PENGHAFAL 24000 HADIS

Ulama kharismatik nan berwibawa ini sangat disegani para ulama di masanya bahkan penguasa selevel khalifah sekalipun begitu menghormatinya. Salah satu guru besar Imam Ahmad bin Hanbal ini terlahir di Irak pada tahun 118 H atau bertepatan dengan 736 M. Ulama dengan nama lengkap Yazid bin Harun bin Zadi Abu Khalid As Sulami rahimahullah ini selain memiliki kharisma yang tinggi juga dikenal sangat luas ilmunya dan begitu kokoh amalannya. Satu pendapat menyebutkan bahwa beliau berasal dari Bukhara yang merupakan sebuah kota yang terletak di bagian tengah Uzbekistan.

Bertemu dengan ulama besar di masanya merupakan nilai lebih yang beliau miliki untuk menjadi seorang ulama besar. Bayangkan saja dalam petualangannya menuntut ilmu, Yazid pernah meriwayatkan hadis dan berguru kepada ulama-ulama besar semisal Yahya bin Said Al Anshari, Sulaiman At Taimi, Ashim Al Ahwal, Humaid Ath Thawil, Syu’bah bin Al Hajjaj, Said bin Abi Arubah, Ismail bin Ayyas, dan sederet ulama besar lainnya. Para ahlu hadis dari berbagai tempat terutama dari Kota Baghdad berduyun-duyun datang demi menimba ilmu di hadapan Yazid bin Harun rahimahullah. Sampai-sampai tak kurang majelis beliau dihadiri oleh tujuh puluh ribu ahli hadis dan penuntut ilmu. Mereka rela berdesak-desakan untuk mencari sanad hadis yang ‘ali (tinggi) dari beliau.

KEKUATAN HAFALANNYA


Ulama salaf memang terkenal dengan hafalan mereka yang sangat kuat bagaikan gunung. Mereka adalah simbol kuatnya hafalan yang sangat sulit dicari tandigannya pada masa ini. Demikian halnya dengan Yazid bin Harun rahimahullah, hampir-hampir tidak ada ulama di masanya yang meragukan kekuatan hafalan beliau. Apalagi kesaksian ini muncul dari ulama-ulama besar, terpercaya baik yang berstatus sebagai guru atau murid beliau. Keteguhan hafalan Yazid memang telah dikenal oleh kaum muslimin di berbagai penjuru negeri. Maka tidak mengherankan jika beliau mampu menghafal dua puluh empat ribu hadis lengkap dengan sanadnya. Subhanallah, para pembaca yang budiman coba bandingkan dengan kondisi kita yang mungkin tidak ada satupun hadis yang kita hafal lengkap dengan sanadnya.

Simak penuturan salah satu muridnya yang bernama Ziyad bin Ayyub berikut ini, “Selama berguru kepadanya aku belum pernah melihat Yazid membawa kitab sama sekali dan tidaklah beliau menyampaikan hadis kepada kami melainkan murni dengan hafalannya.” Ahmad bin Hanbal rahimahullah pun menegaskan bahwa gurunya ini tidak sekadar hafal semata namun benar-benar mutqin (kokoh) hafalannya. Dalam kesempatan lain Ahmad sangat menyanjung gurunya ini dengan mengatakan, “Betapa fakih, cerdas, dan pintarnya beliau.” Begitu kuat hafalannya hingga sebagian ulama menyatakan bahwa Yazid lebih kuat hafalannya dari Waki’ bin Al Jarah.

KEKOKOHAN IBADAHNYA


Hafalan Yazid yang kuat juga selaras dengan ibadahnya yang sangat luar biasa. Salat malam adalah rutinitas sehari-hari yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan beliau. Yazid rahimahullah memang terbiasa melakukan salat sunah di malam dan siang hari tanpa kenal lelah. Pernah suatu ketika ‘Ashim bin Ali bersama dengan Yazid bin Harun pergi menemui Qais bin Ar Rabi’ untuk suatu keperluan. Maka ‘Ashim pun menyaksikan secara langsung bahwa Yazid terus mengerjakan salat malam hingga menjelang fajar dan melakukan salat Subuh tanpa berwudhu lagi. Demikianlah beliau dalam kondisi demikian selama empat puluh sekian tahun.

Gelar sebagai ahli ibadah pun sangat pantas disandangkan kepada beliau sebagaimana dinukilkan sebagian ulama. Di antara salat sunah di siang hari yang beliau tekuni sepanjang hayatnya adalah salat Dhuha. Beliau terbiasa melakukan salat Dhuha sebanyak enam belas rekaat. Demikianlah keseharian sang ulama, selalu beribadah tanpa mengenal waktu dan tempat sehingga beliau adalah ahli ibadah di malam dan siang hari.

SANG PENEGAK AMAR MAKRUF DAN NAHI MUNKAR


Berkisah tentang ulama yang satu ini memang tidak bisa terpisahkan dari sekian keistimewaan yang Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada beliau. Antusiasnya dalam menegakkan amar makruf dan nahi munkar tidak perlu disangsikan lagi. Inilah salah satu faktor yang membuat beliau sangat karismatik di hadapan ulama bahkan Khalifah Al Makmun dibuatnya takut dan tak berkutik di hadapannya. Padahal kita tahu siapa Khalifah Al Makmun, ia adalah salah satu diktator dinasti Abbasiyah yang terpengaruh ideologi mu’tazilah yang kental dengan teori filsafatnya.

Salah satu konsep akidah kelompok mu’tazilah yang sesat adalah meyakini bahwa Al Quran adalah makhluk bukan kalamullah (firman Allah subhanahu wa ta’ala). Al Makmun berambisi memaksakan akidah sesat ini kepada orang-orang di lingkungan kerajaan dan para ulama pun dipaksa secara fisik untuk menyatakan bahwa Al Quran adalah makhluk. Namun Yazid bin Harun tidak mengenal kompromi dengan keyakinan sesat tersebut. Beliau tidak gentar untuk menegaskan bahwa barang siapa menyatakan bahwa Al Quran adalah makhluk maka dia adalah seorang zindiq (pelaku dosa). Ternyata prinsip dan ketegasan ini diketahui pula oleh Khalifah Makmun sehingga sang khalifah tidak berani terang-terangan menyuarakan keyakinannya di hadapan Yazid.

Suatu saat Al Makmun mengatakan, “Kalau seandainya bukan karena kedudukan Yazid bin Harun niscaya aku perlihatkan keyakinanku bahwa Al Quran adalah makhluk.” Ada seseorang bertanya kepadanya, “Siapakah gerangan Yazid hingga engkau begitu takut kepadanya.” Al Makmun menimpali, “Celaka kamu, aku segan kepada Yazid bukan karena dia punya kekuasaan. Namun dia adalah panutan kaum muslimin, aku khawatir jika aku memperlihatkan keyakinanku kepadanya maka dia membantahku sehingga rakyatku bergejolak dan berselisih lalu muncul bencana di tengah mereka.”

Dikisahkan oleh Abdul Wahab bin Hakim bahwa ia berkata bahwa Al Makmun pernah menyatakan, “Selama Yazid belum meninggal, maka belum tiba saatnya aku memaksakan keyakinanku dengan membunuh manusia atau menyiksa mereka.” Yazid pun menyandang gelar sebagai pembela sunnah karena permusuhan beliau begitu keras terhadap sekte Jahmiyyah. Beliau sangat mengingkari orang-orang Jahmiyyah yang menakwilkan sifat istiwa’ (salah satu sifat Allah subhanahu wa ta’ala) dengan takwil (menyimpangkan makna) yang batil.

PRIBADI YANG DERMAWAN


Lebih dari itu semua, beliau juga seorang yang dermawan. Kisah ini menjadi bukti kedermawanan Yazid dan dukungan beliau terhadap para penuntut ilmu agama. Suatu ketika Yazid bin Harun rahimahullah bertemu dengan seorang lelaki yang sangat kuat hafalannya. Tatkala Yazid menyampaikan hadis-hadis kepada para muridnya, pemuda tersebut tidak mencatatnya sama sekali. Namun ternyata dia mampu menghafal dengan baik apa yang telah disampaikan oleh Yazid di majelis tersebut. Akhirnya salah seorang muridnya menyampaikan keistimewaan laki-laki tersebut kepada Yazid. Maka dipanggillah orang tersebut dan ternyata ia adalah Abu Mas’ud Ahmad bin Al-Furat Ar Razi. Yazid sangat memuliakan Abu Mas’ud yang selama ini telah dikenal sebagai seorang ahli hadis. Ia diajak ke rumahnya lantas diberi jamuan dan pada akhirnya Yazid memberikan uang senilai empat ratus dirham kepada Abu Mas’ud sebagai bekal perjalanan safarnya. Karena kebetulan saat itu ia hendak melakukan safar untuk belajar kepada Abdurrazzaq Ash Shan’ani rahimahullah. Demikianlah, Yazid bin Harun rahimahullah adalah seorang ulama yang memiliki sekian perangai dan budi pekerti yang mulia.

Pada akhir hayatnya Yazid bin Harun rahimahullah mengalami kebutaan pada kedua matanya sehingga tidak bisa melihat sebagaimana sebelumnya. Yazid meninggal di Wasith pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 206 H dalam usia 88 tahun. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati beliau dan memberi balasan yang terbaik, Allahu A’lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 50 vol.05 1438H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafy Abdullah.