Cari Blog Ini

Shahih Muslim hadits nomor 397

٤٥ – (٣٩٧) – حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ سَعِيدٍ عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ دَخَلَ الۡمَسۡجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَرَدَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ السَّلَامَ. قَالَ: (ارۡجِعۡ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمۡ تُصَلِّ) فَرَجَعَ الرَّجُلُ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَسَلَّمَ عَلَيۡهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (وَعَلَيۡكَ السَّلَامُ). ثُمَّ قَالَ: (ارۡجِعۡ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمۡ تُصَلِّ) حَتَّى فَعَلَ ذٰلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. فَقَالَ الرَّجُلُ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالۡحَقِّ، مَا أُحۡسِنُ غَيۡرَ هَٰذَا، عَلِّمۡنِي. قَالَ: (إِذَا قُمۡتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرۡ. ثُمَّ اقۡرَأۡ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الۡقُرۡآنِ، ثُمَّ ارۡكَعۡ حَتَّىٰ تَطۡمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارۡفَعۡ حَتَّىٰ تَعۡتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسۡجُدۡ حَتَّىٰ تَطۡمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارۡفَعۡ حَتَّى تَطۡمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ افۡعَلۡ ذٰلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا). 
45. (397). Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepadaku: Yahya bin Sa'id menceritakan kepadaku dari 'Ubaidullah, beliau berkata: Sa'id bin Abi Sa'id menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk masjid, lalu masuk pula seorang laki-laki kemudian dia shalat. Kemudian dia datang dan mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salam. Beliau berkata, “Kembalilah dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.” Maka laki-laki itu kembali lalu shalat sebagaimana dia shalat sebelumnya. Kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengucapkan salam kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Alaikas salam (Semoga keselamatan atasmu).” Kemudian beliau berkata, “Kembalilah dan shalatlah. Sesungguhnya engkau belum shalat.” Sampai laki-laki itu melakukannya sampai tiga kali. Lalu dia berkata: Demi Yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak mampu lebih baik daripada shalat seperti ini, ajarilah aku. Beliau bersabda, “Jika engkau berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah bacaan Al-Qur`an yang mudah bagimu. Lalu ruku'lah hingga engkau thuma`ninah dalam ruku'. Lalu angkatlah kepalamu hingga kamu berdiri lurus. Kemudian sujudlah sampai engkau thuma`ninah sujud. Lalu angkatlah kepalamu hingga engkau thuma`ninah duduk. Lalu lakukanlah itu pada semua shalatmu.” 
٤٦ - (…) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ نُمَيۡرٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَا: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الۡمَسۡجِدَ فَصَلَّى، وَرَسُولُ اللهِ ﷺ فِي نَاحِيَةٍ. وَسَاقَا الۡحَدِيثَ بِمِثۡلِ هَٰذِهِ الۡقِصَّةِ، وَزَادَا فِيهِ: (إِذَا قُمۡتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسۡبِغِ الۡوُضُوءَ، ثُمَّ اسۡتَقۡبِلِ الۡقِبۡلَةَ فَكَبِّرۡ). 
46. Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah dan 'Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. Mereka berdua berkata: 'Ubaidullah menceritakan kepada kami, dari Sa'id bin Abu Sa'id, dari Abu Hurairah: Bahwa seorang laki-laki masuk masjid lalu shalat dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ada di suatu pojok masjid. Mereka berdua melanjutkan hadits semisal kisah ini dan menambahkan padanya, “Jika engkau berdiri untuk shalat, maka sempurnakanlah wudhu`, kemudian menghadaplah kiblat, lalu takbirlah.”

At-Tuhfatus Saniyyah - Inna dan Saudara-saudaranya

إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا

Inna dan saudara-saudaranya

قَالَ: وَأَمَّا إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا فَإِنَّهَا تَنْصِبُ الْإِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ، وَهِيَ إِنَّ، وَأَنَّ، وَلَكِنَّ، وَكَأَنَّ، وَلَيْتَ، وَلَعَلَّ، تَقُولُ: إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ، وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، وَمَعْنَى إِنَّ وَأَنَّ التَّوْكِيدُ، وَلَكِنَّ لِلْإٍسْتِدْرَاكِ، وَكَأَنَّ لِلتَّشْبِيهِ، وَلَيْتَ لِلتَّمَنِّي، وَلَعَلَّ لِلتَّرَجِّى وَالتَّوَقُّعِ.
Adapun inna dan saudara-saudaranya menashabkan isim dan merafa’kan khabar. Yaitu:
  1. إِنَّ
  2. أَنَّ
  3. لَكِنَّ
  4. كَأَنَّ
  5. لَيْتَ
  6. لَعَلَّ
Contohnya: إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ (Sesungguhnya Zaid sedang berdiri) dan لَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ (Sekiranya ‘Amr pergi), dan yang mirip dengan itu. Makna inna dan anna adalah penekanan, lakinna adalah istidrak, ka`anna untuk menyerupakan, laita untuk mengangankan, la’alla untuk tarajji dan tawaqqu’.
وَأَقُولُ: الْقِسْمُ الثَّانِى مِنْ نَوَاسِخِ الْمُبْتَدَأِ وَالْخَبَرِ (إِنَّ) وَأَخَوَاتُهَا، أَيْ: نَظَائِرُهَا فِي الْعَمَلِ، وَهِيَ تَدْخُلُ عَلَى الْمُبْتَدَأِ وَالْخَبَرِ، فَتَنْصِبُ الْمُبْتَدَأَ وَيُسَمَّى اسْمَهَا، وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ - بِمَعْنَى أَنَّهَا تُجَدِّدُ لَهُ رَفْعًا غَيْرَ الَّذِي كَانَ لَهُ قَبْلَ دُخُولِهَا - وَيُسَمَّى خَبَرَهَا، وَهَذِهِ الْأَدَوَاتُ كُلُّهَا حَرْفٌ، وَهِيَ سِتَّةٌ:
Bagian yang kedua dari penghapus-penghapus mubtada` dan khabar adalah inna dan saudara-saudaranya (yakni yang sama dalam ‘amalnya). Ketika ‘amil ini masuk kepada mubtada` dan khabar, akan menashabkan mubtada` lalu dinamakan isimnya dan merafa’kan khabar -dengan makna memperbarui rafa’ yang berbeda dengan rafa’ sebelum dimasuki ‘amil- lalu dinamakan khabarnya. ‘Amil-’amil ini seluruhnya adalah harf, jumlahnya ada enam:
الْأَوَّلُ (إِنَّ) بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ.
والثَّانِي (أَنَّ) بِفَتۡحِ الْهَمْزَةِ.
وَهُمَا يَدُلَّانِ عَلَى التَّوْكِيدِ. وَمَعْنَاهُ تَقْوِيَةُ نِسْبَةِ الْخَبَرِ لِلْمُبْتَدَأِ، نَحْوُ (إِنَّ أَبَاكَ حَاضِرٌ)، وَنَحْوُ (عَلِمْتُ أَنَّ أَبَاكَ مُسَافِرٌ).
1. Inna dengan hamzah yang dikasrah.
2. Anna dengan hamzah yang difathah.
Keduanya menunjukkan penekanan. Artinya, penguatan penyandaran khabar kepada mubtada`, contohnya إِنَّ أَبَاكَ حَاضِرٌ (Sungguh ayahmu datang) dan عَلِمْتُ أَنَّ أَبَاكَ مُسَافِرٌ (Aku mengetahui sesungguhnya ayahmu musafir).
وَالثَّالِثُ (لَكِنَّ) وَمَعْنَاهُ الْإِسْتِدْرَاكُ، وَهُوَ: تَعْقِيبُ الْكَلَامِ بِنَفْيِ مَا يُتَوَهَّمُ ثُبُوتُهُ أَوْ إِثْبَاتِ مَا يُتَوَهَّمُ نَفْيُهُ، نَحْوُ (مُحَمَّدٌ شُجَاعٌ لَكِنَّ صَدِيقُهُ جَبَّانُ).
3. Lakinna bermakna istidrak. Yaitu menjelaskan pembicaraan dengan meniadakan hal-hal yang dikira ditetapkan atau menetapkan hal-hal yang dikira ditiadakan. Contohnya مُحَمَّدٌ شُجَاعٌ لَكِنَّ صَدِيقُهُ جَبَّانُ (Muhammad pemberani akan tetapi temannya pengecut).
وَالرَّابِعُ (كَأَنَّ) وَهُوَ يَدُلُّ عَلَى تَشْبِيهِ الْمُبْتَدَأِ بِالْخَبَرِ، نَحْوُ (كَأَنَّ الْجَارِيَةَ بَدْرٌ).
4. Ka`anna menunjukkan penyerupaan mubtada` terhadap khabar, contoh كَأَنَّ الْجَارِيَةَ بَدْرٌ (Anak perempuan itu seakan-akan rembulan purnama).
وَالْخَامِسُ (لَيْتَ) وَمَعْنَاهُ التَّمَنِّى، وَهُوَ: طَلَبُ الْمُسْتَحِيلِ أَوْ مَا فِيهِ عُسْرٌ، (لَيْتَ الشَّبَابَ عَائِدٌ) وَنَحْوُ (لَيْتَ الْبَلِيدَ يَنْجَحُ).
5. Laita, maknanya angan-angan. Yaitu menuntut hal yang mustahil atau sulit. لَيْتَ الشَّبَابَ عَائِدٌ (Kiranya masa muda kembali) dan لَيْتَ الْبَلِيدَ يَنْجَحُ (Andai orang bodoh bisa berhasil).
وَالسَّادِسُ (لَعَلَّ) وَهُوَ يَدُلُّ عَلَى التَّرَجِّى أَوِ التَّوَقُّعِ، وَمَعْنَى التَّرَجِى: طَلَبُ الْأَمْرِ الْمَحْبُوبِ، وَلَا يَكُونُ إِلَّا فِي الْمُمْكِنِ نَحْوُ: (لَعَلَّ اللهَ يَرْحَمُنِي)، وَمَعْنَى التَّوَقُّعِ: انْتِظَارُ وُقُوعِ الْأَمْرِ الْمَكْرُوهِ فِي ذَاتِهِ، نَحْوُ (لَعَلَّ الْعَدُوَّ قَرِيبٌ مِنَّا).
6. La’alla menunjukkan kepada tarajji atau tawaqqu’. Makna tarajji adalah menuntut perkara yang dicintai yang tidak bisa terjadi kecuali pada suatu perkara yang memungkinkan, contohnya لَعَلَّ اللهَ يَرْحَمُنِي (Semoga Allah merahmatiku). Dan makna tawaqqu’ adalah menunggu terjadinya perkara yang dibenci, contohnya لَعَلَّ الْعَدُوَّ قَرِيبٌ مِنَّا (Barangkali musuh itu sudah dekat dari tempat kita).

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 757

٧٥٧ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ أَبِي سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ دَخَلَ الۡمَسۡجِدَ، فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَرَدَّ، وَقَالَ: (ارۡجِعۡ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمۡ تُصَلِّ). فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: (ارۡجِعۡ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمۡ تُصَلِّ) ثَلَاثًا، فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالۡحَقِّ، مَا أُحۡسِنُ غَيۡرَهُ، فَعَلِّمۡنِي! فَقَالَ: (إِذَا قُمۡتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرۡ، ثُمَّ اقۡرَأۡ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الۡقُرۡآنِ، ثُمَّ ارۡكَعۡ حَتَّى تَطۡمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارۡفَعۡ حَتَّى تَعۡتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسۡجُدۡ حَتَّى تَطۡمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارۡفَعۡ حَتَّى تَطۡمَئِنَّ جَالِسًا، وَافۡعَلۡ ذٰلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا). [الحديث ٧٥٧ – أطرافه في: ٧٩٣، ٦٢٥١، ٦٢٥٢، ٦٦٦٧]. 
757. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Yahya menceritakan kepada kami, dari 'Ubaidullah, beliau berkata: Sa'id bin Abu Sa'id menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah masuk masjid, lalu ada seseorang masuk dan shalat, selesai shalat dia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menjawab salam, lalu berkata, “Kembalilah ulangi shalatmu. Sesungguhnya engkau belum shalat.” Orang itu kembali shalat seperti dia shalat sebelumnya. Lalu datang lagi dan mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Kembalilah, shalatlah lagi. Sesungguhnya engkau belum shalat.” Sampai tiga kali. Orang itu berkata: Demi Yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak bisa shalat lebih baik daripada ini, ajarilah saya. Maka beliau bersabda, “Jika engkau berdiri melakukan shalat, bertakbirlah. Lalu bacalah bacaan Al-Qur`an yang mudah bagimu. Kemudian ruku'lah, hingga engkau thuma`ninah ruku'. Lalu angkatlah kepalamu, hingga engkau berdiri lurus. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma`ninah sujud. Kemudian angkatlah kepalamu, hingga engkau thuma`ninah duduk. Dan lakukanlah hal itu pada seluruh shalatmu.” [Hadits nomor 757, hadits yang mirip ini hadits nomor: 793, 6251, 6252, 6667].

Tsalatsatul Ushul (7)

فَلَمَّا اسۡتَقَرَّ بِالۡمَدِينَةِ أُمِرَ بِبَقِيَّةِ شَرَائِعِ الۡإِسۡلَامِ مِثۡلُ: الزَّكَاةِ، وَالصَّوۡمِ، وَالۡحَجِّ، وَالۡجِهَادِ، وَالۡأَذَانِ، وَالۡأَمۡرِ بِالۡمَعۡرُوفِ وَالنَّهۡيِ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَغَيۡرِ ذَلِكَ مِنۡ شَرَائِعِ الۡإِسۡلَامِ. 
أَخَذَ عَلَى هٰذَا عَشۡرَ سِنِينَ وَبَعۡدَهَا تُوُفِّيَ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيۡهِ وَدِينُهُ بَاقٍ. وَهٰذَا دِينُهُ، لَا خَيۡرَ إِلَّا دَلَّ الۡأُمَّةَ عَلَيۡهِ، وَلَا شَرَّ إِلَّا حَذَّرَهَا مِنۡهُ، وَالۡخَيۡرُ الَّذِي دَلَّ عَلَيۡهِ: التَّوۡحِيدُ، وَجَمِيعُ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرۡضَاهُ. وَالشَّرُّ الَّذِي حَذَّرَ مِنۡهُ: الشِّرۡكُ وَجَمِيعُ مَا يَكۡرَهُهُ اللهُ وَيَأۡبَاهُ. بَعَثَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً، وَافۡتَرَضَ اللهُ طَاعَتَهُ عَلَى جَمِيعِ الثَّقَلَيۡنِ: الۡجِنِّ وَالۡإِنۡسِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا﴾ [سورة الأعراف، الآية: ١٥٨]. 
وَأَكۡمَلَ اللهُ بِهِ الدِّينَ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينًا﴾ [سورة المائدة، الآية: ٣]. 
وَالدَّلِيلُ عَلَى مَوۡتِهِ ﷺ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ ۝٣٠ ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ عِندَ رَبِّكُمۡ تَخۡتَصِمُونَ﴾ [سورة الزمر، الآيتين: ٣٠، ٣١]. 
وَالنَّاسُ إِذَا مَاتُوا يُبۡعَثُونَ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿مِنۡهَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ وَفِيهَا نُعِيدُكُمۡ وَمِنۡهَا نُخۡرِجُكُمۡ تَارَةً أُخۡرَىٰ﴾ [سورة طه، الآية: ٥٥]، وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَٱللَّهُ أَنۢبَتَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ نَبَاتًا ۝١٧ ثُمَّ يُعِيدُكُمۡ فِيهَا وَيُخۡرِجُكُمۡ إِخۡرَاجًا﴾ [سورة نوح، الآيتين: ١٧، ١٨]. 
وَبَعۡدَ الۡبَعۡثِ مُحَاسَبُونَ وَمَجۡزِيُّونَ بِأَعۡمَالِهِمۡ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿لِيَجۡزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجۡزِيَ الَّذِينَ أَحۡسَنُوا بِالۡحُسۡنَى﴾ [سورة النجم: ٣١]؛ وَمَنۡ كَذَّبَ بِالۡبَعۡثِ كَفَرَ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَن لَّن يُبۡعَثُوا۟ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡ وَذَ‌ٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ﴾ [سورة التغابن، الآية: ٧].
Ketika beliau menetap di Madinah, beliau diperintah dengan syariat-syariat Islam yang lain, seperti zakat, puasa, haji, jihad, adzan, amar ma'ruf nahi mungkar, dan syariat Islam yang lain. 
Hal itu berlangsung selama 10 tahun, kemudian beliau shalawatullah wa salamuhu 'alaihi diwafatkan, dan agamanya tetap ada. Dan inilah agamanya. Tidak ada kebaikan kecuali beliau telah menunjukkan umat kepadanya. Tidak ada pula kejelekan kecuali beliau telah memperingatkan umat darinya. Dan kebaikan yang telah beliau tunjukkan adalah tauhid dan seluruh apa yang Allah cintai dan ridhai. Adapun kejelekan yang telah beliau peringatkan darinya adalah syirik dan seluruh apa yang Allah benci dan tidak menyukainya. Allah mengutus beliau kepada manusia seluruhnya dan Allah mewajibkan dua jenis makhluk – jin dan manusia – untuk mentaati beliau. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala, 
قُلۡ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا 
Katakanlah: “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. Al-A'raf: 158). 
Dan Allah telah menyempurnakan agama melalui beliau. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala, 
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينًا 
Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kalian, dan Aku telah meridhai Islam sebagai agama bagi kalian. (QS. Al-Ma`idah: 3). 
Dalil atas kematian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah firman Allah ta'ala, 
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ ۝٣٠ ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ عِندَ رَبِّكُمۡ تَخۡتَصِمُونَ 
Sesungguhnya engkau akan meninggal dan sesungguhnya mereka juga akan meninggal. Kemudian sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Rabb kalian. (QS. Az-Zumar: 30-31). 
Manusia jika telah meninggal, kelak akan dibangkitkan. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala, 
مِنۡهَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ وَفِيهَا نُعِيدُكُمۡ وَمِنۡهَا نُخۡرِجُكُمۡ تَارَةً أُخۡرَىٰ 
Kami telah menciptakan kalian dari tanah, dan Kami akan mengembalikan kalian ke dalam tanah. Dan kelak Kami akan mengeluarkan kalian darinya pada kali yang lain. (QS. Thaha: 55). Dan firman Allah ta'ala, 
وَٱللَّهُ أَنۢبَتَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ نَبَاتًا ۝١٧ ثُمَّ يُعِيدُكُمۡ فِيهَا وَيُخۡرِجُكُمۡ إِخۡرَاجًا 
Allah yang menumbuhkan kalian dari tanah ini dengan sebaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalamnya dan benar-benar akan mengeluarkan kalian. (QS. Nuh: 17-18). 
Dan setelah dibangkitkan, manusia akan dihisab dan dibalas amalan-amalan mereka. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala, 
لِيَجۡزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجۡزِيَ الَّذِينَ أَحۡسَنُوا بِالۡحُسۡنَى 
Agar Allah membalas orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan dengan balasan yang paling baik (surga). (QS. An-Najm: 31). Barangsiapa yang mendustakan kebangkitan, maka dia kafir. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala, 
زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَن لَّن يُبۡعَثُوا۟ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡ وَذَ‌ٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ 
Orang-orang kafir menyangka bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, bahkan demi Rabbku, sungguh kalian akan dibangkitkan dan akan diberitakan apa yang telah kalian kerjakan. Dan hal itu sangat mudah bagi Allah. (QS. At-Taghabun: 7).

Shahih Muslim hadits nomor 490

٤٤ – بَابُ أَعۡضَاءِ السُّجُودِ وَالنَّهۡيِ عَنۡ كَفِّ الشَّعۡرِ وَالثَّوۡبِ وَعَقۡصِ الرَّأۡسِ فِي الصَّلَاةِ 

44. Bab anggota-anggota tubuh sujud dan larangan menahan rambut dan pakaian dan menjalin rambut ketika shalat

٢٢٧ – (٤٩٠) – وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ وَأَبُو الرَّبِيعِ الزَّهۡرَانِيُّ، - قَالَ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ أَبُو الرَّبِيعِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، - عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ، عَنۡ طَاوُسٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ: أُمِرَ النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ يَسۡجُدَ عَلَى سَبۡعَةٍ. وَنُهِيَ أَنۡ يَكُفَّ شَعۡرَهُ وَثِيَابَهُ. 
هَٰذَا حَدِيثُ يَحۡيَىٰ. 
وَقَالَ أَبُو الرَّبِيعِ: عَلَى سَبۡعَةِ أَعۡظُمٍ. وَنُهِيَ أَنۡ يَكُفَّ شَعۡرَهُ وَثِيَابَهُ. الۡكَفَّيۡنِ وَالرُّكۡبَتَيۡنِ وَالۡقَدَمَيۡنِ وَالۡجَبۡهَةِ. 
227. (490). Yahya bin Yahya dan Abur Rabi' Az-Zahrani telah menceritakan kepada kami. Yahya berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Abur Rabi' berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Dinar, dari Thawus, dari Ibnu 'Abbas. Beliau berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diperintah untuk sujud di atas tujuh tulang dan dilarang menahan rambut dan pakaiannya. Ini adalah hadits Yahya. 
Abur Rabi' berkata: di atas tujuh tulang. Dan beliau dilarang untuk menahan rambut dan pakaiannya. Tujuh tulang yaitu dua telapak tangan, dua lutut, dua telapak kaki, dan kening. 
[البخاري: كتاب الأذان، باب السجود على سبعة أعظم، رقم: ٨٠٩]. 
٢٢٨ - (…) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ - وَهُوَ ابۡنُ جَعۡفَرٍ -: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ، عَنۡ طَاوُسٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (أُمِرۡتُ أَنۡ أَسۡجُدَ عَلَى سَبۡعَةِ أَعۡظُمٍ. وَلَا أَكُفَّ ثَوۡبًا وَلَا شَعۡرًا). 
228. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Muhammad – yaitu ibnu Ja'far – menceritakan kepada kami: Syu'bah menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Dinar, dari Thawus, dari Ibnu 'Abbas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Aku diperintah agar sujud di atas tujuh tulang dan agar tidak menahan pakaian dan rambut.” 
٢٢٩ - (…) - حَدَّثَنَا عَمۡرٌو النَّاقِدُ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ ابۡنِ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: أُمِرَ النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ يَسۡجُدَ عَلَى سَبۡعٍ. وَنُهِيَ أَنۡ يَكۡفِتَ الشَّعۡرَ وَالثِّيَابَ
229. 'Amr An-Naqid telah menceritakan kepada kami: Sufyan bin 'Uyainah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu 'Abbas: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diperintah agar sujud di atas tujuh tulang dan dilarang menahan rambut dan pakaian. 
٢٣٠ - (…) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا بَهۡزٌ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ طَاوُسٍ، عَنۡ طَاوُسٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أُمِرۡتُ أَنۡ أَسۡجُدَ عَلَى سَبۡعَةِ أَعۡظُمٍ: الۡجَبۡهَةِ - وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنۡفِهِ -، وَالۡيَدَيۡنِ، وَالرِّجۡلَيۡنِ، وَأَطۡرَافِ الۡقَدَمَيۡنِ. وَلَا نَكۡفِتَ الثِّيَابَ وَلَا الشَّعۡرَ). 
230. Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami: Bahz menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: 'Abdullah bin Thawus menceritakan kepada kami, dari Thawus, dari Ibnu 'Abbas: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintah agar sujud di atas tujuh tulang: kening – dan beliau menunjuk pada hidungnya -, dua tangan, dua kaki, dan jari-jemari kedua telapak kaki dan agar tidak menahan pakaian dan rambut.” 
٢٣١ - (…) - حَدَّثَنَا أَبُو الطَّاهِرِ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ وَهۡبٍ: حَدَّثَنِي ابۡنُ جُرَيۡجٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أُمِرۡتُ أَنۡ أَسۡجُدَ عَلَى سَبۡعٍ وَلَا أَكۡفِتَ الشَّعۡرَ وَلَا الثِّيَابَ: الۡجَبۡهَةِ وَالۡأَنۡفِ، وَالۡيَدَيۡنِ، وَالرُّكۡبَتَيۡنِ، وَالۡقَدَمَيۡنِ). 
231. Abu Ath-Thahir telah menceritakan kepada kami: 'Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij menceritakan kepadaku, dari 'Abdullah bin Thawus, dari ayahnya, dari 'Abdullah bin 'Abbas: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintah agar sujud di atas tujuh tulang dan agar tidak menahan rambut dan pakaian: Kening dan hidung, dua tangan, dua lutut, dua telapak kaki.”