Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1582 dan 1583

٤٢ – بَابُ فَضۡلِ مَكَّةَ وَبُنۡيَانِهَا
42. Bab keutamaan Makkah dan bangunannya

وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَإِذۡ جَعَلۡنَا الۡبَيۡتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمۡنًا وَاتَّخِذُوا مِنۡ مَقَامِ إِبۡرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدۡنَا إِلَى إِبۡرَاهِيمَ وَإِسۡمَاعِيلَ أَنۡ طَهِّرَا بَيۡتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالۡعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ. وَإِذْ قَالَ إِبْرَ‌ٰهِـۧمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَـٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَ‌ٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ. وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَ‌ٰهِـۧمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَـٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ. رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ﴾ [البقرة: ١٢٥ – ١٢٨].
Dan firman Allah taala: Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma’il: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud.” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma’il (seraya berdoa): “Ya Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 125-128).
١٥٨٢ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ جُرَيۡجٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرُو بۡنُ دِينَارٍ قَالَ: سَمِعۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: لَمَّا بُنِيَتِ الۡكَعۡبَةُ، ذَهَبَ النَّبِيُّ ﷺ وَعَبَّاسٌ يَنۡقُلَانِ الۡحِجَارَةَ، فَقَالَ الۡعَبَّاسُ لِلنَّبِيِّ ﷺ: اجۡعَلۡ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ، فَخَرَّ إِلَى الۡأَرۡضِ، وَطَمَحَتۡ عَيۡنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: (أُرِنِي إِزَارِي). فَشَدَّهُ عَلَيۡهِ. [طرفه في: ٣٦٤].
1582. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku, beliau mengatakan: ‘Amr bin Dinar mengabarkan kepadaku, beliau mengatakan: Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Ketika Ka’bah dibangun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ‘Abbas pergi ikut memindah-mindahkan batu. ‘Abbas mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Jadikan sarungmu di atas tengkukmu. Lalu beliau jatuh tersungkur ke tanah dan kedua mata beliau menatap ke langit. Beliau bersabda, “Berikan sarungku.” Maka, ‘Abbas menutupkan sarung pada beliau.
١٥٨٣ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ مُحَمَّدِ بۡنِ أَبِي بَكۡرٍ: أَخۡبَرَ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ لَهَا: (أَلَمۡ تَرَيۡ أَنَّ قَوۡمَكِ لَمَّا بَنَوُا الۡكَعۡبَةَ اقۡتَصَرُوا عَنۡ قَوَاعِدِ إِبۡرَاهِيمَ؟) فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَلَا تَرُدُّهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبۡرَاهِيمَ؟ قَالَ: (لَوۡ لَا حِدۡثَانُ قَوۡمِكِ بِالۡكُفۡرِ لَفَعَلۡتُ). فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: لَئِنۡ كَانَتۡ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا سَمِعَتۡ هَٰذَا مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، مَا أُرَى رَسُولَ اللهِ ﷺ تَرَكَ اسۡتِلَامَ الرُّكۡنَيۡنِ اللَّذَيۡنِ يَلِيَانِ الۡحِجۡرَ، إِلَّا أَنَّ الۡبَيۡتَ لَمۡ يُتَمَّمۡ عَلَى قَوَاعِدِ إِبۡرَاهِيمَ. [طرفه في: ١٢٦].
1583. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Salim bin ‘Abdullah: Bahwa ‘Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakr: Beliau mengabari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada ‘Aisyah, “Tidakkah engkau lihat bahwa kaummu ketika mereka membangun Ka’bah, mereka tidak membangun semuanya pada pondasi Nabi Ibrahim?” Aku mengatakan: Wahai Rasulullah, mengapa tidak engkau kembalikan pada pondasi Nabi Ibrahim? Beliau menjawab, “Seandainya bukan karena masih dekatnya kaummu dengan kekafiran, pasti aku lakukan.” ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu mengatakan: ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pasti mendengar ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah aku mengira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan perbuatan menyentuh dua rukun (tiang) setelah hajar aswad, kecuali karena Ka’bah belum disempurnakan pada pondasi Nabi Ibrahim.