Perintah dan Larangan Allah yang Terbesar

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam Al-Jami' li 'Ibadatillah berkata:

فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا أَجَلُّ أَمۡرٍ أَمَرَ اللهُ بِهِ؟ 
قِيلَ: تَوۡحِيدُهُ بِالۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ بَيَانُهُ، وَأَعۡظَمُ نَهۡيٍ نَهَى اللهُ عَنۡهُ الشِّرۡكُ بِهِ، وَهُوَ أَنۡ يَدۡعُوَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ. 
فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدِ اتَّخَذَهُ رَبًّا وَإِلٰهًا، وَأَشۡرَكَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ مِنَ الۡآيَاتِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَٰذَا هُوَ الشِّرۡكُ الَّذِي نَهَى اللهُ عَنۡهُ، وَأَنۡكَرَهُ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ، وَقَدۡ قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلًۢا بَعِيدًا﴾ [النساء: ١١٦]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ﴾ [المائدة: ٧٢]. وَاللهُ أَعۡلَمُ. 
Jika ada yang bertanya, “Lalu apa perkara paling mulia yang Allah perintahkan?” 
Maka engkau katakan, “Menauhidkan Allah dalam ibadah. Hal itu telah dijelaskan sebelumnya. Dan larangan terbesar yang Allah larang darinya adalah berbuat syirik kepada Allah, yaitu di samping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selain-Nya atau menujukan jenis-jenis ibadah yang lain kepada selain-Nya.”[1]
Jadi siapa saja yang memalingkan sedikit saja dari berbagai macam ibadah tadi untuk selain Allah taala, maka dia telah menjadikannya sebagai tuhan dan sesembahan dan dia telah menjadikannya sekutu di samping Allah. Atau dia menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah. Dan telah berlalu ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ini merupakan kesyirikan yang telah Allah larang dan Allah ingkari terhadap orang-orang musyrik. Allah taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`: 116). Allah taala berfirman yang artinya, “Siapa saja yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah haramkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma`idah: 72).[2] Wallahualam. 
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ.
Semoga Allah mencurahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga dan sahabatnya. 


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata di dalam syarahnya:

[1] أَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوۡحِيدُ، وَأَعۡظَمُ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ الشِّرۡكُ، فَالتَّوۡحِيدُ هُوَ أَعۡظَمُ الۡمَأۡمُورَاتِ، وَالشِّرۡكُ أَعۡظَمُ الۡمَنۡهِيَّاتِ أَعۡظَمُ مِنۡ شُرۡبِ الۡخَمۡرِ، وَأَعۡظَمُ مِنۡ قَتۡلِ النَّفۡسِ بِغَيۡرِ حَقٍّ. 

Perintah Allah yang paling agung adalah tauhid dan larangan Allah yang paling besar adalah syirik. Jadi tauhid adalah seagung-agung perkara yang diperintahkan, sedangkan syirik adalah perkara terbesar yang dilarang, lebih besar daripada meminum khamar dan lebih besar daripada membunuh jiwa tanpa alasan yang benar. 

وَالتَّوۡحِيدُ هُوَ أَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ، أَعۡظَمُ مِنَ الصَّلَاةِ وَأَعۡظَمُ مِنَ الزَّكَاةِ، وَأَعۡظَمُ مِنۡ جَمِيعِ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَلِذٰلِكَ أَوَّلُ مَا بَدَأَ بِهِ الرَّسُولُ بِالدَّعۡوَةِ إِلَى التَّوۡحِيدِ، شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِذَا نَطَقَ بِالشَّهَادَتَيۡنِ فَإِنَّكَ تَأۡمُرُهُ بِالصَّلَاةِ، وَتَأۡمُرُهُ بِالزَّكَاةِ، وَتَأۡمُرُهُ بِالۡحَجِّ، أَمَّا مَا دَامَ أَنَّهُ لَمۡ يَنۡطِقۡ بِالشَّهَادَتَيۡنِ لَا تَقُلۡ لَهُ: صَلِّ؛ لِأَنَّهُ لَوۡ صَلَّى فَلَا فَائِدَةَ فِي ذٰلِكَ، وَلَا تُقۡبَلۡ صَلَاتُهُ، وَلِهَٰذَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِمُعَاذٍ: (إِنَّكَ تَأۡتِي قَوۡمًا مِنۡ أَهۡلِ الۡكِتَابِ، فَلۡيَكُنۡ أَوَّلُ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ شَهَادَةَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِنۡ هُمۡ أَجَابُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ خَمۡسَ صَلَوَاتٍ فِي الۡيَوۡمِ وَاللَّيۡلَةِ، فَإِنۡ هُمۡ أَجَابُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ صَدَقَةً). يَعۡنِي: الزَّكَاةَ، فَلَمۡ يَأۡمُرۡهُمۡ بِالصَّلَاةِ وَلَا بِالزَّكَاةِ قَبۡلَ أَنۡ يَشۡهَدُوا أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَأَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوۡحِيدُ؛ لِأَنَّهُ الۡأَصۡلُ وَالۡأَسَاسُ وَالۡقَاعِدَةُ لِهَٰذَا الدِّينِ. 

Tauhid adalah perintah Allah yang paling agung. Lebih agung daripada salat dan zakat, bahkan lebih agung dari seluruh jenis ibadah. Oleh karena itulah, awal yang rasul dakwahkan adalah memulai dengan tauhid, syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Jika seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka baru engkau perintah dia untuk salat, zakat, dan haji. Adapun selama dia belum mengucapkan dua kalimat syahadat, maka engkau jangan katakan kepadanya, “Salatlah!” Karena andai dia salat, hal itu tidak berfaedah dan tidak diterima salatnya. Karena inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Jadikanlah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka menyambut ajakanmu itu, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan salat lima waktu dalam sehari semalam kepada mereka. Jika mereka menyambut seruanmu, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah kepada mereka.” (HR. Al-Bukhari nomor 1458 dan Muslim nomor 19). Yakni zakat. Beliau tidak memerintahkan mereka salat dan zakat sebelum mereka bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jadi, perintah Allah yang paling agung adalah tauhid karena tauhid adalah pokok, asas, dan fondasi agama ini. 


[2] هَٰذَا وَاضِحٌ، وَهَٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الشِّرۡكَ هُوَ أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ﴾ [النساء: ٤٨]. فَإِذَا كَانَ الشِّرۡكُ لَا يَقۡبَلُ الۡمَغۡفِرَةَ وَغَيۡرُهُ يَقۡبَلُ الۡمَغۡفِرَةَ، فَهَٰذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الشِّرۡكَ هُوَ أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ، الزِّنَا وَالسَّرِقَةُ وَشُرۡبُ الۡخَمۡرِ وَأَكۡلُ الرِّبَا هَٰذِهِ قَابِلَةٌ لِلۡمَغۡفِرَةِ فَهِيَ تَحۡتَ الۡمَشِيئَةِ، إِنۡ شَاءَ اللهُ غَفَرَ لِأَصۡحَابِهَا، وَإِنۡ شَاءَ عَذَّبَهُمۡ، وَلَكِنۡ لَا يَخۡلُدُونَ فِي النَّارِ، وَإِنَّمَا يُعَذَّبُونَ بِقَدۡرِ ذُنُوبِهِمۡ ثُمَّ يَخۡرُجُونَ مِنَ النَّارِ؛ لِأَنَّهُمۡ مِنۡ أَهۡلِ التَّوۡحِيدِ وَأَهلِ الۡإِيمَانِ، أَمَّا الشِّرۡكُ فَإِنَّهُ لَا يُغۡفَرُ، وَصَاحِبُهُ لَا يَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ أَبَدًا، ﴿كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَـٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡ ۖ وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ﴾ [البقرة: ١٦٧]. ﴿إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ﴾ [المائدة: ٧٢]. 

Ayat ini sudah jelas dan ayat ini menunjukkan bahwa kesyirikan adalah dosa terbesar. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). Maka jika dosa kesyirikan tidak diampuni, sedangkan dosa lainnya bisa diampuni, maka ini merupakan dalil bahwa kesyirikan adalah dosa terbesar. Zina, pencurian, meminum khamar, memakan harta riba; ini semua bisa diampuni jika Allah kehendaki. Jika Allah ingin, maka Dia ampuni pelakunya, dan jika Dia ingin, Dia siksa mereka. Akan tetapi mereka tidak kekal di dalam neraka. Mereka disiksa sekadar dosa-dosa mereka, kemudian mereka akan keluar dari neraka karena mereka masih termasuk orang yang memiliki tauhid dan keimanan. Adapun dosa kesyirikan tidak diampuni (selama belum tobat) dan pelakunya tidak akan keluar dari neraka selama-lamanya. Allah berfirman yang artinya, “Demikianlah, Allah perlihatkan amalan-amalan mereka agar menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka tidak akan keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167). “Sesungguhnya siapa saja yang berbuat syirik terhadap Allah, maka sungguh Allah haramkan janah baginya.” (QS. Al-Maidah: 72). 

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ. 

Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga, dan sahabatnya.