Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1935

٢٨ – بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (إِذَا تَوَضَّأَ فَلۡيَسۡتَنۡشِقۡ بِمَنۡخِرِهِ الۡمَاءَ) وَلَمۡ يُمَيِّزۡ بَيۡنَ الصَّائِمِ وَغَيۡرِهِ

28. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila berwudu, hendaknya ia masukkan air ke hidungnya” dan beliau tidak membedakan antara orang yang berpuasa dan tidak

وَقَالَ الۡحَسَنُ: لَا بَأۡسَ بِالسَّعُوطِ لِلصَّائِمِ إِنۡ لَمۡ يَصِلۡ إِلَى حَلۡقِهِ، وَيَكۡتَحِلُ. وَقَالَ عَطَاءٌ: إِنۡ تَمَضۡمَضَ ثُمَّ أَفۡرَغَ مَا فِي فِيهِ مِنَ الۡمَاءِ لَا يَضِيرُهُ إِنۡ لَمۡ يَزۡدَرِدۡ رِيقَهُ وَمَاذَا بَقِيَ فِي فِيهِ، وَلَا يَمۡضَغُ الۡعِلۡكَ، فَإِنِ ازۡدَرَدَ رِيقَ الۡعِلۡكِ لَا أَقُولُ إِنَّهُ يُفۡطِرُ، وَلَكِنۡ يُنۡهَى عَنۡهُ، فَإِنِ اسۡتَنۡثَرَ فَدَخَلَ الۡمَاءُ حَلَقَهُ لَا بَأۡسَ، لِأَنَّهُ لَمۡ يَمۡلِكۡ.
Al-Hasan mengatakan: Tidak mengapa obat tetes hitung untuk orang yang berpuasa apabila obatnya tidak sampai ke kerongkongan dan tidak mengapa memakai celak. ‘Atha` mengatakan: Apabila berkumur-kumur kemudian ia mengeluarkan air yang di mulutnya, maka tidak mengapa apabila ia tidak menelan air liur dan apa yang sisa di dalam mulutnya. Tidak boleh mengunyah permen karet, namun apabila ia menelan air liur permen karet itu, aku tidak mengatakan ia batal puasanya. Akan tetapi ia dilarang dari perbuatan itu. Apabila ia sudah mengeluarkan air dari hidung, lalu air masuk ke kerongkongannya, maka tidak mengapa karena ia tidak kuasa.

٢٩ – بَابٌ إِذَا جَامَعَ فِي رَمَضَانَ

29. Bab apabila ada yang berjimak di siang hari bulan Ramadan

وَيُذۡكَرُ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَفَعَهُ: (مَنۡ أَفۡطَرَ يَوۡمًا مِنۡ رَمَضَانَ، مِنۡ غَيۡرِ عُذۡرٍ وَلَا مَرَضٍ، لَمۡ يَقۡضِهِ صِيَامُ الدَّهۡرِ وَإِنۡ صَامَهُ). وَبِهِ قَالَ ابۡنُ مَسۡعُودٍ. وَقَالَ سَعِيدُ بۡنُ الۡمُسَيَّبِ وَالشَّعۡبِيُّ وَابۡنُ جُبَيۡرٍ وَإِبۡرَاهِيمُ وَقَتَادَةُ وَحَمَّادٌ: يَقۡضِي يَوۡمًا مَكَانَهُ.
Disebutkan dari Abu Hurairah, beliau memarfu’kannya, “Siapa saja yang membatalkan puasa satu hari di bulan Ramadan tanpa uzur dan sakit, maka meski ia puasa setahun tidak dapat menggantikannya.” Ibnu Mas’ud juga berpendapat demikian. Sa’id bin Al-Musayyab, Asy-Sya’bi, Ibnu Jubair, Ibrahim, Qatadah, dan Hammad mengatakan: Dia harus mengganti satu hari.
١٩٣٥ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُنِيرٍ: سَمِعَ يَزِيدَ بۡنَ هَارُونَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، هُوَ ابۡنُ سَعِيدٍ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ الۡقَاسِمِ أَخۡبَرَهُ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ جَعۡفَرِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ بۡنِ الۡعَوَّامِ بۡنِ خُوَيۡلِدٍ، عَنۡ عَبَّادِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا تَقُولُ: إِنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: إِنَّهُ احۡتَرَقَ. قَالَ: (مَا لَكَ؟) قَالَ: أَصَبۡتُ أَهۡلِي فِي رَمَضَانَ. فَأُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِمِكۡتَلٍ يُدۡعَى الۡعَرَقَ، فَقَالَ: (أَيۡنَ الۡمُحۡتَرِقُ؟). قَالَ: أَنَا، قَالَ: (تَصَدَّقۡ بِهَٰذَا). [الحديث ١٩٣٥ – طرفه في: ٦٨٢٢].
1935. ‘Abdullah bin Munir telah menceritakan kepada kami: Beliau mendengar Yazid bin Harun: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami: Bahwa ‘Abdurrahman bin Al-Qasim mengabarkan kepadanya, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair bin Al-‘Awwam bin Khuwailid, dari ‘Abbad bin ‘Abdullah bin Az-Zubair mengabarkan kepadanya: Bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: Sesungguhnya seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan bahwa ia terbakar. Beliau bertanya, “Kenapa engkau?” Orang itu mengatakan: Aku menggauli istriku di siang hari bulan Ramadan. Lalu didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekeranjang besar kurma, lalu beliau bertanya, “Di mana orang yang terbakar tadi?” Orang itu menjawab, “Saya.” Beliau bersabda, “Bersedekahlah dengan ini.”