Cari Blog Ini

Makna dan Hakikat Kalimat "Laa Ilaaha Illallah"

Semua kaum muslimin tahu akan kalimat Laa ilaaha illallaah dan sudah mengucapkannya. Dari anak kecil sampai yang sudah berumur lanjut, setiap hari dan setiap shalat mereka mengucapkannya. Bahkan mereka melantunkannya dalam sebagian bait nyanyian mereka yang diiringi musik, -yang tidaklah layak kalam Allah dicampurkan dengan kebathilan- karena saking hafalnya dan sering diucapkan. Bahkan lebih dari itu sebagian mereka menjadikannya sebagai tradisi rutin dalam acara seremonial dengan mengucapkan kalimat tersebut, yang sekiranya kalau ditanya apa dalil perbuatan tersebut, serta merta mereka diam tidak bisa menjawab, padahal kita tahu tidaklah diterima suatu ibadah kecuali dengan ikhlash dan disertai dalil yang shahih.

Tapi ketika ditanya tentang makna dan hakikat kalimat tersebut, tidak jarang dari mereka yang tidak mengetahui akan makna dan hakikat kalimat tersebut. Mereka hanya sekedar mengucapkan dengan lisan-lisan mereka tanpa mengetahui atau mau tahu akan makna dan hakikat kalimat tersebut.

Padahal mengetahui makna dan hakikat kalimat Laa ilaaha illallaah itu merupakan keharusan bagi diterimanya syahadat/persaksian mereka terhadap kalimat tersebut. Ini adalah musibah yang besar yang menimpa kaum muslimin pada saat ini. Bahkan musibah itu semakin besar ketika mereka tidak menyadari akan ketidaktahuan mereka terhadap makna dan hakikat kalimat tersebut. Dan lebih besar lagi musibahnya bagi orang yang merasa benar dan tahu makna dan hakikat kalimat Laa ilaaha illallaah padahal mereka tidak mengetahuinya.

Tidak hanya dari kalangan awam bahkan dari kalangan intelektual yang sudah bergelar S1…dst tidak mengetahui akan makna dan hakikat kalimat Laa ilaaha illallaah tersebut. Sehingga tidak jarang di antara mereka masih berdo'a kepada mayat yang ada di dalam kubur, ngalap berkah di kuburan para wali (atau yang dianggap wali), bertawassul dan beristighatsah kepadanya atau datang ke dukun/paranormal dengan meyakini apa yang mereka katakan dan sebagainya dari praktek-praktek kesyirikan -na'udzubillahi min dzalik-. Innaalillaahi wainnaa ilaihi raaji'uun. Allaaahul musta'aan.

Keharusan Mempelajari Syari'at Allah


Saudaraku, kaum muslimin yang dimuliakan Allah! 

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kita untuk mengetahui dan mempelajari syari'at-Nya dengan benar sebelum kita berkata dan beramal. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu." (Muhammad:19).
Dari ayat ini para 'ulama menjelaskan bahwa berilmu tentang syari'at Allah itu didahulukan sebelum berkata dan beramal. Dan juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الۡعِلۡمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسۡلِمٍ
"Menuntut ilmu (syar'i) itu wajib bagi setiap muslim" (Lihat Shahihul Jami' No. 3808).

Dan ilmu yang paling wajib dan pertama kali harus dipelajari serta yang paling tinggi dan mulia kedudukannya adalah ilmu tauhid, yaitu mengesakan Allah dengan sesuatu yang merupakan hak-Nya berupa rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya dan asma washifat-Nya.

Dari sinilah para 'ulama membagi tauhid menjadi tiga macam. Pembagian itu sesuai dengan ketetapan Al-Kitab dan As-Sunnah dan juga berdasarkan realita atas orang-orang yang terbebani kewajiban syari'at. Macam-macam tauhid itu adalah:

Pertama: Tauhid Rububiyyah, yaitu mentauhidkan Allah subhanahu wa ta'ala dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya, mengimani bahwa sesungguhnya Dia adalah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Pengatur urusan hamba-Nya, Pengubah urusan-urusan hamba baik di dunia maupun di akhirat. Dia adalah Dzat yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah berfirman:
ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىۡءٍ
"Allah adalah Pencipta segala sesuatu." (Az-Zumar:62). 
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ۖ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ
"Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan." (Yunus:3).

Adapun tentang tauhid macam ini, maka orang-orang musyrik dan penyembah berhala mengakuinya. Akan tetapi pengakuan mereka terhadap tauhid ini belum menjadikan mereka tergolong muslim sebab mereka masih menyekutukan Allah dalam hal ibadah dan penyembahan mereka kepada patung-patung dan berhala-berhala serta tidak mengimani kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, di samping mereka juga menyembah Allah.

Bukti bahwasanya musyrikin jaman jahiliyyah mengimani rububiyyah Allah adalah firman Allah:
وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡعَلِيمُ 
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (Az-Zukhruf:9).

Juga firman-Nya:
قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَىۡءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ۝٨٨ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلۡ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ
Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari ('adzab-Nya), jika kalian mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?" (Al-Mu`minun:88-89).

Dan ayat-ayat lainnya yang sangat banyak yang menjelaskan bahwa musyrikin jaman jahiliyyah mengimani rububiyyah-Nya Allah subhanahu wa ta'ala. Karena itu, jika ada pada jaman ini orang yang meyakini bahwa ada sebagian makhluk yang ikut andil mengatur alam semesta ini seperti keyakinan adanya wali kutub, maka orang ini keadaannya lebih jelek dari musyrikin jaman jahiliyyah. Nas`alullaahas salaamah.

Kedua: Tauhid 'Ibadah atau Uluhiyyah, yaitu mentauhidkan Allah subhanahu wa ta'ala dalam perbuatan-perbuatan para hamba. Yakni kita hanya mempersembahkan ibadah kita kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Tauhid inilah yang diingkari kaum musyrikin jaman jahiliyyah, sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya:
وَعَجِبُوٓا۟ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٌ مِّنۡهُمۡ ۖ وَقَالَ ٱلۡكَـٰفِرُونَ هَـٰذَا سَـٰحِرٌ كَذَّابٌ ۝٤ أَجَعَلَ ٱلۡءَالِهَةَ إِلَـٰهًا وَ‌ٰحِدًا ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىۡءٌ عُجَابٌ
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (Shad: 4-5).

Ketiga: Tauhid Asma Wa Shifat, yaitu mengimani segala sesuatu yang datang dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan menetapkannya untuk Allah sesuai dengan yang dikehendakinya, tanpa tahrif (menyelewengkan lafazh ataupun maknanya), ta'thil (menolak sebagian atau seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah), takyif (menanyakan bagaimananya, yaitu menanyakan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah), dan tamtsil (menyerupakan sifat-sifat Allah dengan makhluk-Nya).

Allah berfirman:
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِىٓ أَسۡمَـٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُوا۟ يَعۡمَلُونَ
"Hanya milik Allah Asmaa`ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa`ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf:180).
لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura:11).
[Lihat Al'Aqidah Ath-Thahawiyyah dengan Tahqiq Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz].

Makna dan Hakikat Kalimat Laa ilaaha illallaah


Jenis tauhid yang kedua adalah tauhid uluhiyyah yang merupakan tafsiran dari kalimat Laa ilaaha illallaah. Kita semua kaum muslimin harus mengetahui makna yang benar dari kalimat "Laa ilaaha illallaah" yaitu "Laa ma'buuda bihaqqin illallaah" yang artinya "tidak ada tuhan yang berhaq disembah/diibadahi kecuali Allah". 

Kalimat "Laa ilaaha illallaah" terdiri dari dua bagian yaitu an-nafyu (peniadaan) dan al-itsbaat (penetapan) yang merupakan hakikat dari Laa ilaaha illallaah. Yakni dari kata "laa ilaaha" terdapat an-nafyu yaitu meniadakan segala sesuatu yang diibadahi selain Allah baik berupa malaikat, nabi, rasul, orang shalih, batu, pohon, orang yang sudah meninggal atau lainnya dari makhluk-makhluk Allah. 

Dan dari kata "illallaah" terdapat al-itsbaat yaitu kita menetapkan bahwasanya hanya Allahlah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi, yang seluruh ibadah kita tujukan kepada-Nya. Kita serahkan do'a, sembelihan, nadzar, tawakkal, qurban, shalat, shadaqah dan semua jenis ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala semata tanpa menyekutukan-Nya sedikitpun.

Keharusan Bara` (Berlepas Diri) dari Pelaku Kesyirikan/Kekufuran


Dan perlu diketahui bahwasanya termasuk dari kesempurnaan tafsiran kalimat Laa ilaaha illallaah dan pembuktiannya adalah berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah dan para pelakunya. Tidak bisa kita katakan: "kita ingkari saja perbuatannya tanpa mengingkari pelakunya". Ini adalah perkataan bathil. Tidaklah mungkin adanya suatu perbuatan kecuali diperbuat oleh seseorang. Bahkan di dalam Al-Qur`an didahulukan pengingkaran terhadap pelaku kekufuran baru setelah itu perbuatannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:
قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبۡرَ‌ٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُوا۟ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَ‌ٰٓؤُا۟ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ 
"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah,…" (Al-Mumtahanah:4).

Penafsiran yang salah terhadap Kalimat Laa ilaaha illallaah


Ada dua tafsiran/makna yang salah dan bathil terhadap kalimat Laa ilaaha illallaah yaitu:

1. "Laa khaaliqa illallaah" (tidak ada pencipta selain Allah) atau yang sejenisnya seperti tidak ada pemberi rizki kecuali Allah, tidak ada yang mengatur alam semesta kecuali Allah dan lainnya dari masalah rububiyyah-Nya Allah. 

Penafsiran ini salah karena bukan itu yang dimaksudkan dari kalimat Laa ilaaha illallaah. Bahkan kaum musyrikin jaman jahiliyyah meyakini akan hal-hal tersebut (yaitu tauhid rububiyyah) tapi Allah tetap mengatakan mereka sebagai orang-orang musyrik yang halal darah, harta dan kehormatan mereka dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetap memerangi mereka sampai mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah-ibadah mereka yaitu sampai kaum musyrikin tersebut hanya mempersembahkan ibadah mereka berupa do'a, nadzar, sembelihan, tawakkal, qurban dan semua ibadah hanya kepada Allah semata. 

2. Laa ma'buuda illallaah (tidak ada tuhan/sesembahan selain Allah). Ini adalah penafsiran yang bathil ditinjau dari dua sisi, yaitu yang pertama, kita penggal kalimat itu menjadi "tidak ada" dan "tuhan/sesembahan selain Allah", ini mengindikasikan bahwasanya di dunia ini tidak ada yang namanya sesembahan selain Allah, ini jelas mengingkari kenyataan yang ada. Kita menyaksikan dengan mata kepala kita akan adanya sesembahan selain Allah seperti batu, pohon, orang yang ada di dalam kubur dan sebagainya yang merupakan sesembahan yang bathil yang disembah selain Allah. Sehingga penafsiran ini adalah bathil. 

Sisi yang kedua adalah kalimat itu dipenggal menjadi "tidak ada tuhan" dan "selain Allah", ini berarti tidaklah tuhan-tuhan yang disembah tersebut kecuali dia itu Allah, na'udzubillah, berarti kita mengatakan bahwa batu, pohon, jin, orang-orang shalih dan yang lainnya yang disembah oleh orang musyrikin adalah Allah, tentu ini adalah kebathilan yang paling bathil dan kebodohan yang paling bodoh. Nas`alullaahas salaamah. [Lihat kitabnya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan tentang Makna dan Hakikat Laa ilaaha illallaah].

Syarat-syarat Laa ilaaha illallaah


Ketahuilah bahwasanya tidaklah yang diinginkan dari (pengucapan) kalimat Laa ilaaha illallaah adalah pengucapan dengan lisan semata bahkan wajib untuk mengetahui maknanya dan beramal dengan tuntutan kalimat tersebut dan juga harus menyempurnakan syarat-syaratnya, syarat-syaratnya itu ada tujuh, yaitu:

  1. Al-'ilmu, yaitu mengetahui maknanya dengan benar yang meniadakan kebodohan akan maknanya;
  2. Al-Yaqin, yaitu meyakini kebenaran kalimat tersebut yang meniadakan adanya keraguan;
  3. Al-Qabul, yaitu menerima dengan sepenuh hati konsekuensi/tuntutan kalimat tersebut yang meniadakan penolakan;
  4. Al-Inqiyad, yaitu tunduk dan patuh terhadap kalimat tersebut artinya kita melaksanakan dengan sebaik-baiknya tuntutan kalimat tersebut sehingga kita tidak meninggalkan kalimat tersebut;
  5. Al-Ikhlash, yaitu kita mengucapkan kalimat tersebut karena Allah Ta'ala bukan karena riya' atau lainnya, yang meniadakan adanya kesyirikan;
  6. Ash-Shidqu, yaitu jujur dalam mengucapkan kalimat tersebut yang akan meniadakan kedustaan;
  7. Al-Mahabbah, yaitu mencintai kalimat tersebut, mencintai Allah, Rasul-Nya dan apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, yang meniadakan kebencian;
  8. Ada yang menambahkan syarat yang kedelapan yaitu, mengkufuri semua yang diibadahi selain Allah.

Itulah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah. (lihat Mudzakkiratul Hadiitsin Nabawiy Fil 'Aqiidah wal Ittiba', karya Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi).

Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita muwahhiduun (orang-orang yang bertauhid) sehingga berjumpa dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin Ya Mujiibas Saa`iliin. Wallaahu a'laamu bish-shawab.

Sumber: Buletin Al-Wala` Wal Bara` Edisi ke-45 Tahun ke-1 / 24 Oktober 2003 M / 27 Sya'ban 1424 H.