Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5251

وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحۡصُوا الۡعِدَّةَ﴾ [الطلاق: ١] 
Dan firman Allah taala (yang artinya), “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu idah itu.” (QS. Ath-Thalaq: 1). 

١ – بَابٌ 
1. Bab 

﴿أَحۡصَيۡنَاهُ﴾ [يس: ١٢]: حَفِظۡنَاهُ وَعَدَدۡنَاهُ. وَطَلَاقُ السُّنَّةِ: أَنۡ يُطَلِّقَهَا طَاهِرًا مِنۡ غَيۡرِ جِمَاعٍ، وَيُشۡهِدَ شَاهِدَيۡنِ. 
“أَحۡصَيۡنَاهُ” (QS. Yasin: 12) yaitu Kami menyimpannya dan menghitungnya. Talak sunah adalah seseorang menceraikan istrinya dalam keadaan suci belum digauli (pada masa sucinya) dan dia mempersaksikan kepada dua orang saksi. 
٥٢٥١ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّهُ طَلَّقَ امۡرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَسَأَلَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مُرۡهُ فَلۡيُرَاجِعۡهَا، ثُمَّ لِيُمۡسِكۡهَا حَتَّى تَطۡهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطۡهُرَ، ثُمَّ إِنۡ شَاءَ أَمۡسَكَ بَعۡدُ، وَإِنۡ شَاءَ طَلَّقَ قَبۡلَ أَنۡ يَمَسَّ، فَتِلۡكَ الۡعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنۡ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ). [طرفه في: ٤٩٠٨]. 
5251. Isma’il bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa beliau telah menceraikan istrinya dalam keadaan haid di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ‘Umar bin Al-Khaththab bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suruh dia agar merujuk istrinya kemudian menahannya sampai suci. Kemudian haid, kemudian suci. Baru setelah itu jika dia mau, dia tetap menahan (tidak menceraikan). Dan jika dia mau, dia menceraikan istrinya sebelum menggauli. Itu adalah waktu (istri dapat menghadapi) idah (yang wajar) yang telah diperintahkan Allah apabila hendak menceraikan para istri.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar