٣٥٤٨ - [هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ]:
هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ بۡنِ عَبۡدِ شَمۡسِ بۡنِ عَبۡدِ
مَنَافٍ، أُمُّ مُعَاوِيَةَ؛ أَسۡلَمَتۡ عَامَ الۡفَتۡحِ بَعۡدَ إِسۡلَامِ
زَوۡجِهَا أَبِي سُفۡيَانَ بۡنِ حَرۡبٍ، فَأَقَرَّهُمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى
نِكَاحِهِمَا، وَكَانَتِ امۡرَأَةً فِيمَا ذَكَرَهُ لَهَا نَفۡسٌ وَأَنَفَةٌ،
شَهِدَتۡ أُحُدًا كَافِرَةً مَعَ زَوۡجِهَا أَبِي سُفۡيَانَ بۡنِ حَرۡبٍ،
وَكَانَتۡ تَقُولُ يَوۡمَ أُحُدٍ:
نَحۡنُ بَنَاتُ طَارِقۡ نَمۡشِي عَلَى النَّمَارِقۡ
وَالۡمِسۡكُ فِي الۡمَفَارِقۡ وَالدُّرُّ فِي الۡمَخَانِقۡ
إِنۡ تُقۡبِلُوا نُعَانِقۡ وَنَفۡرِشِ النَّمَارِقۡ
أَوۡ تُدۡبِرُوا نُفَارِقۡ فِرَاقَ غَيۡرِ وَامِقۡ
Hind binti Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf, Umu Mu’awiyah. Dia
masuk Islam pada tahun penaklukan Makkah setelah keislaman suaminya, Abu
Sufyan bin Harb. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menetapkan keduanya
tetap dalam pernikahan mereka. Dia adalah seorang wanita, menurut apa yang
disebutkan, memiliki harga diri dan kehormatan yang tinggi. Dia menghadiri
perang Uhud dalam keadaan kafir bersama suaminya, Abu Sufyan bin Harb. Pada
hari Uhud, dia melantunkan syair:
Kami adalah putri-putri bintang thariq,kami berjalan di atas hamparan permadani.Minyak kasturi ada di belahan rambut,dan mutiara ada di kalung leher.Jika kalian maju menghadapi musuh, kami akan memeluk erat,dan kami bentangkan permadani.Namun jika kalian mundur melarikan diri, kami akan berpisah,perpisahan tanpa ada rasa cinta lagi.
قَالَ الزُّبَيۡرُ: سَمِعۡتُ يَحۡيَى بۡنَ عَبۡدِ الۡمَلِكِ الۡهُدَيۡرِيَّ -
وَقَدۡ ذَكَرَ قَوۡلَ هِنۡدٍ يَوۡمَ أُحُدٍ، * نَحۡنُ بَنَاتُ طَارِقۡ *
فَقَالَ: أَرَادَتۡ: نَحۡنُ بَنَاتُ النَّجۡمِ، مِنۡ قَوۡلِهِ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَمَا أَدۡرَاكَ مَا الطَّارِقُ النَّجۡمُ
الثَّاقِبُ﴾ [الطارق: ١-٣]، تَقُولُ: نَحۡنُ بَنَاتُ النَّجۡمِ.
Az-Zubair berkata: Aku mendengar Yahya bin ‘Abdul Malik Al-Hudairi—ketika
menyebutkan perkataan Hind pada hari Uhud Kami adalah putri-putri thariq—lalu
dia berkata: Yang dimaksud oleh Hind adalah: “Kami adalah putri-putri
bintang,” diambil dari firman Allah taala: “Demi langit dan yang datang pada
malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? Yaitu bintang
yang cahayanya menembus.” (QS At-Tariq: 1-3). Dia bermaksud mengatakan: Kami
adalah putri-putri bintang.
قَالَ أَبُو عُمَرَ: قَالُوا: فَلَمَّا قُتِلَ حَمۡزَةُ وَثَبَتۡ عَلَيۡهِ
فَمَثَّلَتۡ بِهِ، وَشَقَّتۡ بَطۡنَهُ، وَاسۡتَخۡرَجَتۡ كَبِدَهُ فَشَوَتۡ
مِنۡهُ وَأَكَلَتۡ فِيمَا يُقَالُ؛ لِأَنَّهُ كَانَ قَدۡ قَتَلَ أَبَاهَا
يَوۡمَ بَدۡرٍ. وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّ الَّذِي مَثَّلَ بِحَمۡزَةَ بۡنِ عَبۡدِ
الۡمُطَّلِبِ مُعَاوِيَةُ بۡنُ الۡمُغِيرَةِ بۡنِ أَبِي الۡعَاصِ بۡنِ
أُمَيَّةَ، وَقَتَلَهُ النَّبِيُّ ﷺ صَبۡرًا مُنۡصَرَفَهُ مِنۡ أُحُدٍ فِيمَا
ذَكَرَ الزُّبَيۡرُ، ثُمَّ خَتَمَ اللهُ لَهَا بِالۡإِسۡلَامِ، فَأَسۡلَمَتۡ
يَوۡمَ الۡفَتۡحِ،
Abu ‘Umar berkata: Mereka mengatakan: Ketika Hamzah gugur, Hind melompat ke
jasadnya lalu memutilasinya, membelah perutnya, dan mengeluarkan hatinya,
kemudian dia membakarnya lalu memakannya berdasarkan apa yang dikatakan
orang-orang, karena Hamzah telah membunuh ayah Hind pada hari Badr. Namun ada
pula yang mengatakan: Sesungguhnya orang yang memutilasi Hamzah bin ‘Abdul
Muththalib adalah Mu’awiyah bin Al-Mughirah bin Abu Al-‘Ash bin Umayyah, dan
Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membunuh Mu’awiyah bin Al-Mughirah
dengan cara dieksekusi sekembalinya beliau dari Uhud menurut apa yang
disebutkan oleh Az-Zubair. Kemudian Allah mengakhiri jalan hidup Hind dengan
Islam, sehingga dia masuk Islam pada hari penaklukan Makkah.
فَلَمَّا أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡبَيۡعَةَ عَلَى النِّسَاءِ - وَمِنَ
الشَّرۡطِ فِيهَا (أَلَّا يَسۡرِقۡنَ وَلَا يَزۡنِينَ - قَالَتۡ لَهُ هِنۡدُ
بِنۡتُ عُتۡبَةَ: وَهَلۡ تَزۡنِي الۡحُرَّةُ وَتَسۡرِقُ يَا رَسُولَ اللهِ؟
فَلَمَّا قَالَ: (وَلَا يَقۡتُلۡنَ أَوۡلَادَهُنَّ). قَالَتۡ: قَدۡ
رَبَّيۡنَاهُمۡ صِغَارًا وَقَتَلۡتَهُمۡ أَنۡتَ بِبَدۡرٍ كِبَارًا - أَوۡ
نَحۡوُ هٰذَا مِنَ الۡقَوۡلِ، وَشَكَتۡ إِلَى رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنَّ زَوۡجَهَا
أَبَا سُفۡيَانَ لَا يُعۡطِيهَا مِنَ الطَّعَامِ مَا يَكۡفِيهَا وَوَلَدَهَا.
فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: خُذِي مِنۡ مَالِهِ بِالۡمَعۡرُوفِ مَا
يَكۡفِيكِ أَنۡتِ وَوَلَدَكِ).
Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengambil baiat dari para
wanita—yang di antara syaratnya adalah mereka tidak boleh mencuri dan tidak
boleh berzina—, Hind binti ‘Utbah berkata kepada beliau, “Apakah mungkin
seorang wanita merdeka berzina dan mencuri, wahai Rasulullah?”
Ketika beliau menyampaikan syarat: “Dan janganlah mereka membunuh anak-anak
mereka,” Hind berkata, “Kami telah membesarkan mereka sejak kecil, lalu engkau
membunuh mereka di Badr setelah mereka dewasa”—atau ucapan yang semisal itu.
Dia juga mengadu kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa
suaminya, Abu Sufyan, tidak memberinya makanan yang mencukupi untuk dirinya
dan anaknya. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya,
“Ambillah dari hartanya dengan cara yang makruf apa yang mencukupi untukmu dan
anakmu.”
وَتُوفِيَتۡ هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ فِي خِلَافَةِ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ
فِي الۡيَوۡمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَبُو قُحَافَةَ وَالِدُ أَبِي بَكۡرٍ
الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا.
Hind binti ‘Utbah wafat pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Al-Khaththab, tepat
pada hari wafatnya
Abu Quhafah, ayah dari Abu Bakr Ash-Shiddiq—radhiyallahu ‘anhuma.