Cari Blog Ini

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Hukum Mustatsna dengan Huruf Illa (1)

حُكۡمُ الۡمُسۡتَثۡنَى بِـ(إِلَّا)

قَالَ: فَالۡمُسۡتَثۡنَى بِإِلَّا يُنۡصَبُ إِذَا كَانَ الۡكَلَامُ تَامًّا مُوجَبًا، نَحۡوُ: (قَامَ الۡقَوۡمُ إِلَّا زَيۡدًا)، وَ(خَرَجَ النَّاسُ إِلَّا عَمۡرًا)، وَإِنۡ كَانَ الۡكَلَامُ مَنۡفِيًّا تَامًّا جَازَ فِيهِ الۡبَدَلُ وَالنَّصۡبُ عَلَى الۡإِسۡتِثۡنَاءِ، نَحۡوُ: (مَا قَامَ الۡقَوۡمُ إِلَّا زَيۡدٌ وَإِلَّا زَيۡدًا)، وَإِنۡ كَانَ الۡكَلَامُ نَاقِصًا كَانَ عَلَى حَسَبِ الۡعَوَامِلِ، نَحۡوُ: (مَا قَامَ إِلَّا زَيۡدٌ)، وَ(مَا ضَرَبۡتُ إِلَّا زَيۡدًا)، وَ(مَا مَرَرۡتُ إِلَّا بِزَيۡدٍ).
Ibnu Ajrum berkata: Mustatsna dengan إِلَّا (illa) dinashab jika kalimatnya sempurna dan positif, contoh: قَامَ الۡقَوۡمُ إِلَّا زَيۡدًا dan خَرَجَ النَّاسُ إِلَّا عَمۡرًا. Jika kalimatnya negatif sempurna, maka boleh badal atau nashab karena istitsna`, contoh: مَا قَامَ الۡقَوۡمُ إِلَّا زَيۡدٌ وَإِلَّا زَيۡدًا. Dan jika kalimatnya tidak sempurna, maka sesuai dengan 'amilnya, contoh: مَا قَامَ إِلَّا زَيۡدٌ, مَا ضَرَبۡتُ إِلَّا زَيۡدًا, dan مَا مَرَرۡتُ إِلَّا بِزَيۡدٍ.
أَقُولُ: الۡإِسۡمُ الۡوَاقِعُ بَعۡدَ (إِلَّا) لَهُ -مِنۡ حَيۡثُ الۡإِعۡرَابِ- ثَلَاثُ حَالَاتٍ:
الۡحَالَةُ الۡأُولَى: وُجُوبُ النَّصۡبِ عَلَى الۡإِسۡتِثۡنَاءِ.
الۡحَالَةُ الثَّانِيَةُ: جَوَازُ النَّصۡبِ عَلَى الۡإِسۡتِثۡنَاءِ أَوۡ إِتۡبَاعِهِ لِمَا قَبۡلَ (إِلَّا)، عَلَى أَنَّهُ بَدَلٌ مِنۡهُ، وَهُوَ الۡأَرۡجَحُ.
الۡحَالَةُ الثَّالِثَةُ: وُجُوبُ إِعۡرَابِهِ عَلَى حَسَبِ الۡعَوَامِلِ الَّتِي قَبۡلَ (إِلَّا).
Ahmad bin Tsabit bin Sa'id Al-Wushabi berkata: Isim yang terletak setelah إِلَّا -dari sisi i'rabnya- memiliki tiga keadaan: 
  1. wajib nashab karena istitsna` 
  2. boleh nashab karena istitsna` atau boleh mengikutkannya kepada isim sebelum إِلَّا sebagai badal dan ini yang paling kuat 
  3. wajib dii'rab sesuai dengan 'amil sebelum إِلَّا. 
فَأَمَّا الۡحَالَةُ الۡأُولَى -وَهِيَ وُجُوبُ نَصۡبِهِ عَلَى الۡإِسۡتِثۡنَاءِ- فَشَرۡطُهَا أَنۡ يَكُونَ الۡكَلَامُ الَّذِي قَبۡلَ (إِلَّا) تَامًّا مُوجَبًا، بِفَتۡحِ الۡجِيمِ. وَمَعۡنَى كَوۡنِ الۡكَلَامِ (تَامًّا): أَنۡ يُذۡكَرَ فِيهِ الۡمُسۡتَثۡنَى مِنۡهُ. وَمَعۡنَى كَوۡنِهِ (مُوجَبًا): أَنۡ يَكُونَ مُثۡبَتًا. أَيۡ: لَمۡ يَتَقَدَّمَهُ نَفۡيٌ وَلَا شِبۡهُهُ وَهُوَ النَّهۡيُ وَالۡإِسۡتِفۡهَامُ نَحۡوُ: (قَامَ الۡقَوۡمُ إِلَّا زَيۡدًا) وَ(خَرَجَ النَّاسُ إِلَّا عَمۡرًا) فَكُلٌّ مِنۡ (زَيۡدًا وَعَمۡرًا) مَنۡصُوبٌ وُجُوبًا عَلَى الۡإِسۡتِثۡنَاءِ؛ لِأَنَّ الۡكَلَامَ الۡمُتَقَدِّمَ تَامٌّ مُوجَبٌ. أَمَّا كَوۡنُهُ (تَامًّا) فَلِأَنَّهُ ذُكِرَ فِيهِ الۡمُسۡتَثۡنَى مِنۡهُ وَهُوَ (الۡقَوۡمُ) فِي الۡمِثَالِ الۡأَوَّلِ، وَ(النَّاسُ) فِي الۡمِثَالِ الثَّانِي. وَأَمَّا كَوۡنُهُ (مُوجَبًا)؛ فَلِأَنَّهُ لَمۡ يُسۡبَقۡ بِنَفۡيٍ وَلَا شِبۡهِهِ.
Adapun keadaan pertama -yaitu wajib nashab karena istitsna`-, syaratnya adalah kalimat sebelum إِلَّا harus sempurna dan positif. Makna kalimat itu harus sempurna adalah mustatsna minhu disebutkan padanya. Dan makna kalimat itu positif adalah bahwa kalimat itu ditetapkan. Yakni: tidak didahului nafi (peniadaan) dan yang menyerupai nafi seperti nahi (larangan) dan istifham (pertanyaan). Contoh: قَامَ الۡقَوۡمُ إِلَّا زَيۡدًا dan خَرَجَ النَّاسُ إِلَّا عَمۡرًا. Maka setiap dari زَيۡدً dan عَمۡرًا wajib dinashab karena istitsna`, karena kalimat sebelum إِلَّا adalah sempurna dan positif. Adapun sempurna karena disebutkan di dalam kalimat tersebut mustatsna minhu nya, yaitu الۡقَوۡمُ pada contoh pertama dan النَّاسُ pada contoh kedua. Adapun positif karena kalimat contoh tersebut tidak didahului oleh nafi atau yang menyerupai nafi.
وَمِثَالُهُ مِنَ الۡقُرۡآنِ الۡكَرِيمِ قَوۡلُهُ جَلَّ شَأۡنُهُ: ﴿قُمِ الَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلًا﴾ [المزمل: ٢] فَـ(قَلِيلًا) مَنۡصُوبٌ وُجُوبًا عَلَى الۡإِسۡتِثۡنَاءِ؛ لِأَنَّهُ مُسۡتَثۡنَى مِنۡ كَلَامٍ تَامٍّ مُوجَبٍ.
Contoh dari Al-Qur`anul Karim adalah firman Allah jalla sya`nuhu: قُمِ الَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلًا (QS. Al-Muzzammil: 2). Maka قَلِيلًا wajib dinashab karena istitsna`. Karena قَلِيلًا merupakan mustatsna dari kalimat sempurna dan positif.
وَأَمَّا الۡحَالَةُ الثَّانِيَةُ -وَهِيَ جَوَازُ الۡوَجۡهَيۡنِ- فَشَرۡطُهَا: أَنۡ يَكُونَ الۡكَلَامُ الۡمُتَقَدِّمُ تَامًّا غَيۡرَ مُوجَبٍ، أَيۡ: غَيۡرَ مُثۡبَتٍ بِأَنۡ تَقَدَّمَهُ نَفۡيٌ أَوۡ شِبۡهُهُ نَحۡوُ: (مَا قَامَ الۡقَوۡمُ إِلَّا زَيۡدٌ) أَوۡ (إِلَّا زَيۡدًا) فَـ(زَيۡدٌ) بِالرَّفۡعِ بَدَلٌ مِنۡ (الۡقَوۡمُ) بَدَلُ بَعۡضٍ مِنۡ كُلٍّ، وَبَدَلُ الۡمَرۡفُوعِ مَرۡفُوعٌ مِثۡلُهُ. وَ(زَيۡدًا) بِالنَّصۡبِ عَلَى الۡإِسۡتِثۡنَاءِ وَالۡأَوَّلُ أَرۡجَحُ، وَإِنَّمَا جَازَ الۡأَمۡرَانِ؛ لِأَنَّ الۡكَلَامَ السَّابِقَ تَامٌّ غَيۡرُ مُوجَبٍ. أَمَّا كَوۡنُهُ (تَامًّا) فَلِأَنَّهُ ذُكِرَ فِيهِ الۡمُسۡتَثۡنَى مِنۡهُ وَهُوَ (الۡقَوۡمُ). وَأَمَّا كَوۡنُهُ (غَيۡرَ مُوجَبٍ) فَلِأَنَّهُ مَنۡفِيٌّ بِـ(مَا) النَّافِيَةِ.
Adapun keadaan kedua -yaitu boleh dua keadaan- syaratnya adalah kalimat yang sebelum إِلَّا adalah sempurna dan tidak positif. Artinya: tidak ditetapkan karena didahului oleh nafi atau yang serupa nafi. Contoh: مَا قَامَ الۡقَوۡمُ إِلَّا زَيۡدٌ atau إِلَّا زَيۡدًا. Maka زَيۡدٌ dengan rafa' adalah badal dari الۡقَوۡمُ, badal ba'dh min kull (sebagian dari seluruhnya), dan badal marfu' adalah marfu' pula semisalnya. Dan زَيۡدًا dengan nashab karena istitsna`. Dan yang pertama lebih kuat. Namun keduanya boleh. Karena kalimat yang sebelumnya adalah sempurna dan tidak positif. Adapun kalimat tersebut sempurna karena telah disebutkan mustatsna minhu nya, yaitu الۡقَوۡمُ. Adapun kalimat tersebut tidak positif karena dinafikan dengan sebab مَا (maa naafiyah).
وَمِثَالُهُ مِنَ التَّنۡزِيلِ قَوۡلُهُ جَلَّ ذِكۡرُهُ: ﴿مَّا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِّنۡهُمۡ﴾ [النساء: ٦٦] قَرَأَ السَّبۡعَةُ إِلَّا ابۡنَ عَامِرٍ (إِلَّا قَلِيلٌ) بِالرَّفۡعِ عَلَى أَنَّهُ بَدَلٌ مِنَ الۡوَاوِ فِي (فَعَلُوهُ) بَدَلُ بَعۡضٍ مِنۡ كُلٍّ، وَقَرَأَ ابۡنُ عَامِرٍ وَحۡدَهُ (إِلَّا قَلِيلًا) بِالنَّصۡبِ عَلَى الۡإِسۡتِثۡنَاءِ، وَالۡأَوَّلُ أَرۡجَحُ كَمَا تَقَدَّمَ.
Contoh dari At-Tanzil adalah firman Allah jalla dzikruhu: مَّا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِّنۡهُمۡ (QS. An-Nisa`: 66). Tujuh ahli qira`ah kecuali Ibnu 'Amir membacanya dengan إِلَّا قَلِيلٌ dengan rafa' sebagai badal dari huruf wawu di kata فَعَلُوهُ yaitu badal ba'dh min kull. Dan hanya Ibnu 'Amir sendiri yang membaca dengan إِلَّا قَلِيلًا dengan nashab karena istitsna`. Dan bacaan pertama lebih kuat sebagaimana yang telah lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar