Mimpi yang Menjadi Nyata

(Shafiyyah binti Huyay)


Di sebuah kota, dengan benteng-benteng yang besar dan kebun-kebun yang luas, baru saja berlangsung sebuah pernikahan. Pernikahan putri salah seorang pemimpin kabilah. Seorang putri nan cantik jelita telah menikah dengan salah seorang penyair terkenal di kabilahnya. Di malam pertamanya, sang putri bermimpi melihat rembulan jatuh memasuki kamarnya. Maka dikabarkan mimpinya tersebut kepada suaminya tanpa maksud apapun kecuali sekedar menceritakannya. Akan tetapi sang suami sangat marah dengan cerita mimpi tersebut, bahkan menampar wajahnya hingga menimbulkan bekas di wajahnya nan jelita seraya berkata, “Tidaklah kau bermimpi demikian kecuali engkau berangan-angan terhadap Raja Negeri Hijaz (Madinah) Muhammad!” Allahu Akbar….

Sang putri itu adalah Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bin Sa’ya. Putri salah seorang pemimpin Quraizah dari Bani Nadhir. Seorang putri dengan garis nasab yang sangat baik, yaitu merupakan keturunan Al Lawy bin Nabi Allah Israil bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimus salam, yang juga bergaris keturunan Nabi Allah Harun ‘alaihis salam. Suaminya adalah Kinanah bin Abul Huqaiq, seorang penyair Yahudi yang terkenal. Mereka tinggal di kota dengan penduduk Yahudi terbesar yaitu Kota Khaibar.

Sementara itu…. di Kota Madinah, kurang lebih enam puluh atau delapan puluh mil arah selatan Khaibar, telah terbangun sebuah masyarakat muslim yang cukup kokoh. Agama baru yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin berkembang dan menyebar ke berbagai daerah. Peperangan demi peperangan untuk meninggikan kalimat tauhid, Allah takdirkan berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin sehingga kewibawaan dan kehormatan kaum muslimin semakin terangkat.

Sedangkan Khaibar… adalah sebuah kota pemukiman orang-orang Yahudi yang memiliki kebencian, kedengkian dan permusuhan dengan kaum muslimin. Berbagai upaya telah terbukti mereka lakukan untuk menimbulkan permusuhan, pengkhianatan, dan memicu peperangan antara kaum muslimin dengan kabilah-kabilah yang ada di sekitarnya. Mereka pun sering kali didapati berhubungan dengan kaum munafikin yang ada di tengah-tengah kaum muslimin dan mengupayakan agar dapat menimbulkan kekacauan dari dalam masyarakat kaum muslimin. Bahkan mereka pernah membuat rencana untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka keadaan yang seperti itu membuat Khaibar menjadi sebuah perkampungan yang cukup berbahaya bagi keamanan kaum muslimin. Untuk itulah tak berapa lama sepulang dari Hudaibiyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan untuk berangkat ke Khaibar. Beliau berangkat bersama para sahabat pemberani kurang lebih sebanyak seribu empat ratus orang. Tujuannya adalah satu, yaitu mengajak mereka meninggikan kalimat tauhid dan masuk ke dalam agama Islam. Dan Alhamdulillah…. segala puji hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala benteng demi benteng yang terdapat di Khaibar berhasil dikuasai. Sebagian penduduknya ada yang memilih melawan sehingga terbunuh, sedangkan sebagiannya ada yang memilih untuk mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin.

Keadaan Yahudi yang merupakan ahlul kitab membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima perjanjian mereka yaitu mereka tidak perlu keluar dari tanah Khaibar akan tetapi mereka bersedia memberikan sebagian besar hasil perkebunan mereka kepada kaum muslimin. Dengan peristiwa itu, Allah ‘azza wa jalla melimpahkan banyak sekali harta yang dapat dibagikan kepada kaum muslimin. Bahkan sahabat Abdullah Ibnu Umar Ibnul Khathab radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Sebelumnya kami (para sahabat) tidak pernah merasa kenyang hingga kami berhasil menaklukkan Khaibar”. Begitu pula Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Saat Khaibar berhasil ditaklukkan, maka kami bisa merasakan kenyang makan kurma”. Masya Allah….

Di antara penduduk Khaibar yang menyerah dan memilih mengadakan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Kinanah bin Abul Huqaiq, suami Shafiyyah bintu Huyay. Akan tetapi sekalipun telah menyetujui perjanjian untuk menyerahkan semua harta kepada kaum muslimin, Kinanah berkhianat. Dia masih menyembunyikan sejumlah harta benda yang dimilikinya. Akibat penyelisihannya terhadap perjanjian yang dia buat sendiri maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuhnya. Maka setelah terbunuhnya Kinanah bin Abul Huqaiq, Shafiyyah binti Huyay dikumpulkan bersama para tawanan yang lainnya.

Setelah semua tawanan terkumpul, datanglah salah seorang sahabat yaitu Dihyah bin Khalifah Al Kalby radhiyallahu ‘anhu meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang budak wanita. Maka setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –membolehkannya, ia memilih Shafiyyah binti Huyay dan membawanya bersamanya. Akan tetapi sahabat yang lain bersegera menemui Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah apakah engkau akan menyerahkan putri pemimpin Quraizah dan Bani Nadhir yaitu Shafiyyah binti Huyay kepada Dihyah? Dia hanyalah pantas menjadi milikmu”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar Shafiyyah dan Dihyah dipanggil kembali menghadap beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Dihyah meninggalkan Shafiyyah dan mengambil budak yang selainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menawarkan kepada Shafiyyah untuk masuk Islam, dan Shafiyyah menerima penawaran tersebut. Bahkan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan diri untuk menikahinya dan memerdekakannya dengan kemerdekaan sebagai maharnya, Shafiyyah pun menerimanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupkan sitar (penutup) atas dirinya sebagai pertanda bahwa beliau hendak menjadikannya sebagai salah satu dari ummahaatul mukminin. Sungguh…. mimpi Shafiyyah radhiyallahu ‘anha yang ditafsirkan oleh Kinanah bin Abul Huqaiq ternyata terbukti menjadi nyata. Allahu Akbar….

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersegera melangsungkan pernikahan dengannya. Beliau menunggu hingga kaum muslimin telah pergi ke sebuah tempat kurang lebih 6 mil dari Khaibar. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan hingga sampai ke sebuah tempat bernama Ash Shahba yang letaknya telah jauh dari Khaibar. Ketika itulah terlihat bahwa Shafiyyah binti Huyay telah siap membina rumah tangga dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam -, maka diperintahkannyalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha merias Shafiyyah hingga bersinarlah kecantikannya. Pesona Shafiyyah diakui oleh seorang shahabiyah yaitu Ummu Sinan Al Aslamiyah dengan perkataannya, “Tidak dijumpai (saat itu) wanita yang lebih bercahaya dari pada dia”. Maka di tempat itulah pernikahan keduanya dilangsungkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidangkan makanan-makanan terbaik yang mereka dapatkan dari Khaibar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tempat tersebut selama tiga hari.

Sesampainya kaum muslimin di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak langsung membawa Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha ke rumah istri-istri beliau yang lain. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menempatkan Shafiyyah di salah satu rumah sahabat yaitu di kediaman Harist ibn Nu’man radhiyallahu ‘anhu. Ketika para wanita Anshar mendengar kedatangannya, maka mereka bergegas mendatanginya dan mempersaksikan kecantikannya. Tidak terkecuali para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan pendapatnya tentang Shafiyyah, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan dengan nada kecemburuan, “Aku hanya melihat seorang wanita Yahudi”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban atas komentarnya tersebut dengan perkataan, “Janganlah berkata demikian. Sesungguhnya dia telah masuk Islam dengan keislaman yang baik”.

Kecemburuan para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berhenti sampai di sana. Pernah dijumpai pula kecemburuan tersebut ada pada ummul mukminin Hafshah binti 'Umar radhiyallahu ‘anha, ketika beliau berkata tentang Shafiyyah, “Anak putrinya orang Yahudi”, yang perkataan tersebut membuat Shafiyyah menangis. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri teladan bagi setiap laki-laki muslim dalam menghadap permasalahan di antara para istrinya, menenangkan Shafiyyah dengan kata-kata yang menyejukkan hati, menentramkan dan memberikan ketenangan kepada Shafiyyah. Tidak lupa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berupaya meluruskan sikap istri yang telah berbuat kesalahan dengan cara yang bijaksana. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Shafiyyah, “Sesungguhnya kamu adalah anak turunnya seorang nabi, pamanmu seorang nabi dan engkau berada di bawah naungan (suami) seorang nabi, maka dengan apa dia akan membanggakan diri atasmu?”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan Hafshah radhiyallahu ‘anha dengan perkataan, “Bertakwalah engkau kepada Allah, Wahai Hafshah”.

SubhanAllah… satu gambaran kehidupan rumah tangga yang penuh dengan keutamaan. Tegak di dalamnya amar ma’ruf nahi munkar, saling menasehati di dalam ketakwaan dan kesabaran antara istri dan suami untuk terciptanya kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Demikianlah Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha. Ummul Mukminin dengan nasab terbaik dari keturunan para nabi. Beliau wafat sekitar tahun 50 hijriyah pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah ibn Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, dan beliau dimakamkan di Baqi’ bersama ummul mukminin yang lainnya radhiyallahu ‘anhum.

Referensi:
  • Kitab Nisa’ Haular Rasul Karya Musthafa Asy Sya’labi Mahmud Mahdi Al Istambuli
  • Kitab Rahiqul Makhtum Karya Syaikh Safiyurrahman Al Mubarakfury
  • Kitab Sirah Nabawiyah Karya Ibnu Hisyam

Sumber: Majalah Qudwah edisi 29 vol. 3 1436 H/ 2015 M, rubrik Niswah. Pemateri: Ustadzah Ummu Abdillah Shafa’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar