Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Muqaddimah (4)

إِعۡلَمۡ - أَرۡشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِ -:أَنَّ الۡحَنِيفِيَّةَ مِلَّةَ إِبۡرَاهِيمَ أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ وَحۡدَهُ مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ.كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ﴾ [الذاريات: ٥٦].
Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk mentaatiNya, bahwa agama yang lurus -agama Ibrahim- adalah bahwa engkau menyembah Allah saja dengan mengikhlaskan agama ini untukNya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

(اعۡلَمۡ أَرۡشَدَكَ اللهُ) هٰذَا دُعَاءٌ مِنَ الشَّيۡخِ رَحِمَهُ اللهُ، وَهٰكَذَا يَنۡبَغِي لِلۡمُعَلِّمِ أَنۡ يَدۡعُوَ لِلۡمُتَعَلِّمِ.
وَطَاعَةُ اللهِ مَعۡنَاهَا: امۡتِثَالُ أَوَامِرِهِ وَاجۡتِنَابُ نَوَاهِيهِ.
“Ketahuilah, semoga Allah membimbing engkau” ini adalah doa dari Syaikh rahimahullah. Dan demikianlah selayaknya bagi pengajar untuk mendoakan kebaikan untuk para pelajar. Dan taat kepada Allah maknanya adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
(أَنَّ الۡحَنِيفِيَّةَ مِلَّةَ إِبۡرَاهِيمَ) اللهُ –جَلَّ وَعَلَا- أَمَرَ نَبِيَّنَا بِاتِّبَاعِ مِلَّةِ إِبۡرَاهِيمَ، قَالَ تَعَالَى: ﴿ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ اتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ ۝١٢٣﴾ [النحل: ١٢٣].
الۡحَنِيفِيَّةُ: مِلَّةُ الۡحَنِيفِ وَهُوَ إِبۡرَاهِيمُ –عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-، وَالۡحَنِيفُ هُوَ: الۡمُقۡبِلُ عَلَى اللهِ الۡمُعۡرِضُ عَمَّا سِوَاهُ، هٰذَا هُوَ الۡحَنِيفُ: الۡمُقۡبِلُ عَلَى اللهِ بِقَلۡبِهِ وَأَعۡمَالِهِ وَنِيَّاتِهِ وَمَقَاصِدِهِ كُلِّهَا لِلهِ، الۡمُعۡرِضُ عَمَّا سِوَاهُ، وَاللهُ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ مِلَّةِ إِبۡرَاهِيمَ: ﴿وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي الدِّينِ مِنۡ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَاهِيمَ ۚ﴾ [الحج: ٧٨].
وَمِلَّةُ إِبۡرَاهِيمَ: (أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ وَحۡدَهُ مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ) هٰذِهِ الۡحَنِيفِيَّةُ، مَا قَالَ: (أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ) فَقَطۡ، بَلۡ قَالَ: (مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ) يَعۡنِي: وَتَجۡتَنِبَ الشِّرۡكَ، لِأَنَّ الۡعِبَادَةَ إِذَا خَالَطَهَا الشِّرۡكُ بَطَلَتۡ، فَلَا تَكُونُ عِبَادَةً إِلَّا إِذَا كَانَتۡ سَالِمَةً مِنَ الشِّرۡكِ الۡأَكۡبَرِ وَالۡأَصۡغَرِ.
كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعۡبُدُوا اللَّـهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾ [البينة: ٥] جَمۡعُ: حَنِيفٌ، وَهُوَ: الۡمُخۡلِصُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ.
وَهٰذِهِ الۡعِبَادَةُ أَمَرَ اللهُ بِهَا جَمِيعَ الۡخَلۡقِ (كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ۝٥٦﴾ [الذاريات: ٥٦])، وَمَعۡنَى يَعۡبُدُونِ: يُفۡرِدُونِي بِالۡعِبَادَةِ، فَالۡحِكۡمَةُ مِنۡ خَلۡقِ الۡخَلۡقِ: أَنَّهُمۡ يَعۡبُدُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، مِنۡهُمۡ مَنِ امۡتَثَلَ وَمِنۡهُمۡ مَنۡ لَمۡ يَمۡتَثِلۡ، لَٰكِنَّ الۡحِكۡمَةَ مِنۡ خَلۡقِهِمۡ هِيَ هٰذِهِ، فَالَّذِي يَعۡبُدُ غَيۡرَ اللهِ مُخَالِفٌ لِلۡحِكۡمَةِ مِنۡ خَلۡقِ الۡخَلۡقِ، وَمُخَالِفٌ لِلۡأَمۡرِ وَالشَّرۡعِ.
“Bahwa al-hanifiyyah, agama Ibrahim”, Allah jalla wa ‘ala memerintahkan Nabi kita untuk mengikuti agama Ibrahim, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti agama Ibrahim yang lurus dan tidaklah Ibrahim termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123).
Al-hanifiyyah adalah agama al-hanif dan beliau adalah Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam. Al-hanif adalah yang menghadap kepada Allah dan berpaling dari selainNya. Inilah makna al-hanif, yaitu: yang menghadap kepada Allah dengan hatinya, amalan-amalannya, niat-niatnya, dan tujuan-tujuannya. Seluruhnya untuk Allah. Dan berpaling dari selain Dia. Dan Allah telah memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrahim, “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tua kalian Ibrahim.” (QS. Al-Hajj: 78).
Agama Ibrahim adalah agar engkau beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama ini untuk-Nya. Inilah al-hanifiyyah. Tidak cukup untuk dikatakan “agar engkau menyembah Allah” saja, namun harus dengan menambahkan perkataan “dengan mengikhlaskan agama ini untukNya”. Yakni: engkau juga harus menjauhi kesyirikan, karena sesungguhnya jika kesyirikan mencampuri ibadah, maka akan membatalkannya. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai ibadah kecuali jika selamat dari kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini dengan hanif.” (QS. Al-Bayyinah: 5). Hunafa` adalah bentuk jamak dari hanif, yaitu: ikhlas untuk Allah ‘azza wa jalla.
Ibadah inilah yang Allah perintahkan seluruh makhluk untuk melakukannya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Dan makna beribadah kepadaKu adalah mengesakanKu dalam ibadah. Jadi, hikmah dari penciptaan makhluk adalah agar mereka menyembah Allah ‘azza wa jalla dengan mengikhlaskan agama untukNya. Memang, sebagian mereka ada yang melaksanakannya dan ada yang tidak melaksanakannya. Akan tetapi inilah hakikat hikmah penciptaan mereka. Sehingga, orang yang beribadah kepada selain Allah, maka orang ini hakikatnya menyelisihi hikmah penciptaan makhluk dan menyelisihi perintah dan syariat.
وَإِبۡرَاهِيمُ هُوَ: أَبُو الۡأَنۡبِيَاءِ الَّذِينَ جَاءُوا مِنۡ بَعۡدِهِ، فَكُلُّهُمۡ مِنۡ ذُرِّيَّتِهِ، وَلِهٰذَا قَالَ –جَلَّ وَعَلَا-: ﴿وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالۡكِتَابَ﴾ [العنكبوت: ٢٧]، فَكُلُّهُمۡ مِنۡ بَنِي إِسۡرَائِيلَ –حَفِيدِ إِبۡرَاهِيمَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ-، إِلَّا مُحَمَّدًا ﷺ فَإِنَّهُ مِنۡ ذُرِّيَّةِ إِسۡمَاعِيلَ، فَكُلُّ الۡأَنۡبِيَاءِ مِنۡ أَبۡنَاءِ إِبۡرَاهِيمَ –عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-، تَكۡرِيمًا لَهُ.
وَجَعَلَهُ اللهُ إِمَامًا لِلنَّاسِ –يَعۡنِي: قُدۡوَةً- ﴿قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ﴾ [البقرة: ١٢٤]. يَعۡنِي: قُدۡوَةً ﴿إِنَّ إِبۡرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً﴾ [النحل: ١٢٠] يَعۡنِي: إِمَامًا يُقۡتَدَى بِهِ.
وَبِذٰلِكَ أَمَرَ اللهُ جَمِيعَ الۡخَلۡقِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنۡسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ۝٥٦﴾ [الذاريات: ٥٦]، فَإِبۡرَاهِيمُ دَعَا النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ كَغَيۡرِهِ مِنَ النَّبِيِّينَ، كُلُّ الۡأَنۡبِيَاءِ دَعَوُا النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ وَتَرۡكِ عِبَادَةِ مَا سِوَاهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعۡبُدُوا اللهَ وَاجۡتَنِبُوا الطَّٰغُوتَ﴾ [النحل: ٣٦].
Ibrahim adalah bapak para nabi yang datang setelah beliau. Mereka seluruhnya termasuk keturunan beliau. Oleh karena inilah, Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Dan telah Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya.” (QS. Al-Ankabut: 27). Mereka seluruhnya dari Bani Israil –cucu Ibrahim ‘alaihis salam-, kecuali Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau dari keturunan Isma’il. Jadi, setiap nabi dari anak-anak Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam sebagai kemuliaan bagi beliau.
Allah telah menjadikan beliau sebagai pemimpin manusia. Yakni, teladan. “Allah berkata, sesungguhnya Aku menjadikan seorang pemimpin bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124), yaitu: teladan. “Sesungguhnya Ibrahim adalah ummah.” (QS. An-Nahl: 120) yaitu: pemimpin yang dicontoh.
Untuk perkara itulah Allah memerintahkan seluruh makhluk. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Maka, Ibrahim pun menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla sebagaimana para nabi yang lain. Seluruh para nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh telah Kami utus seorang rasul pada setiap umat, agar (menyeru) beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36).
وَأَمَّا الشَّرَائِعُ الَّتِي هِيَ الۡأَوَامِرُ وَالنَّوَاهِي وَالۡحَلَالُ وَالۡحَرَامُ فَهٰذِهِ تَخۡتَلِفُ بِاخۡتِلَافِ الۡأُمَمِ حَسَبِ الۡحَاجَاتِ، يَشۡرَعُ اللهُ شَرِيعَةً ثُمَّ يَنۡسَخُهَا بِشَرِيعَةٍ أُخۡرَى إِلَى أَنۡ جَاءَتۡ شَرِيعَةُ الۡإِسۡلَامِ فَنَسَخَتۡ جَمِيعَ الشَّرَائِعِ وَبَقِيَتۡ هِيَ إِلَى أَنۡ تَقُومَ السَّاعَةُ، أَمَّا أَصۡلُ دِينِ الۡأَنۡبِيَاءِ –وَهُوَ التَّوۡحِيدُ- فَهُوَ لَمۡ يُنۡسَخۡ وَلَنۡ يُنۡسَخَ، دِينُهُمۡ وَاحِدٌ وَهُوَ دِينُ الۡإِسۡلَامِ بِمَعۡنَى: الۡإِخۡلَاصِ لِلهِ بِالتَّوۡحِيدِ.
أَمَّا الشَّرَائِعُ فَقَدۡ تَخۡتَلِفُ، تُنۡسَخُ، لَٰكِنَّ التَّوۡحِيدَ وَالۡعَقِيدَةَ مِنۡ آدَمَ إِلَى آخِرِ الۡأَنۡبِيَاءِ كُلِّهِمۡ يَدۡعُونَ إِلَى التَّوۡحِيدِ وَإِلَى عِبَادَةِ اللهِ، وَعِبَادَةُ اللهِ طَاعَتُهُ فِي كُلِّ وَقۡتٍ بِمَا أَمَرَ بِهِ مِنَ الشَّرَائِعِ، فَإِذَا نُسِخَتۡ صَارَ الۡعَمَلُ بِالنَّاسِخِ هُوَ الۡعِبَادَةُ، وَالۡعَمَلُ بَالۡمَنۡسُوخِ لَيۡسَ عِبَادَةً لِلهِ.
Adapun syariat yang merupakan perintah, larangan, dan halal haram, maka syariat ini berbeda-beda dengan berbedanya umat-umat sesuai kebutuhan. Allah menetapkan suatu syariat kemudian menghapusnya dengan syariat lain. Hingga syariat Islam datang. Maka syariat Islam ini menghapus seluruh syariat-syariat sebelumnya. Dan tetaplah syariat Islam ini sampai hari kiamat tiba. Adapun pokok agama para nabi –yaitu tauhid-, maka tidak dihapus dan tidak akan dihapus. Agama mereka satu yaitu agama Islam dengan makna ikhlas kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya.
Adapun syariat tiap umat memang berbeda-beda dan dihapus. Akan tetapi tauhid dan akidah dari Nabi Adam sampai nabi terakhir semuanya mengajak kepada tauhid dan kepada menyembah Allah. Dan ibadah kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan apa yang telah Dia perintahkan dalam syariat, kapan pun itu. Namun, apabila syariat itu telah dihapus, maka mengamalkan syariat yang menghapus adalah ibadah. Adapun mengamalkan syariat yang telah dihapus bukan merupakan ibadah kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar