَغِيِّ، وَحُلۡوَانِ الۡكَاهِنِ. [طرفه في: ٢٢٣٧].

5761. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Abu Bakr bin ‘Abdurrahman bin Al-Harits, dari Abu Mas’ud. Beliau berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang dari uang hasil penjualan anjing, upah pelacur, dan upah dukun.

Shahih Muslim hadis nomor 162

٧٤ - بَابُ الۡإِسۡرَاءِ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى السَّمَوَاتِ وَفَرۡضِ الصَّلَوَاتِ
74. Bab Perjalanan Malam (Isra) Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ke Langit dan Kewajiban Salat-Salat


٢٥٩ - (١٦٢) - حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أُتِيتُ بِالۡبُرَاقِ - وَهُوَ دَابَّةٌ أَبۡيَضُ طَوِيلٌ فَوۡقَ الۡحِمَارِ وَدُونَ الۡبَغۡلِ. يَضَعُ حَافِرَهُ عِنۡدَ مُنۡتَهَى طَرۡفِهِ -. قَالَ: فَرَكِبۡتُهُ حَتَّى أَتَيۡتُ بَيۡتَ الۡمَقۡدِسِ، قَالَ: فَرَبَطۡتُهُ بِالۡحَلۡقَةِ الَّتِي يَرۡبِطُ بِهِ الۡأَنۡبِيَاءُ،

259. (162). Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku dibawakan burak—yaitu seekor hewan tunggangan yang berwarna putih, bertubuh panjang, ukurannya di atas keledai dan di bawah bagal, ia melangkahkan kakinya sejauh ujung pandangan matanya—.”

Beliau melanjutkan, “Maka aku pun menungganginya hingga aku tiba di Baitulmakdis.”

Beliau melanjutkan, “Lalu aku mengikatnya pada lingkaran besi yang biasa digunakan oleh para nabi untuk mengikat hewan tunggangan mereka.”

قَالَ: ثُمَّ دَخَلۡتُ الۡمَسۡجِدَ فَصَلَّيۡتُ فِيهِ رَكۡعَتَيۡنِ، ثُمَّ خَرَجۡتُ، فَجَاءَنِي جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ بِإِنَاءٍ مِنۡ خَمۡرٍ وَإِنَاءٍ مِنۡ لَبَنٍ، فَاخۡتَرۡتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبۡرِيلُ ﷺ: اخۡتَرۡتَ الۡفِطۡرَةَ، ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.

Beliau melanjutkan:

Kemudian aku masuk ke dalam masjid lalu melaksanakan salat dua rakaat di dalamnya, setelah itu aku keluar. Lalu Jibril—‘alaihis-salam—mendatangiku dengan membawa sebuah wadah berisi khamar dan sebuah wadah berisi susu. Aku pun memilih susu, maka Jibril—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Kamu telah memilih fitrah.”

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit pertama, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Maka dia ditanya, “Siapakah kamu?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanya lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Adam. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِابۡنَىِ الۡخَالَةِ عِيسَى ابۡنِ مَرۡيَمَ وَيَحۡيَىٰ بۡنِ زَكَرِيَّاءَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيۡهِمَا، فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيۡرٍ.

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit kedua, lalu Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah kamu?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang sepupu (dari jalur ibu), yaitu ‘Isa putra Maryam dan Yahya bin Zakariyya`—shalawatullahi ‘alaihima—. Keduanya menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ، فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ ﷺ، إِذَا هُوَ قَدۡ أُعۡطِيَ شَطۡرَ الۡحُسۡنِ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.

Kemudian Jibril membawa aku naik ke langit ketiga, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah kamu?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Yusuf—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, ternyata ia telah dianugerahi separuh dari seluruh ketampanan. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قَالَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا. فَإِذَا أَنَا بِإِدۡرِيسَ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَرَفَعۡنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا ۝٥٧﴾ [مريم: ٥٧].

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit keempat, lalu Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Dia bertanya, ”Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Idris. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku. Allah—‘azza wa jalla—berfirman, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Maryam: 57).

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الۡخَامِسَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ. قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ،

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit kelima, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Harun—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِمُوسَىٰ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit keenam, lalu Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ، فَقِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِإِبۡرَاهِيمَ ﷺ، مُسۡنِدًا ظَهۡرَهُ إِلَى الۡبَيۡتِ الۡمَعۡمُورِ، وَإِذَا هُوَ يَدۡخُلُهُ كُلَّ يَوۡمٍ سَبۡعُونَ أَلۡفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيۡهِ.

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit ketujuh, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Ibrahim—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang menyandarkan punggungnya ke Baitulmakmur. Ternyata tempat itu dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat setiap harinya dan mereka tidak akan pernah kembali lagi ke sana setelahnya.

ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى السِّدۡرَةِ الۡمُنۡتَهَى، وَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الۡفِيَلَةِ، وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالۡقِلَالِ. قَالَ: فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنۡ أَمۡرِ اللهِ مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتۡ، فَمَا أَحَدٌ مِنۡ خَلۡقِ اللهِ يَسۡتَطِيعُ أَنۡ يَنۡعَتَهَا مِنۡ حُسۡنِهَا، فَأَوۡحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوۡحَىٰ، فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمۡسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ، فَنَزَلۡتُ إِلَى مُوسَىٰ ﷺ، فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَىٰ أُمَّتِكَ؟ قُلۡتُ: خَمۡسِينَ صَلَاةً، قَالَ: ارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ، فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذٰلِكَ، فَإِنِّي قَدۡ بَلَوۡتُ بَنِي إِسۡرَائِيلَ وَخَبَرۡتُهُمۡ،

Kemudian Jibril membawa aku pergi ke Sidratulmuntaha, ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buah-buahnya seperti tempayan besar.

Beliau melanjutkan:

Tatkala pohon itu dilingkupi oleh perintah Allah berupa apa saja yang melingkupinya, pohon itu pun berubah bentuk, sehingga tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang sanggup melukiskan keindahannya. Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Dia mewajibkan kepadaku lima puluh kali salat dalam setiap sehari semalam. Kemudian aku turun menemui Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu ia bertanya, “Apakah yang telah Rabmu wajibkan atas umatmu?”

Aku menjawab, “Lima puluh kali salat.”

Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya, karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup memikul hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israil dan telah mengetahui betul karakter mereka.”

قَالَ: فَرَجَعۡتُ إِلَى رَبِّي فَقُلۡتُ: يَا رَبِّ، خَفِّفۡ عَلَى أُمَّتِي، فَحَطَّ عَنِّي خَمۡسًا، فَرَجَعۡتُ إِلَى مُوسَىٰ فَقُلۡتُ: حَطَّ عَنِّي خَمۡسًا. قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذٰلِكَ، فَارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، قَالَ: فَلَمۡ أَزَلۡ أَرۡجِعُ بَيۡنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيۡنَ مُوسَىٰ عَلَيۡهِ السَّلَامُ حَتَّى قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمۡسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ، لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشۡرٌ، فَذٰلِكَ خَمۡسُونَ صَلَاةً. وَمَنۡ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا كُتِبَتۡ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنۡ عَمِلَهَا كُتِبَتۡ لَهُ عَشۡرًا، وَمَنۡ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا لَمۡ تُكۡتَبۡ شَيۡئًا، فَإِنۡ عَمِلَهَا كُتِبَتۡ سَيِّئَةً وَاحِدَةً،

Beliau melanjutkan:

Maka aku kembali kepada Rabku lalu aku memohon, “Wahai Rabku, berilah keringanan bagi umatku.”

Lalu Dia mengurangi lima kali salat dariku. Aku pun kembali menemui Musa lalu aku berkata, “Dia telah mengurangi lima kali salat dariku.”

Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup memikul hal itu, maka kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya.”

Beliau melanjutkan:

Maka aku terus-menerus bolak-balik antara Rabku taala dan Musa—‘alaihis-salam—, hingga akhirnya Allah berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kewajiban itu adalah lima kali salat dalam setiap sehari semalam, yang mana setiap salat nilainya sebanding dengan sepuluh salat, maka itu sama saja dengan lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat melakukan satu kebaikan lalu ia belum sempat mengamalkannya, maka dicatat untuknya satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan satu keburukan lalu ia tidak mengamalkannya, maka tidak dicatat sesuatu pun atasnya. Jika ia mengamalkannya, maka dicatat sebagai satu keburukan.”

قَالَ: فَنَزَلۡتُ حَتَّى انۡتَهَيۡتُ إِلَى مُوسَىٰ ﷺ فَأَخۡبَرۡتُهُ، فَقَالَ: ارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقُلۡتُ: قَدۡ رَجَعۡتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسۡتَحۡيَيۡتُ مِنۡهُ).

Beliau melanjutkan:

Maka aku turun hingga aku sampai kepada Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu aku mengabarkan hal itu kepadanya. Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya.”

Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata: Aku menjawab, “Aku telah berulang kali kembali kepada Rabku hingga aku merasa malu kepada-Nya.”

٢٦٠ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ هَاشِمٍ الۡعَبۡدِيُّ: حَدَّثَنَا بَهۡزُ بۡنُ أَسَدٍ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ الۡمُغِيرَةِ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أُتِيتُ، فَانۡطَلَقُوا بِي إِلَى زَمۡزَمَ فَشُرِحَ عَنۡ صَدۡرِي، ثُمَّ غُسِلَ بِمَاءِ زَمۡزَمَ، ثُمَّ أُنۡزِلۡتُ).

260. ‘Abdullah bin Hasyim Al-‘Abdi telah menceritakan kepadaku: Bahz bin Asad menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Al-Mughirah menceritakan kepada kami: Tsabit menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku didatangi, lalu mereka membawaku pergi ke sumur Zamzam, kemudian dadaku dibelah lalu dibasuh dengan menggunakan air Zamzam, setelah itu aku dikembalikan.”

٢٦١ - (...) - حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَاهُ جِبۡرِيلُ ﷺ وَهُوَ يَلۡعَبُ مَعَ الۡغِلۡمَانِ، فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنۡ قَلۡبِهِ، فَاسۡتَخۡرَجَ الۡقَلۡبَ، فَاسۡتَخۡرَجَ مِنۡهُ عَلَقَةً. فَقَالَ: هٰذَا حَظُّ الشَّيۡطَانِ مِنۡكَ، ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسۡتٍ مِنۡ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمۡزَمَ، ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ، وَجَاءَ الۡغِلۡمَانُ يَسۡعَوۡنَ إِلَى أُمِّهِ - يَعۡنِي ظِئۡرَهُ – فَقَالُوا: إِنَّ مُحَمَّدًا قَدۡ قُتِلَ، فَاسۡتَقۡبَلُوهُ وَهُوَ مُنۡتَقَعُ اللَّوۡنِ، قَالَ أَنَسٌ: وَقَدۡ كُنۡتُ أَرَى أَثَرَ ذٰلِكَ الۡمِخۡيَطِ فِي صَدۡرِهِ.

261. Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah didatangi oleh Jibril—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau sedang bermain bersama anak-anak kecil lainnya. Lalu Jibril mengambil beliau dan merebahkannya, kemudian membelah dada (bagian) jantung beliau. Jibril lalu mengeluarkan jantung tersebut dan mengeluarkan sepotong gumpalan darah darinya, seraya berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada di dalam dirimu.”

Kemudian Jibril membasuh jantung tersebut di dalam sebuah nampan emas dengan menggunakan air Zamzam, lalu merapatkannya kembali, setelah itu mengembalikannya ke tempat semula. Sementara itu, anak-anak kecil lainnya datang berlari-lari menemui ibunya—yaitu ibu susuan beliau—lalu mereka berteriak, “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh!”

Orang-orang pun bergegas menyongsong beliau dan mereka mendapati beliau dalam keadaan pucat pasi warnanya.

Anas berkata: Dan sungguh, dahulu aku pernah melihat bekas jahitan tersebut di dada beliau.

٢٦٢ - (...) - حَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَيۡلِيُّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ - وَهُوَ ابۡنُ بِلَالٍ – قَالَ: حَدَّثَنِي شَرِيكُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي نَمِرٍ. قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُنَا عَنۡ لَيۡلَةَ أُسۡرِيَ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ مِنۡ مَسۡجِدِ الۡكَعۡبَةِ: أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبۡلَ أَنۡ يُوحَىٰ إِلَيۡهِ، وَهُوَ نَائِمٌ فِي الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ... وَسَاقَ الۡحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ، نَحۡوَ حَدِيثِ ثَابِتٍ الۡبُنَانِيِّ، وَقَدَّمَ فِيهِ شَيۡئًا وَأَخَّرَ، وَزَادَ وَنَقَصَ.


262. Harun bin Sa’id Al-Aili telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. Ia berkata: Sulaiman—yaitu Ibnu Bilal—mengabarkan kepadaku. Ia berkata: Syarik bin ‘Abdullah bin Abu Namir menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik menceritakan kepada kami tentang malam ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diperjalankan dari masjid Ka’bah; bahwasanya ada tiga orang yang mendatangi beliau sebelum beliau diberi wahyu, ketika beliau sedang tidur di Masjidilharam …. Ia membawakan hadis tersebut dengan kisahnya secara lengkap yang semisal dengan hadis Tsabit Al-Bunani, namun ia mendahulukan sebagian isi dan mengakhirkan sebagian yang lain, serta menambah dan mengurangi.