Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari - 39. Kitab Kafalah

   ﷽

٣٩ – كِتَابُ الۡكَفَالَةِ

Kitab Kafalah

  1. Bab Jaminan (Kafalah) dalam Hal Pinjaman dan Utang dengan Jaminan Jiwa serta Selainnya
    1. Hadis nomor 2290 dan 2291
  2. Bab Firman Allah taala: “Dan bagi orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya.” (QS An-Nisa’: 33)
    1. Hadis nomor 2292
    2. Hadis nomor 2293
    3. Hadis nomor 2294
  3. Bab Orang yang Sudah Menjamin Utang Seorang Mayat Tidak Boleh Menarik Kembali Jaminannya
    1. Hadis nomor 2295
    2. Hadis nomor 2296
  4. Bab jaminan keamanan untuk Abu Bakr di masa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan perjanjiannya
    1. Hadis nomor 2297
  5. Bab Utang
    1. Hadis nomor 2298

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6763

٢٥ - بَابُ مِيرَاثِ الۡأَسِيرِ
25. Bab Warisan Tawanan Perang


قَالَ: وَكَانَ شُرَيۡحٌ يُوَرِّثُ الۡأَسِيرَ فِي أَيۡدِي الۡعَدُوِّ، وَيَقُولُ: هُوَ أَحۡوَجُ إِلَيۡهِ.

Al-Bukhari berkata: Syuraih dahulu memberikan hak waris kepada tawanan perang yang berada di tangan musuh, dan dia berkata, “Dia justru lebih membutuhkannya.”

وَقَالَ عُمَرُ بۡنُ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ: أَجِزۡ وَصِيَّةَ الۡأَسِيرِ وَعَتَاقَهُ، وَمَا صَنَعَ فِي مَالِهِ، مَا لَمۡ يَتَغَيَّرۡ عَنۡ دِينِهِ، فَإِنَّمَا هُوَ مَالُهُ يَصۡنَعُ فِيهِ مَا يَشَاءُ.

‘Umar bin ‘Abdul-‘Aziz berkata, “Laksanakanlah wasiat tawanan perang, pembebasan budaknya, dan apa pun yang dia perbuat pada hartanya, selama dia tidak murtad dari agamanya, karena harta itu adalah miliknya yang bebas dia pergunakan sesuai kehendaknya.”

٦٧٦٣ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَدِيٍّ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ، وَمَنۡ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَيۡنَا). [طرفه في: ٢٢٩٨].

6763. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Adi, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk para ahli warisnya. Barang siapa meninggalkan tanggungan, maka perkaranya diserahkan kepada kami.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6745

١٥ - بَابُ ابۡنَيۡ عَمٍّ: أَحَدُهُمَا أَخٌ لِلۡأُمِّ، وَالۡآخَرُ زَوۡجٌ
15. Bab Dua Orang Putra Paman dari Jalur Ayah: Salah Satunya Adalah Saudara Seibu, dan yang Lainnya Adalah Suami


وَقَالَ عَلِيٌّ: لِلزَّوۡجِ النِّصۡفُ، وَلِلۡأَخِ مِنَ الۡأُمِّ السُّدُسُ، وَمَا بَقِيَ بَيۡنَهُمَا نِصۡفَانِ.

‘Ali berkata, “Suami mendapatkan separuh, saudara seibu mendapatkan seperenam, dan sisa hartanya dibagi dua sama rata di antara keduanya.”

٦٧٤٥ - حَدَّثَنَا مَحۡمُودٌ: أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ إِسۡرَائِيلَ، عَنۡ أَبِي حَصِينٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (أَنَا أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ، فَمَنۡ مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا فَمَالُهُ لِمَوَالِي الۡعَصَبَةِ، وَمَنۡ تَرَكَ كَلًّا أَوۡ ضَيَاعًا فَأَنَا وَلِيُّهُ، فَلۡأُدۡعَى لَهُ). [طرفه في: ٢٢٩٨].

6745. Mahmud telah menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah mengabarkan kepada kami dari Isra`il, dari Abu Hashin, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Dia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku lebih berhak atas orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri. Barang siapa meninggal dunia dan meninggalkan harta, maka hartanya untuk para kerabat ‘ashabah-nya. Barang siapa meninggalkan tanggungan atau keluarga yang terlantar, akulah pengampunya, maka hendaklah aku dipanggil untuk mengurusnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6731

٤ - بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (مَنۡ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهۡلِهِ)
4. Bab Sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Barang Siapa Meninggalkan Harta, Maka Harta Itu untuk Keluarganya”


٦٧٣١ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (أَنَا أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ، فَمَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ دَيۡنٌ وَلَمۡ يَتۡرُكۡ وَفَاءً فَعَلَيۡنَا قَضَاؤُهُ، وَمَنۡ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ). [طرفه في: ٢٢٩٨].

6731. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab: Abu Salamah menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Aku lebih berhak atas orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri. Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung utang dan tidak meninggalkan harta untuk pelunasannya, kamilah yang wajib melunasinya. Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk para ahli warisnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5371

١٥ - بَابٌ قَوۡلُ النَّبِيِّ ﷺ: (مَنۡ تَرَكَ كَلاًّ أَوۡ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ)
15. Bab Sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Barang Siapa Meninggalkan Tanggungan atau Keluarga yang Terlantar, Maka Perkaranya Diserahkan kepadaku”


٥٣٧١ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يُؤۡتَى بِالرَّجُلِ الۡمُتَوَفَّى عَلَيۡهِ الدَّيۡنُ، فَيَسۡأَلُ: (هَلۡ تَرَكَ لِدَيۡنِهِ فَضۡلًا؟). فَإِنۡ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ وَفَاءً صَلَّى، وَإِلَّا قَالَ لِلۡمُسۡلِمِينَ: (صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمۡ). فَلَمَّا فَتَحَ اللهُ عَلَيۡهِ الۡفُتُوحَ، قَالَ: (أَنَا أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ، فَمَنۡ تُوُفِّيَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ فَتَرَكَ دَيۡنًا فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ، وَمَنۡ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ). [طرفه في: ٢٢٩٨].

5371. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—:

Dahulu jika ada jenazah seseorang yang masih menanggung utang dibawa kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau bertanya, “Apakah dia meninggalkan kelebihan harta untuk pelunasan utangnya?”

Jika disampaikan kepada beliau bahwa dia meninggalkan harta yang cukup untuk pelunasan, beliau menyalatinya. Namun jika tidak, beliau bersabda kepada kaum muslimin, “Salatkanlah sahabat kalian ini.”

Ketika Allah memberi beliau berbagai penaklukan wilayah, beliau bersabda, “Aku lebih berhak atas orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri. Barang siapa di antara orang-orang beriman yang meninggal dunia lalu meninggalkan utang, akulah yang wajib melunasinya. Barang siapa yang meninggalkan harta, maka harta itu untuk para ahli warisnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4781

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: ﴿صَيَاصِيهِمۡ﴾ [٢٦] قُصُورِهِمۡ. ﴿النَّبِيُّ أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ﴾.

Mujahid berkata: “Shayashihim” (QS Al-Ahzab: 26) maksudnya adalah benteng-benteng mereka. “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri.”

٤٧٨١ - حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡمُنۡذِرِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ فُلَيۡحٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ هِلَالِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي عَمۡرَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَا مِنۡ مُؤۡمِنٍ إِلَّا وَأَنَا أَوۡلَى النَّاسِ بِهِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، اقۡرَءُوا إِنۡ شِئۡتُمۡ: ﴿النَّبِيُّ أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ﴾ [٦]. فَأَيُّمَا مُؤۡمِنٍ تَرَكَ مَالًا فَلۡيَرِثۡهُ عَصَبَتُهُ مَنۡ كَانُوا، فَإِنۡ تَرَكَ دَيۡنًا أَوۡ ضِيَاعًا فَلۡيَأۡتِنِي وَأَنَا مَوۡلَاهُ). [طرفه في: ٢٢٩٨].

4781. Ibrahim bin Al-Mundzir telah menceritakan kepadaku: Muhammad bin Fulaih menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Hilal bin ‘Ali, dari ‘Abdurrahman bin Abu ‘Amrah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Tidak ada seorang mukmin pun melainkan aku adalah orang yang paling berhak atas dirinya di dunia dan akhirat. Bacalah oleh kalian jika kalian mau: ‘Nabi itu lebih utama (berhak) bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri’ (QS Al-Ahzab: 6). Siapa saja orang mukmin yang meninggalkan harta, hendaklah ‘ashabah-nya mewarisinya, siapa pun mereka. Namun jika dia meninggalkan utang atau keluarga yang terlantar, hendaklah dia mendatangi aku, karena akulah pengurusnya (maula-nya)."

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2399

٢٣٩٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ: حَدَّثَنَا فُلَيۡحٌ، عَنۡ هِلَالِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي عَمۡرَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مَا مِنۡ مُؤۡمِنٍ إِلَّا وَأَنَا أَوۡلَى بِهِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، اقۡرَأُوا إِنۡ شِئۡتُمۡ: ﴿النَّبِيُّ أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ﴾ [الأحزاب: ٦] فَأَيُّمَا مُؤۡمِنٍ مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا فَلۡيَرِثۡهُ عَصَبَتُهُ مَنۡ كَانُوا، وَمَنۡ تَرَكَ دَيۡنًا أَوۡ ضَيَاعًا فَلۡيَأۡتِنِي، فَأَنَا مَوۡلَاهُ). [طرفه في: ٢٢٩٨].

2399. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Amir menceritakan kepada kami: Fulaih menceritakan kepada kami dari Hilal bin ‘Ali, dari ‘Abdurrahman bin Abu ‘Amrah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada seorang mukmin pun melainkan aku lebih berhak atas dirinya di dunia dan akhirat. Bacalah oleh kalian jika kalian mau: ‘Nabi itu lebih utama (berhak) bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri’ (QS Al-Ahzab: 6). Jadi siapa saja orang mukmin yang meninggal dunia dan meninggalkan harta, hendaklah ‘ashabah-nya (kerabat dari jalur laki-laki) mewarisinya, siapa pun mereka. Barang siapa meninggalkan utang atau keluarga yang terlantar, hendaklah dia mendatangi aku, karena akulah pengurusnya (maula-nya).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2398

١١ - بَابُ الصَّلَاةِ عَلَى مَنۡ تَرَكَ دَيۡنًا
11. Bab Salat atas Orang yang Meninggalkan Utang


٢٣٩٨ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَدِيِّ بۡنِ ثَابِتٍ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ، وَمَنۡ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَيۡنَا). [طرفه في: ٢٢٩٨].

2398. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Adi bin Tsabit, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk para ahli warisnya. Barang siapa meninggalkan tanggungan, maka perkaranya diserahkan kepada kami.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4383

٧٥ - بَابٌ قِصَّةُ عُمَانَ وَالۡبَحۡرَيۡنِ
75. Bab Kisah Oman dan Bahrain


٤٣٨٣ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: سَمِعَ ابۡنُ الۡمُنۡكَدِرِ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَوۡ قَدۡ جَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ لَقَدۡ أَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا) ثَلَاثًا، فَلَمۡ يَقۡدَمۡ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ حَتَّى قُبِضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَلَمَّا قَدِمَ عَلَى أَبِي بَكۡرٍ أَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى: مَنۡ كَانَ لَهُ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ دَيۡنٌ أَوۡ عِدَةٌ فَلۡيَأۡتِنِي، قَالَ جَابِرٌ: فَجِئۡتُ أَبَا بَكۡرٍ فَأَخۡبَرۡتُهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ (لَوۡ جَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ أَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا) ثَلَاثًا، قَالَ: فَأَعۡطَانِي. قَالَ جَابِرٌ: فَلَقِيتُ أَبَا بَكۡرٍ بَعۡدَ ذٰلِكَ فَسَأَلۡتُهُ فَلَمۡ يُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُهُ فَلَمۡ يُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُهُ الثَّالِثَةَ فَلَمۡ يُعۡطِنِي، فَقُلۡتُ لَهُ: قَدۡ أَتَيۡتُكَ فَلَمۡ تُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُكَ فَلَمۡ تُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُكَ فَلَمۡ تُعۡطِنِي، فَإِمَّا أَنۡ تُعۡطِيَنِي وَإِمَّا أَنۡ تَبۡخَلَ عَنِّي، فَقَالَ: أَقُلۡتَ تَبۡخَلُ عَنِّي؟ وَأَيُّ دَاءٍ أَدۡوَأُ مِنَ الۡبُخۡلِ، قَالَهَا ثَلَاثًا، مَا مَنَعۡتُكَ مِنۡ مَرَّةٍ إِلَّا وَأَنَا أُرِيدُ أَنۡ أُعۡطِيَكَ.

وَعَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيٍّ: سَمِعۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ يَقُولُ: جِئۡتُهُ، فَقَالَ لِي أَبُو بَكۡرٍ: عُدَّهَا، فَعَدَدۡتُهَا. فَوَجَدۡتُهَا خَمۡسَمِائَةٍ، فَقَالَ: خُذۡ مِثۡلَهَا مَرَّتَيۡنِ. [طرفه في: ٢٢٩٦].

4383. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Ibnu Al-Munkadir mendengar Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepadaku, “Seandainya harta dari Bahrain telah datang, niscaya aku memberikanmu begini, begini, dan begini (sebanyak tiga kali).”

Namun harta dari Bahrain itu tidak kunjung datang hingga Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—wafat. Ketika harta itu tiba di hadapan Abu Bakr, beliau memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan, “Barang siapa memiliki piutang atau janji di sisi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, hendaklah dia mendatangiku.”

Jabir berkata: Maka aku mendatangi Abu Bakr dan mengabarkan kepada beliau bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah berkata, “Seandainya harta dari Bahrain telah datang, niscaya aku memberikanmu begini, begini, dan begini (sebanyak tiga kali).”

Jabir berkata: Abu Bakr pun memberiku.

Jabir berkata: Kemudian aku menemui Abu Bakr setelah itu dan meminta kepada beliau, tetapi beliau belum memberiku. Lalu aku mendatangi beliau, tetapi beliau belum memberiku. Lalu aku mendatangi beliau untuk ketiga kalinya, tetapi beliau belum memberiku. Aku berkata kepada beliau, “Aku telah mendatangi engkau tetapi engkau belum memberiku, lalu aku mendatangi engkau tetapi engkau belum memberiku, kemudian aku mendatangi engkau tetapi engkau belum memberiku. Putuskan saja: engkau akan memberiku atau engkau bersikap kikir kepadaku.”

Abu Bakr berkata, “Apakah engkau katakan ‘bersikap kikir kepadaku’? Penyakit mana yang lebih berbahaya daripada sifat kikir?”—beliau mengucapkannya tiga kali—"Tidaklah aku menahannya darimu satu kali pun melainkan aku berniat untuk memberimu.”

Dari ‘Amr, dari Muhammad bin ‘Ali: Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata: Aku mendatangi beliau, lalu Abu Bakr berkata kepadaku, “Hitunglah ini.”

Aku pun menghitungnya dan mendapatinya berjumlah lima ratus, lalu beliau berkata, “Ambillah yang semisalnya dua kali lagi.”

Sunan Abu Dawud hadis nomor 4170

٤١٧٠ - (صحيح) حَدَّثَنَا ابۡنُ السَّرۡحِ، ثنا ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ أُسَامَةَ، عَنۡ أَبَانَ بۡنِ صَالِحٍ، عَنۡ مُجَاهِدِ بۡنِ جَبۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لُعِنَتِ الۡوَاصِلَةُ وَالۡمُسۡتَوۡصِلَةُ، وَالنَّامِصَةُ وَالۡمُتَنَمِّصَةُ، وَالۡوَاشِمَةُ وَالۡمُسۡتَوۡشِمَةُ، مِنۡ غَيۡرِ دَاءٍ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَتَفۡسِيرُ الۡوَاصِلَةِ: الَّتِي تَصِلُ الشَّعۡرَ بِشَعۡرِ النِّسَاءِ، وَالۡمُسۡتَوۡصِلَةُ: الۡمَعۡمُولُ بِهَا، وَالنَّامِصَةُ: الَّتِي تَنۡقُشُ الۡحَاجِبَ حَتَّى تَرِقَّهُ، وَالۡمُتَنَمِّصَةُ: الۡمَعۡمُولُ بِهَا، وَالۡوَاشِمَةُ: الَّتِي تَجۡعَلُ الۡخِيلَانَ فِي وَجۡهِهَا بِكُحۡلٍ أَوۡ مِدَادٍ، وَالۡمُسۡتَوۡشِمَةُ: الۡمَعۡمُولُ بِهَا. [(غاية المرام)(٩٥)].

4170. [Sahih] Ibnu As-Sarh telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami dari Usamah, dari Aban bin Shalih, dari Mujahid bin Jabr, dari Ibnu ‘Abbas. Ia berkata: Wanita yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambutnya, wanita yang mencabut bulu alis dan yang meminta dicabutkan bulu alisnya, serta wanita yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato dilaknat tanpa adanya penyakit.

Abu Dawud berkata: Tafsir al-washilah adalah: wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut wanita lain; al-mustaushilah adalah: wanita yang disambungkan rambutnya; an-namishah adalah: wanita yang merapikan/mengukir alis hingga menjadi tipis; al-mutanammishah adalah: wanita yang dicabutkan/ditipiskan bulu alisnya; al-wasyimah adalah: wanita yang membuat bintik tato pada wajahnya dengan celak atau tinta; dan al-mustausyimah adalah: wanita yang dibuatkan tato.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3164

٣١٦٤ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: أَخۡبَرَنِي رَوۡحُ بۡنُ الۡقَاسِمِ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡمُنۡكَدِرِ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَالَ لِي: (لَوۡ قَدۡ جَاءَنَا مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ، قَدۡ أَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا). فَلَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَجَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ، قَالَ أَبُو بَكۡرٍ: مَنۡ كَانَتۡ لَهُ عِنۡدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ عِدَةٌ فَلۡيَأۡتِنِي، فَأَتَيۡتُهُ فَقُلۡتُ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَدۡ كَانَ قَالَ لِي: (لَوۡ قَدۡ جَاءَنَا مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ لَأَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا). فَقَالَ لِي: احۡثُهۡ، فَحَثَوۡتُ حَثۡيَةً، فَقَالَ لِي: عُدَّهَا، فَعَدَدۡتُهَا فَإِذَا هِيَ خَمۡسُمِائَةٍ، فَأَعۡطَانِي أَلۡفًا وَخَمۡسَمِائَةٍ. [طرفه في: ٢٢٩٦].

3164. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ibrahim menceritakan kepada kami. Dia berkata: Rauh bin Al-Qasim mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—. Dia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah berkata kepadaku, “Seandainya harta dari Bahrain telah datang kepada kami, niscaya aku memberikanmu begini, begini, dan begini.”

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah wafat dan harta dari Bahrain itu datang, Abu Bakr berkata, “Barang siapa memiliki janji di sisi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, hendaklah dia mendatangi aku.”

Aku pun mendatangi beliau dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu pernah bersabda kepadaku, ‘Seandainya harta dari Bahrain telah datang kepada kami, niscaya aku memberikanmu begini, begini, dan begini’.”

Abu Bakr berkata kepadaku, “Rauplah (harta itu).”

Aku meraup satu raupan, lalu beliau berkata kepadaku, “Hitunglah.”

Aku pun menghitungnya, dan ternyata jumlahnya lima ratus. Kemudian beliau memberiku seribu lima ratus.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3137

٣١٣٧ - حَدَّثَنَا عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُنۡكَدِرِ: سَمِعَ جَابِرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَوۡ قَدۡ جَاءَنِي مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ لَقَدۡ أَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا). فَلَمۡ يَجِىءۡ حَتَّى قُبِضَ النَّبِيُّ ﷺ، فَلَمَّا جَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ، أَمَرَ أَبُو بَكۡرٍ مُنَادِيًا فَنَادَى: مَنۡ كَانَ لَهُ عِنۡدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ دَيۡنٌ أَوۡ عِدَةٌ فَلۡيَأۡتِنَا، فَأَتَيۡتُهُ فَقُلۡتُ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ لِي كَذَا وَكَذَا، فَحَثَا لِي ثَلَاثًا. وَجَعَلَ سُفۡيَانُ يَحۡثُو بِكَفَّيۡهِ جَمِيعًا. ثُمَّ قَالَ لَنَا: هَكَذَا قَالَ لَنَا ابۡنُ الۡمُنۡكَدِرِ.

وَقَالَ مَرَّةً: فَأَتَيۡتُ أَبَا بَكۡرٍ فَسَأَلۡتُ فَلَمۡ يُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُهُ فَلَمۡ يُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُهُ الثَّالِثَةَ، فَقُلۡتُ: سَأَلۡتُكَ فَلَمۡ تُعۡطِنِي، ثُمَّ سَأَلۡتُكَ فَلَمۡ تُعۡطِنِي، ثُمَّ سَأَلۡتُكَ فَلَمۡ تُعۡطِنِي، فَإِمَّا أَنۡ تُعۡطِيَنِي، وَإِمَّا أَنۡ تَبۡخَلَ عَنِّي، قَالَ: قُلۡتَ تَبۡخَلُ عَلَيَّ؟ مَا مَنَعۡتُكَ مِنۡ مَرَّةٍ إِلَّا وَأَنَا أُرِيدُ أَنۡ أُعۡطِيَكَ.

قَالَ سُفۡيَانُ: وَحَدَّثَنَا عَمۡرٌو، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ جَابِرٍ: فَحَثَا لِي حَثۡيَةً وَقَالَ: عُدَّهَا، فَوَجَدۡتُهَا خَمۡسَمِائَةٍ، قَالَ: فَخُذۡ مِثۡلَهَا مَرَّتَيۡنِ. وَقَالَ، يَعۡنِي ابۡنَ الۡمُنۡكَدِرِ: وَأَيُّ دَاءٍ أَدۡوَأُ مِنَ الۡبُخۡلِ. [طرفه في: ٢٢٩٦].

3137. ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Muhammad bin Al-Munkadir menceritakan kepada kami: Dia mendengar Jabir—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Seandainya harta dari Bahrain telah datang kepadaku, niscaya aku memberikanmu begini, begini, dan begini.”

Namun harta itu tidak kunjung datang hingga Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—wafat. Ketika harta dari Bahrain itu datang, Abu Bakr memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan, “Barang siapa memiliki piutang atau janji di sisi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, hendaklah dia datang kepada kami.”

Aku pun mendatangi beliau dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah berkata kepadaku begini dan begitu.”

Kemudian Abu Bakr meraup (harta) untukku sebanyak tiga kali—dan Sufyan meraup dengan kedua telapak tangannya sekaligus, kemudian berkata kepada kami: Begitulah Ibnu Al-Munkadir menyampaikannya kepada kami—.

Dalam riwayat lain dia berkata: Kemudian aku mendatangi Abu Bakr dan meminta, tetapi beliau belum memberiku. Kemudian aku mendatangi beliau (untuk kedua kalinya), tetapi beliau belum memberiku. Kemudian aku mendatangi beliau untuk ketiga kalinya lalu berkata, “Aku telah meminta kepadamu tetapi engkau belum memberiku, kemudian aku meminta kepadamu tetapi engkau belum memberiku, lalu aku meminta kepadamu tetapi engkau belum memberiku. Putuskan saja, engkau akan memberiku atau engkau bersikap kikir kepadaku.”

Abu Bakr berkata, “Apakah engkau katakan ‘bersikap kikir kepadaku’? Tidaklah aku menahannya darimu satu kali pun melainkan aku berniat untuk memberimu.”

Sufyan berkata: ‘Amr menceritakan kepada kami dari Muhammad bin ‘Ali, dari Jabir: Lalu beliau meraup (harta) untukku satu raupan dan berkata, “Hitunglah ini.”

Aku mendapatinya berjumlah lima ratus. Beliau berkata, “Ambillah yang semisalnya dua kali lagi.”

Ibnu Al-Munkadir berkata, “Penyakit mana yang lebih berbahaya daripada sifat kikir?”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2683

٢٦٨٣ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُوسَى: أَخۡبَرَنَا هِشَامٌ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرُو بۡنُ دِينَارٍ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ قَالَ: لَمَّا مَاتَ النَّبِيُّ ﷺ جَاءَ أَبَا بَكۡرٍ مَالٌ مِنۡ قِبَلِ الۡعَلَاءِ بۡنِ الۡحَضۡرَمِيِّ، فَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: مَنۡ كَانَ لَهُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ دَيۡنٌ، أَوۡ كَانَتۡ لَهُ قِبَلَهُ عِدَةٌ، فَلۡيَأۡتِنَا. قَالَ جَابِرٌ: فَقُلۡتُ: وَعَدَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يُعۡطِيَنِي هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا، فَبَسَطَ يَدَيۡهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، قَالَ جَابِرٌ: فَعَدَّ فِي يَدِي خَمۡسَمِائَةٍ، ثُمَّ خَمۡسَمِائَةٍ، ثُمَّ خَمۡسَمِائَةٍ. [طرفه في: ٢٢٩٦].

2683. Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepada kami: Hisyam mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij. Dia berkata: ‘Amr bin Dinar mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin ‘Ali, dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhum—. Dia berkata:

Ketika Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah wafat, harta datang kepada Abu Bakr dari arah Al-‘Ala` bin Al-Hadhrami, lalu Abu Bakr berkata, “Barang siapa memiliki piutang atas Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—atau memiliki janji di sisi beliau, hendaklah dia datang kepada kami.”

Jabir berkata: Maka aku berkata, “Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah berjanji kepadaku untuk memberiku begini, begini, dan begini,” lalu dia membentangkan kedua tangannya tiga kali.

Jabir berkata: Kemudian Abu Bakr menghitung lalu meletakkan ke tanganku lima ratus, kemudian lima ratus, lalu lima ratus.

Sunan An-Nasa`i hadis nomor 2582

٨٢ - بَابُ الصَّدَقَةِ عَلَى الۡأَقَارِبِ ‏‏
82. Bab Sedekah Kepada Kerabat


٢٥٨٢ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَى قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عَوۡنٍ عَنۡ حَفۡصَةَ عَنۡ أُمِّ الرَّائِحِ عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: (إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الۡمِسۡكِينِ صَدَقَةٌ، وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثۡنَتَانِ؛ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ). [(ابن ماجه)(١٨٤٤)].

2582. [Sahih] Muhammad bin ‘Abdul-A’la telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Khalid menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu ‘Aun menceritakan kepada kami dari Hafshah, dari Ummu Ar-Ra`ih, dari Salman bin ‘Amir, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat bernilai dua hal: sedekah dan silaturahmi.”

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 1844

١٨٤٤ - (صحيح لغيره) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَعَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ ابۡنِ عَوۡنٍ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنِ الرَّبَابِ أُمِّ الرَّائِحِ، بِنۡتِ صُلَيۡعٍ، عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ الضَّبِّيِّ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الصَّدَقَةُ عَلَى الۡمِسۡكِينِ صَدَقَةٌ، وَهِيَ عَلَى ذِي الۡقَرَابَةِ اثۡنَتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ). [(التعليق الرغيب)(٢/٣٢)، (المشكاة)(١٩٣٩)، (الإرواء)(٨٨٣)].

1844. [Sahih lighairihi] Abu Bakr bin Abu Syaibah dan ‘Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Aun, dari Hafshah binti Sirin, dari Ar-Rabab Ummu Ar-Ra`ih binti Shulai’, dari Salman bin ‘Amir Adh-Dhabbi. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat bernilai dua hal: sedekah dan silaturahmi.”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 658

٢٦ - بَابُ مَا جَاءَ فِي الصَّدَقَةِ عَلَى ذِي الۡقَرَابَةِ
26. Bab Riwayat Mengenai Sedekah Kepada Kerabat


٦٥٨ - (ضعيف والصحيح: من فعله ﷺ) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنِ الرَّبَابِ، عَنۡ عَمِّهَا سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ، يَبۡلُغُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ، قَالَ: (إِذَا أَفۡطَرَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيُفۡطِرۡ عَلَى تَمۡرٍ، فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ، فَإِنۡ لَمۡ يَجِدۡ تَمۡرًا فَالۡمَاءُ، فَإِنَّهُ طَهُورٌ). [(ابن ماجه)(١٦٩٩)].

658. [Daif, dan yang sahih: dari perbuatan beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—] Qutaibah telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari Hafshah binti Sirin, dari Ar-Rabab, dari pamannya yaitu Salman bin ‘Amir, yang menyambungkannya sampai kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berbuka puasa, hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena kurma itu adalah keberkahan. Jika ia tidak mendapati kurma, hendaklah berbuka dengan air, karena air itu menyucikan.”

- (صحيح) وَقَالَ: (الصَّدَقَةُ عَلَى الۡمِسۡكِينِ صَدَقَةٌ، وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنۡتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ). وَفِي الۡبَابِ عَنۡ زَيۡنَبَ امۡرَأَةِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ، وَجَابِرٍ، وَأَبِي هُرَيۡرَةَ. حَدِيثُ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ. وَالرَّبَابُ هِيَ: أُمُّ الرَّائِحِ بِنۡتُ صُلَيۡعٍ. وَهَكَذَا رَوَى سُفۡيَانُ الثَّوۡرِيُّ، عَنۡ عَاصِمٍ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنِ الرَّبَابِ، عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَ هٰذَا الۡحَدِيثِ. وَرَوَى شُعۡبَةُ، عَنۡ عَاصِمٍ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ فِيهِ عَنِ الرَّبَابِ. وَحَدِيثُ سُفۡيَانَ الثَّوۡرِيِّ وَابۡنِ عُيَيۡنَةَ أَصَحُّ، وَهَكَذَا رَوَى ابۡنُ عَوۡنٍ وَهِشَامُ بۡنُ حَسَّانَ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنِ الرَّبَابِ، عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ. [(ابن ماجه)(١٨٤٤)].

[Sahih] Beliau juga bersabda, “Sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat bernilai dua hal: sedekah dan silaturahmi.”

Di dalam bab ini terdapat riwayat dari Zainab istri ‘Abdullah bin Mas’ud, Jabir, dan Abu Hurairah. Hadis Salman bin ‘Amir adalah hadis hasan. Ar-Rabab adalah: Ummu Ar-Ra`ih binti Shulai’. Demikian pula Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari ‘Ashim, dari Hafshah binti Sirin, dari Ar-Rabab, dari Salman bin ‘Amir, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—semisal hadis ini. Syu’bah meriwayatkan dari ‘Ashim, dari Hafshah binti Sirin, dari Salman bin 'Amir, dan ia tidak menyebutkan dari Ar-Rabab dalam sanadnya. Hadis Sufyan Ats-Tsauri dan Ibnu ‘Uyainah lebih sahih. Demikian pula Ibnu ‘Aun dan Hisyam bin Hassan meriwayatkan dari Hafshah binti Sirin, dari Ar-Rabab, dari Salman bin ‘Amir.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2598

١٨ - بَابٌ إِذَا وَهَبَ هِبَةً أَوۡ وَعَدَ، ثُمَّ مَاتَ قَبۡلَ أَنۡ تَصِلَ إِلَيۡهِ
18. Bab Apabila Seseorang Memberikan Suatu Hadiah atau Berjanji, Kemudian Dia Meninggal Sebelum Hadiah/Janji Itu Sampai Kepada Penerima


وَقَالَ عَبِيدَةُ: إِنۡ مَاتَ وَكَانَتۡ فُصِلَتِ الۡهَدِيَّةُ وَالۡمُهۡدَى لَهُ حَيٌّ فَهِيَ لِوَرَثَتِهِ، وَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ فُصِلَتۡ فَهِيَ لِوَرَثَةِ الَّذِي أَهۡدَى.

‘Abidah berkata, “Jika (pemberi) meninggal dunia sedangkan hadiah itu telah dipisahkan dan penerima hadiah dalam keadaan hidup, maka hadiah itu menjadi hak para ahli waris penerima. Namun jika hadiah itu belum dipisahkan, maka hadiah tersebut menjadi hak para ahli waris pemberi.”

وَقَالَ الۡحَسَنُ: أَيُّهُمَا مَاتَ قَبۡلُ فَهِيَ لِوَرَثَةِ الۡمُهۡدَى لَهُ، إِذَا قَبَضَهَا الرَّسُولُ.

Al-Hasan berkata, “Siapa pun di antara keduanya yang meninggal dunia terlebih dahulu, hadiah itu menjadi hak para ahli waris penerima, apabila utusan telah menerimanya.”

٢٥٩٨ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا ابۡنُ الۡمُنۡكَدِرِ: سَمِعۡتُ جَابِرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ ﷺ: (لَوۡ جَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ أَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا) ثَلَاثًا. فَلَمۡ يَقۡدَمۡ حَتَّى تُوُفِّيَ النَّبِيُّ ﷺ، فَأَمَرَ أَبُو بَكۡرٍ مُنَادِيًا فَنَادَى: مَنۡ كَانَ لَهُ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ عِدَةٌ أَوۡ دَيۡنٌ فَلۡيَأۡتِنَا، فَأَتَيۡتُهُ فَقُلۡتُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَعَدَنِي، فَحَثَى لِي ثَلَاثًا. [طرفه في: ٢٢٩٦].

2598. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Ibnu Al-Munkadir menceritakan kepada kami: Aku mendengar Jabir—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah berkata kepadaku, “Seandainya harta dari Bahrain datang, aku akan memberimu (harta) sebegini.” Sebanyak tiga kali

Namun harta itu tidak kunjung datang hingga Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—wafat. Kemudian Abu Bakr memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan, “Barang siapa memiliki janji atau piutang dengan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, hendaklah dia datang kepada kami.”

Aku mendatangi beliau dan berkata, “Sesungguhnya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah berjanji kepadaku.”

Kemudian Abu Bakr meraup (harta) untukku sebanyak tiga kali.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6747

١٦ - بَابُ ذَوِي الۡأَرۡحَامِ
16. Bab Kerabat Kandung


٦٧٤٧ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: قُلۡتُ لِأَبِي أُسَامَةَ: حَدَّثَكُمۡ إِدۡرِيسُ: حَدَّثَنَا طَلۡحَةُ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ [النساء: ٣٣] ﴿وَالَّذِينَ عَقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ [النساء: ٣٣]، قَالَ: كَانَ الۡمُهَاجِرُونَ حِينَ قَدِمُوا الۡمَدِينَةَ يَرِثُ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡمُهَاجِرِيَّ دُونَ ذَوِي رَحِمِهِ، لِلۡأُخُوَّةِ الَّتِي آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَهُمۡ، فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾، قَالَ نَسَخَتۡهَا: ﴿وَالَّذِينَ عَقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾. [طرفه في: ٢٢٩٢].

6747. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepadaku. Dia berkata: Aku berkata kepada Abu Usamah: Apakah Idris menceritakan kepada kalian: Thalhah menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas:

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya.” (QS An-Nisa’: 33) “Dan (jika ada) orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka …” (QS An-Nisa’: 33), dia berkata: Dahulu orang-orang Muhajirin ketika baru tiba di Madinah, seorang Ansar mewarisi seorang Muhajirin dengan mengesampingkan kerabat kandungnya sendiri, disebabkan oleh ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam— di antara mereka. Ketika turun ayat: “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya” dia berkata bahwa ayat tersebut menghapus ayat: “Dan (jika ada) orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka …”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4580

٧ - بَابٌ ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الۡوَالِدَانِ وَالۡأَقۡرَبُونَ﴾ [٣٣] الۡآيَةَ
7. Bab “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya ...” (QS An-Nisa’: 33)


وَقَالَ مَعۡمَرٌ: مَوَالِيَ: أَوۡلِيَاءَ وَرَثَةً، عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ: هُوَ مَوۡلَى الۡيَمِينِ، وَهُوَ الۡحَلِيفُ، وَالۡمَوۡلَى أَيۡضًا ابۡنُ الۡعَمِّ وَالۡمَوۡلَى الۡمُنۡعِمُ الۡمُعۡتِقُ، وَالۡمَوۡلَى الۡمُعۡتَقُ، وَالۡمَوۡلَى الۡمَلِيكُ، وَالۡمَوۡلَى مَوۡلًى فِي الدِّينِ.

Ma’mar berkata: Mawali (bentuk jamak dari kata maula) adalah ahli waris. ‘Aqadat aimanukum (orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka): dia adalah maula al-yamin, yaitu sekutu (al-halif). Maula juga berarti putra paman dari jalur ayah. Maula bisa berarti pembebas budak yang memberi nikmat (kemerdekaan dari perbudakan). Maula bisa berarti budak yang dimerdekakan. Maula bisa berarti raja/penguasa. Maula bisa berarti penolong dalam agama.

٤٥٨٠ - حَدَّثَنِي الصَّلۡتُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ إِدۡرِيسَ، عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ مُصَرِّفٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ قَالَ: وَرَثَةً. ﴿وَالَّذِينَ عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ كَانَ الۡمُهَاجِرُونَ لَمَّا قَدِمُوا الۡمَدِينَةَ يَرِثُ الۡمُهَاجِرُ الۡأَنۡصَارِيَّ دُونَ ذَوِي رَحِمِهِ، لِلۡأُخُوَّةِ الَّتِي آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَهُمۡ، فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ نُسِخَتۡ ثُمَّ قَالَ: ﴿وَالَّذِينَ عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ مِنَ النَّصۡرِ وَالرِّفَادَةِ وَالنَّصِيحَةِ، وَقَدۡ ذَهَبَ الۡمِيرَاثُ وَيُوصِي لَهُ. سَمِعَ أَبُو أُسَامَةَ إِدۡرِيسَ، وَسَمِعَ إِدۡرِيسُ طَلۡحَةَ. [طرفه في: ٢٢٩٢].

4580. Ash-Shalt bin Muhammad telah menceritakan kepadaku: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Idris, dari Thalhah bin Musharrif, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—:

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan mawali ...” dia berkata: Yaitu ahli waris. “Dan orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka”: Dahulu orang-orang Muhajirin ketika baru tiba di Madinah, seorang Muhajirin mewarisi seorang Ansar dengan mengesampingkan kerabat kandungnya sendiri, disebabkan oleh ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di antara mereka. Ketika turun ayat: “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya”, ketentuan tersebut dihapus. Kemudian beliau membaca: “Dan orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka”, yaitu dalam hal pertolongan, pemberian bantuan, dan nasihat-menasihati, sedangkan hak waris-mewarisi (melalui ikatan persaudaraan tersebut) telah hilang, dan dia boleh memberikan wasiat kepadanya.

Abu Usamah mendengar dari Idris, dan Idris mendengar dari Thalhah.

Shahih Al-Bukhari - 38. Kitab Hiwalah (Pengalihan Utang)

  ﷽

٣٨ - كِتَابُ الۡحَوَالَاتِ

Kitab Hiwalah (Pengalihan Utang)

  1. Bab tentang Pengalihan Utang (Hiwalah) dan Apakah Seseorang Boleh Menarik Kembali Pengalihan Utangnya
    1. Hadis nomor 2287
  2. Bab Apabila Seseorang Mengalihkan Utang kepada Orang yang Berkecukupan, Ia Tidak Boleh Membatalkannya
    1. Hadis nomor 2288
  3. Bab Jika Seseorang Mengalihkan Utang Mayat kepada Seorang Laki-Laki, Hukumnya Boleh
    1. Hadis nomor 2289

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6913

٢٩ - بَابٌ الۡعَجۡمَاءُ جُبَارٌ
29. Bab Hewan Ternak Itu Jubar (Bebas dari Kewajiban Ganti Rugi)


وَقَالَ ابۡنُ سِيرِينَ: كَانُوا لَا يُضَمِّنُونَ مِنَ النَّفۡحَةِ، وَيُضَمِّنُونَ مِنۡ رَدِّ الۡعِنَانِ.

Ibnu Sirin berkata, “Dahulu para ulama tidak membebankan ganti rugi atas sepakan/tendangan kaki belakang hewan, tetapi mereka membebankan ganti rugi atas tarikan tali kendali.”

وَقَالَ حَمَّادٌ: لَا تُضۡمَنُ النَّفۡحَةُ إِلَّا أَنۡ يَنۡخُسَ إِنۡسَانٌ الدَّابَّةَ.

Hammad berkata, “Sepakan/tendangan kaki belakang hewan tidak dikenakan ganti rugi, kecuali jika ada seseorang yang menekan/mencambuk hewan tersebut.”

وَقَالَ شُرَيۡحٌ: لَا تُضۡمَنُ مَا عَاقَبَتۡ، أَنۡ يَضۡرِبَهَا فَتَضۡرِبَ بِرِجۡلِهَا.

Syuraih berkata, “Tidak ada ganti rugi atas pembalasan yang dilakukan hewan, yaitu jika seseorang memukulnya lalu hewan itu membalas menendang dengan kakinya.”

وَقَالَ الۡحَكَمُ وَحَمَّادٌ: إِذَا سَاقَ الۡمُكَارِيُ حِمَارًا عَلَيۡهِ امۡرَأَةٌ فَتَخِرُّ، لَا شَيۡءَ عَلَيۡهِ.

Al-Hakam dan Hammad berkata, “Apabila penuntun hewan sewaan menuntun seekor keledai yang ditunggangi seorang wanita lalu wanita itu terjatuh, maka tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya.”

وَقَالَ الشَّعۡبِيُّ: إِذَا سَاقَ دَابَّةً فَأَتۡعَبَهَا، فَهُوَ ضَامِنٌ لِمَا أَصَابَتۡ، وَإِنۡ كَانَ خَلۡفَهَا مُتَرَسِّلًا لَمۡ يَضۡمَنۡ.

Asy-Sya’bi berkata, “Apabila seseorang menuntun hewan lalu membuatnya kelelahan, maka dia wajib mengganti rugi atas bahaya yang ditimbulkannya. Namun jika dia berada di belakangnya dengan tenang, maka dia tidak bertanggung jawab.”

٦٩١٣ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ زِيَادٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡعَجۡمَاءُ عَقۡلُهَا جُبَارٌ، وَالۡبِئۡرُ جُبَارٌ، وَالۡمَعۡدِنُ جُبَارٌ، وَفِي الرِّكَازِ الۡخُمُسُ). [طرفه في: ١٤٩٩].

6913. Muslim telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “(Luka akibat) hewan ternak itu jubar (tidak ada kewajiban ganti rugi), sumur itu jubar, tambang itu jubar, dan pada rikaz (temuan harta yang dikubur pada masa jahiliah) ada kewajiban seperlima.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6912

٢٨ - بَابٌ الۡمَعۡدِنُ جُبَارٌ وَالۡبِئۡرُ جُبَارٌ
28. Bab Tambang Itu Jubar (Bebas dari Kewajiban Ganti Rugi) dan Sumur Itu Jubar


٦٩١٢ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ: حَدَّثَنَا ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (الۡعَجۡمَاءُ جُرۡحُهَا جُبَارٌ، وَالۡبِئۡرُ جُبَارٌ، وَالۡمَعۡدِنُ جُبَارٌ، وَفِي الرِّكَازِ الۡخُمُسُ). [طرفه في: ١٤٩٩].

6912. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami: Ibnu Syihab menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Al-Musayyab dan Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Luka akibat hewan ternak itu jubar (tidak wajib ganti rugi), (kecelakaan akibat) sumur itu jubar, (kecelakaan akibat penggalian) tambang itu jubar, dan pada rikaz (temuan harta yang dikubur pada masa jahiliah) ada kewajiban seperlima.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6261

٢٥ - بَابٌ بِمَنۡ يُبۡدَأُ فِي الۡكِتَابِ
25. Bab Nama Siapa yang Ditulis Terlebih Dahulu dalam Surat


٦٢٦١ - وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي جَعۡفَرُ بۡنُ رَبِيعَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ هُرۡمُزَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلًا مِنۡ بَنِي إِسۡرَائِيلَ، أَخَذَ خَشَبَةً فَنَقَرَهَا، فَأَدۡخَلَ فِيهَا أَلۡفَ دِينَارٍ، وَصَحِيفَةً مِنۡهُ إِلَى صَاحِبِهِ. وَقَالَ عُمَرُ بۡنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِيهِ: سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (نَجَرَ خَشَبَةً، فَجَعَلَ الۡمَالَ فِي جَوۡفِهَا، وَكَتَبَ إِلَيۡهِ صَحِيفَةً، مِنۡ فُلَانٍ إِلَى فُلَانٍ). [طرفه في: ١٤٩٨].

6261. Al-Laits berkata: Ja’far bin Rabi’ah menceritakan kepadaku dari ‘Abdurrahman bin Hurmuz, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Beliau menceritakan seorang laki-laki dari Bani Israil yang mengambil sepotong kayu lalu melubanginya, kemudian memasukkan seribu dinar dan selembar surat ke dalamnya dari dirinya untuk sahabatnya.

‘Umar bin Abu Salamah berkata, dari ayahnya: Beliau mendengar Abu Hurairah berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Dia memahat sepotong kayu, lalu memasukkan harta itu ke dalam rongganya, dan menulis surat kepadanya: ‘Dari Fulan kepada Fulan’.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2734

١٦ - بَابُ الشُّرُوطِ فِي الۡقَرۡضِ
16. Bab Syarat-Syarat dalam Pinjaman


وَقَالَ ابۡنُ عُمَرَ وَعَطَاءٌ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: إِذَا أَجَّلَهُ فِي الۡقَرۡضِ جَازَ.

Ibnu ‘Umar dan ‘Atha`—radhiyallahu ‘anhuma—berkata, “Apabila seseorang menentukan jangka waktu jatuh tempo dalam pinjaman, maka hal itu boleh.”

٢٧٣٤ - وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي جَعۡفَرُ بۡنُ رَبِيعَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ هُرۡمُزَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلًا سَأَلَ بَعۡضَ بَنِي إِسۡرَائِيلَ أَنۡ يُسۡلِفَهُ أَلۡفَ دِينَارِ، فَدَفَعَهَا إِلَيۡهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى. [طرفه في: ١٤٩٨].

2734. Al-Laits berkata: Ja’far bin Rabi’ah menceritakan kepadaku dari ‘Abdurrahman bin Hurmuz, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Beliau menceritakan seorang laki-laki yang meminta kepada sebagian Bani Israil agar memberinya pinjaman seribu dinar, lalu dia pun menyerahkan (uang) itu kepadanya sampai jangka waktu tertentu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2404

١٧ - بَابٌ إِذَا أَقۡرَضَهُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، أَوۡ أَجَّلَهُ فِي الۡبَيۡعِ
17. Bab Apabila Seseorang Memberinya Pinjaman sampai Jangka Waktu Tertentu, atau Menangguhkan Pembayaran dalam Jual Beli


قَالَ ابۡنُ عُمَرَ فِي الۡقَرۡضِ إِلَى أَجَلٍ: لَا بَأۡسَ بِهِ، وَإِنۡ أُعۡطِيَ أَفۡضَلَ مِنۡ دَرَاهِمِهِ، مَا لَمۡ يَشۡتَرِطۡ.

وَقَالَ عَطَاءٌ وَعَمۡرُو بۡنُ دِينَارٍ: هُوَ إِلَى أَجَلِهِ فِي الۡقَرۡضِ.

Ibnu ‘Umar berkata tentang pinjaman sampai jangka waktu tertentu, “Tidak mengapa, sekalipun dia diberi pembayaran yang lebih baik daripada dirham-dirham yang dipinjamkannya, selama dia tidak mensyaratkan.”

‘Atha` dan ‘Amr bin Dinar berkata, “(Tenggat pembayaran) pinjaman itu berlaku sesuai dengan jangka waktu yang disepakati.”

٢٤٠٤ - وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي جَعۡفَرُ بۡنُ رَبِيعَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ بۡنِ هُرۡمُزَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: (أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلًا مِنۡ بَنِي إِسۡرَائِيلَ، سَأَلَ بَعۡضَ بَنِي إِسۡرَائِيلَ أَنۡ يُسۡلِفَهُ، فَدَفَعَهَا إِلَيۡهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى). فَذَكَرَ الۡحَدِيثَ. [طرفه في: ١٤٩٨].

2404. Al-Laits berkata: Ja’far bin Rabi’ah menceritakan kepadaku dari ‘Abdurrahman bin Hurmuz, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Beliau menceritakan seorang laki-laki dari Bani Israil yang meminta kepada sebagian Bani Israil agar memberinya pinjaman, lalu dia pun menyerahkan (pinjaman) itu kepadanya sampai jangka waktu tertentu. Lalu dia menyebutkan kelengkapan hadis tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4166

٤١٦٦ - حَدَّثَنَا آدَمُ بۡنُ أَبِي إِيَاسٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ أَبِي أَوۡفَى، وَكَانَ مِنۡ أَصۡحَابِ الشَّجَرَةِ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَتَاهُ قَوۡمٌ بِصَدَقَةٍ قَالَ: (اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيۡهِمۡ). فَأَتَاهُ أَبِي بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ: (اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوۡفَى). [طرفه في: ١٤٩٧].

4166. Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Murrah. Dia berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Abu Aufa—dan dia termasuk sahabat Nabi yang ikut serta dalam baiat di bawah pohon—berkata:

Apabila suatu kaum datang membawa sedekah mereka kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau berdoa, “Ya Allah, berilah selawat kepada mereka (pujilah mereka di hadapan malaikat, dan curahkanlah rahmat dan ampunan untuk mereka).”

Lalu ayahku datang membawa sedekahnya kepada beliau, maka beliau berdoa, “Ya Allah, berilah selawat kepada keluarga Abu Aufa.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6700

٣١ - بَابُ النَّذۡرِ فِيمَا لَا يَمۡلِكُ وَفِي مَعۡصِيَةٍ
31. Bab Nazar pada Harta yang Tidak Dimiliki dan dalam Maksiat


٦٧٠٠ - حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ عَبۡدِ الۡمَلِكِ، عَنِ الۡقَاسِمِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنۡ نَذَرَ أَنۡ يُطِيعَ اللهَ فَلۡيُطِعۡهُ، وَمَنۡ نَذَرَ أَنۡ يَعۡصِيَهُ فَلَا يَعۡصِهِ). [طرفه في: ٦٦٩٦].

6700. Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Thalhah bin ‘Abdul Malik, dari Al-Qasim, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa bernazar untuk menaati Allah, hendaklah ia menaati-Nya. Barang siapa bernazar untuk memaksiati-Nya, maka janganlah ia memaksiati-Nya.”

Shahih Muslim hadis nomor 408

٧٠ - (٤٠٨) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ وَقُتَيۡبَةُ وَابۡنُ حُجۡرٍ. قَالُوا: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ - وَهُوَ ابۡنُ جَعۡفَرٍ - عَنِ الۡعَلَاءِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً، صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ عَشۡرًا).

70. (408). Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hujr telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Al-‘Ala`, dari ayahnya, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, niscaya Allah berselawat kepadanya sepuluh kali.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2577

٢٥٧٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِلَحۡمٍ، فَقِيلَ: تُصُدِّقَ عَلَى بَرِيرَةَ، قَالَ: (هُوَ لَهَا صَدَقَةٌ، وَلَنَا هَدِيَّةٌ). [طرفه في: ١٤٩٥].

2577. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—. Dia berkata:

Suatu daging disajikan kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu dikatakan (kepada beliau), “Daging ini disedekahkan kepada Barirah.”

Beliau bersabda, “Daging ini adalah sedekah baginya (Barirah), dan merupakan hadiah bagi kami.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5532

٥٥٣٢ - حَدَّثَنَا خَطَّابُ بۡنُ عُثۡمَانَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ حِمۡيَرَ، عَنۡ ثَابِتِ بۡنِ عَجۡلَانَ قَالَ: سَمِعۡتُ سَعِيدَ بۡنَ جُبَيۡرٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ بِعَنۡزٍ مَيۡتَةٍ، فَقَالَ: (مَا عَلَى أَهۡلِهَا لَوِ انۡتَفَعُوا بِإِهَابِهَا). [طرفه في: ١٤٩٢].

5532. Khaththab bin ‘Utsman telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Himyar menceritakan kepada kami dari Tsabit bin ‘Ajlan. Dia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Jubair berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berjalan melewati seekor kambing betina yang sudah menjadi bangkai, lalu beliau bersabda, “Tidak ada dosa bagi pemiliknya sekiranya mereka memanfaatkan kulitnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5531

٣٠ - بَابُ جُلُودِ الۡمَيۡتَةِ
30. Bab Kulit Bangkai


٥٥٣١ - حَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحٍ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ شِهَابٍ: أَنَّ عُبَيۡدَ اللهِ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَخۡبَرَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَرَّ بِشَاةٍ مَيِّتَةٍ، فَقَالَ: (هَلَّا اسۡتَمۡتَعۡتُمۡ بِإِهَابِهَا). قَالُوا: إِنَّهَا مَيِّتَةٌ، قَالَ: (إِنَّمَا حَرُمَ أَكۡلُهَا). [طرفه في: ١٤٩٢].

5531. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami: Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih. Dia berkata: Ibnu Syihab menceritakan kepadaku: ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah mengabarkannya: ‘Abdullah bin ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—mengabarkannya:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berjalan melewati seekor kambing yang sudah menjadi bangkai, lalu beliau bertanya, “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kambing ini adalah bangkai.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang diharamkan hanyalah memakannya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2636

٣٧ - بَابٌ إِذَا حَمَلَ رَجُلٌ عَلَى فَرَسٍ فَهُوَ كَالۡعُمۡرَى وَالصَّدَقَةِ
37. Bab Apabila Seseorang Menyumbangkan Seekor Kuda (untuk Ditunggangi di Jalan Allah), Maka Hal Itu Seperti Pemberian Seumur Hidup dan Sedekah


وَقَالَ بَعۡضُ النَّاسِ: لَهُ أَنۡ يَرۡجِعَ فِيهَا.

Sebagian orang berpendapat bahwa dia berhak untuk menarik kembali pemberian tersebut.

٢٦٣٦ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: سَمِعۡتُ مَالِكًا يَسۡأَلُ زَيۡدَ بۡنَ أَسۡلَمَ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي يَقُولُ: قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: حَمَلۡتُ عَلَى فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اللهِ، فَرَأَيۡتُهُ يُبَاعُ، فَسَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (لَا تَشۡتَرِهِ، وَلَا تَعُدۡ فِي صَدَقَتِكَ).

[طرفه في: ١٤٩٠].

2636. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Aku mendengar Malik bertanya kepada Zaid bin Aslam. Dia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—berkata: Aku pernah menyumbangkan seekor kuda di jalan Allah, lalu aku melihat kuda itu dijual. Aku bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau bersabda, “Janganlah engkau membelinya kembali, dan janganlah engkau menarik kembali sedekahmu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2623

٢٦٢٣ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ قَزَعَةَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ، عَنۡ أَبِيهِ: سَمِعۡتُ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: حَمَلۡتُ عَلَى فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اللهِ، فَأَضَاعَهُ الَّذِي كَانَ عِنۡدَهُ، فَأَرَدۡتُ أَنۡ أَشۡتَرِيَهُ مِنۡهُ، وَظَنَنۡتُ أَنَّهُ بَائِعُهُ بِرُخۡصٍ، فَسَأَلۡتُ عَنۡ ذٰلِكَ النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَ: (لَا تَشۡتَرِهِ وَإِنۡ أَعۡطَاكَهُ بِدِرۡهَمٍ وَاحِدٍ، فَإِنَّ الۡعَائِدَ فِي صَدَقَتِهِ كَالۡكَلۡبِ يَعُودُ فِي قَيۡئِهِ). [طرفه في: ١٤٩٠].

2623. Yahya bin Qaza’ah telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya: Aku mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Aku pernah menyumbangkan seekor kuda di jalan Allah, lalu orang yang membawanya tidak merawatnya dengan baik. Aku pun berniat membelinya kembali dari orang tersebut, dan aku menduga dia akan menjualnya dengan harga murah. Kemudian aku menanyakan hal itu kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau bersabda, “Janganlah engkau membelinya kembali meskipun dia memberikannya kepadamu seharga satu dirham saja, karena orang yang menarik kembali sedekahnya itu bagaikan anjing yang menjilat kembali muntahannya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2775

٣٢ - بَابُ وَقۡفِ الدَّوَابِّ وَالۡكُرَاعِ وَالۡعُرُوضِ وَالصَّامِتِ
32. Bab Wakaf Hewan Ternak, Kuda Perang, Harta Barang, dan Uang/Logam Mulia


قَالَ الزُّهۡرِيُّ فِيمَنۡ جَعَلَ أَلۡفَ دِينَارٍ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَدَفَعَهَا إِلَى غُلَامٍ لَهُ تَاجِرٍ يَتۡجُرُ بِهَا، وَجَعَلَ رِبۡحَهُ صَدَقَةً لِلۡمَسَاكِينِ وَالۡأَقۡرَبِينَ: هَلۡ لِلرَّجُلِ أَنۡ يَأۡكُلَ مِنۡ رِبۡحِ ذٰلِكَ الۡأَلۡفِ شَيۡئًا، وَإِنۡ لَمۡ يَكُنۡ جَعَلَ رِبۡحَهَا صَدَقَةً فِي الۡمَسَاكِينِ؟ قَالَ: لَيۡسَ لَهُ أَنۡ يَأۡكُلَ مِنۡهَا.

Az-Zuhri ditanya tentang seseorang yang menjadikan seribu dinar di jalan Allah, lalu menyerahkannya kepada hamba sahayanya yang merupakan seorang pedagang untuk diperdagangkan, dan dia menjadikan keuntungannya sebagai sedekah bagi orang-orang miskin dan kerabat, “Bolehkah bagi orang tersebut untuk makan dari keuntungan seribu dinar itu sedikit pun, jika tadinya dia tidak menjadikan keuntungannya sebagai sedekah bagi orang-orang miskin?”

Beliau menjawab, “Dia tidak boleh memanfaatkan dari keuntungan itu.”

٢٧٧٥ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي نَافِعٌ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ عُمَرَ حَمَلَ عَلَى فَرَسٍ لَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، أَعۡطَاهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ لَهُ لِيَحۡمِلَ عَلَيۡهَا رَجُلًا، فَأُخۡبِرَ عُمَرُ أَنَّهُ قَدۡ وَقَفَهَا يَبِيعُهَا، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَنۡ يَبۡتَاعَهَا، فَقَالَ: (لَا تَبۡتَعۡهَا، وَلَا تَرۡجِعَنَّ فِي صَدَقَتِكَ). [طرفه في: ١٤٨٩].

2775. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami. Dia berkata: Nafi’ menceritakan kepadaku dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—:

‘Umar menyumbangkan seekor kuda miliknya di jalan Allah—yang diberikan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kepadanya—untuk ditunggangi oleh seorang pejuang. Kemudian ‘Umar dikabari bahwa orang tersebut memajangnya untuk dijual, maka beliau bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apakah beliau boleh membelinya kembali. Rasulullah bersabda, “Janganlah engkau membelinya kembali, dan janganlah sekali-kali engkau menarik kembali sedekahmu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4422

٤٤٢٢ - حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ مَخۡلَدٍ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَى، عَنۡ عَبَّاسِ بۡنِ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِي حُمَيۡدٍ قَالَ: أَقۡبَلۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ مِنۡ غَزۡوَةِ تَبُوكَ، حَتَّى إِذَا أَشۡرَفۡنَا عَلَى الۡمَدِينَةِ قَالَ: (هٰذِهِ طَابَةُ، وَهٰذَا أُحُدٌ، جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ). [طرفه في: ١٤٨١].

4422. Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami: Sulaiman menceritakan kepada kami. Dia berkata: ‘Amr bin Yahya menceritakan kepadaku dari ‘Abbas bin Sahl bin Sa’d, dari Abu Humaid. Dia berkata: Kami pulang bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari Perang Tabuk. Hingga ketika kami telah dapat melihat Madinah dari atas, beliau bersabda, “Ini adalah Thabah, dan ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3791

٣٧٩١ - حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ مَخۡلَدٍ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَى، عَنۡ عَبَّاسِ بۡنِ سَهۡلٍ، عَنۡ أَبِي حُمَيۡدٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِنَّ خَيۡرَ دُورِ الۡأَنۡصَارِ دَارُ بَنِي النَّجَّارِ، ثُمَّ عَبۡدِ الۡأَشۡهَلِ، ثُمَّ دَارُ بَنِي الۡحَارِثِ، ثُمَّ بَنِي سَاعِدَةَ، وَفِي كُلِّ دُورِ الۡأَنۡصَارِ خَيۡرٌ). فَلَحِقۡنَا سَعۡدَ بۡنَ عُبَادَةَ، فَقَالَ أَبُو أُسَيۡدٍ: أَلَمۡ تَرَ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ خَيَّرَ الۡأَنۡصَارَ، فَجَعَلَنَا أَخِيرًا؟ فَأَدۡرَكَ سَعۡدٌ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، خُيِّرَ دُورُ الۡأَنۡصَارِ فَجُعِلۡنَا آخِرًا، فَقَالَ: (أَوَ لَيۡسَ بِحَسۡبِكُمۡ أَنۡ تَكُونُوا مِنَ الۡخِيَارِ؟). [طرفه في: ١٤٨١].

3791. Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami: Sulaiman menceritakan kepada kami. Dia berkata: ‘Amr bin Yahya menceritakan kepadaku dari ‘Abbas bin Sahl, dari Abu Humaid, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik kabilah Ansar adalah kabilah Bani An-Najjar, kemudian ‘Abdul-Asyhal, kemudian kabilah Bani Al-Harits, kemudian Bani Sa’idah, dan pada setiap kabilah Ansar terdapat kebaikan.”

Lalu kami menyusul Sa’d bin ‘Ubadah, maka Abu Usaid berkata, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah menyebutkan keutamaan kabilah-kabilah Ansar secara berurutan, lalu beliau menjadikan kita di urutan terakhir?”

Kemudian Sa’d menyusul Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Wahai Rasulullah, keutamaan kabilah-kabilah Ansar telah disebutkan berurutan, lalu kami dijadikan di urutan terakhir.”

Beliau bersabda, “Tidakkah cukup bagi kalian bahwa kalian termasuk orang-orang terpilih?”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3161

٢ - بَابٌ إِذَا وَادَعَ الۡإِمَامُ مَلِكَ الۡقَرۡيَةِ، هَلۡ يَكُونُ ذٰلِكَ لِبَقِيَّتِهِمۡ
2. Bab Apabila Pemimpin Membuat Perjanjian Damai dengan Raja Suatu Negeri, Apakah Hal Itu Berlaku Juga bagi Sisa Penduduk Mereka?


٣١٦١ - حَدَّثَنَا سَهۡلُ بۡنُ بَكَّارٍ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى، عَنۡ عَبَّاسٍ السَّاعِدِيِّ، عَنۡ أَبِي حُمَيۡدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: غَزَوۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ تَبُوكَ، وَأَهۡدَى مَلِكُ أَيۡلَةَ لِلنَّبِيِّ ﷺ بَغۡلَةً بَيۡضَاءَ، وَكَسَاهُ بُرۡدًا، وَكَتَبَ لَهُ بِبَحۡرِهِمۡ. [طرفاه في: ١٤٨١، ١٨٧٢].

3161. Sahl bin Bakkar telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Yahya, dari ‘Abbas As-Sa’idi, dari Abu Humaid As-Sa’idi. Dia berkata: Kami berperang bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam Perang Tabuk. Raja Ailah menghadiahkan seekor bagal putih kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Nabi memakaikan burdah kepada raja Ailah dan menuliskan surat perjanjian untuk mereka yang mengesahkan kekuasaan atas negeri mereka.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4539

٤٨ - بَابٌ ﴿لَا يَسۡأَلُونَ النَّاسَ إِلۡحَافًا﴾ [٢٧٣]
48. Bab “Mereka tidak meminta kepada manusia dengan mendesak” (QS Al-Baqarah: 273)


يُقَالُ: أَلۡحَفَ عَلَيَّ، وَأَلَحَّ عَلَيَّ، وَأَحۡفَانِي بِالۡمَسۡأَلَةِ. ﴿فَيُحۡفِكُمۡ﴾ [محمد: ٣٧] يُجۡهِدۡكُمۡ.

Dikatakan: Alhafa ‘alayya, alahha ‘alayya, dan ahfani bil-mas`alah (artinya sama, yaitu: mendesakku dengan permintaan). “Lalu Dia mendesak kalian” (QS Muhammad: 37) maksudnya: memaksakan permintaan kepada kalian.

٤٥٣٩ - حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ قَالَ: حَدَّثَنِي شَرِيكُ بۡنُ أَبِي نَمِرٍ: أَنَّ عَطَاءَ بۡنَ يَسَارٍ وَعَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ أَبِي عَمۡرَةَ الۡأَنۡصَارِيَّ قَالَا: سَمِعۡنَا أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَيۡسَ الۡمِسۡكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ التَّمۡرَةُ وَالتَّمۡرَتَانِ، وَلَا اللُّقۡمَةُ وَلَا اللُّقۡمَتَانِ، إِنَّمَا الۡمِسۡكِينُ الَّذِي يَتَعَفَّفُ، وَاقۡرَءُوا إِنۡ شِئۡتُمۡ)، يَعۡنِي قَوۡلَهُ: ﴿لَا يَسۡأَلُونَ النَّاسَ إِلۡحَافًا﴾ [٢٧٣]. [طرفه في: ١٤٧٦].

4539. Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Dia berkata: Syarik bin Abu Namir menceritakan kepadaku: ‘Atha` bin Yasar dan ‘Abdurrahman bin Abu ‘Amrah Al-Anshari berkata: Kami mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bukanlah orang miskin itu orang yang meminta-minta lalu pergi setelah diberi sebutir dua butir kurma atau sesuap dua suap makanan. Sesungguhnya orang miskin (sebenarnya) adalah orang yang menjaga kehormatan dirinya. Bacalah oleh kalian jika kalian mau.” Yakni firman Allah: “Mereka tidak meminta kepada manusia dengan mendesak.” (QS Al-Baqarah: 273).

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 527

٥٢٧ - (صحيح بما قبله) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرٍ الۡحَنَفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أُسَامَةُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ شُعَيۡبٍ، عَنۡ أُمِّ كُرۡزٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (بَوۡلُ الۡغُلَامِ يُنۡضَحُ، وَبَوۡلُ الۡجَارِيَةِ يُغۡسَلُ).

527. [Sahih dengan riwayat sebelumnya] Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Abu Bakr Al-Hanafi menceritakan kepada kami. Ia berkata: Usamah bin Zaid menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Syu’aib, dari Ummu Kurz, bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Air kencing anak laki-laki diperciki air (secara merata), sedangkan air kencing anak perempuan dicuci.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4718

١١ – بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿عَسَى أَنۡ يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحۡمُودًا﴾ ۝٧٩
11 - Bab Firman-Nya: “Mudah-mudahan Rabmu mengangkat engkau ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra: 79)


٤٧١٨ - حَدَّثَنِي إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ أَبَانَ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ، عَنۡ آدَمَ بۡنِ عَلِيٍّ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: إِنَّ النَّاسَ يَصِيرُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ جُثًا، كُلُّ أُمَّةٍ تَتۡبَعُ نَبِيَّهَا يَقُولُونَ: يَا فُلاَنُ اشۡفَعۡ، حَتَّى تَنۡتَهِيَ الشَّفَاعَةُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَذَلِكَ يَوۡمَ يَبۡعَثُهُ اللهُ الۡمَقَامَ الۡمَحۡمُودَ. [طرفه في: ١٤٧٥].

4718. Isma’il bin Aban telah menceritakan kepadaku: Abu Al-Ahwash menceritakan kepada kami dari Adam bin ‘Ali. Dia berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata, “Sesungguhnya manusia pada hari kiamat akan berkelompok-kelompok. Setiap umat mengikuti nabinya seraya berkata, ‘Wahai Fulan, berilah syafaat!’ Hingga (pencarian) syafaat itu berujung kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Itulah hari ketika Allah membangkitkan beliau ke tempat yang terpuji (maqam mahmud).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7163 dan 7164

١٧ - بَابُ رِزۡقِ الۡحُكَّامِ وَالۡعَامِلِينِ عَلَيۡهَا
17. Bab Imbalan para Hakim dan Para Petugas Pengelola Negara


وَكَانَ شُرَيۡحٌ الۡقَاضِي يَأۡخُذُ عَلَى الۡقَضَاءِ أَجۡرًا.

Syuraih sang Hakim dahulu mengambil upah atas tugas pengadilan.

وَقَالَتۡ عَائِشَةُ: يَأۡكُلُ الۡوَصِيُّ بِقَدۡرِ عُمَالَتِهِ، وَأَكَلَ أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ.

‘Aisyah berkata, “Seorang wasi (pengampu harta anak yatim) boleh memanfaatkan harta sesuai dengan kadar jerih payah pekerjaannya.” Abu Bakr dan ‘Umar pun pernah memanfaatkan harta baitulmal.

٧١٦٣ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي السَّائِبُ بۡنُ يَزِيدَ ابۡنُ أُخۡتِ نَمِرٍ: أَنَّ حُوَيۡطِبَ بۡنَ عَبۡدِ الۡعُزَّى أَخۡبَرَهُ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ السَّعۡدِيِّ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ قَدِمَ عَلَى عُمَرَ فِي خِلَافَتِهِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: أَلَمۡ أُحَدَّثۡ أَنَّكَ تَلِي مِنۡ أَعۡمَالِ النَّاسِ أَعۡمَالًا، فَإِذَا أُعۡطِيتَ الۡعُمَالَةَ كَرِهۡتَهَا؟ فَقُلۡتُ: بَلَى، فَقَالَ عُمَرُ: مَا تُرِيدُ إِلَى ذٰلِكَ؟ قُلۡتُ: إِنَّ لِي أَفۡرَاسًا وَأَعۡبُدًا، وَأَنَا بِخَيۡرٍ، وَأَرِيدُ أَنۡ تَكُونَ عُمَالَتِي صَدَقَةً عَلَى الۡمُسۡلِمِينَ. قَالَ عُمَرُ: لَا تَفۡعَلۡ، فَإِنِّي كُنۡتُ أَرَدۡتُ الَّذِي أَرَدۡتَ، فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُعۡطِينِي الۡعَطَاءَ، فَأَقُولُ: أَعۡطِهِ أَفۡقَرَ إِلَيۡهِ مِنِّي، حَتَّى أَعۡطَانِي مَرَّةً مَالًا، فَقُلۡتُ: أَعۡطِهِ أَفۡقَرَ إِلَيۡهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (خُذۡهُ، فَتَمَوَّلۡهُ، وَتَصَدَّقۡ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنۡ هٰذَا الۡمَالِ وَأَنۡتَ غَيۡرُ مُشۡرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذۡهُ، وَإِلَّا فَلَا تُتۡبِعۡهُ نَفۡسَكَ). [طرفه في: ١٤٧٣].

7163. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri: As-Sa`ib bin Yazid keponakan Namir mengabarkan kepadaku: Huwaithib bin ‘Abdul-‘Uzza mengabarkan kepadanya: ‘Abdullah bin As-Sa’di mengabarkan kepadanya:

Dia menemui ‘Umar pada masa kekhalifahannya, lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Bukankah aku mendapat kabar bahwa engkau mengurus beberapa urusan dari urusan-urusan manusia, namun apabila engkau diberi upah pekerjaannya, engkau tidak menyukainya?”

Aku menjawab, “Benar.”

‘Umar berkata, “Apa yang engkau inginkan dengan hal itu?”

Aku menjawab, “Aku telah memiliki beberapa ekor kuda dan beberapa hamba sahaya, dan aku berada dalam keadaan baik. Aku ingin agar upah pekerjaanku dijadikan sebagai sedekah bagi kaum muslimin.”

‘Umar berkata:

Jangan engkau lakukan itu, karena sesungguhnya aku dahulu pernah menginginkan seperti apa yang engkau inginkan. Dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberiku suatu pemberian, lalu aku berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir kepadanya daripadaku.”

Hingga pada suatu kali beliau memberiku suatu harta, lalu aku berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir kepadanya daripadaku.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ambillah harta ini, lalu jadikanlah sebagai hartamu dan bersedekahlah dengannya. Harta apa saja dari jenis ini yang mendatangi engkau dalam keadaan engkau tidak mengharap-harapkannya dan tidak pula memintanya, maka ambillah. Jika tidak demikian, maka janganlah engkau memperturutkan jiwamu kepadanya.”

٧١٦٤ - وَعَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: أَنۡ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ قَالَ: سَمِعۡتُ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ يَقُولُ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعۡطِينِي الۡعَطَاءَ، فَأَقُولُ: أَعۡطِهِ أَفۡقَرَ إِلَيۡهِ مِنِّي، حَتَّى أَعۡطَانِي مَرَّةً مَالًا، فَقُلۡتُ أَعۡطِهِ مَنۡ هُوَ أَفۡقَرُ إِلَيۡهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (خُذۡهُ، فَتَمَوَّلۡهُ، وَتَصَدَّقۡ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنۡ هٰذَا الۡمَالِ وَأَنۡتَ غَيۡرُ مُشۡرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذۡهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتۡبِعۡهُ نَفۡسَكَ).[طرفه في: ١٤٧٣].

7164. Dan dari Az-Zuhri, dia berkata: Salim bin ‘Abdullah menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Aku mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab berkata:

Dahulu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberiku suatu pemberian, lalu aku berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir daripadaku.”

Hingga pada suatu kali beliau memberiku suatu harta, lalu aku berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir daripadaku.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ambillah harta ini, lalu jadikanlah sebagai hartamu dan bersedekahlah dengannya. Harta apa saja yang mendatangi engkau dalam keadaan engkau tidak mengharap-harapkannya dan tidak pula memintanya, maka ambillah. Dan apa yang tidak demikian, maka janganlah engkau memperturutkan jiwamu kepadanya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3143

١٩ - بَابُ مَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعۡطِي الۡمُؤَلَّفَةَ قُلُوبُهُمۡ وَغَيۡرَهُمۡ مِنَ الۡخُمُسِ وَنَحۡوِهِ
19. Bab Apa yang Dahulu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—Berikan kepada Orang-Orang yang Dilunakkan Hatinya dan Selain Mereka dari Khumus dan Sejenisnya


رَوَاهُ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Zaid, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

٣١٤٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، وَعُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ حَكِيمَ بۡنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَأَعۡطَانِي، ثُمَّ سَأَلۡتُهُ فَأَعۡطَانِي، ثُمَّ قَالَ لِي: (يَا حَكِيمُ، إِنَّ هٰذَا الۡمَالَ خَضِرٌ حُلۡوٌ، فَمَنۡ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفۡسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنۡ أَخَذَهُ بِإِشۡرَافِ نَفۡسٍ لَمۡ يُبَارَكۡ لَهُ فِيهِ، وَكَانَ كَالَّذِي يَأۡكُلُ وَلَا يَشۡبَعُ، وَالۡيَدُ الۡعُلۡيَا خَيۡرٌ مِنَ الۡيَدِ السُّفۡلَى). قَالَ حَكِيمٌ: فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالۡحَقِّ، لَا أَرۡزَأُ أَحَدًا بَعۡدَكَ شَيۡئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنۡيَا، فَكَانَ أَبُو بَكۡرٍ يَدۡعُو حَكِيمًا لِيُعۡطِيَهُ الۡعَطَاءَ فَيَأۡبَى أَنۡ يَقۡبَلَ مِنۡهُ شَيۡئًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ دَعَاهُ لِيُعۡطِيَهُ فَأَبَى أَنۡ يَقۡبَلَ، فَقَالَ: يَا مَعۡشَرَ الۡمُسۡلِمِينَ إِنِّي أَعۡرِضُ عَلَيۡهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَ اللهُ لَهُ مِنۡ هٰذَا الۡفَيۡءِ، فَيَأۡبَى أَنۡ يَأۡخُذَهُ، فَلَمۡ يَرۡزَأۡ حَكِيمٌ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ بَعۡدَ النَّبِيِّ ﷺ حَتَّى تُوُفِّيَ. [طرفه في: ١٤٧٢].

3143. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Auza’i menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al-Musayyab dan ‘Urwah bin Az-Zubair: Hakim bin Hizamradhiyallahu ‘anhu—berkata:

Aku meminta (harta) kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi kepada beliau, lalu beliau memberiku. Kemudian beliau bersabda kepadaku, “Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barang siapa mengambilnya dengan kelapangan jiwa, maka harta itu akan diberkahi baginya. Barang siapa mengambilnya dengan kerakusan jiwa, maka harta itu tidak akan diberkahi baginya, dan dia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”

Hakim berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mengurangi harta dari seorang pun setelahmu sedikit pun hingga aku berpisah dengan dunia.”

Suatu ketika, Abu Bakr pernah memanggil Hakim untuk memberinya pemberian, tetapi dia menolak untuk menerima apa pun darinya. Kemudian ‘Umar juga pernah memanggilnya untuk memberinya, tetapi dia menolak untuk menerimanya. ‘Umar berkata, “Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya aku menawarkan kepadanya haknya yang telah Allah bagikan untuknya dari harta fai ini, tetapi dia menolak untuk mengambilnya.”

Hakim tidak pernah mengurangi harta seorang pun dari manusia setelah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hingga dia wafat.