Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7418

٢٢ - بَابُ ﴿وَكَانَ عَرۡشُهُ عَلَى الۡمَاءِ﴾ [هود: ٧]
22. Bab “Dan arasy-Nya di atas air” (QS Hud: 7)


﴿وَهُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيمِ﴾ [التوبة: ١٢٩].

“Dan Dia adalah Rab arasy yang agung.” (QS At-Taubah: 129).

قَالَ أَبُو الۡعَالِيَةِ: ﴿اسۡتَوَى إِلَى السَّمَاءِ﴾ ارۡتَفَعَ. ﴿فَسَوَّاهُنَّ﴾ [البقرة: ٢٩] خَلَقَهُنَّ.

Abu Al-‘Aliyah berkata, “istawā ilas-samā’” artinya naik (ke langit). “Fasawwāhunna” (QS Al-Baqarah: 29) artinya Dia menciptakan mereka.

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: ﴿اسۡتَوَى﴾ عَلَا ﴿عَلَى الۡعَرۡشِ﴾ [الأعراف: ٥٤]،

Mujahid berkata, “Istawā, artinya tinggi, di atas arasy.” (QS Al-A’raf: 54).

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿الۡمَجِيدُ﴾ [البروج: ١٥]: الۡكَرِيمُ، ﴿وَالۡوَدُودُ﴾ [البروج: ١٤] الۡحَبِيبُ، يُقَالُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، كَأَنَّهُ فَعِيلٌ مِنۡ مَاجِدٍ، مَحۡمُودٌ مِنۡ حَمِيدٍ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Al-Majīd (QS Al-Buruj: 15) artinya Al-Karīm (Maha Mulia). Al-Wadūd (QS Al-Buruj: 14) artinya Al-Ḥabīb (Maha Pengasih). Dikatakan, “ḥamīdun majīd,” seakan-akan kata majīd diambil dari wazan fa‘īl kata mājid, maḥmūd dari ḥamīd.

٧٤١٨ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ، عَنۡ أَبِي حَمۡزَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ جَامِعِ بۡنِ شَدَّادٍ، عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ مُحۡرِزٍ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ قَالَ: إِنِّي عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ إِذۡ جَاءَهُ قَوۡمٌ مِنۡ بَنِي تَمِيمٍ، فَقَالَ: (اقۡبَلُوا الۡبُشۡرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ). قَالُوا: بَشَّرۡتَنَا فَأَعۡطِنَا، فَدَخَلَ نَاسٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡيَمَنِ، فَقَالَ: (اقۡبَلُوا الۡبُشۡرَى يَا أَهۡلَ الۡيَمَنِ، إِذۡ لَمۡ يَقۡبَلۡهَا بَنُو تَمِيمٍ). قَالُوا: قَبِلۡنَا، جِئۡنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّينِ، وَلِنَسۡأَلَكَ عَنۡ أَوَّلِ هٰذَا الۡأَمۡرِ مَا كَانَ، قَالَ: (كَانَ اللهُ وَلَمۡ يَكُنۡ شَيۡءٌ قَبۡلَهُ، وَكَانَ عَرۡشُهُ عَلَى الۡمَاءِ، ثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالۡأَرۡضَ، وَكَتَبَ فِي الذِّكۡرِ كُلَّ شَيۡءٍ). ثُمَّ أَتَانِي رَجُلٌ فَقَالَ: يَا عِمۡرَانُ أَدۡرِكۡ نَاقَتَكَ فَقَدۡ ذَهَبَتۡ، فَانۡطَلَقۡتُ أَطۡلُبُهَا، فَإِذَا السَّرَابُ يَنۡقَطِعُ دُونَهَا، وَايۡمُ اللهِ لَوَدِدۡتُ أَنَّهَا قَدۡ ذَهَبَتۡ وَلَمۡ أَقُمۡ. [طرفه في: ٣١٩٠].

7418. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami dari Abu Hamzah, dari Al-A’masy, dari Jami’ bin Syaddad, dari Shafwan bin Muhriz, dari ‘Imran bin Hushain. Beliau berkata:

Sesungguhnya aku berada di dekat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika suatu kaum dari bani Tamim mendatanginya. Nabi berkata, “Terimalah kabar gembira, wahai bani Tamim!”

Mereka berkata, “Engkau sudah memberi kabar gembira kepada kami, sekarang berilah kami (harta).”

Lalu orang-orang dari penduduk Yaman masuk. Nabi berkata, “Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena bani Tamim tidak mau menerimanya.”

Orang-orang itu berkata, “Kami terima. Kami datang kepadamu supaya bisa mendalami ilmu agama dan bertanya kepadamu tentang awal penciptaan alam semesta.”

Nabi berkata, “Tidak ada sesuatu pun sebelum Allah dan arasy Allah di atas air, kemudian Allah menciptakan langit dan bumi, dan Allah menulis takdir segala sesuatu di lauh mahfuz.”

Kemudian seorang pria mendatangiku lalu berkata, “Wahai ‘Imran, susullah untamu karena dia telah pergi.”

Aku pergi mencarinya, ternyata jaraknya sudah melebihi fatamorgana. Demi Allah, aku benar-benar sangat ingin bahwa unta telah pergi dan aku tidak bangkit (dari majelis bersama Nabi).