Cari Blog Ini

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Alif sebagai Tanda Rafa'

نِيَابَةُ الۡأَلِفِ عَنِ الضَّمَّةِ: 
Penggantian Huruf Alif dari Harakat Damah: 
قَوۡلُهُ: (وَأَمَّا الۡأَلِفُ فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفۡعِ فِي تَثۡنِيَةِ الۡأَسۡمَاءِ خَاصَّةً). 
الۡأَلِفُ تَكُونُ عَلَامَةَ الرَّفۡعِ فِي مَوۡضِعٍ وَاحِدٍ فَقَطۡ: فِي تَثۡنِيَةِ الۡأَسۡمَاءِ، يَعۡنِي: فِي الۡمُثَنَّى مِنۡهَا، وَإِنَّمَا قَالَ الۡمُؤَلِّفُ: (مِنَ الۡأَسۡمَاءِ) لِبَيَانِ وَاقِعٍ؛ لِأَنَّ الۡأَفۡعَالَ لَا تُثَنَّى، وَأَمَّا قَوۡلُ الۡقَائِلِ: (الرَّجُلَانِ يَقُومَانِ)، فَـ(يَقُومَانِ) فِعۡلٌ، مَا ثُنِّيَ، لٰكِنۡ اتَّصَلَ بِهِ ضَمِيرُ التَّثۡنِيَةِ. 
Ucapan mualif, “Adapun huruf alif menjadi tanda untuk rafa’ pada isim mutsanna saja.”
Huruf alif menjadi tanda rafa’ pada satu tempat saja: pada isim tatsniyah, yakni isim mutsanna. Mualif hanya mengatakan, “isim” untuk menerangkan kenyataan karena fiil tidak bisa diduakan (tidak bisa dibuat mutsanna). Adapun ucapan orang, “الرُّجُلَانِ يَقُومَانِ (Dua pria itu sedang berdiri).” Maka “يَقُومَانِ” adalah fiil, tidak diduakan, hanya saja kata itu bersambung dengan dhamir tatsniyah
وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، فَالۡأَلِفُ تَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفۡعِ فِي تَثۡنِيَةِ الۡأَسۡمَاءِ خَاصَّةً، وَالۡمُثَنَّى مَا دَلَّ عَلَى اثۡنَيۡنِ أَوۡ اثۡنَتَيۡنِ، بِزِيَادَةٍ أَغۡنَتۡ عَنۡ مُتَعَاطِفَيۡنِ مُتَمَاثِلَيۡنِ. 
هَٰذَا هُوَ الۡمُثَنَّى، وَالۡمُلۡحَقُ بِالۡمُثَنَّى كَالۡمُثَنَّى، لَٰكِنَّ هَٰذَا تَعۡرِيفُ الۡمُثَنَّى الۡحَقِيقِيِّ، دُونَ الۡمُلۡحَقِ بِهِ. 
Bagaimanapun juga, huruf alif menjadi tanda rafa’ pada isim tatsniyah saja. Mutsanna adalah yang menunjukkan dua (baik muzakar atau muanas) dengan tambahan huruf yang dapat mencukupkan dari dua kata yang saling ‘athaf dan serupa. 
Ini adalah mutsanna. Dan isim yang mulhaq dengan mutsanna adalah seperti mutsanna. Tetapi, yang disebutkan di atas adalah pengertian mutsanna hakiki bukan mulhaq-nya. 
فَقَوۡلُنَا: (مَا دَلَّ عَلَى اثۡنَيۡنِ أَوِ اثۡنَتَيۡنِ) خَرَجَ بِهِ مَا دَلَّ عَلَى أَكۡثَرَ، وَمَا دَلَّ عَلَى أَقَلَّ فَهُوَ مُفۡرَدٌ، وَمَا دَلَّ عَلَى أَكۡثَرَ فَهُوَ جَمۡعٌ. 
إِذَنۡ: يَخۡرُجُ بِقَوۡلِنَا: (مَا دَلَّ عَلَى اثۡنَيۡنِ) الۡمُفۡرَدُ وَالۡجَمۡعُ. 
Ucapan kami, “Kata yang menunjukkan dua (baik muzakar atau muanas)” berarti mengeluarkan kata yang menunjukkan lebih dari dua dan kata yang menunjukkan kurang dari dua, yaitu mufrad. Kata yang menunjukkan lebih dari dua adalah jamak. 
Jadi ucapan kami, “Kata yang menunjukkan dua” berarti mengeluarkan mufrad dan jamak. 
وَقَوۡلُنَا: (بِزِيَادَةٍ) يَعۡنِي: لَا بُدَّ أَنۡ يَكُونَ هُنَاكَ زِيَادَةٌ عَلَى الۡمُفۡرَدِ لِتَحَقُّقِ التَّثۡنِيَةِ. 
فَمَثَلًا إِذَا قُلۡتَ: (زَيۡدٌ) زِدۡ إِلَيۡهِ أَلۡفًا وَنُونًا، وَقُلۡ: (زَيۡدَانِ)، احۡتِرَازًا مِمَّا دَلَّ عَلَى اثۡنَيۡنِ بِدُونِ زِيَادَةٍ مِثۡلُ: (اثۡنَيۡنِ) فَهَٰذِهِ لَيۡسَ فِيهَا زِيَادَةٌ؛ لِأَنَّهُ لَيۡسَ لَهَا مُفۡرَدٌ اسۡمٌ. وَلِهَٰذَا نَقُولُ: إِنَّ (اثۡنَيۡنِ)، (وَاثۡنَتَيۡنِ) مُلۡحَقَانِ بِالۡمُثَنَّىى وَلَيۡسَا مُثَنَّيَيۡنِ، وَمِنَ الۡغَرِيبِ أَنَّ (اثۡنَيۡنِ) وَ(اثۡنَتَيۡنِ) هُمَا أَصۡلُ الۡمُثَنَّى، وَلَيۡسَا مِنَ الۡمُثَنَّى حَقِيقَةً. 
Ucapan kami, “dengan tambahan”, yakni: harus ada tambahan huruf pada bentuk mufrad untuk mewujudkan jumlah dua. 
Contoh, jika engkau katakan, “زَيۡدٌ (Zaid)”, tambahkan huruf alif dan nun padanya dan katakan, “زَيۡدَانِ (Dua Zaid).” Hal ini untuk membedakan dari ungkapan yang menunjukkan dua tanpa ada tambahan, contoh: “اثۡنَيۡنِ”, maka ini tidak ada tambahan karena kata tersebut tidak memiliki bentuk mufrad yang berupa isim. Atas dasar ini, kita katakan bahwa “اثۡنَيۡنِ” dan “اثۡنَتَيۡنِ” adalah mulhaq dengan mutsanna dan keduanya bukan isim mutsanna. Namun anehnya bahwa “اثۡنَيۡنِ” dan “اثۡنَتَيۡنِ” adalah asal dari mutsanna namun keduanya bukan isim mutsanna yang hakiki. 
وَقَوۡلُنَا: (أَغۡنَتۡ عَنۡ مُتَعَاطِفَيۡنِ مُتَمَاثِلَيۡنِ) مِثۡلُ: (الزَّيۡدَانِ) أَغۡنَتۡ عَنۡ (زَيۡدٌ وَزَيۡدٌ)، فَتَقُولُ: (جَاءَ الزَّيۡدَانِ) بَدَلًا مِنۡ أَنۡ تَقُولَ: (جَاءَ زَيۡدٌ وَزَيۡدٌ)، وَتَقُولُ: (جَاءَ الۡمُحَمَّدَانِ) بَدَلًا مِنۡ: (جَاءَ مُحَمَّدٌ وَمُحَمَّدٌ)، وَتَقُولُ: (جَاءَ الۡعَلِيَّانِ)، بَدَلًا مِنۡ: (جَاءَ عَلِيٌّ وَعَلِيٌّ)، وَ(جَاءَ الۡعُمَرَانِ) إِنۡ أَرَدۡتَ (جَاءَ عُمَرُ وَعُمَرُ) فَهُمَا مُثَنًّى، وَإِنۡ قُصِدَ (أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ) فَهُمَا غَيۡرُ مُثَنًّى، لٰكِنَّهَا تُعۡرَبُ إِعۡرَابَ الۡمُثَنَّى؛ لِأَنَّهَا مُلۡحَقَةٌ بِهِ، لِأَنَّكَ إِذَا قُلۡتَ: (الۡعُمَرَانِ) وَأَنۡتَ تُرِيدُ (أَبَا بَكۡرٍ وَعُمَرَ) صَارَتۡ (الۡعُمَرَانِ) نَائِبَةً عَنِ اثۡنَيۡنِ غَيۡرِ مُتَمَاثِلَيۡنِ، حَيۡثُ نَابَتۡ عَنۡ (أَبِي بَكۡرٍ وَعُمَرَ). 
Dan ucapan kami, “Yang mencukupkan dari dua kata yang saling ‘athaf dan serupa.” Contoh “الزَّيۡدَانِ (Dua Zaid)” sudah cukup dari perkataan “زَيۡدٌ وَزَيۡدٌ (Zaid dan Zaid).” Sehingga engkau bisa katakan, “جَاءَ الزَّيۡدَانِ (Dua Zaid sudah datang)” sebagai ganti dari perkataanmu, “جَاءَ زَيۡدٌ وَزَيۡدٌ (Zaid dan Zaid sudah datang).” Engkau bisa mengatakan, “جَاءَ الۡمُحَمَّدَانِ (Dua Muhammad telah datang)” sebagai ganti dari “جَاءَ مُحَمَّدٌ وَمُحَمَّدٌ.” Engkau bisa mengatakan, “جَاءَ الۡعَلِيَّانِ (Dua ‘Ali telah datang)” sebagai ganti dari “جَاءَ عَلِيٌّ وَعَلِيٌّ.” Juga “جَاءَ الۡعُمَرَانِ”, jika engkau inginkan adalah “جَاءَ عُمَرُ وَعُمَرُ (‘Umar dan ‘Umar sudah datang)”, maka keduanya adalah mutsanna. Namun jika yang dimaksudkan adalah أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ (Abu Bakr dan ‘Umar), maka keduanya bukan mutsanna. Akan tetapi ia di-i’rab dengan i’rab mutsanna karena merupakan mulhaq-nya. Karena jika engkau katakan, “الۡعُمَرَانِ” sementara yang engkau maukan adalah Abu Bakr dan ‘Umar, maka الۡعُمَرَانِ sebagai pengganti dua hal yang tidak serupa karena ia menggantikan Abu Bakr dan ‘Umar. 
تَقُولُ: (قَالَ الۡأَبَوَانِ) فَإِنۡ قُلۡتَ: هُوَ مُلۡحَقٌ؛ قُلۡنَا: أَخۡطَأۡتَ، وَإِنۡ قُلۡتَ: مُثَنًّى؛ قُلۡنَا: أَخۡطَأۡتَ. فَلَا بُدَّ مِنۡ تَفۡصِيلٍ: إِنۡ أَرَدۡتَ (بِالۡأَبَوَانِ) (أَبٌ وَأَبٌ) فَهُوَ مُثَنًّى، وَإِنۡ أَرَدۡتَ (بِالۡأَبَوَيۡنِ) (الۡأُمَّ وَالۡأَبَ) فَهُوَ مُلۡحَقٌ بِالۡمُثَنَّى؛ لِأَنَّ (الۡأَبَوَيۡنِ) إِذَا أُرِيدَ بِهِمَا (الۡأَبُ وَالۡأُمُّ) لَمۡ تَكُنِ الزِّيَادَةُ قَدۡ أَغۡنَتۡ عَنۡ مُتَعَاطِفَيۡنِ مُتَمَاثِلَيۡنِ، بَلۡ عَنۡ مُتَعَاطِفَيۡنِ مُخۡتَلِفَيۡنِ؛ لِأَنَّ (الۡأَبَوَانِ) أَغۡنَتۡ عَنۡ (أَبٍ وَأُمٍّ). 
Engkau katakan, “قَالَ الۡأَبَوَانِ.” Jika engkau katakan bahwa kata itu mulhaq, maka kami katakan bahwa engkau salah. Dan jika engkau katakan bahwa kata itu mutsanna, maka kami juga katakan bahwa engkau salah. Karena harus ada perincian. Jika engkau inginkan dengan kata الۡأَبَوَانِ adalah ayah dan ayah, maka kata tersebut mutsanna. Dan jika yang engkau inginkan dengan الۡأَبَوَانِ adalah ibu dan ayah, maka kata itu adalah mulhaq dengan mutsanna. Karena الۡأَبَوَانِ, jika dimaukan ayah dan ibu, maka tambahan huruf pada kata tersebut tidak mencukupkan dari dua kata yang saling ‘athaf dan serupa, namun dari dua kata yang saling ‘athaf namun berbeda karena الۡأَبَوَانِ mencukupkan dari kata ayah dan ibu. 
(الۡقَمَرَانِ) إِنۡ قُلۡتَ: هُوَ مُلۡحَقٌ؛ أَخۡطَأۡتَ، وَإِنۡ قُلۡتَ: مُثَنًّى أَخۡطَأۡتَ؛ إِنۡ أَرَدۡتَ بِالۡقَمَرَانِ (قَمَرًا وَقَمَرًا) فَهَٰذَا مُثَنًّى، وَهَٰذَا يُمۡكِنُ أَنۡ يَكُونَ رَجُلَانِ جَمِيلَانِ، يَعۡنِي: أَنَّهُمَا كَجَمَالِ الۡبَدۡرِ. 
فَإِنۡ أَرَدۡتَ (بِالۡقَمَرَيۡنِ) (الشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ)، فَإِنَّهُ غَيۡرُ مُثَنًّى؛ لِأَنَّهُ أَغۡنَى عَنِ مُتَعَاطِفَيۡنِ غَيۡرِ مُتَمَاثِلَيۡنِ. 
“الۡقَمَرَانِ” jika engkau katakan bahwa ini mulhaq, maka engkau keliru. Dan jika engkau katakan bahwa ini mutsanna, maka engkau keliru. Jika engkau maukan dengan الۡقَمَرَانِ adalah bulan dan bulan, maka ini mutsanna. Dan kata ini juga mungkin berarti dua pria yang tampan, yakni: bahwa dua pria itu seindah purnama. 
Jika engkau maukan dengan الۡقَمَرَانِ adalah matahari dan bulan, maka ini bukan mutsanna karena kata itu mencukupkan dari dua kata yang saling ‘athaf namun tidak serupa. 
إِذَنۡ: فَالۡمُثَنَّى هُوَ مَا دَلَّ عَلَى اثۡنَيۡنِ، أَنِ اثۡنَتَيۡنِ بِزِيَادَةٍ أَغۡنَتۡ عَنۡ مُتَعَاطِفَيۡنِ مُتَمَاثِلَيۡنِ، وَمَا عَدَا ذٰلِكَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مُلۡحَقًا بِهِ، فَنَقُولُ: (ابۡنَانِ) مُثَنًّى، (اثۡنَانِ) مُلۡحَقٌ. 
Jadi, jika mutsanna adalah kata yang menunjukkan jumlah dua (baik muzakar atau muanas) dengan tambahan huruf yang mencukupkan dari dua kata yang saling ‘athaf dan serupa; dan apa yang selain itu maka merupakan mulhaq dengannya, maka kita katakan bahwa ابۡنَانِ mutsanna dan اثۡنَانِ adalah mulhaq
وَهَلۡ يَصِحُّ أَنۡ نَقُولَ (عِنۡدِي رَجُلٌ اثۡنٌ) بَدَلَ (عِنۡدِي رَجُلٌ وَاحِدٌ)؟ 
الۡجَوَابُ: لَا يَصِحُّ؛ إِذَنۡ (اثۡنَانِ وَاثۡنَتَانِ) مُلۡحَقٌ بِالۡمُثَنَّى. 
Apakah boleh kita katakan “عِنۡدِي رَجُلٌ اثۡنٌ” sebagai ganti dari “عِنۡدِي رَجُلٌ وَاحِدٌ”? 
Jawab: Tidak boleh. Jadi اثۡنَانِ dan اثۡنَتَانِ adalah mulhaq dengan mutsanna
وَمِنَ الۡمُلۡحَقِ بِالۡمُثَنَّى (كِلَا) وَ(كِلۡتَا) بِشَرۡطٍ: أَنۡ يُضَافَا إِلَى الضَّمِيرِ. 
قَالَ ابۡنُ مَالِكٍ –رَحِمَهُ اللهُ-: 
(كِلۡتَا) كَذَاكَ (اثۡنَانِ) وَ(اثۡنَتَانِ) كَـ(ابۡنَيۡنِ وَابۡنَتَيۡنِ يَجۡرِيَانِ) 
(اثۡنَانِ) وَ(اثۡنَتَانِ) لَا تُضَافُ، وَ(كِلَا) وَ(كِلۡتَا) تُضَافَانِ، لٰكِنۡ أَحۡيَانًا تُضَافَانِ إِلَى الضَّمِيرِ، وَأَحۡيَانًا تُضَافَانِ إِلَى الۡاسۡمِ الظَّاهِرِ، فَإِذَا أُضِيفَتۡ (كِلَا) وَ(كِلۡتَا) إِلَى الضَّمِيرِ صَارَتَا مُلۡحَقَتَيۡنِ بِالۡمُثَنَّى، وَإِنۡ أُضِيفَتَا إِلَى الۡاسۡمِ الظَّاهِرِ صَارَتَا مُعۡتَلَّتَيۡنِ، يَعۡنِي: تُعۡرَبَانِ إِعۡرَابَ الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ بِحَرَكَاتٍ مُقَدَّرَةٍ عَلَى الۡأَلِفِ. 
Termasuk kata yang mulhaq dengan mutsanna adalah كِلَا dan كِلۡتَا (keduanya) dengan satu syarat, yaitu: di-idhafah-kan kepada dhamir (kata ganti). 
Ibnu Malik rahimahullah berkata[1], “كِلۡتَا seperti itu pula اثۡنَانِ dan اثۡنَتَانِ diperlakukan dengan i’rab seperti ابۡنَيۡنِ dan ابۡنَتَيۡنِ.” 
اثۡنَانِ dan اثۡنَتَانِ tidak di-idhafah, sementara كِلَا dan كِلۡتَا di-idhafah. Tetapi kadang-kadang di-idhafah kepada dhamir (kata ganti) dan kadang-kadang di-idhafah kepada isim zhahir. Maka, jika كِلَا dan كِلۡتَا di-idhafah kepada dhamir, jadilah mulhaq dengan mutsanna. Dan jika keduanya di-idhafah kepada isim zhahir, jadilah dua isim yang mu’tall, yakni: di-i’rab dengan i’rab isim mufrad menggunakan harakat yang tersembunyi pada huruf alif. 
إِذَنۡ أَوَّلًا: (كِلَا) وَ(كِلۡتَا)، لَا تُسۡتَعۡمَلَانِ إِلَّا بِالۡإِضَافَةِ. 
ثَانِيًا: (كِلَا) وَ(كِلۡتَا) تُضَافَانِ إِلَى الضَّمِيرِ. 
ثَالِثًا: (كِلَا) وَ(كِلۡتَا) تُضَافَانِ إِلَى الظَّاهِرِ. 
إِذَا أُضِيفَتَا إِلَى الضَّمِيرِ، فَهُمَا مُلۡحَقَتَانِ بِالۡمُثَنَّى، وَإِذَا أُضِيفَتَا إِلَى الظَّاهِرِ، أُعۡرِبَتَا إِعۡرَابَ الۡاسۡمِ الۡمُفۡرَدِ بِحَرَكَاتٍ مُقَدَّرَةٍ عَلَى الۡأَلِفِ. 
Jadi, pertama: كِلَا dan كِلۡتَا tidak digunakan kecuali dengan idhafah
Kedua: كِلَا dan كِلۡتَا bisa di-idhafah kepada dhamir
Ketiga: كِلَا dan كِلۡتَا bisa di-idhafah kepada isim zhahir
Jika di-idhafah kepada dhamir, maka menjadi mulhaq dengan mutsanna. Dan jika di-idhafah kepada isim zhahir, engkau i’rab dengan i’rab isim mufrad dengan harakat yang tersembunyi pada huruf alif. 
أَمۡثِلَةٌ: (جَاءَنِي الرَّجُلَانِ كِلَاهُمَا) هَٰذِهِ مُلۡحَقَةٌ بِالۡمُثَنَّى؛ لِأَنَّهَا أُضِيفَتۡ إِلَى الضَّمِيرِ، (جَاءَتِ الۡمَرۡأَتَانِ كِلۡتَاهُمَا) مُلۡحَقٌ بِالۡمُثَنَّى؛ لِأَنَّهَا مُضَافَةٌ إِلَى الضَّمِيرِ. 
Contoh-contoh: “جَاءَنِي الرَّجُلَانِ كِلَاهُمَا (Dua pria itu, keduanya, telah datang kepadaku).” Ini mulhaq dengan mutsanna karena di-idhafah kepada dhamir. “جَاءَتِ الۡمَرۡأَتَانِ كِلۡتَاهُمَا (Dua wanita itu, keduanya, telah datang).” Mulhaq dengan mutsanna karena di-idhafah kepada dhamir
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿كِلۡتَا الۡجَنَّتَيۡنِ ءَاتَتۡ أُكُلَهَا﴾ [الكهف: ٣٣]، (كِلۡتَا): غَيۡرُ مُلۡحَقَةٍ بِالۡمُثَنَّى؛ لِأَنَّهَا أُضِيفَتۡ إِلَى اسۡمٍ ظَاهِرٍ، وَلِهَٰذَا عِنۡدَمَا أَعۡرِبُ أَقُولُ: 
(كِلۡتَا): مَبۡتَدَأٌ مَرۡفُوعٌ بِضَمَّةٍ مُقَدَّرَةٍ عَلَى الۡأَلِفِ، مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ، وَ(كِلۡتَا): مُضَافٌ، وَ(الۡجَنَّتَيۡنِ): مُضَافٌ إِلَيۡهِ، وَ(الۡجَنَّتَيۡنِ) دَلَّتۡ عَلَى اثۡنَتَيۡنِ بِزِيَادَةٍ، أَغۡنَتۡ عَنۡ مُتَعَاطِفَيۡنِ مُتَمَاثِلَيۡنِ؛ لِأَنَّ الۡمُفۡرَدَ (جَنَّةٌ، وَجَنَّةٌ)؛ فَهِيَ مُثَنًّى. 
إِذَنۡ (كِلۡتَا): غَيۡرُ مُثَنًّى، وَلَا مُلۡحَقٌ بِهِ، وَ(الۡجَنَّتَيۡنِ): مُثَنًّى حَقِيقَةً. 
Allah taala berfirman, “كِلۡتَا الۡجَنَّتَيۡنِ ءَاتَتۡ أُكُلَهَا (Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya).” (QS. Al-Kahfi: 33). كِلۡتَا adalah mudhaf dan الۡجَنَّتَيۡنِ adalah mudhaf ilaih. الۡجَنَّتَيۡنِ menunjukkan bilangan dua dengan tambahan yang mencukupkan dari dua kata yang saling ‘athaf dan serupa, karena bentuk mufradnya جَنَّةٌ وَجَنَّةٌ. Sehingga kata ini adalah mutsanna
Jadi كِلۡتَا di ayat tersebut bukan mutsanna, bukan pula mulhaq dengannya. الۡجَنَّتَيۡنِ adalah mutsanna hakiki. 
لَوۡ قُلۡتَ: (قَرَأَ الطَّالِبَيۡنِ) فَهَٰذَا خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ (قَرَأَ الطَّالِبَانِ) لِأَنَّهَا تُرۡفَعُ بِالۡأَلِفِ. 
وَلَوۡ قُلۡتَ: (يُعۡجِبُنِي الۡمُهَذَّبَيۡنِ) فَهَٰذَا خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ (يُعۡجِبُنِي الۡمُهَذَّبَانِ)، لِأَنَّهُ فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ مُثَنًّى. 
وَلَوۡ قُلۡتَ: (قَامَ الرَّجُلَيۡنِ) فَهَٰذَا خَطَأٌ، وَالصَّوَابُ (قَامَ الرَّجُلَانِ)، لِأَنَّهُ فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ مُثَنًّى. 
وَلَوۡ قُلۡتَ: (اجۡتَهَدَ الطَّالِبَانِ) فَصَوَابٌ. 
لَوۡ قُلۡتَ: (سُرِقَ الۡكِتَابَانِ) فَصَوَابٌ، لِأَنَّهُ نَائِبُ فَاعِلٍ مَرۡفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ لِأَنَّهُ مُثَنًّى. 
Kalau engkau katakan, “قَرَأَ الطَّالِبَيۡنِ”, maka ini keliru. Yang benar adalah “قَرَأَ الطَّالِبَانِ (Dua murid itu telah membaca)” karena di-rafa’ dengan huruf alif. 
Kalau engkau katakan, “يُعۡجِبُنِي الۡمُهَذَّبَيۡنِ”, maka ini keliru. Yang benar adalah “يُعۡجِبُنِي الۡمُهَذَّبَانِ (Dua orang yang sopan itu menarik hatiku)” karena الۡمُهَذَّبَانِ merupakan fa’il yang di-rafa’. Tanda rafa’-nya adalah huruf alif sebagai ganti dari harakat damah karena mutsanna
Kalau engkau katakan, “قَامَ الرَّجُلَيۡنِ”, maka ini keliru. Yang benar adalah “قَامَ الرَّجُلَانِ (Dua pria itu telah berdiri)” karena الرَّجُلَانِ merupakan fa’il yang di-rafa’. Tanda rafa’-nya adalah huruf alif sebagai ganti dari harakat damah karena mutsanna
Kalau engkau katakan, “اجۡتَهَدَ الطَّالِبَانِ (Dua murid itu bersungguh-sungguh),” maka ini benar. 
Kalau engkau katakan, “سُرِقَ الۡكِتَابَانِ (Dua kitab itu telah dicuri)” maka ini benar. Karena الۡكِتَابَانِ adalah naib fa’il yang di-rafa’. Tanda rafa’-nya adalah huruf alif sebagai ganti dari harakat damah karena mutsanna
قَاعِدَةٌ: كُلُّ شَيۡءٍ أُعۡرِبَ إِعۡرَابَ الۡمُثَنَّى، وَلَمۡ تَنۡطَبِقۡ عَلَيۡهِ شُرُوطُهُ، فَهُوَ مُلۡحَقٌ بِالۡمثَنَّى. 
Kaidah: Setiap yang di-i’rab dengan i’rab mutsanna tetapi syarat-syarat mutsanna tidak cocok padanya, maka kata itu adalah mulhaq dengan mutsanna
تَدۡرِيبَاتٌ عَلَى الۡإِعۡرَابِ: 
Latihan i’rab
(جَاءَ الۡعُمَرَانِ أَبُوبَكۡرٍ وَعُمَرُ). 
(جَاءَ): فِعۡلٌ مَاضٍ. 
(الۡعُمَرَانِ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ بِالۡأَلِفِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مُلۡحَقٌ بِالۡمُثَنَّى. 
(أَبُو بَكۡرٍ): بَدَلٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ، وَ(أَبُو) مُضَافٌ، وَ(بَكۡرٍ) مُضَافٌ إِلَيۡهِ. 
(وَعُمَرُ): مَعۡطُوفَةٌ عَلَى (أَبُو) مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الضَّمَّةُ. 
“جَاءَ الۡعُمَرَانِ أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ (Dua ‘Umar, yaitu Abu Bakr dan ‘Umar, telah datang).” 
جَاءَ adalah fiil madhi
الۡعُمَرَانِ adalah fa’il yang di-rafa’ dengan huruf alif sebagai ganti dari harakat damah karena mulhaq dengan mutsanna
أَبُو بَكۡرٍ adalah badal yang di-rafa’. Tanda rafa’-nya adalah huruf wawu sebagai ganti dari harakat damah karena termasuk al-asma` al-khamsah. أَبُو adalah mudhaf dan بَكۡرٍ adalah mudhaf ilaih
وَعُمَرُ di-‘athaf kepada أَبُو, di-rafa’. Tanda rafa’-nya adalah harakat damah. 
(قَامَتِ الۡمَرۡأَتَانِ). 
(قَامَتِ): (قَامَ): فِعۡلٌ مَاضٍ، وَ(التَّاءُ): تَاءُ التَّأۡنِيثِ. 
(الۡمَرۡأَتَانِ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ بِالۡأَلِفِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مُثَنًّى. 
“قَامَتِ الۡمَرۡأَتَانِ (Dua wanita itu telah berdiri).” 
قَامَتِ: “قَامَ” adalah fiil madhi dan huruf ta adalah ta ta`nits
الۡمَرۡأَتَانِ adalah fa’il yang di-rafa’ dengan huruf alif sebagai ganti dari harakat damah karena mutsanna
(غَرَّزَتِ السَّيَّارَتَيۡنِ). 
(غَرَّزَت): (غَرَّزَ): فِعۡلٌ مَاضٍ، وَ(التَّاءُ): تَاءُ التَّأۡنِيثِ. 
(السَّيَّارَتَيۡنِ): خَطَأٌ؛ لِأَنَّ الۡمُثَنَّى يُرۡفَعُ بِالۡأَلِفِ فَالصَّوَابُ (السَّيَّارَتَانِ)، إِذَنۡ نَقُولُ: (السَّيَّارَتَانِ) فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡأَلِفُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مُثَنًّى. 
“غَرَّزَتِ السَّيَّارَتَيۡنِ.” 
غَرَّزَت: “غَرَّزَ (terperosok)” adalah fiil madhi dan huruf ta adalah ta ta`nits
السَّيَّارَتَيۡنِ keliru karena mutsanna di-rafa’ dengan huruf alif. Jadi yang benar adalah السَّيَّارَتَانِ. Jadi kami katakan, “السَّيَّارَتَانِ” adalah fa’il yang di-rafa’. Tanda rafa’-nya adalah huruf alif sebagai ganti dari harakat damah karena mutsanna
(اسۡتَنَارَ الۡقَمَرَانِ). 
(اسۡتَنَارَ): فِعۡلٌ مَاضٍ. 
(الۡقَمَرَانِ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ بِالۡأَلِفِ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مُلۡحَقٌ بِالۡمُثَنَّى؛ لِأَنَّ (الۡقَمَرَانِ) الۡمَقۡصُودُ بِهِمَا الشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ. 
“اسۡتَنَارَ الۡقَمَرَانِ (Dua bulan itu bersinar).” 
اسۡتَنَارَ adalah fiil madhi. الۡقَمَرَانِ adalah fa’il yang di-rafa’ dengan huruf alif sebagai ganti dari harakat damah karena mulhaq dengan mutsanna. Karena yang dimaksudkan dengan الۡقَمَرَانِ adalah matahari dan bulan. 

[1] Al-Alfiyah, bab Mu’rab dan Mabni, bait nomor 33.