Ma Hiya As-Salafiyyah? - Keutamaan Mengikuti Salaf

Bab Kelima: Keutamaan Mengikuti Salaf dan Keutamaan Salafiyyah


Siapa saja yang menetapi salafiyyah yang sejati, yaitu: metode salaf dengan benar dan jujur, berarti dia telah mewujudkan kebaikan seluruhnya dan mewujudkan pahala yang agung, berlimpah, dan besar. Karena dia menetapi petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keutamaan dan kemuliaan itu adalah:

1. Bahwa orang yang menetapinya berarti ia mengikuti perintah ilahi. Ini termasuk sesuatu yang dicintai dan diridai oleh Allah.

Karena ibadah adalah nama yang mencakup setiap yang Allah cintai dan ridai yang lahir maupun yang batin.

Atas dasar ini, siapa saja yang menetapi perintah-perintah itu, yang telah kita lalui pada topik wajibnya mengikuti salaf saleh, maka ia orang yang mengikuti perintah Allah. Dan siapa saja yang mengikuti perintah Allah, Allah akan mencintainya, karena dia adalah orang yang menetapi syariat-Nya.

2. Bahwa orang yang menetapinya berarti mewujudkan hidayah dan keselamatan dari kesesatan dan penyimpangan.

Ini juga merupakan perkara yang jelas. Hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim di kitab Shahih[1] menunjukkan hal itu. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji wadak,
تَرَكۡتُ فِيكُمۡ مَا لَنۡ تَضِلُّوا إِنِ اعۡتَصَمۡتُمۡ بِهِ كِتَابَ اللهِ
“Aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah.”

Aku bertanya: Apa yang ada di dalam Kitab Allah? Perintah untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaf saleh. Sebagaimana dalil-dalil tentang hal itu sudah kita lewati bersama.

Di antaranya adalah firman Allah,
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّـهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ ٱللَّـهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّـهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Imam Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Ayat ini adalah pondasi agung untuk meneladani Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam dalam ucapan, perbuatan, dan perihal beliau. Dan untuk inilah, Allah subhanahu wa taala memerintahkan manusia untuk meneladani Nabi ‘alaihish shalatu was salam pada hari perang Ahzab dalam kesabaran beliau, mushabarah (kesabaran ketika menghadapi musuh), penjagaan perbatasan, kesungguh-sungguhan, dan penantian jalan keluar dari Allah.”[2] Selesai ucapan Ibnu Katsir.

3. Bahwa orang yang menetapinya, maka ia terjaga dan aman dari terjatuh ke dalam perselisihan dan perpecahan yang tercela.

Karena nas-nas Alquran dan Sunah -wahai saudara-saudara yang aku cintai- memerintahkan dan menganjurkan untuk berkumpul dan bersatu di atas kebenaran, dengan cara yang benar, dan untuk kebenaran. Allah subhanahu wa taala berfirman,
وَٱعۡتَصِمُوا۟ بِحَبۡلِ ٱللَّـهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Allah jalla wa ‘ala juga berfirman,
وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ۝٣١ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمۡ وَكَانُوا۟ شِيَعًا
“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.” (QS. Ar-Rum: 31-32).

Telah datang pula di dalam hadis Al-’Irbadh yang telah kita lewati, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَىٰ اخۡتِلَافًا كَثِيرًا
“Karena siapa saja di antara kalian yang masih hidup, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak.”

Seakan-akan para sahabat bertanya kepada beliau, “Bagaimana kiat menjaga diri wahai Rasulullah? Bagaimana cara menyelamatkan diri?”

Beliau menjawab mereka,
فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ
“Kalian wajib mengikuti sunahku dan sunah para khalifah ar-rasyidin al-mahdiyyin.”

Dan sebagiannya akan datang -dengan izin Allah- ketika membicarakan tentang tanda dan alamat dakwah yang diberkahi ini.

Al-Imam Al-Baghawi berkata di dalam kitab Syarhus Sunnah[3] ketika mengomentari hadis Al-’Irbadh radhiyallahu ‘anhu, “Di dalam hadis ini ada isyarat akan munculnya bidah-bidah dan hawa nafsu wallahualam. Nabi memerintahkan untuk mengikuti sunahnya dan sunah para khalifah ar-rasyidin. Dan beliau memerintahkan untuk berpegang teguh dengannya dengan sekuat tenaga serta menjauhi apa saja yang diada-adakan yang menyelisihinya.”


[2] Tafsir Al-Qur`an Al-‘Azhim (3/475). 
[3] (1/206).

Simak audio penjelasan Al-Ustadz Abu Yahya Muslim hafizhahullah di sini.