Cari Blog Ini

PEMILIK MAHAR TERMULIA

Materi adalah sebuah perkara yang umum dijadikan tolok ukur bagi mayoritas manusia. Yang banyak dinilai pasti mencukupi, yang bagus dinilai pasti memuaskan. Sebaliknya, yang sedikit dinilai tidak mencukupi dan yang kurang bagus dinilai mengecewakan. Demikianlah pandangan mayoritas manusia hingga mereka kemudian terlupa bahwa kehidupan di dunia tidak terbatas pada sesuatu yang berkaitan dengan materi semata. Allahul Musta’an (Hanya Allah tempat kita berlindung).

Sebagai seorang muslim, kita haruslah meyakini bahwa ada sesuatu selain dari perkara materi di dunia ini. Yang tanpanya tidak akan berguna daya dan upaya manusia. Yang dengannya akan terwujudlah suatu perkara sekalipun di luar tolok ukur keumuman manusia. Sesuatu itu adalah keridaan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah mampu melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya sesuai dengan keadilan dan hikmah-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al Quran Surat Al A’raaf:54,
أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
“Bukankah hanya milik Allah sajalah hak menciptakan dan menetapkan (sesuatu), Maha Suci Allah Rabb semesta alam”.

Oleh karena itu, sepantasnya bagi seorang muslim ketika menjalani kehidupannya senantiasa berupaya mencari keridaan Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika keridaan Allah berhasil dia dapatkan, maka Allah akan menyelimuti kehidupannya dengan berkah-Nya. Kehidupannya akan dipenuhi oleh rahmah dari Allah subhanahu wa ta’ala, akan mudah segala urusannya, sekalipun secara materi kehidupannya sederhana saja.

Maka, pada kisah niswah kali ini kita akan melihat sosok seorang shahabiyah yang selalu mengutamakan keridaan Allah dan berkah-Nya dalam kehidupannya dari awal beliau mengenal Islam hingga akhir hayatnya. Dan kita akan melihat betapa kehidupannya dipenuhi oleh rahmah dan keberkahan baik bagi dirinya, suaminya maupun anak keturunannya. Dia lah Ummu Sulaim binti Milhan radhiyallahu ‘anha.

Namanya adalah Ar Rumaisha’ binti Milhan bin Khalid bin Zaid. Kunyahnya adalah Ummu Sulaim. Seorang wanita Anshar dari suku Khazraj. Dia seorang wanita yang cantik dan berakhlak mulia serta mempunyai kecerdasan yang lebih dibandingkan wanita keumumannya. Oleh karena itu, ketika cahaya Islam mulai memasuki bumi Madinah, maka Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha dengan kejernihan fitrahnya dan kebagusan akalnya, Allah takdirkan bergegas menyambut cahaya Islam tersebut.

Ia bersegera meninggalkan peribadatan kaumnya yang ketika itu masih menyembah berhala. Ia tetap kokoh dengan keislamannya sekalipun suaminya saat itu yaitu Malik bin Nadhr sangat marah dan menganggapnya telah berpindah agama. Akan tetapi dengan kemantapan iman yang telah bersemi di dada Ummu Sulaim menjawab, “Aku tidak berpindah agama akan tetapi aku telah beriman”.

Tidak cukup sampai di situ upaya Ummu Sulaim untuk beriman. Dia juga berupaya agar putranya yaitu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu turut pula beriman. Tidak jemu Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha melafalkan dan mengajarkan kepada putranya Anas tentang kalimat tauhid. Dia sadar benar bahwa mengikuti agama tauhid akan berbuah keridaan Allah, dan ketika keridaan Allah telah diperoleh maka kebahagiaan akan meyelimuti kehidupan seseorang di dunia maupun di akhirat. Tidak dipedulikannya amarah suaminya selama dalam rangka mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

Hingga akhirnya Malik bin Nadhr meninggalkan rumahnya dalam keadaan marah dan berjanji untuk tidak kembali selama Ummu Sulaim masih dalam keyakinannya. Tapi Allah takdirkan dia bertemu dengan musuhnya dan terbunuh karenanya. Ummu Sulaim yakin itulah yang terbaik baginya.

Sepeninggal suaminya, dia bisa lebih leluasa mengajari putranya Anas untuk beriman. Bahkan karena keinginannya yang besar agar putranya dapat menimba ilmu dan mendapatkan berkah dari guru terbaik umat Islam yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Sulaim mengantarkan Anas ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menyerahkan putranya tersebut untuk menjadi pelayan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Anas bin Malik menjadi pelayan Rasulullah selama 10 tahun lamanya.

Juga didasari dorongan agar putranya mendapatkan kebaikan dan keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, Ummu Sulaim meminta satu permintaan khusus kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau mendoakan kebaikan dan keberkahan khusus untuk putranya Anas. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Anas, “Ya Allah perbanyaklah anaknya, perbanyaklah hartanya, dan masukkanlah dia ke Jannah”. Maka, tidaklah doa tersebut kecuali terbukti. Anas bin Malik menjadi saksi akan terkabulnya doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut pada dua perkara yang pertama. Anas bin Malik menjadi orang yang terkaya dari golongan Anshar dan dia memiliki putra serta cucu yang banyak sekali. SubhanAllah.

Begitu pula sikap Ummu Sulaim ketika datang seseorang yang hendak melamarnya sepeninggal Malik bin Nadhr, tidak ada satupun yang menjadi harapannya kecuali bersuamikan seorang laki-laki yang beriman pula. Maka ketika Abu Thalhah, salah seorang laki-laki dari golongan Ansar yang kaya raya dan memiliki kepribadian yang baik hanya saja saat itu belum beriman, berniat melamarnya, Ummu Sulaim berucap, “Tidak sepantasnya laki-laki seperti engkau ditolak wahai Abu Thalhah. Akan tetapi engkau seorang kafir sedang aku adalah seorang wanita muslimah. Tidak halal bagiku untuk menikah denganmu. Jika engkau masuk Islam itulah maharku dan aku tidak akan meminta selain itu kepadamu.” Subhanallah.

Ketika harta menjadi ukuran kebahagiaan seseorang di mata mayoritas manusia, tapi tidak untuk Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha. Baginya keberkahan dan kebahagiaan hanya ada ketika seseorang mendapatkan keridaan Rabbnya. Maka akhirnya putra Ummu Sulaim yaitu Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu menikahkan ibunya dengan Abu Thalhah dengan mahar keislaman Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Tentang hal itu berkata putranya –Anas-, “Tidaklah aku mendengar ada seorang wanita yang lebih mulia maharnya daripada Ummu Sulaim yang maharnya adalah Al Islam”. Dan masya Allah… didasari oleh niatan yang ikhlas mencari keridaan dan keberkahan Allah maka didapati setelahnya, Abu Thalhah benar-benar terbukti menjadi seorang muslim yang baik keimanannya.

Tidak cukup sampai di situ, coba kita simak bagaimana sikap Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha ketika anak pertamanya dengan Abu Thalhah yang bernama Abu Umair tertimpa suatu penyakit. Betapa Abu Thalhah sangat menyayangi anak tersebut.

Hingga sampai suatu waktu ketika ajal menjemput Abu Umair, Abu Thalhah sedang bepergian. Maka Ummu Sulaim dengan kesabaran dan penuh keridaan meletakkan buah hatinya di tempat tidur layaknya seorang anak yang sedang terlelap pulas, tidak lupa Ummu Sulaim mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillahi wa Inna ilaihi raaji’un) dan berpesan kepada keluarganya, “Janganlah ada di antara kalian yang menceritakan kepada Abu Thalhah tentang kematian anaknya. Biar aku sendiri yang akan menjelaskan kepadanya.” Maka ketika Abu Thalhah telah datang, ia menanyakan keadaan anaknya kepada Ummu Sulaim. Ummu Sulaim menjawab, “Ia dalam keadaan yang lebih baik.” Abu Thalhah menyangka anak itu telah sehat, terlebih dia melihat anak itu bagaikan tertidur pulas tanpa penderitaan.

Untuk menyenangkan hati Abu Thalhah, Ummu Sulaim menyediakan makanan dan minuman serta berhias diri secantik mungkin hingga timbul hasrat suaminya untuk menghabiskan malam bersamanya dan beristirahat setelahnya. Subhanallah... betapa kita bisa melihat besarnya kesabaran dan keimanan Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Mayoritas ibu akan sangat berduka dengan kematian putranya dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menenangkan dirinya dan menyembunyikan kesedihannya. Tapi tidak bagi Ummu Sulaim… beliau berusaha mengatasi gejolak perasaannya, ia tidak ingin membuat suaminya berduka dan sulit menerima takdir Allah. Ia ingin dirinya dan suaminya dapat menghadapi musibah tersebut dengan penuh keridaan kepada Allah sehingga jika demikian seseorang dalam menerima takdir Allah, pastilah kebaikan dan keberkahan yang akan didapatkan setelahnya, Ummu Sulaim yakin akan hal tersebut.

Maka saat menjelang akhir malam setelah dirasa Abu Thalhah dalam keadaan tenang dan senang, barulah Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pandanganmu jika ada suatu kaum menitipkan barang kepada sebuah keluarga kemudian mereka hendak mengambil kembali barang titipan tersebut, apakah berhak bagi keluarga tersebut mencegahnya?” “Tidak”, jawab Abu Thalhah. (Dalam riwayat yang lain) Abu Thalhah berkata, “Tidak ada bagi keluarga tersebut hak terhadap barang titipan itu, sesungguhnya barang titipan adalah barang yang harus ditunaikan kepada pemiliknya.”

Ketika mendengar perkataan suaminya Ummu Sulaim berusaha untuk menjelaskan keadaan putra mereka yang sebenarnya, dia berkata, “Maka sesungguhnya putramu adalah barang titipan dari Allah ‘azza wa jalla dan sesungguhnya Allah telah mengambil titipan tersebut”. Maka seketika Abu Thalhah marah dan berkata, “Engkau biarkan diriku hingga menikmati semua ini baru engkau kabarkan kepadaku tentang keadaan anakku?” Ummu Sulaim berusaha menenangkan suaminya dan menjelaskan maksud ditundanya pemberitahuan tersebut, hingga akhirnya setelah dapat menenangkan dirinya Abu Thalhah beristirja’ dan tetap memuji Allah atas musibah yang menimpa keluarga mereka.

Keesokan harinya Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian yang menimpanya tadi malam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَارَكَ اللهُ لَكُمَا فِي لَيۡلَتِكُمَا
“Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian berdua di malam kalian tersebut”. Subhanallah… Dan sungguh terbukti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkabulkan. Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha dengan kehendak Allah mengandung setelah peristiwa itu, dan dia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Abdullah. Dengan izin Allah terlahir dari keturunan Abdullah bin Abi Thalhah 7 orang qura’ (penghafal dan ahli Al Quran). Subhanallah

Lihatlah… betapa amalan saleh yang dilakukan Ummu Sulaim dalam rangka mencari keridaan Allah subhanahu wa ta’ala berbuah keberkahan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan bukan hanya terbatas pada kehidupannya dan suaminya dengan digantinya seorang anak yang telah hilang. Akan tetapi lebih dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keberkahan pada anak turunnya (cucunya), hingga Allah takdirkan mereka menjadi hamba-hamba Allah yang mempunyai ketakwaan dan keistimewaan dalam ilmu agama. Subhanallah

Rasanya tak akan cukup lembaran demi lembaran terbentang menceritakan tentang keutamaan Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha. Beliau terkenal sebagai shahabiyah yang sering kali ikut dalam medan jihad, membantu para mujahid yang terluka di medan perang. Beliau bersama suaminya juga terkenal akan kedermawanan dan kepeduliannya kepada sesama muslim yang kekurangan. Pantaslah kiranya jika para ahlul hadis menempatkan hadis-hadis yang bercerita tentang beliau dalam bab khusus tentang keutamaan beliau, keimanannya, dan kesabarannya.

Cukup bagi kita sebuah hadis yang membuktikan perkara tersebut, yaitu hadis yang menyebutkan bahwa beliau adalah salah satu shahabiyah yang mendapatkan berita sebagai ahlul jannah (penduduk surga) selagi beliau masih hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bersabda yang artinya, “Aku memasuki jannah maka aku mendengar suara, lalu aku bertanya: Siapa ini?” Mereka menjawab, “Ar Rumaisha’ binti Milhan, ibu Anas bin Malik”. Subhanallah

Demikianlah sosok Ummu Sulaim Ar Rumaisha’ binti Milhan radhiyallahu ‘anha. Seorang wanita dengan keimanan yang kokoh, yang senantiasa berusaha mendahulukan keridaan dan keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap sisi kehidupannya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar meliputi kehidupannya dengan kecukupan serta keberkahan hingga anak turunnya. Semoga kisah tersebut cukup membuat kita tertarik untuk mencontoh apa yang beliau amalkan dan semoga karenanya Allah kemudian memberikan berkah-Nya kepada kita semua… amin. Baarakallahu fiikum.

Referensi:
  • Nisa’ Haular Rasul, Musthafa Asy Sya’labi, Mahmud Mahdi Al Istambuli
  • Shahihul Muslim
  • Musnad, Imam Ahmad
  • Ath Thabaqaatul Kubra


Sumber: Majalah Qudwah edisi 39 vol.04 2016 rubrik Niswah. Pemateri: Al Ustadzah Ummu Abdillah Shafa.