Usdul Ghabah - 6980. Subai’ah binti Al-Harits

٦٩٨٠ – سُبَيۡعَةُ بِنۡتُ الۡحَارِثِ
6980. Subai’ah binti Al-Harits

ب د ع: سُبَيۡعَةُ بِنۡتُ الۡحَارِثِ الۡأَسۡلَمِيَّةُ. كَانَتِ امۡرَأَةَ سَعۡدِ بۡنِ خَوۡلَةَ فَتُوُفِّيَ عَنۡهَا بِمَكَّةَ فِي حَجَّةِ الۡوَدَاعِ وَهِيَ حَامِلٌ، فَوَضَعَتۡ بَعۡدَ وَفَاةِ زَوۡجِهَا بِلَيَالٍ، قِيلَ: شَهۡرٌ. وَقِيلَ: خَمۡسٌ وَعِشۡرُونَ. وَقِيلَ: أَقَلُّ مِنۡ ذٰلِكَ.
Subai’ah binti Al-Harits Al-Aslamiyyah. Dahulu, beliau adalah istri Sa’d bin Khaulah lalu ditinggal mati di Makkah dalam haji wadak ketika Subai’ah sedang hamil. Dia melahirkan beberapa malam setelah suaminya wafat. Ada yang mengatakan: Sebulan. Ada yang mengatakan: Dua puluh lima malam. Ada yang mengatakan: Lebih sedikit dari itu.
أَخۡبَرَنَا أَبُو الۡحَرَمِ مَكِّيُ بۡنُ رَبَّانَ النَّحۡوِيُ بِإِسۡنَادِهِ عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ يَحۡيَى، عَنۡ مَالِكِ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ عَبۡدِ رَبِّهِ بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ أَنَّهُ قَالَ: سُئِلَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبَّاسٍ وَأَبُو هُرَيۡرَةَ عَنِ الۡمَرۡأَةِ الۡحَامِلِ يُتَوَفَّى عَنۡهَا زَوۡجُهَا، فَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: آخِرُ الۡأَجَلَيۡنِ. وَقَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: إِذَا وَلَدَتۡ فَقَدۡ حَلَّتۡ. فَدَخَلَ أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ فَسَأَلَهَا عَنۡ ذٰلِكَ، فَقَالَتۡ أُمُّ سَلَمَةَ: وَلَدَتۡ سُبَيۡعَةُ اۡلَأۡسۡلَمِيَّةُ بَعۡدَ وَفَاةِ زَوۡجِهَا بِنِصۡفِ شَهۡرٍ، فَخَطَبَهَا رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا شَابٌّ وَالۡآخَرُ كَهۡلٌ، فَحَطَّتۡ إِلَى الشَّابِّ، فَقَالَ الشَّيۡخُ: لَمۡ تَحِلِّي بَعۡدُ. وَكَانَ أَهۡلُهَا غُيَّبًا، وَرَجَا إِذَا جَاءَ أَهۡلُهَا أَنۡ يُؤَثِّرُوهُ بِهَا، فَجَاءَتۡ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (قَدۡ حَلَلۡتِ فَانۡكِحِي مَنۡ شِئۡتِ).
Abu Al-Haram Makki bin Rabban An-Nahwi telah mengabarkan kepada kami dengan sanadnya dari Yahya bin Yahya, dari Malik bin Anas, dari ‘Abdu Rabbih bin Sa’id, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa beliau berkata: ‘Abdullah bin ‘Abbas dan Abu Hurairah ditanya tentang (masa idah) wanita hamil yang ditinggal mati suaminya. Ibnu ‘Abbas berkata: Yang lebih akhir di antara dua masa idah. Abu Hurairah berkata: Jika dia sudah melahirkan, maka sudah selesai masa idahnya. Lalu Abu Salamah bin ‘Abdurrahman masuk menemui Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya kepadanya tentang hal itu. Ummu Salamah berkata: Subai’ah Al-Aslamiyyah melahirkan setengah bulan setelah suaminya wafat. Lalu ada dua orang yang melamarnya. Yang satu adalah seorang pemuda, sementara lainnya adalah pria setengah baya. Subai’ah cenderung kepada si pemuda, sehingga si pria setengah baya itu berkata: Engkau belum halal menikah sekarang. Ketika itu, keluarga Subai’ah tidak berada di situ. Si pria setengah baya itu berharap jika keluarga Subai’ah datang, maka mereka akan lebih memilihnya untuk Subai’ah. Lalu Subai’ah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Engkau sudah halal, menikahlah dengan orang yang engkau suka.”[1]
وَرَوَى عَنۡهَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مَنِ اسۡتَطَاعَ مِنۡكُمۡ أَنۡ يَمُوتَ بِالۡمَدِينَةِ فَلۡيَمُتۡ فَإِنَّهُ لَا يَمُوتُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا كُنۡتُ لَهُ شَهِيدًا أَوۡ شَفِيعًا يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ).
‘Abdullah bin ‘Umar meriwayatkan dari Subai’ah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja di antara kalian yang mampu untuk berada di Madinah ketika meninggal, maka hendaknya dia meninggal di sana. Karena tidaklah seorangpun yang meninggal di sana kecuali aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat untuknya pada hari kiamat.”[2]
أَخۡرَجَهَا الثَّلَاثَةُ، وَقَالَ أَبُو عُمَرَ زَعَمَ الۡعُقَيۡلِيُّ أَنَّ سُبَيۡعَةَ الَّتِي رَوَى عَنۡهَا ابۡنُ عُمَرَ غَيۡرُ سُبَيۡعَةَ الۡأَسۡلَمِيَّةِ، قَالَ: وَلَا يَصِحُّ ذٰلِكَ عِنۡدِي.
Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar). Abu ‘Umar berkata: Al-‘Uqaili menyatakan bahwa Subai’ah yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar bukanlah Subai’ah Al-Aslamiyyah. Abu ‘Umar berkata: Menurutku pernyataan itu tidak benar.

[1] HR. Malik dalam Al-Muwaththa` nomor 1283, Ahmad dalam Al-Musnad (6/432), Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (24/750), dan ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf nomor 11722. 
[2] HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (24/747). Disebutkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa`id (3/306) dan Ibnu Katsir dalam Jami’ Al-Masanid was Sunan (15/517).