Cari Blog Ini

Imam Muslim rahimahullah, Pemukanya Ahli Hadits

Beliau adalah Imam Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi. Al Qusyairi adalah nisbah kepada sebuah kabilah yang sangat dikenal di kalangan Arab yaitu Bani Qusyair. Adapun Naisaburi adalah nisbah kepada tempat kelahiran beliau, yaitu kota Naisabur di Persia. Adz-Dzahabi rahimahullah dalam Siyar A’lamun Nubala’ menukilkan sebuah pendapat bahwa beliau dilahirkan pada tahun 204 H di Naisabur. Sejak remaja, Imam Muslim mempunyai semangat yang sangat tinggi dalam menekuni ilmu agama. Terbukti sejak usia belasan tahun beliau telah mulai belajar ilmu hadits. Pertama kali mendengarkan dan meriwayatkan hadits pada usia delapan belas dari Yahya bin Yahya At-Taimi. Beliau menunaikan ibadah haji pada usia dua puluh tahun dan sekaligus digunakan momen tersebut untuk meriwayatkan hadits dari Al-Qa’nabi di Makkah.

Selanjutnya beliau melanglang buana ke berbagai negeri untuk meriwayatkan hadits dari para ulama. Yang demikian ini karena Allah telah memberikan kelebihan harta kepada beliau. Beliau termasuk ulama yang menghidupi diri dengan melakukan perdagangan. Komoditi yang beliau tekuni saat itu adalah berdagang pakaian, dan ternyata beliau bisa meraup keuntungan yang cukup banyak. Di samping itu, beliau juga mempunyai beberapa ladang yang digunakan sebagai tempat bercocok tanam. Sungguh Imam Muslim tidak ingin bergantung kepada orang lain dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Apalagi menghinakan diri dengan cara meminta-minta kepada orang lain. Beliau hendak merealisasikan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali lalu pergi ke gunung kemudian kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia lalu terkadang mereka memberi dan terkadang tidak.” [H.R. Al-Bukhari dari Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu]

Dikisahkan bahwa beliau memiliki harta dan budak yang banyak sehingga sering mendermakan hartanya kepada kaum muslimin. Beliau juga berpenampilan rapi, sebagaimana dikisahkan oleh Abu Abdirrahman As Sulami ia berkata, “Aku melihat seorang syaikh yang rupawan dan mengenakan surban yang bagus. Ia memakai surban yang dihamparkan pada kedua pundaknya. Kemudian ada yang mengatakan bahwa dia adalah Imam Muslim. Maka para tokoh penguasa saat itu segera beranjak seraya berkata, ‘Sungguh Amirul Mukminin telah menetapkan bahwa Muslim bin Al-Hajjaj sebagai pemimpinnya kaum muslimin.’ Mereka pun mempersilakan beliau untuk maju di masjid Jami’ lalu beliau bertakbir untuk menjadi imam shalat di hadapan kaum muslimin.”

Nikmat harta dan kekuatan hafalan ini dimanfaatkan dengan baik untuk melakukan rihlah dan menghafal hadits dari para ulama. Tercatat dalam sejarah bahwa di Khurasan beliau pernah meriwayatkan hadits dari Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahuyah dan selainnya. Adapun di Rayy, beliau pernah berguru kepada Muhammad bin Mihran, Abu Ghassan dan yang lainnya. Sementara Imam Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin Maslamah di Irak termasuk ulama yang pernah beliau riwayatkan haditsnya. Di Hijaz beliau pernah belajar kepada Said bin Manshur, Abu Mush’ab dan yang lainnya. Adapun di mesir beliau berguru kepada Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya. Namun guru beliau yang paling banyak diriwayatkan haditsnya adalah Abu Bakr bin Abi Syaibah, Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb, dan Muhammad Ibnul Mutsanna. Imam Al-Bukhari juga termasuk guru beliau dalam menimba ilmu hadits, namun banyak guru Imam Muslim yang juga merupakan guru Al-Bukhari. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan Imam Muslim tidak mencantumkan nama Al-Bukhari dalam sanad-sanad haditsnya. Namun sungguh pun demikian, Imam Al-Bukhari termasuk guru beliau yang paling menonjol. Bahkan Imam Muslim banyak mengikuti jejak gurunya tersebut dalam hal metode periwayatan hadits. Terutama ketika Al-Bukhari berkunjung ke Naisabur, maka beliau pun memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin untuk belajar darinya.

Imam Muslim merupakan salah seorang ulama yang beraqidah dan bermanhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal ini bisa diketahui melalui berbagai pernyataan beliau dalam menyikapi ahli bid’ah. Sebagai contoh, dalam mukadimah Shahih Muslim beliau menyatakan, “Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufik kepada Anda, wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui perbedaan antara riwayat hadits yang shahih dan lemah. Demikian halnya dengan para penukil riwayat-riwayat tersebut yang tsiqah (terpercaya) dan diragukan ke-tsiqah-annya. Tidak boleh meriwayatkan hadits-hadits tersebut kecuali seseorang yang diketahui keabsahan sumber riwayatnya dan perawi yang menukilkannya. Harus diwaspadai pula riwayat dari orang-orang yang dipertanyakan ke-tsiqah-annya dan para penentang kebenaran dari kalangan ahli bid’ah.”

Para ulama telah bersepakat tentang kemuliaan, kepemimpinan, tingginya martabat dan kecerdasannya dalam ilmu hadits. Hal ini bisa diindikasikan dari begitu banyaknya pujian para ulama dari masa ke masa terhadap beliau.

Adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lamin Nubala’, “Muslim adalah seorang imam besar, hafizh, hujjah, dan terpercaya. Muhammad bin Basysyar berkata, ‘Hafizh di dunia ini ada empat: Abu Zur’ah di Rayy, Muslim di Naisabur, Abdullah Ad-Darimi di Samarqand, dan Muhammad bin Ismail (Al-Bukhari) di Bukhara.’”

Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Farra mengatakan, “Muslim bin Al-Hajjaj merupakan salah satu ulamanya kaum muslimin dan lembahnya ilmu.”

Abu Ali Al-Hushain bin Ali An-Naisaburi pernah berkata, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih kuat hafalannya daripada Muslim.”

Ishaq bin Manshur berkata kepada Imam Muslim, “Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah masih menghidupkan Anda di tengah kaum muslimin.”

Abu Umar Ibnu Hamdan berkisah, “Aku pernah bertanya kepada Hafizh Ibnu ‘Aqdah tentang Al-Bukhari dan Muslim, siapa di antara keduanya yang lebih berilmu? Ia pun menjawab, ‘Muhammad (Al-Bukhari) adalah seorang yang alim dan Muslim juga seorang yang alim.’ Maka aku pun terus mengulangi pertanyaanku dan akhirnya ia mengatakan, ‘Wahai Abu Amr, terkadang Muhammad melakukan kesalahan terhadap penduduk Syam. Yang demikian itu karena ia mengambil kitab-kitab mereka lalu menelitinya. Ada kalanya ia menyebutkan salah seorang dari mereka dengan kuniah-nya namun di tempat lain menyebutkan namanya. Sehingga, akibatnya perawi itu disangka dua orang yang berbeda. Adapun Muslim sedikit melakukan kesalahan dalam hal ilal (penyakit) hadits. Karena ia senantiasa menulis musnad (bersambung dan bersandar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan tidak menulis hadits yang maqtu’ (disandarkan kepada tabi’in) dan mursal (seorang tabi’in langsung menyandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan shahabat perantara hadits tersebut).’”

Bukti terbesar yang menunjukkan konkretnya pujian tersebut adalah Shahih Muslim yang merupakan karya beliau yang sangat monumental. Tidak ada sebuah kitab hadits pun sebelum dan sesudahnya yang mempunyai banyak keistimewaan seperti Shahih Muslim. Di antara keistimewaan itu adalah susunan hadits-haditsnya yang sangat indah, perhatian beliau terhadap perbedaan redaksi lafazh hadits atau rantai periwayat hadits meskipun hanya satu huruf. Bahkan dalam hal ketelitian sanadnya, Shahih Muslim lebih unggul daripada Shahih Bukhari. Meskipun secara umum, hadits-hadits dalam Shahih Bukhari lebih shahih dan lebih banyak faedahnya. Oleh karenanya, para ulama senantiasa menganjurkan para penuntut ilmu hadits supaya mempelajari dan mengkaji Shahih Muslim.

Imam Muslim berkata, “Aku pernah memaparkan kitabku ini kepada Abu Zur’ah Ar-Razi. Maka setiap hadits yang beliau isyaratkan mempunyai penyakit aku tinggalkan. Namun setiap hadits yang beliau katakan shahih dan tidak berpenyakit, maka itulah yang aku riwayatkan.”

Mengenai kitab ini, Imam Muslim juga pernah menyatakan, “Tidaklah aku meletakkan sesuatu dalam kitab ini melainkan dengan suatu bukti. Dan ketika aku tidak meriwayatkan sesuatu, hal itu dengan suatu bukti pula.”

Makki bin Abdan berkisah bahwa ia pernah mendengar Muslim berkata, “Kalau seandainya ahli hadits menulis hadits selama dua ratus tahun, maka tempat berputar (inti dari hadits) mereka adalah kitab ini.”

Karya tulis beliau dalam bidang ilmu hadits sangat banyak. Di antaranya adalah Shahih Muslim yang merupakan karya besar beliau, Kitab Al Musnad Al-Kabir ala Asma Ar-Rjial, Kitab Al-Asma wal Kuna, Kitab Al-Jami’ Al-Kabir ‘ala Al-Abwab, Kitab Ilal, Kitab Auhamul Muhadditsin, Kitab At-Tamyiz, Kitab Al-Aqran, Kitab Sualat Ahmad bin Hanbal, Kitab Thabaqatu Tabi’in, kitab Al Mukhadhramin, Kitab Al-Afrad, dan yang lainnya. Imam Muslim wafat di Naisabur pada usia lima puluh lima tahun. Meskipun beliau meninggal, namun keteladanan dan jasa beliau terhadap kaum muslimin tetap ada hingga saat ini. Shahih Muslim bersama dengan Shahih Al-Bukhari menjadi dua kitab hadits yang paling shahih dan populer di kalangan kaum muslim. Semoga Allah membalas jasa-jasa beliau dengan balasan yang terbaik, Amin ya Rabbal ‘alamin. Allahu a’lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 14 vol.02 1435H/2014M, rubrik Biografi, pemateri Ustadz Abu Hafy Abdullah.