Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4634

٧ - بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿وَلَا تَقۡرَبُوا الۡفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ﴾ [١٥١]
7. Bab firman Allah, “Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An’am: 151)

٤٦٣٤ - حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: (لَا أَحَدَ أَغۡيَرُ مِنَ اللهِ، وَلِذٰلِكَ حَرَّمَ الۡفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ، وَلَا شَيۡءَ أَحَبُّ إِلَيۡهِ الۡمَدۡحُ مِنَ اللهِ، وَلِذٰلِكَ مَدَحَ نَفۡسَهُ). قُلۡتُ: سَمِعۡتَهُ مِنۡ عَبۡدِ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قُلۡتُ: وَرَفَعَهُ؟ قَالَ: نَعَمۡ.
[الحديث ٣٦٣٤ – أطرافه في: ٤٦٣٧، ٥٢٢٠، ٧٤٠٣].
4634. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Amr, dari Abu Wa`il, dari ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Tidak ada satu pun yang lebih cemburu daripada Allah. Untuk itu, Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi. Dan tidak sesuatu pun yang lebih cinta kepada sanjungan daripada Allah. Untuk itu, Allah menyanjung Diri-Nya sendiri.” Aku (‘Amr) bertanya: Apakah engkau mendengar dari ‘Abdullah? Abu Wa`il menjawab: Iya. Aku bertanya: Apakah beliau mengangkat hadis itu sampai kepada Nabi? Abu Wa`il menjawab: Iya.

٨ – بَابٌ
8. Bab

﴿وَكِيلٌ﴾ [١٠٢] حَفِيظٌ وَمُحِيطٌ بِهِ.
﴿قُبُلًا﴾ [١١١] جَمۡعُ قَبِيلٍ، وَالۡمَعۡنَى: أَنَّهُ ضُرُوبٌ لِلۡعَذَابِ، كُلُّ ضَرۡبٍ مِنۡهَا قَبِيلٌ. ﴿زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ﴾ [١١٢] كُلُّ شَيۡءٍ حَسَّنۡتَهُ وَوَشَّيۡتَهُ، وَهُوَ بَاطِلٌ، فَهُوَ زُخۡرُفٌ. ﴿وَحَرۡثٌ حِجۡرٌ﴾ [١٣٨] حَرَامٌ، وَكُلُّ مَمۡنُوعٍ فَهۡوَ حِجۡرٌ مَحۡجُورٌ وَالۡحِجۡرُ كُلُّ بِنَاءٍ بَنَيۡتَهُ، وَيُقَالُ لِلۡأُنۡثَى مِنَ الخَيۡلِ: حِجۡرٌ وَيُقَالُ لِلۡعَقۡلِ: حِجۡرٌ وَحِجًى، وَأَمَّا الۡحِجۡرُ فَمَوۡضِعُ ثَمُودَ، وَمَا حَجَّرۡتَ عَلَيۡهِ مِنَ الۡأَرۡضِ فَهُوَ حِجۡرٌ، وَمِنۡهُ سُمِّيَ حَطِيمُ الۡبَيۡتِ حِجۡرًا، كَأَنَّهُ مُشۡتَقٌّ مِنۡ مَحۡطُومٍ، مِثۡلُ: قَتِيلٍ مِنۡ مَقۡتُولٍ، وَأَمَّا حَجۡرُ الۡيَمَامَةِ فَهۡوَ مَنۡزِلٌ.
Wakiil” (QS. Al-An’am: 102) artinya adalah Maha memelihara dan meliputinya.
Qubula” (QS. Al-An’am: 111) adalah bentuk jamak dari qabiil (kabilah) dan maknanya: bahwa siksa memiliki banyak jenis, setiap satu jenis siksaan ada satu kabilah. “Zukhrufal qaul” (QS. Al-An’am: 112), setiap sesuatu yang engkau buat bagus dan engkau buat indah padahal sesuatu itu batil, maka itulah zukhruf. “Wa hartsun hijrun” (Al-An’am: 138) artinya (tanaman) yang haram dan setiap yang dilarang maka itu adalah hijr mahjur. Hijr adalah setiap bangunan yang telah engkau bangun. Ada yang berkata bahwa kuda betina disebut hijr. Ada pula yang menyebut akal dengan hijr dan hija. Adapun al-hijr adalah tempat kaum Tsamud. Tanah yang engkau beri batu (sebagai tanda batas) juga disebut hijr. Dan darinya disebut hathim Kakbah dengan nama hijr, seakan-akan ia turunan dari kata mahthum (yang dihancurkan), seperti kata qatil dari maqtul (yang dibunuh). Adapun hajr Al-Yamamah adalah sebuah tempat persinggahan.

٩ – بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ﴾ [١٥٠]
9. Bab firman-Nya, “Bawalah kemari saksi-saksi kalian” (QS. Al-An’am: 150)

لُغَةُ أَهۡلِ الۡحِجَازِ: هَلُمَّ لِلۡوَاحِدِ وَالۡاثۡنَيۡنِ وَالۡجَمِيعِ.
Bahasa penduduk Hijaz: Kata halumma untuk satu, dua, dan jamak.