Shahih Muslim hadits nomor 2769

٩ - بَابُ حَدِيثِ تَوۡبَةِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ وَصَاحِبَيۡهِ
9. Bab hadis tobatnya Ka’b bin Malik dan dua sahabatnya

٥٣ - (٢٧٦٩) - حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، أَحۡمَدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ سَرۡحٍ مَوۡلَىٰ بَنِي أُمَيَّةَ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ. قَالَ: ثُمَّ غَزَا رَسُولُ اللهِ ﷺ غَزۡوَةَ تَبُوكَ. وَهُوَ يُرِيدُ الرُّومَ وَنَصَارَى الۡعَرَبِ بِالشَّامِ.
53. (2769). Abu Ath-Thahir Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sarh maula Bani Umayyah telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepadaku: Yunus mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke perang Tabuk. Beliau hendak menghadapi orang-orang Romawi dan Nasrani Arab di Syam.
قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: فَأَخۡبَرَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ كَعۡبٍ كَانَ قَائِدَ كَعۡبٍ، مِنۡ بَنِيهِ، حِينَ عَمِيَ. قَالَ: سَمِعۡتُ كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ حَدِيثَهُ حِينَ تَخَلَّفَ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزۡوَةِ تَبُوكَ. قَالَ كَعۡبُ بۡنُ مَالِكٍ: لَمۡ أَتَخَلَّفۡ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزۡوَةٍ غَزَاهَا قَطُّ، إِلَّا فِي غَزۡوَةِ تَبُوكَ. غَيۡرَ أَنِّي قَدۡ تَخَلَّفۡتُ فِي غَزۡوَةِ بَدۡرٍ. وَلَمۡ يُعَاتِبۡ أَحَدًا تَخَلَّفَ عَنۡهُ. إِنَّمَا خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالۡمُسۡلِمُونَ يُرِيدُونَ عِيرَ قُرَيۡشٍ، حَتَّىٰ جَمَعَ اللهُ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ عَدُوِّهِمۡ، عَلَىٰ غَيۡرِ مِيعَادٍ. وَلَقَدۡ شَهِدۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَيۡلَةَ الۡعَقَبَةِ. حِينَ تَوَاثَقۡنَا عَلَىٰ الۡإِسۡلَامِ. وَمَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهَا مَشۡهَدَ بَدۡرٍ. وَإِنۡ كَانَتۡ بَدۡرٌ أَذۡكَرَ فِي النَّاسِ مِنۡهَا. وَكَانَ مِنۡ خَبَرِي، حِينَ تَخَلَّفۡتُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فِي غَزۡوَةِ تَبُوكَ، أَنِّي لَمۡ أَكُنۡ قَطُّ أَقۡوَىٰ وَلَا أَيۡسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفۡتُ عَنۡهُ فِي تِلۡكَ الۡغَزۡوَةِ. وَاللهِ، مَا جَمَعۡتُ قَبۡلَهَا رَاحِلَتَيۡنِ قَطُّ، حَتَّىٰ جَمَعۡتُهُمَا فِي تِلۡكَ الۡغَزۡوَةِ. فَغَزَاهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، وَاسۡتَقۡبَلَ سَفَرًا بَعِيدًا وَمَفَازًا، وَاسۡتَقۡبَلَ عَدُوًّا كَثِيرًا. فَجَلَا لِلۡمُسۡلِمِينَ أَمۡرَهُمۡ لِيَتَأَهَّبُوا أُهۡبَةَ غَزۡوِهِمۡ. فَأَخۡبَرَهُمۡ بِوَجۡهِهِمُ الَّذِي يُرِيدُ. وَالۡمُسۡلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ كَثِيرٌ، وَلَا يَجۡمَعُهُمۡ كِتَابُ حَافِظٍ – يُرِيدُ، بِذٰلِكَ، الدِّيوَانَ -.
Ibnu Syihab berkata: ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’b bin Malik mengabarkan kepadaku bahwa ‘Abdullah bin Ka’b—beliau adalah seorang putra Ka’b yang menuntun Ka’b ketika mengalami kebutaan—berkata: Aku mendengar Ka’b bin Malik menceritakan kejadian yang dialaminya ketika ia tidak ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perang Tabuk. Ka’b bin Malik berkata: Aku sama sekali tidak pernah absen ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali perang Tabuk. Hanya saja aku juga tidak ikut perang Badr, namun beliau tidak mencela seorang pun yang absen darinya. Hal itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin tadinya keluar hanya bermaksud menghadang kafilah Quraisy. Namun, ternyata Allah mempertemukan mereka dengan musuh mereka tanpa direncanakan. Aku hadir bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam ‘Aqabah, ketika kami berjanji untuk membela Islam. Dan aku tidak suka untuk menukar malam itu dengan perang Badr, walaupun peristiwa perang Badr lebih dikenang orang-orang daripada malam ‘Aqabah. Dan termasuk berita tentangku—ketika aku tidak menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Tabuk—bahwa ketika itu aku tidaklah merasa lebih kuat dan lebih mudah daripada keadaanku ketika absen pada perang tersebut. Demi Allah, aku sebelumnya sama sekali tidak pernah menyiapkan dua tunggangan, sampai aku telah mengumpulkan dua tunggangan untuk perang itu. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat berperang di suatu hari yang sangat panas, menghadapi perjalanan yang panjang melalui daratan tandus, dan menghadapi musuh yang banyak. Sehingga beliau menampakkan perkara mereka kepada kaum muslimin secara terang-terangan agar mereka mempersiapkan persiapan perang mereka. Beliau juga mengabarkan kepada mereka arah tujuan yang beliau kehendaki. Kaum muslimin yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak dan tidak ada buku pencatat yang mengumpulkan nama-nama mereka. Yang Ka’b maksudkan adalah daftar pasukan.
قَالَ كَعۡبٌ: فَقَلَّ رَجُلٌ يُرِيدُ أَنۡ يَتَغَيَّبَ، يَظُنُّ أَنَّ ذٰلِكَ سَيَخۡفَىٰ لَهُ مَا لَمۡ يَنۡزِلۡ فِيهِ وَحۡيٌ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. وَغَزَا رَسُولُ اللهِ ﷺ تِلۡكَ الۡغَزۡوَةَ حِينَ طَابَتِ الثِّمَارُ وَالظِّلَالُ، فَأَنَا إِلَيۡهَا أَصۡعَرُ. فَتَجَهَّزَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالۡمُسۡلِمُونَ مَعَهُ. وَطَفِقۡتُ أَغۡدُو لِكَيۡ أَتَجَهَّزَ مَعَهُمۡ. فَأَرۡجِعُ وَلَمۡ أَقۡضِ شَيۡئًا. وَأَقُولُ فِي نَفۡسِي: أَنَا قَادِرٌ عَلَىٰ ذٰلِكَ، إِذَا أَرَدۡتُ. فَلَمۡ يَزَلۡ ذٰلِكَ يَتَمَادَىٰ بِي حَتَّىٰ اسۡتَمَرَّ بِالنَّاسِ الۡجِدُّ. فَأَصۡبَحَ رَسُولُ اللهِ ﷺ غَادِيًا وَالۡمُسۡلِمُونَ مَعَهُ. وَلَمۡ أَقۡضِ مِنۡ جَهَازِي شَيۡئًا. ثُمَّ غَدَوۡتُ فَرَجَعۡتُ وَلَمۡ أَقۡضِ شَيۡئًا. فَلَمۡ يَزَلۡ ذٰلِكَ يَتَمَادَىٰ بِي حَتَّى أَسۡرَعُوا وَتَفَارَطَ الۡغَزۡوُ. فَهَمَمۡتُ أَنۡ أَرۡتَحِلَ فَأُدۡرِكَهُمۡ، فَيَا لَيۡتَنِي فَعَلۡتُ. ثُمَّ لَمۡ يُقَدَّرۡ ذٰلِكَ لِي.
Ka’b mengatakan: Sedikit lelaki yang ingin untuk tidak mengikutinya karena menyangka bahwa hal itu akan tidak diketahui oleh Nabi selama wahyu dari Allah azza wajalla tidak turun tentangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat berperang Tabuk ketika buah-buahan dan tinggal di bawah naungan begitu menyenangkan dan diriku cenderung kepada hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin bersiap-siap. Aku beranjak berangkat untuk bersiap-siap bersama mereka, lalu aku pulang namun aku tidak melakukan apapun. Aku berkata di dalam hati: Aku mampu untuk itu ketika aku sudah berkeinginan. Hal itu terus senantiasa menunda-nundaku sampai orang-orang sudah selesai bersiap-siap. Lalu keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama kaum muslimin. Sementara aku belum menyiapkan persiapan apapun. Kemudian aku kembali dan aku tetap belum melakukan apa-apa. Hal itu terus senantiasa menunda-nundaku sampai mereka telah bergegas pergi dan perang itu terlewatkan. Lalu aku sangat ingin untuk berangkat dan menyusul mereka. Duhai, seandainya aku melakukannya. Kemudian perang itu telah tidak ditakdirkan untukku.
فَطَفِقۡتُ، إِذَا خَرَجۡتُ فِي النَّاسِ، بَعۡدَ خُرُوجِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، يَحۡزُنُنِي أَنِّي لَا أَرَىٰ لِي أُسۡوَةً. إِلَّا رَجُلًا مَغۡمُوصًا عَلَيۡهِ فِي النِّفَاقِ، أَوۡ رَجُلًا مِمَّنۡ عَذَرَ اللهُ مِنَ الضُّعَفَاءِ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّىٰ بَلَغَ تَبُوكًا فَقَالَ، وَهُوَ جَالِسٌ فِي الۡقَوۡمِ بِتَبُوكَ: (مَا فَعَلَ كَعۡبُ بۡنُ مَالِكٍ؟) قَالَ رَجُلٌ مِنۡ بَنِي سَلِمَةَ: يَا رَسُولَ اللهِ، حَبَسَهُ بُرۡدَاهُ وَالنَّظَرُ فِي عِطۡفَيۡهِ. فَقَالَ لَهُ مُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ: بِئۡسَ مَا قُلۡتَ، وَاللهِ، يَا رَسُولَ اللهِ مَا عَلِمۡنَا عَلَيۡهِ إِلَّا خَيۡرًا. فَسَكَتَ رَسُولُ اللهِ ﷺ. فَبَيۡنَمَا هُوَ عَلَىٰ ذٰلِكَ رَأَىٰ رَجُلًا مُبَيِّضًا يَزُولُ بِهِ السَّرَابُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُنۡ أَبَا خَيۡثَمَةَ)، فَإِذَا هُوَ أَبُو خَيۡثَمَةَ الۡأَنۡصَارِيُّ. وَهُوَ الَّذِي تَصَدَّقَ بِصَاعِ التَّمۡرِ حِينَ لَمَزَهُ الۡمُنَافِقُونَ.
Ketika aku keluar bertemu orang-orang setelah perginya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku mulai bersedih karena aku tidak melihat ada teladan untukku, kecuali orang yang tertuduh dengan kenifakan atau orang-orang lemah yang Allah beri uzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutku hingga beliau tiba di Tabuk. Beliau bersabda dalam keadaan duduk bersama orang-orang di Tabuk, “Apa yang dilakukan oleh Ka’b bin Malik?” Seseorang dari Bani Salimah berkata: Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua pakaiannya dan memandangi kedua sisinya. Mu’adz bin Jabal berkata kepadanya: Jelek sekali yang engkau katakan. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui padanya kecuali kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diam. Ketika sedang dalam keadaan itu, beliau melihat ada seseorang muncul dari kejauhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya Allah), jadikan orang itu Abu Khaitsamah.” Ternyata dia memang Abu Khaitsamah Al-Anshari. Dia adalah orang yang menyedekahkan satu sha’ kurma ketika diejek oleh orang-orang munafik.
فَقَالَ كَعۡبُ بۡنُ مَالِكٍ: فَلَمَّا بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَدۡ تَوَجَّهَ قَافِلًا مِنۡ تَبُوكَ، حَضَرَنِي بَثِّي، فَطَفِقۡتُ أَتَذَكَّرُ الۡكَذِبَ وَأَقُولُ: بِمَ أَخۡرُجُ مِنۡ سَخَطِهِ غَدًا؟ وَأَسۡتَعِينُ عَلَىٰ ذٰلِكَ كُلَّ ذِي رَأۡيٍ مِنۡ أَهۡلِي. فَلَمَّا قِيلَ لِي: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَدۡ أَظَلَّ قَادِمًا، زَاحَ عَنِّي الۡبَاطِلُ. حَتَّىٰ عَرَفۡتُ أَنِّي لَنۡ أَنۡجُوَ مِنۡهُ بِشَيۡءٍ أَبَدًا. فَأَجۡمَعۡتُ صِدۡقَهُ. وَصَبَّحَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَادِمًا. وَكَانَ، إِذَا قَدِمَ مِنۡ سَفَرٍ، بَدَأَ بِالۡمَسۡجِدِ فَرَكَعَ فِيهِ رَكۡعَتَيۡنِ، ثُمَّ جَلَسَ لِلنَّاسِ. فَلَمَّا فَعَلَ ذٰلِكَ جَاءَهُ الۡمُخَلَّفُونَ. فَطَفِقُوا يَعۡتَذِرُونَ إِلَيۡهِ. وَيَحۡلِفُونَ لَهُ، وَكَانُوا بِضۡعَةً وَثَمَانِينَ رَجُلًا. فَقَبِلَ مِنۡهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَانِيَتَهُمۡ. وَبَايَعَهُمۡ وَاسۡتَغۡفَرَ لَهُمۡ، وَوَكَلَ سَرَائِرَهُمۡ إِلَىٰ اللهِ، حَتَّىٰ جِئۡتُ.
Ka’b bin Malik mengatakan: Ketika sampai kepadaku kabar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menuju kembali pulang dari Tabuk, kesedihan menghampiriku. Aku berkeinginan untuk menyebutkan suatu kedustaan dan aku bertanya-tanya: Dengan apa aku bisa keluar dari kemarahan beliau besok? Aku meminta pertolongan setiap keluargaku yang punya pendapat akan hal itu. Ketika ada yang berkata kepadaku: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah hampir tiba; maka alasan-alasan batil itu hilang dariku, hingga aku tahu bahwa aku tidak akan bisa lolos dari beliau dengan alasan apapun selama-lamanya. Aku pun mengumpulkan kejujuran. Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba. Beliau apabila tiba dari safar, beliau mulai ke masjid dan salat dua rakaat. Kemudian beliau duduk di hadapan orang-orang. Ketika beliau melakukan itu, orang-orang yang tidak mengikuti perang mendatangi beliau. Mereka mulai meminta uzur dan bersumpah kepada beliau. Mereka berjumlah delapan puluh sekian laki-laki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima lahiriah mereka, mengambil baiat mereka, dan memintakan ampunan untuk mereka. Dan beliau menyerahkan rahasia hati mereka kepada Allah, hingga aku datang.
فَلَمَّا سَلَّمۡتُ، تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ الۡمُغۡضَبِ ثُمَّ قَالَ: (تَعَالَ)، فَجِئۡتُ أَمۡشِي حَتَّىٰ جَلَسۡتُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ. فَقَالَ لِي: (مَا خَلَّفَكَ؟ أَلَمۡ تَكُنۡ قَدِ ابۡتَعۡتَ ظَهۡرَكَ؟) قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي، وَاللهِ، لَوۡ جَلَسۡتُ عِنۡدَ غَيۡرِكَ مِنۡ أَهۡلِ الدُّنۡيَا، لَرَأَيۡتُ أَنِّي سَأَخۡرُجُ مِنۡ سَخَطِهِ بِعُذۡرٍ، وَلَقَدۡ أُعۡطِيتُ جَدَلًا. وَلَٰكِنِّي، وَاللهِ، لَقَدۡ عَلِمۡتُ، لَئِنۡ حَدَّثۡتُكَ الۡيَوۡمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرۡضَىٰ بِهِ عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنۡ يُسۡخِطَكَ عَلَيَّ. وَلَئِنۡ حَدَّثۡتُكَ حَدِيثَ صِدۡقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إِنِّي لَأَرۡجُو فِيهِ عُقۡبَىٰ اللهِ، وَاللهِ، مَا كَانَ لِي عُذۡرٌ. وَاللهِ، مَا كُنۡتُ قَطُّ أَقۡوَىٰ وَلَا أَيۡسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفۡتُ عَنۡكَ. قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَّا هَٰذَا، فَقَدۡ صَدَقَ. فَقُمۡ حَتَّىٰ يَقۡضِيَ اللهُ فِيكَ) فَقُمۡتُ. وَثَارَ رِجَالٌ مِنۡ بَنِي سَلِمَةَ فَاتَّبَعُونِي. فَقَالُوا لِي: وَاللهِ مَا عَلِمۡنَاكَ أَذۡنَبۡتَ ذَنۡبًا قَبۡلَ هَٰذَا. لَقَدۡ عَجَزۡتَ فِي أَنۡ لَا تَكُونَ اعۡتَذَرۡتَ إِلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ، بِمَا اعۡتَذَرَ بِهِ إِلَيۡهِ الۡمُخَلَّفُونَ. فَقَدۡ كَانَ كَافِيَكَ ذَنۡبَكَ، اسۡتِغۡفَارُ رَسُولِ اللهِ ﷺ لَكَ.
Ketika aku mengucapkan salam, beliau tersenyum dengan senyum tawar, kemudian beliau bersabda, “Kemari.” Aku datang berjalan hingga aku duduk di hadapan beliau. Beliau bertanya kepadaku, “Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah engkau sudah membeli tunggangan?” Ka’b mengatakan: Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku—demi Allah—kalau aku duduk di sisi orang selainmu dari kalangan para pencari dunia, tentu aku berpandangan untuk keluar dari kemarahannya dengan mengajukan suatu uzur dan sungguh aku telah diberikan kemampuan berdebat. Akan tetapi aku—demi Allah—sungguh mengetahui bahwa jika pada hari ini aku menceritakan kepadamu ucapan dusta sehingga engkau rida kepadaku, tentu nanti pasti Allah akan membuatmu marah terhadapku. Dan jika aku menceritakan engkau dengan ucapan yang jujur sehingga engkau membenciku, maka sesungguhnya aku mengharap balasan Allah. Demi Allah, aku tidak punya uzur apapun. Demi Allah, aku tidak pernah sama sekali lebih kuat dan lebih mudah daripada ketika aku tidak menyertaimu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun orang ini, maka ia telah jujur. Bangkitlah, sampai Allah memberi keputusan tentangmu.” Aku pun beranjak bangkit. Beberapa lelaki dari Bani Salimah juga bangkit dan mengikutiku. Mereka berkata kepadaku: Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau berbuat suatu dosa sebelum ini. Engkau tidak mampu untuk mengutarakan uzur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan uzur yang telah disampaikan orang-orang yang tidak ikut perang. Padahal, permintaan ampun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untukmu akan mencukupimu terhadap dosamu.
قَالَ: فَوَاللّٰهِ، مَا زَالُوا يُؤَنِّبُونَنِي حَتَّىٰ أَرَدۡتُ أَنۡ أَرۡجِعَ إِلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَأُكَذِّبَ نَفۡسِي. قَالَ: ثُمَّ قُلۡتُ لَهُمۡ: هَلۡ لَقِيَ هَٰذَا مَعِي مِنۡ أَحَدٍ؟ قَالُوا: نَعَمۡ. لَقِيَهُ مَعَكَ رَجُلَانِ. قَالَا مِثۡلَ مَا قُلۡتَ. فَقِيلَ لَهُمَا مِثۡلَ مَا قِيلَ لَكَ. قَالَ: قُلۡتُ: مَنۡ هُمَا؟ قَالُوا: مُرَارَةُ بۡنُ رَبِيعَةَ الۡعَامِرِيُّ، وَهِلَالُ بۡنُ أُمَيَّةَ الۡوَاقِفِيُّ. قَالَ: فَذَكَرُوا لِي رَجُلَيۡنِ صَالِحَيۡنِ قَدۡ شَهِدَا بَدۡرًا، فِيهِمَا أُسۡوَةٌ. قَالَ: فَمَضَيۡتُ حِينَ ذَكَرُوهُمَا لِي.
قَالَ: وَنَهَىٰ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡمُسۡلِمِينَ عَنۡ كَلَامِنَا، أَيُّهَا الثَّلَاثَةُ، مِنۡ بَيۡنِ مَنۡ تَخَلَّفَ عَنۡهُ.
Ka’b mengatakan: Mereka terus mencelaku sampai aku ingin untuk kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku mendustakan diriku tadi. Ka’b mengatakan: Kemudian aku bertanya kepada mereka: Apakah beliau menjumpai orang yang memiliki kasus sepertiku? Mereka menjawab: Iya. Beliau mendapati ada dua orang yang seperti engkau. Keduanya mengatakan seperti yang engkau ucapkan. Lalu dikatakan kepada keduanya semisal apa yang dikatakan kepadamu. Ka’b mengatakan: Aku bertanya: Siapa keduanya? Mereka menjawab: Murarah bin Rabi’ah Al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi. Ka’b mengatakan: Mereka menyebutkan kepadaku dua lelaki yang saleh yang telah mengikuti perang Badr dan pada diri keduanya ada teladan. Ka’b mengatakan: Aku pun tetap pada pendirianku ketika mereka menyebutkan dua orang itu kepadaku.
Ka’b mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum muslimin dari berbicara dengan kami bertiga saja di antara orang-orang yang tidak mengikuti perang Tabuk.
قَالَ: فَاجۡتَنَبَنَا النَّاسُ. وَقَالَ: تَغَيَّرُوا لَنَا حَتَّىٰ تَنَكَّرَتۡ لِي فِي نَفۡسِيَ الۡأَرۡضُ. فَمَا هِيَ بِالۡأَرۡضِ الَّتِي أَعۡرِفُ. فَلَبِثۡنَا عَلَىٰ ذٰلِكَ خَمۡسِينَ لَيۡلَةً. فَأَمَّا صَاحِبَايَ فَاسۡتَكَانَا وَقَعَدَا فِي بُيُوتِهِمَا يَبۡكِيَانِ. وَأَمَّا أَنَا فَكُنۡتُ أَشَبَّ الۡقَوۡمِ وَأَجۡلَدَهُمۡ. فَكُنۡتُ أَخۡرُجُ فَأَشۡهَدُ الصَّلَاةَ وَأَطُوفُ فِي الۡأَسۡوَاقِ وَلَا يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ. وَآتِي رَسُولَ اللهِ ﷺ فَأُسَلِّمُ عَلَيۡهِ، وَهُوَ فِي مَجۡلِسِهِ بَعۡدَ الصَّلَاةِ. فَأَقُولُ فِي نَفۡسِي: هَلۡ حَرَّكَ شَفَتَيۡهِ بِرَدِّ السَّلَامِ، أَمۡ لَا؟ ثُمَّ أُصَلِّي قَرِيبًا مِنۡهُ وَأُسَارِقُهُ النَّظَرَ. فَإِذَا أَقۡبَلۡتُ عَلَىٰ صَلَاتِي نَظَرَ إِلَيَّ. وَإِذَا الۡتَفَتُّ نَحۡوَهُ أَعۡرَضَ عَنِّي. حَتَّىٰ إِذَا طَالَ ذٰلِكَ عَلَيَّ مِنۡ جَفۡوَةِ الۡمُسۡلِمِينَ، مَشَيۡتُ حَتَّىٰ تَسَوَّرۡتُ جِدَارَ حَائِطِ أَبِي قَتَادَةَ، وَهُوَ ابۡنُ عَمِّي، وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ. فَسَلَّمۡتُ عَلَيۡهِ. فَوَاللّٰهِ مَا رَدَّ عَلَيَّ السَّلَامَ. فَقُلۡتُ لَهُ: يَا أَبَا قَتَادَةَ، أَنۡشُدُكَ بِاللهِ، هَلۡ تَعۡلَمَنَّ أَنِّي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ؟ قَالَ: فَسَكَتَ، فَعُدۡتُ فَنَاشَدۡتُهُ. فَسَكَتَ فَعُدۡتُ فَنَاشَدۡتُهُ. فَقَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعۡلَمُ. فَفَاضَتۡ عَيۡنَايَ، وَتَوَلَّيۡتُ، حَتَّىٰ تَسَوَّرۡتُ الۡجِدَارَ.
Ka’b mengatakan: Orang-orang pun menjauhi kami. Beliau juga mengatakan: Mereka berubah sikap terhadap kami sampai bumi ini menjadi tempat yang asing pada jiwaku sehingga ia menjadi bumi yang tidak aku kenal. Kami berada dalam keadaan itu selama lima puluh malam. Adapun kedua sahabatku, mereka menetap dan duduk di kedua rumah masing-masing dalam keadaan menangis. Adapun aku, ketika itu adalah orang yang paling muda dan tegar di antara mereka. Aku keluar rumah, mengikuti salat, dan berkeliling di pasar namun tidak ada seorang pun yang mengajakku bicara. Aku mencoba mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengucapkan salam kepada beliau, sementara beliau sedang berada di majlisnya setelah salat. Aku berkata di dalam hati: Apakah beliau menggerakkan kedua bibir untuk membalas salam atau tidak. Kemudian aku salat di dekat beliau dan aku mencuri pandang. Ketika aku menekuni salatku, beliau memandangku. Dan ketika aku menoleh ke arah beliau, beliau berpaling dariku. Sampai ketika pengucilan oleh kaum muslimin sudah berlangsung lama, aku berjalan sampai aku naik ke pagar kebun Abu Qatadah—dia adalah sepupuku dan orang yang paling aku cintai—lalu aku ucapkan salam kepadanya. Demi Allah, dia tidak membalas salamku. Aku berkata kepadanya: Wahai Abu Qatadah, aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, bukankah engkau benar-benar tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya? Ka’b mengatakan: Abu Qatadah hanya diam. Aku pun mengulang dan bertanya kepadanya dengan nama Allah, namun dia tetap diam. Aku mengulang dan kembali bertanya kepadanya dengan nama Allah, namun dia berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Lalu kedua mataku mencucurkan air mata lalu aku berpaling dan menaiki pagar tadi.
فَبَيۡنَا أَنَا أَمۡشِي فِي سُوقِ الۡمَدِينَةِ، إِذَا نَبَطِيٌّ مِنۡ نَبَطِ أَهۡلِ الشَّامِ، مِمَّنۡ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيعُهُ بِالۡمَدِينَةِ. يَقُولُ: مَنۡ يَدُلُّ عَلَىٰ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ. قَالَ: فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيرُونَ لَهُ إِلَيَّ. حَتَّىٰ جَاءَنِي فَدَفَعَ إِلَيَّ كِتَابًا مِنۡ مَلِكِ غَسَّانَ. وَكُنۡتُ كَاتِبًا. فَقَرَأۡتُهُ فَإِذَا فِيهِ: أَمَّا بَعۡدُ. فَإِنَّهُ قَدۡ بَلَغَنَا أَنَّ صَاحِبَكَ قَدۡ جَفَاكَ. وَلَمۡ يَجۡعَلۡكَ اللهُ بِدَارِ هَوَانٍ وَلَا مَضۡيَعَةٍ فَالۡحَقۡ بِنَا نُوَاسِكَ. قَالَ: فَقُلۡتُ، حِينَ قَرَأۡتُهَا: وَهَٰذِهِ أَيۡضَا مِنَ الۡبَلَاءِ. فَتَيَامَمۡتُ بِهَا التَّنُّورَ فَسَجَرۡتُهَا بِهَا.
Lalu ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, ada seorang petani non-Arab dari kalangan penduduk Syam, yaitu di antara orang-orang yang datang membawa makanan untuk dijual di Madinah. Orang itu berkata: Siapa yang bisa menunjukkan kepada Ka’b bin Malik. Ka’b mengatakan: Orang-orang pun memberi isyarat untuknya ke arahku. Sampai orang itu mendatangiku lalu menyerahkan sebuah tulisan dari Raja Ghassan kepadaku. Aku waktu itu sudah bisa baca tulis. Aku membacanya, ternyata di dalamnya tertulis: Amabakdu, sesungguhnya telah sampai kabar kepada kami bahwa sahabatmu telah mengucilkanmu dan Allah tidak menjadikan engkau berada di negeri yang hina dan tempat di mana hakmu diabaikan. Maka, bergabunglah bersama kami, maka kami akan melipur laramu. Ka’b mengatakan: Aku berkata ketika telah membacanya: Ini juga termasuk bencana. Aku beranjak menuju tanur lalu aku bakar tulisan itu di sana.
حَتَّىٰ إِذَا مَضَتۡ أَرۡبَعُونَ مِنَ الۡخَمۡسِينَ، وَاسۡتَلۡبَثَ الۡوَحۡيُ، إِذَا رَسُولُ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَأۡتِينِي. فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَأۡمُرُكَ أَنۡ تَعۡتَزِلَ امۡرَأَتَكَ. قَالَ: فَقُلۡتُ: أُطَلِّقُهَا أَمۡ مَاذَا أَفۡعَلُ؟ قَالَ: لَا. بَلِ اعۡتَزِلۡهَا. فَلَا تَقۡرَبَنَّهَا. قَالَ: فَأَرۡسَلَ إِلَىٰ صَاحِبَيَّ بِمِثۡلِ ذٰلِكَ. قَالَ: فَقُلۡتُ لِامۡرَأَتِي: الۡحَقِي بِأَهۡلِكِ فَكُونِي عِنۡدَهُمۡ حَتَّىٰ يَقۡضِيَ اللهُ فِي هَٰذَا الۡأَمۡرِ. قَالَ: فَجَاءَتِ امۡرَأَةُ هِلَالِ بۡنِ أُمَيَّةَ رَسُولَ اللهِ ﷺ. فَقَالَتۡ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ هِلَالَ بۡنَ أُمَيَّةَ شَيۡخٌ ضَائِعٌ لَيۡسَ لَهُ خَادِمٌ. فَهَلۡ تَكۡرَهُ أَنۡ أَخۡدُمَهُ؟ قَالَ: (وَلَٰكِنۡ لَا يَقۡرَبَنَّكِ)، فَقَالَتۡ: إِنَّهُ، وَاللهِ، مَا بِهِ حَرَكَةٌ إِلَىٰ شَيۡءٍ. وَوَاللهِ مَا زَالَ يَبۡكِي مُنۡذُ كَانَ مِنۡ أَمۡرِهِ مَا كَانَ. إِلَىٰ يَوۡمِهِ هَٰذَا.
Sampai ketika telah berlalu empat puluh dari lima puluh malam dan wahyu belum juga turun, utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku. Lalu ia mengatakan: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanmu agar menjauhi istrimu. Ka’b mengatakan: Aku bertanya: Apakah aku cerai dia atau bagaimana? Utusan itu menjawab: Tidak, jauhi saja dia dan jangan sekali-kali engkau mendekatinya. Ka’b mengatakan: Lalu Nabi juga mengutus kepada kedua orang sahabatku semisal itu. Ka’b mengatakan: Aku berkata kepada istriku: Berkumpullah bersama keluargamu dan tetaplah di sisi mereka sampai Allah memberi keputusan dalam perkara ini. Ka’b mengatakan: Istri Hilal bin Umayyah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang tua yang fakir tidak memiliki pelayan. Apakah engkau benci jika aku melayaninya? Nabi bersabda, “Tetapi dia jangan sekali-kali mendekatimu.” Istri Hilal berkata: Sesungguhnya dia—demi Allah—tidak mempunyai keinginan apapun dan demi Allah dia terus menangis semenjak perkara ini terjadi sampai hari ini.
قَالَ: فَقَالَ لِي بَعۡضُ أَهۡلِي: لَوِ اسۡتَأۡذَنۡتَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فِي امۡرَأَتِكَ؟ فَقَدۡ أَذِنَ لِامۡرَأَةِ هِلَالِ بۡنِ أُمَيَّةَ أَنۡ تَخۡدُمَهُ. قَالَ: فَقُلۡتُ: لَا أَسۡتَأۡذِنُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ ﷺ. وَمَا يُدۡرِينِي مَاذَا يَقُولُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، إِذَا اسۡتَأۡذَنۡتُهُ فِيهَا، وَأَنَا رَجُلٌ شَابٌّ.
Ka’b mengatakan: Sebagian keluargaku berkata kepadaku: Andai engkau meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal istrimu. Sesungguhnya beliau mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk melayani suaminya. Ka’b mengatakan: Aku berkata: Aku tidak akan meminta izin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini dan apa yang akan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan jika aku meminta izin beliau dalam hal istriku padahal aku orang yang masih muda.
قَالَ: فَلَبِثۡتُ بِذٰلِكَ عَشۡرَ لَيَالٍ. فَكَمِلَ لَنَا خَمۡسُونَ لَيۡلَةً مِنۡ حِينَ نُهِيَ عَنۡ كَلَامِنَا. قَالَ: ثُمَّ صَلَّيۡتُ صَلَاةَ الۡفَجۡرِ صَبَاحَ خَمۡسِينَ لَيۡلَةً، عَلَىٰ ظَهۡرِ بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِنَا. فَبَيۡنَا أَنَا جَالِسٌ عَلَى الۡحَالِ الَّتِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَّا. قَدۡ ضَاقَتۡ عَلَيَّ نَفۡسِي وَضَاقَتۡ عَلَيَّ الۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ، سَمِعۡتُ صَوۡتَ صَارِخٍ أَوۡفَىٰ عَلَىٰ سَلۡعٍ يَقُولُ، بِأَعۡلَىٰ صَوۡتِهِ: يَا كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ، أَبۡشِرۡ. قَالَ: فَخَرَرۡتُ سَاجِدًا. وَعَرَفۡتُ أَنۡ قَدۡ جَاءَ فَرَجٌ.
Ka’b mengatakan: Aku masih berada dalam keadaan itu selama sepuluh malam, sehingga sempurnalah lima puluh malam sejak saat orang-orang dilarang untuk berbicara dengan kami. Ka’b mengatakan: Aku salat subuh pada pagi hari kelima puluh di atas loteng rumah kami. Ketika aku duduk sesuai kondisi yang disebutkan Allah azza wajalla tentang kami—jiwa terasa sempit dan bumi menjadi sempit padahal bumi itu luas—aku mendengar suara orang yang berteriak yang datang dari atas celah gunung, berkata dengan suara yang sangat keras: Wahai Ka’b bin Malik, bergembiralah. Ka’b mengatakan: Aku pun menyungkur sujud dan aku tahu bahwa jalan keluar telah datang.
قَالَ: فَآذَنَ رَسُولُ اللهِ ﷺ النَّاسَ بِتَوۡبَةِ اللهِ عَلَيۡنَا، حِينَ صَلَّىٰ صَلَاةَ الۡفَجۡرِ. فَذَهَبَ النَّاسُ يُبَشِّرُونَنَا، فَذَهَبَ قِبَلَ صَاحِبَيَّ مُبَشِّرُونَ. وَرَكَضَ رَجُلٌ إِلَيَّ فَرَسًا. وَسَعَىٰ سَاعٍ مِنۡ أَسۡلَمَ قِبَلِي. وَأَوۡفَىٰ الۡجَبَلَ. فَكَانَ الصَّوۡتُ أَسۡرَعَ مِنَ الۡفَرَسِ. فَلَمَّا جَاءَنِي الَّذِي سَمِعۡتُ صَوۡتَهُ يُبَشِّرُنِي. فَنَزَعۡتُ لَهُ ثَوۡبَيَّ فَكَسَوۡتُهُمَا إِيَّاهُ بِبِشَارَتِهِ. وَاللهِ، مَا أَمۡلِكُ غَيۡرَهُمَا يَوۡمَئِذٍ. وَاسۡتَعَرۡتُ ثَوۡبَيۡنِ فَلَبِسۡتُهُمَا. فَانۡطَلَقۡتُ أَتَأَمَّمُ رَسُولَ اللهِ ﷺ. يَتَلَقَّانِي النَّاسُ فَوۡجًا فَوۡجًا، يُهَنِّئُونِي بِالتَّوۡبَةِ وَيَقُولُونَ: لِتَهۡنِئۡكَ تَوۡبَةُ اللهِ عَلَيۡكَ. حَتَّىٰ دَخَلۡتُ الۡمَسۡجِدَ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ جَالِسٌ فِي الۡمَسۡجِدِ، وَحَوۡلَهُ النَّاسُ. فَقَامَ طَلۡحَةُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ يُهَرۡوِلُ حَتَّىٰ صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي. وَاللهِ، مَا قَامَ رَجُلٌ مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ غَيۡرُهُ. قَالَ: فَكَانَ كَعۡبٌ لَا يَنۡسَاهَا لِطَلۡحَةَ.
Ka’b mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan penerimaan tobat kami dari Allah kepada manusia ketika beliau telah salat Subuh. Lalu orang-orang pergi untuk memberi kabar gembira kepada kami. Para pemberi kabar gembira pergi ke arah dua sahabatku. Ada seseorang yang memacu kuda ke tempatku dan ada seseorang dari Bani Aslam yang berjalan cepat ke arahku dan naik ke atas gunung. Ternyata suara itu lebih cepat daripada kuda. Ketika orang yang aku dengar suaranya untuk memberiku kabar gembira telah datang, aku melepas dua pakaianku lalu aku kenakan kedua pakaian itu kepadanya sebagai hadiah atas kabar gembiranya. Demi Allah, aku pada hari itu tidak memiliki selain dua pakaian itu. Aku meminjam dua pakaian lain dan aku kenakan, lalu aku pergi menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang berduyun-duyun menyambutku. Mereka memberi selamat kepadaku atas diterimanya tobat. Mereka berkata: Selamat atas penerimaan Allah atas tobatmu. Sampai aku masuk masjid, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di dalam masjid dan orang-orang ada di sekitar beliau. Thalhah bin ‘Ubaidullah bangkit berlari kecil sampai menjabat tangan dan memberi selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan Muhajirin yang bangkit berdiri selain dia. Ka’b mengatakan: Ka’b tidak melupakan kejadian itu dari Thalhah.
قَالَ كَعۡبٌ: فَلَمَّا سَلَّمۡتُ عَلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ، وَهُوَ يَبۡرُقُ وَجۡهُهُ مِنَ السُّرُورِ وَيَقُولُ: (أَبۡشِرۡ بِخَيۡرِ يَوۡمٍ مَرَّ عَلَيۡكَ مُنۡذُ وَلَدَتۡكَ أُمُّكَ)، قَالَ: فَقُلۡتُ: أَمِنۡ عِنۡدِكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ أَمۡ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ؟ فَقَالَ: (لَا. بَلۡ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ)، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا سُرَّ اسۡتَنَارَ وَجۡهُهُ، كَأَنَّ وَجۡهَهُ قِطۡعَةُ قَمَرٍ. قَالَ: وَكُنَّا نَعۡرِفُ ذٰلِكَ.
Ka’b mengatakan: Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda dalam keadaan wajahnya bersinar karena gembira, “Bergembiralah dengan sebaik-baik hari yang engkau lalui sejak ibumu melahirkanmu.” Ka’b mengatakan: Aku berkata: Apakah kabar gembira ini dari sisimu, wahai Rasulullah? Ataukah dari sisi Allah? Nabi menjawab, “Tidak, bahkan dari sisi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila sedang gembira, wajahnya bersinar seakan-akan wajah beliau adalah kepingan rembulan. Ka’b mengatakan: Dan kami dahulu mengetahui hal itu.
قَالَ: فَلَمَّا جَلَسۡتُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ مِنۡ تَوۡبَتِي أَنۡ أَنۡخَلِعَ مِنۡ مَالِي صَدَقَةً إِلَىٰ اللهِ وَإِلَىٰ رَسُولِهِ ﷺ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمۡسِكۡ بَعۡضَ مَالِكَ. فَهُوَ خَيۡرٌ لَكَ)، قَالَ: فَقُلۡتُ: فَإِنِّي أُمۡسِكُ سَهۡمِيَ الَّذِي بِخَيۡبَرَ. قَالَ: وَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ إِنَّمَا أَنۡجَانِي بِالصِّدۡقِ. وَإِنَّ مِنۡ تَوۡبَتِي أَنۡ لَا أُحَدِّثَ إِلَّا صِدۡقًا مَا بَقِيتُ. قَالَ: فَوَاللّٰهِ، مَا عَلِمۡتُ أَنَّ أَحَدًا مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ أَبۡلَاهُ اللهُ فِي صِدۡقِ الۡحَدِيثِ، مُنۡذُ ذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَىٰ يَوۡمِي هَٰذَا، أَحۡسَنَ مِمَّا أَبۡلَانِي اللهُ بِهِ. وَاللهِ، مَا تَعَمَّدۡتُ كَذِبَةً مُنۡذُ قُلۡتُ ذٰلِكَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، إِلَىٰ يَوۡمِي هَٰذَا. وَإِنِّي لَأَرۡجُو أَنۡ يَحۡفَظَنِي اللهُ فِيمَا بَقِيَ.
Ka’b mengatakan: Ketika aku duduk di hadapan beliau, aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya dari bentuk tobatku adalah aku mengeluarkan dari hartaku untuk sedekah kepada Allah dan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahanlah sebagian hartamu, maka itu baik untukmu.” Ka’b mengatakan: Aku berkata: Sesungguhnya aku masih menahan bagianku di Khaibar. Ka’b mengatakan: Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkanku dengan sebab kejujuran dan sesungguhnya dari bentuk tobatku adalah aku tidak akan menceritakan kecuali dengan kejujuran pada sisa hidupku. Ka’b mengatakan: Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa ada seseorang dari kalangan kaum muslimin yang diberi kenikmatan oleh Allah dalam kejujuran ucapan semenjak aku menyebutkan itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari ini, yang lebih baik daripada nikmat yang telah Allah berikan kepadaku. Demi Allah, aku tidak pernah sengaja berbohong semenjak aku mengatakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari ini. Dan sesungguhnya aku benar-benar mengharap Allah menjagaku di sisa hidupku. 
قَالَ: فَأَنۡزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ۝١١٧ وَعَلَى ٱلثَّلَـٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ﴾ [التوبة: ١١٧-١١٨] حَتَّىٰ بَلَغَ: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ ۝١١٩﴾ [التوبة: ١١٩].
Ka’b mengatakan: Lalu Allah azza wajalla menurunkan ayat (yang artinya), “Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin, dan orang-orang ansar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka,” (QS. At-Taubah: 117-118) sampai, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).
قَالَ كَعۡبٌ: وَاللهِ، مَا أَنۡعَمَ اللهُ عَلَيَّ مِنۡ نِعۡمَةٍ قَطُّ، بَعۡدَ إِذۡ هَدَانِي اللهُ لِلۡإِسۡلَامِ، أَعۡظَمَ فِي نَفۡسِي، مِنۡ صِدۡقِي رَسُولَ اللهِ ﷺ. أَنۡ لَا أَكُونَ كَذَبۡتُهُ فَأَهۡلِكَ كَمَا هَلَكَ الَّذِينَ كَذَبُوا. إِنَّ اللهَ قَالَ لِلَّذِينَ كَذَبُوا، حِينَ أَنۡزَلَ الۡوَحۡيَ، شَرَّ مَا قَالَ لِأَحَدٍ. وَقَالَ اللهُ: ﴿سَيَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمْ إِذَا ٱنقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا۟ عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا۟ عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ ۖ وَمَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ ۝٩٥ يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا۟ عَنْهُمْ ۖ فَإِن تَرْضَوْا۟ عَنْهُمْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ ٱلْقَوْمِ ٱلْفَـٰسِقِينَ ۝٩٦﴾ [التوبة: ٩٥-٩٦].
Ka’b mengatakan: Demi Allah, tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepadaku—setelah Allah menunjukiku kepada Islam—yang lebih agung pada diriku daripada kejujuranku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu aku tidak berdusta kepadanya yang dapat menyebabkanku celaka sebagaimana orang-orang yang berdusta itu celaka. Sesungguhnya Allah berfirman untuk orang-orang yang telah berdusta—ketika wahyu telah turun—dengan seburuk-buruk ucapan kepada seseorang. Allah berfirman (yang artinya), “Kelak mereka akan bersumpah kepada kalian dengan nama Allah, apabila kalian kembali kepada mereka, supaya kalian berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepada kalian, agar kalian rida kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kalian rida kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak rida kepada orang-orang yang fasik itu.” (QS. At-Taubah: 95-96).
قَالَ كَعۡبٌ: كُنَّا خُلِّفۡنَا، أَيُّهَا الثَّلَاثَةُ، عَنۡ أَمۡرِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ قَبِلَ مِنۡهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ حَلَفُوا لَهُ. فَبَايَعَهُمۡ وَاسۡتَغۡفَرَ لَهُمۡ. وَأَرۡجَأَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَمۡرَنَا حَتَّىٰ قَضَىٰ اللهُ فِيهِ. فَبِذٰلِكَ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَعَلَى ٱلثَّلَـٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟﴾ [التوبة: ١١٨]. وَلَيۡسَ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ مِمَّا خُلِّفۡنَا، تَخَلُّفَنَا عَنِ الۡغَزۡوِ. وَإِنَّمَا هُوَ تَخۡلِيفُهُ إِيَّانَا، وَإِرۡجَاؤُهُ أَمۡرَنَا، عَمَّنۡ حَلَفَ لَهُ وَاعۡتَذَرَ إِلَيۡهِ فَقَبِلَ مِنۡهُ.
[البخاري: كتاب المغازي، باب حديث كعب بن مالك، رقم: ٤٤١٨].
Ka’b mengatakan: Kami bertiga ditangguhkan dari perkara mereka, yaitu orang-orang yang alasan mereka diterima oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mereka bersumpah kepada beliau, lalu Nabi mengambil baiat dan meminta ampun untuk mereka. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda perkara kami sampai Allah membuat keputusan dalam hal tersebut. Oleh karena itu, Allah azza wajalla berfirman (yang artinya), “dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka.” (QS. At-Taubah: 118). Bukanlah yang disebutkan Allah itu ketidakikutan kami dalam perang. Namun yang dimaksud adalah penangguhan tobat untuk kami dan penundaan perkara kami dari orang-orang yang bersumpah kepada beliau dan mengajukan uzur kepada beliau, lalu beliau langsung menerima alasan darinya.
(...) - وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا حُجَيۡنُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ... بِإِسۡنَادِ يُونُسَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ. سَوَاءً.
Muhammad bin Rafi’ telah menceritakannya kepadaku: Hujain bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab… melalui sanad Yunus dari Az-Zuhri. Sama hadisnya.
٥٤ - (...) - وَحَدَّثَنِي عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: حَدَّثَنِي يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ سَعۡدٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مُسۡلِمٍ، ابۡنُ أَخِي الزُّهۡرِيِّ عَنۡ عَمِّهِ، مُحَمَّدِ بۡنِ مُسۡلِمٍ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، أَنَّ عُبَيۡدَ اللهِ بۡنَ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، وَكَانَ قَائِدَ كَعۡبٍ حِينَ عَمِيَ، قَالَ: سَمِعۡتُ كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ حَدِيثَهُ، حِينَ تَخَلَّفَ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزۡوَةِ تَبُوكَ... وَسَاقَ الۡحَدِيثَ.
وَزَادَ فِيهِ، عَلَىٰ يُونُسَ: فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَلَّمَا يُرِيدُ غَزۡوَةً إِلَّا وَرَّى بِغَيۡرِهَا، حَتَّىٰ كَانَتۡ تِلۡكَ الۡغَزۡوَةُ.
وَلَمۡ يَذۡكُرۡ، فِي حَدِيثِ ابۡنِ أَخِي الزُّهۡرِيِّ، أَبَا خَيۡثَمَةَ وَلُحُوقَهُ بِالنَّبِيِّ ﷺ.
54. ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepadaku: Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepadaku: Muhammad bin ‘Abdullah bin Muslim—keponakan Az-Zuhri—menceritakan kepada kami dari pamannya, yaitu Muhammad bin Muslim Az-Zuhri: ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’b bin Malik mengabarkan kepadaku, bahwa ‘Ubaidullah bin Ka’b bin Malik—beliau adalah penuntun Ka’b ketika telah buta—berkata: Aku mendengar Ka’b bin Malik menceritakan kisahnya ketika tidak ikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Tabuk… lalu beliau membawakan hadis itu.
Beliau menambahi riwayat Yunus: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ingin berperang, seringnya mengecoh dengan selainnya. Sampai pada perang itu.
Beliau tidak menyebutkan Abu Khaitsamah dan perihal dia menyusul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadis keponakan Az-Zuhri.
٥٥ - (...) - وَحَدَّثَنِي سَلَمَةُ بۡنُ شَبِيبٍ: حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ أَعۡيَنَ: حَدَّثَنَا مَعۡقِلٌ وَهُوَ ابۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنۡ عَمِّهِ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبٍ. وَكَانَ قَائِدَ كَعۡبٍ حِينَ أُصِيبَ بَصَرُهُ، وَكَانَ أَعۡلَمَ قَوۡمِهِ وَأَوۡعَاهُمۡ لِأَحَادِيثِ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ. قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي، كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ، وَهُوَ أَحَدُ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ تِيبَ عَلَيۡهِمۡ، يُحَدِّثُ، أَنَّهُ لَمۡ يَتَخَلَّفۡ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي غَزۡوَةٍ غَزَاهَا قَطُّ. غَيۡرَ غَزۡوَتَيۡنِ... وَسَاقَ الۡحَدِيثَ وَقَالَ فِيهِ: وَغَزَا رَسُولُ اللهِ ﷺ بِنَاسٍ كَثِيرٍ يَزِيدُونَ عَلَىٰ عَشۡرَةِ آلَافٍ. وَلَا يَجۡمَعُهُمۡ دِيوَانُ حَافِظٍ.
55. Salamah bin Syabib telah menceritakan kepadaku: Al-Hasan bin A’yan menceritakan kepada kami: Ma’qil bin ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri: ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ka’b bin Malik mengabarkan kepadaku dari pamannya, yaitu ‘Ubaidullah bin Ka’b. Beliau adalah penuntun Ka’b ketika tertimpa musibah pada penglihatannya dan beliau adalah orang yang paling berilmu dan paling menghafal hadis-hadis para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata: Aku mendengar ayahku, yaitu Ka’b bin Malik—beliau adalah salah satu dari tiga orang yang diterima tobatnya—menceritakan bahwa beliau tidak pernah sama sekali absen dari perang yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain dua perang… beliau membawakan hadis tersebut dan beliau berkata padanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang bersama orang-orang yang banyak, lebih dari sepuluh ribu orang. Dan tidak ada daftar catatan yang mengumpulkan (nama-nama) mereka.