Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5364

٩ - بَابٌ إِذَا لَمۡ يُنۡفِقِ الرَّجُلُ، فَلِلۡمَرۡأَةِ أَنۡ تَأۡخُذَ بِغَيۡرِ عِلۡمِهِ مَا يَكۡفِيهَا وَوَلَدَهَا بِالۡمَعۡرُوفِ 
9. Bab jika seorang suami tidak memberi nafkah, maka istri boleh mengambil harta tanpa sepengetahuannya yang mencukupinya dan anaknya sekadar kebiasaan masyarakat setempat 

٥٣٦٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ هِشَامٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ عَائِشَةَ: أَنَّ هِنۡدَ بِنۡتَ عُتۡبَةَ قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفۡيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، وَلَيۡسَ يُعۡطِينِي مَا يَكۡفِينِي وَوَلَدِي إِلَّا مَا أَخَذۡتُ مِنۡهُ، وَهُوَ لَا يَعۡلَمُ، فَقَالَ: (خُذِي مَا يَكۡفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالۡمَعۡرُوفِ). [طرفه في: ٢٢١١]. 
5364. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Hisyam. Beliau berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah: Bahwa Hind binti ‘Utbah mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang amat kikir dan dia tidak memberiku harta yang dapat mencukupiku dan anakku kecuali harta yang aku ambil darinya tanpa sepengetahuannya.” Nabi bersabda, “Ambillah harta yang mencukupimu dan anakmu sekadar kebiasaan masyarakat setempat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2211

٢٢١١ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: قَالَتۡ هِنۡدٌ أُمُّ مُعَاوِيَةَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ: إِنَّ أَبَا سُفۡيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، فَهَلۡ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنۡ آخُذَ مِنۡ مَالِهِ سِرًّا؟ قَالَ: (خُذِي أَنۡتِ وَبَنُوكِ مَا يَكۡفِيكِ بِالۡمَعۡرُوفِ). [الحديث ٢٢١١ – أطرافه في: ٢٤٦٠، ٣٨٢٥، ٥٣٥٩، ٥٣٦٤، ٥٣٧٠، ٦٦٤١، ٧١٦١، ٧١٨٠]. 
2211. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Hind Ummu Mu’awiyah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah lelaki yang kikir, apakah aku berdosa jika aku mengambil sebagian hartanya dengan sembunyi-sembunyi?” Nabi bersabda, “Ambillah olehmu dan anak-anakmu yang mencukupimu sesuai kebiasaan masyarakat setempat.”

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 783

٦٦ - بَابُ مَا جَاءَ فِي تَأۡخِيرِ قَضَاءِ رَمَضَانَ 
66. Bab riwayat tentang menunda kada puasa Ramadan 

٧٨٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ السُّدِّيِّ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ الۡبَهِيِّ، عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: مَا كُنۡتُ أَقۡضِي مَا يَكُونُ عَلَيَّ مِنۡ رَمَضَانَ إِلَّا فِي شَعۡبَانَ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ. هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَقَدۡ رَوَى يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَنۡصَارِيُّ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ، نَحۡوَ هَٰذَا. [(الإرواء)(٩٤٤)، (الروض النضير)(٧٦٣)، (صحيح أبي داود)(٢٠٧٦)، (تمام المنة): ق]. 
783. Qutaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Isma’il As-Suddi, dari ‘Abdullah Al-Bahi, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Aku dahulu tidak bisa mengada utang puasa Ramadanku kecuali di bulan Syakban, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Ini adalah hadis hasan sahih. Yahya bin Sa’id Al-Anshari telah meriwayatkan dari Abu Salamah, dari ‘Aisyah semisal hadis ini.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2399

٤٠ - بَابُ تَأۡخِيرِ قَضَاءِ رَمَضَانَ 
40. Bab menunda kada puasa Ramadan 

٢٣٩٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ الۡقَعۡنَبِيُّ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ [رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا] تَقُولُ: إِنۡ كَانَ لَيَكُونُ عَلَيَّ الصَّوۡمُ مِنۡ رَمَضَانَ فَمَا أَسۡتَطِيعُ أَنۡ أَقۡضِيَهُ حَتَّى يَأۡتِيَ شَعۡبَانُ. [ق]. 
2399. ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Yahya bin Sa’id, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Dahulu, aku memiliki tanggungan puasa Ramadan, namun aku tidak mampu mengadanya sampai bulan Syakban datang.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5201

٩٢ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَى بَعۡضٍ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا﴾ [النساء: ٣٤] 
92. Bab firman Allah taala (yang artinya), “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita),” sampai firman-Nya, “Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa`: 34) 

٥٢٠١ - حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ مَخۡلَدٍ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي حُمَيۡدٌ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: آلَى رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنۡ نِسَائِهِ شَهۡرًا، وَقَعَدَ فِي مَشۡرُبَةٍ لَهُ، فَنَزَلَ لِتِسۡعٍ وَعِشۡرِينَ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ آلَيۡتَ عَلَى شَهۡرٍ؟ قَالَ: (إِنَّ الشَّهۡرَ تِسۡعٌ وَعِشۡرُونَ). [طرفه في: ٣٧٨]. 
5201. Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami: Sulaiman menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Humaid menceritakan kepadaku dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah untuk tidak masuk menemui para istrinya selama satu bulan. Beliau tinggal di kamar yang tinggi beliau, lalu beliau turun setelah dua puluh sembilan hari. Maka ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah bersumpah tidak menemui para istri selama satu bulan?” Nabi bersabda, “Sesungguhnya bulan ini dua puluh sembilan hari.”