Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1821

١ – بَابُ جَزَاءِ الصَّيۡدِ وَنَحۡوِهِ، وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى:
1. Bab denda binatang buruan dan yang semacamnya serta firman Allah taala:

﴿لَا تَقْتُلُوا۟ ٱلصَّيْدَ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَن قَتَلَهُۥ مِنكُم مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ ٱلنَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِۦ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ هَدْيًۢا بَـٰلِغَ ٱلْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّـٰرَةٌ طَعَامُ مَسَـٰكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَ‌ٰلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِۦ ۗ عَفَا ٱللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنتَقِمُ ٱللَّهُ مِنْهُ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ ذُو ٱنتِقَامٍ ۞ أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ ٱلْبَحْرِ وَطَعَامُهُۥ مَتَـٰعًا لَّكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ ٱلْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِىٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾ [المائدة: ٩٥ – ٩٦].
“Janganlah kalian membunuh binatang buruan, ketika kalian sedang ihram. Barang siapa di antara kalian membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu (kurban) yang dibawa sampai ke Kakbah atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. Dihalalkan bagi kalian binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagi kalian, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atas kalian (menangkap) binatang buruan darat, selama kalian dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepadaNya-lah kalian akan dikumpulkan.” (QS. Al-Maidah: 95-96).

٢ - بَابٌ إِذَا صَادَ الۡحَلَالُ فَأَهۡدَى لِلۡمُحۡرِمِ الصَّيۡدَ أَكَلَهُ
2. Bab apabila orang yang tidak berihram berburu, lalu menghadiahkan kepada orang yang berihram, maka boleh memakannya

وَلَمۡ يَرَ ابۡنُ عَبَّاسٍ وَأَنَسٌ بِالذَّبۡحِ بَأۡسًا، وَهُوَ غَيۡرُ الصَّيۡدِ، نَحۡوُ الۡإِبِلِ وَالۡغَنَمِ وَالۡبَقَرِ وَالدَّجَاجِ وَالۡخَيۡلِ. يُقَالُ: عَدۡلُ ذٰلِكَ: مِثۡلُ، فَإِذَا كُسِرَتۡ عِدۡلٌ فَهُوَ زِنَةُ ذٰلِكَ. ﴿قِيَامًا﴾ [المائدة: ٩٧]: قِوَامًا. ﴿يَعۡدِلُونَ﴾ [الأنعام: ١]: يَجۡعَلُونَ عَدۡلًا.
Ibnu ‘Abbas dan Anas berpendapat tidak mengapa orang yang ihram menyembelih, yaitu selain binatang buruan. Semisal menyembelih unta, kambing, sapi, ayam, dan kuda. Ada yang mengatakan ‘adlu dzaalika adalah semisal. Apabila dikasrah, yaitu ‘idl, maka artinya seberat itu. “Qiyaaman” (QS. Al-Maidah: 97) artinya qiwaaman (tonggak). “Ya’diluun” (QS. Al-An’am: 1) artinya menjadikan tandingan.
١٨٢١ - حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ فَضَالَةَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ: انۡطَلَقَ أَبِي عَامَ الۡحُدَيۡبِيَةِ، فَأَحۡرَمَ أَصۡحَابُهُ وَلَمۡ يُحۡرِمۡ، وَحُدِّثَ النَّبِيُّ ﷺ أَنَّ عَدُوًّا يَغۡزُوهُ، فَانۡطَلَقَ النَّبِيُّ ﷺ، فَبَيۡنَمَا أَنَا مَعَ أَصۡحَابِهِ تَضَحَّكَ بَعۡضُهُمۡ إِلَى بَعۡضٍ،فَنَظَرۡتُ فَإِذَا أَنَا بِحِمَارِ وَحۡشٍ، فَحَمَلۡتُ عَلَيۡهِ فَطَعَنۡتُهُ فَأَثۡبَتُّهُ، وَاسۡتَعَنۡتُ بِهِمۡ فَأَبَوۡا أَنۡ يُعِينُونِي، فَأَكَلۡنَا مِنۡ لَحۡمِهِ، وَخَشِينَا أَنۡ نُقۡتَطَعَ، فَطَلَبۡتُ النَّبِيَّ ﷺ، أَرۡفَعُ فَرَسِي شَأۡوًا وَأَسِيرُ شَأۡوًا، فَلَقِيتُ رَجُلًا مِنۡ بَنِي غِفَارٍ فِي جَوۡفِ اللَّيۡلِ، قُلۡتُ: أَيۡنَ تَرَكۡتَ النَّبِيَّ ﷺ؟ قَالَ: تَرَكۡتُهُ بِتَعۡهِنَ، وَهُوَ قَائِلٌ السُّقۡيَا، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَهۡلَكَ يَقۡرَءُونَ عَلَيۡكَ السَّلَامَ وَرَحۡمَةَ اللهِ، إِنَّهُمۡ قَدۡ خَشُوا أَنۡ يُقۡتَطَعُوا دُونَكَ فَانۡتَظِرۡهُمۡ. قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَصَبۡتُ حِمَارَ وَحۡشٍ، وَعِنۡدِي مِنۡهُ فَاضِلَةٌ. فَقَالَ لِلۡقَوۡمِ: (كُلُوا). وَهُمۡ مُحۡرِمُونَ.
[الحديث ١٨٢١ – أطرافه في: ١٨٢٢، ١٨٢٣، ١٨٢٤، ٢٥٧٠، ٢٨٥٤، ٢٩١٤، ٤١٤٩، ٥٤٠٦، ٥٤٠٧، ٥٤٩٠، ٥٤٩١، ٥٤٩٢].
1821. Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami, dari Yahya, dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah, beliau berkata: Ayahku berangkat pergi pada tahun Hudaibiyah. Para sahabatnya beliau berihram, sementara beliau sendiri tidak berihram. Diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada musuh yang akan memerangi beliau, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertolak terlebih dahulu. Ketika aku bersama para sahabatnya, mereka saling tertawa. Aku melihat ternyata ada seekor zebra, lalu aku memburunya sehingga aku bisa menusuk dan menangkapnya. Aku meminta tolong kepada mereka namun mereka tidak mau menolongku. Kemudian kami makan dagingnya, lalu kami khawatir terpisah. Aku pun mencari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesekali aku memacu kencang kudaku dan terkadang berjalan biasa. Aku bertemu dengan seseorang dari bani Ghifar ketika larut malam. Aku bertanya: Di mana engkau meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: Aku meninggalkan beliau di Ta’hin, beliau hendak istirahat siang di Suqya. Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya sahabatmu menyampaikan salam dan rahmat Allah kepadamu. Sesungguhnya mereka khawatir akan terpisah darimu, oleh karena itu, tunggulah mereka. Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku menangkap seekor zebra dan aku membawa sisa dagingnya. Beliau bersabda kepada orang-orang, “Kalian makanlah.” Padahal mereka sedang ihram.