Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5772

٥٤ - بَابٌ لَا عَدۡوَى
54. Bab Tidak Ada ‘Adwa (Penyakit Menular dengan Sendirinya)


٥٧٧٢ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ عُفَيۡرٍ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ يُونُسَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ وَحَمۡزَةُ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا عَدۡوَى وَلَا طِيَرَةَ، إِنَّمَا الشُّؤۡمُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الۡفَرَسِ، وَالۡمَرۡأَةِ، وَالدَّارِ). [طرفه في: ٢٠٩٩].

5772. Sa’id bin ‘Ufair telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepadaku dari Yunus, dari Ibnu Syihab. Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah dan Hamzah mengabarkan kepadaku: ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada ‘adwa dan tidak ada thiyarah (anggapan sial karena burung atau selainnya). Hanyanya kesialan itu ada pada tiga hal: pada kuda, wanita, dan tempat tinggal.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5753

٤٣ - بَابُ الطِّيَرَةِ
43. Bab Thiyarah (Anggapan Sial karena Sesuatu)


٥٧٥٣ - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا عَدۡوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَالشُّؤۡمُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الۡمَرۡأَةِ، وَالدَّارِ، وَالدَّابَّةِ). [طرفه في: ٢٠٩٩].

5753. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Utsman bin ‘Umar menceritakan kepada kami: Yunus menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada ‘adwa (penularan penyakit dengan sendirinya) dan tidak ada thiyarah. Dan kesialan itu ada pada tiga hal: pada wanita, tempat tinggal, dan hewan tunggangan.”

Shahih Muslim hadis nomor 832

٥٢ - بَابُ إِسۡلَامِ عَمۡرِو بۡنِ عَبَسَةَ ‏
52. Bab Masuk Islamnya ‘Amr bin ‘Abasah


٢٩٤ - (٨٣٢) - حَدَّثَنِي أَحۡمَدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ الۡمَعۡقِرِيُّ: حَدَّثَنَا النَّضۡرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ: حَدَّثَنَا شَدَّادُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، أَبُو عَمَّارٍ، وَيَحۡيَىٰ بۡنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنۡ أَبِي أُمَامَةَ - قَالَ عِكۡرِمَةُ: وَلَقِيَ شَدَّادٌ أَبَا أُمَامَةَ وَوَاثِلَةَ. وَصَحِبَ أَنَسًا إِلَى الشَّامِ. وَأَثۡنَىٰ عَلَيۡهِ فَضۡلًا وَخَيۡرًا - عَنۡ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ، قَالَ عَمۡرُو بۡنُ عَبَسَةَ السُّلَمِيُّ:

294. (832). Ahmad bin Ja’far Al-Ma’qiri telah menceritakan kepadaku: An-Nadhr bin Muhammad menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami: Syaddad bin ‘Abdullah Abu ‘Ammar dan Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepada kami dari Abu Umamah. ‘Ikrimah berkata: Dan Syaddad pernah bertemu dengan Abu Umamah dan Watsilah, serta pernah menemani Anas pergi ke Syam, lalu Anas memujinya dengan keutamaan dan kebaikan. Dari Abu Umamah, ia berkata: ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami berkata:

كُنۡتُ، وَأَنَا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، أَظُنُّ أَنَّ النَّاسَ عَلَىٰ ضَلَالَةٍ، وَأَنَّهُمۡ لَيۡسُوا عَلَىٰ شَيۡءٍ. وَهُمۡ يَعۡبُدُونَ الۡأَوۡثَانَ. فَسَمِعۡتُ بِرَجُلٍ بِمَكَّةَ يُخۡبِرُ أَخۡبَارًا. فَقَعَدۡتُ عَلَىٰ رَاحِلَتِي، فَقَدِمۡتُ عَلَيۡهِ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مُسۡتَخۡفِيًا، جُرَءَاءُ عَلَيۡهِ قَوۡمُهُ، فَتَلَطَّفۡتُ حَتَّى دَخَلۡتُ عَلَيۡهِ بِمَكَّةَ. فَقُلۡتُ لَهُ: مَا أَنۡتَ؟ قَالَ: (أَنَا نَبِيٌّ) فَقُلۡتُ: وَمَا نَبِيٌّ؟ قَالَ: (أَرۡسَلَنِي اللهُ) فَقُلۡتُ: وَبِأَيِّ شَيۡءٍ أَرۡسَلَكَ؟ قَالَ: (أَرۡسَلَنِي بِصِلَةِ الۡأَرۡحَامِ، وَكَسۡرِ الۡأَوۡثَانِ، وَأَنۡ يُوَحَّدَ اللهُ لَا يُشۡرَكُ بِهِ شَيۡءٌ) قُلۡتُ لَهُ: فَمَنۡ مَعَكَ عَلَىٰ هٰذَا؟ قَالَ: (حُرٌّ وَعَبۡدٌ) – قَالَ: وَمَعَهُ يَوۡمَئِذٍ أَبُو بَكۡرٍ وَبِلَالٌ مِمَّنۡ آمَنَ بِهِ – فَقُلۡتُ: إِنِّي مُتَّبِعُكَ. قَالَ: (إِنَّكَ لَا تَسۡتَطِيعُ ذٰلِكَ يَوۡمَكَ هَٰذَا. أَلَا تَرَى حَالِي وَحَالَ النَّاسِ؟ وَلَٰكِنِ ارۡجِعۡ إِلَى أَهۡلِكَ. فَإِذَا سَمِعۡتَ بِي قَدۡ ظَهَرۡتُ فَأۡتِنِي) قَالَ: فَذَهَبۡتُ إِلَىٰ أَهۡلِي.

Dahulu ketika aku pada masa jahiliah, aku mengira bahwa manusia berada dalam kesesatan dan mereka tidak berada di atas suatu kebenaran sama sekali, yang mana mereka menyembah berhala. Lalu aku mendengar kabar tentang seorang lelaki di Makkah yang menyampaikan beberapa kabar. Aku pun duduk di atas hewan tungganganku, lalu aku mendatanginya. Ternyata Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan menyembunyikan diri secara sembunyi-sembunyi karena kaumnya bersikap keras terhadap beliau. Aku pun bersikap lemah lembut hingga berhasil masuk menemui beliau di Makkah.

Aku bertanya kepada beliau, “Siapakah Anda?”

Beliau menjawab, “Aku adalah seorang Nabi.”

Aku bertanya lagi, “Apakah Nabi itu?”

Beliau menjawab, “Allah telah mengutusku.”

Aku bertanya, “Dengan membawa urusan apa, Allah mengutus Anda?”

Beliau menjawab, “Dia mengutusku untuk menyambung tali silaturahmi, menghancurkan berhala-berhala, dan agar Allah ditauhidkan dengan tidak disekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”

Aku bertanya kepada beliau, “Lantas siapakah yang menjadi pengikut Anda dalam urusan ini?”

Beliau menjawab, “Orang yang merdeka dan budak.”

‘Amr berkata: Dan yang bersama beliau dari kalangan orang yang beriman kepada beliau pada hari itu adalah Abu Bakr dan Bilal. Lalu aku berkata, “Sesungguhnya aku adalah pengikutmu.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup melakukan hal itu pada harimu ini. Tidakkah kamu melihat kondisiku dan kondisi orang-orang? Akan tetapi, kembalilah dahulu kepada keluargamu. Nanti apabila kamu telah mendengar kabar tentangku bahwa aku telah menang, datanglah kepadaku.”

‘Amr berkata: Maka aku pun pulang menemui keluargaku.

وَقَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡمَدِينَةَ - وَكُنۡتُ فِي أَهۡلِي - فَجَعَلۡتُ أَتَخَبَّرُ الۡأَخۡبَارَ وَأَسۡأَلُ النَّاسَ حِينَ قَدِمَ الۡمَدِينَةَ. حَتَّىٰ قَدِمَ عَلَيَّ نَفَرٌ مِنۡ أَهۡلِ يَثۡرِبَ مِنۡ أَهۡلِ الۡمَدِينَةِ. فَقُلۡتُ: مَا فَعَلَ هَٰذَا الرَّجُلُ الَّذِي قَدِمَ الۡمَدِينَةَ؟ فَقَالُوا: النَّاسُ إِلَيۡهِ سِرَاعٌ. وَقَدۡ أَرَادَ قَوۡمُهُ قَتۡلَهُ فَلَمۡ يَسۡتَطِيعُوا ذٰلِكَ، فَقَدِمۡتُ الۡمَدِينَةَ، فَدَخَلۡتُ عَلَيۡهِ. فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَتَعۡرِفُنِي؟ قَالَ: (نَعَمۡ. أَنۡتَ الَّذِي لَقِيتَنِي بِمَكَّةَ؟) قَالَ: فَقُلۡتُ: بَلَىٰ.

Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah—sementara aku masih berada di tengah-tengah keluargaku—. Aku mulai mencari-cari berita dan bertanya kepada orang-orang ketika beliau telah tiba di Madinah. Sampai akhirnya datang kepadaku sekelompok orang dari penduduk Yatsrib, yaitu dari penduduk Madinah. Aku bertanya, “Apa yang dilakukan oleh lelaki yang baru tiba di Madinah itu?”

Mereka menjawab, “Orang-orang bersegera menuju kepadanya. Kaumnya sebenarnya telah berniat untuk membunuhnya, tetapi mereka tidak sanggup melakukannya.”

Aku pun mendatangi Madinah lalu masuk menemui beliau. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda mengenaliku?”

Beliau menjawab, “Ya. Kamu adalah orang yang pernah menemuiku di Makkah, bukan?”

‘Amr berkata: Maka aku menjawab, “Benar.”

فَقُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَخۡبِرۡنِي عَمَّا عَلَّمَكَ اللهُ وَأَجۡهَلُهُ. أَخۡبِرۡنِي عَنِ الصَّلَاةِ؟ قَالَ: (صَلِّ صَلَاةَ الصُّبۡحِ. ثُمَّ أَقۡصِرۡ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّىٰ تَطۡلُعَ الشَّمۡسُ حَتَّىٰ تَرۡتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطۡلُعُ حِينَ تَطۡلُعُ بَيۡنَ قَرۡنَيۡ شَيۡطَانٍ. وَحِينَئِذٍ يَسۡجُدُ لَهَا الۡكُفَّارُ. ثُمَّ صَلِّ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشۡهُودَةٌ مَحۡضُورَةٌ، حَتَّىٰ يَسۡتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمۡحِ. ثُمَّ أَقۡصِرۡ عَنِ الصَّلَاةِ، فَإِنَّ حِينَئِذٍ تُسۡجَرُ جَهَنَّمُ، فَإِذَا أَقۡبَلَ الۡفَيۡءُ فَصَلِّ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشۡهُودَةٌ مَحۡضُورَةٌ حَتَّى تُصَلِّيَ الۡعَصۡرَ. ثُمَّ أَقۡصِرۡ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّىٰ تَغۡرُبَ الشَّمۡسُ. فَإِنَّهَا تَغۡرُبُ بَيۡنَ قَرۡنَيۡ شَيۡطَانٍ. وَحِينَئِذٍ يَسۡجُدُ لَهَا الۡكُفَّارُ).

Lalu aku berkata, “Wahai Nabi, kabarkanlah kepadaku tentang apa yang telah Allah ajarkan kepadamu sedangkan aku tidak mengetahuinya. Kabarkanlah kepadaku tentang salat.”

Beliau bersabda, “Kerjakanlah salat Subuh. Kemudian tahanlah dirimu dari mengerjakan salat sampai matahari terbit hingga ia naik tinggi, karena sesungguhnya matahari itu terbit di antara dua tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya. Kemudian salatlah, karena sesungguhnya salat itu disaksikan dan dihadiri (oleh malaikat), sampai bayangan tombak tegak lurus (waktu tengah hari). Kemudian tahanlah dirimu dari mengerjakan salat, karena sesungguhnya pada waktu itu jahanam sedang dinyalakan sampai panas yang memuncak. Lalu apabila bayangan telah condong (ke barat), maka salatlah, karena sesungguhnya salat itu disaksikan dan dihadiri sampai kamu mengerjakan salat Asar. Kemudian tahanlah dirimu dari mengerjakan salat sampai matahari terbenam, karena sesungguhnya ia terbenam di antara dua tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya.”

قَالَ فَقُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، فَالۡوُضُوءُ؟ حَدِّثۡنِي عَنۡهُ. قَالَ: (مَا مِنۡكُمۡ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضۡمَضُ وَيَسۡتَنۡشِقُ فَيَنۡتَثِرُ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا وَجۡهِهِ وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ. ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجۡهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا وَجۡهِهِ مِنۡ أَطۡرَافِ لِحۡيَتِهِ مَعَ الۡمَاءِ. ثُمَّ يَغۡسِلُ يَدَيۡهِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا يَدَيۡهِ مِنۡ أَنَامِلِهِ مَعَ الۡمَاءِ. ثُمَّ يَمۡسَحُ رَأۡسَهُ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا رَأۡسِهِ مِنۡ أَطۡرَافِ شَعۡرِهِ مَعَ الۡمَاءِ. ثُمَّ يَغۡسِلُ قَدَمَيۡهِ إِلَىٰ الۡكَعۡبَيۡنِ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا رِجۡلَيۡهِ مِنۡ أَنَامِلِهِ مَعَ الۡمَاءِ، فَإِنۡ هُوَ قَامَ فَصَلَّىٰ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثۡنَىٰ عَلَيۡهِ، وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهۡلٌ، وَفَرَّغَ قَلۡبَهُ لِلهِ، إِلَّا انۡصَرَفَ مِنۡ خَطِيئَتِهِ كَهَيۡئَتِهِ يَوۡمَ وَلَدَتۡهُ أُمُّهُ).

‘Amr berkata: Lalu aku bertanya, “Wahai Nabi, bagaimanakah dengan wudu? Ceritakanlah kepadaku tentangnya.”

Beliau bersabda, “Tidaklah ada seorang pun di antara kalian yang mendekatkan air wudunya, lalu ia berkumur-kumur, memasukkan air ke dalam hidung, dan mengeluarkannya, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa wajahnya, dosa mulutnya, dan dosa lubang hidungnya. Kemudian apabila ia membasuh wajahnya sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadanya, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa wajahnya dari ujung-ujung jenggotnya bersama mengalirnya air. Kemudian ia membasuh kedua tangannya sampai ke siku, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa kedua tangannya dari ujung jari-jarinya bersama mengalirnya air. Kemudian ia mengusap kepalanya, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa kepalanya dari ujung-ujung rambutnya bersama mengalirnya air. Kemudian ia membasuh kedua kakinya sampai ke kedua mata kaki, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa kedua kakinya dari ujung jari-jari kakinya bersama mengalirnya air. Jika ia berdiri lalu mengerjakan salat, kemudian ia memuji Allah, menyanjung-Nya, dan mengagungkan-Nya dengan puji-pujian yang memang Dia pantas memilikinya, serta mengosongkan hatinya hanya untuk Allah, melainkan ia akan bersih dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”

فَحَدَّثَ عَمۡرُو بۡنُ عَبَسَةَ بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ أَبَا أُمَامَةَ صَاحِبَ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَقَالَ لَهُ أَبُو أُمَامَةَ: يَا عَمۡرَو بۡنَ عَبَسَةَ، انۡظُرۡ مَا تَقُولُ، فِي مَقَامٍ وَاحِدٍ يُعۡطَىٰ هٰذَا الرَّجُلُ؟ فَقَالَ عَمۡرٌو: يَا أَبَا أُمَامَةَ، لَقَدۡ كَبِرَتۡ سِنِّي، وَرَقَّ عَظۡمِي، وَاقۡتَرَبَ أَجَلِي، وَمَا بِي حَاجَةٌ أَنۡ أَكۡذِبَ عَلَى اللهِ، وَلَا عَلَىٰ رَسُولِ اللهِ. لَوۡ لَمۡ أَسۡمَعۡهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَّا مَرَّةً، أَوۡ مَرَّتَيۡنِ، أَوۡ ثَلَاثًا - حَتَّى عَدَّ سَبۡعَ مَرَّاتٍ - مَا حَدَّثۡتُ بِهِ أَبَدًا، وَلَٰكِنِّي سَمِعۡتُهُ أَكۡثَرَ مِنۡ ذٰلِكَ.

Lalu ‘Amr bin ‘Abasah menceritakan hadis ini kepada Abu Umamah, seorang sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Maka Abu Umamah berkata kepadanya, “Wahai ‘Amr bin ‘Abasah, perhatikanlah apa yang kamu ucapkan. Apakah dalam satu rangkaian ibadah saja orang tersebut langsung diberikan pahala sebanyak ini?”

‘Amr menjawab, “Wahai Abu Umamah, sungguh usiaku telah tua, tulangku telah rapuh, ajalku telah dekat, dan aku tidak memiliki kepentingan sama sekali untuk berdusta atas nama Allah maupun atas nama Rasulullah. Seandainya aku tidak mendengarnya dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melainkan hanya sekali, dua kali, atau tiga kali—hingga ia menghitungnya sampai tujuh kali—niscaya aku tidak akan menceritakannya sama sekali, akan tetapi aku telah mendengarnya lebih banyak daripada itu.”

Musnad Ahmad hadis nomor 27437 dan 27438

٢٧٤٣٧ (٢٦٨٩٨) - حَدَّثَنَا يَعۡلَى بۡنُ عُبَيۡدٍ. قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ- يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي خَالِدٍ- عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أُمِّ هَانِئٍ. قَالَتۡ: لَمَّا دَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ حَجَبُوهُ، وَأُتِيَ بِمَاءٍ فَاغۡتَسَلَ، ثُمَّ صَلَّى الضُّحَى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، مَا رَآهُ أَحَدٌ بَعۡدَهَا صَلَّاهَا.

27437. (26898). Ya’la bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Isma’il bin Abu Khalid menceritakan kepada kami dari Abu Shalih, dari Umu Hani`. Ia berkata: Tatkala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk pada hari penaklukan kota Makkah, orang-orang menutupi beliau, lalu dibawakan air kepada beliau maka beliau pun mandi. Kemudian beliau melaksanakan salat Duha sebanyak delapan rakaat. Tidak ada seorang pun yang melihat beliau melakukan salat Duha setelah itu.

٢٧٤٣٨ (٢٦٨٩٩) - حَدَّثَنَا هَارُونُ. قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ. قَالَ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ. قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ، أَنَّ أَبَاهُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ الۡحَارِثِ بۡنِ نَوۡفَلٍ حَدَّثَهُ، أَنَّ أُمَّ هَانِئٍ بِنۡتَ أَبِي طَالِبٍ أَخۡبَرَتۡهُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَى بَعۡدَمَا ارۡتَفَعَ النَّهَارُ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ، فَأَمَرَ بِثَوۡبٍ، فَسُتِرَ عَلَيۡهِ فَاغۡتَسَلَ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، لَا أَدۡرِي، أَقِيَامُهُ فِيهَا أَطۡوَلُ، أَوۡ رُكُوعُهُ أَوۡ سُجُودُهُ، كُلُّ ذٰلِكَ مِنۡهُ مُتَقَارِبٌ، قَالَتۡ: فَلَمۡ أَرَهُ سَبَّحَهَا قَبۡلُ وَلَا بَعۡدُ. [صححه مسلم (٣٣٦)، وابن خزيمة (١٢٣٥)، وابن حبان (١١٨٧)]. [راجع: ٢٧٤٢٧].

27438. (26899). Harun telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. Ia berkata: Yunus mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab. Ia berkata: ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Al-Harits menceritakan kepadaku bahwa ayahnya, yaitu ‘Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, menceritakan kepadanya: Umu Hani` binti Abu Thalib mengabarkannya:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang setelah hari mulai siang pada hari penaklukan kota Makkah, lalu beliau meminta selembar kain, maka beliau pun ditutupi dengan kain tersebut kemudian mandi. Setelah itu beliau berdiri lalu melaksanakan salat delapan rakaat. Aku tidak tahu, apakah berdirinya beliau di dalam salat itu yang lebih lama, ataukah rukuknya, ataukah sujudnya, sebab semua gerakan beliau itu lamanya berdekatan.

Umu Hani` berkata: Dan aku belum pernah melihat beliau melaksanakan salat sunah tersebut sebelum maupun sesudah peristiwa itu.

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 1323

١٣٢٣ - (منكر بزيادة التسليم، والمحفوظ دونها وهو (صحيح)) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ رُمۡحٍ، قَالَ: أَنۡبَأَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ عِيَاضِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ مَخۡرَمَةَ بۡنِ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ كُرَيۡبٍ، مَوۡلَى ابۡنِ عَبَّاسٍ، عَنۡ أُمِّ هَانِىءٍ بِنۡتِ أَبِي طَالِبٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ - يَوۡمَ الۡفَتۡحِ - صَلَّى سُبۡحَةَ الضُّحَى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، [سَلَّمَ مِنۡ كُلِّ رَكۡعَتَيۡنِ]. [(صحيح أبي داود)(١١٦٨) و(ضعيفة)(٢٣٧): ق].

1323. [Munkar dengan adanya tambahan lafaz salam, sedangkan riwayat yang terjaga adalah tanpa tambahan tersebut dan derajatnya sahih] ‘Abdullah bin Muhammad bin Rumh telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Wahb memberitakan kepada kami dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah, dari Makhramah bin Sulaiman, dari Kuraib mantan budak Ibnu ‘Abbas, dari Umu Hani` binti Abu Thalib: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari penaklukan kota Makkah melaksanakan salat sunah Duha sebanyak delapan rakaat, (beliau mengucapkan salam setiap dua rakaat).

Sunan An-Nasa`i hadis nomor 225

٢٢٥ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنۡ أَبِي مُرَّةَ مَوۡلَى عَقِيلِ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ، عَنۡ أُمِّ هَانِىءٍ - رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا -، أَنَّهَا ذَهَبَتۡ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ، فَوَجَدَتۡهُ يَغۡتَسِلُ، وَفَاطِمَةُ تَسۡتُرُهُ بِثَوۡبٍ، فَسَلَّمَتۡ، فَقَالَ: (مَنۡ هٰذَا؟)، قُلۡتُ: أُمُّ هَانِىءٍ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنۡ غُسۡلِهِ؛ قَامَ، فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فِي ثَوۡبٍ مُلۡتَحِفًا بِهِ. [(إرواء الغليل)(٤٦٤)، (صحيح أبي داود)(١١٦٨)، ق].

225. [Sahih] Ya’qub bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami dari ‘Abdurrahman, dari Malik, dari Salim, dari Abu Murrah mantan budak ‘Aqil bin Abu Thalib, dari Umu Hani`—radhiyallahu ‘anha—, bahwasanya ia mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari penaklukan kota Makkah, lalu ia mendapati beliau sedang mandi, sementara Fathimah menutupi beliau dengan selembar kain. Maka ia mengucapkan salam, lalu beliau bertanya, “Siapakah ini?”

Aku menjawab, “Umu Hani`.”

Tatkala beliau selesai dari mandinya, beliau bangkit lalu melaksanakan salat delapan rakaat dengan menyelimutkan selembar kain ke tubuh beliau.

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 474

٤٧٤ - (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي لَيۡلَى، قَالَ: مَا أَخۡبَرَنِي أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي الضُّحَى إِلَّا أُمُّ هَانِىءٍ، فَإِنَّهَا حَدَّثَتۡ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ دَخَلَ بَيۡتَهَا يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ فَاغۡتَسَلَ فَسَبَّحَ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، مَا رَأَيۡتُهُ صَلَّى صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنۡهَا، غَيۡرَ أَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ. هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَكَأَنَّ أَحۡمَدَ رَأَى أَصَحَّ شَيۡءٍ فِي هٰذَا الۡبَابِ حَدِيثَ أُمِّ هَانِىءٍ. وَاخۡتَلَفُوا فِي نُعَيۡمٍ: فَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: نُعَيۡمُ بۡنُ خَمَّارٍ، وَقَالَ بَعۡضُهُمُ: ابۡنُ هَمَّارٍ، وَيُقَالُ: ابۡنُ هَبَّارٍ، وَيُقَالُ: ابۡنُ هَمَّامٍ، وَالصَّحِيحُ ابۡنُ هَمَّارٍ. وَأَبُو نُعَيۡمٍ وَهِمَ فِيهِ فَقَالَ: ابۡنُ حِمَازٍ، وَأَخۡطَأَ فِيهِ، ثُمَّ تَرَكَ فَقَالَ: نُعَيۡمٌ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ؛ أَخۡبَرَنِي بِذٰلِكَ عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ عَنۡ أَبِي نُعَيۡمٍ. [(ابن ماجه)(١٣٧٩)].

474. [Sahih] Abu Musa Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Ia berkata: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari ‘Amr bin Murrah, dari ‘Abdurrahman bin Abu Laila. Ia berkata:

Tidak ada seorang pun yang mengabarkan kepadaku bahwa ia melihat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melaksanakan salat Duha selain Umu Hani`. Sesungguhnya ia menceritakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk ke rumahnya pada hari penaklukan kota Makkah, lalu beliau mandi kemudian melaksanakan salat sunah delapan rakaat. Aku belum pernah melihat beliau melaksanakan suatu salat pun yang lebih ringan darinya, hanya saja beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya.

Hadis ini derajatnya hasan sahih. Dan seakan-akan Ahmad berpandangan bahwa riwayat yang paling sahih dalam bab ini adalah hadis Umu Hani`.

Para ulama berselisih pendapat mengenai Nu’aim. Sebagian mereka berkata: Nu’aim bin Khammar, sebagian mereka berkata: Ibnu Hammar, ada yang mengatakan: Ibnu Habbar, dan ada pula yang mengatakan: Ibnu Hammam, namun yang sahih adalah Ibnu Hammar. Sementara Abu Nu’aim telah keliru dalam hal ini, ia mengatakan: Ibnu Himaz, ia bersalah dalam penyebutan itu, kemudian ia meninggalkannya lalu mengucapkan: Nu’aim dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—; ‘Abd bin Humaid mengabarkan hal itu kepadaku dari Abu Nu’aim.

Sunan Abu Dawud hadis nomor 1290 dan 1291

١٢٩٠ - (ضعيف) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ صَالِحٍ وَأَحۡمَدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ السَّرۡحِ قَالَا: نا ابۡنُ وَهۡبٍ، حَدَّثَنِي عِيَاضُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ مَخۡرَمَةَ بۡنِ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ كُرَيۡبٍ مَوۡلَى ابۡنِ عَبَّاسٍ، عَنۡ أُمِّ هَانِىءٍ بِنۡتِ أَبِي طَالِبٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ صَلَّى سُبۡحَةَ الضُّحَى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، يُسَلِّمُ مِنۡ كُلِّ رَكۡعَتَيۡنِ. قَالَ أَحۡمَدُ بۡنُ صَالِحٍ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَلَّى يَوۡمَ الۡفَتۡحِ سُبۡحَةَ الضُّحَى، فَذَكَرَ مِثۡلَهُ. قَالَ ابۡنُ السَّرۡحِ: إِنَّ أُمَّ هَانِىءٍ قَالَتۡ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَلَمۡ يَذۡكُرۡ سُبۡحَةَ الضُّحَى، بِمَعۡنَاهُ.

1290. [Daif] Ahmad bin Shalih dan Ahmad bin ‘Amr bin As-Sarh telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami: ‘Iyadh bin ‘Abdullah menceritakan kepadaku dari Makhramah bin Sulaiman, dari Kuraib mantan budak Ibnu ‘Abbas, dari Umu Hani` binti Abu Thalib, bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari penaklukan kota Makkah melaksanakan salat sunah Duha sebanyak delapan rakaat, beliau mengucapkan salam setiap dua rakaat.

Ahmad bin Shalih berkata: Sesungguhnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melaksanakan salat sunah Duha pada hari penaklukan kota Makkah, lalu ia menyebutkan hadis yang semisal dengannya.

Ibnu As-Sarh berkata: Sesungguhnya Umu Hani` berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk menemuiku. Ibnu As-Sarh tidak menyebutkan lafaz “salat sunah Duha”, namun membawakan hadis yang semakna dengannya.

١٢٩١ - (صحيح) حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ، نا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ، عَنِ ابۡنِ أَبِي لَيۡلَى قَالَ: مَا أَخۡبَرَنَا أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى الضُّحَى غَيۡرَ أُمِّ هَانِىءٍ، فَإِنَّهَا ذَكَرَتۡ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ اغۡتَسَلَ فِي بَيۡتِهَا وَصَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ، فَلَمۡ يَرَهُ أَحَدٌ صَلَّاهُنَّ بَعۡدُ. [ق].

1291. [Sahih] Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Murrah, dari Ibnu Abu Laila. Ia berkata: Tidak ada seorang pun yang mengabarkan kepada kami bahwa ia melihat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melaksanakan salat Duha selain Umu Hani`. Sesungguhnya ia menyebutkan bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari penaklukan kota Makkah mandi di rumahnya dan melaksanakan salat delapan rakaat, dan tidak ada seorang pun yang melihat beliau melaksanakannya setelah itu.

Shahih Muslim hadis nomor 336

١٦ - بَابُ تَسَتُّرِ الۡمُغۡتَسِلِ بِثَوۡبٍ وَنَحۡوِهِ
16. Bab Orang yang Mandi Menutupi Diri dengan Kain dan Sejenisnya


٧٠ - (٣٣٦) - وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي النَّضۡرِ: أَنَّ أَبَا مُرَّةَ - مَوۡلَى أُمِّ هَانِىءٍ بِنۡتِ أَبِي طَالِبٍ – أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أُمَّ هَانِىءٍ بِنۡتَ أَبِي طَالِبٍ تَقُولُ: ذَهَبۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ عَامَ الۡفَتۡحِ، فَوَجَدۡتُهُ يَغۡتَسِلُ. وَفَاطِمَةُ ابۡنَتُهُ تَسۡتُرُهُ بِثَوۡبٍ.


70. (336). Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku membacakannya kepada Malik dari Abu An-Nadhr: Abu Murrah mantan budak Umu Hani` binti Abu Thalib mengabarkan kepadanya bahwa ia mendengar Umu Hani` binti Abu Thalib berkata: Aku menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada tahun penaklukan kota Makkah, lalu aku mendapati beliau sedang mandi, sementara Fathimah putri beliau menutupi beliau dengan selembar kain.

٧١ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رُمۡحِ بۡنِ الۡمُهَاجِرِ: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي هِنۡدٍ: أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوۡلَى عَقِيلٍ حَدَّثَهُ: أَنَّ أُمَّ هَانِىءٍ بِنۡتَ أَبِي طَالِبٍ حَدَّثَتۡهُ: أَنَّهُ لَمَّا كَانَ عَامُ الۡفَتۡحِ، أَتَتۡ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَهُوَ بِأَعۡلَىٰ مَكَّةَ. قَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى غُسۡلِهِ، فَسَتَرَتۡ عَلَيۡهِ فَاطِمَةُ، ثُمَّ أَخَذَ ثَوۡبَهُ فَالۡتَحَفَ بِهِ، ثُمَّ صَلَّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ سُبۡحَةَ الضُّحَىٰ.

71. Muhammad bin Rumh bin Al-Muhajir telah menceritakan kepada kami: Al-Laits mengabarkan kepada kami dari Yazid bin Abu Habib, dari Sa’id bin Abu Hind, bahwa Abu Murrah mantan budak ‘Aqil menceritakan kepadanya bahwa Umu Hani` binti Abu Thalib menceritakan kepadanya: Ketika terjadi tahun penaklukan kota Makkah, ia mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang saat itu berada di dataran tinggi Makkah. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bangkit untuk mandi, maka Fathimah menutupi beliau. Kemudian beliau mengambil kainnya lalu menyelimutkannya ke tubuh beliau, setelah itu beliau melaksanakan salat delapan rakaat, yaitu salat sunah Duha.

٧٢ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنِ الۡوَلِيدِ بۡنِ كَثِيرٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي هِنۡدٍ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَقَالَ: فَسَتَرَتۡهُ ابۡنَتُهُ فَاطِمَةُ بِثَوۡبِهِ، فَلَمَّا اغۡتَسَلَ أَخَذَهُ فَالۡتَحَفَ بِهِ، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى ثَمَانَ سَجَدَاتٍ. وَذٰلِكَ ضُحًى.

72. Abu Kuraib telah menceritakan hadis itu kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Al-Walid bin Katsir, dari Sa’id bin Abu Hind melalui sanad ini, dan ia berkata: Maka Fathimah putri beliau menutupi beliau dengan kain beliau. Tatkala beliau selesai mandi, beliau mengambil kain tersebut lalu menyelimutkannya ke tubuh beliau, kemudian beliau bangkit lalu melaksanakan salat delapan rakaat dan peristiwa itu terjadi pada waktu Duha.

Shahih Muslim hadis nomor 748

١٩ - بَابٌ (صَلَاةُ الۡأَوَّابِينَ حِينَ تَرۡمَضُ الۡفِصَالُ)
19. Bab Salat Al-Awwabin (Orang-Orang yang Kembali kepada Ketaatan) Adalah Ketika Anak-Anak Unta Merasakan Kepanasan


١٤٣ - (٧٤٨) - وَحَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ - وَهُوَ ابۡنُ عُلَيَّةَ - عَنۡ أَيُّوبَ، عَنِ الۡقَاسِمِ الشَّيۡبَانِيِّ: أَنَّ زَيۡدَ بۡنَ أَرۡقَمَ رَأَىٰ قَوۡمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَىٰ. فَقَالَ: أَمَا لَقَدۡ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيۡرِ هَٰذِهِ السَّاعَةِ أَفۡضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (صَلَاةُ الۡأَوَّابِينَ حِينَ تَرۡمَضُ الۡفِصَالُ).

143. (748). Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Isma’il bin ‘Ulayyah menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Al-Qasim Asy-Syaibani, bahwasanya Zaid bin Arqam melihat sekelompok orang melaksanakan salat Duha, lalu ia berkata: Ingatlah, demi Allah, sungguh mereka telah mengetahui bahwa salat di selain waktu ini adalah lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Salat al-awwabin adalah ketika anak-anak unta merasakan kepanasan (terkena panasnya pasir gurun akibat sengatan terik matahari).”

١٤٤ - (...) - حَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ أَبِي عَبۡدِ اللهِ. قَالَ: حَدَّثَنَا الۡقَاسِمُ الشَّيۡبَانِيُّ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَرۡقَمَ. قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى أَهۡلِ قُبَاءٍ وَهُمۡ يُصَلُّونَ. فَقَالَ: (صَلَاةُ الۡأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَتِ الۡفِصَالُ).

144. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Abu ‘Abdullah. Ia berkata: Al-Qasim Asy-Syaibani menceritakan kepada kami dari Zaid bin Arqam. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar menemui penduduk Quba` ketika mereka sedang melaksanakan salat, lalu beliau bersabda, “Salat al-awwabin adalah apabila anak-anak unta telah merasakan kepanasan.”

Sunan Abu Dawud hadis nomor 1295

٣٠٢ - بَابٌ [فِي] صَلَاةِ النَّهَارِ
302. Bab Mengenai Salat Siang


١٢٩٥ - (صحيح) حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ مَرۡزُوقٍ، أنا شُعۡبَةُ، عَنۡ يَعۡلَى بۡنِ عَطَاءٍ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ الۡبَارِقِيِّ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (صَلَاةُ اللَّيۡلِ وَالنَّهَارِ مَثۡنَى مَثۡنَى).

1295. [Sahih] ‘Amr bin Marzuq telah menceritakan kepada kami: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Ya’la bin ‘Atha`, dari ‘Ali bin ‘Abdullah Al-Bariqi, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Salat malam dan siang itu dua rakaat dua rakaat.”

Musnad Ahmad hadis nomor 4791

٤٧٩١ - حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ يَعۡلَى بۡنِ عَطَاءٍ، عَنۡ عَلِيٍّ الۡأَزۡدِيِّ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: صَلَاةُ اللَّيۡلِ وَالنَّهَارِ مَثۡنَى مَثۡنَى. [صححه ابن خزيمة (١٢١٠). قال ابن حجر: وأكثر أئمة الحديث أعلوا هذه الزيادة (النهار). قال الۡألباني: صحيح (أبو داود: ١٢٩٥، ابن ماجه: ١٣٢٢، الترمذي: ٥٩٧، النسائي: ٣/٢٢٧. قال شعيب: صحيح دون النهار]. [انظر: ٥١٢٢].

4791. Waki’ telah menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha`, dari ‘Ali Al-Azdiy, dari Ibnu ‘Umar. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Salat malam dan siang itu dua rakaat dua rakaat.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5439

٣٩ - بَابُ مَنۡ نَاوَلَ أَوۡ قَدَّمَ إِلَى صَاحِبِهِ عَلَى الۡمَائِدَةِ شَيۡئًا
39. Bab Orang yang Menyerahkan atau Menyuguhkan Sesuatu Kepada Temannya di Atas Tempat Hidangan


قَالَ: وَقَالَ ابۡنُ الۡمُبَارَكِ: لَا بَأۡسَ أَنۡ يُنَاوِلَ بَعۡضُهُمۡ بَعۡضًا، وَلَا يُنَاوِلُ مِنۡ هٰذِهِ الۡمَائِدَةِ إِلَى مَائِدَةٍ أُخۡرَى.

Ia (mualif) berkata: Dan Ibnu Al-Mubarak berkata: Tidak mengapa sebagian mereka menyodorkan (makanan) kepada sebagian yang lain, namun ia tidak menyodorkannya dari tempat hidangan ini ke tempat hidangan yang lain.

٥٤٣٩ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يَقُولُ: إِنَّ خَيَّاطًا دَعَا رَسُولَ اللهِ ﷺ لِطَعَامٍ صَنَعَهُ، قَالَ أَنَسٌ: فَذَهَبۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى ذٰلِكَ الطَّعَامِ، فَقَرَّبَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ خُبۡزًا مِنۡ شَعِيرٍ، وَمَرَقًا فِيهِ دُبَّاءٌ وَقَدِيدٌ، قَالَ أَنَسٌ: فَرَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ مِنۡ حَوۡلِ الصَّحۡفَةِ، فَلَمۡ أَزَلۡ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ مِنۡ يَوۡمِئِذٍ. وَقَالَ ثُمَامَةُ، عَنۡ أَنَسٍ: فَجَعَلۡتُ أَجۡمَعُ الدُّبَّاءَ بَيۡنَ يَدَيۡهِ. [طرفه في: ٢٠٩٢].

5439. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya ia mendengar Anas bin Malik berkata: Sesungguhnya seorang tukang jahit mengundang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—untuk menghadiri jamuan makanan yang ia buat. Anas berkata: Maka aku pergi bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menuju jamuan makanan tersebut, lalu ia menyuguhkan roti dari gandum dan kuah sup yang di dalamnya terdapat labu air serta daging kering kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Anas berkata: Maka aku melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mencari-cari labu air dari sekitar mangkuk besar, maka aku senantiasa menyukai labu air semenjak hari itu. Dan Tsumamah berkata dari Anas: Maka aku mulai mengumpulkan labu air di hadapan beliau.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5437

٣٨ - بَابُ الۡقَدِيدِ
38. Bab Daging Kering


٥٤٣٧ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: رَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ أُتِيَ بِمَرَقَةٍ فِيهَا دُبَّاءٌ وَقَدِيدٌ، فَرَأَيۡتُهُ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ يَأۡكُلُهَا. [طرفه في: ٢٠٩٢].

5437. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Malik bin Anas menceritakan kepada kami dari Ishaq bin ‘Abdullah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Aku melihat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—disuguhi kuah sup yang di dalamnya terdapat labu air dan daging kering, lalu aku melihat beliau mencari-cari labu air untuk memakannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5436

٣٧ - بَابُ الۡمَرَقِ
37. Bab Kuah Sup


٥٤٣٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ: أَنَّ خَيَّاطًا دَعَا النَّبِيَّ ﷺ لِطَعَامٍ صَنَعَهُ، فَذَهَبۡتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَرَّبَ خُبۡزَ شَعِيرٍ، وَمَرَقًا فِيهِ دُبَّاءٌ وَقَدِيدٌ، رَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ مِنۡ حَوَالَيِ الۡقَصۡعَةِ، فَلَمۡ أَزَلۡ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ بَعۡدَ يَوۡمِئِذٍ. [طرفه في: ٢٠٩٢].

5436. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya ia mendengar Anas bin Malik: Sesungguhnya seorang tukang jahit mengundang Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—untuk menghadiri jamuan makanan yang ia buat. Maka aku pergi bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu ia menyuguhkan roti gandum dan kuah sup yang di dalamnya terdapat labu air serta daging kering. Kemudian aku melihat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam— mencari-cari labu air dari sekitar wadah makanan, maka aku senantiasa menyukai labu air setelah hari itu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5435

٣٦ - بَابُ مَنۡ أَضَافَ رَجُلًا إِلَى طَعَامٍ وَأَقۡبَلَ هُوَ عَلَى عَمَلِهِ
36. Bab Orang yang Menjamu Seseorang dengan Makanan dan Ia Sendiri Kembali Melanjutkan Pekerjaannya


٥٤٣٥ - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُنِيرٍ: سَمِعَ النَّضۡرَ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ عَوۡنٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي ثُمَامَةُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنۡتُ غُلَامًا أَمۡشِي مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَدَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى غُلَامٍ لَهُ خَيَّاطٍ، فَأَتَاهُ بِقَصۡعَةٍ فِيهَا طَعَامٌ وَعَلَيۡهِ دُبَّاءٌ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ، قَالَ: فَلَمَّا رَأَيۡتُ ذٰلِكَ جَعَلۡتُ أَجۡمَعُهُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ، قَالَ: فَأَقۡبَلَ الۡغُلَامُ عَلَى عَمَلِهِ، قَالَ أَنَسٌ: لَا أَزَالُ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ بَعۡدَ مَا رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَنَعَ مَا صَنَعَ. [طرفه في: ٢٠٩٢].

5435. ‘Abdullah bin Munir telah menceritakan kepada kami. Ia mendengar An-Nadhr: Ibnu ‘Aun mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas mengabarkan kepadaku dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Aku dahulu adalah seorang anak muda yang berjalan bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk menemui seorang gulamnya yang bekerja sebagai tukang jahit. Kemudian ia menyuguhkan wadah makanan berisi makanan yang di atasnya terdapat labu air kepada beliau, maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mulai mencari-cari labu air itu. Anas berkata: Ketika aku melihat hal itu, aku mulai mengumpulkannya di hadapan beliau. Anas berkata: Dan gulam itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Anas berkata: Aku senantiasa menyukai labu air setelah aku melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melakukan apa yang beliau lakukan.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5433

٣٤ - بَابُ الدُّبَّاءِ
34. Bab Labu Air


٥٤٣٣ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ: حَدَّثَنَا أَزۡهَرُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنِ ابۡنِ عَوۡنٍ، عَنۡ ثُمَامَةَ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَى مَوۡلًى لَهُ خَيَّاطًا، فَأُتِيَ بِدُبَّاءٍ، فَجَعَلَ يَأۡكُلُهُ، فَلَمۡ أَزَلۡ أُحِبُّهُ مُنۡذُ رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَأۡكُلُهُ. [طرفه في: ٢٠٩٢].

5433. ‘Amr bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Azhar bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Aun, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendatangi seorang bekas budaknya yang bekerja sebagai tukang jahit, lalu beliau disuguhi labu air, maka beliau mulai memakannya. Lalu aku senantiasa menyukainya semenjak aku melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memakannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5420

٥٤٢٠ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُنِيرٍ: سَمِعَ أَبَا حَاتِمٍ الۡأَشۡهَلَ بۡنَ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عَوۡنٍ، عَنۡ ثُمَامَةَ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: دَخَلۡتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى غُلَامٍ لَهُ خَيَّاطٍ، فَقَدَّمَ إِلَيۡهِ قَصۡعَةً فِيهَا ثَرِيدٌ، قَالَ: وَأَقۡبَلَ عَلَى عَمَلِهِ، قَالَ فَجَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ، قَالَ: فَجَعَلۡتُ أَتَتَبَّعُهُ فَأَضَعُهُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ، قَالَ: فَمَا زِلۡتُ بَعۡدُ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ. [طرفه في: ٢٠٩٢].

5420. ‘Abdullah bin Munir telah menceritakan kepada kami: Ia mendengar Abu Hatim Al-Asyhal bin Hatim: Ibnu ‘Aun menceritakan kepada kami dari Tsumamah bin Anas, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Aku masuk bersama Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menemui seorang pelayannya yang bekerja sebagai tukang jahit, lalu ia menyuguhkan wadah makanan berisi tsarid (roti yang direndam kuah sup) kepada beliau. Anas berkata: Dan tukang jahit itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Anas berkata: Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mulai mencari-cari labu air. Anas berkata: Maka aku pun mulai ikut mencari-carinya lalu meletakkannya di hadapan beliau. Anas berkata: Maka setelah itu aku senantiasa menyukai labu air.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5379

٤ - بَابُ مَنۡ تَتَبَّعَ حَوَالَيِ الۡقَصۡعَةِ مَعَ صَاحِبِهِ، إِذَا لَمۡ يَعۡرِفۡ مِنۡهُ كَرَاهِيَةً
4. Bab Orang yang Mencari-cari di Sekeliling Wadah Makanan Bersama Temannya, Apabila Ia Tidak Mengetahui Adanya Rasa Tidak Suka Darinya


٥٣٧٩ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يَقُولُ: إِنَّ خَيَّاطًا دَعَا رَسُولَ اللهِ ﷺ لِطَعَامٍ صَنَعَهُ. قَالَ أَنَسٌ: فَذَهَبۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَرَأَيۡتُهُ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ مِنۡ حَوَالَيِ الۡقَصۡعَةِ، قَالَ: فَلَمۡ أَزَلۡ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ مِنۡ يَوۡمِئِذٍ. [طرفه في: ٢٠٩٢].

5379. Qutaibah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ishaq bin Abu Thalhah: Ia mendengar Anas bin Malik berkata: Sesungguhnya seorang tukang jahit mengundang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—untuk menghadiri jamuan makanan yang ia buat. Anas berkata: Maka aku pergi bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu aku melihat beliau mencari-cari labu air dari sekitar wadah makanan. Anas berkata: Maka aku senantiasa menyukai labu air semenjak hari itu.

Shahih Muslim hadis nomor 2236

١٣٩ - (٢٢٣٦) - وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، أَحۡمَدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ سَرۡحٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ، عَنۡ صَيۡفِيٍّ، وَهُوَ عِنۡدَنَا مَوۡلَى ابۡنِ أَفۡلَحَ، أَخۡبَرَنِي أَبُو السَّائِبِ، مَوۡلَىٰ هِشَامِ بۡنِ زُهۡرَةَ، أَنَّهُ دَخَلَ عَلَىٰ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ فِي بَيۡتِهِ. قَالَ:

139. (2236). Abu Ath-Thahir, Ahmad bin ‘Amr bin Sarh telah menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami: Malik bin Anas mengabarkan kepadaku dari Shaifi—menurut kami ia adalah bekas budak Ibnu Aflah—: Abu As-Sa`ib, bekas budak Hisyam bin Zuhrah mengabarkan kepadaku: Ia pernah menemui Abu Sa’id Al-Khudri di rumahnya. Abu As-Sa`ib berkata:

فَوَجَدۡتُهُ يُصَلِّي، فَجَلَسۡتُ أَنۡتَظِرُهُ حَتَّىٰ يَقۡضِيَ صَلَاتَهُ، فَسَمِعۡتُ تَحۡرِيكًا فِي عَرَاجِينَ فِي نَاحِيَةِ الۡبَيۡتِ، فَالۡتَفَتُّ فَإِذَا حَيَّةٌ. فَوَثَبۡتُ لِأَقۡتُلَهَا، فَأَشَارَ إِلَيَّ: أَنِ اجۡلِسۡ، فَجَلَسۡتُ. فَلَمَّا انۡصَرَفَ أَشَارَ إِلَىٰ بَيۡتٍ فِي الدَّارِ. فَقَالَ: أَتَرَىٰ هَٰذَا الۡبَيۡتَ؟ فَقُلۡتُ: نَعَمۡ. قَالَ: كَانَ فِيهِ فَتًى مِنَّا حَدِيثُ عَهۡدٍ بِعُرۡسٍ. قَالَ: فَخَرَجۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى الۡخَنۡدَقِ، فَكَانَ ذٰلِكَ الۡفَتَىٰ يَسۡتَأۡذِنُ رَسُولَ اللهِ ﷺ بِأَنۡصَافِ النَّهَارِ فَيَرۡجِعُ إِلَىٰ أَهۡلِهِ. فَاسۡتَأۡذَنَهُ يَوۡمًا. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (خُذۡ عَلَيۡكَ سِلَاحَكَ، فَإِنِّي أَخۡشَىٰ عَلَيۡكَ قُرَيۡظَةَ)، فَأَخَذَ الرَّجُلُ سِلَاحَهُ، ثُمَّ رَجَعَ فَإِذَا امۡرَأَتُهُ بَيۡنَ الۡبَابَيۡنِ قَائِمَةً، فَأَهۡوَىٰ إِلَيۡهَا الرُّمۡحَ لِيَطۡعُنَهَا بِهِ. وَأَصَابَتۡهُ غَيۡرَةٌ. فَقَالَتۡ لَهُ: اكۡفُفۡ عَلَيۡكَ رُمۡحَكَ، وَادۡخُلِ الۡبَيۡتَ حَتَّىٰ تَنۡظُرَ مَا الَّذِي أَخۡرَجَنِي.

Aku mendapati beliau sedang salat, lalu aku duduk menunggunya sampai beliau menyelesaikan salatnya. Tiba-tiba aku mendengar suara gerakan di pelepah-pelepah kurma yang berada di sudut rumah. Aku pun menoleh dan ternyata ada seekor ular. Maka aku bergegas bangkit untuk membunuhnya, tetapi beliau memberikan isyarat kepadaku agar aku duduk. Aku pun kembali duduk.

Tatkala beliau selesai salat, beliau menunjuk ke sebuah kamar di dalam pekarangan rumah itu seraya bertanya, “Apakah kamu melihat kamar ini?”

Aku menjawab, “Ya.”

Beliau menceritakan, “Dahulu di kamar ini tinggal seorang pemuda dari kalangan kami yang baru saja melangsungkan pernikahan.”

Beliau melanjutkan:

Lalu kami berangkat bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menuju (perang) Khandaq. Pemuda tersebut sering meminta izin kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada pertengahan siang untuk pulang menemui istrinya. Pada suatu hari, ia meminta izin lagi kepada beliau, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepadanya, “Bawalah senjata lengkapmu, karena aku mengkhawatirkan (gangguan) Bani Quraizhah terhadapmu.”

Maka lelaki itu mengambil senjatanya kemudian pulang. Setibanya di rumah, ternyata istrinya sedang berdiri di antara dua daun pintu. Rasa cemburu pun membakar dirinya, lalu ia mengarahkan tombaknya kepada sang istri untuk menusuknya. Namun, istrinya berkata kepadanya, “Tahan tombakmu! Masuklah ke dalam rumah agar kamu bisa melihat apa yang membuatku keluar.”

فَدَخَلَ فَإِذَا بِحَيَّةٍ عَظِيمَةٍ مُنۡطَوِيَةٍ عَلَى الۡفِرَاشِ. فَأَهۡوَىٰ إِلَيۡهَا بِالرُّمۡحِ فَانۡتَظَمَهَا بِهِ. ثُمَّ خَرَجَ، فَرَكَزَهُ فِي الدَّارِ، فَاضۡطَرَبَتۡ عَلَيۡهِ. فَمَا يُدۡرَىٰ أَيُّهُمَا كَانَ أَسۡرَعَ مَوۡتًا: الۡحَيَّةُ أَمِ الۡفَتَى؟ قَالَ فَجِئۡنَا إِلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَذَكَرۡنَا ذٰلِكَ لَهُ. وَقُلۡنَا: ادۡعُ اللهَ يُحۡيِيهِ لَنَا. فَقَالَ: (اسۡتَغۡفِرُوا لِصَاحِبِكُمۡ). ثُمَّ قَالَ: (إِنَّ بِالۡمَدِينَةِ جِنًّا قَدۡ أَسۡلَمُوا، فَإِذَا رَأَيۡتُمۡ مِنۡهُمۡ شَيۡئًا فَآذِنُوهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنۡ بَدَا لَكُمۡ بَعۡدَ ذٰلِكَ فَاقۡتُلُوهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيۡطَانٌ).

Ia pun masuk ke dalam rumah, dan ternyata ada seekor ular besar yang sedang melingkar di atas tempat tidur. Maka ia mengarahkan tombak kepada ular tersebut lalu menusuknya hingga tembus. Kemudian ia keluar dan menancapkan tombak itu di pekarangan rumah, lalu ular tersebut menggelepar melilitnya. Tidak diketahui siapakah di antara keduanya yang mati lebih cepat, apakah ular itu atau si pemuda.

Beliau melanjutkan:

Maka kami mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu menceritakan peristiwa tersebut kepada beliau, dan kami berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menghidupkannya kembali untuk kami.”

Beliau bersabda, “Mohonkanlah ampunan untuk sahabat kalian ini.”

Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ini ada segolongan jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat sesuatu dari mereka (menyerupai ular), maka berikanlah peringatan kepadanya selama tiga hari. Jika ia tetap menampakkan diri kepada kalian setelah itu, maka bunuhlah ia, karena sesungguhnya ia tidak lain hanyalah setan.”

١٤٠ - (...) - وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا وَهۡبُ بۡنُ جَرِيرِ بۡنِ حَازِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي. قَالَ: سَمِعۡتُ أَسۡمَاءَ بۡنَ عُبَيۡدٍ يُحَدِّثُ عَنۡ رَجُلٍ يُقَالُ لَهُ السَّائِبُ، وَهُوَ عِنۡدَنَا أَبُو السَّائِبِ. قَالَ: دَخَلۡنَا عَلَىٰ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ. فَبَيۡنَمَا نَحۡنُ جُلُوسٌ إِذۡ سَمِعۡنَا تَحۡتَ سَرِيرِهِ حَرَكَةً، فَنَظَرۡنَا فَإِذَا حَيَّةٌ. وَسَاقَ الۡحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ نَحۡوَ حَدِيثِ مَالِكٍ، عَنۡ صَيۡفِيٍّ.

وَقَالَ فِيهِ: فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ لِهَٰذِهِ الۡبُيُوتِ عَوَامِرَ، فَإِذَا رَأَيۡتُمۡ شَيۡئًا مِنۡهَا فَحَرِّجُوا عَلَيۡهَا ثَلَاثًا. فَإِنۡ ذَهَبَ، وَإِلَّا فَاقۡتُلُوهُ، فَإِنَّهُ كَافِرٌ). وَقَالَ لَهُمُ: (اذۡهَبُوا فَادۡفِنُوا صَاحِبَكُمۡ).

140. Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepadaku: Wahb bin Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Asma` bin ‘Ubaid menceritakan dari seorang pria yang dipanggil As-Sa`ib, dan menurut kami ia adalah Abu As-Sa`ib. Ia berkata:

“Kami pernah menemui Abu Sa’id Al-Khudri. Ketika kami sedang duduk, tiba-tiba kami mendengar suara gerakan di bawah tempat tidurnya. Kami pun melihatnya dan ternyata ada seekor ular.”

Lalu ia membawakan kelanjutan hadis beserta kisahnya seperti hadis Malik dari Shaifi. Dan di dalam riwayat ini disebutkan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya rumah-rumah ini ada penghuninya (dari kalangan jin). Jika kalian melihat sesuatu dari mereka, maka berikanlah peringatan kepadanya sebanyak tiga (hari). Jika ia pergi (maka biarkanlah), namun jika tidak, maka bunuhlah ia, karena sesungguhnya ia adalah kafir.”

Dan beliau bersabda kepada mereka, “Pergilah dan makamkanlah sahabat kalian ini!”

١٤١ - (...) - وَحَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابۡنِ عَجۡلَانَ: حَدَّثَنِي صَيۡفِيٌّ، عَنۡ أَبِي السَّائِبِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ. قَالَ: سَمِعۡتُهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ بِالۡمَدِينَةِ نَفَرًا مِنَ الۡجِنِّ قَدۡ أَسۡلَمُوا، فَمَنۡ رَأَىٰ شَيۡئًا مِنۡ هٰذِهِ الۡعَوَامِرِ فَلۡيُؤۡذِنۡهُ ثَلَاثًا. فَإِنۡ بَدَا لَهُ بَعۡدُ فَلۡيَقۡتُلۡهُ، فَإِنَّهُ شَيۡطَانٌ).

141. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Ajlan: Shaifi menceritakan kepadaku dari Abu As-Sa`ib, dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ia berkata: Aku mendengarnya berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ini ada sekelompok jin yang telah masuk Islam. Maka barang siapa yang melihat sesuatu dari para penghuni rumah (dari kalangan jin) ini, hendaklah ia memberikan peringatan kepadanya sebanyak tiga (hari). Jika ia tetap menampakkan diri kepadanya setelah itu, hendaklah ia membunuhnya, karena sesungguhnya ia adalah setan.”

Shahih Muslim hadis nomor 516

٢٧٧ - (٥١٦) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَعَمۡرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، جَمِيعًا عَنِ ابۡنِ عُيَيۡنَةَ. قَالَ زُهَيۡرٌ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمۡ فِي الثَّوۡبِ الۡوَاحِدِ، لَيۡسَ عَلَى عَاتِقَيۡهِ مِنۡهُ شَيۡءٌ).

277. (516). Abu Bakr bin Abu Syaibah, ‘Amr An-Naqid, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Ibnu ‘Uyainah. Zuhair berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian salat dengan menggunakan satu pakaian yang tidak ada sedikit pun kain dari pakaian tersebut yang diletakkan di atas kedua pundaknya.”

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 1322

١٧٢ - بَابُ مَا جَاءَ فِي صَلَاةِ اللَّيۡلِ وَالنَّهَارِ مَثۡنَى مَثۡنَى
172. Bab Riwayat Mengenai Salat Malam dan Siang Dua Rakaat Dua Rakaat


١٣٢٢ - (صحيح بالزيادة) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ خَلَّادٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ يَعۡلَى بۡنِ عَطَاءٍ؛ أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيًّا الۡأَزۡدِيَّ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عُمَرَ يُحَدِّثُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (صَلَاةُ اللَّيۡلِ وَالنَّهَارِ مَثۡنَى مَثۡنَى). [(الروض)(٥٢٢)، (صحيح أبي داود)(١١٧٢)].

1322. [Sahih dengan tambahannya] ‘Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Waki’ menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Basysyar dan Abu Bakr bin Khallad telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Ya’la bin ‘Atha`, bahwasanya ia mendengar ‘Ali Al-Azdi menceritakan: Ia mendengar Ibnu ‘Umar menceritakan dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya beliau bersabda, “Salat malam dan siang itu dua rakaat dua rakaat.”

Sunan Ad-Darimi hadis nomor 1371

١٣٧١ - أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُوسَى وَمُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنۡ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: (لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمۡ فِي الثَّوۡبِ الۡوَاحِدِ لَيۡسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنۡهُ شَيۡءٌ).

1371. ‘Ubaidullah bin Musa dan Muhammad bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami dari Sufyan, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Jangan sampai salah seorang di antara kalian salat dengan menggunakan satu pakaian yang tidak ada sedikit pun kain dari pakaian tersebut yang diletakkan di atas pundaknya.”

Sunan An-Nasa`i hadis nomor 769

١٨ - صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الثَّوۡبِ الۡوَاحِدِ لَيۡسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنۡهُ شَيۡءٌ
18. Salatnya Seorang Laki-Laki dengan Menggunakan Satu Pakaian yang Tidak Ada Sedikit Pun Kain dari Pakaian Tersebut di Atas Pundaknya


٧٦٩ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمۡ فِي الثَّوۡبِ الۡوَاحِدِ، لَيۡسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنۡهُ شَيۡءٌ). [(إرواء الغليل)(٢٧٥)، (صحيح أبي داود)(٦٣٧)، ق].

769. [Sahih] Muhammad bin Manshur telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami. Ia berkata: Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Jangan sampai salah seorang di antara kalian salat dengan menggunakan satu pakaian yang tidak ada sedikit pun kain dari pakaian tersebut yang diletakkan di atas pundaknya.”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 2728

٢٧٢٨ - (حسن) حَدَّثَنَا سُوَيۡدٌ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا حَنۡظَلَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلۡقَى أَخَاهُ أَوۡ صَدِيقَهُ أَيَنۡحَنِي لَهُ؟ قَالَ: (لَا)، قَالَ: أَفَيَلۡتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: (لَا)، قَالَ: أَفَيَأۡخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: (نَعَمۡ). هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. [(ابن ماجه)(٣٧٠٢)].

2728. [Hasan] Suwaid telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Hanzhalah bin ‘Ubaidullah mengabarkan kepada kami dari Anas bin Malik. Beliau berkata:

Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami bertemu dengan saudaranya atau temannya. Apakah ia boleh membungkukkan badan kepadanya?”

Beliau menjawab, “Tidak.”

Ia bertanya lagi, “Apakah ia boleh memeluk dan menciumnya?”

Beliau menjawab, “Tidak.”

Ia bertanya lagi, “Apakah ia boleh memegang tangannya dan bersalaman dengannya?”

Beliau menjawab, “Ya.”

Ini adalah hadis hasan.

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 2729

٢٧٢٩ - (صحيح) حَدَّثَنَا سُوَيۡدٌ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا هَمَّامٌ، عَنۡ قَتَادَةَ قَالَ: قُلۡتُ لِأَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: هَلۡ كَانَتِ الۡمُصَافَحَةُ فِي أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ؟ قَالَ: نَعَمۡ. هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. [خ(٦٢٦٣)].

2729. [Sahih] Suwaid telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Hammam mengabarkan kepada kami dari Qatadah. Beliau berkata:

Aku bertanya kepada Anas bin Malik, “Apakah bersalaman itu dilakukan di antara para sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—?”

Anas menjawab, “Ya.”

Hadis ini hasan sahih.

Sunan Abu Dawud hadis nomor 5213

٥٢١٣ - (صحيح إلا أن قوله: (وهم أول ...) مدرج فيه من قول أنس) حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ، نا حَمَّادٌ، أنا حُمَيۡدٌ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ قَالَ: لَمَّا جَاءَ أَهۡلُ الۡيَمَنِ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (قَدۡ جَاءَكُمۡ أَهۡلُ الۡيَمَنِ، وَهُمۡ أَوَّلُ مَنۡ جَاءَ بِالۡمُصَافَحَةِ). [(الروض)(١٠٤٥)].

5213. [Sahih, hanya saja sabda beliau: “Dan mereka adalah orang pertama ...” adalah tersisip di dalamnya yang berasal dari perkataan Anas] Musa bin Isma‘il telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami: Humaid mengabarkan kepada kami dari Anas bin Malik. Dia berkata: Ketika penduduk Yaman datang, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sungguh telah datang kepada kalian penduduk Yaman dan mereka adalah orang-orang pertama yang membawa kebiasaan bersalaman.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4735

٦ - بَابٌ قَوۡلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَنَرِثُهُ مَا يَقُولُ وَيَأۡتِينَا فَرۡدًا﴾ [٨٠]
6. Bab Firman Allah—‘azza wa jalla—: “Dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu dan ia akan datang kepada Kami seorang diri.” (QS Maryam: 80)


وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿الۡجِبَالُ هَدًّا﴾ [٩٠] هَدۡمًا.

Dan Ibnu ‘Abbas berkata: “(Gunung-gunung) runtuh” (QS Maryam: 90) maknanya hancur.

٤٧٣٥ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي الضُّحَى، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ خَبَّابٍ قَالَ: كُنۡتُ رَجُلًا قَيۡنًا، وَكَانَ لِي عَلَى الۡعَاصِي بۡنِ وَائِلٍ دَيۡنٌ، فَأَتَيۡتُهُ أَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ لِي: لَا أَقۡضِيكَ حَتَّى تَكۡفُرَ بِمُحَمَّدٍ، قَالَ: قُلۡتُ: لَنۡ أَكۡفُرَ بِهِ حَتَّى تَمُوتَ ثُمَّ تُبۡعَثَ، قَالَ: وَإِنِّي لَمَبۡعُوثٌ مِنۡ بَعۡدِ الۡمَوۡتِ، فَسَوۡفَ أَقۡضِيكَ إِذَا رَجَعۡتُ إِلَى مَالٍ وَوَلَدٍ، قَالَ: فَنَزَلَتۡ: ﴿أَفَرَأَيۡتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا * أَطَّلَعَ الۡغَيۡبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنۡدَ الرَّحۡمٰنِ عَهۡدًا * كَلَّا سَنَكۡتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الۡعَذَابِ مَدًّا * وَنَرِثُهُ مَا يَقُولُ وَيَأۡتِينَا فَرۡدًا﴾ [٧٧-٨٠]. [طرفه في: ٢٠٩١].

4735. Yahya telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, dari Khabbab.

Khabbab berkata: Aku dahulu adalah seorang laki-laki pandai besi dan aku memiliki piutang pada Al-‘Ashi bin Wa`il. Kemudian aku mendatangi dirinya untuk menagihnya, namun ia berkata kepadaku, “Aku tidak akan melunasi utangmu sampai engkau kafir kepada Muhammad.”

Khabbab berkata: Aku berkata, “Aku tidak akan kafir kepadanya sampai engkau mati kemudian dibangkitkan.”

Al-‘Ashi berkata, “Apakah aku benar-benar akan dibangkitkan setelah kematian? Kelak aku akan melunasi utangmu jika aku telah kembali kepada harta dan anak.”

Khabbab berkata: Maka turunlah ayat: “Maka tahukah kamu orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak.’ Apakah ia telah melihat yang gaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Yang Maha Pengasih? Sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan Kami benar-benar akan memperpanjang azab untuknya. Dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami seorang diri.” (QS Maryam: 77-80).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6263

٢٧ - بَابُ الۡمُصَافَحَةِ
27. Bab Bersalaman


وَقَالَ ابۡنُ مَسۡعُودٍ: عَلَّمَنِي النَّبِيُّ ﷺ التَّشَهُّدَ، وَكَفِّي بَيۡنَ كَفَّيۡهِ.

Ibnu Mas’ud berkata, “Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengajarkan tasyahud kepadaku, sedangkan telapak tanganku berada di antara kedua telapak tangan beliau.”

وَقَالَ كَعۡبُ بۡنُ مَالِكٍ: دَخَلۡتُ الۡمَسۡجِدَ، فَإِذَا بِرَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَامَ إِلَيَّ طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ يُهَرۡوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي.

Ka’b bin Malik berkata, “Aku masuk ke masjid, ternyata di sana ada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Lalu Thalhah bin ‘Ubaidullah berdiri menuju ke arahku dalam keadaan berlari kecil, hingga dia menyalamiku dan mengucapkan selamat kepadaku.”

٦٢٦٣ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَاصِمٍ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنۡ قَتَادَةَ قَالَ: قُلۡتُ لِأَنَسٍ: أَكَانَتِ الۡمُصَافَحَةُ فِي أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ؟ قَالَ: نَعَمۡ.

6263. ‘Amr bin ‘Ashim telah menceritakan kepada kami: Hammam menceritakan kepada kami dari Qatadah. Dia berkata:

Aku bertanya kepada Anas, “Apakah bersalaman itu dilakukan di antara para sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—?”

Anas menjawab, “Ya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4734

٥ - بَابٌ ﴿كَلَّا سَنَكۡتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الۡعَذَابِ مَدًّا﴾ [٧٩]
5. Bab Firman Allah: “Sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan Kami benar-benar akan memperpanjang azab untuknya” (QS Maryam: 79)


٤٧٣٤ - حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ: سَمِعۡتُ أَبَا الضُّحَى يُحَدِّثُ عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ خَبَّابٍ قَالَ: كُنۡتُ قَيۡنًا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ لِي دَيۡنٌ عَلَى الۡعَاصِي بۡنِ وَائِلٍ، قَالَ: فَأَتَاهُ يَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: لَا أُعۡطِيكَ حَتَّى تَكۡفُرَ بِمُحَمَّدٍ ﷺ، فَقَالَ: وَاللهِ لَا أَكۡفُرُ حَتَّى يُمِيتَكَ اللهُ ثُمَّ تُبۡعَثَ، قَالَ: فَذَرۡنِي حَتَّى أَمُوتَ ثُمَّ أُبۡعَثَ، فَسَوۡفَ أُوتَى مَالًا وَوَلَدًا فَأَقۡضِيكَ، فَنَزَلَتۡ هٰذِهِ الۡآيَةُ: ‏﴿أَفَرَأَيۡتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا﴾ [٧٨].

4734. Bisyr bin Khalid telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Sulaiman. Ia berkata: Aku mendengar Abu Adh-Dhuha menceritakan dari Masruq, dari Khabbab. Ia berkata: Aku dahulu adalah seorang pandai besi pada masa jahiliah dan aku memiliki piutang pada Al-‘Ashi bin Wa`il. Ia berkata: Maka Khabbab mendatanginya untuk menagihnya, lalu Al-‘Ashi berkata, “Aku tidak akan memberikannya kepadamu sampai engkau kafir kepada Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Maka Khabbab berkata, “Demi Allah, aku tidak akan kafir sampai Allah mematikanmu kemudian engkau dibangkitkan kembali.”

Al-‘Ashi berkata, “Maka biarkanlah aku sampai aku mati kemudian dibangkitkan, kelak pasti aku akan diberi harta dan anak lalu aku akan melunasi utangmu.”

Maka turunlah ayat ini: “Maka tahukah kamu orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak.’” (QS Maryam: 77).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4733

٤ - بَابٌ قَوۡلُهُ: ﴿أَطَّلَعَ الۡغَيۡبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنۡدَ الرَّحۡمٰنِ عَهۡدًا﴾ [٧٨]
4. Bab Firman-Nya: “Apakah ia telah melihat yang gaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Yang Maha Pengasih?” (QS Maryam: 78)


٤٧٣٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي الضُّحَى، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ خَبَّابٍ قَالَ: كُنۡتُ قَيۡنًا بِمَكَّةَ، فَعَمِلۡتُ لِلۡعَاصِي بۡنِ وَائِلِ السَّهۡمِيِّ سَيۡفًا، فَجِئۡتُ أَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: لَا أُعۡطِيكَ حَتَّى تَكۡفُرَ بِمُحَمَّدٍ، قُلۡتُ: لَا أَكۡفُرُ بِمُحَمَّدٍ ﷺ حَتَّى يُمِيتَكَ اللهُ ثُمَّ يُحۡيِيَكَ، قَالَ: إِذَا أَمَاتَنِي اللهُ ثُمَّ بَعَثَنِي وَلِي مَالٌ وَوَلَدٌ، فَأَنۡزَلَ اللهُ: ‏﴿أَفَرَأَيۡتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا * أَطَّلَعَ الۡغَيۡبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنۡدَ الرَّحۡمٰنِ عَهۡدًا﴾ [٧٧، ٧٨] قَالَ: مَوۡثِقًا. [طرفه في: ٢٠٩١].

لَمۡ يَقُلِ الۡأَشۡجَعِيُّ عَنۡ سُفۡيَانَ: سَيۡفًا، وَلَا مَوۡثِقًا.

4733. Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, dari Khabbab. Ia berkata:

Aku dahulu adalah seorang pandai besi di Makkah, lalu aku membuatkan sebuah pedang untuk Al-‘Ashi bin Wa`il As-Sahmi. Kemudian aku mendatangi dirinya untuk menagih hakku, lalu ia berkata, “Aku tidak akan memberikannya kepadamu sampai engkau kafir kepada Muhammad.”

Aku berkata, “Aku tidak akan kafir kepada Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sampai Allah mematikanmu kemudian menghidupkanmu kembali.”

Ia berkata, “Jika Allah telah mematikan diriku kemudian membangkitkanku dan aku memiliki harta serta anak (maka akan aku lunasi).”

Maka Allah menurunkan ayat: “Maka tahukah kamu orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak’. Apakah ia telah melihat yang gaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Yang Maha Pengasih?” (QS Maryam: 77-78).

Perawi berkata: (Makna perjanjian di sini adalah) ikatan janji yang kukuh.

Al-Asyja’i tidak menyebutkan kata “sebuah pedang” dan tidak pula “ikatan janji yang kukuh” dalam riwayatnya dari Sufyan.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4732

٣ - بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿أَفَرَأَيۡتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا﴾ [٧٧]
3. Bab Firman-Nya: “Maka tahukah kamu orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak’” (QS Maryam: 77)


٤٧٣٢ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي الضُّحَى، عَنۡ مَسۡرُوقٍ قَالَ: سَمِعۡتُ خَبَّابًا قَالَ: جِئۡتُ الۡعَاصِيَ بۡنَ وَائِلٍ السَّهۡمِيَّ أَتَقَاضَاهُ حَقًّا لِي عِنۡدَهُ، فَقَالَ: لَا أُعۡطِيكَ حَتَّى تَكۡفُرَ بِمُحَمَّدٍ ﷺ، فَقُلۡتُ: لَا، حَتَّى تَمُوتَ ثُمَّ تُبۡعَثَ، قَالَ: وَإِنِّي لَمَيِّتٌ ثُمَّ مَبۡعُوثٌ؟ قُلۡتُ: نَعَمۡ، قَالَ: إِنَّ لِي هُنَاكَ مَالًا وَوَلَدًا فَأَقۡضِيكَهُ، فَنَزَلَتۡ هٰذِهِ الۡآيَةُ: ‏﴿أَفَرَأَيۡتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا﴾ [٧٧]. رَوَاهُ الثَّوۡرِيُّ، وَشُعۡبَةُ، وَحَفۡصٌ، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ. [طرفه في: ٢٠٩١].

4732. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq. Ia berkata: Aku mendengar Khabbab berkata:

Aku mendatangi Al-‘Ashi bin Wa`il As-Sahmi untuk menagih utang milikku yang ada padanya, lalu ia berkata, “Aku tidak akan memberikannya kepadamu sampai engkau kafir kepada Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Aku berkata, “Tidak, sampai engkau mati kemudian dibangkitkan kembali.”

Ia berkata, “Apakah aku benar-benar akan mati kemudian dibangkitkan?”

Aku menjawab, “Ya.”

Ia berkata, “Sesungguhnya aku di sana kelak akan memiliki harta dan anak, lalu aku akan melunasi utangmu itu.”

Turunlah ayat: “Maka tahukah kamu orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak’” (QS Maryam: 77).

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ats-Tsauri, Syu’bah, Hafsh, Abu Mu’awiyah, dan Waki’, dari Al-A’masy.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2425

١٠ - بَابُ التَّقَاضِي
10. Bab Menagih Utang


٢٤٢٥ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ: حَدَّثَنَا وَهۡبُ بۡنُ جَرِيرِ بۡنِ حَازِمٍ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي الضُّحَى، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ خَبَّابٍ قَالَ: كُنۡتُ قَيۡنًا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ لِي عَلَى الۡعَاصِ بۡنِ وَائِلٍ دَرَاهِمُ، فَأَتَيۡتُهُ أَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ: لَا أَقۡضِيكَ حَتَّى تَكۡفُرَ بِمُحَمَّدٍ. فَقُلۡتُ: لَا وَاللهِ لَا أَكۡفُرُ بِمُحَمَّدٍ ﷺ حَتَّى يُمِيتَكَ اللهُ ثُمَّ يَبۡعَثَكَ. قَالَ: فَدَعۡنِي حَتَّى أَمُوتَ، ثُمَّ أُبۡعَثَ، فَأُوتَى مَالًا وَوَلَدًا ثُمَّ أَقۡضِيَكَ. فَنَزَلَتۡ: ‏﴿أَفَرَأَيۡتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا﴾ [مريم: ٧٧] الۡآيَةَ. [طرفه في: ٢٠٩١].

2425. Ishaq telah menceritakan kepada kami: Wahb bin Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, dari Khabbab. Ia berkata:

Aku dahulu adalah seorang pandai besi pada masa jahiliah dan aku memiliki piutang beberapa dirham pada Al-‘Ash bin Wa`il. Aku mendatanginya untuk menagih utang kepadanya, lalu ia berkata, “Aku tidak akan melunasi utangmu sampai kamu kafir kepada Muhammad.”

Aku berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan kafir kepada Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sampai Allah mematikanmu kemudian membangkitkanmu kembali.”

Al-‘Ash berkata, “Kalau begitu, biarkan aku sampai aku mati, lalu dibangkitkan kembali, kemudian aku akan diberi harta dan anak, baru setelah itu aku akan melunasi utangmu.”

Maka turunlah ayat: “Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak’” (QS Maryam: 77) sampai akhir ayat.

Al-Isti'ab - 1289. Thalhah bin ‘Ubaidullah

١٢٨٩ - [طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ التَّيۡمِيُّ]:
1289. Thalhah bin ‘Ubaidullah At-Taimi


طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللّٰهِ بۡنِ عُثۡمَانَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ سَعۡدِ بۡنِ تَيۡمِ بۡنِ مُرَّةَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ لُؤَيِّ بۡنِ غَالِبٍ الۡقُرَشِيُّ [التَّيۡمِيُّ]. وَأُمُّهُ الۡحَضۡرَمِيَّةُ، اسۡمُهَا الصَّعۡبَةُ بِنۡتُ عَبۡدِ اللّٰهِ بۡنِ عِمَادِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ رَبِيعَةَ بۡنِ أَكۡبَرَ [بۡنِ مَالِكِ] بۡنِ عُوَيۡفِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ بۡنِ إِيَادِ بۡنِ الصَّدِفِ بۡنِ حَضۡرَمَوۡتَ بۡنِ كِنۡدَةَ، يُعۡرَفُ أَبُوهَا عَبۡدُ اللّٰهِ بِالۡحَضۡرَمِيِّ. [وَيُقَالُ لَهَا بِنۡتُ الۡحَضۡرَمِيِّ]. يُكۡنَى [طَلۡحَةُ] أَبَا مُحَمَّدٍ، يُعۡرَفُ بِطَلۡحَةَ الۡفَيَّاضِ.

Thalhah bin ‘Ubaidullah bin ‘Utsman bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi. Ibunya adalah seorang wanita Hadramaut, namanya Ash-Sha’bah binti ‘Abdullah bin ‘Imad bin Malik bin Rabi’ah bin Akbar bin Malik bin ‘Uwaif bin Malik bin Al-Khazraj bin Iyad bin Ash-Shadif bin Hadhramaut bin Kindah. Ayahnya, ‘Abdullah, dikenal dengan julukan Al-Hadhrami. Beliau (ibu Thalhah) juga dipanggil Bintu Al-Hadhrami. Thalhah memiliki kunyah Abu Muhammad dan dikenal dengan julukan Thalhah Al-Fayyadh (yang dermawan).

وَذَكَرَ أَهۡلُ النَّسَبِ أَنَّ طَلۡحَةَ اشۡتَرَى مَالًا بِمَوۡضِعٍ يُقَالُ لَهُ بَيۡسَانُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (مَا أَنۡتَ إِلَّا فَيَّاضٌ)، فَسُمِّيَ طَلۡحَةَ الۡفَيَّاضَ.

Para ahli nasab menyebutkan bahwa Thalhah membeli harta (tanah/perkebunan) di suatu tempat bernama Baisan, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya, “Tidaklah engkau melainkan seorang yang sangat dermawan (fayyadh),” maka ia pun dijuluki Thalhah Al-Fayyadh.

وَلَمَّا قَدِمَ طَلۡحَةُ الۡمَدِينَةَ آخَى رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ حِينَ آخَى بَيۡنَ الۡمُهَاجِرِينَ وَالۡأَنۡصَارِ. قَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ، وَمُوسَى بۡنُ عُقۡبَةَ عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: لَمۡ يَشۡهَدۡ طَلۡحَةُ بَدۡرًا، وَقَدِمَ مِنَ الشَّامِ بَعۡدَ رُجُوعِ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ مِنۡ بَدۡرٍ.

Tatkala Thalhah tiba di Madinah, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan dirinya dengan Ka’b bin Malik saat beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Ansar.

Ibnu Ishaq dan Musa bin ‘Uqbah berkata dari Ibnu Syihab: Thalhah tidak mengikuti Perang Badr, karena beliau baru datang dari Syam setelah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kembali dari Badr.

وَكَلَّمَ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ فِي سَهۡمِهِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (لَكَ سَهۡمُكَ)، قَالَ: وَأَجۡرِي يَا رَسُولَ اللّٰهِ؟ قَالَ: (وَأَجۡرُكَ).

Lalu beliau berbicara kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengenai bagian (ganimah) miliknya. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Engkau mendapatkan bagianmu.”

Thalhah bertanya, “Dan pahalaku (apakah dapat juga) wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Begitu juga pahalamu.”

قَالَ الزُّبَيۡرُ بۡنُ بَكَّارٍ: وَكَانَ طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللّٰهِ بِالشَّامِ فِي تِجَارَةٍ حَيۡثُ كَانَتۡ وَقۡعَةُ بَدۡرٍ، وَكَانَ مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ الۡأَوَّلِينَ، فَضَرَبَ لَهُ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ بِسَهۡمِهِ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: وَأَجۡرِي يَا رَسُولَ اللّٰهِ؟ قَالَ: (وَأَجۡرُكَ).

Az-Zubair bin Bakkar berkata: Thalhah bin ‘Ubaidullah sedang berada di Syam untuk berdagang ketika terjadi Perang Badr. Beliau termasuk kaum Muhajirin generasi awal. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menetapkan bagian untuknya, dan ketika Thalhah tiba, ia bertanya, “Dan pahalaku wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Dan pahalamu.”

قَالَ الۡوَاقِدِيُّ: بَعَثَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ قَبۡلَ أَنۡ يَخۡرُجَ مِنَ الۡمَدِينَةِ إِلَى بَدۡرٍ طَلۡحَةَ بۡنُ عُبَيۡدِ اللّٰهِ، وَسَعِيدَ بۡنَ زَيۡدٍ إِلَى طَرِيقِ الشَّامِ يَتَجَسَّسَانِ الۡأَخۡبَارَ، ثُمَّ رَجَعَا إِلَى الۡمَدِينَةِ، فَقَدِمَاهَا يَوۡمَ وَقۡعَةِ بَدۡرٍ.

Al-Waqidi berkata: Sebelum Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar dari Madinah menuju Badr, beliau mengutus Thalhah bin ‘Ubaidullah dan Sa’id bin Zaid ke jalur Syam untuk memata-matai berita. Kemudian keduanya kembali ke Madinah dan tiba tepat pada hari terjadinya Perang Badr.

قَالَ أَبُو عُمَرَ: شَهِدَ أُحُدًا وَمَا بَعۡدَهَا مِنَ الۡمَشَاهِدِ. قَالَ الزُّبَيۡرُ وَغَيۡرُهُ: وَأَبۡلَى طَلۡحَةُ يَوۡمَ أُحُدٍ بَلَاءً حَسَنًا، وَوَقَى رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ بِنَفۡسِهِ، وَاتَّقَى النَّبۡلَ عَنۡهُ بِيَدِهِ حَتَّى شَلَّتۡ إِصۡبَعُهُ، وَضُرِبَ الضَّرۡبَةَ فِي رَأۡسِهِ، وَحَمَلَ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ عَلَى ظَهۡرِهِ حَتَّى اسۡتَقَلَّ عَلَى الصَّخۡرَةِ، وَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (الۡيَوۡمَ أَوۡجَبَ طَلۡحَةُ) [يَا أَبَا بَكۡرٍ]. وَيُرۡوَى أَنَّ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ نَهَضَ يَوۡمَ أُحُدٍ لِيَصۡعَدَ صَخۡرَةً، وَكَانَ ظَاهَرَ بَيۡنَ دِرۡعَيۡنِ فَلَمۡ يَسۡتَطِعِ النُّهُوضَ، فَاحۡتَمَلَهُ طَلۡحَةُ [بۡنُ عُبَيۡدِ اللّٰهِ] فَأَنۡهَضَهُ حَتَّى اسۡتَوَى عَلَيۡهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (أَوۡجَبَ طَلۡحَةُ).

Abu ‘Umar berkata: Beliau mengikuti Perang Uhud dan peperangan-peperangan setelahnya. Az-Zubair dan yang lainnya berkata: Thalhah menunjukkan perjuangan yang luar biasa pada hari Perang Uhud. Beliau melindungi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dengan dirinya sendiri, menangkis anak panah yang mengarah ke beliau dengan tangannya hingga jari-jemarinya lumpuh. Beliau juga terkena sabetan di kepalanya dan beliau menggendong Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di punggungnya hingga beliau bisa berdiri tegak di atas batu besar. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Hari ini Thalhah telah mewajibkan (janah bagi dirinya), wahai Abu Bakr.”

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hendak bangkit untuk menaiki batu besar pada hari Perang Uhud, sementara beliau memakai dua lapis baju besi sehingga tidak sanggup bangkit. Maka Thalhah bin ‘Ubaidullah memikul beliau dan membantunya bangkit hingga beliau tegak di atas batu itu, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Thalhah telah mewajibkan (janah bagi dirinya).”

أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، حَدَّثَنَا قَاسِمُ بۡنُ أَصۡبَغَ، حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ زُهَيۡرٍ، حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ مَعِينٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنۡ قَيۡسٍ، قَالَ: رَأَيۡتُ يَدَ طَلۡحَةَ شَلَّاءَ، وَقَى بِهَا رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ يَوۡمَ أُحُدٍ، ثُمَّ شَهِدَ طَلۡحَةُ الۡمَشَاهِدَ كُلَّهَا، وَشَهِدَ الۡحُدَيۡبِيَةَ وَهُوَ أَحَدُ الۡعَشَرَةِ الۡمَشۡهُودِ لَهُمۡ بِالۡجَنَّةِ وَأَحَدُ السِّتَّةِ الَّذِينَ جَعَلَ عُمَرُ فِيهِمُ الشُّورَى، وَأَخۡبَرَ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ تُوُفِّيَ وَهُوَ عَنۡهُمۡ رَاضٍ.

‘Abdul-Warits telah mengabarkan kepada kami: Qasim bin Ashbagh menceritakan kepada kami: Ahmad bin Zuhair menceritakan kepada kami: Yahya bin Ma’in menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Abu Khalid, dari Qais. Ia berkata: Aku melihat tangan Thalhah lumpuh; tangan yang ia gunakan untuk melindungi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari Perang Uhud. Kemudian Thalhah mengikuti seluruh peperangan, mengikuti Perjanjian Hudaibiah, dan beliau adalah salah satu dari sepuluh orang yang dipersaksikan masuk janah serta salah satu dari enam orang anggota dewan syura yang ditetapkan oleh ‘Umar, yang mana ‘Umar mengabarkan bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—wafat dalam keadaan rida kepada mereka.

وَرُوِيَ أَنَّ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ نَظَرَ إِلَيۡهِ، فَقَالَ: (مَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَنۡظُرَ إِلَى شَهِيدٍ يَمۡشِي عَلَى وَجۡهِ الۡأَرۡضِ فَلۡيَنۡظُرۡ إِلَى طَلۡحَةَ). ثُمَّ شَهِدَ طَلۡحَةُ [بۡنُ عُبَيۡدِ اللّٰهِ] يَوۡمَ الۡجَمَلِ مُحَارِبًا لِعَلِيٍّ، فَزَعَمَ بَعۡضُ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ أَنَّ عَلِيًّا دَعَاهُ فَذَكَّرَهُ أَشۡيَاءَ مِنۡ سَوَابِقِهِ وَفَضۡلِهِ، فَرَجَعَ طَلۡحَةُ عَنۡ قِتَالِهِ عَلَى نَحۡوِ مَا صَنَعَ الزُّبَيۡرُ، وَاعۡتَزَلَ فِي بَعۡضِ الصُّفُوفِ فَرُمِيَ بِسَهۡمٍ، فَقَطَعَ مِنۡ رِجۡلِهِ عِرۡقَ النَّسَا، فَلَمۡ يَزَلۡ دَمُهُ يَنۡزِفُ حَتَّى مَاتَ.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memandang kepadanya lalu bersabda, “Barang siapa yang ingin melihat seorang syahid yang berjalan di atas muka bumi, maka lihatlah Thalhah.”

Kemudian Thalhah bin ‘Ubaidullah hadir pada hari Perang Jamal dalam posisi menghadapi ‘Ali. Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa ‘Ali memanggilnya dan mengingatkannya tentang beberapa hal mengenai masa lalunya (dalam Islam) dan keutamaannya, maka Thalhah pun menarik diri dari peperangan tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Az-Zubair. Beliau memisahkan diri ke salah satu barisan lalu dipanah dengan sebatang anak panah yang memutuskan urat besar di kakinya, dan darahnya terus mengalir hingga beliau wafat.

وَيُقَالُ: إِنَّ السَّهۡمَ أَصَابَ ثُغۡرَةَ نَحۡرِهِ، وَإِنَّ الَّذِي رَمَاهُ مَرۡوَانُ بۡنُ الۡحَكَمِ بِسَهۡمٍ فَقَتَلَهُ. فَقَالَ: لَا أَطۡلُبُ بِثَأۡرِي بَعۡدَ الۡيَوۡمِ، وَذٰلِكَ أَنَّ طَلۡحَةَ - فِيمَا زَعَمُوا - كَانَ مِمَّنۡ حَاصَرَ عُثۡمَانَ وَاسۡتَبَدَّ عَلَيۡهِ. وَلَا يَخۡتَلِفُ الۡعُلَمَاءُ الثِّقَاتُ فِي أَنَّ مَرۡوَانَ قَتَلَ طَلۡحَةَ يَوۡمَئِذٍ، وَكَانَ فِي حَزۡبِهِ.

Dikatakan pula: Bahwa anak panah itu mengenai pangkal lehernya dan orang yang memanahnya adalah Marwan bin Al-Hakam dengan anak panah hingga membunuhnya. Marwan berkata, “Aku tidak akan lagi menuntut balas setelah hari ini.”

Hal itu karena Thalhah—menurut anggapan mereka—termasuk orang yang mengepung ‘Utsman dan bersikap keras kepadanya. Para ulama yang tepercaya tidak berbeda pendapat bahwa Marwanlah yang membunuh Thalhah pada hari itu, padahal ia berada dalam kelompoknya.

رَوَى عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ، عَنۡ حَمَّادِ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدِ، قَالَ: قَالَ طَلۡحَةُ يَوۡمَ الۡجَمَلِ: [الوافر]

نَدِمۡتُ نَدَامَةَ الۡكَسۡعِيِّ لَمَّا ... شَرَيۡتُ رِضَا بَنِي جَرۡمٍ بِرَغۡمِي

اللّٰهُمَّ خُذۡ مِنِّي لِعُثۡمَانَ حَتَّىٰ يَرۡضَىٰ

‘Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan dari Hammad bin Zaid, dari Yahya bin Sa’id. Ia berkata: Thalhah berkata pada hari Perang Jamal, “Aku menyesal dengan penyesalan Al-Kas’i tatkala aku menukar rida Bani Jarm dengan keterpaksaanku. Ya Allah, ambillah dariku (tebusan) untuk ‘Utsman hingga ia rida.”

وَمِنۡ حَدِيثِ صَالِحِ بۡنِ كَيۡسَانَ، وَعَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ نَوۡفَلِ بۡنِ مُسَاحِقٍ، وَالشَّعۡبِيِّ، وَابۡنِ أَبِي لَيۡلَىٰ بِمَعۡنًى وَاحِدٍ: أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُ قَالَ فِي خُطۡبَتِهِ حِينَ نُهُوضِهِ إِلَى الۡجَمَلِ: إِنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ الۡجِهَادَ، وَجَعَلَهُ نُصۡرَتَهُ وَنَاصِرَهُ، وَمَا صَلُحَتۡ دُنۡيَا وَلَا دِينٌ إِلَّا بِهِ، وَإِنِّي بُلِيتُ بِأَرۡبَعَةٍ: أَدۡهَى النَّاسِ، وَأَسۡخَاهُمۡ طَلۡحَةُ، وَأَشۡجَعُ النَّاسِ الزُّبَيۡرُ، وَأَطۡوَعُ النَّاسِ فِي النَّاسِ عَائِشَةُ، وَأَسۡرَعُ النَّاسِ إِلَى فِتۡنَةٍ يَعۡلَى بۡنُ أُمَيَّةَ، وَاللّٰهِ مَا أَنۡكَرُوا عَلَيَّ [شَيۡئًا] مُنۡكَرًا، وَلَا اسۡتَأۡثَرۡتُ بِمَالٍ، وَلَا مِلۡتُ بِهَوًى، وَإِنَّهُمۡ لَيَطۡلُبُونَ حَقًّا تَرَكُوهُ، وَدَمًا سَفَكُوهُ، وَلَقَدۡ وَلَّوۡهُ دُونِي، وَإِنۡ كُنۡتُ شَرِيكَهُمۡ فِي الۡإِنۡكَارِ لِمَا أَنۡكَرُوهُ، وَمَا تَبِعَةُ عُثۡمَانَ إِلَّا عِنۡدَهُمۡ، وَإِنَّهُمۡ لَهُمُ الۡفِئَةُ الۡبَاغِيَةُ، بَايَعُونِي وَنَكَثُوا بَيۡعَتِي، وَمَا اسۡتَأۡنَوۡا بِي، حَتَّىٰ يَعۡرِفُوا جَوۡرِي مِنۡ عَدۡلِي، وَإِنِي لَرَاضٍ بِحُجَّةِ اللّٰهِ عَلَيۡهِمۡ وَعِلۡمِهِ فِيهِمۡ، وَإِنِّي مَعَ هٰذَا لَدَاعِيهِمۡ وَمُعۡذِرٌ إِلَيۡهِمۡ، فَإِنۡ قَبِلُوا فَالتَّوۡبَةُ مَقۡبُولَةٌ، وَالۡحَقُّ أَوۡلَىٰ مَا انۡصَرَفَ إِلَيۡهِ، وَإِنۡ أَبَوۡا أَعۡطَيۡتُهُمۡ حَدَّ السَّيۡفِ، وَكَفَىٰ بِهِ شَافِيًا مِنۡ بَاطِلٍ وَنَاصِرًا، وَاللّٰهِ إِنَّ طَلۡحَةَ، وَالزُّبَيۡرَ، وَعَائِشَةَ لَيَعۡلَمُونَ أَنِّي عَلَى الۡحَقِّ وَأَنَّهُمۡ مُبۡطِلُونَ.

Dari hadis Shalih bin Kaisan, ‘Abdul Malik bin Naufal bin Musahiq, Asy-Sya’bi, dan Ibnu Abu Laila dengan makna yang sama: ‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—berkata dalam khotbahnya saat berangkat menuju Perang Jamal, “Sesungguhnya Allah—‘azza wa jalla—mewajibkan jihad dan menjadikannya sebagai penolong-Nya dan cara menolong agama-Nya. Tidak akan baik urusan dunia maupun agama melainkan dengannya. Sesungguhnya aku diuji dengan empat orang: orang yang paling cerdik dan paling dermawan yaitu Thalhah, orang yang paling berani yaitu Az-Zubair, orang yang paling ditaati oleh orang banyak yaitu ‘Aisyah, dan orang yang paling cepat menuju fitnah yaitu Ya’la bin Umayyah. Demi Allah, tidak ada kemungkaran sedikit pun yang mereka ingkari dariku, aku tidak mengambil harta untuk diriku sendiri, dan tidak pula condong pada hawa nafsu. Sesungguhnya mereka menuntut hak yang telah mereka tinggalkan dan darah yang telah mereka tumpahkan, padahal merekalah yang melakukannya tanpa aku. Meskipun aku sependapat dengan mereka dalam mengingkari apa yang mereka ingkari, namun tanggung jawab atas kematian ‘Utsman hanyalah ada pada mereka. Sesungguhnya merekalah golongan pembangkang. Mereka membaiatku lalu mengkhianati baiatku. Mereka tidak bersabar terhadapku hingga mereka bisa membedakan kezalimanku dari keadilanku. Aku rida dengan hujah Allah atas mereka dan pengetahuan-Nya tentang mereka. Di samping itu, aku tetap menyeru mereka dan memberi uzur kepada mereka. Jika mereka menerima, maka tobat diterima dan kebenaran adalah tujuan utama untuk kembali. Namun jika mereka menolak, aku akan memberikan mata pedang kepada mereka dan cukuplah pedang itu sebagai penyembuh dari kebatilan dan sebagai penolong. Demi Allah, sesungguhnya Thalhah, Az-Zubair, dan ‘Aisyah benar-benar mengetahui bahwa aku berada di atas kebenaran dan bahwasanya mereka berada di pihak yang salah.”

وَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ عَلِيٍّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ: وَاللّٰهِ إِنِّي لَأَرۡجُو أَنۡ أَكُونَ أَنَا وَعُثۡمَانُ وَطَلۡحَةُ، وَالزُّبَيۡرُ مِمَّنۡ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ: ﴿وَنَزَعۡنَا مَا فِی صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ إِخۡوَ ٰ⁠نًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَـٰبِلِینَ﴾[الحجر: ٤٧].

Diriwayatkan dari ‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—bahwasanya beliau berkata, “Demi Allah, aku benar-benar berharap agar aku, ‘Utsman, Thalhah, dan Az-Zubair termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Allah taala: ‘Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.’ (QS Al-Hijr: 47).”

وَرَوَى مُعَاذُ بۡنُ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنِ الۡجَارُودِ بۡنِ أَبِي سَبۡرَةَ قَالَ: نَظَرَ مَرۡوَانُ بۡنُ الۡحَكَمِ إِلَى طَلۡحَةَ بۡنُ عُبَيۡدِ اللّٰهِ يَوۡمَ الۡجَمَلِ فَقَالَ: لَا أَطۡلُبُ بِثَأۡرِي بَعۡدَ الۡيَوۡمِ، فَرَمَاهُ بِسَهۡمٍ فَقَتَلَهُ.

Mu’adz bin Hisyam meriwayatkan dari ayahnya, dari Qatadah, dari Al-Jarud bin Abu Sabrah. Ia berkata: Marwan bin Al-Hakam memandang kepada Thalhah bin ‘Ubaidullah pada hari Perang Jamal lalu berkata, “Aku tidak akan menuntut balasku setelah hari ini,” kemudian ia memanahnya dengan anak panah hingga membunuhnya.

وَرَوَى حُصَيۡنٌ عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ جَاوَانَ قَالَ: سَمِعۡتُ الۡأَحۡنَفَ يَقُولُ: لَمَّا الۡتَقَوۡا كَانَ أَوَّلُ قَتِيلٍ طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللّٰهِ.

Hushain meriwayatkan dari ‘Amr bin Jawan. Ia berkata: Aku mendengar Al-Ahnaf berkata, “Tatkala kedua pasukan bertemu, orang yang pertama kali gugur adalah Thalhah bin ‘Ubaidullah.”

وَرَوَى حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ قُرَّةَ بۡنِ خَالِدٍ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ، قَالَ: رُمِيَ طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللّٰهِ بِسَهۡمٍ فَأَصَابَ ثُغۡرَةَ نَحۡرِهِ. قَالَ: فَأَقَرَّ مَرۡوَانُ أَنَّهُ رَمَاهُ.

Hammad bin Zaid meriwayatkan dari Qurrah bin Khalid, dari Ibnu Sirin. Ia berkata: Thalhah bin ‘Ubaidullah dipanah dengan anak panah lalu mengenai pangkal lehernya. Ia berkata: Marwan mengakui bahwa dialah yang memanahnya.

وَرَوَى جُوَيۡرِيَةُ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ عَنۡ عَمِّهِ قَالَ: رَمَى مَرۡوَانُ طَلۡحَةَ بِسَهۡمٍ، ثُمَّ الۡتَفَتَ إِلَى أَبَانَ بۡنِ عُثۡمَانَ فَقَالَ: قَدۡ كَفَيۡنَاكَ بَعۡضَ قَتَلَةِ أَبِيكَ.

Juwairiyah meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dari pamannya. Ia berkata: Marwan memanah Thalhah dengan anak panah, kemudian ia menoleh kepada Aban bin ‘Utsman lalu berkata, “Kami telah mencukupkan bagimu sebagian dari para pembunuh ayahmu.”

وَذَكَرَ ابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا أُسَامَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ أَبِي خَالِدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا قَيۡسٌ، قَالَ: رَمَى مَرۡوَانُ بۡنُ الۡحَكَمِ يَوۡمَ الۡجَمَلِ طَلۡحَةَ بِسَهۡمٍ فِي رُكۡبَتِهِ. قَالَ: فَجَعَلَ الدَّمُ يَسِيلُ فَإِذَا أَمۡسَكُوهُ أَمۡسَكَ، وَإِذَا تَرَكُوهُ سَالَ. قَالَ فَقَالَ: دَعُوهُ. قَالَ: وَجَعَلُوا إِذَا أَمۡسَكُوا فَمَ الۡجُرۡحِ انۡتَفَخَتۡ رُكۡبَتُهُ، فَقَالَ: دَعُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ سَهۡمٌ أَرۡسَلَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ، فَمَاتَ فَدَفَنَّاهُ عَلَىٰ شَاطِىءِ الۡكَلَأِ. فَرَأَىٰ بَعۡضُ أَهۡلِهِ أَنَّهُ أَتَاهُ فِي الۡمَنَامِ، فَقَالَ: أَلَا تُرِيحُونِي مِنۡ هٰذَا الۡمَاءِ، فَإِنِّي قَدۡ غَرِقۡتُ - ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَقُولُهَا. قَالَ: فَنَبَشُوهُ فَإِذَا هُوَ [أَخۡضَرُ كَأَنَّهُ السِّلۡقُ]؛ فَنَزَعُوا عَنۡهُ الۡمَاءَ، ثُمَّ اسۡتَخۡرَجُوهُ، فَإِذَا مَا يَلِي الۡأَرۡضَ مِنۡ لِحۡيَتِهِ وَوَجۡهِهِ قَدۡ أَكَلَتۡهُ الۡأَرۡضُ، فَاشۡتَرَوۡا لَهُ دَارًا مِنۡ دُورِ آلِ أَبِي بَكۡرَةَ بِعَشَرَةِ آلَافِ دِرۡهَمٍ فَدَفَنُوهُ فِيهَا.

Ibnu Abu Syaibah menyebutkan: Usamah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Abu Khalid menceritakan kepada kami: Qais menceritakan kepada kami. Ia berkata:

Marwan bin Al-Hakam memanah Thalhah pada hari Perang Jamal dengan anak panah di lututnya. Darah pun mulai mengalir. Jika mereka menyumbatnya, darahnya berhenti, dan jika mereka membiarkannya, darahnya mengalir lagi. Thalhah berkata, “Biarkanlah!”

Jika mereka menyumbat lubang lukanya, lututnya membengkak, maka beliau berkata, “Biarkanlah, sesungguhnya ini hanyalah anak panah yang dikirim oleh Allah taala!”

Beliau pun wafat lalu kami makamkan di tepian padang rumput yang berair. Sebagian keluarganya bermimpi didatangi oleh beliau dan beliau berkata, “Tidakkah kalian mengistirahatkanku dari air ini? Sesungguhnya aku telah tenggelam.”—beliau mengucapkannya tiga kali.

Mereka pun menggali makamnya, ternyata jasad beliau berwarna hijau seperti sayur salq (bayam bit). Mereka mengeringkan airnya, lalu mengeluarkan jasadnya, ternyata bagian janggut dan wajahnya yang menempel ke tanah telah dimakan tanah. Maka mereka membelikan untuknya sebuah rumah dan pekarangan dari rumah-rumah keluarga Abu Bakrah seharga sepuluh ribu dirham, lalu memakamkannya di sana.

قَالَ: وَحَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنۡ قَيۡسٍ قَالَ: كَانَ مَرۡوَانُ مَعَ طَلۡحَةَ يَوۡمَ الۡجَمَلِ، فَلَمَّا اشۡتَبَكَتِ الۡحَرۡبُ قَالَ مَرۡوَانُ: لَا أَطۡلُبُ بِثَأۡرِي بَعۡدَ الۡيَوۡمِ. قَالَ: ثُمَّ رَمَاهُ بِسَهۡمٍ فَأَصَابَ رُكۡبَتَهُ، فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّىٰ مَاتَ، وَقَالَ: دَعُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ سَهۡمٌ أَرۡسَلَهُ اللّٰهُ.

Dia (Ibnu Abu Syaibah) berkata: Waki’ meneritakan kepada kami dari Isma’il bin Abu Khalid, dari Qais. Ia berkata:

Marwan bersama Thalhah pada hari Perang Jamal. Tatkala perang berkecamuk, Marwan berkata, “Aku tidak akan menuntut balasku setelah hari ini.”

Kemudian ia memanah Thalhah dengan anak panah lalu mengenai lututnya, maka darah tidak berhenti mengalir hingga beliau wafat. Beliau berkata, “Biarkanlah! Sesungguhnya ini hanyalah anak panah yang dikirim oleh Allah.”

حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، حَدَّثَنَا قَاسِمٌ، حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ زُهَيۡرٍ، حَدَّثَنَا عَبۡدُ السَّلَامِ بۡنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُسۡهِرٍ، حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنۡ قَيۡسِ بۡنِ أَبِي حَازِمٍ أَنَّ مَرۡوَانَ أَبۡصَرَ طَلۡحَةَ [بۡنَ عُبَيۡدِ اللّٰهِ] وَاقِفًا يَوۡمَ الۡجَمَلِ، فَقَالَ: لَا أَطۡلُبُ بِثَأۡرِي بَعۡدَ الۡيَوۡمِ، فَرَمَاهُ بِسَهۡمٍ فَأَصَابَ فَخِذَهُ فَشَكَّهَا بِسَرۡجِهِ، فَانۡتَزَعَ السَّهۡمَ عَنۡهُ، فَكَانُوا إِذَا أَمۡسَكُوا الۡجُرۡحَ انۡتَفَخَتِ الۡفَخِذُ، فَإِذَا أَرۡسَلُوهُ سَالَ. فَقَالَ طَلۡحَةُ: دَعُوهُ فَإِنَّهُ سَهۡمٌ مِنۡ سِهَامِ اللّٰهِ تَعَالَىٰ أَرۡسَلَهُ، فَمَاتَ وَدُفِنَ، فَرَآهُ مَوۡلًى لِي ثَلَاثَ لَيَالٍ فِي الۡمَنَامِ كَأَنَّهُ يَشۡكُو إِلَيۡهِ الۡبَرۡدَ، فَنَبَشَ عَنۡهُ، فَوَجَدُوا مَا يَلِي الۡأَرۡضَ مِنۡ جَسَدِهِ مُخۡضَرًّا وَقَدۡ تَحَاصَّ شَعۡرُهُ، فَاشۡتَرَوۡا لَهُ دَارًا مِنۡ دُورِ أَبِي بَكۡرَةَ بِعَشَرَةِ آلَافِ دِرۡهَمٍ، فَدَفَنُوهُ فِيهَا.

‘Abdul Warits telah menceritakan kepada kami: Qasim menceritakan kepada kami: Ahmad bin Zuhair menceritakan kepada kami: ‘Abdus Salam bin Shalih menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Mushir menceritakan kepada kami: Isma’il bin Abu Khalid menceritakan kepada kami dari Qais bin Abu Hazim: Marwan melihat Thalhah bin ‘Ubaidullah berdiri pada hari Perang Jamal, lalu ia berkata, “Aku tidak akan menuntut balasku setelah hari ini,” kemudian ia memanahnya dengan anak panah lalu mengenai pahanya hingga menancapkannya ke pelana kudanya. Thalhah pun mencabut anak panah itu darinya. Jika mereka menyumbat luka itu, pahanya membengkak, dan jika mereka melepaskannya, darahnya mengalir. Maka Thalhah berkata, “Biarkanlah! Sesungguhnya ini adalah anak panah di antara anak-anak panah Allah taala yang dikirim-Nya.”

Beliau pun wafat dan dimakamkan. Lalu seorang budakku melihat beliau selama tiga malam dalam mimpi seolah-olah beliau mengeluh kedinginan kepadanya. Mereka pun menggali makamnya dan mereka mendapati bagian tubuhnya yang menempel ke tanah berwarna kehijauan dan rambutnya telah rontok. Maka mereka membelikan untuknya sebuah rumah dan pekarangan dari rumah-rumah Abu Bakrah seharga sepuluh ribu dirham, lalu memakamkannya di sana.

وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، حَدَّثَنَا قَاسِمٌ، حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ زُهَيۡرٍ، حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا رَأَىٰ فِيمَا يَرَىٰ النَّائِمُ أَنَّ طَلۡحَةَ [بۡنَ عُبَيۡدِ اللّٰهِ] قَالَ: حَوِّلُونِي عَنۡ قَبۡرِي، فَقَدۡ آذَانِي الۡمَاءُ، ثُمَّ رَآهُ أَيۡضًا [حَتَّىٰ رَآهُ] ثَلَاثَ لَيَالٍ، فَأَتَى ابۡنَ عَبَّاسٍ فَأَخۡبَرَهُ فَنَظَرُوا فَإِذَا شِقُّهُ الَّذِي يَلِي الۡأَرۡضَ [قَدِ اخۡضَرَّ مِنۡ نَزِّ الۡمَاءِ]، فَحَوَّلُوهُ. قَالَ: فَكَأَنِّي أَنۡظُرُ إِلَى الۡكَافُورِ بَيۡنَ عَيۡنَيۡهِ لَمۡ يَتَغَيَّرۡ إِلَّا عَقِيصَتُهُ فَإِنَّهَا مَالَتۡ عَنۡ مَوۡضِعِهَا.

‘Abdul Warits telah menceritakan kepada kami: Qasim menceritakan kepada kami: Ahmad bin Zuhair menceritakan kepada kami: Musa bin Isma’il menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari ‘Ali bin Zaid, dari ayahnya: Seorang laki-laki melihat dalam tidurnya bahwa Thalhah bin ‘Ubaidullah berkata, “Pindahkanlah aku dari kuburku, karena air telah menyakitiku.”

Kemudian ia melihatnya lagi sampai tiga malam. Ia pun mendatangi Ibnu ‘Abbas dan mengabarkannya. Mereka pun melihat, ternyata bagian sisi tubuh beliau yang menempel ke tanah telah berwarna kehijauan karena rembesan air, maka mereka memindahkannya. Ia berkata, “Seolah-olah aku melihat bekas kapur barus di antara kedua matanya tidak berubah, kecuali kepangan rambutnya yang telah bergeser dari tempatnya.”

وَقُتِلَ طَلۡحَةُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُ وَهُوَ ابۡنُ سِتِّينَ سَنَةً. وَقِيلَ: ابۡنُ اثۡنَتَيۡنِ وَسِتِّينَ سَنَةً. وَقِيلَ: ابۡنُ أَرۡبَعٍ وَسِتِّينَ سَنَةً - يَوۡمَ الۡجَمَلِ.

Thalhah—radhiyallahu ‘anhu—gugur pada usia 60 tahun. Ada yang mengatakan 62 tahun dan ada pula yang mengatakan 64 tahun pada hari Perang Jamal.

وَكَانَتۡ وَقۡعَةُ الۡجَمَلِ لِعَشۡرٍ خَلَوۡنَ مِنۡ جُمَادَى الۡآخِرَةِ سَنَةَ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ. وَقِيلَ: كَانَتۡ سَنَةُ يَوۡمِ قُتِلَ خَمۡسًا وَسَبۡعِينَ، وَمَا أَظُنُّ ذٰلِكَ صَحِيحًا.

Peristiwa Perang Jamal terjadi pada sepuluh hari yang telah berlalu dari bulan Jumadilakhir tahun 36 H. Ada yang mengatakan usianya pada hari beliau gugur adalah 75 tahun, namun menurutku hal itu tidaklah benar.

وَكَانَ طَلۡحَةُ رَجُلًا آدَمَ حَسَنَ الۡوَجۡهِ كَثِيرَ الشَّعۡرِ لَيۡسَ بِالۡجَعۡدِ الۡقَطَطِ وَلَا بِالسَّبۡطِ، وَكَانَ لَا يُغَيِّرُ شَعۡرَهُ، وَسَمِعَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُ رَجُلًا يُنۡشِدُهُ: [الطويل]

فَتًى كَانَ يُدۡنِيهِ الۡغَنِيُّ مِنۡ صَدِيقِهِ إِذَا مَا هُوَ اسۡتَغۡنَىٰ وَيُبۡعِدُهُ الۡفَقۡرُ

فَقَالَ: ذٰلِكَ أَبُو مُحَمَّدٍ طَلۡحَةُ [بۡنُ عُبَيۡدِ اللّٰهِ].

Thalhah adalah seorang laki-laki yang berkulit cokelat (sawo matang), berwajah tampan, memiliki banyak rambut yang tidak terlalu keriting dan tidak pula terlalu lurus, dan beliau tidak mengubah warna rambutnya. ‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—mendengar seseorang melantunkan syair kepadanya, “Seorang pemuda yang kekayaan mendekatkannya kepada sahabatnya tatkala ia kaya dan (kedermawanannya) menjauhkan kemiskinan (dari sahabatnya).”

Maka ‘Ali berkata, “Itulah Abu Muhammad Thalhah bin ‘Ubaidullah.”

وَذَكَرَ الزُّبَيۡرُ أَنَّهُ سَمِعَ سُفۡيَانَ بۡنَ عُيَيۡنَةَ يَقُولُ؛ كَانَتۡ غَلَّةُ طَلۡحَةَ [بۡنِ عُبَيۡدِ اللّٰهِ] أَلۡفًا وَافِيًا كُلَّ يَوۡمٍ. قَالَ [الۡوَاقِدِيُّ] وَزۡنُهُ وَزۡنُ الدِّينَارِ، وَعَلَىٰ ذٰلِكَ وَزۡنُ دَرَاهِمِ فَارِسَ الَّتِي تُعۡرَفُ بِالۡبَغۡلِيَّةِ.

Az-Zubair menyebutkan bahwa ia mendengar Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Pendapatan hasil bumi Thalhah bin ‘Ubaidullah mencapai seribu wafi setiap harinya.”

Al-Waqidi berkata: Wafi itu beratnya setara dengan berat dinar dan itulah berat dirham Persia yang dikenal dengan sebutan Al-Baghliyyah.