Ad-Dararil Mudhiyyah - Kewajiban Haji

كِتَابُ الۡحَجِّ

يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ مُسۡتَطِيعٍ فَوۡرًا. 
Haji wajib bagi setiap mukalaf yang mampu sesegera mungkin.
أَقُولُ: أَمَّا اعۡتِبَارُ الۡاسۡتِطَاعَةُ، فَلِنَصِّ الۡكِتَابِ الۡعَزِيزِ: ﴿وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ﴾ [آل عمران: ٩٧].
Adapun kesimpulan memiliki kemampuan adalah berdasar nas Alquran, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali ‘Imran: 97).
وَأَمَّا كَوۡنُهُ فَوۡرًا، فَلِحَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (تَعَجَّلُوا إِلَى الۡحَجِّ فَإِنَّ أَحَدَكُمۡ لَا يَدۡرِي مَا يَعۡرِضُ لَهُ)[1] أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ. وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ أَيۡضًا، وَابۡنُ مَاجَة مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، عَنِ الۡفَضۡلِ أَوۡ أَحَدِهِمَا عَنِ الۡآخَرِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ أَرَادَ الۡحَجَّ فَلۡيَعَتَجَّلۡ، فَإِنَّهُ قَدۡ يَمۡرَضُ الۡمَرِيضُ، وَتَضِلُّ الرَّاحِلَةُ، وَتَعۡرِضُ الۡحَاجَةُ)[2]، وَفِي إِسۡنَادِهِ إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ خَلِيفَةَ الۡعَبسيُّ أَبُو إِسۡرَائِيلَ وَهُوَ صَدُوقٌ ضَعِيفُ الۡحِفۡظِ. وَأَخۡرَجَ أَحۡمَدُ، وَأَبُو يَعۡلَى، وَسَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، وَالۡبَيۡهَقِيُّ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرۡفُوعًا: (مَنۡ لَمۡ يَحۡبِسۡهُ مَرَضٌ أَوۡ حَاجَةٌ ظَاهِرَةٌ أَوۡ مَشَقَّةٌ ظَاهِرَةٌ أَوۡ سُلۡطَانٌ جَائِرٌ فَلَمۡ يَحُجَّ فَلۡيَمُتۡ إِنۡ شَاءَ يَهُودِيًّا وَإِنۡ شَاءَ نَصۡرِانِيًّا)[3]. وَفِي إِسۡنَادِهِ لَيۡثُ بۡنُ أَبِي سُلَيۡمٍ وَشَرِيكٌ وَفِيهِمَا ضَعۡفٌ. وَأَخۡرَجَ التِّرۡمِذِيُّ مِنۡ حَدِيثِ عَلِيٍّ مَرۡفُوعًا: (مَنۡ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً يُبَلِّغُهُ إِلَى بَيۡتِ اللهِ وَلَمۡ يَحُجَّ، فَلَا عَلَيۡهِ أَنۡ يَمُوتَ يَهُودِيًّا أَوۡ نَصۡرَانِيًّا)[4] وَذٰلِكَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ فِي كِتَابِهِ: ﴿وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ﴾ [آل عمران: ٩٧] قَالَ التِّرۡمِذِيُّ: غَرِيبٌ، وَفِي إِسۡنَادِهِ مَقَالٌ، وَالۡحَارِثُ يُضَعَّفُ، وَهِلَالُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الرَّاوِيُّ لَهُ عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ مَجۡهُولٌ. وَقَالَ الۡعُقَيۡلِيُّ: لَا يُتَابَعُ عَلَيۡهِ. وَقَدۡ رُوِيَ مِنۡ طَرِيقٍ ثَالِثَةٍ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ عِنۡدَ ابۡنِ عَدِيٍّ وَنَحۡوُهُ. وَرَوَى سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ فِي سُنَنِهِ عَنِ الۡحَسَنِ قَالَ: (قَالَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ لَقَدۡ هَمَمۡتُ أَنۡ أَبۡعَثَ رِجَالًا إِلَى هَٰذِهِ الۡأَمۡصَارِ فَيَنۡظُرُوا كُلَّ مَنۡ كَانَ لَهُ جِدَةٌ وَلَمۡ يَحُجَّ فَيَضۡرِبُوا عَلَيۡهِمُ الۡجِزۡيَةَ مَا هُمۡ بِمُسۡلِمِينَ). وَأَخۡرَجَهُ أَيۡضًا الۡبَيۡهَقِيُّ، وَقَدۡ ذَهَبَ إِلَى الۡقَوۡلِ بِالۡفَوۡرِ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَحۡمَدُ وَبَعۡضُ أَصۡحَابِ الشَّافِعِيِّ، وَمِنۡ أَهۡلِ الۡبَيۡتِ زَيۡدُ بۡنُ عَلِيٍّ، وَالۡمُؤَيِّدُ بِاللهِ، وَالنَّاصِرُ. وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالۡأَوۡزَاعِيُّ وَأَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ، وَمِنۡ أَهۡلِ الۡبَيۡتِ الۡقَاسِمُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ وَأَبُو طَالِبٍ إِنَّهُ عَلَى التَّرَاخِي.
Adapun perihal sesegera mungkin adalah berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bersegeralah kalian melakukan haji, karena salah seorang kalian tidak tahu hal-hal yang muncul nantinya.” (HR. Ahmad). Dikeluarkan oleh Ahmad pula dan Ibnu Majah dari hadis Ibnu ‘Abbas, dari Al-Fadhl, atau sebaliknya, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang ingin menunaikan haji, maka hendaknya ia bersegera, karena bisa jadi seseorang sakit, hilang kendaraannya, dan muncul kebutuhan lain.” Di dalam sanadnya ada Isma’il bin Khalifah Al-‘Absi Abu Israil, beliau jujur tapi lemah hafalannya. Ahmad, Abu Ya’la, Sa’id bin Manshur, dan Al-Baihaqi mengeluarkan dari hadis Abu Umamah secara marfu’, “Siapa saja yang tidak terhalang oleh sakit, kebutuhan yang mendesak, kesulitan yang nyata, atau penguasa yang jahat, namun ia tidak haji, maka silakan ia mati jika ingin sebagai Yahudi dan jika ingin sebagai Nasrani.” Di dalam sanadnya ada Laits bin Abu Sulaim dan Syarik. Ada kelemahan pada diri keduanya.
At-Tirmidzi mengeluarkan riwayat  hadis ‘Ali secara marfuk, “Siapa saja yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat mengantarkannya haji sampai ke Baitullah namun ia tidak melakukannya, maka terserah dia mau mati sebagai Yahudi atau Nasrani.” Hal itu karena Allah taala berfirman dalam kitabNya, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali ‘Imran: 97). At-Tirmidzi mengatakan: Hadis ini garib dan dalam sanadnya ada pembicaraan. Al-Harits dinyatakan lemah. Hilal bin ‘Abdullah yang meriwayatkan dari Abu Ishaq adalah majhul. Al-‘Uqaili mengatakan: Hadisnya tidak bisa dikuatkan. Diriwayatkan dari jalan yang ketiga dari hadis Abu Hurairah riwayat Ibnu Abu ‘Adi dan semisalnya.
Sa’id bin Manshur meriwayatkan di dalam Sunannya dari Al-Hasan, beliau mengatakan: Umar bin Al-Khaththab berkata: Sungguh aku sangat ingin untuk mengutus beberapa orang ke daerah-daerah ini untuk memperhatikan siapa saja yang memiliki kecukupan namun tidak melakukan haji, lalu memberlakukan jizyah (upeti) atas mereka karena mereka itu bukanlah orang-orang muslim. Dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi. Yang berpendapat untuk bersegera haji adalah Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan sebagian pengikut Asy-Syafi’i. Di antara ahlul bait adalah Zaid bin ‘Ali, Al-Muayyid biillah, dan An-Nashir. Adapun Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, Abu Yusuf, dan Muhammad, serta dari ahlul bait: Al-Qasim bin Ibrahim dan Abu Thalib, berpendapat boleh ditunda. 

[1] أَخۡرَجَهُ أَحۡمَدُ فِي الۡمُسۡنَدِ ١/٣١٤. 
[2] أَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ فِي الۡمَنَاسِكِ بَابِ ٥، وَابۡنُ مَاجَهۡ فِي الۡمَنَاسِكِ بَابِ ١، وَأَحۡمَدُ فِي الۡمُسۡنَدِ ١/٢١٤، ٢٢٥، ٣٢٢، ٣٥٥. 
[3] أَخۡرَجَهُ الۡبَيۡهَقِيُّ فِي السُّنَنِ الۡكُبۡرَى ٤/٣٣٤، وَالزُّبَيۡدِيُّ فِي إِتِّحَافِ السَّادَةِ الۡمُتَّقِينَ ٤/٢٦٧.