Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1560

٣٣ – بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿الۡحَجُّ أَشۡهُرٌ مَعۡلُومَاتٌ فَمَنۡ فَرَضَ فِيهِنَّ الۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الۡحَجِّ﴾ [البقرة: ١٩٧]
33. Bab firman Allah ta’ala, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, siapa saja yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)

﴿يَسۡأَلُونَكَ عَنِ الۡأَهِلَّةِ قُلۡ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالۡحَجِّ﴾ [البقرة: ١٨٩]. وَقَالَ ابۡنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَشۡهُرُ الۡحَجِّ: شَوَّالٌ، وَذُو الۡقَعۡدَةِ، وَعَشۡرٌ مِنۡ ذِي الۡحِجَّةِ. وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: مِنَ السُّنَّةِ أَنۡ لَا يُحۡرِمَ بِالۡحَجِّ إِلَّا فِي أَشۡهُرِ الۡحَجِّ، وَكَرِهَ عُثۡمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنۡ يُحۡرِمَ مِنۡ خُرَسَانَ أَوۡ كَرۡمَانَ.
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 189). Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Bulan-bulan haji adalah Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari Zulhijah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Termasuk sunah agar tidak berihram untuk haji kecuali dalam bulan-bulan haji. Dan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu tidak menyukai untuk berihram dari Khorasan dan Kerman.
١٥٦٠ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو بَكۡرٍ الۡحَنَفِيُّ: حَدَّثَنَا أَفۡلَحُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: سَمِعۡتُ الۡقَاسِمَ بۡنَ مُحَمَّدٍ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: خَرَجۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي أَشۡهُرِ الۡحَجِّ، وَلَيَالِي الۡحَجِّ، وَحُرُمِ الۡحَجِّ، فَنَزَلۡنَا بِسَرِفَ، قَالَتۡ: فَخَرَجَ إِلَى أَصۡحَابِهِ فَقَالَ: (مَنۡ لَمۡ يَكُنۡ مِنۡكُمۡ مَعَهُ هَدۡيٌ، فَأَحَبَّ أَنۡ يَجۡعَلَهَا عُمۡرَةً فَلۡيَفۡعَلۡ، وَمَنۡ كَانَ مَعَهُ الۡهَدۡيُ فَلَا). قَالَتۡ: فَالۡآخِذُ بِهَا وَالتَّارِكُ لَهَا مِنۡ أَصۡحَابِهِ، قَالَتۡ: فَأَمَّا رَسُولُ اللهِ ﷺ وَرِجَالٌ مِنۡ أَصۡحَابِهِ، فَكَانُوا أَهۡلَ قُوَّةٍ، وَكَانَ مَعَهُمُ الۡهَدۡيُ، فَلَمۡ يَقۡدِرُوا عَلَى الۡعُمۡرَةِ، قَالَتۡ: فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَنَا أَبۡكِي، فَقَالَ: (مَا يُبۡكِيكِ يَا هَنۡتَاهۡ؟) قُلۡتُ: سَمِعۡتُ قَوۡلَكَ لِأَصۡحَابِكَ، فَمُنِعۡتُ الۡعُمۡرَةَ، قَالَ: (وَمَا شَأۡنُكِ؟) قُلۡتُ: لَا أُصَلِّي، قَالَ: (فَلَا يَضِيرُكِ، إِنَّمَا أَنۡتِ امۡرَأَةٌ مِنۡ بَنَاتِ آدَمَ، كَتَبَ اللهُ عَلَيۡكِ مَا كَتَبَ عَلَيۡهِنَّ، فَكُونِي فِي حَجَّتِكِ، فَعَسَى اللهُ أَنۡ يَرۡزُقَكِيهَا). قَالَتۡ: فَخَرَجۡنَا فِي حَجَّتِهِ حَتَّى قَدِمۡنَا مِنًى، فَطَهَرۡتُ، ثُمَّ خَرَجۡتُ مِنۡ مِنًى، فَأَفَضۡتُ بِالۡبَيۡتِ، قَالَتۡ: ثُمَّ خَرَجۡتُ مَعَهُ فِي النَّفَرِ الۡآخِرِ، حَتَّى نَزَلَ الۡمُحَصَّبِ، وَنَزَلۡنَا مَعَهُ، فَدَعَا عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ أَبِي بَكۡرٍ، فَقَالَ: (اخۡرُحۡ بِأُخۡتِكَ مِنَ الۡحَرَمِ، فَلۡتُهِلَّ بِعُمۡرَةٍ، ثُمَّ افۡرُغَا، ثُمَّ ائۡتِيَا هَا هُنَا، فَإِنِّي أَنۡظُرُكُمَا حَتَّى تَأۡتِيَانِي). قَالَتۡ: فَخَرَجۡنَا، حَتَّى إِذَا فَرَغۡتُ، وَفَرَغۡتُ مِنَ الطَّوَافِ، ثُمَّ جِئۡتُهُ بِسَحَرَ، فَقَالَ: (هَلۡ فَرَغۡتُمۡ؟) فَقُلۡتُ: نَعَمۡ، فَآذَنَ بِالرَّحِيلِ فِي أَصۡحَابِهِ، فَارۡتَحَلَ النَّاسُ، فَمَرَّ مُتَوَجِّهًا إِلَى الۡمَدِينَةِ. ضَيۡرَ: مِنۡ ضَارَ يَضِيرُ ضَيۡرًا، وَيُقَالُ: ضَارَ يَضُورُ ضَوۡرًا، وَضَرَّ يَضُرُّ ضَرًّا. [طرفه في: ٢٩٤].
1560. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Abu Bakr Al-Hanafi menceritakan kepadaku: Aflah bin Humaid menceritakan kepada kami: Aku mendengar Al-Qasim bin Muhammad, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan-bulan haji, di malam-malam haji, dan di waktu, tempat, serta keadaan haji. Kami singgah di Sarif. ‘Aisyah mengatakan: Nabi keluar menuju para sahabatnya dan bersabda, “Siapa saja di antara kalian tidak membawa hadyu lalu ia senang untuk menjadikan hajinya sebagai umrah, maka silakan ia kerjakan. Dan siapa saja yang membawa hadyu, maka jangan lakukan.” ‘Aisyah mengatakan: Maka, ada sahabat yang melakukannya (haji tamatuk) dan ada yang tidak melakukannya. ‘Aisyah melanjutkan: Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beberapa orang sahabatnya, mereka memiliki kekuatan dan mereka membawa hadyu, sehingga mereka tidak tahalul setelah umrah. ‘Aisyah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku ketika aku sedang menangis. Beliau bertanya, “Wahai, apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab: Aku mendengar ucapanmu kepada para sahabatmu, namun aku terhalang dari umrah. Beliau bertanya, “Ada apa denganmu?” Aku menjawab: Aku tidak salat (karena haid). Beliau bersabda, “Tidak mengapa, engkau hanyalah seorang wanita di antara putri-putri Adam. Allah telah menetapkan atasmu apa yang Allah juga tetapkan atas mereka-mereka. Tetaplah dalam hajimu, semoga Allah memberi kesempatan umrah kepadamu.” ‘Aisyah mengatakan: Lalu kami keluar pada haji beliau sampai kami tiba di Mina, kemudian aku suci. Kemudian aku keluar dari Mina dan aku tawaf ifadah di Ka’bah. ‘Aisyah melanjutkan: Aku keluar bersama beliau pada nafar sani sampai beliau singgah di Muhashshab. Kami pun singgah bersama beliau. Nabi memanggil ‘Abdurrahman bin Abu Bakr, lalu bersabda, “Keluarlah dengan saudarimu dari tanah haram, lalu mulailah ihram untuk umrah. Apabila kalian berdua telah selesai, datanglah ke sini. Karena aku menunggu kalian berdua sampai kalian datang ke sini.” ‘Aisyah mengatakan: Kami pun keluar sampai ketika aku selesai dan telah selesai tawaf wadak, aku pun datang menemui beliau pada waktu sahur. Nabi bertanya, “Apakah kalian sudah selesai?” Aku menjawab: Iya. Maka Nabi mengumumkan kepada para sahabatnya untuk berangkat. Kemudian orang-orang berangkat pergi, kemudian berjalan menuju ke Madinah. Dhaira dari kata dhaara yadhiiru dhairan. Ada yang mengatakan: dhaara yadhuuru dhauran dan dharra yadhurru dharran.