Cari Blog Ini

Keridaan Allah

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah di dalam kitab Lum'atul I'tiqad berkata,

وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُ ۚ﴾ [المائدة: ١١٩].
Firman Allah taala yang artinya, “Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. Al-Ma`idah: 119).[1]


Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah di dalam syarahnya berkata,

[1] الصِّفَةُ الۡخَامِسَةُ: الرِّضَى: 

الرِّضَى مِنۡ صِفَاتِ اللهِ الثَّابِتَةِ لَهُ بِالۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجۡمَاعِ السَّلَفِ. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُ ۚ﴾ [المائدة: ١١٩]. 

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إنَّ اللهَ لَيَرۡضَى عَنِ الۡعَبۡدِ أَنۡ يَأۡكُلَ الۡأَكۡلَةَ فَيَحۡمَدَهُ عَلَيۡهَا أَوۡ يَشۡرَبَ الشَّرۡبَةَ فَيَحۡمَدَهُ عَلَيۡهَا). رواه مسلم. 

وَأَجۡمَعَ السَّلَفُ عَلَى إِثۡبَاتِ الرِّضَى لِلهِ تَعَالَى فَيَجِبُ إِثۡبَاتُهُ لَهُ مِنۡ غَيۡرِ تَحۡرِيفٍ وَلَا تَعۡطِيلٍ وَلَا تَكۡيِيفٍ وَلَا تَمۡثِيلٍ. 

وَهُوَ رِضَى حَقِيقِيٌّ يَلِيقُ بِاللهِ تَعَالَى. 

وَقَدۡ فَسَّرَهُ أَهۡلُ التَّعۡطِيلِ بِالثَّوَابِ وَنَرُدُّ عَلَيۡهِمۡ بِمَا سَبَقَ فِي الۡقَاعِدَةِ الرَّابِعَةِ. 

Sifat kelima: Rida. 

Rida termasuk sifat Allah yang pasti Allah miliki berdasarkan Alquran, sunah, dan kesepakatan salaf. 

Allah taala berfirman yang artinya, “Allah rida kepada mereka dan mereka rida kepada-Nya.” (QS. Al-Ma`idah: 119). 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah rida terhadap hamba yang menyantap makanan, lalu dia memuji Allah atas makanan itu. Atau meminum minuman lalu dia memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim nomor 2734). 

Para salaf sepakat menetapkan sifat rida bagi Allah taala. 

Maka, wajib menetapkan sifat rida bagi Allah tanpa tahrif (menyelewengkan maknanya), ta’thil (menolaknya), takyif (mempertanyakan bagaimananya), dan tamtsil (menyerupakannya dengan sifat makhluk). 

Itu adalah sifat rida yang hakiki yang layak untuk Allah taala. 

Para penolak sifat menafsirkannya dengan pahala, namun kita bantah mereka dengan kaidah keempat yang telah berlalu.