Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Al-Qawa'idul Arba'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qawa'idul Arba'. Tampilkan semua postingan

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Kaidah Ketiga (2)

وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلهِ﴾ [البقرة: ١٩٤].
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun dan sampai agama ini hanya untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 194)[1].
وَدَلِيلُ الشَّمۡسِ وَالۡقَمَرِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنۡ آيَاتِهِ اللَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ ۚ لَا تَسۡجُدُوا لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ﴾ [فصلت: ٣٧].
Dalil bahwa ada yang menyembah matahari dan bulan dan itu adalah kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan termasuk tanda-tanda-Nya adanya malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan.” (QS. Fushshilat: 37)[2].
وَدَلِيلُ الۡمَلَائِكَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُوا الۡمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرۡبَابًا﴾ [آل عمران: ٨٠].
Dalil bahwa ada yang menyembah malaikat dan hal tersebut merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan Dia tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan nabi sebagai rabb-rabb.” (QS. Ali ‘Imran: 80)[3]

[1] قَوۡلُهُ: (وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ﴾) أَيۡ: الدَّلِيلُ عَلَى قِتَالِ الۡمُشۡرِكِينَ مِنۡ غَيۡرِ تَفۡرِيقٍ بَيۡنَهُمۡ حَسَبَ مَعۡبُودَاتِهِمۡ؛ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَٰتِلُوهُمۡ﴾، وَهٰذَا عَامٌّ لِكُلِّ الۡمُشۡرِكِينَ، لَمۡ يَسۡتَثۡنِ أَحَدًا، ثُمَّ قَالَ: ﴿حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ﴾ وَالۡفِتۡنَةُ: الشِّرۡكُ، أَيۡ: لَا يُوجَدُ شِرۡكٌ، وَهٰذَا عَامٌّ، أَيَّ شِرۡكٍ، سَوَاءً الشِّرۡكُ فِي الۡأَوۡلِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ، أَوۡ بِالۡأَحۡجَارِ، أَوۡ بِالۡأَشۡجَارِ، أَوۡ بِالشَّمۡسِ، أَوۡ بِالۡقَمَرِ. 
Ucapan beliau: (Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun.”) yaitu dalil yang menunjukkan untuk memerangi kaum musyrikin tanpa membeda-bedakan mereka berdasar sembahan-sembahan mereka. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka”, ini umum mencakup seluruh orang musyrik, Allah tidak mengecualikan satu pun. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “sampai tidak ada fitnah sedikit pun.” Fitnah di sini adalah kesyirikan. Sehingga artinya: tidak didapati satu kesyirikan pun. Ini juga umum, syirik apa pun itu. Sama saja apakah menyekutukan Allah dengan wali-wali dan orang shalih atau dengan bebatuan dan pepohonan, atau dengan matahari dan bulan. 
﴿وَيَكُونَ الدِّينُ﴾: تَكُونُ الۡعِبَادَةُ كُلُّهَا لِلهِ، لَيۡسَ فِيهَا شَرِكَةٌ لِأَحَدٍ كَائِنًا مَنۡ كَانَ، فَلَا فَرۡقَ بَيۡنَ الشِّرۡكِ بِالۡأَوۡلِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ، أَوۡ بِالۡأَحۡجَارِ أَوۡ بِالۡأَشۡجَارِ، أَوۡ بِالشَّيَاطِينِ أَوۡ غَيۡرِهِمۡ. 
“dan sampai agama ini…” artinya sampai ibadah ini seluruhnya hanya untuk Allah. Tidak ada satu sekutu pun di dalam ibadah ini, apa pun itu. Jadi, tidak ada perbedaan antara syirik dengan wali-wali dan orang shalih atau bebatuan dan pepohonan atau dengan setan-setan atau selain mereka. 
[2] دَلَّ عَلَى أَنَّ هُنَاكَ مَنۡ يَسۡجُدُ لِلشَّمۡسِ وَالۡقَمَرِ، وَلِهٰذَا نَهَى الرَّسُولُ ﷺ عَنِ الصَّلَاةِ عِنۡدَ طُلُوعِ الشَّمۡسِ وَعِنۡدَ غُرُوبِهَا سَدًّا لِلذَّرِيعَةِ، لِأَنَّ هُنَاكَ مَنۡ يَسۡجُدُ لِلشَّمۡسِ عِنۡدَ طُلُوعِهَا وَيَسۡجُدُ لَهَا عِنۡدَ غُرُوبِهَا، فَنُهِينَا أَنۡ نُصَلِّيَ فِي هٰذَيۡنِ الۡوَقۡتَيۡنِ، وَإِنۡ كَانَتۡ الصَّلَاةُ لِلهِ، لَكِنۡ لَمَّا كَانَ فِي الصَّلَاةِ فِي هٰذَا الۡوَقۡتِ مُشَابَهَةٌ لِفِعۡلِ الۡمُشۡرِكِينَ مُنِعَ مِنۡ ذٰلِكَ سَدًّا لِلذَّرِيعَةِ الَّتِي تُفۡضِي إِلَى الشِّرۡكِ، وَالرَّسُولُ ﷺ جَاءَ بِالنَّهۡيِ عَنِ الشِّرۡكِ وَسَدِّ ذَرَائِعِهِ الۡمُفۡضِيَةِ إِلَيۡهِ. 
Ayat tersebut menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang yang sujud kepada matahari dan bulan. Untuk itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari shalat ketika matahari terbit dan tenggelam untuk menutup pintu kejelekan. Karena di sana ada orang-orang yang sujud kepada matahari ketika terbit dan sujud kepadanya ketika tenggelam. Sehingga kita dilarang untuk shalat di dua waktu ini, meskipun shalat itu ditujukan untuk Allah, akan tetapi ketika shalat di dua waktu ini menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, maka dilarang dari hal tersebut sebagai upaya untuk menutup pintu kejelekan yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang membawa syariat yang melarang dari kesyirikan sekaligus menutup pintu yang dapat menyampaikan kepadanya. 
[3] قَوۡلُهُ: (وَدَلِيلُ الۡمَلَائِكَةِ... إلخ) دَلَّ عَلَى أَنَّ هُنَاكَ مَنۡ عَبَدَ الۡمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ، وَأَنَّ ذٰلِكَ شِرۡكٌ. 
وَعُبَّادُ الۡقُبُورِ الۡيَوۡمَ يَقُولُونَ: الَّذِي يَعۡبُدُ الۡمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ وَالصَّالِحِينَ لَيۡسَ بِكَافِرٍ. 
Ucapan beliau: “Dan dalil malaikat…” dst, menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang yang menyembah malaikat dan para nabi dan bahwa hal tersebut adalah kesyirikan. 
Dan para pemuja kuburan pada hari ini mengatakan bahwa orang yang menyembah para malaikat, para nabi, dan orang-orang shalih tidaklah kafir.

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Kaidah Kedua (2)

وَدَلِيلُ الشَّفَاعَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ﴾ [يونس: ١٨].
وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ مَنۡفِيَّةٌ وَشَفَاعَةٌ مُثۡبَتَةٌ.
فَالشَّفَاعَةُ الۡمَنۡفِيَّةُ: مَا كَانَتۡ تُطۡلَبُ مِنۡ غَيۡرِ اللهِ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقۡنَاكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٌ لَّا بَيۡعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالۡكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾ [البقرة: ٢٥٤].
Dalil bahwa tujuan mereka untuk mendapatkan syafaat adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan mereka menyembah dari selain Allah sesembahan yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak dapat memberi manfaat. Dan mereka mengatakan bahwa sesembahan itu pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).
Syafaat itu ada dua macam: syafaat yang ditiadakan dan syafaat yang ditetapkan syariat.
Adapun syafaat yang ditiadakan adalah syafaat yang diminta dari selain Allah pada perkara yang hanya Allah yang bisa melakukannya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, berinfaqlah kalian dari sebagian apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang saat itu tidak ada jual beli, tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)[1].
وَالشَّفَاعَةُ الۡمُثۡبَتَةُ هِيَ الَّتِي تُطۡلَبُ مِنَ اللهِ.
وَالشَّافِعُ مُكۡرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالۡمَشۡفُوعُ لَهُ هُوَ مَنۡ رَضِيَ اللهُ قَوۡلَهُ وَعَمَلَهُ بَعۡدَ الۡإِذۡنِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [البقرة: ٢٥٥].
Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat yang diminta dari Allah.
Yang memberi syafaat adalah orang yang dimuliakan dengan syafaat. Sedangkan orang yang disyafaati adalah orang yang Allah ridhai ucapan dan amalannya setelah izin Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)[2]

[1] الشَّفَاعَةُ لَهَا شُرُوطٌ وَلَهَا قُيُودٌ، لَيۡسَتۡ مُطۡلَقَةً. 
Syafaat itu memiliki syarat-syarat dan ketentuan, tidak mutlak begitu saja. 
فَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ نَفَاهَا اللهُ –جَلَّ وَعَلَا-، وَهِيَ الشَّفَاعَةُ بَغَيۡرِ إِذۡنِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَلَا يَشۡفَعُ أَحَدٌ عِنۡدَ اللهِ إِلَّا بِإِذۡنِهِ، وَأَفۡضَلُ الۡخَلۡقِ وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٌ ﷺ إِذَا أَرَادَ أَنۡ يَشۡفَعَ لِأَهۡلِ الۡمَوۡقِفِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ يَخِرُّ سَاجِدًا بَيۡنَ يَدَيۡ رَبِّهِ وَيَدۡعُوهُ وَيَحۡمَدُهُ وَيُثۡنِي عَلَيۡهِ، وَلَا يَزَالُ سَاجِدًا حَتَّى يُقَالُ: (ارۡفَعۡ رَأۡسَكَ، وَقُلۡ تُسۡمَعۡ، وَاشۡفَعۡ تُشَفَّعۡ)، فَلَا يَشۡفَعُ إِلَّا بَعۡدَ الۡإِذۡنِ. 
Syafaat itu ada dua: Syafaat yang Allah ‘jalla wa ‘ala tiadakan, yaitu syafaat yang tidak seizin-Nya subhanahu wa ta’ala. Sehingga, tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat kecuali dengan izin Allah. Bahkan, makhluk yang paling mulia dan penutup para Nabi –yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika hendak memberi syafaat untuk orang-orang di padang Mahsyar pada hari kiamat, beliau menyungkur sujud di hadapan Rabbnya, lalu berdoa kepada-Nya, memuji-Nya, dan menyanjung-Nya. Dan beliau terus dalam keadaan sujud sampai dikatakan kepada beliau, “Angkat kepalamu! Katakanlah, niscaya ucapanmu akan didengar! Dan berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima!” Jadi, beliau tidak dapat memberi syafaat kecuali setelah izin Allah. 
[2] وَالشَّفَاعَةُ الۡمُثۡبَتَةُ: هِيَ الَّتِي تَكُونُ لِأَهۡلِ التَّوۡحِيدِ، فَالۡمُشۡرِكُ لَا تَنۡفَعُهُ شَفَاعَةٌ، وَالَّذِي يُقَدِّمُ الۡقَرَابِينَ لِلۡقُبُورِ وَالنُّذُورَ لِلۡقُبُورِ هٰذَا مُشۡرِكٌ لَا تَنۡفَعُهُ الشَّفَاعَةُ. 
Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat untuk orang yang bertauhid. Adapun orang musyrik, tidak bermanfaat syafaat untuknya. Dan orang yang mempersembahkan kurban dan nadzar kepada kuburan maka ia adalah musyrik. Sehingga syafaat tidak bermanfaat untuknya. 
وَخُلَاصَةُ الۡقَوۡلِ: أَنَّ الشَّفَاعَةَ الۡمَنۡفِيَّةَ هِيَ الَّتِي تُطۡلَبُ بِغَيۡرِ إِذۡنِ اللهِ، أَوۡ تُطۡلَبُ لِمُشۡرِكٍ. 
وَالشَّفَاعَةُ الۡمُثۡبَتَةُ: هِيَ الَّتِي تَكُونُ بَعۡدَ إِذۡنِ اللهِ، وَلِأَهۡلِ التَّوۡحِيدِ. 
Kesimpulannya: bahwa syafaat yang ditiadakan adalah syafaat yang diminta tanpa seizin Allah atau yang diminta untuk orang musyrik. Adapun syafaat yang ditetapkan adalah syafaat setelah izin Allah dan untuk orang yang bertauhid.

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Kaidah Kedua (1)

الۡقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ: مَا دَعَوۡنَاهُمۡ وَتَوَجَّهۡنَا إِلَيۡهِمۡ إِلاَّ لِطَلَبِ الۡقُرۡبَةِ وَالشَّفَاعَةِ.
فَدَلِيلُ الۡقُرۡبَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوۡلِيَاءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلۡفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾ [الزمر: ٣].
Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah berkata: Kaidah kedua: bahwa mereka mengatakan: Tidaklah kami berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kepada mereka kecuali untuk mendapatkan kedekatan dan syafa’at.
Dalil bahwa tujuan mereka untuk mendekatkan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan orang-orang yang menjadikan selain Dia sebagai wali-wali (mengatakan): Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3). 

الۡقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ الَّذِينَ سَمَّاهُمُ اللهُ مُشۡرِكِينَ وَحَكَمَ عَلَيۡهِمۡ بِالۡخُلُودِ فِي النَّارِ، لَمۡ يُشۡرِكُوا فِي الرُّبُوبِيَّةِ وَإِنَّمَا أَشۡرَكُوا فِي الۡأُلُوهِيَّةِ، فَهُمۡ لَا يَقُولُونَ إِنَّ آلِهَتَهُمۡ تَخۡلُقُ وَتَرۡزُقُ مَعَ اللهِ، وَأَنَّهُمۡ يَنۡفَعُونَ أَوۡ يَضُرُّونَ أَوۡ يُدَبِّرُونَ مَعَ اللهِ، وَإِنَّمَا اتَّخَذُوهُمۡ شُفَعَاءَ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى عَنۡهُمۡ: ﴿وَيَعۡبُدُونَ مِنۡ دُونِ اللهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنۡفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِنۡدَ اللهِ﴾ [يونس: ١٨]، ﴿مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنۡفَعُهُمۡ﴾ هُمۡ مَعُتَرِفُونَ بِهٰذَا، إِنَّهُمۡ لَا يَنۡفَعُونَ وَلَا يَضُرُّونَ، وَإِنَّمَا اتَّخَذُوهُمۡ شُفَعَاءَ، يَعۡنِي: وُسَطَاءَ عِنۡدَ اللهِ فِي قَضَاءِ حَوَائِجِهِمۡ، يَذۡبَحُونَ لَهُمۡ، وَيَنۡذُرُونَ لَهُمۡ، لَا لِأَنَّهُمۡ يَخۡلُقُونَ أَوۡ يَرۡزُقُونَ أَوۡ يَنۡفَعُونَ أَوۡ يَضُرُّونَ فِي اعۡتِقَادِهِمۡ، وَإِنَّمَا لِأَنَّهُمۡ يَتَوَسَّطُونَ لَهُمۡ عِنۡدَ اللهِ، وَيَشۡفَعُونَ عِنۡدَ اللهِ، هٰذِهِ عَقِيدَةُ الۡمُشۡرِكِينَ. 
Syaikh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: Kaidah kedua: Bahwa orang-orang musyrik yang Allah telah namai mereka sebagai orang musyrik dan telah menghukumi mereka kekal di dalam neraka, ternyata mereka tidak menyekutukan Allah di dalam perkara rububiyyah. Mereka menyekutukan Allah hanya di dalam perkara uluhiyyah. Mereka tidak mengatakan bahwa sesungguhnya sesembahan mereka menciptakan dan memberi rezeki bersama Allah. Mereka tidak pula mengatakan bahwa mereka dapat memberi manfaat, mendatangkan madharat, atau mengatur bersama Allah. Mereka hanya menjadikan sesembahan itu sebagai pemberi syafaat, sebagaimana yang telah Allah ta’ala firmankan mengenai mereka yang artinya, “Dan mereka menyembah dari selain Allah sesembahan yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak dapat memberi manfaat. Dan mereka mengatakan bahwa sesembahan itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18). “Sesembahan yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak dapat memberi manfaat”, orang-orang musyrik itu mengakui hal ini. Yaitu bahwa sesembahan itu tidak dapat memberi manfaat dan mendatangkan madharat. Orang-orang musyrik itu hanya menjadikan sesembahan mereka sebagai pemberi syafaat, yakni perantara di sisi Allah untuk menyampaikan kebutuhan mereka yang orang-orang musyrik itu menyembelih untuk mereka, bernadzar kepada mereka. Bukan karena sesembahan itu menciptakan atau memberi rezeki, memberi manfaat atau mendatangkan madharat menurut keyakinan mereka. Akan tetapi agar sesembahan itu menjadi perantara untuk mereka di sisi Allah dan memberi syafaat di sisi Allah. Inilah akidah orang-orang musyrik. 
وَأَنۡتَ لَمَّا تُنَاقِشِ الۡآنَ قُبُورِيًّا مِنَ الۡقُبُورِيِّينَ يَقُولُ هٰذَا الۡمَقَالَةَ سَوَاءً بِسَوَاءٍ، يَقُولُ: أَنَا أَدۡرِي أَنَّ هٰذَا الۡوَلِيَّ أَوۡ هٰذَا الرَّجُلَ الصَّالِحَ لَا يَضُرُّ وَلَا يَنۡفَعُ، وَلٰكِنۡ هُوَ رَجُلٌ صَالِحٌ وَأُرِيدُ مِنۡهُ الشَّفَاعَةَ لِي عِنۡدَ اللهِ. 
Ketika engkau pada zaman ini mencoba mendebat pemuja kuburan, maka ia akan mengucapkan ucapan yang sama persis. Dia katakan: Saya tahu bahwa wali atau orang shalih ini tidak dapat mendatangkan madharat atau manfaat, namun ia adalah orang shalih dan saya mengharap syafaat darinya untukku di sisi Allah. 
وَالشَّفَاعَةُ فِيهَا حَقٌّ وَفِيهَا بَاطِلٌ، الشَّفَاعَةُ الَّتِي هِيَ حَقٌّ وَصَحِيحَةٌ هِيَ مَا تَوَفَّرَ فِيهَا شَرۡطَانِ: 
الشَّرۡطُ الۡأَوَّلُ: أَنۡ تَكُونَ بِإِذۡنِ اللهِ. 
وَالشَّرۡطُ الثَّانِي: أَنۡ يَكُونَ الۡمَشۡفُوعُ فِيهِ مِنۡ أَهۡلِ التَّوۡحِيدِ، أَيۡ: مِنۡ عُصَاةِ الۡمُوَحِّدِينَ. 
فَإِنِ اخۡتَلَّ شَرۡطٌ مِنَ الشَّرۡطَيۡنِ فَالشَّفَاعَةُ بَاطِلَةٌ، قَالَ تَعَالَى: ﴿مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِنۡدَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [البقرة: ٢٥٥]، ﴿وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارۡتَضَىٰ﴾ [الأنبياء: ٢٨]، وَهُمۡ عُصَاةُ الۡمُوَحِّدِينَ، أَمَّا الۡكُفَّارُ وَالۡمُشۡرِكُونَ فَمَا تَنۡفَعُهُمۡ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ: ﴿مَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ﴾ [غافر: ١٨]. 
Syafaat itu ada yang benar dan ada yang batil. Syafaat yang benar adalah yang terpenuhi dua syarat: 
  1. Syafaat itu dengan izin Allah. 
  2. Orang yang disyafaati termasuk dari orang yang bertauhid, yaitu termasuk orang-orang yang bermaksiat dari kalangan orang yang bertauhid. 
Sehingga, jika satu syarat dari dua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka syafaat tersebut batil. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255). “Dan mereka tidak dapat memberi syafaat kecuali untuk orang-orang yang diridhai-Nya.” (QS. Al-Anbiya`: 28), mereka adalah orang bertauhid yang jatuh dalam kemaksiatan. Adapun orang-orang kafir dan musyrik, maka syafaat para pemberi syafaat tidak dapat memberi manfaat kepada mereka, “Orang-orang zhalim itu tidak memiliki seorang pun teman dan tidak pula pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (QS. Ghafir: 18). 
فَهٰؤُلَاءِ سَمِعُوا بِالشَّفَاعَةِ وَلَا عَرَفُوا مَعۡنَاهَا، وَرَاحُوا يَطۡلُبُونَهَا مِنۡ هٰؤُلَاءِ بِدُونِ إِذۡنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، بَلۡ طَلَبُوهَا لِمَنۡ هُوَ مُشۡرِكٌ بِاللهِ لَا تَنۡفَعُهُ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ، فَهٰؤُلَاءِ يَجۡهَلُونَ مَعۡنَى الشَّفَاعَةِ الۡحَقَّةِ وَالشَّفَاعَةِ الۡبَاطِلَةِ. 
Mereka itu telah mendengar syafaat namun tidak mengerti maknanya. Dan mereka berangkat mencari syafaat itu dari sesembahan mereka tanpa seizin Allah ‘azza wa jalla. Bahkan mereka mencari syafaat untuk orang yang menyekutukan Allah yaitu orang yang syafaat itu tidak bermanfaat untuknya. Maka, mereka itu tidak mengetahui makna syafaat yang benar dan syafaat yang batil.

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Kaidah Pertama

الۡقَاعِدَةُ الۡأُولَى: أَنۡ تَعۡلَمَ أَنَّ الۡكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ مُقِرُّونَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الۡخَالِقُ الۡمُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذٰلِكَ لَمۡ يُدۡخِلۡهُمۡ فِي الۡإِسۡلَامِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ السَّمۡعَ وَالۡأَبۡصَارَ وَمَن يُخۡرِجُ الۡحَيَّ مِنَ الۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ الۡمَيِّتَ مِنَ الۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الۡأَمۡرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللهُ ۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾ [يونس: ٣١].
Kaidah pertama: hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang dahulu diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa Allah ta’ala adalah yang menciptakan dan mengatur. Namun hal itu tidak membuat mereka masuk ke dalam Islam. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Katakanlah, siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan mengatakan, Allah. Lalu katakanlah, mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS. Yunus: 31).

الۡقَاعِدَةُ الۡأُولَى: أَنۡ تَعۡرِفَ أَنَّ الۡكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ كَانُوا مُقِرُّونَ بِتَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَمَعَ ذٰلِكَ إِقۡرَارِهِمۡ بِتَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ لَمۡ يُدۡخِلۡهُمۡ فِي الۡإِسۡلَامِ، وَلَمۡ يُحَرِّمُ دِمَاءَهُمۡ وَلَا أَمۡوَالَهُمۡ. 
Kaidah pertama: Hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang dahulu diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan tauhid rububiyyah. Bersamaan dengan penetapan mereka terhadap tauhid rububiyyah, tidak menjadikan mereka masuk ke dalam Islam dan tidak pula menyebabkan darah-darah dan harta-harta mereka terjaga. 
فَدَلَّ عَلَى أَنَّ التَّوۡحِيدَ لَيۡسَ هُوَ الۡإِقۡرَارُ بِالرُّبُوبِيَّةِ فَقَطۡ، وَأَنَّ الشِّرۡكَ لَيۡسَ هُوَ الشِّرۡكُ فِي الرُّبُوبِيَّةِ فَقَطۡ، بَلۡ لَيۡسَ هُنَاكَ أَحَدٌ أَشۡرَكَ فِي الرُّبُوبِيَّةِ إِلَّا شَوَاذٌّ مِنَ الۡخَلۡقِ، وَإِلَّا فَكُلُّ الۡأُمَمِ تُقِرُّ بِتَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ. 
Ini menunjukkan bahwa tauhid itu tidak hanya menetapkan rububiyyah saja dan bahwa syirik itu tidak hanya syirik dalam hal rububiyyah saja. Bahkan di sana tidak ada seorang pun yang mempersekutukan Allah di dalam perkara rububiyyah kecuali orang yang berpemikiran ganjil saja. Bila tidak ada orang seperti ini, maka seluruh umat menetapkan tauhid rububiyyah. 
وَتَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ هُوَ: الۡإِقۡرَارُ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الۡخَالِقُ الرَّازِقُ الۡمُحۡيِي الۡمُمِيتُ الۡمُدَبِّرُ، أَوۡ بِعِبَارَةٍ أَخۡصَرَ: تَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ هُوَ: إِفۡرَادُ اللهِ تَعَالَى بِأَفۡعَالِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى. 
Tauhid rububiyyah adalah menetapkan bahwa Allah adalah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur. Atau dengan ungkapan yang lebih ringkas, tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam perbuatan-perbuatan-Nya subhanahu wa ta’ala. 
فَلَا أَحَدٌ مِنَ الۡخَلۡقِ ادَّعَى أَنَّ هُنَاكَ أَحَدًا يَخۡلُقُ مَعَ اللهِ تَعَالَى، أَوۡ يَرۡزُقُ مَعَ اللهِ، أَوۡ يُحۡيِي أَوۡ يُمِيتُ، بَلِ الۡمُشۡرِكُونَ مُقِرُّونَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الۡخَالِقُ الرَّازِقُ الۡمُحۡيِي الۡمُمِيتُ الۡمُدَبِّرُ: ﴿وَلَئِنۡ سَأَلۡتَهُمۡ مَنۡ خَلَقَ السَّمَٰوَٰتِ وَالۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ﴾ [لقمان: ٢٥]، ﴿قُلۡ مَن رَّبُّ السَّمَٰوَٰتِ السَّبۡعِ وَرَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيمِ ۝٨٦ سَيَقُولُونَ لِلهِ﴾ [المؤمنون: ٨٦-٨٧]، اقۡرَءُوا الۡآيَاتِ مِنۡ آخِرِ سُورَةِ (المُؤۡمِنُونَ) تَجِدُونَ أَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ كَانُوا مُقِرِّينَ بِتَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَكَذٰلِكَ فِي سُورَةِ يُونُسَ ﴿قُلۡ مَنۡ يَرۡزُقُكُمۡ مِنَ السَّمَآءِ وَالۡأَرۡضِ أَمَّنۡ يَمۡلِكُ السَّمۡعَ وَالۡأَبۡصَٰرَ وَمَنۡ يُخۡرِجُ الۡحَيَّ مِنَ الۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ الۡمَيِّتَ مِنَ الۡحَيِّ وَمَنۡ يُدَبِّرُ الۡأَمۡرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ﴾ [يونس: ٣١]، فَهُمۡ مُقِرُّونَ بِهٰذَا. 
Sehingga, tidak ada satupun makhluk yang menyatakan bahwa di sana ada satu makhluk yang menciptakan bersama Allah atau memberi rezeki bersama Allah atau menghidupkan dan mematikan. Bahkan orang-orang musyrik pun menetapkan bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan yang mengatur. “Dan sungguh apabila engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit-langit dan bumi. Niscaya mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Luqman: 25). “Katakanlah, siapakah Rabb langit-langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang agung? Niscaya mereka mengatakan, milik Allah.” (QS. Al-Mu`minun: 86-87). Bacalah ayat-ayat akhir surah Al-Mu`minun, engkau akan mendapati bahwa orang-orang musyrik menetapkan tauhid rububiyyah. Demikian pula dalam surah Yunus, “Katakanlah, siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan mengatakan, Allah.” (QS. Yunus: 31). Jadi, orang-orang musyrik itu menetapkan perkara tauhid rububiyyah ini. 
فَلَيۡسَ التَّوۡحِيدُ هُوَ الۡإِقۡرَارُ بِتَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ كَمَا يَقُولُ ذٰلِكَ عُلَمَاءُ الۡكَلَامِ وَالنُّظَّارُ فِي عَقَائِدِهِمۡ، فَإِنَّهُمۡ يُقَرِّرُونَ بِأَنَّ التَّوۡحِيدَ هُوَ الۡإِقۡرَارُ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الۡخَالِقُ الرَّازِقُ الۡمُحۡيِي الۡمُمِيتُ، فَيَقُولُونَ: (وَاحِدٌ فِي ذَاتِهِ لَا قَسِيمَ لَهُ، وَاحِدٌ فِي صِفَاتِهِ لَا شَبِيهَ لَهُ، وَاحِدٌ فِي أَفۡعَالِهِ لَا شَرِيكَ لَه) وَهٰذَا هُوَ تَوۡحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، ارۡجِعُوا إِلَى أَيِّ كِتَابٍ مِنۡ كُتُبِ عُلَمَاءِ الۡكَلَامِ تَجِدُوهُمۡ لَا يَخۡرُجُونَ عَنۡ تَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَهٰذَا لَيۡسَ هُوَ التَّوۡحِيدُ الَّذِي بَعَثَ اللهُ بِهِ الرُّسُلَ، وَالۡإِقۡرَارُ بِهٰذَا وَحۡدَهُ لَا يَنۡفَعُ صَاحِبَهُ، لِأَنَّ هٰذَا أَقَرَّ بِهِ الۡمُشۡرِكُونَ وَصَنَادِيدُ الۡكَفَرَةِ، وَلَمۡ يُخۡرِجُهُمۡ مِنَ الۡكُفۡرِ، وَلَمۡ يُدۡخِلۡهُمۡ فِي الۡإِسۡلَامِ، فَهٰذَا غَلَطٌ عَظِيمٌ، فَمَنِ اعۡتَقَدَ هٰذَا الۡإِعۡتِقَادَ مَا زَادَ عَلَى اعۡتِقَادِ أَبِي جَهۡلٍ وَأَبِي لَهَبٍ، فَالَّذِي عَلَيۡهِ الۡآنَ بَعۡضُ الۡمُثَقَّفِينَ هُوَ تَقۡرِيرُ تَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ فَقَطۡ، وَلَا يَتَطَرَّقُونَ إِلَى تَوۡحِيدِ الۡأُلُوهِيَّةِ، وَهٰذَا غَلَطٌ عَظِيمٌ فِي مُسَمَّى التَّوۡحِيدِ. 
Sehingga, tauhid itu bukan merupakan tauhid rububiyyah sebagaimana pendapat ulama ahli kalam dan cendekiawan menurut keyakinan mereka. Mereka menetapkan bahwa tauhid adalah pengakuan bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan saja. Mereka mengatakan, “(Allah itu) esa dzat-Nya tidak ada pembagian dalam dzat-Nya, esa sifat-sifat-Nya tidak ada yang menyerupai-Nya, esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya.” Ini adalah tauhid rububiyyah. Silakan merujuk kepada kitab manapun dari kitab-kitab ulama ahli kalam. Engkau akan mendapati pemahaman tauhid mereka tidak keluar dari tauhid rububiyyah saja. Padahal bukan tauhid ini yang Allah utus para rasul dengannya. Menetapkan tauhid ini saja tidak bermanfaat baginya karena tauhid rububiyyah ini diakui oleh orang-orang musyrik dan tokoh-tokoh kafir. Akan tetapi hal tersebut tidak mengeluarkan mereka dari kekafiran dan tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam. Jadi, ini merupakan kesalahan yang fatal. Barangsiapa yang meyakini dengan keyakinan ini tidak lebih baik daripada keyakinan Abu Jahl atau Abu Lahab. Sehingga, apa yang ada pada sebagian orang yang berpendidikan sekarang ini berupa penetapan tauhid rububiyyah saja dan tidak sampai mengarah kepada tauhid uluhiyyah, maka ini adalah kekeliruan besar di dalam definisi tauhid. 
وَأَمَّا الشِّرۡكُ فَيَقُولُونَ: (هُوَ أَنۡ تَعۡتَقِدَ أَنَّ أَحَدًا يَخۡلُقُ مَعَ اللهِ أَوۡ يَرۡزُقُ مَعَ اللهِ)، نَقُولُ: هٰذَا مَا قَالَهُ أَبُو جَهۡلٍ وَأَبُو لَهَبٍ، مَا قَالُوا: إِنَّ أَحَدًا يَخۡلُقُ مَعَ اللهِ، وَيَرۡزُقُ مَعَ اللهِ؛ بَلۡ هُمۡ مُقِرُّونَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الۡخَالِقُ الرَّازِقُ الۡمُحۡيِي الۡمُمِيتُ. 
Adapun kesyirikan menurut mereka adalah engkau meyakini bahwa ada satu dzat yang menciptakan selain Allah atau memberi rezeki selain Allah. Maka kita katakan, ini bukanlah ucapan Abu Jahl dan Abu Lahab (padahal mereka itu musyrik). Mereka tidak mengatakan bahwa ada dzat yang mencipta selain Allah dan memberi rezeki selain Allah. Bahkan mereka mengakui bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan.

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Muqaddimah (7)

فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ الشِّرۡكَ إِذَا خَالَطَ الۡعِبَادَةَ أَفۡسَدَهَا وَأَحۡبَطَ الۡعَمَلَ وَصَارَ صَاحِبُهُ مِنَ الۡخَالِدِينَ فِي النَّارِ عَرَفۡتَ أَنَّ أَهَمَّ مَا عَلَيۡكَ مَعۡرِفَةُ ذٰلِكَ، لَعَلَّ اللهَ أَنۡ يُخۡلِصَكَ مِنۡ هَٰذِهِ الشَّبَكَةِ وَهِيَ الشِّرۡكُ بِاللهِ.
الَّذِي قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ: (إِنَّ اللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَ‌ٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ) [النساء: ٤٨]. وَذٰلِكَ بِمَعۡرِفَةِ أَرۡبَعِ قَوَاعِدَ ذَكَرَهَا اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ:
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: Jika engkau telah mengetahui bahwa syirik apabila mencampuri ibadah akan merusaknya dan menghapus amal ibadah serta pelakunya akan menjadi orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka engkau mengetahui bahwa perkara terpenting yang wajib atasmu adalah mengenali hal itu. Semoga Allah menyelamatkanmu dari jerat ini, yaitu menyekutukan Allah. Yaitu, yang Allah ta’ala berfirman tentangnya, yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan Allah dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). Dan perkara tauhid dan syirik itu dikenali dengan cara mengenali empat kaidah yang telah Allah ta’ala sebutkan di dalam Kitab-Nya: 

(فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ الشِّرۡكَ إِذَا خَالَطَ الۡعِبَادَةَ أَفۡسَدَهَا وَأَحۡبَطَ الۡعَمَلَ، وَصَارَ صَاحِبُهُ مِنَ الۡخَالِدِينَ فِي النَّارِ...) أَيۡ: مَا دَامَ أَنَّكَ عَرَفۡتَ التَّوۡحِيدَ وَهُوَ: إِفۡرَادُ اللهِ بِالۡعِبَادَةِ، يَجِبُ أَنۡ تَعۡرِفَ مَا هُوَ الشِّرۡكُ، لِأَنَّ الَّذِي لَا يَعۡرِفُ الشَّيۡءَ يَقَعُ فِيهِ، فَلَا بُدَّ أَنَّكَ تَعۡرِفُ أَنۡوَاعَ الشِّرۡكِ مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ تَتَجَنَّبَهَا، لِأَنَّ اللهَ حَذَّرَ مِنَ الشِّرۡكِ وَقَالَ: ﴿إِنَّ اللهَ لَا يَغۡفِرُ أَنۡ يُشۡرَكَ بِهِ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنۡ يَشَآءُ﴾ [النساء: ٤٨]، فَهٰذَا الشِّرۡكُ الَّذِي هٰذَا خَطَرُهُ، وَهُوَ أَنَّهُ يَحۡرِمُ مِنَ الۡجَنَّةِ: ﴿إِنَّهُ مَنۡ يُشۡرِكۡ بِاللهِ فَقَدۡ حَرَّمَ اللهُ عَلَيۡهِ الۡجَنَّةَ﴾ [المائدة: ٧٢]، وَيَحۡرِمُ مِنَ الۡمَغۡفِرَةِ: ﴿إِنَّ اللهَ لَا يَغۡفِرُ أَنۡ يُشۡرَكَ بِهِ﴾ [النساء: ٤٨]. 
Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Jika engkau telah mengetahui bahwa syirik apabila mencampuri ibadah akan merusaknya dan menghapus amal ibadah serta pelakunya akan menjadi orang-orang yang kekal di dalam neraka…” maknanya adalah selama engkau telah mengetahui tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah, maka wajib pula atasmu untuk mengetahui apa itu syirik. Karena orang yang tidak mengetahui sesuatu dapat jatuh ke dalamnya. Sehingga engkau harus mengetahui jenis-jenis syirik untuk menjauhinya. Karena sungguh Allah telah memperingatkan dari syirik dan berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan Allah dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). Maka, inilah syirik dan inilah bahayanya, yaitu bahwa syirik dapat menyebabkan pelakunya diharamkan dari surga. “Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah, maka sungguh Allah telah haramkan surga untuknya.” (QS. Al-Maidah: 72). Dan syirik menyebabkan pelakunya diharamkan dari ampunan, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan Allah.” (QS. An-Nisa`: 48). 
إِذَنۡ؛ هٰذَا خَطَرٌ عَظِيمٌ، يَجِبُ عَلَيۡكَ أَنۡ تَعۡرِفَهُ قَبۡلَ أَيِّ خَطَرٍ، لِأَنَّ الشِّرۡكَ ضَلَّتۡ فِيهِ أَفۡهَامٌ وَعُقُولٌ؛ لِنَعۡرِفَ مَا هُوَ الشِّرۡكُ مِنَ الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، اللهُ مَا حَذَّرَ مِنۡ شَيۡءٍ إِلَّا وَيُبَيِّنُهُ، وَمَا أَمَرَ بِشَيۡءٍ إِلَّا وَيُبَيِّنُهُ لِلنَّاسِ، فَهُوَ لَنۡ يُحَرِّمَ الشِّرۡكَ وَيَتۡرُكُهُ مُجۡمَلًا، بَلۡ بَيَّنَهُ فِي الۡقُرۡآنِ الۡعَظِيمِ وَبَيَّنَهُ الرَّسُولُ ﷺ فِي السُّنَّةِ، بَيَانًا شَافِيًا، فَإِذَا أَرَدۡنَا أَنۡ نَعۡرِفَ مَا هُوَ الشِّرۡكُ نَرۡجِعُ إِلَى الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ حَتَّى نَعۡرِفَ الشِّرۡكَ، وَلَا نَرۡجِعُ إِلَى قَوۡلِ فُلَانٍ. وَهٰذَا سَيَأۡتِي. 
Jika demikian keadaannya, maka ini adalah bahaya yang sangat besar. Wajib bagimu untuk mengetahuinya sebelum bahaya apapun, karena pada kesyirikan itu akan sesat pemahaman dan akal-akal. Supaya kita mengetahui apa itu syirik dari Kitab dan Sunnah. Allah tidaklah memperingatkan dari sesuatu pun kecuali telah menjelaskan dan tidak pula memerintahkan dari sesuatu pun kecuali telah menjelaskannya kepada manusia. Dan Dia tidak mengharamkan syirik lalu membiarkannya dengan gambaran yang masih global. Akan tetapi Dia telah menjelaskannya di dalam Al-Qur`an Al-‘Azhim dan Rasul-Nya juga telah menjelaskannya di dalam As-Sunnah dengan penjelasan yang memuaskan. Oleh karena itu, apabila kita ingin untuk mengetahui apa itu syirik, maka kita kembali kepada Kitab dan Sunnah hingga kita mengetahui kesyirikan. Dan janganlah kita kembali kepada ucapan orang. Akan datang penjelasan ini.

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Muqaddimah (5)

(فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ) يَعۡنِي: إِذَا عَرَفۡتَ مِنۡ هٰذِهِ الۡآيَةِ: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنۡسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ۝٥٦﴾ [الذاريات: ٥٦]. وَأَنۡتَ مِنَ الۡإِنۡسِ، دَاخِلٌ فِي هٰذِهِ الۡآيَةِ، وَعَرَفۡتَ أَنَّ اللهَ مَا خَلَقَكَ عَبَثًا، أَوۡ خَلَقَكَ لِتَأۡكُلَ وَتَشۡرَبَ فَقَطۡ، تَعِيشَ فِي هٰذِهِ الدُّنۡيَا وَتَسۡرَحَ وَتَمۡرَحَ، لَمۡ يَخۡلُقۡكَ لِهٰذَا، خَلَقَكَ اللهُ لِعِبَادَتِهِ، وَإِنَّمَا سَخَّرَ لَكَ هٰذِهِ الۡمَوۡجُودَاتِ مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ تَسۡتَعِينَ بِهَا عَلَى عِبَادَتِهِ، لِأَنَّكَ لَا تَسۡتَطِيعُ أَنۡ تَعِيشَ إِلَّا بِهٰذِهِ الۡأَشۡيَاءِ، وَلَا تَتَوَصَّلُ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ إِلَّا بِهٰذِهِ الۡأِشۡيَاءِ، سَخَّرَهَا اللهُ لَكَ لِأَجۡلِ أَنۡ تَعۡبُدَهُ، لَيۡسَ مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ تَفۡرَحَ بِهَا وَتَسۡرَحَ وَتَمۡرَحَ وَتَفۡسُقَ وَتَفۡجُرَ تَأۡكُلَ وَتَشۡرَبَ مَا اشۡتَهَيۡتَ، هٰذَا شَأۡنُ الۡبَهَائِمِ، أَمَّا الۡآدَمِيُّونَ فَاللهُ –جَلَّ وَعَلَا- خَلَقَهُمۡ لِغَايَةٍ عَظِيمَةٍ وَحِكۡمَةٍ عَظِيمَةٍ وَهِي الۡعِبَادَةُ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنۡسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ۝٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُمۡ مِّن رِّزۡقٍ﴾ [الذاريات: ٥٦-٥٧]
Syaikh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Sehingga, jika engkau mengetahui bahwa Allah menciptakan engkau agar engkau beribadah kepada-Nya”, yakni: Jika engkau telah mengetahui ayat ini, yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) dan engkau termasuk dari jenis manusia yang masuk ke dalam ayat ini dan engkau telah mengetahui bahwa Allah tidak menciptakan engkau sia-sia, Allah tidak menciptakan engkau agar engkau makan dan minum saja, engkau hidup di dunia ini kemudian bebas lagi sombong. Allah tidak menciptakan engkau untuk tujuan ini. Allah menciptakan engkau untuk beribadah kepada-Nya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini Allah tundukkan untuk engkau hanya agar dapat membantumu untuk beribadah kepada-Nya, karena sungguh engkau tidak bisa hidup kecuali dengannya. Dan engkau tidak bisa sampai kepada tujuan beribadah kepada Allah kecuali dengannya. Allah tundukkan ia untukmu agar engkau menyembah-Nya, bukan agar engkau berbangga dengannya, lalu engkau bebas, sombong, berbuat fasik dan fajir. Engkau makan dan minum semaumu sendiri. Yang demikian itu adalah keadaannya binatang ternak. Adapun manusia, maka Allah jalla wa ‘ala menciptakan mereka untuk tujuan dan hikmah yang sangat agung, yaitu ibadah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan sedikit pun rezeki dari mereka.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57).
اللهُ مَا خَلَقَكَ لِتَكۡتَسِبَ لَهُ، أَنۡ تَحۡتَرِفَ وَتَجۡمَعَ لَهُ مَالًا، كَمَا يَفۡعَلُ بَنُو آدَمَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ يَجۡعَلُونَ عُمَّالًا يَجۡمَعُونَ لَهُمُ الۡمَكَاسِبَ، لَا، اللهُ غَنِيٌّ عَنۡ هٰذَا، وَاللهُ غَنِيٌّ عَنِ الۡعَالَمِينَ، وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿مَآ أُرِيدُ مِنۡهُمۡ مِّن رِّزۡقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونَ ۝٥٧﴾ [الذاريات: ٥٧] اللهُ –جَلَّ وَعَلَا- يُطۡعِمُ وَلَا يُطۡعَمُ، غَنِيٌّ عَنِ الطَّعَامِ، وَغَنِيٌّ –جَلَّ وَعَلَا- بِذَاتِهِ، وَلَيۡسَ هُوَ فِي حَاجَةٍ إِلَى عِبَادَتِكَ، لَوۡ كَفَرۡتَ مَا نَقَصۡتَ مُلۡكَ اللهِ، وَلٰكِنۡ أَنۡتَ الَّذِي بِحَاجَةٍ إِلَيۡهِ، أَنۡتَ الَّذِي بِحَاجَةٍ إِلَى الۡعِبَادَةِ، فَمِنۡ رَحۡمَتِهِ: أَنَّهُ أَمَرَكَ بِعِبَادَتِهِ مِنۡ أَجۡلِ مَصۡلَحَتِكَ، لِأَنَّكَ إِذَا عَبَدۡتَهُ فَإِنَّهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى يُكۡرِمُكَ بِالۡجَزَاءِ وَالثَّوَابِ، فَالۡعِبَادَةُ سَبَبٌ لِإِكۡرَامِ اللهِ لَكَ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، فَمَنِ الَّذِي يَسۡتَفِيدُ مِنَ الۡعِبَادَةِ؟ الۡمُسۡتَفِيدُ مِنَ الۡعِبَادَةِ هُوَ الۡعَابِدُ نَفۡسُهُ، أَمَّا اللهُ –جَلَّ وَعَلَا- فَإِنَّهُ غَنِيٌّ عَنۡ خَلۡقِهِ.
Allah tidak menciptakanmu agar engkau memberi nafkah kepada-Nya, bekerja, dan mengumpulkan harta untuk-Nya. Seperti yang dilakukan sebagian manusia kepada sebagian yang lain. Mereka menjadikan para pekerja yang mengumpulkan penghasilan untuk mereka. Bukan untuk itu. Allah maha kaya dari hal tersebut dan Allah maha kaya dari alam semesta. Oleh karenanya, Allah berfirman yang artinya, “Aku tidak menginginkan sedikit pun rezeki dari mereka dan Aku tidak ingin agar mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 57). Allah jalla wa ‘ala yang memberi makan dan tidak diberi makan, Dia tidak butuh makanan, dan Allah jalla wa ‘ala adalah Dzat yang maha kaya. Allah tidak butuh pula kepada ibadahmu. Seandainya engkau kafir, engkau tidaklah mengurangi kerajaan Allah. Bahkan engkau lah yang butuh kepada-Nya. Engkau yang butuh kepada ibadah. Sehingga, termasuk rahmat Allah adalah bahwa Dia memerintahkan engkau beribadah kepada-Nya untuk kemaslahatanmu sendiri. Karena jika engkau menyembah-Nya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Jadi ibadah adalah sebab pemuliaan Allah kepadamu di dunia dan akhirat. Jadi, siapakah yang sesungguhnya mendapatkan faidah dari ibadah? Pihak yang mendapatkan faidah ibadah adalah hamba itu sendiri. Sedangkan Allah jalla wa ‘ala tidak membutuhkan makhluk-Nya.

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Muqaddimah (4)

إِعۡلَمۡ - أَرۡشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِ -:أَنَّ الۡحَنِيفِيَّةَ مِلَّةَ إِبۡرَاهِيمَ أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ وَحۡدَهُ مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ.كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ﴾ [الذاريات: ٥٦].
Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk mentaatiNya, bahwa agama yang lurus -agama Ibrahim- adalah bahwa engkau menyembah Allah saja dengan mengikhlaskan agama ini untukNya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

(اعۡلَمۡ أَرۡشَدَكَ اللهُ) هٰذَا دُعَاءٌ مِنَ الشَّيۡخِ رَحِمَهُ اللهُ، وَهٰكَذَا يَنۡبَغِي لِلۡمُعَلِّمِ أَنۡ يَدۡعُوَ لِلۡمُتَعَلِّمِ.
وَطَاعَةُ اللهِ مَعۡنَاهَا: امۡتِثَالُ أَوَامِرِهِ وَاجۡتِنَابُ نَوَاهِيهِ.
“Ketahuilah, semoga Allah membimbing engkau” ini adalah doa dari Syaikh rahimahullah. Dan demikianlah selayaknya bagi pengajar untuk mendoakan kebaikan untuk para pelajar. Dan taat kepada Allah maknanya adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
(أَنَّ الۡحَنِيفِيَّةَ مِلَّةَ إِبۡرَاهِيمَ) اللهُ –جَلَّ وَعَلَا- أَمَرَ نَبِيَّنَا بِاتِّبَاعِ مِلَّةِ إِبۡرَاهِيمَ، قَالَ تَعَالَى: ﴿ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ اتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ ۝١٢٣﴾ [النحل: ١٢٣].
الۡحَنِيفِيَّةُ: مِلَّةُ الۡحَنِيفِ وَهُوَ إِبۡرَاهِيمُ –عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-، وَالۡحَنِيفُ هُوَ: الۡمُقۡبِلُ عَلَى اللهِ الۡمُعۡرِضُ عَمَّا سِوَاهُ، هٰذَا هُوَ الۡحَنِيفُ: الۡمُقۡبِلُ عَلَى اللهِ بِقَلۡبِهِ وَأَعۡمَالِهِ وَنِيَّاتِهِ وَمَقَاصِدِهِ كُلِّهَا لِلهِ، الۡمُعۡرِضُ عَمَّا سِوَاهُ، وَاللهُ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ مِلَّةِ إِبۡرَاهِيمَ: ﴿وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي الدِّينِ مِنۡ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَاهِيمَ ۚ﴾ [الحج: ٧٨].
وَمِلَّةُ إِبۡرَاهِيمَ: (أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ وَحۡدَهُ مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ) هٰذِهِ الۡحَنِيفِيَّةُ، مَا قَالَ: (أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ) فَقَطۡ، بَلۡ قَالَ: (مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ) يَعۡنِي: وَتَجۡتَنِبَ الشِّرۡكَ، لِأَنَّ الۡعِبَادَةَ إِذَا خَالَطَهَا الشِّرۡكُ بَطَلَتۡ، فَلَا تَكُونُ عِبَادَةً إِلَّا إِذَا كَانَتۡ سَالِمَةً مِنَ الشِّرۡكِ الۡأَكۡبَرِ وَالۡأَصۡغَرِ.
كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعۡبُدُوا اللَّـهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾ [البينة: ٥] جَمۡعُ: حَنِيفٌ، وَهُوَ: الۡمُخۡلِصُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ.
وَهٰذِهِ الۡعِبَادَةُ أَمَرَ اللهُ بِهَا جَمِيعَ الۡخَلۡقِ (كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ۝٥٦﴾ [الذاريات: ٥٦])، وَمَعۡنَى يَعۡبُدُونِ: يُفۡرِدُونِي بِالۡعِبَادَةِ، فَالۡحِكۡمَةُ مِنۡ خَلۡقِ الۡخَلۡقِ: أَنَّهُمۡ يَعۡبُدُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، مِنۡهُمۡ مَنِ امۡتَثَلَ وَمِنۡهُمۡ مَنۡ لَمۡ يَمۡتَثِلۡ، لَٰكِنَّ الۡحِكۡمَةَ مِنۡ خَلۡقِهِمۡ هِيَ هٰذِهِ، فَالَّذِي يَعۡبُدُ غَيۡرَ اللهِ مُخَالِفٌ لِلۡحِكۡمَةِ مِنۡ خَلۡقِ الۡخَلۡقِ، وَمُخَالِفٌ لِلۡأَمۡرِ وَالشَّرۡعِ.
“Bahwa al-hanifiyyah, agama Ibrahim”, Allah jalla wa ‘ala memerintahkan Nabi kita untuk mengikuti agama Ibrahim, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti agama Ibrahim yang lurus dan tidaklah Ibrahim termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123).
Al-hanifiyyah adalah agama al-hanif dan beliau adalah Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam. Al-hanif adalah yang menghadap kepada Allah dan berpaling dari selainNya. Inilah makna al-hanif, yaitu: yang menghadap kepada Allah dengan hatinya, amalan-amalannya, niat-niatnya, dan tujuan-tujuannya. Seluruhnya untuk Allah. Dan berpaling dari selain Dia. Dan Allah telah memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrahim, “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tua kalian Ibrahim.” (QS. Al-Hajj: 78).
Agama Ibrahim adalah agar engkau beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama ini untuk-Nya. Inilah al-hanifiyyah. Tidak cukup untuk dikatakan “agar engkau menyembah Allah” saja, namun harus dengan menambahkan perkataan “dengan mengikhlaskan agama ini untukNya”. Yakni: engkau juga harus menjauhi kesyirikan, karena sesungguhnya jika kesyirikan mencampuri ibadah, maka akan membatalkannya. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai ibadah kecuali jika selamat dari kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini dengan hanif.” (QS. Al-Bayyinah: 5). Hunafa` adalah bentuk jamak dari hanif, yaitu: ikhlas untuk Allah ‘azza wa jalla.
Ibadah inilah yang Allah perintahkan seluruh makhluk untuk melakukannya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Dan makna beribadah kepadaKu adalah mengesakanKu dalam ibadah. Jadi, hikmah dari penciptaan makhluk adalah agar mereka menyembah Allah ‘azza wa jalla dengan mengikhlaskan agama untukNya. Memang, sebagian mereka ada yang melaksanakannya dan ada yang tidak melaksanakannya. Akan tetapi inilah hakikat hikmah penciptaan mereka. Sehingga, orang yang beribadah kepada selain Allah, maka orang ini hakikatnya menyelisihi hikmah penciptaan makhluk dan menyelisihi perintah dan syariat.
وَإِبۡرَاهِيمُ هُوَ: أَبُو الۡأَنۡبِيَاءِ الَّذِينَ جَاءُوا مِنۡ بَعۡدِهِ، فَكُلُّهُمۡ مِنۡ ذُرِّيَّتِهِ، وَلِهٰذَا قَالَ –جَلَّ وَعَلَا-: ﴿وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالۡكِتَابَ﴾ [العنكبوت: ٢٧]، فَكُلُّهُمۡ مِنۡ بَنِي إِسۡرَائِيلَ –حَفِيدِ إِبۡرَاهِيمَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ-، إِلَّا مُحَمَّدًا ﷺ فَإِنَّهُ مِنۡ ذُرِّيَّةِ إِسۡمَاعِيلَ، فَكُلُّ الۡأَنۡبِيَاءِ مِنۡ أَبۡنَاءِ إِبۡرَاهِيمَ –عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-، تَكۡرِيمًا لَهُ.
وَجَعَلَهُ اللهُ إِمَامًا لِلنَّاسِ –يَعۡنِي: قُدۡوَةً- ﴿قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ﴾ [البقرة: ١٢٤]. يَعۡنِي: قُدۡوَةً ﴿إِنَّ إِبۡرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً﴾ [النحل: ١٢٠] يَعۡنِي: إِمَامًا يُقۡتَدَى بِهِ.
وَبِذٰلِكَ أَمَرَ اللهُ جَمِيعَ الۡخَلۡقِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنۡسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ۝٥٦﴾ [الذاريات: ٥٦]، فَإِبۡرَاهِيمُ دَعَا النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ كَغَيۡرِهِ مِنَ النَّبِيِّينَ، كُلُّ الۡأَنۡبِيَاءِ دَعَوُا النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ وَتَرۡكِ عِبَادَةِ مَا سِوَاهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعۡبُدُوا اللهَ وَاجۡتَنِبُوا الطَّٰغُوتَ﴾ [النحل: ٣٦].
Ibrahim adalah bapak para nabi yang datang setelah beliau. Mereka seluruhnya termasuk keturunan beliau. Oleh karena inilah, Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Dan telah Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya.” (QS. Al-Ankabut: 27). Mereka seluruhnya dari Bani Israil –cucu Ibrahim ‘alaihis salam-, kecuali Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau dari keturunan Isma’il. Jadi, setiap nabi dari anak-anak Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam sebagai kemuliaan bagi beliau.
Allah telah menjadikan beliau sebagai pemimpin manusia. Yakni, teladan. “Allah berkata, sesungguhnya Aku menjadikan seorang pemimpin bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124), yaitu: teladan. “Sesungguhnya Ibrahim adalah ummah.” (QS. An-Nahl: 120) yaitu: pemimpin yang dicontoh.
Untuk perkara itulah Allah memerintahkan seluruh makhluk. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Maka, Ibrahim pun menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla sebagaimana para nabi yang lain. Seluruh para nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh telah Kami utus seorang rasul pada setiap umat, agar (menyeru) beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36).
وَأَمَّا الشَّرَائِعُ الَّتِي هِيَ الۡأَوَامِرُ وَالنَّوَاهِي وَالۡحَلَالُ وَالۡحَرَامُ فَهٰذِهِ تَخۡتَلِفُ بِاخۡتِلَافِ الۡأُمَمِ حَسَبِ الۡحَاجَاتِ، يَشۡرَعُ اللهُ شَرِيعَةً ثُمَّ يَنۡسَخُهَا بِشَرِيعَةٍ أُخۡرَى إِلَى أَنۡ جَاءَتۡ شَرِيعَةُ الۡإِسۡلَامِ فَنَسَخَتۡ جَمِيعَ الشَّرَائِعِ وَبَقِيَتۡ هِيَ إِلَى أَنۡ تَقُومَ السَّاعَةُ، أَمَّا أَصۡلُ دِينِ الۡأَنۡبِيَاءِ –وَهُوَ التَّوۡحِيدُ- فَهُوَ لَمۡ يُنۡسَخۡ وَلَنۡ يُنۡسَخَ، دِينُهُمۡ وَاحِدٌ وَهُوَ دِينُ الۡإِسۡلَامِ بِمَعۡنَى: الۡإِخۡلَاصِ لِلهِ بِالتَّوۡحِيدِ.
أَمَّا الشَّرَائِعُ فَقَدۡ تَخۡتَلِفُ، تُنۡسَخُ، لَٰكِنَّ التَّوۡحِيدَ وَالۡعَقِيدَةَ مِنۡ آدَمَ إِلَى آخِرِ الۡأَنۡبِيَاءِ كُلِّهِمۡ يَدۡعُونَ إِلَى التَّوۡحِيدِ وَإِلَى عِبَادَةِ اللهِ، وَعِبَادَةُ اللهِ طَاعَتُهُ فِي كُلِّ وَقۡتٍ بِمَا أَمَرَ بِهِ مِنَ الشَّرَائِعِ، فَإِذَا نُسِخَتۡ صَارَ الۡعَمَلُ بِالنَّاسِخِ هُوَ الۡعِبَادَةُ، وَالۡعَمَلُ بَالۡمَنۡسُوخِ لَيۡسَ عِبَادَةً لِلهِ.
Adapun syariat yang merupakan perintah, larangan, dan halal haram, maka syariat ini berbeda-beda dengan berbedanya umat-umat sesuai kebutuhan. Allah menetapkan suatu syariat kemudian menghapusnya dengan syariat lain. Hingga syariat Islam datang. Maka syariat Islam ini menghapus seluruh syariat-syariat sebelumnya. Dan tetaplah syariat Islam ini sampai hari kiamat tiba. Adapun pokok agama para nabi –yaitu tauhid-, maka tidak dihapus dan tidak akan dihapus. Agama mereka satu yaitu agama Islam dengan makna ikhlas kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya.
Adapun syariat tiap umat memang berbeda-beda dan dihapus. Akan tetapi tauhid dan akidah dari Nabi Adam sampai nabi terakhir semuanya mengajak kepada tauhid dan kepada menyembah Allah. Dan ibadah kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan apa yang telah Dia perintahkan dalam syariat, kapan pun itu. Namun, apabila syariat itu telah dihapus, maka mengamalkan syariat yang menghapus adalah ibadah. Adapun mengamalkan syariat yang telah dihapus bukan merupakan ibadah kepada Allah.

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Muqaddimah (3)

قَالَ: (وَإِذَا ابۡتُلِيَ صَبَرَ) اللهُ -جَلَّ وَعَلَا- يَبۡتَلِي الۡعِبَادَ، يَبۡتَلِيهِمۡ بِالۡمَصَائِبِ، يَبۡتَلِيهِمۡ بِالۡمَكَارِهِ، يَبۡتَلِيهِمۡ بِالۡأَعۡدَاءِ مِنَ الۡكُفَّارِ وَالۡمُنَافِقِينَ، فَيَحۡتَاجُّونَ إِلَى الصَّبۡرِ وَعَدَمِ الۡيَأۡسِ وَعَدَمِ الۡقُنُوطِ مِنۡ رَحۡمَةِ اللهِ، وَيَثۡبُتُونَ عَلَى دِينِهِمۡ، وَلَا يَتَزَحۡزَحُونَ مَعَ الۡفِتَنِ، أَوۡ يَسۡتَسۡلِمُونَ لِلۡفِتَنِ، بَلۡ يَثۡبُتُونَ عَلَى دِينِهِمۡ، وَيَصۡبِرُونَ عَلَى مَا يُقَاسُونَ مِنَ الۡأَتۡعَابِ فِي سَبِيلِهَا، بِخِلَافِ الَّذِي إِذَا ابۡتُلِيَ جَزِعَ وَتَسَخَّطَ وَقَنِطَ مِنۡ رَحۡمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَٰذَا يُزَادُ ابۡتِلَاءٌ إِلَى إِبۡتِلَاءٍ وَمَصَائِبُ إِلَى مَصَائِبَ، قَالَ ﷺ: (إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوۡمًا ابۡتَلَاهُمۡ، فَمَنۡ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنۡ سَخِطَ فَعَلَيۡهِ السُّخۡطُ).
(وَأَعۡظَمُ النَّاسِ بَلَاءً: الۡأَنۡبِيَاءُ، ثُمَّ الۡأَمۡثَلُ فَالۡأَمۡثَلُ)، ابۡتُلِيَ الرُّسُلُ، وَابۡتُلِيَ الصِّدِّيقُونَ، وَابۡتُلِيَ الشُّهَدَاءُ، وَابۡتُلِيَ عِبَادُ اللهِ الۡمُؤۡمِنُونَ، لَٰكِنَّهُمۡ صَبَرُوا، أَمَّا الۡمُنَافِقُ فَقَدۡ قَالَ اللهُ فِيهِ: ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٍ﴾ يَعۡنِي: طَرۡفٍ ﴿فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡءَاخِرَةَ ۚ ذٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ﴾ [الحج: ١١].
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Dan bila ia diberi cobaan, maka ia sabar.” Allah jalla wa ‘ala memberi cobaan kepada para hamba. Dia menguji mereka dengan musibah-musibah, dengan perkara yang tidak disukai, dengan musuh-musuh dari kalangan orang kafir dan munafik. Sehingga mereka butuh untuk bersabar, tidak pesimis, dan tidak putus asa dari rahmat Allah. Dan mereka tetap kokoh di atas agama mereka. Mereka tidak menjauh dari agama bersama fitnah-fitnah atau pasrah terhadap ujian-ujian. Bahkan mereka tetap kokoh di atas agama mereka dan sabar terhadap penderitaan berupa keletihan-keletihan di jalan agama itu. Beda dengan orang yang jika diberi cobaan, dia tidak sabar, marah, dan putus asa dari rahmat Allah ‘azza wa jalla. Justru ini adalah cobaan yang ditambah di atas cobaan dan musibah di atas musibah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka ia akan memberi cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha, maka ridha Allah baginya dan barangsiapa marah, maka kemurkaan Allah untuknya.”
“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi kemudian yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka.” Para rasul diberi cobaan, para shiddiqun diberi cobaan, para syuhada diberi cobaan, dan orang-orang mukmin pun diberi cobaan. Namun mereka bersabar. Adapun orang munafik, maka sungguh Allah telah berfirman mengenai mereka yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;” Yakni di pinggiran. “maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11).
فَالدُّنۡيَا لَيۡسَتۡ دَائِمًا نَعِيمًا وَتَرَفًا وَمَلَذَّاتٍ وَسُرُورًا وَنَصۡرًا، لَيۡسَتۡ دَائِمًا هَٰكَذَا، اللهُ يُدَاوِلُهَا بَيۡنَ الۡعِبَادِ، الصَّحَابَةُ أَفۡضَلُ الۡأُمَّةِ مَاذَا جَرَى عَلَيۡهِمۡ مِنَ الۡإِبۡتِلَاءِ وَالۡإِمۡتِحَانِ؟، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ﴾ [آل عمران: ١٤٠]، فَلۡيُوَطِّنِ الۡعَبۡدُ نَفۡسَهُ أَنَّهُ إِذَا ابۡتُلِيَ فَإِنَّ هَٰذَا لَيۡسَ خَاصًّا بِهِ، فَهَٰذَا سَبَقٌ لِأَوۡلِيَاءِ اللهِ، فَيُوَطِّنُ نَفۡسَهُ وَيَصۡبِرُ وَيَنۡتَظِرُ الۡفَرۡجَ مِنَ اللهِ تَعَالَى، وَالۡعَاقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ.
Jadi, dunia itu tidak selamanya nikmat, mewah, lezat, bahagia, dan ditolong. Tidak selamanya seperti itu. Allah menggilirnya di antara para hamba. Para sahabat itu adalah seutama-utama umat. Ternyata terjadi pada mereka cobaan-cobaan dan ujian-ujian. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Itulah hari-hari yang Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140). Sehingga, hendaklah seorang hamba menenangkan jiwanya. Bahwa apabila dia diberi cobaan, sesungguhnya itu tidak hanya terjadi pada dirinya saja. Bahkan cobaan itu dahulu sudah menimpa para wali Allah. Maka hendaknya dia tenangkan jiwanya, sabar, dan menunggu kelapangan dari Allah ta’ala. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.
قَالَ: (وَإِذَا أَذۡنَبَ اسۡتَغۡفَرَ) أَمَّا الَّذِي إِذَا أَذۡنَبَ لَا يَسۡتَغۡفِرُ وَيَسۡتَزِيدُ مِنَ الذُّنُوبِ فَهَٰذَا شَقِيٌّ -وَالۡعِيَاذُ بِاللهِ-، لَٰكِنۡ الۡعَبۡدُ الۡمُؤۡمِنُ كُلَّمَا صَدَرَ مِنۡهُ ذَنۡبٌ بَادَرَ بِالتَّوۡبَةِ ﴿وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ﴾ [آل عمران: ١٣٥]، ﴿إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَـٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ﴾ [النساء: ١٧]، وَالۡجَهَالَةُ لَيۡسَ مَعۡنَاهَا عَدَمُ الۡعِلۡمِ، لِأَنَّ الۡجَاهِلَ لَا يُؤَاخَذُ، لَٰكِنۡ الۡجَهَالَةُ هُنَا هِيَ ضِدُّ الۡحِلۡمِ، فَكُلُّ مَنۡ عَصَى اللهَ فَهُوَ جَاهِلٌ بِمَعۡنَى نَاقِصِ الۡحِلۡمِ، وَنَاقِصِ الۡعَقۡلِيَّةِ، وَنَاقِصِ الۡإِنۡسَانِيَّةِ، وَقَدۡ يَكُونُ عَالِمًا لَٰكِنَّهُ جَاهِلٌ مِنۡ نَاحِيَةٍ أُخۡرَى، مِنۡ نَاحِيَةِ أَنَّهُ لَيۡسَ عِنۡدَهُ حِلۡمٌ وَلَا ثَبَاتٌ فِي الۡأُمُورِ: ﴿ثُمَّ يَتُوبُونُ مِنۡ قَرِيبٍ﴾ يَعۡنِي: كُلَّمَا أَذۡنَبُوا اسۡتَغۡفَرُوا، مَا هُنَاكَ أَحَدٌ مَعۡصُومٌ مِنَ الذُّنُوبِ، وَلَٰكِنۡ الۡحَمۡدُ لِلهِ أَنَّ اللهَ فَتَحَ بَابَ التَّوۡبَةِ، فَعَلَى الۡعَبۡدِ إِذَا أَذۡنَبَ أَنۡ يُبَادِرَ بِالتَّوۡبَةِ، لَٰكِنۡ إِذَا لَمۡ يَتُبۡ وَلَمۡ يَسۡتَغۡفِرۡ فَهَٰذِهِ عَلَامَةُ الشَّقَاءِ.
وَقَدۡ يَقۡنَطُ مِنۡ رَحۡمَةِ اللهِ وَيَأۡتِيهِ الشَّيۡطَانُ وَيَقُولُ لَهُ: لَيۡسَ لَكَ تَوۡبَةٌ.
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Dan apabila ia berbuat dosa, maka ia pun memohon ampun kepada Allah.” Adapun orang yang berbuat dosa lalu tidak meminta ampun, malah menambah dosa-dosa, maka ia celaka –wal ‘iyadzu billah-. Akan tetapi seorang yang beriman itu apabila muncul dosa dari dirinya, ia segera bertaubat. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?” (QS. Ali ‘Imran: 135). “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera.” (QS. An-Nisa`: 17). Makna kejahilan bukanlah tidak adanya ilmu, karena orang yang tidak mengetahui ilmu itu tidak disiksa. Akan tetapi kejahilan di sini adalah tidak adanya penguasaan diri. Setiap orang yang bermakisat kepada Allah maka ia jahil yang bermakna kurang penguasaan diri, kurang akal, dan kurang peri kemanusiaannya. Terkadang seorang itu berilmu, akan tetapi ia jahil dari sisi yang lain. Dari sisi bahwa ia tidak memiliki penguasaan diri dan kekokohan di dalam beberapa perkara. “Kemudian mereka bertaubat dengan segera” yakni setiap mereka berbuat dosa, lantas mereka memohon ampun. Tidak ada seorang pun yang ma’shum (terjaga) dari perbatan dosa. Akan tetapi, segala puji bagi Allah, bahwa Allah membuka pintu taubat. Maka, wajib bagi hamba jika ia berbuat dosa untuk segera bertaubat. Namun, apabila hamba itu tidak bertaubat dan tidak memohon ampun, maka ini adalah tanda kecelakaan baginya. Kemudian terkadang ia berputus asa dari rahmat Allah, lalu setan mendatanginya seraya mengatakan padanya: Tidak ada taubat untukmu.
هَٰذِهِ الۡأُمُورُ الثَّلَاثُ: إِذَا أُعۡطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابۡتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أَذۡنَبَ اسۡتَغۡفَرَ هِيَ عُنۡوَانُ السَّعَادَةِ، مَنۡ وُفِّقَ لَهَا نَالَ السَّعَادَةَ، وَمَنۡ حُرِمَ مِنۡهَا -أَوۡ مِنۡ بَعۡضِهَا- فَإِنَّهُ شَقِيٌّ.
Inilah ketiga perkara itu, yaitu: Jika ia diberi, ia bersyukur. Jika ia diberi cobaan, ia bersabar. Dan apabila ia berbuat dosa, lantas ia meminta ampun. Inilah tanda kebahagian. Barangsiapa yang diberi taufik oleh Allah di dalam tiga perkara ini, niscaya ia akan meraih kebahagiaan. Adapun orang yang dihalangi dari perkara tersebut atau sebagiannya, maka ia celaka.

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Daftar Link Pos

Daftar link pos terjemahan Syarh Al-Qawa'idul Arba' yang disyarah oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah.

Al-Qawa'idul Arba' (Matan & Terjemahan)

اَلۡقَوَاعِدُ الۡأَرۡبَعُ

لِلۡإِمَامِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ ١١١٥-١٢٠٦ھ

Empat Kaidah

(Terjemahan Al-Qawa’idul Arba’)
karya Al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (1115 - 1206 H)


أَسۡأَلُ اللهَ الۡكَرِيمَ رَبَّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيمِ أَنۡ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَأَنۡ يَجۡعَلَكَ مُبَارَكًا أَيۡنَمَا كُنۡتَ، وَأَنۡ يَجۡعَلَكَ إِذَا أُعۡطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابۡتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أَذۡنَبَ اسۡتَغۡفَرَ، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَ عُنۡوَانُ السَّعَادَةِ.
Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb ‘arsy yang agung, agar Dia melindungi engkau di dunia dan akhirat. Dan agar Dia menjadikan engkau diberkahi di manapun engkau berada, dan agar menjadikan engkau menjadi seseorang yang jika diberi lalu dia bersyukur, jika diberi cobaan lalu dia bersabar, dan jika dia berbuat dosa maka dia memohon ampun. Karena ketiga hal ini adalah tanda kebahagiaan seorang hamba.
إِعۡلَمۡ - أَرۡشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِ -:
أَنَّ الۡحَنِيفِيَّةَ مِلَّةُ إِبۡرَاهِيمَ أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ وَحۡدَهُ مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ.
كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ﴾ [الذاريات: ٥٦].
Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk mentaatiNya, bahwa agama yang lurus -agama Ibrahim- adalah bahwa engkau menyembah Allah saja dengan mengikhlaskan agama ini untukNya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ فَاعۡلَمۡ أَنَّ الۡعِبَادَةَ لَا تُسَمَّى عِبَادَةً إِلَّا مَعَ التَّوۡحِيدِ.
كَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ لَا تُسَمَّى صَلَاةً إِلَّا مَعَ الطَّهَارَةِ.
فَإِذَا دَخَلَ الشِّرۡكُ فِي الۡعِبَادَةِ فَسَدَتۡ، كَالۡحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَارَةِ.
Sehingga, jika engkau telah mengetahui bahwa Allah menciptakan engkau untuk beribadah kepadaNya, maka ketahuilah, bahwa ibadah itu tidak dinamakan ibadah kecuali bersama tauhid. Sebagaimana bahwa shalat tidak dinamakan shalat kecuali bersama thaharah. Jika syirik masuk ke dalam ibadah, ia akan merusaknya. Seperti halnya hadats apabila masuk ke dalam thaharah.
فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ الشِّرۡكَ إِذَا خَالَطَ الۡعِبَادَةَ أَفۡسَدَهَا وَأَحۡبَطَ الۡعَمَلَ وَصَارَ صَاحِبُهُ مِنَ الۡخَالِدِينَ فِي النَّارِ عَرَفۡتَ أَنَّ أَهَمَّ مَا عَلَيۡكَ مَعۡرِفَةُ ذَلِكَ، لَعَلَّ اللهَ أَنۡ يُخۡلِصَكَ مِنۡ هَذِهِ الشَّبَكَةِ وَهِيَ الشِّرۡكُ بِاللهِ.
الَّذِي قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيهِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذ‌ٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ﴾ [النساء: ٤٨]. وَذَلِكَ بِمَعۡرِفَةِ أَرۡبَعِ قَوَاعِدَ ذَكَرَهَا اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ:
Jika engkau telah mengetahui bahwa syirik apabila mencampuri ibadah akan merusaknya dan menghapus amal ibadah serta pelakunya akan menjadi orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka engkau mengetahui bahwa perkara terpenting yang wajib atasmu adalah mengenali hal itu. Semoga Allah menyelamatkanmu dari jerat ini, yaitu menyekutukan Allah. Yaitu, yang Allah ta’ala berfirman tentangnya, yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan Allah dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). Dan perkara tauhid dan syirik itu dikenali dengan cara mengenali empat kaidah yang telah Allah ta’ala sebutkan di dalam KitabNya:
الۡقَاعِدَةُ الأُولَى: أَنۡ تَعۡلَمَ أَنَّ الۡكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ مُقِرُّونَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الۡخَالِقُ الۡمُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذٰلِكَ لَمۡ يُدۡخِلۡهُمۡ فِي الۡإِسۡلاَمِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ السَّمۡعَ وَالۡأَبۡصَارَ وَمَن يُخۡرِجُ الۡحَيَّ مِنَ الۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ الۡمَيِّتَ مِنَ الۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الۡأَمۡرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللهُ ۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾ [يونس: ٣١].
Kaidah pertama: hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang dahulu diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa Allah ta’ala adalah yang menciptakan dan mengatur. Namun hal itu tidak membuat mereka masuk ke dalam Islam. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Katakanlah, siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan mengatakan, Allah. Lalu katakanlah, mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS. Yunus: 31).
الۡقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ: مَا دَعَوۡنَاهُمۡ وَتَوَجَّهۡنَا إِلَيۡهِمۡ إِلاَّ لِطَلَبِ الۡقُرۡبَةِ وَالشَّفَاعَةِ.
فَدَلِيلُ الۡقُرۡبَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوۡلِيَاءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلۡفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾ [الزمر: ٣].
Kaidah kedua: bahwa mereka mengatakan: Tidaklah kami berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kepada mereka kecuali untuk mendapatkan kedekatan dan syafa’at.
Dalil bahwa tujuan mereka untuk mendekatkan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan orang-orang yang menjadikan selain Dia sebagai wali-wali (mengatakan): Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3).
وَدَلِيلُ الشَّفَاعَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ﴾ [يونس: ١٨].
وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ مَنۡفِيَّةٌ وَشَفَاعَةٌ مُثۡبَتَةٌ.
فَالشَّفَاعَةُ الۡمَنۡفِيَّةُ: مَا كَانَتۡ تُطۡلَبُ مِنۡ غَيۡرِ اللهِ فِيمَا لاَ يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلاَّ اللهُ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقۡنَاكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٌ لَّا بَيۡعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالۡكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾ [البقرة: ٢٥٤].
Dalil bahwa tujuan mereka untuk mendapatkan syafaat adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan mereka menyembah dari selain Allah sesembahan yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak dapat memberi manfaat. Dan mereka mengatakan bahwa sesembahan itu pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).
Syafaat itu ada dua macam: syafaat yang ditiadakan dan syafaat yang ditetapkan syariat.
Adapun syafaat yang ditiadakan adalah syafaat yang diminta dari selain Allah pada perkara yang hanya Allah yang bisa melakukannya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, berinfaqlah kalian dari sebagian apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang saat itu tidak ada jual beli, tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 254).
وَالشَّفَاعَةُ الۡمُثۡبَتَةُ هِيَ الَّتِي تُطۡلَبُ مِنَ اللهِ.
وَالشَّافِعُ مُكۡرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالۡمَشۡفُوعُ لَهُ هُوَ مَنۡ رَضِيَ اللهُ قَوۡلَهُ وَعَمَلَهُ بَعۡدَ الۡإِذۡنِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [البقرة: ٢٥٥].
Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat yang diminta dari Allah.
Yang memberi syafaat adalah orang yang dimuliakan dengan syafaat. Sedangkan orang yang disyafaati adalah orang yang Allah ridhai ucapan dan amalannya setelah izin Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izinNya.” (QS. Al-Baqarah: 255).
وَالۡقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِينَ فِي عِبَادَاتِهِمۡ: مِنۡهُمۡ مَنۡ يَعۡبُدُ الۡمَلاَئِكَةَ وَمِنۡهُمۡ مَنۡ يَعۡبُدُ الأَنۡبِيَاءَ وَالصَّالِحِينَ وَمِنۡهُمۡ مَنۡ يَعۡبُدُ الأَحۡجَارَ وَالأَشۡجَارَ وَمِنۡهُمۡ مَنۡ يَعۡبُدُ الشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ جَمِيعًا وَلَمۡ يُفَرِّقۡ بَيۡنَهُمۡ.
Kaidah ketiga: bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang berbeda-beda peribadahannya. Sebagian mereka ada yang beribadah kepada malaikat, ada yang beribadah kepada para nabi dan orang-orang shalih, ada yang beribadah kepada bebatuan dan pepohonan, dan ada pula yang beribadah kepada matahari dan bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan mereka.
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلهِ﴾ [البقرة: ١٩٤].
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun dan sampai agama ini hanya untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 194).
وَدَلِيلُ الشَّمۡسِ وَالۡقَمَرِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنۡ آيَاتِهِ اللَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ ۚ لَا تَسۡجُدُوا لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ﴾ [فصلت: ٣٧].
Dalil bahwa ada yang menyembah matahari dan bulan dan itu adalah kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan termasuk tanda-tandaNya adanya malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan.” (QS. Fushshilat: 37).
وَدَلِيلُ الۡمَلاَئِكَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُوا الۡمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرۡبَابًا﴾ [آل عمران: ٨٠].
Dalil bahwa ada yang menyembah malaikat dan hal tersebut merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan Dia tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan nabi sebagai rabb-rabb.” (QS. Ali ‘Imran: 80).
وَدَلِيلُ الأَنۡبِيَاءِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذۡ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ أَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـٰهَيۡنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبۡحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُ ۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَا أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الۡغُيُوبِ﴾ [المائدة: ١١٦].
Dalil bahwa ada orang yang menyembah para nabi dan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan ingatlah, ketika Allah mengatakan, Wahai ‘Isa bin Maryam apakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Allah? ‘Isa menjawab: Maha suci Engkau, tidak pantas bagiku untuk mengatakan perkataan yang tidak benar. Jika aku telah mengatakannya, maka sungguh Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau adalah maha mengetahui hal-hal yang ghaib.” (QS. Al-Maidah: 13).
وَدَلِيلُ الصَّالِحِينَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾ الآية [الإسراء: ٥٧].
Dalil bahwa ada orang yang menyembah orang-orang shalih dan perbuatan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan azabNya.” (QS. Al-Isra`: 57).
وَدَلِيلُ الأَحۡجَارِ وَالأَشۡجَارِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿أَفَرَأَيۡتُمُ اللَّاتَ وَالۡعُزَّىٰ ۝١٩ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الۡأُخۡرَىٰ﴾ [النجم: ١٩-٢٠].
Dalil bahwa ada orang yang menyembah bebatuan dan pepohonan dan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Lata dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (QS. An-Najm: 19-20).
وَحَدِيثُ أَبِي وَاقِدِ اللَّيۡثِي رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: (خَرَجۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى حُنَيۡنٍ وَنَحۡنُ حُدَثَاءُ عَهۡدٍ بِكُفۡرٍ، وَلِلۡمُشۡرِكِينَ سِدۡرَةٌ يَعۡكُفُونَ عِنۡدَهَا وَيَنُوطُونَ بِهَا أَسۡلِحَتَهُمۡ يُقَالُ لَهَا ذَاتَ أَنۡوَاطٍ، فَمَرَرۡنَا بِسِدۡرَةٍ فَقُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ اجۡعَلۡ لَنَا ذَاتَ أَنۡوَاطٍ كَمَا لَهُمۡ ذَاتُ أَنۡوَاطٍ...) الۡحَدِيث.
Dan hadits Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Waktu itu kami masih baru masuk Islam. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka i’tikaf di situ dan mereka gantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon itu dinamakan Dzatu Anwath. Ketika kami melewati pohon itu, kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, jadikan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath…” Al-Hadits.
الۡقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشۡرِكِي زَمَانِنَا أَغۡلَظُ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِينَ لِأَنَّ الۡأَوَّلِينَ يُشۡرِكُونَ فِي الرَّخَاءِ وَيُخۡلِصُونَ فِي الشَّدَّةِ، وَمُشۡرِكُو زَمَانِنَا شِرۡكُهُمۡ دَائِمٌ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الۡفُلۡكِ دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ﴾ [العنكبوت: ٦٥].
Kaidah keempat: Bahwa orang-orang musyrik pada zaman kita ini kesyirikannya lebih parah daripada orang-orang musyrik zaman dahulu. Karena orang-orang musyrik pada zaman dahulu mereka melakukan perbuatan kesyirikan hanya pada saat lapang. Adapun ketika saat kesulitan mereka mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah. Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita ini, mereka kesyirikannya senantiasa dilakukan baik di saat lapang maupun susah. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Ketika mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya untukNya. Namun apabila Allah telah menyelamatkan mereka ke daratan, setelah itu mereka kembali melakukan kesyirikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 65).

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Kaidah Keempat

الۡقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشۡرِكِي زَمَانِنَا أَغۡلَظُ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِينَ لِأَنَّ الۡأَوَّلِينَ يُشۡرِكُونَ فِي الرَّخَاءِ وَيُخۡلِصُونَ فِي الشَّدَّةِ، وَمُشۡرِكُو زَمَانِنَا شِرۡكُهُمۡ دَائِمٌ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الۡفُلۡكِ دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ﴾ [العنكبوت: ٦٥].
Kaidah keempat: Bahwa orang-orang musyrik pada zaman kita ini kesyirikannya lebih parah daripada orang-orang musyrik zaman dahulu. Karena orang-orang musyrik pada zaman dahulu mereka melakukan perbuatan kesyirikan hanya pada saat lapang. Adapun ketika saat kesulitan mereka mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah. Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita ini, mereka kesyirikannya senantiasa dilakukan baik di saat lapang maupun susah. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Ketika mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya untukNya. Namun apabila Allah telah menyelamatkan mereka ke daratan, setelah itu mereka kembali melakukan kesyirikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 65). 

الۡقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ -وَهِيَ الۡأَخِيرَةِ-: أَنَّ مُشۡرِكِي زَمَانِنَا أَعۡظَمُ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِينَ الَّذِينَ بُعِثَ إِلَيۡهِمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ. 
Kaidah keempat yang terakhir: Bahwa orang-orang musyrik pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya daripada orang-orang dahulu. Yaitu orang-orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada mereka. 
وَالسَّبَبُ فِي ذٰلِكَ وَاضِحٌ: أَنَّ اللهَ -جَلَّ وَعَلَا- أَخۡبَرَ أَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ الۡأَوَّلِينَ يُخۡلِصُونَ لِلهِ إِذَا اشۡتَدَّ بِهِمۡ الۡأَمۡرُ، فَلَا يَدۡعُونَ غَيۡرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِعِلۡمِهِمۡ أَنَّهُ لَا يُنۡقِذُ مِنَ الشَّدَائِدِ إِلَّا اللهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الۡبَحۡرِ ضَلَّ مَنۡ تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّٰكُمۡ إِلَى الۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡ وَكَانَ الۡإِنسَٰنُ كَفُورًا ۝٦٧﴾ [الإسراء: ٦٧]، وَفِي الۡآيَةِ الۡأُخۡرَى: ﴿وَإِذَا غَشِيَهُم مَوۡجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾. يَعۡنِي: مُخۡلِصِينَ لَهُ الدُّعَاءَ، ﴿فَلَمَّا نَجَّٰهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ فَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٌ﴾ [لقمان: ٣٢]، وَفِي الۡآيَةِ الۡأُخۡرَى: ﴿فَلَمَّا نَجَّٰهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ﴾ [العنكبوت: ٦٥]، فَالۡأَوَّلُونَ يُشۡرِكُونَ فِي الرَّخَاءِ، يَدۡعُونَ الۡأَصۡنَامَ وَالۡأَحۡجَارَ وَالۡأَشۡجَارَ. 
Sebabnya jelas. Allah jalla wa ‘ala telah mengabarkan bahwa orang-orang musyrik dahulu mengikhlaskan doa kepada Allah apabila mereka dalam kesulitan. Mereka tidak menyeru selain Allah ‘azza wa jalla karena mereka tahu bahwa tidak ada yang mampu menyelamatkan mereka dari kesulitan kecuali Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan apabila bahaya di lautan menimpa mereka, hilanglah sesembahan yang mereka seru kecuali Dia. Lalu ketika Allah telah menyelamatkan kalian ke daratan, serta merta kalian berpaling. Dan manusia itu sangat ingkar.” (QS. Al-Isra`: 67). Di dalam ayat yang lain, “Dan apabila ombak meliputi mereka seperti gunung, mereka menyeru kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untukNya.” Yakni: mengikhlaskan doa untukNya. “Lalu ketika Dia telah menyelamatkan mereka ke daratan, lalu sebagian mereka kembali kafir.” (QS. Luqman: 32). Di dalam ayat yang lain pula, “Tatkala Allah telah menyelamatkan mereka ke daratan, mereka kemudian menyekutukanNya.” (QS. Al-‘Ankabut: 65). Jadi, orang-orang dahulu menyekutukan ketika kondisi lapang. Mereka berdoa kepada berhala-berhala, bebatuan, dan pepohonan. 
أَمَّا إِذَا وَقَعُوا فِي شِدَّةٍ وَأَشۡرَفُوا عَلَى الۡهَلَاكِ فَإِنَّهُمۡ لَا يَدۡعُونَ صَنَمًا وَلَا شَجَرًا وَلَا حَجَرًا وَلَا أَيَّ مَخۡلُوقٍ، وَإِنَّمَا يَدۡعُونَ اللهَ وَحۡدَهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَإِذَا كَانَ لَا يُخَلِّصُ مِنَ الشَّدَائِدِ إِلَّا اللهُ -جَلَّ وَعَلَا- فَكَيۡفَ يُدۡعَى غَيۡرُهُ فِي الرَّخَاءِ. 
Adapun apabila mereka berada dalam kesulitan dan mendekati kepada kebinasaan, maka mereka tidak berdoa kepada satu berhala pun, tidak pula pohon, batu, atau makhluk apapun. Mereka hanya berdoa kepada Allah saja subhanahu wa ta’ala. Maka jika tidak ada yang menyelamatkan dari kesulitan-kesulitan kecuali Allah jalla wa ‘ala, lalu bagaimana yang selain Dia malah diseru ketika lapang. 
أَمَّا مُشۡرِكُو هٰذَا الزَّمَانِ -يَعۡنِي: الۡمُتَأَخِّرِينَ- الَّذِينَ حَدَثَ فِيهِمۡ الشِّرۡكُ مِنۡ هٰذِهِ الۡأُمَّةِ الۡمُحَمَّدِيَّةِ فَإِنَّ شِرۡكَهُمۡ دَائِمٌ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ، لَا يُخۡلِصُونَ لِلهِ وَلَا فِي حَالَةِ الشِّدَّةِ، بَلۡ كُلَّمَا اشۡتَدَّ بِهِمۡ الۡأَمۡرُ اشۡتَدَّ شِرۡكُهُمۡ وَنِدَاؤُهُمۡ لِلۡحَسَنِ وَالۡحُسَيۡنِ وَعَبۡدُ الۡقَادِرِ وَالرِّفَاعِيِّ وَغَيۡرِ ذٰلِكَ، هٰذَا شَيۡءٌ مَعۡرُوفٌ، وَيُذۡكَرُ عَنۡهُمُ الۡعَجَائِبُ فِي الۡبِحَارِ، أَنَّهُمۡ إِذَا اشۡتَدَّ بِهِمُ الۡأَمۡرُ صَارُوا يَهۡتِفُونَ بِأَسۡمَاءِ الۡأَوۡلِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَيَسۡتَغِيثُونَ بِهِمۡ مِنۡ دُونِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، لِأَنَّ دُعَاةَ الۡبَاطِلِ وَالصَّلَالِ يَقُولُونَ لَهُمۡ: نَحۡنُ نُنۡقِذُكُمۡ مِنَ الۡبِحَارِ، فَإِذَا أَصَابَكُمۡ شَيۡءٌ اهۡتَفُوا بِأَسۡمَائِنَا وَنَحۡنُ نُنۡقِذُكُمۡ. 
Adapun orang-orang musyrik zaman ini -yakni belakangan ini- yaitu orang-orang yang kesyirikan terjadi pada mereka dari kalangan umat Muhammad, sesungguhnya kesyirikan mereka senantiasa berlangsung baik pada saat lapang maupun susah. Mereka tidak mengikhlaskan doa kepada Allah meski pada keadaan sulit. Bahkan, ketika keadaan semakin sulit, semakin parah pula kesyirikan mereka dan semakin keras panggilan mereka kepada Al-Hasan, Al-Husain, ‘Abdul Qadir, Ar-Rifa’i, dan selain mereka. Ini adalah perkara yang sudah dikenal. Dan disebutkan dari mereka keanehan-keanehan di lautan. Yaitu bahwa mereka apabila berada dalam keadaan sulit, mereka meneriakkan nama-nama para wali dan orang-orang shalih, serta beristighatsah kepada mereka dari selain Allah ‘azza wa jalla. Karena para dai yang menyeru kepada kebatilan dan kesesatan berkata kepada mereka: Kami akan menyelamatkan kalian dari lautan, sehingga apabila ada sesuatu yang menimpa kalian, panggillah nama-nama kami, maka kami akan selamatkan kalian. 
كَمَا يُرۡوَى هٰذَا عَنۡ مَشَايِخِ الطُّرُقِ الصُّوفِيَّةِ، وَاقۡرَءُوا -إِنۡ شِئۡتُمۡ- (طَبَقَاتِ الشَّعۡرَانِيِّ) فَفِيهَا مَا تَقۡشَعِرُّ مِنۡهُ الۡجُلُودُ مِمَّا يُسَمِّيهِ كَرَمَاتِ الۡأَوۡلِيَاءِ، وَأَنَّهُمۡ يُنۡقِذُونَ مِنَ الۡبِحَارِ، وَأَنَّهُ يَمُدُّ يَدَهُ إِلَى الۡبَحۡرِ وَيَحۡمِلُ الۡمَرۡكَبَ كُلَّهُ وَيُخۡرِجُهُ إِلَى الۡبَرِّ وَلَا تَتَنَدَّى أَكۡمَامُهُ، إِلَى غَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ تُرَّهَاتِهِمۡ وَخُرَافَاتِهِمۡ، فَشِرۡكُهُمۡ دَائِمٌ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ، فَهُمۡ أَغۡلَظُ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ الۡأَوَّلِينَ. 
Sebagaimana hal ini diriwayatkan dari syaikh-syaikh tarekat sufi. Bacalah -kalau engkau mau- “Thabaqat Asy-Sya’rani”. Di dalamnya ada sesuatu yang kulit-kulit dapat bergetar karenanya dari hal-hal yang mereka namakan karamah-karamah para wali. Bahwa mereka dapat menyelamatkan dari lautan, bahwa ia membentangkan tangannya ke lautan, ia membawa perahu seluruhnya, dan ia mengeluarkannya ke daratan dalam keadaan lengan bajunya tidak basah. Dan selain itu dari omongan kosong dan khurafat mereka. Jadi kesyirikan orang-orang musyrik zaman ini senantiasa terjadi baik di saat lapang maupun sulit. Makanya, mereka lebih parah daripada orang-orang syirik dahulu. 
وَأَيۡضًا -كَمَا قَالَ الشَّيۡخُ فِي (كَشۡفِ الشُّبُهَاتِ)-: مِنۡ وَجۡهٍ آخَرَ: (أَنَّ الۡأَوَّلِينَ يَعۡبُدُونَ أُنَاسًا صَالِحِينَ مِنَ الۡمَلَائِكَةِ وَالۡأَنۡبِيَاءِ وَالۡأَوۡلِيَاءِ، أَمَّا هٰؤُلَاءِ فَيَعۡبُدُونَ أُنَاسًا مِنۡ أَفۡجَرِ النَّاسِ، وَهُمۡ يَعۡتَرِفُونَ بِذٰلِكَ، فَالَّذِينَ يُسَمُّونَهُمۡ الۡأَقۡطَابَ وَالۡأَغۡوَاثَ لَا يُصَلُّونَ، وَلَا يَصُومُونَ، وَلَا يَتَنَزَّهُونَ عَنِ الزِّنَا وَاللِّوَاطِ وَالۡفَاحِشَةِ، لِأَنَّهُمۡ يَزۡعُمُونَ لَيۡسَ عَلَيۡهِمۡ تَكَالِيفُ، فَلَيۡسَ عَلَيۡهِمۡ حَرَامٌ وَلَا حَلَالٌ، إِنَّمَا هٰذَا لِلۡعَوَامِّ فَقَطۡ. 
وَهُمۡ يَعۡتَرِفُونَ أَنَّ سَادَتَهُمۡ لَا يُصَلُّونَ وَلَا يَصُومُونَ، وَأَنَّهُمۡ لَا يَتَوَرَّعُونَ عَنۡ فَاحِشَةٍ، وَمَعَ هٰذَا يَعۡبُدُونَهُمۡ، بَلۡ يَعۡبُدُونَ أُنَاسًا مِنۡ أَفۡجَرِ النَّاسِ: كَالۡحَلَّاجِ، وَابۡنِ عَرَبِيٍّ، وَالرِّفَاعِيِّ، وَالۡبَدَوِيِّ، وَغَيۡرِهِمۡ). 
Selain itu -sebagaimana Syaikh katakan di Kasyfusy Syubuhat- dari sisi yang lain: “Bahwa orang-orang musyrik dahulu menyembah sesembahan yang shalih dari kalangan malaikat, nabi-nabi, dan wali-wali. Adapun mereka sekarang menyembah orang-orang yang paling jahat. Dan mereka mengakuinya. Orang-orang yang mereka namakan aqthab dan aghwats adalah orang yang tidak shalat, tidak puasa, dan tidak menjaga diri dari zina, homoseks, dan perbuatan keji. Karena mereka menyangka tidak ada beban syariat pada mereka. Sehingga tidak ada bagi mereka perkara halal dan haram karena hal itu hanya untuk orang awam saja. 
Orang-orang musyrik zaman ini mengakui bahwa tokoh-tokoh mereka itu tidak shalat, tidak puasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji. Meskipun demikian, mereka tetap menyembahnya. Bahkan mereka menyembah orang-orang yang paling jahat seperti Al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi, Ar-Rifa’i, Al-Badawi, dan selain mereka.
وَقَدۡ سَاقَ الشَّيۡخُ الدَّلِيلَ عَلَى أَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ الۡمُتَأَخِّرِينَ أَعۡظَمُ وَأَغۡلَظُ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِينَ، لِأَنَّ الۡأَوَّلِينَ يُخۡلِصُونَ فِي الشِّدَّةِ وَيُشۡرِكُونَ فِي الرَّخَاءِ، فَاسۡتَدَلَّ بِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الۡفُلۡكِ دَعَوُا اللهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾ [العنكبوت: ٦٥]. 
Syaikh telah membawakan dalil bahwa orang-orang musyrik belakangan lebih besar dan lebih parah kesyirikan daripada orang-orang musyrik dahulu. Yaitu karena orang-orang musyrik dahulu memurnikan ibadah dalam keadaan sulit namun berbuat syirik ketika lapang. Beliau mengambil dalil dengan firman Allah ta’ala, “Jika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan agama untukNya.” (QS. Al-‘Ankabut: 65). 
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ. 
Semoga Allah senantiasa curahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan shahabatnya seluruhnya.