Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2156

٢١٥٦ - حَدَّثَنَا حَسَّانُ بۡنُ أَبِي عَبَّادٍ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ: سَمِعۡتُ نَافِعًا يُحَدِّثُ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا سَاوَمَتۡ بَرِيرَةَ، فَخَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ، فَلَمَّا جَاءَ قَالَتۡ: إِنَّهُمۡ أَبَوۡا أَنۡ يَبِيعُوهَا إِلَّا أَنۡ يَشۡتَرِطُوا الۡوَلَاءَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّمَا الۡوَلَاءُ لِمَنۡ أَعۡتَقَ). قُلۡتُ لِنَافِعٍ: حُرًّا كَانَ زَوۡجُهَا أَوۡ عَبۡدًا؟ فَقَالَ: مَا يُدۡرِينِي. [الحديث ٢١٥٦ - أطرافه في: ٢١٦٩، ٢٥٦٢، ٦٧٥٢، ٦٧٥٧، ٦٧٥٩].

2156. Hassan bin Abu ‘Abbad telah menceritakan kepada kami: Hammam menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Nafi’ menceritakan dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—:

‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—menawar Barirah (untuk memerdekakannya), lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pergi untuk salat. Ketika beliau datang, ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya mereka (para pemilik Barirah) enggan menjualnya kecuali mensyaratkan bahwa wala` (ikatan kekerabatan hukum yang muncul akibat adanya pembebasan budak) tetap pada mereka.”

Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya wala` itu hanyalah bagi orang yang memerdekakan.”

Aku (Hammam) bertanya kepada Nafi’, “Apakah suami Barirah saat itu seorang yang merdeka atau seorang budak?”

Nafi’ menjawab, “Aku tidak tahu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2152, 2153, dan 2154

٦٦ - بَابُ بَيۡعِ الۡعَبۡدِ الزَّانِي‏
66. Bab Menjual Budak yang Berzina


وَقَالَ شُرَيۡحٌ: إِنۡ شَاءَ رَدَّ مِنَ الزِّنَا.

Syuraih berkata, “Jika ia (pembeli) menghendaki, ia boleh mengembalikannya karena (cacat) zina.”

٢١٥٢ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدٌ الۡمَقۡبُرِيُّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِذَا زَنَتِ الۡأَمَةُ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلۡيَجۡلِدۡهَا وَلَا يُثَرِّبۡ، ثُمَّ إِنۡ زَنَتۡ فَلۡيَجۡلِدۡهَا وَلَا يُثَرِّبۡ، ثُمَّ إِنۡ زَنَتِ الثَّالِثَةَ فَلۡيَبِعۡهَا وَلَوۡ بِحَبۡلٍ مِنۡ شَعَرٍ).

[الحديث ٢١٥٢ - أطرافه في: ٢١٥٣، ٢٢٣٣، ٢٢٣٤، ٢٥٥٥، ٦٨٣٧، ٦٨٣٩].

2152. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami. Ia berkata: Sa’id Al-Maqburi menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—bahwa ia mendengarnya berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila seorang budak perempuan berzina dan telah jelas perzinaannya, hendaklah tuannya mencambuknya dan janganlah mencelanya. Kemudian jika ia berzina lagi, hendaklah ia mencambuknya dan janganlah mencelanya. Kemudian jika ia berzina untuk ketiga kalinya, juallah ia walaupun dengan harga seutas tali dari bulu.”

٢١٥٣، ٢١٥٤ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَزَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ سُئِلَ عَنِ الۡأَمَةِ إِذَا زَنَتۡ وَلَمۡ تُحۡصِنۡ؟ قَالَ: (إِنۡ زَنَتۡ فَاجۡلِدُوهَا، ثُمَّ إِنۡ زَنَتۡ فَاجۡلِدُوهَا، ثُمَّ إِنۡ زَنَتۡ فَبِيعُوهَا وَلَوۡ بِضَفِيرٍ). قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: لَا أَدۡرِي بَعۡدَ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ. [الحديث ٢١٥٤ - أطرافه في: ٢٢٣٢، ٢٥٥٦، ٦٨٣٨].

2153, 2154. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah, dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid—radhiyallahu ‘anhuma—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang budak perempuan apabila ia berzina dan belum menikah? Beliau bersabda, “Jika ia berzina, cambuklah. Kemudian jika ia berzina lagi, cambuklah. Kemudian jika ia berzina lagi, juallah ia walaupun dengan harga seutas tali jalinan.”

Ibnu Syihab berkata: Aku tidak tahu apakah (perintah menjual itu) setelah yang ketiga atau keempat.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2151

٦٥ - بَابٌ إِنۡ شَاءَ رَدَّ الۡمُصَرَّاةَ وَفِي حَلۡبَتِهَا صَاعٌ مِنۡ تَمۡرٍ
65. Bab Jika Dia Menghendaki, Dia Mengembalikan Hewan yang Dibendung Susunya dan Sebagai Ganti Perahannya Adalah Satu Sha’ Kurma


٢١٥١ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَمۡرٍو: حَدَّثَنَا الۡمَكِّيُّ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي زِيَادٌ: أَنَّ ثَابِتًا مَوۡلَى عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ زَيۡدٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنِ اشۡتَرَى غَنَمًا مُصَرَّاةً فَاحۡتَلَبَهَا، فَإِنۡ رَضِيَهَا أَمۡسَكَهَا، وَإِنۡ سَخِطَهَا فَفِي حَلۡبَتِهَا صَاعٌ مِنۡ تَمۡرٍ). [طرفه في: ٢١٤٠].

2151. Muhammad bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami: Al-Makki menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Ziyad mengabarkan kepadaku: Tsabit maula ‘Abdurrahman bin Zaid mengabarkannya: Dia mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa membeli kambing yang dibendung susunya lalu memerahnya, jika dia rida dia boleh menahannya, dan jika dia tidak suka maka sebagai ganti perahannya adalah satu sha’ kurma.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2148 dan 2149

٦٤ - بَابُ النَّهۡيِ لِلۡبَائِعِ أَنۡ لَا يُحَفِّلَ الۡإِبِلَ وَالۡبَقَرَ وَالۡغَنَمَ وَكُلَّ مُحَفَّلَةٍ
64. Bab Larangan bagi Penjual untuk Tidak Mengumpulkan (Membiarkan Tidak Diperah) Susu pada Unta, Sapi, dan Kambing serta Setiap Hewan yang Dikumpulkan Susunya


وَالۡمُصَرَّاةُ: الَّتِي صُرِّيَ لَبَنُهَا وَحُقِنَ فِيهِ، وَجُمِعَ، فَلَمۡ يُحۡلَبۡ أَيَّامًا، وَأَصۡلُ التَّصۡرِيَةِ حَبۡسُ الۡمَاءِ، يُقَالُ مِنۡهُ: صَرَّيۡتُ الۡمَاءَ.

Al-Musharrah adalah hewan yang dibiarkan susunya dan ditahan di dalamnya, serta dikumpulkan sehingga tidak diperah selama beberapa hari. Asal kata at-tashriyah adalah membendung air, dikatakan darinya: “sharraitul ma’a” (aku membendung air).

٢١٤٨ - حَدَّثَنَا ابۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ جَعۡفَرِ بۡنِ رَبِيعَةَ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ: قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَا تُصَرُّوا الۡإِبِلَ وَالۡغَنَمَ، فَمَنِ ابۡتَاعَهَا بَعۡدُ فَإِنَّهُ بِخَيۡرِ النَّظَرَيۡنِ بَيۡنَ أَنۡ يَحۡتَلِبَهَا: إِنۡ شَاءَ أَمۡسَكَ، وَإِنۡ شَاءَ رَدَّهَا وَصَاعَ تَمۡرٍ). وَيُذۡكَرُ عَنۡ أَبِي صَالِحٍ وَمُجَاهِدٍ وَالۡوَلِيدِ بۡنِ رَبَاحٍ وَمُوسَى بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (صَاعَ تَمۡرٍ). وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ: (صَاعًا مِنۡ طَعَامٍ، وَهُوَ بِالۡخِيَارِ ثَلَاثًا). وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ: (صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ). وَلَمۡ يَذۡكُرۡ ثَلَاثًا، وَالتَّمۡرُ أَكۡثَرُ. [طرفه في: ٢١٤٠].

2148. Ibnu Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Ja’far bin Rabi’ah, dari Al-A’raj: Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Janganlah kalian membendung susu unta dan kambing. Maka barang siapa yang membelinya setelah itu, sesungguhnya dia memiliki dua pilihan yang terbaik setelah memerahnya: jika dia menghendaki maka dia menahannya dan jika dia menghendaki maka dia mengembalikannya beserta satu sha’ kurma.”

Dan disebutkan dari Abu Shalih, Mujahid, Al-Walid bin Rabah, dan Musa bin Yasar, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Satu sha’ kurma.”

Dan sebagian mereka berkata, dari Ibnu Sirin: “Satu sha’ makanan dan dia memiliki hak khiar selama tiga hari.”

Dan sebagian mereka berkata, dari Ibnu Sirin: “Satu sha’ kurma,” dan tidak menyebutkan tiga hari, dan riwayat dengan kata “kurma” lebih banyak.

٢١٤٩ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرٌ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي يَقُولُ: حَدَّثَنَا أَبُو عُثۡمَانَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: مَنِ اشۡتَرَى شَاةً مُحَفَّلَةً فَرَدَّهَا فَلۡيَرُدَّ مَعَهَا صَاعًا، وَنَهَى النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ تُلَقَّى الۡبُيُوعُ. [الحديث ٢١٤٩ - طرفه في: ٢١٦٤].

2149. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Mu’tamir menceritakan kepada kami. Dia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Abu ‘Utsman menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—. Dia berkata, “Barang siapa membeli kambing yang dibendung susunya lalu mengembalikannya, maka hendaklah dia mengembalikannya bersama satu sha’.” Dan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang mencegat barang dagangan (sebelum sampai ke pasar).

Tafsir Surah Al-Bayyinah

تَفۡسِيرُ سُورَةِ لَمۡ يَكُنۡ
Tafsir Surah Al-Bayyinah


وَهِيَ مَدَنِيَّةٌ

Surah ini termasuk madaniah.


﴿لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ * رَسُولٌ مِّنَ ٱللَّهِ يَتۡلُوا۟ صُحُفًا مُّطَهَّرَةً * فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ * وَمَا تَفَرَّقَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ *‏ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ *‏ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ * إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ * جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِىَ رَبَّهُۥ﴾.

  1. Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,
  2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al-Qur’an),
  3. di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus.
  4. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Alkitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.
  5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
  6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.
  7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
  8. Balasan mereka di sisi Rab mereka ialah janah ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan merekapun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabnya.

۝١ يَقُوۡلُ تَعَالَى: ﴿لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ﴾ أَيۡ: [مِنَ] الۡيَهُودِ وَالنَّصَارَى ﴿وَٱلۡمُشۡرِكِينَ﴾ مِنۡ سَائِرِ أَصۡنَافِ الۡأُمَمِ.

Allah taala berfirman, “Orang-orang yang kafir dari golongan ahli kitab,” yaitu dari kaum Yahudi dan Nasrani, “dan orang-orang musyrik” dari berbagai jenis umat lainnya.

﴿مُنفَكِّينَ﴾ عَنۡ كُفۡرِهِمۡ وَضَلَالِهِمُ الَّذِي هُمۡ عَلَيۡهِ؛ أَيۡ: لَا يَزَالُونَ فِي غَيِّهِمۡ وَضَلَالِهِمۡ، لَا يَزِيدُهُمۡ مُرُورُ السِّنِينَ إِلَّا كُفۡرًا.

“Tidak akan meninggalkan,” kekafiran dan kesesatan yang mereka jalani. Artinya, mereka senantiasa berada dalam penyimpangan dan kesesatan; berlalunya tahun demi tahun tidaklah menambah bagi mereka kecuali kekafiran.

﴿حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ﴾ الۡوَاضِحَةُ، وَالۡبُرۡهَانُ السَّاطِعُ، ثُمَّ فَسَّرَ تِلۡكَ الۡبَيِّنَةَ فَقَالَ:

۝٢ ﴿رَسُولٌ مِّنَ ٱللَّهِ﴾ أَيۡ: أَرۡسَلَهُ اللهُ يَدۡعُو النَّاسَ إِلَى الۡحَقِّ، وَأَنۡزَلَ عَلَيۡهِ كِتَابًا يَتۡلُوۡهُ، لِيُعَلِّمَ النَّاسَ الۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيَهُمۡ، وَيُخۡرِجَهُمۡ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَلِهٰذَا قَالَ:

﴿يَتۡلُوا۟ صُحُفًا مُّطَهَّرَةً﴾ أَيۡ: مَحۡفُوظَةً عَنۡ قُرۡبَانِ الشَّيَاطِينِ، لَا يَمَسُّهَا إِلَّا الۡمُطَهَّرُونَ، لِأَنَّهَا فِي أَعۡلَى مَا يَكُونُ مِنَ الۡكَلَامِ.

“Sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,” yang jelas dan hujah yang terang benderang. Kemudian Allah menafsirkan bukti yang nyata tersebut dengan berfirman, “(Yaitu) seorang rasul dari Allah,” yakni yang diutus oleh Allah, mengajak manusia kepada kebenaran, dan Dia menurunkan kepadanya sebuah kitab yang dibacakannya agar ia mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Yang membacakan lembaran-lembaran yang suci,” maksudnya terjaga dari sentuhan setan, tidak ada yang menyentuhnya kecuali para hamba yang disucikan, karena ia merupakan setinggi-tingginya perkataan.

۝٣ وَلِهٰذَا قَالَ عَنۡهَا: ﴿فِيهَا﴾ أَيۡ: فِي تِلۡكَ الصُّحُفِ ﴿كُتُبٌ قَيِّمَةٌ﴾ أَيۡ: أَخۡبَارٌ صَادِقَةٌ وَأَوَامِرُ عَادِلَةٌ تَهۡدِي إِلَى الۡحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسۡتَقِيمٍ.

Karena itulah Dia berfirman tentangnya, “Di dalamnya,” yakni di dalam lembaran-lembaran tersebut, terdapat “kitab-kitab yang lurus,” yaitu kabar-kabar yang benar dan perintah-perintah yang adil yang menunjuki kepada kebenaran dan jalan yang lurus.

فَإِذَا جَاءَتۡهُمۡ هٰذِهِ الۡبَيِّنَةُ، فَحِينِئِذٍ يَتَبَيَّنُ طَالِبُ الۡحَقِّ مِمَّنۡ لَيۡسَ لَهُ مَقۡصِدٌ فِي طَلَبِهِ، فَيَهۡلِكُ مَنۡ هَلَكَ عَنۡ بَيِّنَةٍ، وَيَحۡيَا مَنۡ حَيَّ عَنۡ بَيِّنَةٍ.

Maka apabila bukti nyata ini telah datang kepada mereka, saat itulah akan menjadi jelas siapa pencari kebenaran dan siapa yang tidak memiliki niat untuk mencarinya. Maka binasalah orang yang binasa dengan bukti yang nyata, dan hiduplah orang yang hidup dengan bukti yang nyata.

۝٤ وَإِذَا لَمۡ يُؤۡمِنۡ أَهۡلُ الۡكِتَابِ لِهٰذَا الرَّسُولِ وَيَنۡقَادُوا لَهُ، فَلَيۡسَ ذٰلِكَ بِبِدۡعٍ مِنۡ ضَلَالِهِمۡ وَعِنَادِهِمۡ، فَإِنَّهُمۡ مَا تَفَرَّقُوا وَاخۡتَلَفُوا وَصَارُوا أَحۡزَابًا ﴿إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ﴾ الَّتِي تُوجِبُ لِأَهۡلِهَا الۡاِجۡتِمَاعَ وَالِاتِّفَاقَ.

Jika ahli kitab tidak beriman kepada Rasul ini dan tidak tunduk kepadanya, maka hal itu bukanlah sesuatu yang baru dari kesesatan dan penentangan mereka. Sesungguhnya mereka tidaklah berpecah belah, berselisih, dan menjadi golongan-golongan “melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata” yang seharusnya mengharuskan penganutnya untuk bersatu dan bersepakat.

وَلَكِنَّهُمۡ لِرَدَاءَتِهِمۡ وَنَذَالَتِهِمۡ لَمۡ يَزِدۡهُمُ الۡهُدَى إِلَّا ضَلَالًا، وَلَا الۡبَصِيرَةُ إِلَّا عَمًى، مَعَ أَنَّ الۡكُتُبَ كُلَّهَا جَاءَتۡ بِأَصۡلٍ وَاحِدٍ وَدِينٍ وَاحِدٍ.

Namun, karena keburukan dan kerendahan mereka, petunjuk itu tidak menambah bagi mereka kecuali kesesatan, dan bashirah (pengetahuan) tidak menambah kecuali kebutaan. Padahal kitab-kitab semuanya datang dengan satu pokok dan satu agama.

۝٥ فَمَا أُمِرُوا فِي سَائِرِ الشَّرَائِعِ إِلَّا أَنۡ يَعۡبُدُوا ﴿ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ﴾ أَيۡ: قَاصِدِينَ بِجَمِيعِ عِبَادَاتِهِمُ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ وَجۡهَ اللهِ وَطَلَبَ الزُّلۡفَى لَدَيۡهِ.

Mereka tidaklah diperintah dalam seluruh syariat kecuali agar menyembah “Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama,” maksudnya meniatkan seluruh ibadah mereka—baik yang lahir maupun batin—hanya untuk wajah Allah dan mencari kedekatan di sisi-Nya.

﴿حُنَفَآءَ﴾ أَيۡ: مُعۡرِضِينَ [مَائِلِينَ] عَنۡ سَائِرِ الۡأَدۡيَانِ الۡمُخَالِفَةِ لِدِينِ التَّوۡحِيدِ.

Hunafa” yakni berpaling (condong menjauh) dari seluruh agama yang menyelisihi agama tauhid.

وَخَصَّ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ [بِالذِّكۡرِ] مَعَ أَنَّهُمَا دَاخِلَانِ فِي قَوۡلِهِ ﴿لِيَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ﴾ لِفَضۡلِهِمَا وَشَرَفِهِمَا، وَكَوۡنِهِمَا الۡعِبَادَتَيۡنِ اللَّتَيۡنِ مَنۡ قَامَ بِهِمَا قَامَ بِجَمِيۡعِ شَرائِعِ الدِّيۡنِ.

Dikhususkannya penyebutan salat dan zakat, padahal keduanya sudah termasuk dalam firman-Nya “agar mereka menyembah Allah dengan ikhlas,” adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya, serta karena keduanya merupakan dua ibadah yang barang siapa melaksanakannya, maka ia telah melaksanakan seluruh syariat agama.

﴿وَذَٰلِكَ﴾ أَيِ: التَّوۡحِيدُ وَالۡإِخۡلَاصُ فِي الدِّيۡنِ، هُوَ ﴿دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ﴾ أَيۡ: الدِّيۡنُ الۡمُسۡتَقِيمُ الۡمُوصِلُ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ، وَمَا سِوَاهُ فَطُرُقٌ مُوصِلَةٌ إِلَى الۡجَحِيمِ.

“Dan yang demikian itulah,” yaitu tauhid dan keikhlasan dalam beragama, adalah “agama yang lurus,” yakni agama yang tegak yang mengantarkan menuju janah yang penuh kenikmatan, sedangkan selainnya adalah jalan-jalan yang mengantarkan ke neraka Jahanam.

ثُمَّ ذَكَرَ جَزَاءَ الۡكَافِرِيۡنَ بَعۡدَمَا جَاءَتۡهُمُ الۡبَيِّنَةُ فَقَالَ:

۝٦ ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ﴾ قَدۡ أَحَاطَ بِهِمۡ عَذَابُهَا، وَاشۡتَدَّ عَلَيۡهِمۡ عِقَابُهَا.

Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka, seraya berfirman, “Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam,” azabnya telah mengepung mereka dan siksaannya sangat keras atas mereka.

﴿خَٰلِدِينَ فِيهَآ﴾ لَا يُفَتَّرُ عَنۡهُمُ الۡعَذَابُ وَهُمۡ فِيهَا مُبۡلِسُونَ.

“Mereka kekal di dalamnya,” azab itu tidak diringankan dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.

﴿ۚأُو۟لَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ﴾ لِأَنَّهُمۡ عَرَفُوا الۡحَقَّ وَتَرَكُوهُ، وَخَسِرُوا الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةَ.

“Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk,” karena mereka telah mengenal kebenaran lalu meninggalkannya, sehingga mereka merugi di dunia dan akhirat.

۝٧ ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ﴾ لِأَنَّهُمۡ عَبَدُوا اللهَ وَعَرَفُوهُ، وَفَازُوا بِنَعِيمِ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ.

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk,” karena mereka menyembah Allah dan mengenal-Nya, sehingga mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.

۝٨ ﴿جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٍ﴾ أَيۡ: جَنَّاتُ إِقَامَةٍ، لَا ظَعۡنَ فِيهَا وَلَا رَحِيلَ، وَلَا طَلَبَ لِغَايَةٍ فَوۡقَهَا.

“Balasan mereka di sisi Rab mereka ialah janah ‘Adn,” yaitu janah tempat tinggal yang menetap, tidak ada perpindahan di dalamnya, tidak ada keberangkatan, dan tidak pula mencari tujuan lain yang lebih tinggi darinya.

﴿تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُ ۚ﴾ فَرَضِيَ عَنۡهُمۡ بِمَا قَامُوا بِهِ مِنۡ مَرَاضِيهِ، وَرَضُوا عَنۡهُ بِمَا أَعَدَّ لَهُمۡ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡكَرَامَاتِ وَجَزِيلِ الۡمَثُوبَاتِ.

“Yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya,” maka Allah rida kepada mereka disebabkan apa yang mereka laksanakan dari hal-hal yang mendatangkan keridaan-Nya, dan mereka pun rida kepada-Nya atas apa yang Dia sediakan bagi mereka berupa berbagai jenis kemuliaan dan pahala yang melimpah.

﴿ذَٰلِكَ﴾ الۡجَزَاءُ الۡحَسَنُ ﴿لِمَنۡ خَشِىَ رَبَّهُۥ﴾ أَيۡ: لِمَنۡ خَافَ اللهَ فَأَحۡجَمَ عَنۡ مَعَاصِيهِ، وَقَامَ بِوَاجِبَاتِهِ.

“Yang demikian itu,” yaitu balasan yang baik tersebut, adalah “bagi orang yang takut kepada Rabnya,” yaitu bagi orang yang takut kepada Allah sehingga ia menahan diri dari kemaksiatan kepada-Nya dan melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya.

[تَمَّتۡ وَالۡحَمۡدُ لِلهِ] 

Selesai. Alhamdulillah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2142

٦٠ - بَابُ النَّجۡشِ، وَمَنۡ قَالَ: لَا يَجُوزُ ذٰلِكَ الۡبَيۡعُ
60. Bab Najsy dan Pendapat Orang yang Mengatakan: Jual Beli Tersebut Tidak Boleh


وَقَالَ ابۡنُ أَبِي أَوۡفَى: النَّاجِشُ آكِلُ رِبًا خَائِنٌ. وَهُوَ خِدَاعٌ بَاطِلٌ لَا يَحِلُّ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (الۡخَدِيعَةُ فِي النَّارِ)، وَ(مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا لَيۡسَ عَلَيۡهِ أَمۡرُنَا فَهُوَ رَدٌّ).

Ibnu Abu Aufa—radhiyallahu ‘anhu—berkata, “Pelaku najsy adalah pemakan riba yang berkhianat.”

Perbuatan tersebut merupakan penipuan batil yang tidak halal. Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Penipuan (tempatnya) di neraka,” dan “Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak.”

٢١٤٢ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنِ النَّجۡشِ. [الحديث ٢١٤٢ - طرفه في: ٦٩٦٣].

2142. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang najsy (praktik penipuan dalam jual beli di mana seseorang yang bukan pembeli asli berpura-pura menawar suatu barang dengan harga tinggi).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2141

٥٩ - بَابُ بَيۡعِ الۡمُزَايَدَةِ
59. Bab Jual Beli Lelang (Al-Muzayadah)


وَقَالَ عَطَاءٌ: أَدۡرَكۡتُ النَّاسَ لَا يَرَوۡنَ بَأۡسًا بِبَيۡعِ الۡمَغَانِمِ فِيمَنۡ يَزِيدُ.

‘Atha` berkata, “Aku mendapati orang-orang tidak menganggap masalah menjual barang-barang ganimah kepada siapa saja yang sanggup memberikan tawaran lebih tinggi.”

٢١٤١ - حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا الۡحُسَيۡنُ الۡمُكۡتِبُ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَجُلًا أَعۡتَقَ غُلَامًا لَهُ عَنۡ دُبُرٍ، فَاحۡتَاجَ، فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: (مَنۡ يَشۡتَرِيهِ مِنِّي؟) فَاشۡتَرَاهُ نُعَيۡمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بِكَذَا وَكَذَا، فَدَفَعَهُ إِلَيۡهِ.

[الحديث ٢١٤١ - أطرافه في: ٢٢٣٠، ٢٣٢١، ٢٤٠٣، ٢٤١٥، ٢٥٣٤، ٦٧١٦، ٦٩٤٧، ٧١٨٦].

2141. Bisyr bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Al-Husain Al-Muktib mengabarkan kepada kami dari ‘Atha` bin Abu Rabah, dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—:

Seorang laki-laki memerdekakan budak miliknya dengan syarat dubur (yaitu dengan berkata: Engkau merdeka setelah aku mati), lalu laki-laki (tuan budak) itu jatuh miskin. Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengambil budak tersebut dan bertanya, “Siapa yang mau membeli budak ini dariku?”

Lalu Nu’aim bin ‘Abdullah membelinya dengan harga sekian dan sekian, kemudian beliau menyerahkan hasil penjualan kepada tuan budak itu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2139 dan 2140

٥٨ - بَابٌ لَا يَبِيعُ عَلَى بَيۡعِ أَخِيهِ، وَلَا يَسُومُ عَلَى سَوۡمِ أَخِيهِ، حَتَّى يَأۡذَنَ لَهُ أَوۡ يَتۡرُكَ
58. Bab Janganlah Seseorang Menjual di Atas Penjualan Saudaranya, dan Janganlah Ia Menawar di Atas Penawaran Saudaranya, Hingga Ia Mendapatkan Izin atau Saudaranya Itu Meninggalkannya


٢١٣٩ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَبِيعُ بَعۡضُكُمۡ عَلَى بَيۡعِ أَخِيهِ).

[الحديث ٢١٣٩ - طرفاه في: ٢١٦٥، ٥١٤٢].

2139. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku, dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah sebagian dari kalian menyerobot jual beli yang sedang dilakukan saudaranya.”

٢١٤٠ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا الزُّهۡرِيُّ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ، (وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا يَبِيعُ الرَّجُلُ عَلَى بَيۡعِ أَخِيهِ، وَلَا يَخۡطُبُ عَلَى خِطۡبَةِ أَخِيهِ، وَلَا تَسۡأَلُ الۡمَرۡأَةُ طَلَاقَ أُخۡتِهَا لِتَكۡفَأَ مَا فِي إِنَائِهَا).

[الحديث ٢١٤٠ - أطرافه في: ٢١٤٨، ٢١٥٠، ٢١٥١، ٢١٦٠، ٢١٦٢، ٢٧٢٣، ٢٧٢٧، ٥١٤٤، ٥١٥٢، ٦٦٠١].

2140. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Az-Zuhri menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang orang kota menjualkan barang untuk orang pedalaman. (Beliau juga bersabda): “Janganlah kalian melakukan tanajusy (menawar harga tinggi untuk menjebak orang lain), janganlah seseorang menyerobot jual beli yang sedang dilakukan saudaranya, janganlah seseorang menyerobot pinangan yang sedang dilakukan saudaranya, dan janganlah seorang wanita meminta perceraian saudarinya (istri lain suaminya) agar ia dapat menumpahkan isi bejananya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2137

٥٦ - بَابُ مَنۡ رَأَى إِذَا اشۡتَرَى طَعَامًا جِزَافًا أَنۡ لَا يَبِيعَهُ حَتَّى يُئۡوِيَهُ إِلَى رَحۡلِهِ، وَالۡأَدَبِ فِي ذٰلِكَ
56. Bab Pendapat Orang yang Memandang bahwa Apabila Membeli Makanan secara Borongan, Ia Tidak Boleh Menjualnya Kembali hingga Membawanya ke Tempat Tinggalnya, serta Sanksi terkait Hal Tersebut


٢١٣٧ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ يُونُسَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ ابۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: لَقَدۡ رَأَيۡتُ النَّاسَ فِي عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَبۡتَاعُونَ جِزَافًا، يَعۡنِي الطَّعَامَ، يُضۡرَبُونَ أَنۡ يَبِيعُوهُ فِي مَكَانِهِمۡ، حَتَّى يُؤۡوُوهُ إِلَى رِحَالِهِمۡ. [طرفه في: ٢١٢٣].

2137. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Ibnu Syihab. Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Sungguh aku telah melihat orang-orang pada zaman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membeli secara borongan—yakni makanan—, mereka dipukuli jika menjualnya di tempat mereka (membeli). (Mereka dilarang menjualnya) sampai mereka membawanya ke tempat tinggal mereka.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2135 dan 2136

٥٥ - بَابُ بَيۡعِ الطَّعَامِ قَبۡلَ أَنۡ يُقۡبَضَ، وَبَيۡعِ مَا لَيۡسَ عِنۡدَكَ
55. Bab Menjual Makanan Sebelum Diterima dan Menjual Sesuatu yang Tidak Milikmu


٢١٣٥ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: الَّذِي حَفِظۡنَاهُ مِنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ: سَمِعَ طَاوُسًا يَقُولُ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: أَمَّا الَّذِي نَهَى عَنۡهُ النَّبِيُّ ﷺ فَهُوَ الطَّعَامُ أَنۡ يُبَاعَ حَتَّى يُقۡبَضَ. قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: وَلَا أَحۡسِبُ كُلَّ شَيءٍ إِلَّا مِثۡلَهُ. [طرفه في: ٢١٣٢].

2135. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. Ia berkata: Yang kami hafal dari ‘Amr bin Dinar: Ia mendengar Thawus berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Adapun yang dilarang oleh Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah makanan, jangan dijual sampai ia diterima. Ibnu ‘Abbas berkata: Dan aku tidak berpendapat untuk segala barang dagangan kecuali sama seperti makanan.

٢١٣٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مَنِ ابۡتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعۡهُ حَتَّى يَسۡتَوۡفِيَهُ). زَادَ إِسۡمَاعِيلُ: (مَنِ ابۡتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعۡهُ حَتَّى يَقۡبِضَهُ). [طرفه في: ٢١٢٤].

2136. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa membeli makanan, janganlah ia menjualnya kembali hingga ia menerimanya secara sempurna.”

Isma’il menambahkan (dalam riwayatnya): “Barang siapa membeli makanan, janganlah ia menjualnya kembali hingga ia memegangnya (serah terima).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2133 dan 2134

٢١٣٣ - حَدَّثَنِي أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ دِينَارٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنِ ابۡتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعۡهُ حَتَّى يَقۡبِضَهُ). [طرفه في: ٢١٢٤].

2133. Abu Al-Walid telah menceritakan kepadaku: Syu’bah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Dinar menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa membeli makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia memegangnya.”

٢١٣٤ - حَدَّثَنَا عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: كَانَ عَمۡرُو بۡنُ دِينَارٍ يُحَدِّثُهُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ مَالِكِ بۡنِ أَوۡسٍ أَنَّهُ قَالَ: مَنۡ عِنۡدَهُ صَرۡفٌ؟ فَقَالَ طَلۡحَةُ: أَنَا حَتَّى يَجِيءَ خَازِنُنَا مِنَ الۡغَابَةِ. قَالَ سُفۡيَانُ: هُوَ الَّذِي حَفِظۡنَاهُ مِنَ الزُّهۡرِيِّ لَيۡسَ فِيهِ زِيَادَةٌ، فَقَالَ: أَخۡبَرَنِي مَالِكُ بۡنُ أَوۡسٍ: سَمِعَ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: يُخۡبِرُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ، وَالۡبُرُّ بِالۡبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمۡرُ بِالتَّمۡرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ). [الحديث ٢١٣٤ - طرفه في: ٢١٧٤].

2134. ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Amr bin Dinar menceritakannya kepada beliau dari Az-Zuhri, dari Malik bin Aus: Ia bertanya, “Siapa yang memiliki penukaran uang?” Thalhah menjawab, “Saya, (tapi tunggulah) hingga bendahara kami datang dari Al-Ghabah.”

Sufyan berkata: Itulah yang kami hafal dari Az-Zuhri tanpa ada tambahan. Lalu ia berkata: Malik bin Aus mengabarkan kepadaku: Ia mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab—radhiyallahu ‘anhu—mengabarkan dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Emas dengan emas adalah riba kecuali serah terima langsung, gandum dengan gandum adalah riba kecuali serah terima langsung, kurma dengan kurma adalah riba kecuali serah terima langsung, dan jelai dengan jelai adalah riba kecuali serah terima langsung.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2131 dan 2132

٥٤ - بَابُ مَا يُذۡكَرُ فِي بَيۡعِ الطَّعَامِ وَالۡحُكۡرَةِ
54. Bab Riwayat tentang Jual Beli Makanan dan Penimbunan


٢١٣١ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا الۡوَلِيدُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، عَنِ الۡأَوۡزَاعِيِّ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: رَأَيۡتُ الَّذِينَ يَشۡتَرُونَ الطَّعَامَ مُجَازَفَةً، يُضۡرَبُونَ عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنۡ يَبِيعُوهُ حَتَّى يُئۡوُوهُ إِلَى رِحَالِهِمۡ. [طرفه في: ٢١٢٣].

2131. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Al-Walid bin Muslim mengabarkan kepada kami dari Al-Auza’i, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Aku melihat orang-orang yang membeli makanan secara borongan (mujazafah) dipukuli pada zaman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—agar mereka tidak menjualnya kembali hingga mereka membawanya ke tempat tinggal mereka.

٢١٣٢ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ، عَنِ ابۡنِ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ نَهَى أَنۡ يَبِيعَ الرَّجُلُ طَعَامًا حَتَّى يَسۡتَوۡفِيَهُ. قُلۡتُ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: كَيۡفَ ذَاكَ؟ قَالَ: ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ، وَالطَّعَامُ مُرۡجَأٌ. قَالَ أَبُو عَبۡد اللهِ: ﴿مُرۡجَئُونَ﴾ [التوبة: ١٠٦] مُؤَخَّرُونَ. [الحديث ٢١٣٢ - طرفه في: ٢١٣٥].

2132. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang seseorang menjual makanan hingga ia menerimanya secara sempurna.

Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Mengapa itu dilarang?”

Ia menjawab, “Itu adalah dirham dengan dirham, sedangkan makanannya ditangguhkan.”

Abu ‘Abdullah berkata: “Murja’una” (QS At-Taubah: 106) berarti orang-orang yang ditangguhkan.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2128

٥٢ - بَابُ مَا يُسۡتَحَبُّ مِنَ الۡكَيۡلِ
52. Bab Takaran yang Dianjurkan


٢١٢٨ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُوسَى: حَدَّثَنَا الۡوَلِيدُ، عَنۡ ثَوۡرٍ، عَنۡ خَالِدِ بۡنِ مَعۡدَانَ، عَنِ الۡمِقۡدَامِ بۡنِ مَعۡدِيكَرِبَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (كِيلُوا طَعَامَكُمۡ يُبَارَكۡ لَكُمۡ).

2128. Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepada kami: Al-Walid menceritakan kepada kami dari Tsaur, dari Khalid bin Ma’dan, dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Takarlah makanan kalian, niscaya akan diberkahi bagi kalian.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2066

٢٠٦٦ - حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنۡ هَمَّامٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا أَنۡفَقَتِ الۡمَرۡأَةُ مِنۡ كَسۡبِ زَوۡجِهَا عَنۡ غَيۡرِ أَمۡرِهِ، فَلَهُ نِصۡفُ أَجۡرِهِ). [الحديث ٢٠٦٦ - أطرافه في: ٥١٩٢، ٥١٩٥، ٥٣٦٠].

2066. Yahya bin Ja’far telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami dari Ma’mar, dari Hammam. Ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Jika seorang istri menginfakkan hasil usaha suaminya tanpa perintahnya, maka bagi suaminya mendapatkan setengah pahalanya.”

Al-Isti'ab - 1555. ‘Abdullah bin Zam’ah

١٥٥٥ - [عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَمۡعَةَ الۡأَسَدِيُّ]:
1555. ‘Abdullah bin Zam’ah Al-Asadi


عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَمۡعَةَ بۡنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ بۡنِ أَسَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّى بۡنِ قُصَيٍّ الۡقُرَشِيُّ الۡأَسَدِيُّ. أُمُّهُ قَرِيبَةُ بِنۡتُ أَبِي أُمَيَّةَ أُخۡتُ أُمِّ سَلَمَةَ أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ، كَانَ مِنۡ أَشۡرَافِ قُرَيۡشٍ، وَكَانَ يَأۡذَنُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، يُعَدُّ فِي أَهۡلِ الۡمَدِينَةِ.

‘Abdullah bin Zam’ah bin Al-Aswad bin ‘Abdul Muththalib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyi Al-Asadi. Ibunya adalah Qaribah binti Abu Umayyah, saudari ibunda kaum mukminin Umu Salamah. Beliau termasuk di antara bangsawan Quraisy, pernah bertugas memberi izin untuk menemui Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dan digolongkan sebagai penduduk Madinah.

وَرَوَى عَنۡهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، وَعُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، فَحَدِيثُ أَبِي بَكۡرٍ عَنۡهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مُرُوا أَبَا بَكۡرٍ فَلۡيُصَلِّ بِالنَّاسِ).

Abu Bakr bin ‘Abdurrahman dan ‘Urwah bin Az-Zubair meriwayatkan darinya. Adapun hadis Abu Bakr darinya adalah: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Perintahkanlah Abu Bakr agar mengimami orang-orang salat!”

وَرَوَى عَنۡهُ عُرۡوَةُ ثَلَاثَةَ أَحَادِيثَ: أَحَدُهَا - أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ ذَكَرَ النِّسَاءَ فَقَالَ: (يَضۡرِبُ أَحَدُكُمُ الۡمَرۡأَةَ ضَرۡبَ الۡعَبۡدِ، ثُمَّ يُضَاجِعُهَا مِنۡ آخِرِ يَوۡمِهِ).

وَالثَّانِي - أَنَّهُ ذَكَرَ الضَّرۡطَةَ فَوَعَظَهُمۡ فِيهَا، فَقَالَ: (لِمَ يَضۡحَكُ أَحَدُكُمۡ مِمَّا يَفۡعَلُ).

وَالثَّالِثُ - أَنَّهُ ذَكَرَ نَاقَةَ صَالِحٍ، فَقَالَ: (انۡبَعَثَ لَهَا رَجُلٌ عَزِيزٌ عَارِمٌ مَنِيعٌ فِي رَهۡطِهِ مِثۡلُ أَبِي زَمۡعَةَ فِي قَوۡمِهِ). وَرُبَّمَا جَمَعَ هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ عَنۡ أَبِيهِ هٰذِهِ الۡأَحَادِيثَ الثَّلَاثَةَ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ.

‘Urwah meriwayatkan tiga hadis darinya:

Pertama: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyebutkan tentang wanita, lalu beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti memukul budak, kemudian ia menyetubuhinya di akhir harinya.”

Kedua: Bahwa beliau menyebutkan tentang kentut lalu menasihati mereka dalam hal itu. Beliau bersabda, “Mengapa salah seorang dari kalian menertawakan perbuatan yang ia sendiri lakukan?”

Ketiga: Bahwa beliau menyebutkan tentang unta Nabi Saleh, lalu beliau bersabda, “Telah bangkit untuk melakukannya (menyembelih unta) seorang laki-laki yang perkasa, jahat, lagi kuat dalam kaumnya seperti Abu Zam’ah di tengah kaumnya.”

Terkadang Hisyam bin ‘Urwah menggabungkan ketiga hadis dari ayahnya ini dalam satu hadis.

وَأَبُو زَمۡعَةَ هٰذَا هُوَ الۡأَسۡوَدُ بۡنُ الۡمُطَّلِبِ بۡنِ أَسَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّى بۡنِ قُصَيٍّ، كُنِيَ بِابۡنِهِ زَمۡعَةَ، وَقُتِلَ زَمۡعَةُ بۡنُ الۡأَسۡوَدِ، وَأَخُوهُ عَقِيلُ بۡنُ الۡأَسۡوَدِ يَوۡمَ بَدۡرٍ كَافِرَيۡنِ، وَأَبُوهُمَا الۡأَسۡوَدُ، كَانَ أَحَدَ الۡمُسۡتَهۡزِئِينَ الَّذِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيهِمۡ: ﴿إِنَّا كَفَيۡنَاكَ الۡمُسۡتَهۡزِئِينَ﴾ [الحجر ٩٥].

Adapun Abu Zam’ah ini adalah Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay. Ia diberi kunyah dengan nama anaknya, Zam’ah. Zam’ah bin Al-Aswad dan saudaranya, ‘Aqil bin Al-Aswad, terbunuh pada perang Badr dalam keadaan kafir. Ayah mereka berdua, Al-Aswad, adalah salah satu dari kaum penghina yang Allah taala berfirman tentang mereka, “Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS Al-Hijr: 95).

ذَكَرُوا أَنَّ جِبۡرِيلَ رَمَى فِي وَجۡهِهِ بِوَرَقَةٍ فَعَمِيَ، وَكَانَتۡ تَحۡتَ عَبۡدِ اللهِ بۡنُ زَمۡعَةَ زَيۡنَبُ بِنۡتُ أَبِي سَلَمَةَ، وَهِيَ أُمُّ بِنۡتِهِ، وَابۡنُهُ يَزِيدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ، قَتَلَهُ مُسۡرِفُ بۡنُ عُقۡبَةَ صَبۡرًا يَوۡمَ الۡحَرَّةِ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ أَتَى بِهِ مُسۡرِفُ بۡنُ عُقۡبَةَ أَسِيرًا. فَقَالَ لَهُ: بَايِعۡ عَلَى أَنَّكَ خَوۡلٌ لِأَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ، يَعۡنِي يَزِيدَ، يَحۡكُمُ فِي دَمِكَ وَمَالِكَ. فَقَالَ: أُبَايِعُهُ عَلَى الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَأَنَا ابۡنُ عَمِّ أَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ، يَحۡكُمُ فِي دَمِي وَأَهۡلِي وَمَالِي، وَكَانَ صَدِيقًا لِيَزِيدَ وَصَفِيًّا لَهُ، فَلَمَّا قَالَ ذٰلِكَ قَالَ مُسۡرِفٌ: اضۡرِبُوا عُنُقَهُ، فَوَثَبَ مَرۡوَانُ فَضَمَّهُ إِلَيۡهِ لِمَا كَانَ يَعۡرِفُ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ يَزِيدَ. فَقَالَ مَرۡوَانُ: نَعَمۡ يُبَايِعُكَ عَلَى مَا أَحۡبَبۡتَ. وَقَالَ مُسۡرِفٌ: وَاللهِ لَا أَقۡبَلُهُ أَبَدًا. وَقَالَ: إِنۡ تَنَحَّى عَنۡهُ مَرۡوَانُ وَإِلَّا فَاقۡتُلُوهُمَا مَعًا، فَتَرَكَهُ مَرۡوَانُ، وَضُرِبَتۡ عُنُقُ يَزِيدَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ، وَقُتِلَ يَوۡمَئِذٍ إِخۡوَتُهُ فِي الۡقِتَالِ، فَيُقَالُ: إِنَّهُ قُتِلَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ يَوۡمَ الۡحَرَّةِ بَنُونَ. وَمِنۡ وَلَدِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ كَثِيرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ، وَهُوَ جَدُّ أَبِي الۡبَخۡتَرِيِّ، وَالۡقَاضِي وَهۡبُ بۡنُ وَهۡبِ بۡنِ كَثِيرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ.

Mereka menyebutkan bahwa Jibril memukul wajahnya dengan selembar daun hingga ia buta. Istri ‘Abdullah bin Zam’ah adalah Zainab binti Abu Salamah, dan ia adalah ibu dari anak perempuannya serta putranya, Yazid bin ‘Abdullah bin Zam’ah.

Yazid ini dibunuh dengan cara dieksekusi oleh Musrif bin ‘Uqbah pada hari Al-Harrah. Hal itu karena ia dibawa ke hadapan Musrif bin ‘Uqbah sebagai tawanan. Lalu Musrif berkata kepadanya, “Berbaiatlah bahwa engkau adalah hamba sahaya bagi Amirulmukminin—yakni Yazid bin Mu’awiyah—yang berhak menghukumi darah dan hartamu.”

Maka ia menjawab, “Aku membaiatnya di atas Al-Kitab dan Sunah, dan aku adalah sepupu Amirulmukminin. Ia berhak menghukumi darah, keluarga, dan hartaku.”

Ia sebenarnya adalah teman karib dan orang kepercayaan Yazid. Ketika ia mengatakan hal itu, Musrif berkata, “Penggal lehernya!”

Maka Marwan bangkit dan mendekapnya karena ia tahu hubungan kedekatan antara Yazid bin ‘Abdullah dengan Yazid bin Mu’awiyah. Marwan berkata, “Ya, dia akan membaiatmu atas apa yang engkau sukai.”

Namun Musrif berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menerimanya selamanya.” Ia melanjutkan, “Jika Marwan menyingkir darinya (silakan), jika tidak maka bunuh mereka berdua bersama-sama.”

Akhirnya Marwan meninggalkannya, lalu dipenggallah leher Yazid bin ‘Abdullah bin Zam’ah. Saudara-saudaranya juga terbunuh dalam peperangan hari itu. Dikatakan bahwa putra-putra ‘Abdullah bin Zam’ah terbunuh pada hari Al-Harrah tersebut.

Di antara keturunan ‘Abdullah bin Zam’ah adalah Katsir bin ‘Abdullah bin Zam’ah. Ia adalah kakek dari Abu Al-Bakhtari sang hakim, yaitu Wahb bin Wahb bin Katsir bin ‘Abdullah bin Zam’ah.

ذَكَرَ الزُّبَيۡرُ عَنۡ عَمِّهِ مُصۡعَبٍ، حَدَّثَنِي أَبُو الۡبَخۡتَرِيِّ قَالَ: قَالَ لِي مُصۡعَبُ بۡنُ ثَابِتٍ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قُلۡتُ: وَهۡبُ بۡنُ وَهۡبِ بۡنِ عبد الكَثِير بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ قَالَ: فَمَا لَكَ لَا تَقُولُ كَثِيرًا؟ لَعَلَّكَ كَرِهۡتَ ذٰلِكَ، أَتَدۡرِي مَنۡ سَمَّاهُ كَثِيرًا؟ جَدَّتُهُ أُمُّ سَلَمَةَ زَوۡجُ النَّبِيِّ ﷺ.

Az-Zubair menyebutkan dari pamannya, Mush’ab: Abu Al-Bakhtari menceritakan kepadaku, ia berkata:

Mush’ab bin Tsabit bertanya kepadaku, “Siapakah engkau?”

Aku menjawab, “Wahb bin Wahb bin ‘Abd Al-Katsir bin ‘Abdullah bin Zam’ah.”

Mush’ab berkata, “Mengapa engkau tidak mengucapkan Katsir saja? Mungkin engkau membenci nama itu. Tahukah engkau siapa yang menamainya Katsir? Neneknya, Umu Salamah, istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al-Isti'ab - 936. Sa’d bin Ar-Rabi’

٩٣٦ - [سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ بۡنِ عَمۡرِو الۡأَنۡصَارِيُّ]:
936. Sa’d bin Ar-Rabi’ bin ‘Amr Al-Anshari


سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ أَبِي زُهَيۡرِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الۡأَغَرِّ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡخَزۡرَجِيُّ عَقَبِيٌّ، بَدۡرِيٌّ.

Sa’d bin Ar-Rabi’ bin ‘Amr bin Abu Zuhair bin Malik bin Imru` Al-Qais bin Malik bin Al-Agharr bin Tsa’labah bin Ka’b bin Al-Khazraj bin Al-Harits bin Al-Khazraj Al-Anshari Al-Khazraji, mengikuti baiat ‘Aqabah dan perang Badr.

كَانَ أَحَدَ نُقَبَاءِ الۡأَنۡصَارِ، وَكَانَ كَاتِبًا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، وَشَهِدَ الۡعَقَبَةَ الۡأُولَى وَالثَّانِيَةَ، وَشَهِدَ بَدۡرًا، وَقُتِلَ يَوۡمَ أُحُدٍ شَهِيدًا، وَأَمَرَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ يَوۡمَئِذٍ أَنۡ يُلۡتَمَسَ فِي الۡقَتۡلَى، وَقَالَ: مَنۡ يَأۡتِينِي بِخَبَرِ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا، فَذَهَبَ يَطُوفُ بَيۡنَ الۡقَتۡلَى، فَوَجَدَهُ وَبِهِ رَمَقٌ، فَقَالَ لَهُ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ: مَا شَأۡنُكَ؟ فَقَالَ الرَّجُلُ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ لِآتِيَهُ بِخَبَرِكَ. قَالَ: فَاذۡهَبۡ إِلَيۡهِ فَأَقۡرِأۡهُ مِنِّي السَّلَامَ، وَأَخۡبِرۡهُ أَنِّي قَدۡ طُعِنۡتُ اثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ طَعۡنَةً، وَأَنِّي قَدۡ أَنۡفَذۡتُ مَقَاتِلِي. وَأَخۡبِرۡ قَوۡمَكَ أَنَّهُمۡ لَا عُذۡرَ لَهُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ إِنۡ قُتِلَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ وَوَاحِدٌ مِنۡهُمۡ حَيٌّ.

Beliau adalah salah satu naqib (pemimpin) kaum Ansar dan seorang penulis pada masa jahiliah. Beliau mengikuti baiat ‘Aqabah pertama dan kedua, mengikuti Perang Badr, dan gugur pada hari Uhud sebagai syahid.

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari itu memerintahkan agar Sa’d dicari di antara para korban yang gugur dan bertanya, “Siapa yang mau membawakanku kabar tentang Sa’d bin Ar-Rabi’?”

Maka seorang laki-laki berkata, “Saya.”

Lalu ia pergi berkeliling di antara para korban yang gugur dan menemukannya dalam keadaan masih memiliki sisa nyawa. Sa’d bin Ar-Rabi’ bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu?”

Laki-laki itu menjawab, “Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutusku untuk membawa kabar tentangmu kepada beliau.”

Sa’d berkata, “Pergilah kepada beliau dan sampaikan salam dariku, serta kabarkan bahwa aku telah ditusuk sebanyak dua belas tusukan, dan aku telah sampai pada saat kematianku. Serta kabarkan kepada kaummu bahwa tidak ada uzur bagi mereka di hadapan Allah jika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terbunuh sementara salah satu dari mereka masih hidup.”

هٰكَذَا ذَكَرَ مَالِكٌ هٰذَا الۡخَبَرَ، وَلَمۡ يُسَمِّ الرَّجُلَ الَّذِي ذَهَبَ لِيَأۡتِيَ بِخَبَرِ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، وَهُوَ أُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ، ذَكَرَ ذٰلِكَ رُبَيۡحُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ جَدِّهِ فِي هٰذَا الۡخَبَرِ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ قَالَ يَوۡمَ أُحُدٍ: مَنۡ يَأۡتِينِي بِخَبَرِ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ؟ فَإِنِّي رَأَيۡتُ الۡأَسِنَّةَ قَدۡ أُشۡرِعَتۡ إِلَيۡهِ. فَقَالَ أُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ: أَنَا، وَذَكَرَ الۡخَبَرَ، وَفِيهِ اقۡرَأۡ عَلَى قَوۡمِي السَّلَامَ، وَقُلۡ لَهُمۡ: يَقُولُ لَكُمۡ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ: اللّٰهَ اللّٰهَ وَمَا عَاهَدۡتُمۡ عَلَيۡهِ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ لَيۡلَةَ الۡعَقَبَةِ، فَوَاللّٰهِ مَا لَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ عُذۡرٌ إِنۡ خُلِصَ إِلَى نَبِيِّكُمۡ وَفِيكُمۡ عَيۡنٌ تَطۡرِفُ. وَقَالَ أُبَيٌّ: فَلَمۡ أَبۡرَحۡ حَتَّى مَاتَ رَحِمَهُ اللهُ، فَرَجَعۡتُ إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ فَأَخۡبَرۡتُهُ. [فَقَالَ: رَحِمَهُ اللّٰهُ، نَصَحَ لِلّٰهِ وَلِرَسُولِهِ حَيًّا وَمَيِّتًا].

Demikianlah Malik menyebutkan berita ini dan ia tidak menyebutkan nama laki-laki yang pergi untuk membawa kabar Sa’d bin Ar-Rabi’, padahal dia adalah Ubay bin Ka’b. Hal itu disebutkan oleh Rubaih bin ‘Abdurrahman bin Abu Sa’id Al-Khudri, dari ayahnya, dari kakeknya mengenai kabar ini:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya pada hari Uhud, “Siapa yang mau membawakanku kabar tentang Sa’d bin Ar-Rabi’? Karena aku melihat tombak-tombak telah diarahkan kepadanya.”

Maka Ubay bin Ka’b berkata, “Saya.”

Lalu ia menyebutkan kisahnya dan di dalamnya terdapat pesan Sa’d: “Sampaikan salam kepada kaumku dan katakan kepada mereka: Sa’d bin Ar-Rabi’ berkata kepada kalian: Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam janji kalian kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada malam ‘Aqabah. Demi Allah, tidak ada uzur bagi kalian di hadapan Allah jika musuh sampai menyentuh Nabi kalian sementara di antara kalian masih ada mata yang berkedip.”

Ubay berkata, “Aku tidak beranjak sampai ia wafat—rahimahullah—, lalu aku kembali kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan mengabarkannya.”

[Maka beliau bersabda, “Semoga Allah merahmatinya. Ia telah tulus kepada Allah dan Rasul-Nya baik saat hidup maupun mati.”]

وَقَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ: دُفِنَ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ وَخَارِجَةُ بۡنُ أَبِي زَيۡدِ بۡنِ أَبِي زُهَيۡرٍ فِي قَبۡرٍ وَاحِدٍ. وَخَلَّفَ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ ابۡنَتَيۡنِ فَأَعۡطَاهُمَا رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ الثُّلُثَيۡنِ، فَكَانَ ذٰلِكَ أَوَّلَ بَيَانِهِ لِلۡآيَةِ فِي قَوۡلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَإِنۡ كُنَّ نِسَاءً فَوۡقَ اثۡنَتَيۡنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ﴾ [النساء ١٧٦]. وَفِي ذٰلِكَ نَزَلَتِ الۡآيَةُ، وَبِذٰلِكَ عُلِمَ مُرَادُ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنۡهَا، وَعُلِمَ أَنَّهُ أَرَادَ بِقَوۡلِهِ: فَوۡقَ اثۡنَتَيۡنِ، أَيۡ اثۡنَتَيۡنِ فَمَا فَوۡقَهُمَا، وَذٰلِكَ أَيۡضًا عِنۡدَ الۡعُلَمَاءِ قِيَاسٌ عَلَى الۡأُخۡتَيۡنِ؛ إِذۡ لِإِحۡدَاهُمَا النِّصۡفُ وَلِلِاثۡنَتَيۡنِ الثُّلُثَانِ، فَكَذٰلِكَ الۡاِبۡنَتَانِ.

Ibnu Ishaq berkata: Sa’d bin Ar-Rabi’ dan Kharijah bin Abu Zaid bin Abu Zuhair dimakamkan dalam satu liang kubur. Sa’d bin Ar-Rabi’ meninggalkan dua orang anak perempuan, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberikan kepada keduanya dua pertiga (harta warisan). Kejadian itu merupakan penjelasan pertama beliau terhadap ayat dalam firman Allah—‘azza wa jalla—: “jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan.” (QS An-Nisa’: 11).

Dalam hal itulah ayat tersebut turun dan dengan itu diketahui maksud Allah—‘azza wa jalla—darinya, serta diketahui bahwa yang Dia maksud dengan firman-Nya: “lebih dari dua orang” adalah dua orang atau lebih. Hal itu juga menurut para ulama adalah kias terhadap dua orang saudara perempuan, di mana bagi salah seorang dari mereka mendapat setengah dan bagi keduanya mendapat dua pertiga, maka demikian pula bagi dua anak perempuan.

Al-Isti'ab - 1390. ‘Abd bin Zam’ah

١٣٩٠ - [عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ الۡعَامِرِيُّ]:
1390. ‘Abd bin Zam’ah Al-‘Amiri


عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ عَبۡدِ شَمۡسِ بۡنِ عَبۡدِ وُدِّ بۡنِ نَصۡرِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ حِسۡلِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ لُؤَيِّ بۡنِ غَالِبٍ الۡقُرَشِيُّ الۡعَامِرِيُّ، أُمُّهُ عَاتِكَةُ بِنۡتُ الۡأَحۡنَفِ بۡنِ عَلۡقَمَةَ مِنۡ بَنِي مَعِيصِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍّ، كَانَ شَرِيفًا سَيِّدًا مِنۡ سَادَاتِ الصَّحَابَةِ، هُوَ أَخُو سَوۡدَةَ زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ لِأَبِيهَا. وَأَخُوهُ لِأَبِيهِ أَيۡضًا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ زَمۡعَةَ ابۡنُ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ الَّذِي تَخَاصَمَ فِيهِ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ مَعَ سَعۡدٍ.

‘Abd bin Zam’ah bin Qais bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin ‘Amir bin Lu`ay bin Ghalib Al-Qurasyi Al-‘Amiri. Ibunya adalah ‘Atikah binti Al-Ahnaf bin ‘Alqamah dari Bani Ma’ish bin ‘Amir bin Lu`ay. Beliau adalah seorang yang mulia dan pemuka di antara para pemuka sahabat. Beliau adalah saudara laki-laki Saudah, istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dari jalur ayahnya. Saudara laki-lakinya dari jalur ayah juga adalah ‘Abdurrahman bin Zam’ah anak dari budak perempuan Zam’ah, yang mana ‘Abd bin Zam’ah berselisih mengenai (status) anak tersebut dengan Sa’d.

وَقَدۡ ذَكَرۡنَاهُ فِي بَابِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ. وَأَخُوهُ لِأُمِّهِ قَرَظَةُ بۡنُ عَبۡدِ عَمۡرِو بۡنِ نَوۡفَلِ بۡنِ عَبۡدِ مَنَافٍ.

Dan kami telah menyebutkannya pada bab ‘Abdurrahman. Adapun saudara seibunya adalah Qarazhah bin ‘Abd ‘Amr bin Naufal bin ‘Abd Manaf.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2126 dan 2127

٥١ - بَابُ الۡكَيۡلِ عَلَى الۡبَائِعِ وَالۡمُعۡطِي
51. Bab Takaran bagi Penjual dan Pemberi


لِقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَوۡ وَزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ﴾ [المطففين: ٣] يَعۡنِي: كَالُوا لَهُمۡ وَوَزَنُوا لَهُمۡ، كَقَوۡلِهِ: ﴿يَسۡمَعُونَكُمۡ﴾ [الشعراء: ٧٢]: يَسۡمَعُونَ لَكُمۡ.

Berdasarkan firman Allah taala: “Dan apabila mereka menakar untuk orang lain atau menimbang untuk orang lain, mereka merugikan.” (QS Al-Muthaffifin: 3). Maknanya adalah mereka menakarkan untuk mereka dan menimbangkan untuk mereka, sebagaimana firman-Nya: “Mereka mendengar kalian” (QS Asy-Syu’ara`: 72) bermakna mereka mendengarkan untuk kalian.

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (اكۡتَالُوا حَتَّى تَسۡتَوۡفُوا). وَيُذۡكَرُ عَنۡ عُثۡمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لَهُ: (إِذَا بِعۡتَ فَكِلۡ، وَإِذَا ابۡتَعۡتَ فَاكۡتَلۡ).

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Mintalah takaran hingga kalian menerimanya dengan sempurna.” Diriwayatkan dari ‘Utsman bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya, “Jika engkau menjual maka takarlah, dan jika engkau membeli maka mintalah takaran.”

٢١٢٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنِ ابۡتَاعَ طَعَامًا، فَلَا يَبِيعُهُ حَتَّى يَسۡتَوۡفِيَهُ). [طرفه في: ٢١٢٤].

2126. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah dia menjualnya kembali hingga dia menerimanya secara sempurna.”

٢١٢٧ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: أَخۡبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مُغِيرَةَ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: تُوُفِّيَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ حَرَامٍ وَعَلَيۡهِ دَيۡنٌ، فَاسۡتَعَنۡتُ النَّبِيَّ ﷺ عَلَى غُرَمَائِهِ أَنۡ يَضَعُوا مِنۡ دَيۡنِهِ، فَطَلَبَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَيۡهِمۡ فَلَمۡ يَفۡعَلُوا، فَقَالَ لِي النَّبِيُّ ﷺ: (اذۡهَبۡ فَصَنِّفۡ تَمۡرَكَ أَصۡنَافًا، الۡعَجۡوَةَ عَلَى حِدَةٍ، وَعِذۡقَ زَيدٍ عَلَى حِدَةٍ، ثُمَّ أَرۡسِلۡ إِلَيَّ). فَفَعَلۡتُ، ثُمَّ أَرۡسَلۡتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَجَلَسَ عَلَى أَعۡلَاهُ أَوۡ فِي وَسَطِهِ، ثُمَّ قَالَ: (كِلۡ لِلۡقَوۡمِ). فَكِلۡتُهُمۡ حَتَّى أَوۡفَيۡتُهُمُ الَّذِي لَهُمۡ وَبَقِيَ تَمۡرِي كَأَنَّهُ لَمۡ يَنۡقُصۡ مِنۡهُ شَيءٌ. وَقَالَ فِرَاسٌ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ: حَدَّثَنِي جَابِرٌ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: فَمَا زَالَ يَكِيلُ لَهُمۡ حَتَّى أَدَّاهُ. وَقَالَ هِشَامٌ، عَنۡ وَهۡبٍ، عَنۡ جَابِرٍ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (جُذَّ لَهُ، فَأَوۡفِ لَهُ).

[الحديث ٢١٢٧ - أطرافه في: ٢٣٩٥، ٢٣٩٦، ٢٤٠٥، ٢٦٠١، ٢٧٠٩، ٢٧٨١، ٣٥٨٠، ٤٠٥٣، ٦٢٥٠].

2127. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: Jarir mengabarkan kepada kami dari Mughirah, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir—radhiyallahu ‘anhu—. Dia berkata:

‘Abdullah bin ‘Amr bin Haram wafat dengan meninggalkan utang, lalu aku meminta bantuan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—agar para pemberi piutangnya mau mengurangi utangnya. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memintanya kepada mereka, namun mereka tidak mau melakukannya. Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadaku, “Pergilah dan kelompokkan kurmamu menjadi beberapa jenis; kurma ajwa tersendiri dan ‘idzq zaid tersendiri, kemudian kirimkan utusan kepadaku.”

Lalu aku melakukannya, kemudian aku mengirim utusan kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau pun duduk di tumpukan yang paling atas atau di tengah-tengahnya, kemudian beliau bersabda, “Takarlah untuk orang-orang itu!”

Maka aku menakar untuk mereka hingga aku memenuhi semua hak yang mereka miliki, sementara kurmaku tetap tersisa seolah-olah tidak berkurang sedikit pun.

Firas berkata dari Asy-Sya’bi: Jabir menceritakan kepadaku dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau terus-menerus menakarkannya untuk mereka hingga beliau melunasi utang tersebut. Dan Hisyam berkata dari Wahb, dari Jabir: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Petiklah untuknya dan penuhilah haknya!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2122, 2123, dan 2124

٢١٢٢ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي يَزِيدَ، عَنۡ نَافِعِ بۡنِ جُبَيۡرِ بۡنِ مُطۡعِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ الدَّوۡسِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ فِي طَائِفَةِ النَّهَارِ، لَا يُكَلِّمُنِي وَلَا أُكَلِّمُهُ، حَتَّى أَتَى سُوقَ بَنِي قَيۡنُقَاعَ، فَجَلَسَ بِفِنَاءِ بَيۡتِ فَاطِمَةَ، فَقَالَ: (أَثَمَّ لُكَعُ؟ أَثَمَّ لُكَعُ؟). فَحَبَسَتۡهُ شَيۡئًا، فَظَنَنۡتُ أَنَّهَا تُلۡبِسُهُ سِخَابًا أَوۡ تُغَسِّلُهُ، فَجَاءَ يَشۡتَدُّ حَتَّى عَانَقَهُ وَقَبَّلَهُ، وَقَالَ: (اللّٰهُمَّ أَحۡبِبۡهُ وَأَحِبَّ مَنۡ يُحِبُّهُ). قَالَ سُفۡيَانُ: قَالَ عُبَيۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنِي أَنَّهُ رَأَى نَافِعَ بۡنَ جُبَيۡرٍ أَوۡتَرَ بِرَكۡعَةٍ.

[الحديث ٢١٢٢ - طرفه في: ٥٨٨٤].

2122. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah bin Abu Yazid, dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im, dari Abu Hurairah Ad-Dausi—radhiyallahu ‘anhu—. Dia berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar pada sebagian waktu siang. Beliau tidak berbicara kepadaku dan aku pun tidak berbicara kepada beliau, hingga beliau sampai di pasar Bani Qainuqa’. Kemudian beliau duduk di halaman rumah Fathimah lalu bertanya, “Apakah di sana ada si kecil (Al-Hasan)? Apakah di sana ada si kecil?”

Fatimah menahannya beberapa saat. Aku menduga bahwa dia sedang memakaikan kalung manik-manik kepadanya atau memandikannya. Kemudian anak itu datang sambil berlari kencang hingga beliau memeluk dan menciumnya, lalu beliau bersabda, “Ya Allah, cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya.”

Sufyan berkata: ‘Ubaidullah berkata mengabarkan kepadaku bahwa dia melihat Nafi’ bin Jubair melakukan salat witir satu rakaat.

٢١٢٣ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡمُنۡذِرِ: حَدَّثَنَا أَبُو ضَمۡرَةَ: حَدَّثَنَا مُوسَى، عَنۡ نَافِعٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُمَرَ: أَنَّهُمۡ كَانُوا يَشۡتَرُونَ الطَّعَامَ مِنَ الرُّكۡبَانِ عَلَى عَهۡدِ النَّبِيِّ ﷺ، فَيَبۡعَثُ عَلَيۡهِمۡ مَنۡ يَمۡنَعُهُمۡ أَنۡ يَبِيعُوهُ حَيۡثُ اشۡتَرَوۡهُ، حَتَّى يَنۡقُلُوهُ حَيۡثُ يُبَاعُ الطَّعَامُ.

[الحديث ٢١٢٣ - أطرافه في: ٢١٣١، ٢١٣٧، ٢١٦٦، ٢١٦٧، ٦٨٥٢].

2123. Ibrahim bin Al-Mundzir telah menceritakan kepada kami: Abu Dhamrah menceritakan kepada kami: Musa menceritakan kepada kami dari Nafi’: Ibnu ‘Umar menceritakan kepada kami, bahwa mereka dahulu membeli bahan makanan dari para pengendara (kafilah dagang) pada zaman Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu Nabi mengirimkan orang yang melarang mereka menjualnya kembali di tempat mereka membelinya tersebut, hingga mereka memindahkannya ke tempat bahan makanan biasa dijual.

٢١٢٤ – قَالَ: وَحَدَّثَنَا ابۡنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ يُبَاعَ الطَّعَامُ إِذَا اشۡتَرَاهُ حَتَّى يَسۡتَوۡفِيَهُ. [الحديث ٢١٢٤ - أطرافه في: ٢١٢٦، ٢١٣٣، ٢١٣٦].

2124. Beliau berkata: Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—menceritakan kepada kami, dia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang menjual bahan makanan yang telah dibeli hingga ia menerimanya secara sempurna.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2120 dan 2121

٢١٢٠ - حَدَّثَنَا آدَمُ بۡنُ أَبِي إِيَاسٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ حُمَيۡدٍ الطَّوِيلِ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ فِي السُّوقِ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا أَبَا الۡقَاسِمِ، فَالۡتَفَتَ إِلَيۡهِ النَّبِيُّ ﷺ، فَقَالَ: إِنَّمَا دَعَوۡتُ هٰذَا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (سَمُّوا بِاسۡمِي، وَلَا تَكَنَّوۡا بِكُنۡيَتِي). [الحديث ٢١٢٠ - طرفاه في: ٢١٢١، ٣٥٣٧].

2120. Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Humaid Ath-Thawil, dari Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—. Dia berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berada di pasar, lalu seseorang memanggil, “Wahai Abul-Qasim!”

Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menoleh kepadanya, namun orang itu berkata, “Sesungguhnya aku hanya memanggil orang ini.”

Lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Berilah nama dengan namaku, tetapi janganlah kalian ber-kunyah dengan kunyah-ku!”

٢١٢١ - حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا زُهَيۡرٌ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: دَعَا رَجُلٌ بِالۡبَقِيعِ: يَا أَبَا الۡقَاسِمِ، فَالۡتَفَتَ إِلَيۡهِ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: لَمۡ أَعۡنِكَ، قَالَ: (سَمُّوا بِاسۡمِي وَلَا تَكۡتَنُوا بِكُنۡيَتِي). [طرفه في: ٢١٢٠].

2121. Malik bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Zuhair menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—:

Seseorang di Baqi’ memanggil, “Wahai Abul-Qasim!”

Maka Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menoleh kepadanya, namun orang itu berkata, “Bukan Anda yang aku maksud.”

Lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Berilah nama dengan namaku, tetapi janganlah kalian ber-kunyah dengan kunyah-ku!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2118

٤٩ - بَابُ مَا ذُكِرَ فِي الۡأَسۡوَاقِ
49. Bab Riwayat tentang Pasar


وَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَوۡفٍ: لَمَّا قَدِمۡنَا الۡمَدِينَةَ، قُلۡتُ: هَلۡ مِنۡ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟ قَالَ: سُوقُ قَيۡنُقَاعَ.

وَقَالَ أَنَسٌ: قَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ: دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ.

وَقَالَ عُمَرُ: أَلۡهَانِي الصَّفۡقُ بِالۡأَسۡوَاقِ.

‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Ketika kami tiba di Madinah, aku bertanya, ‘Apakah ada pasar yang di dalamnya terdapat perniagaan?’ Seseorang menjawab, ‘Pasar Qainuqa’.’”

Anas berkata: ‘Abdurrahman berkata, “Tunjukkanlah aku jalan menuju pasar!”

‘Umar berkata, “Kesibukan perniagaan di pasar-pasar telah melalaikanku.”

٢١١٨ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّبَّاحِ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ زَكَرِيَّاءَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ سُوقَةَ، عَنۡ نَافِعِ بۡنِ جُبَيۡرِ بۡنِ مُطۡعِمٍ قَالَ: حَدَّثَتۡنِي عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَغۡزُو جَيۡشٌ الۡكَعۡبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيۡدَاءَ مِنَ الۡأَرۡضِ يُخۡسَفُ بِأَوَّلِهِمۡ وَآخِرِهِمۡ). قَالَتۡ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيۡفَ يُخۡسَفُ بِأَوَّلِهِمۡ وَآخِرِهِمۡ، وَفِيهِمۡ أَسۡوَاقُهُمۡ وَمَنۡ لَيۡسَ مِنۡهُمۡ؟ قَالَ: (يُخۡسَفُ بِأَوَّلِهِمۡ وَآخِرِهِمۡ، ثُمَّ يُبۡعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمۡ).

2118. Muhammad bin Ash-Shabbah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Zakariyya` menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Suqah, dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im. Dia berkata: ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—menceritakan kepadaku, dia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Akan ada sepasukan tentara yang menyerang Ka’bah, maka apabila mereka telah sampai di Baida` (suatu hamparan tanah yang luas), mereka semua akan dibenamkan ke dalam bumi dari yang pertama hingga yang terakhir.”

‘Aisyah berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka dibenamkan dari yang pertama hingga yang terakhir, padahal di tengah mereka terdapat pasar-pasar mereka dan orang-orang yang bukan bagian dari mereka?”

Beliau bersabda, “Mereka semua dibenamkan dari yang pertama hingga yang terakhir, kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai niat-niat mereka.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2115 dan 2116

٤٧ - بَابُ إِذَا اشۡتَرَى شَيۡئًا، فَوَهَبَ مِنۡ سَاعَتِهِ قَبۡلَ أَنۡ يَتَفَرَّقَا، وَلَمۡ يُنۡكِرِ الۡبَائِعُ عَلَى الۡمُشۡتَرِي، أَوِ اشۡتَرَى عَبۡدًا فَأَعۡتَقَهُ
47. Bab Jika Seseorang Membeli Sesuatu, Lalu Ia Menghibahkannya Saat Itu Juga Sebelum Keduanya Berpisah dan Penjual Tidak Menyanggah Pembeli, atau Ia Membeli Seorang Budak Lalu Memerdekakannya


وَقَالَ طَاوُسٌ فِيمَنۡ يَشۡتَرِي السِّلۡعَةَ عَلَى الرِّضَا ثُمَّ بَاعَهَا: وَجَبَتۡ لَهُ وَالرِّبۡحُ لَهُ.

Thawus berkata tentang orang yang membeli barang atas dasar saling rida kemudian ia menjualnya, “Jual beli itu telah menjadi tetap baginya dan keuntungan adalah miliknya.”

٢١١٥ - وَقَالَ الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا عَمۡرٌو، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي سَفَرٍ، فَكُنۡتُ عَلَى بَكۡرٍ صَعۡبٍ لِعُمَرَ، فَكَانَ يَغۡلِبُنِي فَيَتَقَدَّمُ أَمَامَ الۡقَوۡمِ، فَيَزۡجُرُهُ عُمَرُ وَيَرُدُّهُ، ثُمَّ يَتَقَدَّمُ، فَيَزۡجُرُهُ عُمَرُ وَيَرُدُّهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِعُمَرَ: (بِعۡنِيهِ). قَالَ: هُوَ لَكَ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (بِعۡنِيهِ). فَبَاعَهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ، تَصۡنَعُ بِهِ مَا شِئۡتَ). [الحديث ٢١١٥ - طرفاه في: ٢٦١٠، ٢٦١١].

2115. Al-Humaidi berkata: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Amr menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Kami pernah bersama Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam sebuah perjalanan. Saat itu aku mengendarai seekor unta muda milik ‘Umar yang sulit dikendalikan. Unta itu membuatku kewalahan hingga maju ke depan rombongan, lalu ‘Umar menghardik dan mengembalikannya ke belakang. Kemudian ia maju lagi ke depan dan ‘Umar pun menghardik serta mengembalikannya lagi.

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepada ‘Umar, “Juallah ia kepadaku!”

‘Umar menjawab, “Unta itu untukmu, wahai Rasulullah.”

Beliau berkata, “Juallah ia kepadaku!”

Maka ‘Umar menjualnya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Setelah itu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Unta itu untukmu wahai ‘Abdullah bin ‘Umar. Perbuatlah apa yang engkau kehendaki dengannya!”

٢١١٦ - قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ خَالِدٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: قَالَ بِعۡتُ مِنۡ أَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ عُثۡمَانَ مَالًا بِالۡوَادِي بِمَالٍ لَهُ بِخَيۡبَرَ، فَلَمَّا تَبَايَعۡنَا، رَجَعۡتُ عَلَى عَقِبِي حَتَّى خَرَجۡتُ مِنۡ بَيۡتِهِ، خَشۡيَةَ أَنۡ يُرَادَّنِي الۡبَيۡعَ، وَكَانَتِ السُّنَّةُ أَنَّ الۡمُتَبَايِعَيۡنِ بِالۡخِيَارِ حَتَّى يَتَفَرَّقَا. قَالَ عَبۡدُ اللهِ: فَلَمَّا وَجَبَ بَيۡعِي وَبَيۡعُهُ، رَأَيۡتُ أَنِّي قَدۡ غَبَنۡتُهُ، بِأَنِّي سُقۡتُهُ إِلَى أَرۡضِ ثَمُودٍ بِثَلَاثِ لَيَالٍ، وَسَاقَنِي إِلَى الۡمَدِينَةِ بِثَلَاثِ لَيَالٍ. [طرفه في: ٢١٠٧].

2116. Abu ‘Abdullah berkata: Al-Laits berkata: ‘Abdurrahman bin Khalid menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, dari Salim bin ‘Abdullah, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Aku menjual sebidang tanah milikku yang berada di lembah kepada Amirulmukminin ‘Utsman dengan ditukar tanah milik beliau yang ada di Khaibar. Setelah kami melakukan transaksi jual beli, aku segera pulang hingga keluar dari rumah beliau, karena aku khawatir beliau akan membatalkan jual beli denganku. Sunahnya adalah dua orang yang berjual beli memiliki hak pilih (khiar) sampai keduanya berpisah. ‘Abdullah berkata: Ketika jual beliku dan jual beli beliau telah menjadi tetap (mengikat), aku merasa bahwa aku mendapatkan keuntungan lebih dari beliau, karena aku membawanya (menjauh) ke (arah) tanah Tsamud dengan jarak tiga malam perjalanan, sedangkan beliau membawaku (mendekat) ke tanah yang dekat dengan Madinah dengan jarak tiga malam perjalanan.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2113

٤٦ - بَابٌ إِذَا كَانَ الۡبَائِعُ بِالۡخِيَارِ هَلۡ يَجُوزُ الۡبَيۡعُ
46. Bab Jika Penjual Memiliki Hak Pilih (Khiar), Apakah Jual Belinya Sah?


٢١١٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ دِينَارٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (كُلُّ بَيِّعَيۡنِ لَا بَيۡعَ بَيۡنَهُمَا حَتَّى يَتَفَرَّقَا، إِلَّا بَيۡعَ الۡخِيَارِ). [طرفه في: ٢١٠٧].

2113. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Setiap dua orang yang berjual beli, tidak ada jual beli (yang mengikat) di antara keduanya sampai keduanya berpisah, kecuali jual beli khiar.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2112

٤٥ - بَابٌ إِذَا خَيَّرَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ بَعۡدَ الۡبَيۡعِ فَقَدۡ وَجَبَ الۡبَيۡعُ
45. Bab Jika Salah Satu dari Keduanya Memberikan Pilihan (Khiar) kepada Temannya Setelah Jual Beli, Jual Beli Itu Telah Sah


٢١١٢ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (إِذَا تَبَايَعَ الرَّجُلَانِ، فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنۡهُمَا بِالۡخِيَارِ مَا لَمۡ يَتَفَرَّقَا وَكَانَا جَمِيعًا، أَوۡ يُخَيِّرُ أَحَدُهُمَا الۡآخَرَ، فَتَبَايَعَا عَلَى ذٰلِكَ، فَقَدۡ وَجَبَ الۡبَيۡعُ، وَإِنۡ تَفَرَّقَا بَعۡدَ أَنۡ يَتَبَايَعَا وَلَمۡ يَتۡرُكۡ وَاحِدٌ مِنۡهُمَا الۡبَيۡعَ، فَقَدۡ وَجَبَ الۡبَيۡعُ). [طرفه في: ٢١٠٧].

2112. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Apabila dua orang laki-laki melakukan jual beli, maka masing-masing dari keduanya memiliki hak khiar selama keduanya belum berpisah dan masih bersama-sama, atau salah satu dari keduanya memberikan pilihan kepada yang lain, lalu keduanya melakukan jual beli atas kesepakatan itu, maka jual beli itu telah sah. Dan jika keduanya berpisah setelah melakukan jual beli, sementara tidak seorang pun dari keduanya yang membatalkan jual beli itu, maka jual beli itu telah sah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2111

٢١١١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (الۡمُتَبَايِعَانِ كُلُّ وَاحِدٍ مِنۡهُمَا بِالۡخِيَارِ عَلَى صَاحِبِهِ مَا لَمۡ يَتَفَرَّقَا، إِلَّا بَيۡعَ الۡخِيَارِ). [طرفه في: ٢١٠٧].

2111. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Dua orang yang melakukan jual beli, masing-masing dari keduanya memiliki hak khiar atas temannya selama keduanya belum berpisah, kecuali jual beli khiar.”