Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5115, 5116, 5117, 5118, dan 5119

٣٢ – بَابُ نَهۡيِ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَنۡ نِكَاحِ الۡمُتۡعَةِ آخِرًا
32. Bab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada akhirnya melarang dari nikah mutah

٥١١٥ – حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ الزُّهۡرِيَّ يَقُولُ: أَخۡبَرَنِي الۡحَسَنُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيٍّ، وَأَخُوهُ عَبۡدُ اللهِ، عَنۡ أَبِيهِمَا: أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنِ الۡمُتۡعَةِ، وَعَنۡ لُحُومِ الۡحُمُرِ الۡأَهۡلِيَّةِ، زَمَنَ خَيۡبَرَ. [طرفه في: ٤٢١٦].
5115. Malik bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah menceritakan kepada kami: Bahwa beliau mendengar Az-Zuhri mengatakan: Al-Hasan bin Muhammad bin ‘Ali dan saudara laki-lakinya yaitu ‘Abdullah mengabarkan kepadaku, dari ayah keduanya: Bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Ibnu ‘Abbas: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari nikah mutah dan daging keledai piaraan ketika perang Khaibar.
٥١١٦ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَبِي جَمۡرَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ: سُئِلَ عَنۡ مُتۡعَةِ النِّسَاءِ فَرَخَّصَ، فَقَالَ لَهُ مَوۡلًى لَهُ: إِنَّمَا ذٰلِكَ فِي الۡحَالِ الشَّدِيدِ، وَفِي النِّسَاءِ قِلَّةٌ؟ أَوۡ نَحۡوَهُ، فَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: نَعَمۡ.
5116. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Jamrah, beliau mengatakan: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas: Beliau ditanya mengenai menikahi mutah seorang wanita, lalu beliau memberi keringanan. Lalu, seorang maulanya bertanya kepadanya: Apakah keringanan itu hanya berlaku ketika keadaan yang sangat mendesak dan ketika jumlah wanita sangat sedikit? Atau semisal itu. Ibnu ‘Abbas menjawab: Ya. 
٥١١٧، ٥١١٨ – حَدَّثَنَا عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: قَالَ عَمۡرٌو، عَنِ الۡحَسَنِ بۡنِ مُحَمَّدٍ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ وَسَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ قَالَا: كُنَّا فِي جَيۡشٍ، فَأَتَانَا رَسُولُ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: إِنَّهُ قَدۡ أُذِنَ لَكُمۡ أَنۡ تَسۡتَمۡتِعُوا، فَاسۡتَمۡتِعُوا.
5117, 5118. ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Amr mengatakan dari Al-Hasan bin Muhammad, dari Jabir bin ‘Abdullah dan Salamah bin Al-Akwa’. Keduanya mengatakan: Kami pernah berada di dalam suatu pasukan, lalu utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami: Sesungguhnya kalian telah diizinkan untuk nikah mutah, maka nikah mutahlah kalian.
٥١١٩ – وَقَالَ ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ: حَدَّثَنِي إِيَاسُ بۡنُ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: (أَيُّمَا رَجُلٍ وَامۡرَأَةٍ تَوَافَقَا، فَعِشۡرَةُ مَا بَيۡنَهُمَا ثَلَاثُ لَيَالٍ، فَإِنۡ أَحَبَّا أَنۡ يَتَزَايَدَا، أَوۡ يَتَتَارَكَا تَتَارَكَا). فَمَا أَدۡرِي أَشَيۡءٌ كَانَ لَنَا خَاصَّةً، أَمۡ لِلنَّاسِ عَامَّةً! قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: وَبَيَّنَهُ عَلِيٌّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ مَنۡسُوخٌ.
5119. Ibnu Abu Dzi`b mengatakan: Iyas bin Salamah bin Al-Akwa’ menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Lelaki dan wanita mana saja yang keduanya telah bersepakat, maka pergaulan antara keduanya selama tiga malam. Apabila keduanya suka, keduanya bisa menambah waktunya. Atau jika tidak, keduanya bisa saling berpisah.” Aku tidak tahu apakah hal tersebut bagi kami secara khusus atau untuk manusia secara umum. Abu ‘Abdullah mengatakan: ‘Ali menjelaskannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa nikah mutah telah dihapus (mansukh).