Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2745

٤ - بَابُ قَوۡلِ الۡمُوصِي لِوَصِيِّهِ: تَعَاهَدۡ وَلَدِي، وَمَا يَجُوزُ لِلۡوَصِيِّ مِنَ الدَّعۡوَى
4. Bab Perkataan Pemberi Wasiat kepada Pelaksana Wasiatnya: “Peliharalah Anakku” dan Klaim yang Dibolehkan bagi Pelaksana Wasiat


٢٧٤٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهَا قَالَتۡ: كَانَ عُتۡبَةُ بۡنُ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ: أَنَّ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ مِنِّي، فَاقۡبِضۡهُ إِلَيۡكَ، فَلَمَّا كَانَ عَامُ الۡفَتۡحِ أَخَذَهُ سَعۡدٌ، فَقَالَ: ابۡنُ أَخِي قَدۡ كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، فَقَامَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ فَقَالَ: أَخِي وَابۡنُ أَمَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَتَسَاوَقَا إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ سَعۡدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، ابۡنُ أَخِي، كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، فَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: أَخِي وَابۡنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ ابۡنَ زَمۡعَةَ، الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ وَلِلۡعَاهِرِ الۡحَجَرُ). ثُمَّ قَالَ لِسَوۡدَةَ بِنۡتِ زَمۡعَةَ: (احۡتَجِبِي مِنۡهُ) لِمَا رَأَى مِنۡ شَبَهِهِ بِعُتۡبَةَ، فَمَا رَآهَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ. [الحديث ٢٧٤٥ - أطرافه في: ٢٠٥٣، ٢٢١٨، ٢٤٢١، ٢٥٣٣، ٤٣٠٣، ٦٧٤٩، ٦٧٦٥، ٦٨١٧، ٧١٨٢].

2745. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Ia berkata:

‘Utbah bin Abu Waqqash pernah berpesan kepada saudaranya, Sa’d bin Abu Waqqash: “Anak dari budak perempuan Zam’ah adalah anakku, maka ambillah ia untukmu.”

Ketika tahun Fatah Makkah, Sa’d mengambilnya dan berkata, “Anak saudaraku, ia telah berpesan kepadaku mengenainya.”

Lalu ‘Abd bin Zam’ah berdiri dan berkata, “Ia saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku. Ia lahir di atas tempat tidur ayahku.”

Keduanya pun bergegas menghadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, ia anak saudaraku. Saudaraku telah berpesan kepadaku mengenainya.”

‘Abd bin Zam’ah berkata, “Ia saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd bin Zam’ah. Anak itu bagi pemilik tempat tidur (suami/pemilik budak) dan bagi pezina adalah batu.” Kemudian beliau bersabda kepada Saudah binti Zam’ah, “Berhijablah engkau darinya,” karena beliau melihat kemiripannya dengan ‘Utbah. Maka anak itu tidak pernah melihat Saudah hingga ia bertemu dengan Allah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2533

٨ - بَابُ أُمِّ الۡوَلَدِ
8. Bab Ummul-Walad (Budak Perempuan yang Melahirkan Anak dari Hasil Hubungannya dengan Tuannya)


قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (مِنۡ أَشۡرَاطِ السَّاعَةِ أَنۡ تَلِدَ الۡأَمَةُ رَبَّهَا).

Abu Hurairah berkata, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah apabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya.”

٢٥٣٣ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: إِنَّ عُتۡبَةَ بۡنَ أَبِي وَقَّاصٍ، عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ: أَنۡ يَقۡبِضَ إِلَيۡهِ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، قَالَ عُتۡبَةُ: إِنَّهُ ابۡنِي، فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَمَنَ الۡفَتۡحِ، أَخَذَ سَعۡدٌ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، فَأَقۡبَلَ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَأَقۡبَلَ مَعَهُ بِعَبۡدِ بۡنِ زَمۡعَةَ، فَقَالَ سَعۡدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، هٰذَا ابۡنُ أَخِي، عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابۡنُهُ، فَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هٰذَا أَخِي، ابۡنُ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَنَظَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى ابۡنِ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، فَإِذَا هُوَ أَشۡبَهُ النَّاسِ بِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ بۡنَ زَمۡعَةَ). مِنۡ أَجۡلِ أَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِيهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (احۡتَجِبِي مِنۡهُ يَا سَوۡدَةُ بِنۡتَ زَمۡعَةَ). مِمَّا رَأَى مِنۡ شَبَهِهِ بِعُتۡبَةَ، وَكَانَتۡ سَوۡدَةُ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ. [طرفه في: ٢٠٥٣].

2533. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Ia berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair menceritakan kepadaku: ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata:

Sesungguhnya ‘Utbah bin Abu Waqqash berpesan kepada saudaranya, Sa’d bin Abu Waqqash, agar mengambil anak dari budak perempuan Zam’ah. ‘Utbah berkata, “Dia adalah anakku.”

Maka ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang pada masa Fatah Makkah, Sa’d mengambil anak budak perempuan Zam’ah itu dan membawanya menghadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Bersamanya datang pula ‘Abd bin Zam’ah. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah anak saudaraku. Ia berpesan kepadaku bahwa ini adalah anaknya.”

Lalu ‘Abd bin Zam’ah berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah saudaraku, anak dari budak perempuan Zam’ah. Ia lahir di atas tempat tidur ayahnya.”

Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat anak budak perempuan Zam’ah tersebut, ternyata ia adalah orang yang paling mirip dengan ‘Utbah. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd bin Zam’ah,” karena ia lahir di atas tempat tidur ayahnya. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Berhijablah engkau darinya wahai Saudah binti Zam’ah,” karena beliau melihat kemiripannya dengan ‘Utbah, sedangkan Saudah adalah istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2421

٦ - بَابُ دَعۡوَى الۡوَصِيِّ لِلۡمَيِّتِ
6. Bab Pengakuan Penerima Wasiat Orang yang Sudah Meninggal


٢٤٢١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ عَبۡدَ بۡنَ زَمۡعَةَ وَسَعۡدَ بۡنَ أَبِي وَقَّاصٍ، اخۡتَصَمَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فِي ابۡنِ أَمَةِ زَمۡعَةَ، فَقَالَ سَعۡدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوۡصَانِي أَخِي إِذَا قَدِمۡتُ أَنۡ أَنۡظُرَ ابۡنَ أَمَةِ زَمۡعَةَ فَأَقۡبِضَهُ، فَإِنَّهُ ابۡنِي. وَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: أَخِي وَابۡنُ أَمَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي. فَرَأَى النَّبِيُّ ﷺ شَبَهًا بَيِّنًا، فَقَالَ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ بۡنَ زَمۡعَةَ، الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ، وَاحۡتَجِبِي مِنۡهُ يَا سَوۡدَةُ). [طرفه في: ٢٠٥٣].

2421. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—:

‘Abd bin Zam’ah dan Sa’d bin Abu Waqqash berselisih di hadapan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengenai anak dari budak perempuan Zam’ah. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, saudaraku berwasiat kepadaku jika aku datang agar aku melihat anak dari budak perempuan Zam’ah lalu mengambilnya, karena dia adalah anakku (yakni: anak saudara Sa’d).”

Sedangkan ‘Abd bin Zam’ah berkata, “Dia saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku, dia lahir di atas tempat tidur ayahku.”

Lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat kemiripan yang jelas (dengan saudara Sa’d), namun beliau bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd bin Zam’ah. Anak itu bagi pemilik tempat tidur (suami/pemilik budak), dan berhijablah engkau darinya wahai Saudah.”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 1731

٩ - بَابُ مَا جَاءَ فِي جَرِّ ذُيُولِ النِّسَاءِ
9. Bab Riwayat tentang Menyeret Ekor Pakaian bagi Wanita


١٧٣١ - (صحيح) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡخَلَّالُ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ جَرَّ ثَوۡبَهُ خُيَلَاءَ لَمۡ يَنۡظُرِ اللهُ إِلَيۡهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ). فَقَالَتۡ أُمُّ سَلَمَةَ: فَكَيۡفَ يَصۡنَعۡنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ؟ قَالَ: (يُرۡخِينَ شِبۡرًا)، فَقَالَتۡ: إِذًا تَنۡكَشِفَ أَقۡدَامُهُنَّ، قَالَ: (فَيُرۡخِينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدۡنَ عَلَيۡهِ). هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. [(ابن ماجه)(٣٥٨٠ و٣٥٨١)].

1731. [Sahih] Al-Hasan bin ‘Ali Al-Khallal telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat.”

Lalu Umu Salamah bertanya, “Lalu apa yang harus dilakukan para wanita dengan ekor pakaian mereka?”

Beliau menjawab, “Hendaknya mereka memanjangkannya sejengkal.”

Umu Salamah berkata, “Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.”

Beliau berkata, “Hendaknya mereka memanjangkannya sehasta dan tidak boleh lebih dari itu.”

Ini adalah hadis hasan sahih.

Sunan Abu Dawud hadis nomor 4117

٤٠ - بَابٌ فِي قَدۡرِ الذَّيۡلِ
40. Bab tentang Ukuran Ekor Pakaian


٤١١٧ - (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ [الۡقَعۡنَبِيُّ]، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ نَافِعٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ صَفِيَّةَ بِنۡتِ أَبِي عُبَيۡدٍ أَنَّهَا أَخۡبَرَتۡهُ، أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتۡ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ حِينَ ذَكَرَ الۡإِزَارَ: فَالۡمَرۡأَةُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (تُرۡخِي شِبۡرًا)، قَالَتۡ أُمُّ سَلَمَةَ: إِذًا يَنۡكَشِفُ عَنۡهَا، قَالَ: (فَذِرَاعًا، لَا تَزِيدُ عَلَيۡهِ).

4117. [Sahih] ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Abu Bakr bin Nafi’, dari ayahnya, dari Shafiyyah binti Abu ‘Ubaid bahwasanya ia mengabarkannya, bahwa Umu Salamah istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau menyebutkan masalah kain bagian bawah, “Lalu bagaimana dengan wanita, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Ia memanjangkannya sejengkal.”

Umu Salamah berkata, “Kalau begitu, bagian tubuhnya akan tersingkap.”

Beliau bersabda, “Maka (panjangkanlah) sehasta, tidak boleh lebih dari itu.”

Shahih Muslim hadis nomor 2097

١٩ - بَابُ اسۡتِحۡبَابِ لُبۡسِ النَّعۡلِ فِي الۡيَمِينِ أَوَّلًا، وَالۡخَلۡعِ مِنۡ الۡيُسۡرَى أَوَّلًا، وَكَرَاهَةِ الۡمَشۡيِ فِي نَعۡلٍ وَاحِدَةٍ
19. Bab Disukainya Memakai Alas Kaki Mulai dari yang Kanan, Melepas Mulai dari yang Kiri, dan Makruhnya Berjalan dengan Satu Alas Kaki


٦٧ - (٢٠٩٧) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ سَلَّامٍ الۡجُمَحِيُّ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، عَنۡ مُحَمَّدٍ - يَعۡنِي ابۡنَ زِيَادٍ -، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا انۡتَعَلَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالۡيُمۡنَىٰ، وَإِذَا خَلَعَ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالشِّمَالِ، وَلۡيُنۡعِلۡهُمَا جَمِيعًا، أَوۡ لِيَخۡلَعۡهُمَا جَمِيعًا).

[البخاري: كتاب اللباس، باب ينزع نعله اليسرى، رقم: ٥٨٥٦].

67. (2097). ‘Abdurrahman bin Sallam Al-Jumahi telah menceritakan kepada kami: Ar-Rabi’ bin Muslim menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian memakai alas kaki, hendaklah ia memulai dengan yang kanan, dan apabila melepasnya, hendaklah memulai dengan yang kiri. Hendaklah ia memakaikan alas kaki pada keduanya sekaligus atau melepas keduanya sekaligus.”

٦٨ - (...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَمۡشِ أَحَدُكُمۡ فِي نَعۡلٍ وَاحِدَةٍ. لِيُنۡعِلۡهُمَا جَمِيعًا، أَوۡ لِيَخۡلَعۡهُمَا جَمِيعًا).

68. Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku membacakannya kepada Malik dari Abu Az-Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu alas kaki saja! Hendaklah ia memakaikan alas kaki pada keduanya sekaligus atau melepas keduanya sekaligus.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5855

٣٩ - بَابٌ يَنۡزِعُ نَعۡلَ الۡيُسۡرَى
39. Bab Melepas Alas Kaki Kiri


٥٨٥٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا انۡتَعَلَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالۡيَمِينِ، وَإِذَا نَزَعَ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالشِّمَالِ، لِتَكُنِ الۡيُمۡنَى أَوَّلَهُمَا تُنۡعَلُ وَآخِرَهُمَا تُنۡزَعُ).

5855. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian memakai alas kaki, hendaklah ia memulai dengan yang kanan. Apabila melepasnya, hendaklah memulai dengan yang kiri. Hendaknya yang kanan menjadi yang pertama kali dipakai dan yang terakhir kali dilepas.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5856

٤٠ - بَابٌ لَا يَمۡشِي فِي نَعۡلٍ وَاحِدَةٍ
40. Bab Tidak Berjalan dengan Satu Alas Kaki


٥٨٥٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَمۡشِي أَحَدُكُمۡ فِي نَعۡلٍ وَاحِدَةٍ، لِيُحۡفِهِمَا أَوۡ لِيُنۡعِلۡهُمَا جَمِيعًا).

5856. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu alas kaki saja! Hendaklah ia melepas keduanya atau memakaikan alas kaki pada keduanya sekaligus.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5167

٦٩ - بَابُ الۡوَلِيمَةِ وَلَوۡ بِشَاةٍ
69. Bab Walimah Walaupun Hanya dengan Menyembelih Seekor Kambing


٥١٦٧ - حَدَّثَنَا عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي حُمَيۡدٌ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَأَلَ النَّبِيُّ ﷺ عَبۡدَ الرَّحۡمَنِ بۡنَ عَوۡفٍ، وَتَزَوَّجَ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ: (كَمۡ أَصۡدَقۡتَهَا؟) قَالَ: وَزۡنَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ. وَعَنۡ حُمَيۡدٍ: سَمِعۡتُ أَنَسًا قَالَ: لَمَّا قَدِمُوا الۡمَدِينَةَ، نَزَلَ الۡمُهَاجِرُونَ عَلَى الۡأَنۡصَارِ، فَنَزَلَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَوۡفٍ عَلَى سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، فَقَالَ: أُقَاسِمُكَ مَالِي، وَأَنۡزِلُ لَكَ عَنۡ إِحۡدَى امۡرَأَتَيَّ، قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهۡلِكَ وَمَالِكَ، فَخَرَجَ إِلَى السُّوقِ فَبَاعَ وَاشۡتَرَى، فَأَصَابَ شَيۡئًا مِنۡ أَقِطٍ وَسَمۡنٍ، فَتَزَوَّجَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

5167. ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. Ia berkata: Humaid menceritakan kepadaku: Ia mendengar Anas—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang telah menikahi seorang wanita dari kaum Ansar, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?”

Ia menjawab, “Seberat biji kurma dari emas.”

Dan dari Humaid: Aku mendengar Anas berkata: Ketika mereka tiba di Madinah, kaum Muhajirin singgah di tempat kaum Ansar. Lalu ‘Abdurrahman bin ‘Auf singgah di tempat Sa’d bin Ar-Rabi’. Sa’d berkata, “Aku akan membagi hartaku denganmu dan aku akan menceraikan salah satu dari kedua istriku untukmu.”

‘Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahimu pada keluarga dan hartamu.”

Kemudian ia pergi ke pasar untuk berjualan dan membeli, lalu ia mendapatkan sedikit aqith (susu kering) dan samin, kemudian ia menikah. Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5155

٥٧ - بَابٌ كَيۡفَ يُدۡعَى لِلۡمُتَزَوِّجِ
57. Bab Bagaimana Mendoakan Orang yang Menikah


٥١٥٥ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، هُوَ ابۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى عَلَى عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ بۡنِ عَوۡفٍ أَثَرَ صُفۡرَةٍ، قَالَ: (مَا هٰذَا؟). قَالَ: إِنِّي تَزَوَّجۡتُ امۡرَأَةً عَلَى وَزۡنِ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ، قَالَ: (بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

5155. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Tsabit, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat bekas wangi-wangian kuning pada ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau bertanya, “Apa ini?”

‘Abdurrahman menjawab, “Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji kurma dari emas.”

Beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahimu. Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5153

٥٥ - بَابُ الصُّفۡرَةِ لِلۡمُتَزَوِّجِ
55. Bab Mengenai Wangi-wangian Kuning bagi Orang yang Menikah


وَرَوَاهُ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَوۡفٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Hal itu diriwayatkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

٥١٥٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ حُمَيۡدٍ الطَّوِيلِ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ عَوۡفٍ، جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ وَبِهِ أَثَرُ صُفۡرَةٍ، فَسَأَلَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَأَخۡبَرَهُ أَنَّهُ تَزَوَّجَ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ، قَالَ: (كَمۡ سُقۡتَ إِلَيۡهَا؟). قَالَ زِنَةَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

5153. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Humaid Ath-Thawil, dari Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—:

‘Abdurrahman bin ‘Auf datang kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan padanya terdapat bekas wangi-wangian kuning. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepadanya, kemudian ia mengabarkan bahwa ia telah menikahi seorang wanita dari kaum Ansar.

Beliau bertanya, “Berapa mahar yang engkau serahkan kepadanya?”

Ia menjawab, “Seberat biji kurma dari emas.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5148

٥٠ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحۡلَةً﴾ [النساء: ٤] وَكَثۡرَةِ الۡمَهۡرِ، وَأَدۡنَى مَا يَجُوزُ مِنَ الصَّدَاقِ
50. Bab Firman Allah Taala: “Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” (QS An-Nisa’: 4) dan Tentang Banyaknya Mahar, serta Batas Minimal Mahar yang Diperbolehkan


وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَآتَيۡتُمۡ إِحۡدَاهُنَّ قِنۡطَارًا فَلَا تَأۡخُذُوا مِنۡهُ شَيۡئًا﴾ [النساء: ٢٠] وَقَوۡلِهِ جَلَّ ذِكۡرُهُ: ﴿أَوۡ تَفۡرِضُوا لَهُنَّ﴾ [البقرة: ٢٣٦]. وَقَالَ سَهۡلٌ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (وَلَوۡ خَاتَمًا مِنۡ حَدِيدٍ).

Dan firman-Nya: “Sedang kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali sedikit pun darinya.” (QS An-Nisa’: 20).

Serta firman-Nya—jalla dzikruhu—: “dan sebelum kalian menentukan maharnya bagi mereka.” (QS Al-Baqarah: 236).

Sahl berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Walaupun hanya berupa cincin dari besi.”

٥١٤٨ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ بۡنِ صُهَيۡبٍ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ عَوۡفٍ تَزَوَّجَ امۡرَأَةً عَلَى وَزۡنِ نَوَاةٍ، فَرَأَى النَّبِيُّ ﷺ بَشَاشَةَ الۡعُرۡسِ، فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: إِنِّي تَزَوَّجۡتُ امۡرَأَةً عَلَى وَزۡنِ نَوَاةٍ. وَعَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ عَوۡفٍ، تَزَوَّجَ امۡرَأَةً عَلَى وَزۡنِ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ. [طرفه في: ٢٠٤٩].

5148. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib, dari Anas:

‘Abdurrahman bin ‘Auf menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji kurma (emas). Lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat tanda-tanda kegembiraan pengantin pada dirinya, maka beliau bertanya kepadanya. Ia menjawab, “Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji kurma.”

Dan dari Qatadah, dari Anas: ‘Abdurrahman bin ‘Auf menikahi seorang wanita dengan mahar emas seberat biji kurma.

Sunan An-Nasa`i hadis nomor 899 dan 900

١٨ - نَوۡعٌ آخَرُ مِنَ الذِّكۡرِ بَيۡنَ افۡتِتَاحِ الصَّلَاةِ وَبَيۡنَ الۡقِرَاءَةِ
18. Jenis Lain dari Zikir antara Permulaan Salat dan Qiraah (Al-Fatihah)


٨٩٩ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ فَضَالَةَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَنۡبَأَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ أَبِي الۡمُتَوَكِّلِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا افۡتَتَحَ الصَّلَاةَ؛ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، تَبَارَكَ اسۡمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ). [(ابن ماجه)(٨٠٤)].

899. [Sahih] ‘Ubaidullah bin Fadhalah bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: ‘Abdurrazzaq memberitakan kepada kami. Ia berkata: Ja’far bin Sulaiman memberitakan kepada kami dari ‘Ali bin ‘Ali, dari Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Sa’id, bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila membuka salat, beliau mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

٩٠٠ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيۡدُ بۡنُ الۡحُبَابِ، قَالَ: حَدَّثَنِي جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ أَبِي الۡمُتَوَكِّلِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا افۡتَتَحَ الصَّلَاةَ؛ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، وَتَبَارَكَ اسۡمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ). [انظر ما قبله].

900. [Sahih] Ahmad bin Sulaiman telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Zaid bin Al-Hubab menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ja‘far bin Sulaiman menceritakan kepadaku, dari ‘Ali bin ‘Ali, dari Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Sa‘id. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila membuka salat, beliau mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 243

٢٤٣ - (صحيح) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَرَفَةَ وَيَحۡيَى بۡنُ مُوسَى، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنۡ حَارِثَةَ بۡنِ أَبِي الرِّجَالِ، عَنۡ عَمۡرَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا افۡتَتَحَ الصَّلَاةَ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، وَتَبَارَكَ اسۡمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيۡرُكَ). هٰذَا حَدِيثٌ لَا نَعۡرِفُهُ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ إِلَّا مِنۡ هٰذَا الۡوَجۡهِ. وَحَارِثَةُ قَدۡ تُكُلِّمَ فِيهِ مِنۡ قِبَلِ حِفۡظِهِ. وَأَبُو الرِّجَالِ اسۡمُهُ: مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ الۡمَدِينِيُّ. [(ابن ماجه)(٨٠٤)].

243. [Sahih] Al-Hasan bin ‘Arafah dan Yahya bin Musa telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu‘awiyah menceritakan kepada kami dari Haritsah bin Abu Ar-Rijal, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah. Ia berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila membuka salat, beliau mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Hadis ini tidak kami ketahui dari hadis ‘Aisyah kecuali dari jalur ini. Haritsah telah diperbincangkan (oleh para ulama) dari sisi hafalannya. Abu Ar-Rijal namanya adalah Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Madini.

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 806

٨٠٦ - (صحيح) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدٍ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ عِمۡرَانَ، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَارِثَةُ بۡنُ أَبِي الرِّجَالِ، عَنۡ عَمۡرَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا افۡتَتَحَ الصَّلَاةَ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، تَبَارَكَ اسۡمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ). [(الإرواء)(٨)، (صحيح أبي داود)(٧٥٠)].

806. [Sahih] ‘Ali bin Muhammad dan ‘Abdullah bin ‘Imran telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Haritsah bin Abu Ar-Rijal menceritakan kepada kami, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila membuka salat, beliau mengucapkan:

Subḥānakallāhumma wa biḥamdika tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Sunan Abu Dawud hadis nomor 775 dan 776

١٢٢ - بَابُ مَنۡ رَأَى الۡاِسۡتِفۡتَاحَ بِـ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ)
122. Bab Orang yang Berpendapat Memulai Salat dengan “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika


٧٧٥ - (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ السَّلَامِ بۡنُ مُطَهَّرٍ، نا جَعۡفَرٌ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ عَلِيٍّ الرِّفَاعِيِّ، عَنۡ أَبِي الۡمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيۡلِ كَبَّرَ ثُمَّ يَقُولُ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، [وَ]تَبَارَكَ اسۡمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ) ثُمَّ يَقُولُ: (لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ) - ثَلَاثًا - ثُمَّ يَقُولُ: (اللهُ أَكۡبَرُ كَبِيرًا) - ثَلَاثًا – (أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الۡعَلِيمِ مِنَ الشَّيۡطَانِ الرَّجِيمِ، مِنۡ هَمۡزِهِ وَنَفۡخِهِ وَنَفۡثِهِ) ثُمَّ يَقۡرَأُ.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَهٰذَا الۡحَدِيثُ يَقُولُونَ: هُوَ عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنِ الۡحَسَنِ مُرۡسَلًا، الۡوَهَمُ مِنۡ جَعۡفَرٍ.

775. [Sahih] ‘Abdussalam bin Muthahhar telah menceritakan kepada kami: Ja’far menceritakan kepada kami dari ‘Ali bin ‘Ali Ar-Rifa’i, dari Abu Al-Mutawakkil An-Naji, dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila bangun untuk salat malam, beliau bertakbir kemudian mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Kemudian beliau mengucapkan, “Lā ilāha illallāh (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah)” sebanyak tiga kali.

Kemudian beliau mengucapkan, “Allāhu akbar kabīrā (Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya)” sebanyak tiga kali.

(Lalu membaca), “A‘ūżu billāhis-samī‘il-‘alīmi minasy-syaiṭānir-rajīmi min hamzihi wa nafkhihi wa nafṡih (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk; dari kegilaannya, kesombongannya, dan syairnya).”

Kemudian beliau membaca (Al-Fatihah).

Abu Dawud berkata: Hadis ini, mereka (para ulama) mengatakan berasal dari ‘Ali bin ‘Ali, dari Al-Hasan, secara mursal. Kekeliruan (penyambungan sanad) berasal dari Ja’far.

٧٧٦ - (صحيح) حَدَّثَنَا حُسَيۡنُ بۡنُ عِيسَى، نا طَلۡقُ بۡنُ غَنَّامٍ، نا عَبۡدُ السَّلَامِ بۡنُ حَرۡبٍ الۡمُلَائِيُّ، عَنۡ بُدَيۡلِ بۡنِ مَيۡسَرَةَ، عَنۡ أَبِي الۡجَوۡزَاءِ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا اسۡتَفۡتَحَ الصَّلَاةَ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، وَتَبَارَكَ اسۡمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ).

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَهٰذَا الۡحَدِيثُ لَيۡسَ بِالۡمَشۡهُورِ عَنۡ عَبۡدِ السَّلَامِ بۡنِ حَرۡبٍ، لَمۡ يَرۡوِهِ إِلَّا طَلۡقُ بۡنُ غَنَّامٍ، وَقَدۡ رَوَى قِصَّةَ الصَّلَاةِ عَنۡ بُدَيۡلٍ جَمَاعَةٌ لَمۡ يَذۡكُرُوا فِيهِ شَيۡئًا مِنۡ هٰذَا.

776. [Sahih] Husain bin ‘Isa telah menceritakan kepada kami: Thalq bin Ghannam menceritakan kepada kami: ‘Abdussalam bin Harb Al-Mula`i menceritakan kepada kami dari Budail bin Maisarah, dari Abu Al-Jauza`, dari ‘Aisyah. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila memulai salat, beliau mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Abu Dawud berkata: Hadis ini tidaklah masyhur dari ‘Abdussalam bin Harb. Tidak ada yang meriwayatkannya kecuali Thalq bin Ghannam. Sungguh, sekelompok perawi telah meriwayatkan kisah salat ini dari Budail, namun mereka tidak menyebutkan sedikit pun tentang hal ini (doa istiftah tersebut).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3937

٥٠ - بَابٌ كَيۡفَ آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَ أَصۡحَابِهِ
50. Bab Bagaimana Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—Mempersaudarakan antara Para Sahabat Beliau


وَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَوۡفٍ: آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنِي وَبَيۡنَ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ لَمَّا قَدِمۡنَا الۡمَدِينَةَ.

‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara aku dan Sa’d bin Ar-Rabi’ ketika kami tiba di Madinah.

وَقَالَ أَبُو جُحَيۡفَةَ: آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَ سَلۡمَانَ وَأَبِي الدَّرۡدَاءِ.

Abu Juhaifah berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara Salman dan Abu Ad-Darda`.

٣٩٣٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَدِمَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ، فَآخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ الۡأَنۡصَارِيِّ، فَعَرَضَ عَلَيۡهِ أَنۡ يُنَاصِفَهُ أَهۡلَهُ وَمَالَهُ، فَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهۡلِكَ وَمَالِكَ، دُلَّنِي عَلَى السُّوقِ، فَرَبِحَ شَيۡئًا مِنۡ أَقِطٍ وَسَمۡنٍ، فَرَآهُ النَّبِيُّ ﷺ بَعۡدَ أَيَّامٍ وَعَلَيۡهِ وَضَرٌ مِنۡ صُفۡرَةٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَهۡيَمۡ يَا عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ؟). قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، تَزَوَّجۡتُ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ، قَالَ: (فَمَا سُقۡتَ فِيهَا؟) فَقَالَ: وَزۡنَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

3937. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

‘Abdurrahman bin ‘Auf datang, lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara dirinya dan Sa’d bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Kemudian Sa’d menawarkan kepadanya untuk membagi dua keluarga dan hartanya, namun ‘Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahimu pada keluarga dan hartamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana letak pasar!”

Maka ia mendapatkan keuntungan berupa sedikit keju dan samin. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihatnya setelah beberapa hari dalam keadaan pada dirinya terdapat bekas warna kuning (parfum). Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Ada apa ini, wahai ‘Abdurrahman?”

Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku telah menikahi seorang wanita dari kalangan Ansar.”

Beliau bertanya, “Apa mahar yang engkau berikan kepadanya?”

Ia menjawab, “Emas seberat biji kurma.”

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3781

٣٧٨١ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَيۡنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ، وَآخَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، وَكَانَ كَثِيرَ الۡمَالِ، فَقَالَ سَعۡدٌ: قَدۡ عَلِمَتِ الۡأَنۡصَارُ أَنِّي مِنۡ أَكۡثَرِهَا مَالًا، سَأَقۡسِمُ مَالِي بَيۡنِي وَبَيۡنَكَ شَطۡرَيۡنِ، وَلِي امۡرَأَتَانِ، فَانۡظُرۡ أَعۡجَبَهُمَا إِلَيۡكَ فَأُطَلِّقُهَا، حَتَّى إِذَا حَلَّتۡ تَزَوَّجۡتَهَا، فَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهۡلِكَ، فَلَمۡ يَرۡجِعۡ يَوۡمَئِذٍ حَتَّى أَفۡضَلَ شَيۡئًا مِنۡ سَمۡنٍ وَأَقِطٍ فَلَمۡ يَلۡبَثۡ إِلَّا يَسِيرًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَعَلَيۡهِ وَضَرٌ مِنۡ صُفۡرَةٍ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَهۡيَمۡ؟). قَالَ: تَزَوَّجۡتُ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فَقَالَ: (مَا سُقۡتَ فِيهَا؟) قَالَ: وَزۡنَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ، أَوۡ نَوَاةً مِنۡ ذَهَبٍ، فَقَالَ: (أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

3781. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Ismail bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—bahwa ia berkata:

‘Abdurrahman bin ‘Auf datang kepada kami, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara dirinya dan Sa’d bin Ar-Rabi’. Sa’d adalah orang yang kaya raya, maka ia berkata, “Sungguh kaum Ansar telah mengetahui bahwa aku adalah salah satu dari mereka yang paling banyak hartanya. Aku akan membagi hartaku antara aku dan engkau menjadi dua bagian. Aku juga memiliki dua istri, maka lihatlah mana yang lebih menarik bagimu, niscaya aku menceraikannya hingga apabila masa idahnya telah selesai, engkau bisa menikahinya.”

‘Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahimu pada keluargamu.”

Maka tidaklah ia kembali pada hari itu melainkan telah mendapatkan sisa keuntungan berupa sedikit samin dan keju. Tidak lama kemudian, ia datang menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan pada dirinya terdapat bekas warna kuning (parfum). Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepadanya, “Ada apa ini?”

Ia menjawab, “Aku telah menikahi seorang wanita dari kalangan Ansar.”

Beliau bertanya, “Apa mahar yang engkau berikan kepadanya?”

Ia menjawab, “Emas seberat biji kurma,” atau “seberat biji kurma dari emas.”

Maka beliau bersabda, “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2293

٢٢٩٣ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَيۡنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ، فَآخَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ. [طرفه في: ٢٠٤٩].

2293. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: ‘Abdurrahman bin ‘Auf tiba di tempat kami, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara dia dengan Sa’d bin Ar-Rabi’.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3780

٣ - بَابُ إِخَاءُ النَّبِيِّ ﷺ بَيۡنَ الۡمُهَاجِرِينَ وَالۡأَنۡصَارِ
3. Bab Persaudaraan yang Ditetapkan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—antara Kaum Muhajirin dan Ansar


٣٧٨٠ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ قَالَ: لَمَّا قَدِمُوا الۡمَدِينَةَ آخَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ وَسَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، قَالَ لِعَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ: إِنِّي أَكۡثَرُ الۡأَنۡصَارِ مَالًا، فَأَقۡسِمُ مَالِي نِصۡفَيۡنِ، وَلِي امۡرَأَتَانِ، فَانۡظُرۡ أَعۡجَبَهُمَا إِلَيۡكَ فَسَمِّهَا لِي أُطَلِّقۡهَا، فَإِذَا انۡقَضَتۡ عِدَّتُهَا فَتَزَوَّجۡهَا. قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهۡلِكَ وَمَالِكَ، أَيۡنَ سُوقُكُمۡ؟ فَدَلُّوهُ عَلَى سُوقِ بَنِي قَيۡنُقَاعَ، فَمَا انۡقَلَبَ إِلَّا وَمَعَهُ فَضۡلٌ مِنۡ أَقِطٍ وَسَمۡنٍ، ثُمَّ تَابَعَ الۡغُدُوَّ، ثُمَّ جَاءَ يَوۡمًا وَبِهِ أَثَرُ صُفۡرَةٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَهۡيَمۡ؟). قَالَ: تَزَوَّجۡتُ، قَالَ: (كَمۡ سُقۡتَ إِلَيۡهَا؟). قَالَ: نَوَاةً مِنۡ ذَهَبٍ، أَوۡ وَزۡنَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ. شَكَّ إِبۡرَاهِيمُ. [طرفه في: ٢٠٤٨].

3780. Isma’il bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari kakeknya. Beliau berkata:

Ketika mereka tiba di Madinah, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara ‘Abdurrahman dan Sa’d bin Ar-Rabi’. Sa’d berkata kepada ‘Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang Ansar yang paling banyak hartanya, maka aku akan membagi setengah hartaku untukmu. Aku memiliki dua istri. Lihatlah yang paling kamu sukai dari keduanya lalu sebutkan namanya kepadaku, maka aku akan menceraikannya. Jika masa idahnya telah selesai, kamu bisa menikahinya.”

‘Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahimu pada keluarga dan hartamu. Di mana pasar kalian?”

Lalu mereka menunjukkannya ke pasar Bani Qainuqa’. Maka tidaklah ia kembali melainkan ia membawa sisa keuntungan berupa keju dan samin. Kemudian ia terus berangkat (ke pasar) di hari-hari berikutnya. Lalu pada suatu hari ia datang dan pada dirinya terdapat bekas warna kuning (parfum). Maka Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Ada apa ini?”

Ia menjawab, “Aku telah menikah.”

Beliau bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?”

Ia menjawab, “Emas seberat biji kurma,” atau “seberat biji kurma dari emas.” Ibrahim ragu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2232, 2233, dan 2234

٢٢٣٢، ٢٢٣٣ - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحٍ، قَالَ: حَدَّثَ ابۡنُ شِهَابٍ: أَنَّ عُبَيۡدَ اللهِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ زَيۡدَ بۡنَ خَالِدٍ وَأَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَخۡبَرَاهُ: أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللهِ ﷺ يُسۡأَلُ عَنِ الۡأَمَةِ تَزۡنِي وَلَمۡ تُحۡصَنۡ، قَالَ: (اجۡلِدُوهَا، ثُمَّ إِنۡ زَنَتۡ فَاجۡلِدُوهَا، ثُمَّ بِيعُوهَا) بَعۡدَ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ. [طرفاه في: ٢١٥٢، ٢١٥٤].

2232, 2233. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Ya’qub menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih. Ia berkata: Ibnu Syihab menceritakan: ‘Ubaidullah mengabarkan kepadanya: Zaid bin Khalid dan Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhuma—mengabarkan kepadanya:

Keduanya mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya mengenai budak wanita yang berzina dan ia belum menikah. Beliau bersabda, “Cambuklah ia, kemudian jika ia berzina lagi maka cambuklah ia, kemudian juallah ia,” setelah kali yang ketiga atau keempat.

٢٢٣٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: أَخۡبَرَنِي اللَّيۡثُ، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (إِذَا زَنَتۡ أَمَةُ أَحَدِكُمۡ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا، فَلۡيَجۡلِدۡهَا الۡحَدَّ، وَلَا يُثَرِّبۡ عَلَيۡهَا، ثُمَّ إِنۡ زَنَتۡ فَلۡيَجۡلِدۡهَا الۡحَدَّ وَلَا يُثَرِّبۡ، ثُمَّ إِنۡ زَنَتِ الثَّالِثَةَ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا، فَلۡيَبِعۡهَا وَلَوۡ بِحَبۡلٍ مِنۡ شَعَرٍ). [طرفه في: ٢١٥٢].

2234. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Al-Laits mengabarkan kepadaku dari Sa’id, dari ayahnya, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Aku mendengar Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila budak wanita salah seorang dari kalian berzina dan telah jelas perzinaan tersebut, maka hendaklah ia mencambuknya sebagai hukuman hudud, dan janganlah ia mencelanya. Kemudian jika ia berzina lagi, maka hendaklah ia mencambuknya sebagai hukuman hudud dan janganlah ia mencelanya. Kemudian jika ia berzina untuk yang ketiga kalinya dan telah jelas perzinaan tersebut, maka hendaklah ia menjualnya walaupun hanya seharga seutas tali dari rambut.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2230 dan 2231

١١٠ - بَابُ بَيۡعِ الۡمُدَبَّرِ
110. Bab Menjual Budak Mudabbar (Budak yang Telah Dijanjikan oleh Tuannya untuk Merdeka Segera Setelah Sang Tuan Meninggal Dunia)


٢٢٣٠ - حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ كُهَيۡلٍ، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنۡ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: بَاعَ النَّبِيُّ ﷺ الۡمُدَبَّرَ. [طرفه في: ٣١٤١].

2230. Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami: Isma’il menceritakan kepada kami dari Salamah bin Kuhail, dari ‘Atha`, dari Jabir—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjual budak mudabbar.

٢٢٣١ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو: سَمِعَ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: بَاعَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ.

2231. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr: Ia mendengar Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjualnya (budak mudabbar tersebut).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2225

١٠٤ - بَابُ بَيۡعِ التَّصَاوِيرِ الَّتِي لَيۡسَ فِيهَا رُوحٌ، وَمَا يُكۡرَهُ مِنۡ ذٰلِكَ
104. Bab Penjualan Gambar-Gambar yang Tidak Memiliki Nyawa dan Hal-hal yang Dimakruhkan darinya


٢٢٢٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: أَخۡبَرَنَا عَوۡفٌ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي الۡحَسَنِ قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، إِذۡ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا عَبَّاسٍ، إِنِّي إِنۡسَانٌ إِنَّمَا مَعِيشَتِي مِنۡ صَنۡعَةِ يَدِي، وَإِنِّي أَصۡنَعُ هٰذِهِ التَّصَاوِيرَ. فَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: لَا أُحَدِّثُكَ إِلَّا مَا سَمِعۡتُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: سَمِعۡتُهُ يَقُولُ: (مَنۡ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللهَ مُعَذِّبُهُ حَتَّى يَنۡفُخَ فِيهَا الرُّوحَ، وَلَيۡسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا). فَرَبَا الرَّجُلُ رَبۡوَةً شَدِيدَةً وَاصۡفَرَّ وَجۡهُهُ، فَقَالَ: وَيۡحَكَ، إِنۡ أَبَيۡتَ إِلَّا أَنۡ تَصۡنَعَ، فَعَلَيۡكَ بِهٰذَا الشَّجَرِ، كُلِّ شَيۡءٍ لَيۡسَ فِيهِ رُوحٌ. قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: سَمِعَ سَعِيدُ بۡنُ أَبِي عَرُوبَةَ مِنَ النَّضۡرِ بۡنِ أَنَسٍ هٰذَا الۡوَاحِدَ. [الحديث ٢٢٢٥ - طرفاه في: ٥٩٦٣، ٧٠٤٢].

2225. ‘Abdullah bin ‘Abdul-Wahhab telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: ‘Auf mengabarkan kepada kami dari Sa’id bin Abul-Hasan. Ia berkata:

Aku pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—ketika seorang laki-laki datang kepadanya lalu berkata, “Wahai Abu ‘Abbas, sesungguhnya aku adalah manusia yang penghidupanku hanyalah dari hasil kerajinan tanganku dan aku membuat gambar-gambar ini.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku tidak akan menyampaikan kepadamu kecuali apa yang aku dengar dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Aku mendengar beliau bersabda, ‘Barang siapa menggambar suatu gambar (makhluk bernyawa), Allah akan menyiksanya hingga ia meniupkan nyawa ke dalamnya, padahal ia tidak akan mampu meniupkannya selama-lamanya.’”

Laki-laki itu napasnya menjadi sangat menyesak dan wajahnya menjadi pucat. Lalu Ibnu ‘Abbas berkata, “Celaka engkau, jika engkau tetap ingin membuat gambar, maka buatlah (gambar) pepohonan ini, segala sesuatu yang tidak memiliki nyawa.”

Abu ‘Abdillah berkata: Sa’id bin Abu ‘Arubah mendengar dari An-Nadhr bin Anas satu hadis ini saja.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2223 dan 2224

١٠٣ - بَابٌ لَا يُذَابُ شَحۡمُ الۡمَيۡتَةِ وَلَا يُبَاعُ وَدَكُهُ
103. Bab Lemak Bangkai Tidak Boleh Dilelehkan dan Minyaknya Tidak Boleh Dijual


رَوَاهُ جَابِرٌ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Hal ini diriwayatkan oleh Jabir—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

٢٢٢٣ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ دِينَارٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي طَاوُسٌ: أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: بَلَغَ عُمَرَ أَنَّ فُلَانًا بَاعَ خَمۡرًا، فَقَالَ: قَاتَلَ اللهُ فُلَانًا، أَلَمۡ يَعۡلَمۡ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (قَاتَلَ اللهُ الۡيَهُودَ حُرِّمَتۡ عَلَيۡهِمُ الشُّحُومُ، فَجَمَلُوهَا فَبَاعُوهَا). [الحديث ٢٢٢٣ - طرفه في: ٣٤٦٠].

2223. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Amr bin Dinar menceritakan kepada kami. Ia berkata: Thawus mengabarkan kepadaku: Ia mendengar Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Berita sampai kepada Umar bahwa seseorang menjual khamar, lalu ia berkata, “Semoga Allah membinasakan orang itu, tidakkah ia tahu bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah bersabda: ‘Semoga Allah membinasakan kaum Yahudi, diharamkan atas mereka lemak (bangkai), namun mereka melelehkannya lalu menjualnya.’”

٢٢٢٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: سَمِعۡتُ سَعِيدَ بۡنَ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (قَاتَلَ اللهُ يَهُودَ، حُرِّمَتۡ عَلَيۡهِمُ الشُّحُومُ، فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثۡمَانَهَا). قَالَ أَبُو عَبۡد اللهِ: قَاتَلَهُمۡ اللهُ: لَعَنَهُمۡ. ﴿قُتِلَ﴾: لُعِنَ. ﴿الۡخَرَّاصُونَ﴾ [الذاريات: ١٠]: الۡكَذَّابُونَ.

2224. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab: Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Semoga Allah membinasakan kaum Yahudi, diharamkan atas mereka lemak (bangkai), namun mereka menjualnya dan memakan hasil penjualannya.”

Abu ‘Abdillah berkata: Qātalahumullāh berarti Allah melaknat mereka. “Qutila” berarti dilaknat. “Al-Kharrāṣūn” (QS Az-Zariyat: 10) berarti orang-orang yang banyak berdusta.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4269

٤٧ - بَابُ بَعۡثِ النَّبِيِّ ﷺ أُسَامَةَ بۡنَ زَيۡدٍ إِلَى الۡحُرَقَاتِ مِنۡ جُهَيۡنَةَ
47. Bab Pengutusan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kepada Usamah bin Zaid menuju Al-Huraqat dari kabilah Juhainah


٤٢٦٩ - حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ: أَخۡبَرَنَا حُصَيۡنٌ: أَخۡبَرَنَا أَبُو ظَبۡيَانَ قَالَ: سَمِعۡتُ أُسَامَةَ بۡنَ زَيۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى الۡحُرَقَةِ، فَصَبَّحۡنَا الۡقَوۡمَ فَهَزَمۡنَاهُمۡ، وَلَحِقۡتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ رَجُلًا مِنۡهُمۡ، فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَكَفَّ الۡأَنۡصَارِيُّ، فَطَعَنۡتُهُ بِرُمۡحِي حَتَّى قَتَلۡتُهُ، فَلَمَّا قَدِمۡنَا بَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: (يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلۡتَهُ بَعۡدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؟) قُلۡتُ: كَانَ مُتَعَوِّذًا، فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا، حَتَّى تَمَنَّيۡتُ أَنِّي لَمۡ أَكُنۡ أَسۡلَمۡتُ قَبۡلَ ذٰلِكَ الۡيَوۡمِ. [الحديث ٤٢٦٩ - طرفه في: ٦٨٧٢].

4269. ‘Amr bin Muhammad telah menceritakan kepadaku: Husyaim menceritakan kepada kami: Hushain mengabarkan kepada kami: Abu Zhabyan mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Saya mendengar Usamah bin Zaid—radhiyallahu ‘anhuma—berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus kami ke Al-Huraqah, lalu kami menyerang kaum itu pada pagi hari dan mengalahkan mereka. Saya dan seorang laki-laki dari kaum Ansar mengejar seorang laki-laki dari mereka. Tatkala kami telah mengepungnya, ia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah, maka orang Anshar itu menahan diri, namun saya menusuknya dengan tombak saya hingga membunuhnya. Ketika kami sampai (di Madinah), berita itu sampai kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau bersabda, “Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan laa ilaaha illallaah?”

Saya menjawab, “Dia hanya mencari perlindungan (agar tidak dibunuh).”

Beliau terus mengulang-ulang ucapan itu hingga saya berandai-andai bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2221

١٠١ - بَابُ جُلُودِ الۡمَيۡتَةِ قَبۡلَ أَنۡ تُدۡبَغ
101. Bab Kulit Bangkai Sebelum Disamak


٢٢٢١ - حَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحٍ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ شِهَابٍ: أَنَّ عُبَيۡدَ اللهِ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَخۡبَرَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ مَرَّ بِشَاةٍ مَيِّتَةٍ، فَقَالَ: (هَلَّا اسۡتَمۡتَعۡتُمۡ بِإِهَابِهَا!). قَالُوا: إِنَّهَا مَيِّتَةٌ. قَالَ: (إِنَّمَا حَرُمَ أَكۡلُهَا). [طرفه في: ١٤٩٢].

2221. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami: Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih. Ia berkata: Ibnu Syihab menceritakan kepadaku: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah mengabarkan kepadanya: ‘Abdullah bin ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—mengabarkan kepadanya:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melewati seekor kambing yang telah menjadi bangkai, lalu beliau bertanya, “Mengapa tidak kalian manfaatkan kulitnya?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya itu adalah bangkai.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang diharamkan hanyalah memakannya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2217

٢٢١٧ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (هَاجَرَ إِبۡرَاهِيمُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ بِسَارَةَ، فَدَخَلَ بِهَا قَرۡيَةً فِيهَا مَلِكٌ مِنَ الۡمُلُوكِ، أَوۡ جَبَّارٌ مِنَ الۡجَبَابِرَةِ، فَقِيلَ: دَخَلَ إِبۡرَاهِيمُ بِامۡرَأَةٍ هِيَ مِنۡ أَحۡسَنِ النِّسَاءِ، فَأَرۡسَلَ إِلَيۡهِ: أَنۡ يَا إِبۡرَاهِيمُ مَنۡ هٰذِهِ الَّتِي مَعَكَ؟ قَالَ: أُخۡتِي، ثُمَّ رَجَعَ إِلَيۡهَا فَقَالَ: لَا تُكَذِّبِي حَدِيثِي، فَإِنِّي أَخۡبَرۡتُهُمۡ أَنَّكِ أُخۡتِي، وَاللهِ إِنۡ عَلَى الۡأَرۡضِ مُؤۡمِنٌ غَيۡرِي وَغَيۡرُكِ، فَأَرۡسَلَ بِهَا إِلَيۡهِ فَقَامَ إِلَيۡهَا، فَقَامَتۡ تَوَضَّأُ وَتُصَلِّي، فَقَالَتۡ: اللّٰهُمَّ إِنۡ كُنۡتُ آمَنۡتُ بِكَ وَبِرَسُولِكَ وَأَحۡصَنۡتُ فَرۡجِي إِلَّا عَلَى زَوۡجِي فَلَا تُسَلِّطۡ عَلَىَّ الۡكَافِرَ، فَغُطَّ حَتَّى رَكَضَ بِرِجۡلِهِ). قَالَ الۡأَعۡرَجُ: قَالَ أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ: إِنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ قَالَ: (قَالَتِ: اللّٰهُمَّ إِنۡ يَمُتۡ يُقَالُ: هِيَ قَتَلَتۡهُ، فَأُرۡسِلَ، ثُمَّ قَامَ إِلَيۡهَا فَقَامَتۡ تَوَضَّأُ تُصَلِّي وَتَقُولُ: اللّٰهُمَّ إِنۡ كُنۡتُ آمَنۡتُ بِكَ وَبِرَسُولِكَ وَأَحۡصَنۡتُ فَرۡجِي إِلَّا عَلَى زَوۡجِي، فَلَا تُسَلِّطۡ عَلَىَّ هٰذَا الۡكَافِرَ، فَغُطَّ حَتَّى رَكَضَ بِرِجۡلِهِ). قَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: قَالَ أَبُو سَلَمَةَ: قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: (فَقَالَتۡ: اللّٰهُمَّ إِنۡ يَمُتۡ فَيُقَالُ: هِيَ قَتَلَتۡهُ، فَأُرۡسِلَ فِي الثَّانِيَةِ أَوۡ فِي الثَّالِثَةِ فَقَالَ: وَاللهِ مَا أَرۡسَلۡتُمۡ إِلَىَّ إِلَّا شَيۡطَانًا، ارۡجِعُوهَا إِلَى إِبۡرَاهِيمَ، وَأَعۡطُوهَا آجَرَ، فَرَجَعَتۡ إِلَى إِبۡرَاهِيمَ عَلَيۡهِ السَّلاَمُ فَقَالَتۡ: أَشَعَرۡتَ أَنَّ اللهَ كَبَتَ الۡكَافِرَ وَأَخۡدَمَ وَلِيدَةً). [الحديث ٢٢١٧ – أطرافه في: ٢٦٣٥، ٣٣٥٧، ٣٣٥٨، ٥٠٨٤، ٦٩٥٠].

2217. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami: Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda:

Ibrahim‘alaihis salamberhijrah bersama Sarah. Beliau memasuki sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja atau penguasa yang bertindak sewenang-wenang. Ada yang berkata (kepada raja itu), “Ibrahim masuk ke negeri ini dengan seorang wanita yang sangat cantik.”

Raja itu mengirim utusan kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim, siapa wanita yang bersamamu ini?”

Ibrahim berkata, “Saudariku.”

Kemudian Ibrahim kembali kepada Sarah dan berkata, “Engkau jangan mendustakan ucapanku karena aku mengabarkan kepada mereka bahwa engkau adalah saudariku. Demi Allah, tidak ada orang mukmin di muka bumi ini selain aku dan engkau.”

Ibrahim mengirim Sarah kepada raja itu. Raja itu berdiri menuju Sarah. Sarah bangkit berwudu dan salat. Sarah berkata, “Ya Allah, jika aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, serta aku menjaga kemaluanku kecuali terhadap suamiku, maka janganlah engkau kuasakan orang kafir atasku.”

Raja itu tercekik sampai kakinya menghentak-hentak.

Al-A’raj berkata: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman berkata: Sesungguhnya Abu Hurairah mengatakan:

Sarah berkata, “Ya Allah, jika raja ini mati, nanti ada yang berkata: Wanita itu telah membunuhnya.”

Maka, raja itu dilepaskan. Kemudian raja itu kembali berdiri mendekati Sarah, lalu Sarah bangkit berwudu dan salat. Beliau berdoa, “Ya Allah, jika aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, serta aku menjaga kemaluanku kecuali terhadap suamiku, maka janganlah engkau kuasakan orang kafir ini atasku.”

Raja itu kembali tercekik hingga kakinya menghentak-hentak.

‘Abdurrahman berkata: Abu Salamah berkata: Abu Hurairah mengatakan:

Sarah berkata, “Ya Allah, jika raja ini mati, nanti ada yang berkata: Wanita itu telah membunuhnya.”

Raja itu dilepaskan pada kali kedua atau ketiga. Raja itu berkata, “Demi Allah, tidaklah yang kalian bawa kepadaku kecuali setan. Kembalikan ia kepada Ibrahim dan berilah ia Hajar!”

Sarah pun kembali kepada Ibrahim—‘alaihis salam—dan berkata, “Apakah engkau tahu bahwa Allah telah menghinakan orang kafir itu dan memberikan seorang pelayan wanita?”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2218 dan 2219

٢٢١٨ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا أَنَّهَا قَالَتِ: اخۡتَصَمَ سَعۡدُ بۡنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ فِي غُلَامٍ، فَقَالَ سَعۡدٌ: هٰذَا يَا رَسُولَ اللهِ ابۡنُ أَخِي عُتۡبَةَ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابۡنُهُ، انۡظُرۡ إِلَى شَبَهِهِ. وَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: هٰذَا أَخِي يَا رَسُولَ اللهِ، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي مِنۡ وَلِيدَتِهِ، فَنَظَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى شَبَهِهِ، فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتۡبَةَ، فَقَالَ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ بۡنَ زَمۡعَةَ، الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ وَلِلۡعَاهِرِ الۡحَجَرُ، وَاحۡتَجِبِي مِنۡهُ يَا سَوۡدَةُ بِنۡتَ زَمۡعَةَ). فَلَمۡ تَرَهُ سَوۡدَةُ قَطُّ. [طرفه في: ٢٠٥٣].

2218. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—bahwa ia berkata:

Sa’d bin Abu Waqqash dan ‘Abd bin Zam’ah berselisih mengenai seorang anak laki-laki. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah anak saudara laki-lakiku, ‘Utbah bin Abu Waqqash. Ia telah berpesan kepadaku bahwa anak ini adalah putranya, lihatlah kemiripannya.”

‘Abd bin Zam’ah berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah saudaraku, ia lahir di atas tempat tidur ayahku dari budak wanitanya.”

Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat kemiripannya dan beliau melihat kemiripan yang jelas dengan ‘Utbah. Maka beliau bersabda, “Anak itu bagimu wahai ‘Abd bin Zam’ah. Anak itu milik (pemilik) tempat tidur dan bagi pezina adalah batu (hukuman). Dan berhijablah engkau darinya wahai Saudah binti Zam’ah.” Maka Saudah tidak pernah melihatnya sama sekali.

٢٢١٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ: قَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ لِصُهَيۡبٍ: اتَّقِ اللهَ وَلَا تَدَّعِ إِلَى غَيۡرِ أَبِيكَ. فَقَالَ صُهَيۡبٌ: مَا يَسُرُّنِي أَنَّ لِي كَذَا وَكَذَا، وَأَنِّي قُلۡتُ ذٰلِكَ، وَلَكِنِّي سُرِقۡتُ وَأَنَا صَبِيٌّ.

2219. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Sa’d, dari ayahnya:

‘Abdurrahman bin ‘Auf—radhiyallahu ‘anhu—berkata kepada Shuhaib, “Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau mengaku-ngaku sebagai anak kepada selain ayahmu!”

Suhaib menjawab, “Tidaklah menyenangkan bagiku mendapatkan ini dan itu jika aku mengatakan hal tersebut, akan tetapi aku diculik saat aku masih kecil.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2216

٩٩ - بَابُ الشِّرَاءِ وَالۡبَيۡعِ مَعَ الۡمُشۡرِكِينَ وَأَهۡلِ الۡحَرۡبِ
99. Bab Jual Beli dengan Kaum Musyrik dan Orang Kafir yang Memerangi


٢٢١٦ - حَدَّثَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ مُشۡرِكٌ مُشۡعَانٌّ طَوِيلٌ، بِغَنَمٍ يَسُوقُهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (بَيۡعًا أَمۡ عَطِيَّةً؟) أَوۡ قَالَ: (أَمۡ هِبَةً؟) قَالَ: لَا، بَلۡ بَيۡعٌ، فَاشۡتَرَى مِنۡهُ شَاةً. [الحديث ٢٢١٦ - طرفاه في: ٢٦١٨، ٥٣٨٢].

2216. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami: Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abu ‘Utsman, dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Kami sedang bersama Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, kemudian datanglah seorang laki-laki musyrik yang rambutnya kusut dan badannya tinggi, sambil menggiring kambing-kambing miliknya. Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “(Apakah kambing ini untuk) diperjualbelikan atau sebagai pemberian?” Atau beliau bersabda, “Atau sebagai hibah?”

Orang itu menjawab, “Tidak, melainkan untuk dijual.” Lalu beliau membeli seekor domba darinya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2214

٩٧ - بَابُ بَيۡعِ الۡأَرۡضِ وَالدُّورِ وَالۡعُرُوضِ مُشَاعًا غَيۡرَ مَقۡسُومٍ
97. Bab Penjualan Tanah, Rumah, dan Barang-barang Milik Bersama yang Belum Dibagi


٢٢١٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مَحۡبُوبٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ: حَدَّثَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَضَى النَّبِيُّ ﷺ بِالشُّفۡعَةِ فِي كُلِّ مَالٍ لَمۡ يُقۡسَمۡ، فَإِذَا وَقَعَتِ الۡحُدُودُ، وَصُرِّفَتِ الطُّرُقُ، فَلَا شُفۡعَةَ. [طرفه في: ٢٢١٣].

2214. Muhammad bin Mahbub telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid menceritakan kepada kami: Ma’mar menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menetapkan hak syuf’ah pada setiap harta yang belum dibagi. Apabila batas-batas telah ditetapkan dan jalan-jalan telah ditentukan, tidak ada lagi hak syuf’ah.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ: بِهٰذَا، وَقَالَ: فِي كُلِّ مَا لَمۡ يُقۡسَمۡ. تَابَعَهُ هِشَامٌ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، قَالَ عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: فِي كُلِّ مَالٍ. رَوَاهُ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ إِسۡحَاقَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ.

Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid menceritakan hadis ini kepada kami dan ia menyebutkan: “pada setiap hal yang belum dibagi.” Hisyam mengiringi ‘Abdul Wahid dari Ma’mar. ‘Abdurrazzaq berkata: “pada setiap harta.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh ‘Abdurrahman bin Ishaq dari Az-Zuhri.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2213

٩٦ - بَابُ بَيۡعِ الشَّرِيكِ مِنۡ شَرِيكِهِ
96. Bab Penjualan Seorang Mitra kepada Mitranya


٢٢١٣ - حَدَّثَنِي مَحۡمُودٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: جَعَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الشُّفۡعَةَ فِي كُلِّ مَالٍ لَمۡ يُقۡسَمۡ، فَإِذَا وَقَعَتِ الۡحُدُودُ، وَصُرِّفَتِ الطُّرُقُ، فَلَا شُفۡعَةَ. [الحديث ٢٢١٣ - أطرافه في: ٢٢١٤، ٢٢٥٧، ٢٤٩٥، ٢٤٩٦، ٦٩٧٦].

2213. Mahmud telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Jabir—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menetapkan hak syuf’ah (hak seorang rekan pemilik aset untuk mengambil atau membeli secara paksa bagian dari rekannya yang dijual kepada orang lain, dengan harga yang sama saat transaksi itu terjadi) pada setiap harta yang belum dibagi. Maka apabila batas-batas telah ditetapkan dan jalan-jalan telah ditentukan, maka tidak ada lagi hak syuf’ah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2212

٢٢١٢ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ: حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: أَخۡبَرَنَا هِشَامٌ. وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ قَالَ: سَمِعۡتُ عُثۡمَانَ بۡنَ فَرۡقَدٍ قَالَ: سَمِعۡتُ هِشَامَ بۡنَ عُرۡوَةَ يُحَدِّثُ، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا تَقُولُ: ﴿وَمَنۡ كَانَ غَنِيًّا فَلۡيَسۡتَعۡفِفۡ وَمَنۡ كَانَ فَقِيرًا فَلۡيَأۡكُلۡ بِالۡمَعۡرُوفِ﴾ [النساء: ٦] أُنۡزِلَتۡ فِي وَالِي الۡيَتِيمِ الَّذِي يُقِيمُ عَلَيۡهِ وَيُصۡلِحُ فِي مَالِهِ، إِنۡ كَانَ فَقِيرًا أَكَلَ مِنۡهُ بِالۡمَعۡرُوفِ. [الحديث ٢٢١٢ - طرفاه في: ٢٧٦٥، ٤٥٧٥].

2212. Ishaq telah menceritakan kepadaku: Ibnu Numair menceritakan kepada kami: Hisyam mengabarkan kepada kami. Muhammad telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar ‘Utsman bin Farqad berkata: Aku mendengar Hisyam bin ‘Urwah menceritakan dari ayahnya: Ia mendengar ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata:

“Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut cara yang patut.” (QS An-Nisa: 6).

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan pengelola (wali) anak yatim yang mengurus dan memperbaiki harta anak yatim tersebut; jika pengelola itu seorang yang miskin, maka ia boleh makan dari harta tersebut menurut cara yang patut.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2207 dan 2208

٩٣ - بَابُ بَيۡعِ الۡمُخَاضَرَةِ
93. Bab Menjual Buah yang Masih Hijau


٢٢٠٧ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ وَهۡبٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ يُونُسَ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ أَبِي طَلۡحَةَ الۡأَنۡصَارِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الۡمُحَاقَلَةِ، وَالۡمُخَاضَرَةِ، وَالۡمُلَامَسَةِ، وَالۡمُنَابَذَةِ، وَالۡمُزَابَنَةِ.

2207. Ishaq bin Wahb telah menceritakan kepada kami: ‘Umar bin Yunus menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku. Ia berkata: Ishaq bin Abu Thalhah Al-Anshari menceritakan kepadaku dari Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—bahwa ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang muhaqalah (jual beli biji-bijian yang masih berada di tangkainya (masih di ladang) dengan biji-bijian sejenis yang sudah dibersihkan menggunakan sistem taksiran), mukhadharah (menjual buah-buahan yang masih hijau, atau biji-bijian yang belum mengeras, atau sayur-sayuran yang masih di lahan), mulamasah (jual beli dengan gambaran memegang barang berarti membeli tanpa ada khiar), munabadzah (jual beli dengan gambaran seseorang menjual pakaian dengan melemparkan pakaian itu kepada orang lain tanpa bisa diperiksa terlebih dahulu), dan muzabanah (jual beli buah kurma yang masih di pohon dengan tamar/kurma kering).

٢٢٠٨ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنۡ بَيۡعِ ثَمَرِ التَّمۡرِ حَتَّى تَزۡهُوَ. فَقُلۡنَا لِأَنَسٍ: مَا زَهۡوُهَا؟ قَالَ: تَحۡمَرُّ وَتَصۡفَرُّ، أَرَأَيۡتَ إِنۡ مَنَعَ اللهُ الثَّمَرَةَ بِمَ تَسۡتَحِلُّ مَالَ أَخِيكَ؟! [طرفه في: ١٤٨٨].

2208. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Jafar menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang menjual buah kurma hingga ia tampak matang.

Kami bertanya kepada Anas, “Apa yang dimaksud dengan tampak matangnya?”

Ia menjawab, “Memerah atau menguning. Bagaimana pendapatmu jika Allah menghalangi buah itu (untuk matang/panen), dengan alasan apa engkau menghalalkan harta saudaramu?!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2206

٩٢ - بَابُ بَيۡعِ النَّخۡلِ بِأَصۡلِهِ
92. Bab Menjual Pohon Kurma Beserta Batang Pokoknya


٢٢٠٦ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (أَيُّمَا امۡرِىءٍ أَبَّرَ نَخۡلًا ثُمَّ بَاعَ أَصۡلَهَا، فَلِلَّذِي أَبَّرَ ثَمَرُ النَّخۡلِ، إِلَّا أَنۡ يَشۡتَرِطَهُ الۡمُبۡتَاعُ). [طرفه في: ٢٢٠٣].

2206. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Siapa pun yang telah mengawinkan pohon kurma kemudian menjual batang pokoknya, maka buah pohon kurma itu adalah milik orang yang mengawinkannya, kecuali jika pembeli memberikan syarat (bahwa buahnya untuk pembeli).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2205

٩١ - بَابُ بَيۡعِ الزَّرۡعِ بِالطَّعَامِ كَيۡلًا
91. Bab Menjual Tanaman Ladang dengan Bahan Makanan secara Takaran


٢٢٠٥ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الۡمُزَابَنَةِ: أَنۡ يَبِيعَ ثَمَرَ حَائِطِهِ إِنۡ كَانَ نَخۡلًا بِتَمۡرٍ كَيۡلًا، وَإِنۡ كَانَ كَرۡمًا أَنۡ يَبِيعَهُ بِزَبِيبٍ كَيۡلًا، أَوۡ كَانَ زَرۡعًا أَنۡ يَبِيعَهُ بِكَيۡلِ طَعَامٍ، وَنَهَى عَنۡ ذٰلِكَ كُلِّهِ. [طرفه في: ٢١٧١].

2205. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang muzabanah, yaitu seseorang menjual buah di kebunnya jika berupa pohon kurma dengan kurma kering secara takaran; jika berupa anggur, ia menjualnya dengan kismis secara takaran; atau jika berupa tanaman ladang (gandum/padi), ia menjualnya dengan bahan makanan secara takaran. Beliau melarang hal tersebut semuanya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2203 dan 2204

٩٠ - بَابُ مَنۡ بَاعَ نَخۡلًا قَدۡ أُبِّرَتۡ أَوۡ أَرۡضًا مَزۡرُوعَةً أَوۡ بِإِجَارَةٍ
90. Bab Barang Siapa Menjual Pohon Kurma yang Telah Dikawinkan, atau Tanah yang Sedang Ditanami, atau dengan Menyewakannya


٢٢٠٣ - قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: وَقَالَ لِي إِبۡرَاهِيمُ: أَخۡبَرَنَا هِشَامٌ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ أَبِي مُلَيۡكَةَ يُخۡبِرُ عَنۡ نَافِعٍ مَوۡلَى ابۡنِ عُمَرَ: أَنَّ أَيُّمَا نَخۡلٍ بِيعَتۡ، قَدۡ أُبِّرَتۡ لَمۡ يُذۡكَرِ الثَّمَرُ، فَالثَّمَرُ لِلَّذِي أَبَّرَهَا، وَكَذٰلِكَ الۡعَبۡدُ وَالۡحَرۡثُ، سَمَّى لَهُ نَافِعٌ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ.[الحديث ٢٢٠٣ - أطرافه في: ٢٢٠٤، ٢٢٠٦، ٢٣٧٩، ٢٧١٦].

2203. Abu ‘Abdullah berkata: Ibrahim berkata kepadaku: Hisyam mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abu Mulaikah mengabarkan dari Nafi’, bekas budak Ibnu ‘Umar: Bahwa pohon kurma mana pun yang dijual dalam keadaan telah dikawinkan tanpa disebutkan perihal buahnya, maka buahnya adalah milik orang yang mengawinkannya. Demikian pula pada budak dan lahan pertanian; Nafi’ menyebutkan ketiga hal tersebut kepadanya.

٢٢٠٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ بَاعَ نَخۡلًا قَدۡ أُبِّرَتۡ فَثَمَرُهَا لِلۡبَائِعِ، إِلَّا أَنۡ يَشۡتَرِطَ الۡمُبۡتَاعُ). [طرفه في: ٢٢٠٣].

2204. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa menjual pohon kurma yang telah dikawinkan, maka buahnya adalah milik penjual, kecuali jika pembeli memberikan syarat (bahwa buahnya untuk pembeli).”