Ilmuwan Sejati

Gelar Amirul Mukminin (pemimpin kaum mukminin) dalam bidang hadis melekat pada dirinya. Ya, ulama yang satu ini memang sangat identik dengan predikatnya sebagai Amirul Mukminin fil hadis di masanya. Predikat ini tidaklah disematkan oleh awam kaum muslimin, namun ulama lah yang menyandangkannya kepada beliau. Ulama yang semasanya tidak meragukan bagaimana kepakarannya dalam ilmu hadis. Dialah Syu’bah bin Al Hajjaj bin Al Ward Al Azdi Al ‘Ataki Abul Bistham Al Azdi rahimahullah. Beliau lahir pada tahun 80 H pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan. Sejatinya beliau berasal dari Wasith, sebuah kota tua di Irak yang berada di antara Baghdad dan Bashrah di sisi barat Sungai Tigris. Kemudian hijrah dan menetap di kota Bashrah. Syu’bah mempunyai dua saudara laki-laki yang bernama Basyar dan Hammad. Namun keduanya bergelut di selain ilmu hadis dan tidak setenar Syu’bah.

PERKEMBANGAN ILMIYAHNYA


Semenjak kecil Syu’bah telah menetap di Basrah dan bertemu sekian ulama di kota tersebut. Semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu agama memang menjadi salah satu modalnya yang sangat berharga. Di samping itu Allah anugerahkan kepada beliau tingkat intelektual yang tinggi dan hafalan nan kokoh.

Saat itu Bashrah menjadi salah satu pusat pembelajaran ilmu agama dan hadis. Iklim ilmiyah di kota itu memang sangat mendukung untuk belajar ilmu agama. Bagaimana tidak, di kota itulah tinggal nama-nama besar semisal Al Hasan Al Bashri dan yang lainnya. Maka dari para ulama itulah, Syu’bah mulai menggeluti ilmu hadis secara langsung di hadapan mereka.

Memang beliau dilahirkan di Wasith namun perkembangan ilmiyah berkembang pesat setelah beliau pindah ke Bashrah. Di antara gurunya adalah Anas bin Sirin, Sa’id bin Abi Sa’id Al Maqburi, Qatadah bin Di’amah, Amr bin Dinar, Yahya bin Abi Katsir, Ayyub As Sikhtiyani, Manshur Al Mu’tamir, dan masih banyak yang lainnya. Satu referensi menyebutkan bahwa guru beliau mencapai empat ratus sekian ulama. Dan ada tiga ratus sekian guru yang beliau sebutkan namanya.

PERJUANGANNYA DAN PUJIAN ULAMA


Kegigihan Syu’bah rahimahullah dalam menimba ilmu agama patut dicontoh para pencari ilmu agama. Lihat bagaimana beliau mengeluarkan segala potensi yang dimiliki. Harta dunia yang beliau miliki dikerahkan demi meraih ilmu agama. Memang beliau bukan dari kalangan orang berharta namun bagi beliau kesulitan ekonomi bukanlah penghalang belajar. Beliau pernah menjual bejana warisan ibunya seharga tujuh dinar untuk biaya menuntut ilmu agama. Beliau pun rela menjual penyangga dan tiang rumahnya untuk kebutuhan belajar ilmu agama.

Pengorbanan waktu dan tenaga pun tidak kurang-kurangnya beliau lakukan demi meraih ilmu agama. Pernah beliau tinggal di tempat Al Hakam bin Al Utaibah dan bermajelis dengannya selama 18 bulan. Paska perjuangan dan pengorbanannya belajar ilmu agama, beliau akhirnya diakui sebagai imam ahli hadis yang sangat kokoh hafalannya.

Berbagai pujian dan rekomendasi terucapkan dari para ulama, bahkan guru-gurunya sekalipun. Satu hal yang wajar memang karena beliau mampu menguasai dan menghafal ribuan hadis. Dengan didukung pengetahuan yang luas dan kecerdasan yang tajam. Ulama sekaliber Imam Malik rahimahullah sekalipun meriwayatkan dari Syu’bah rahimahullah. Padahal yang demikian ini sangat jarang dilakukan oleh Imam Malik. Bahkan beberapa guru Syu’bah juga meriwayatkan darinya seperti Manshur, Al A’masy, Ayub As Sikhtiyani, Sa’d bin Ibrahim, beliau adalah seorang qadhi (hakim) di Madinah, dan selainnya. Ini semua menunjukkan kemuliaan Syu’bah dalam pandangan ulama-ulama besar. Sufyan Ats Tsauri termasuk ulama yang sangat segan dan memuliakan Syu’bah, Sufyan pun menegaskan, “Syu’bah adalah Amirul Mukminin dalam bidang hadis.” Asy Syafi’i pun tak ketinggalan memberikan sanjungannya kepada Syu’bah, “Kalau bukan karena Syu’bah, niscaya penduduk Irak tidak akan mengenal hadis.”

IBADAHNYA


Boleh saja sebagian orang menyangka bahwa kesibukan seseorang dengan ilmu hadis akan melemahkan atau mengurangi frekuensi ibadahnya. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan Syu’bah, beliau justru sangat kuat dan tekun beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan sekilas orang akan menyangka bahwa beliau hanyalah seorang ahli ibadah bukan pakar hadis. Satu hal yang mengagumkan pada dirinya adalah ketika melakukan ibadah salat. Begitu panjang dan lama Syu’bah melakukan rukuk atau duduk di antara dua sujud. Sampai-sampai orang yang melihatnya menyangka bahwa beliau telah lupa.

Simak pula penuturan Abu Bahr Al Bakrawi berikut ini, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih kuat ibadahnya kepada Allah daripada Syu’bah. Sungguh dia beribadah kepada Allah sampai kulitnya kering kerontang dan menghitam.” Beliau disebut-sebut melazimi puasa dahr (sepanjang tahun) karena begitu seringnya beliau berpuasa. Inilah sebabnya mengapa kulit beliau mengering dan tubuhnya kurus kerontang. Tidak lain karena malamnya untuk salat malam dan paginya berpuasa. Belum lagi ibadah lain dan aktivitas keseharian beliau yang tentunya cukup melelahkan. Abdussalam bin Muthahhar menyatakan, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih fokus dalam beribadah kepada Allah daripada Syu’bah.”

AKIDAHNYA


Semenjak kecil Syu’bah terdidik dalam komunitas ulama salaf penerus warisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga Syu’bah mengikuti pendahulunya dalam berakidah dan bermanhaj. Kegigihannya dalam menebarkan Al Haq dan menumpas kebatilan tidak diragukan lagi. Terkait dengan hal ini, Waki’ bin Jarah mengatakan, “Sungguh aku berharap Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat kedudukan Syu’bah di surga beberapa derajat karena pembelaannya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Kisah ini juga menjadi bukti upaya Syu’bah rahimahullah dalam membela kebenaran, Sulaiman bin Harb berkisah, “Pada suatu hari Syu’bah menyampaikan hadis Ash Shadiq wal Mashduq (hadisnya Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang tahapan penciptaan manusia di rahim ibunya) dan hadis-hadis semisalnya. Tiba-tiba bangkitlah seorang lelaki pengikut aliran Qadariyah (pengingkar takdir) seraya menyatakan, ‘Wahai Abi Bistham! Tidakkah engkau menyampaikan hadis lain kepada kami?’[1] Maka Syu’bah membawakan hadisnya Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak terlahir di atas fitrah (Islam), maka kedua orang tuanya lah yang membuatnya menjadi seorang Nasrani, Yahudi, atau Majusi.” Maka laki-laki itu terdiam dan tidak melontarkan sepatah katapun.[2] Hadis ini secara tidak langsung memberikan celaan terhadap pengikut aliran Qadariyah tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadisnya yang artinya, “Qadariyah adalah Majusinya umat ini.

FIGUR ULAMA YANG SANGAT DERMAWAN


Satu lagi yang membuat ulama yang satu ini semakin terangkat wibawanya di hadapan kaum muslimin. Ya, apalagi kalau bukan pribadinya yang sangat gemar bederma kepada orang lain. Luar biasa memang, kesederhanaan beliau dan bahkan kesulitan ekonominya tidaklah memadamkan antusiasnya untuk bersedekah. Sementara keumuman manusia terhambat untuk bersedekah karena kesulitan ekonomi yang menghimpitnya. Tercatat dalam biografinya, Syu’bah tidak hanya sering memotivasi orang lain agar bersedekah. Namun lebih dari itu, beliau juga langsung mengaplikasikannya dalam keseharian. Beliau mengetahui betapa sedekah dan infak adalah amalan yang mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Qurad Abu Nuh berkisah, “Syu’bah pernah melihatku memakai sebuah baju. Maka beliau bertanya, “Berapa harga baju ini?” Aku pun menjawab, “Delapan dirham.” Maka Syu’bah berkata kepadaku, “Celaka kamu! Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala?! Mengapa engkau tidak membeli baju seharga 4 dirham saja dan sisanya yang 4 dirham disedekahkan. Itu lebih baik bagimu.”

Kemurahannya dalam bederma telah ditegaskan oleh Yahya Al Qahthan, ia mengatakan, “Syu’bah termasuk orang yang sangat lembut kalbunya. Ia selalu memberi orang yang meminta selama mampu melakukannya.” Bahkan sekalipun ketika Syu’bah berada di sebuah majelis dan menyampaikan hadis kepada murid-muridnya. Pernah suatu saat datang seseorang menyampaikan hajatnya di majelisnya Syu’bah. Maka beliau pun tidaklah melanjutkan pelajarannya hingga memberikan sedekah kepadanya atau memenuhi kebutuhannya.”

Begitulah Syu’bah sangat gemar bersedekah padahal beliau sendiri bukanlah orang yang kaya. Abu Dawud Ath Thayalisi berkata, “Kami pernah bersama Syu’bah, tiba-tiba datanglah Sulaiman bin Al Mughirah dalam keadaan menangis sambil berkata, ‘Keledaiku mati. Sehingga hilanglah kesempatan salat Jum’at dan berbagai keperluanku terbengkalai.’ Syu’bah bertanya kepadanya, “Berapa harga keledai itu?” “Tiga dinar.” Jawab Sulaiman. Maka Syu’bah berkata, “Kebetulan aku punya tiga dinar dan demi Allah aku tidak punya lebih dari itu.” Kemudian Syu’bah memberikan uang tersebut kepada Sulaiman.

Sebagai ulama Rabbani, Syu’bah rahimahullah tiada hentinya memotivasi para muridnya untuk bersedekah. Beliau sempat marah kepada sebagian murid-muridnya yang enggan bersedekah. Simak penuturan Abu Dawud dalam kisah berikut, “Saat itu kami sedang berada di hadapan Syu’bah untuk menulis hadis-hadis yang beliau sampaikan. Tiba-tiba datanglah seorang peminta-minta, maka Syu’bah pun berkata, “Bersedekahlah kalian untuk pengemis itu sungguh aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Jagalah diri kalian dari siksa neraka meskipun bersedekah dengan setengah butir kurma.” Namun tidak seorang pun di antara muridnya yang bersedekah. Beliau terus menghasung mereka dengan membawakan hadis tersebut sebanyak tiga kali. Namun tetap tidak ada yang mau bersedekah. Akhirnya beliau mengatakan, “Pergi kalian dariku! Demi Allah aku tidak akan mengajarkan hadis kepada kalian selama tiga bulan.” Setelah itu Syu’bah masuk ke dalam rumahnya lalu mengambil adonan tepung lantas memberikannya kepada pengemis itu sambil berkata, “Ambillah makanan ini, sungguh ini adalah makanan kami hari ini.”

Di akhir hayatnya Syu’bah memilih untuk tinggal dan fokus menjalani aktivitasnya di Kota Bashrah. Sehingga di kota itulah beliau meninggal pada bulan Rajab tahun 160 H. Semoga Allah ‘azza wa jalla melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau rahimahullah.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 53 vol.05 1439 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah.

[1] Karena dalam hadis tersebut disebutkan tentang penciptaan manusia dan penetapan takdirnya pada usia 4 bulan di dalam perut ibunya. Sementara sekte Qadariyah menolak adanya takdir Allah. Sehingga mereka mengingkari hadis tersebut. 
[2] Sekte Qadariyah menolak hadis yang tidak diriwayatkan secara mutawatir (banyak jalannya). Padahal maksud mereka hanyalah menolak hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, apabila hadis tersebut tampak mendukung pendapat mereka (walaupun menurut pemahaman mereka yang salah), maka hadis selain mutawatir pun akan mereka terima. Seperti hadis ini.