Pimpinan ULAMA HADIS abad ke 20

Nama ulama kita ini begitu akrab terdengar oleh kita semua. Apalagi tatkala membahas dan menelaah ilmu hadis. Betapa sering kitab-kitab karyanya dijadikan rujukan dalam menghukumi status hadis-hadis nabawi. Siapa lagi kalau bukan Syaikh Muhaddits Al Albani rahimahullah. Beliau adalah ahli hadis kontemporer yang sangat terkenal. Sungguh tidak berlebihan memang sanjungan tersebut jika kita melihat fakta di lapangan. Beliau banyak menghabiskan waktu untuk duduk meneliti derajat dan status hadis sebagai upaya memurnikan ajaran Islam.

NAMA DAN KELAHIRANNYA


Nama lengkapnya adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin bin Al Haj Nuh Al Albani dan kunyah beliau adalah Abu Abdirrahman. Sebutan Al Albani karena dinisbatkan kepada tempat asalnya yaitu Albania. Beliau dilahirkan pada tahun 1333 H atau bertepatan dengan 1914 M di Kota Ashqadar yang saat itu menjadi ibukota Albania. Beliau tumbuh dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Namun demikian, nuansa ilmu keagamaan sangat mewarnai kehidupan keluarga beliau. Bahkan ayah beliau, Syaikh Al Haj Nuh adalah rujukan orang-orang dalam urusan agama. Sang ayah juga aktif memberikan kajian dan bimbingan keagamaan kepada mereka.

Suatu saat sang ayah mengajak Albani kecil untuk berhijrah ke kota Damaskus di Siria. Hal ini dilakukan sejak Ahmet Zog naik tahta dan menjadi penguasa tertinggi di Albania. Kemudian mengubah sistem pemerintahan negara menjadi pemerintahan sekuler dan pola politik ala komunis. Sang ayah pun sangat mengkhawatirkan keselamatan agama dirinya dan keluarga. Akhirnya dengan terpaksa sang ayah dan keluarganya berimigrasi menuju ke Damaskus termasuk Syaikh Al Albani yang waktu itu masih berusia 9 tahun.

Di sanalah Syaikh tumbuh besar dan beradaptasi dengan komunitas dan lingkungan yang baru. Ayahnya memasukkan sang putra di Madrasah Al Is’af Al Khairi untuk jenjang ibtidiyah. Selanjutnya beliau belajar langsung dari para syaikh di sana termasuk menimba ilmu dari ayahnya sendiri. Di samping itu juga belajar fikih madzhab Hanbali dari Syaikh Sa’id Al Burhani dan tidak ketinggalan ilmu bahasa serta balaghah. Saat itu beliau juga semangat menghadiri pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh Syaikh Bahjah Al Baithar. Di sela-sela kesibukan menuntut ilmu, beliau belajar reparasi jam dari ayahnya. Bahkan beliau menjadi terkenal dengan keahliannya memperbaiki jam dan menjadi mata pencahariannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Syaikh Al Albani lebih mencintai dan condong kepada ilmu hadis. Padahal ayah beliau adalah salah satu pemuka madzhab Hanafi di Albania. Sehingga wajar jika sang ayah mengajarkan beliau supaya taklid terhadap madzhab Hanafi dalam ilmu fikih. Bahkan peringatan keras pun datang dari sang ayah supaya jangan menyibukkan diri dengan ilmu hadis. Namun semua itu tidak menyurutkan antusias beliau untuk tetap mempelajarinya.

Aktivitas pertama beliau dalam bidang hadis adalah menyalin dan memberikan catatan kaki terhadap kitab Al-Mughni ‘an hamlil Asfar fi takhrij ma fil Ihya’ minal Akhbar karya Al Hafizh Al Iraqi. Sejak saat itulah meluangkan waktu-waktunya untuk ilmu hadis sampai beliau terkenal dengan kesibukannya tersebut. Tidak heran jika perpustakaan Adz Dzahiriyah membuatkan sebuah ruangan khusus untuk beliau di perpustakaan tersebut. Supaya beliau lebih nyaman dan fokus dalam mengadakan penelitian ilmiyah. Di samping itu beliau juga diberi kepercayaan penuh untuk memegang kunci duplikat perpustakaan itu. Sehingga kapan saja bisa melakukan pembahasan dan penelitian ilmiah.

Adapun di antara karya tulis beliau yang pertama kali dihasilkan adalah Tahdzirus Sajid min Ittikhadzil Quburi Masajid. Demikian halnya takhrij beliau terhadap kitab Ar Raudhu An Nadhir fi Tartib wa Takhrij Mu’jami Ath-Thabarani Ash Shaghir. Selain kesibukannya di perpustakaan, beliau adalah pembawa bendera dakwah tauhid dan sunnah di Suriah saat itu. Sehingga cukup banyak para syaikh di Damaskus mengunjungi beliau dan terjadilah diskusi ilmiyah seputar tauhid, larangan fanatik terhadap madzhab dan bid’ah. Tantangan dan kecaman pun bermunculan dari para fanatikus madzhab, orang-orang sufi dan ahli bid’ah yang lainnya. Berbagai predikat burukpun dialamatkan kepada beliau seperti wahabi sesat dan selainnya.

KESABARAN BELIAU DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DAKWAH


Di awal tahun enam puluhan, Syaikh rahimahullah mendapatkan pengawasan cukup serius dari pemerintah Suriah. Hal ini tiada lain karena kegigihan beliau dalam mendakwahkan kebenaran dan membantah kesesatan. Sehingga musuh-musuh dakwah tauhid berusaha untuk menebar fitnah dan menjatuhkan beliau dengan berbagai cara. Akhirnya beliau sempat dipenjara selama satu bulan di Damaskus. Kemudian selang beberapa waktu dibebaskan kemudian kembali dimasukkan ke penjara dan beliau jalani selama delapan bulan. Meksipun demikian, di penjara tersebut beliau masih mampu melakukan penelitian ilmiah yaitu dengan mentahqiq (penelitian terhadap suatu kitab) Mukhtashar Shahih Muslim karya Al-Mundziri.

AMANAH DAN TUGAS ILMIAH YANG PERNAH DIEMBAN


Sungguh Syaikh Al Albani mempunyai kesungguhan dalam berkhidmah (memberi pelayanan) terhadap Islam baik dalam bentuk ceramah dan tulisan. Semenjak beliau di Suria beliau aktif berdakwah melalui ceramah maupun diskusi-diskusi ilmiah. Pernah pula dipilih oleh Fakultas Syariah Universitas Damaskus untuk mentakhrij (mengoreksi) hadis-hadis tentang jual beli secara khusus dalam ensiklopedi fikih Islam.

Pada tahun 1962, Syaikh Al-Albani mendapat kehormatan untuk menjadi dosen pengajar ilmu hadis di Universitas Islam. Saat itu Rektor universitas tersebut adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Di sana beliau menjadi guru besar ilmu hadis dan bahkan diangkat menjadi dewan tinggi universitas. Setelah itu beliau memutuskan untuk kembali ke negaranya dan menetap di sana. Beliau banyak menyampaikan ceramah di berbagai negeri dan memenuhi undangan kaum muslimin untuk berdakwah di sana. Namun banyak pula undangan yang tidak bisa beliau penuhi karena kesibukan ilmiah beliau yang sangat padat. Pada tahun 1419 H beliau mendapatkan penghargaan tertinggi dari Kerajaan Saudi Arabia. Yaitu penghargaan terhadap kesungguhan beliau yang mulia dalam bidang ilmu hadis.

KARYA ILMIAHNYA


Sumbangsih beliau dalam bentuk tulisan memang sangat banyak dan sangat monumental. Ratusan karya tulis beliau hasilkan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dan terutama ilmu hadis. Di antaranya adalah sebagai berikut
  1. Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah
  2. Silsilah Al Ahadits Adh Dhaifah
  3. Adabuz Zufaf minas Sunnah Al Muthahharah
  4. Ahkamu Janaiz wa bidauha
  5. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  6. Syarh wa Ta’liq Aqidah Thahawiyah
  7. Irwaul Ghalil min Takhriji Ahaditsi manaris Sabil
  8. Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah dan masih banyak yang lainnya.

PUJIAN PARA ULAMA


Syaikh bin Baz rahimahullah mengatakan, “Belum pernah aku melihat di bawah kolong langit saat ini orang yang berilmu tentang hadis seperti Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani.” Dalam kesempatan lain beliau menyatakan, “Menurut dugaan saya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani adalah Mujaddid abad ini. Allahu a’lam.” Syaikh Al Utsaimin berkata, “Yang aku tahu tentang Syaikh Al Albani dari sela-sela pertemuanku dengannya yang sebentar. Beliau adalah seorang yang sangat antusias dalam mengamalkan sunnah dan memerangi bid’ah. Sama saja apakah bab akidah atau amal. Adapun dari tulisan-tulisan beliau aku telah mengetahui hal tersebut. Beliau mempunyai ilmu yang luas tentang hadis.” Syaikh Muqbil berkata, “Yang aku yakini adalah bahwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani adalah salah seorang mujaddid.”

AKHIR HAYATNYA


Beliau wafat pada hari Jumat, malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Syaikh Al Albani dan membalas jasa-jasanya dengan balasan yang terbaik.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 32 vol. 3 1436 H/ 2015 M rubrik Ulama’. Pemateri: Ustadz Abu Hafiy Abdullah.