Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5975

٦ - بَابٌ عُقُوقُ الۡوَالِدَيۡنِ مِنَ الۡكَبَائِرِ
6. Bab durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar


قَالَهُ ابۡنُ عَمۡرٍو عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Ibnu ‘Amr mengatakannya, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

٥٩٧٥ - حَدَّثَنَا سَعۡدُ بۡنُ حَفۡصٍ: حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ وَرَّادٍ، عَنِ الۡمُغِيرَةِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيۡكُمۡ عُقُوقَ الۡأُمَّهَاتِ، وَمَنۡعَ وَهَاتِ، وَوَأۡدَ الۡبَنَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمۡ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثۡرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الۡمَالِ). [طرفه في: ٨٤٤].

5975. Sa’d bin Hafsh telah menceritakan kepada kami: Syaiban menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Al-Musayyab, dari Warrad, dari Al-Mughirah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan kalian durhaka kepada ibu, menahan (yang wajib kalian berikan) dan meminta (yang bukan hak kalian), mengubur anak perempuan hidup-hidup. Allah membenci atas kalian: qila wa qala (larut dalam pembicaraan yang tidak ada faedahnya), banyak bertanya/meminta (tanpa hajat), dan menyia-nyiakan harta.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5974

٥ - بَابُ إِجَابَةِ دُعَاءِ مَنۡ بَرَّ وَالِدَيۡهِ
5. Bab ijabahnya doa orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya


٥٩٧٤ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ عُقۡبَةَ قَالَ: أَخۡبَرَنِي نَافِعٌ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ:

5974. Sa’id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ibrahim bin ‘Uqbah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Nafi’ mengabarkan kepadaku dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda,

(بَيۡنَمَا ثَلَاثَةُ نَفَرٍ يَتَمَاشَوۡنَ أَخَذَهُمُ الۡمَطَرُ، فَمَالُوا إِلَى غَارٍ فِي الۡجَبَلِ، فَانۡحَطَّتۡ عَلَى فَمِ غَارِهِمۡ صَخۡرَةٌ مِنَ الۡجَبَلِ فَأَطۡبَقَتۡ عَلَيۡهِمۡ، فَقَالَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ: انۡظُرُوا أَعۡمَالًا عَمِلۡتُمُوهَا لِلهِ صَالِحَةً، فَادۡعُوا اللهَ بِهَا لَعَلَّهُ يَفۡرُجُهَا،

Ketika ada tiga orang sedang berjalan-jalan bersama, hujan turun. Mereka berteduh ke sebuah gua di gunung. Sebuah batu besar dari gunung jatuh di depan mulut gua dan menutup jalan keluar mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lain, “Ingat-ingatlah amalan-amalan saleh yang pernah kalian lakukan untuk Allah lalu berdoalah kepada Allah dengan menyebutnya semoga Allah membuka celah gua ini!”

فَقَالَ أَحَدُهُمُ: اللّٰهُمَّ إِنَّهُ كَانَ لِي وَالِدَانِ شَيۡخَانِ كَبِيرَانِ، وَلِي صِبۡيَةٌ صِغَارٌ، كُنۡتُ أَرۡعَى عَلَيۡهِمۡ، فَإِذَا رُحۡتُ عَلَيۡهِمۡ فَحَلَبۡتُ بَدَأۡتُ بِوَالِدَىَّ أَسۡقِيهِمَا قَبۡلَ وَلَدِي، وَإِنَّهُ نَأَى بِيَ الشَّجَرُ، فَمَا أَتَيۡتُ حَتَّى أَمۡسَيۡتُ فَوَجَدۡتُهُمَا قَدۡ نَامَا، فَحَلَبۡتُ كَمَا كُنۡتُ أَحۡلُبُ، فَجِئۡتُ بِالۡحِلَابِ فَقُمۡتُ عِنۡدَ رُءُوسِهِمَا، أَكۡرَهُ أَنۡ أُوقِظَهُمَا مِنۡ نَوۡمِهِمَا، وَأَكۡرَهُ أَنۡ أَبۡدَأَ بِالصِّبۡيَةِ قَبۡلَهُمَا، وَالصِّبۡيَةُ يَتَضَاغَوۡنَ عِنۡدَ قَدَمَيَّ، فَلَمۡ يَزَلۡ ذٰلِكَ دَأۡبِي وَدَأۡبَهُمۡ حَتَّى طَلَعَ الۡفَجۡرُ، فَإِنۡ كُنۡتَ تَعۡلَمُ أَنِّي فَعَلۡتُ ذٰلِكَ ابۡتِغَاءَ وَجۡهِكَ فَافۡرُجۡ لَنَا فُرۡجَةً نَرَى مِنۡهَا السَّمَاءَ. فَفَرَجَ اللهُ لَهُمۡ فُرۡجَةً حَتَّى يَرَوۡنَ مِنۡهَا السَّمَاءَ.

Salah seorang mereka berkata, “Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku memiliki dua orang tua yang sudah tua renta dan aku memiliki anak-anak yang masih kecil. Dulu aku mencari nafkah untuk mereka dengan menggembala. Ketika aku pulang di sore hari, aku memerah susu. Aku mendahulukan memberi minum kedua orang tuaku sebelum anak-anakku. Pohon tempat penggembalaanku jauh jaraknya. Pernah aku pulang hingga sore hari dan aku dapati mereka berdua sudah tidur. Aku memerah susu seperti biasa lalu aku datang membawanya dan berdiri di dekat kepala mereka berdua. Aku tidak suka untuk membangunkan dari tidur mereka dan aku tidak suka untuk mendahulukan anak-anak sebelum mereka berdua, sedangkan anak-anakku berteriak merengek di kedua kakiku. Keadaanku dan keadaan mereka terus demikian sampai fajar terbit. Ya Allah, kalau Engkau tahu bahwa aku melakukan hal tersebut dalam rangka mengharap wajah-Mu, maka bukalah untuk kami sebuah celah agar kami bisa melihat langit.”

Maka Allah membuka celah untuk mereka sehingga mereka bisa melihat langit.

وَقَالَ الثَّانِي: اللّٰهُمَّ إِنَّهُ كَانَتۡ لِي ابۡنَةُ عَمٍّ أُحِبُّهَا كَأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرِّجَالُ النِّسَاءَ، فَطَلَبۡتُ إِلَيۡهَا نَفۡسَهَا، فَأَبَتۡ حَتَّى آتِيَهَا بِمِائَةِ دِينَارٍ، فَسَعَيۡتُ حَتَّى جَمَعۡتُ مِائَةَ دِينَارٍ فَلَقِيتُهَا بِهَا، فَلَمَّا قَعَدۡتُ بَيۡنَ رِجۡلَيۡهَا، قَالَتۡ: يَا عَبۡدَ اللهِ اتَّقِ اللهَ، وَلَا تَفۡتَحِ الۡخَاتَمَ إِلَّا بِحَقِّهِ. فَقُمۡتُ عَنۡهَا، اللّٰهُمَّ فَإِنۡ كُنۡتَ تَعۡلَمُ أَنِّي قَدۡ فَعَلۡتُ ذٰلِكَ ابۡتِغَاءَ وَجۡهِكَ فَافۡرُجۡ لَنَا مِنۡهَا، فَفَرَجَ لَهُمۡ فُرۡجَةً.

Orang kedua berkata:

Ya Allah, dahulu aku memiliki seorang sepupu wanita yang aku cintai seperti seorang lelaki yang sangat cinta kepada seorang wanita. Aku mengajukan keinginanku kepadanya, namun dia tidak mau sampai aku membawakan seratus dinar kepadanya. Aku pun mengupayakannya hingga aku berhasil mengumpulkan seratus dinar. Aku menemui wanita itu dengan membawanya.

Tatkala aku telah duduk di antara dua kakinya, dia berkata, “Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah! Janganlah engkau membuka cincin itu kecuali dengan haknya!”

Aku pun langsung bangkit dan meninggalkannya.

Ya Allah, kalau Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena mengharap wajah-Mu, bukakanlah untuk kami celah.

Maka Allah membukakan celah untuk mereka.

وَقَالَ الۡآخَرُ: اللّٰهُمَّ إِنِّي كُنۡتُ اسۡتَأۡجَرۡتُ أَجِيرًا بِفَرَقِ أَرُزٍّ، فَلَمَّا قَضَى عَمَلَهُ قَالَ: أَعۡطِنِي حَقِّي، فَعَرَضۡتُ عَلَيۡهِ حَقَّهُ فَتَرَكَهُ وَرَغِبَ عَنۡهُ، فَلَمۡ أَزَلۡ أَزۡرَعُهُ حَتَّى جَمَعۡتُ مِنۡهُ بَقَرًا وَرَاعِيَهَا، فَجَاءَنِي فَقَالَ: اتَّقِ اللهَ وَلَا تَظۡلِمۡنِي وَأَعۡطِنِي حَقِّي، فَقُلۡتُ: اذۡهَبۡ إِلَى ذٰلِكَ الۡبَقَرِ وَرَاعِيهَا، فَقَالَ: اتَّقِ اللهَ وَلَا تَهۡزَأۡ بِي، فَقُلۡتُ: إِنِّي لَا أَهۡزَأُ بِكَ، فَخُذۡ ذٰلِكَ الۡبَقَرَ وَرَاعِيَهَا، فَأَخَذَهُ فَانۡطَلَقَ بِهَا، فَإِنۡ كُنۡتَ تَعۡلَمُ أَنِّي فَعَلۡتُ ذٰلِكَ ابۡتِغَاءَ وَجۡهِكَ، فَافۡرُجۡ مَا بَقِيَ، فَفَرَجَ اللهُ عَنۡهُمۡ). [طرفه في: ٢٢١٥].

Orang terakhir berkata:

Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku menyewa seorang pekerja dengan upah satu faraq beras. Ketika dia telah menyelesaikan pekerjaannya, dia berkata, “Berikan hakku!”

Namun aku menolak memberikan haknya sehingga dia meninggalkannya dalam keadaan benci. Setelah itu, aku terus membudidayakan upahnya hingga aku bisa mengumpulkan sapi-sapi dan penggembalanya dari hasil itu.

Kemudian, mantan pekerja itu datang lagi kepadaku seraya berkata, “Takutlah kepada Allah! Jangan engkau zalimi aku! Berikan hakku!”

Aku berkata, “Pergilah ke sapi-sapi dan penggembala itu!”

Mantan pekerja itu berkata, “Takutlah kepada Allah dan jangan mengejekku!”

Aku berkata, “Aku tidak mengejekmu. Ambillah sapi-sapi itu dan penggembalanya!”

Dia pun mengambilnya dan membawanya pergi. Jika Engkau tahu bahwa aku melakukan hal itu dalam rangka mengharap wajah-Mu, bukakan celah yang tersisa.

Allah pun membuka jalan keluar untuk mereka.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5970

١ - بَابُ الۡبِرِّ وَالصِّلَةِ وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَوَصَّيۡنَا الۡإِنۡسَانَ بِوَالِدَيۡهِ حُسۡنًا﴾ [العنكبوت: ٨]
1. Bab berbakti dan menyambung hubungan; dan bab firman Allah taala, “Kami wajibkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-‘Ankabut: 8)


٥٩٧٠ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: الۡوَلِيدُ بۡنُ عَيۡزَارٍ أَخۡبَرَنِي قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا عَمۡرٍو الشَّيۡبَانِيَّ يَقُولُ: أَخۡبَرَنَا صَاحِبُ هَٰذِهِ الدَّارِ، وَأَوۡمَأَ بِيَدِهِ إِلَى دَارِ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: سَأَلۡتُ النَّبِيَّ ﷺ: أَىُّ الۡعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: (الصَّلَاةُ عَلَى وَقۡتِهَا). قَالَ: ثُمَّ أَىُّ؟ قَالَ: (ثُمَّ بِرُّ الۡوَالِدَيۡنِ)، قَالَ: ثُمَّ أَىُّ؟ قَالَ: (الۡجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ). قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسۡتَزَدۡتُهُ لَزَادَنِي. [طرفه في: ٥٢٧].

5970. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-Walid bin ‘Aizar mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar Abu ‘Amr Asy-Syaibani berkata: Pemilik rumah ini mengabarkan kepada kami. Beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke rumah ‘Abdullah.

Beliau mengatakan: Aku bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Amalan apa yang paling Allah cintai?”

Nabi menjawab, “Salat pada waktunya.”

‘Abdullah bertanya, “Kemudian apa?”

Nabi menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.”

‘Abdullah bertanya, “Kemudian apa?”

Nabi menjawab, “Jihad di jalan Allah.”

‘Abdullah berkata: Nabi menceritakan amalan-amalan itu kepadaku. Andai aku minta tambahan kepada beliau, tentu beliau akan memberi tambahan kepadaku.

Shahih Muslim hadits nomor 2548

١ - بَابُ بِرِّ الۡوَالِدَيۡنِ وَأَنَّهُمَا أَحَقُّ بِهِ
1. Bab bakti kepada kedua orang tua dan bahwa keduanya paling berhak mendapatkannya


١ – (٢٥٤٨) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدِ بۡنِ جَمِيلِ بۡنِ طَرِيفٍ الثَّقَفِيُّ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ الۡقَعۡقَاعِ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: مَنۡ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسۡنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: (أُمُّكَ)، قَالَ: ثُمَّ مَنۡ؟ قَالَ: (ثُمَّ أُمُّكَ)، قَالَ: ثُمَّ مَنۡ؟ قَالَ: (ثُمَّ أُمُّكَ)، قَالَ: ثُمَّ مَنۡ؟ قَالَ: (ثُمَّ أَبُوكَ).

وَفِي حَدِيثِ قُتَيۡبَةَ: مَنۡ أَحَقُّ بِحُسۡنِ صَحَابَتِي؟ وَلَمۡ يَذۡكُرِ النَّاسَ.

[البخاري: كتاب الأدب، باب من أحق الناس بحسن الصحبة، رقم: ٥٩٧١].

1. (2548). Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Thaqif Ats-Tsaqafi dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari ‘Umarah bin Al-Qa’qa’, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan:

Seseorang mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya bertanya, “Siapa orang yang paling berhak kupergauli dengan baik?”

Rasulullah menjawab, “Ibumu.”

Orang itu bertanya, “Kemudian siapa?”

Beliau menjawab, “Kemudian ibumu.”

Orang itu bertanya, “Kemudian siapa?”

Beliau menjawab, “Kemudian ibumu.”

Orang itu bertanya, “Kemudian siapa?”

Beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.”

Di dalam hadis Qutaibah, redaksinya “Siapa yang paling berhak kupergauli dengan baik?” Beliau tidak menyebutkan “orang”.

٢ – (...) - حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ، مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ الۡهَمۡدَانِيُّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ فُضَيۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ الۡقَعۡقَاعِ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنۡ أَحَقُّ بِحُسۡنِ الصُّحۡبَةِ؟ قَالَ: (أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أَبُوكَ، ثُمَّ أَدۡنَاكَ أَدۡنَاكَ).

2. Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Ala` Al-Hamdani telah menceritakan kepada kami: Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Umarah bin Al-Qa’qa’, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak mendapat pergaulan yang baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian kerabat yang terdekat denganmu, dan seterusnya.”

٣ – (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنۡ عُمَارَةَ وَابۡنِ شُبۡرُمَةَ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ. قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَىٰ النَّبِيِّ ﷺ... فَذَكَرَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ جَرِيرٍ. وَزَادَ: فَقَالَ: (نَعَمۡ، وَأَبِيكَ، لَتُنَبَّأَنَّ).

3. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Syarik menceritakan kepada kami dari ‘Umarah dan Ibnu Syubrumah, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Seseorang mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—…, lalu beliau menyebutkan semisal hadis Jarir. Beliau menambahkan: Lalu Nabi bersabda, “Ya, sungguh akan aku beritakan kepadamu.”

٤ – (...) - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا شَبَابَةُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ طَلۡحَةَ. (ح) وَحَدَّثَنِي أَحۡمَدُ بۡنُ خِرَاشٍ: حَدَّثَنَا حَبَّانُ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ. كِلَاهُمَا عَنِ ابۡنِ شُبۡرُمَةَ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ.

فِي حَدِيثِ وُهَيۡبٍ: مَنۡ أَبَرُّ؟.

وَفِي حَدِيثِ مُحَمَّدِ بۡنِ طَلۡحَةَ: أَىُّ النَّاسِ أَحَقُّ مِنِّي بِحُسۡنِ الصُّحۡبَةِ؟ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ جَرِيرٍ.

4. Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepadaku: Syababah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Thalhah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ahmad bin Khirasy telah menceritakan kepadaku: Habban menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Ibnu Syubrumah melalui sanad ini.

Di dalam hadis Wuhaib, “Kepada siapa aku berbakti?”

Di dalam hadis Muhammad bin Thalhah, “Siapa orang yang paling berhak mendapatkan pergaulan baik dariku?” Kemudian beliau menyebutkan semisal hadis Jarir.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5971

٢ - بَابُ مَنۡ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسۡنِ الصُّحۡبَةِ
2. Bab orang yang paling berhak dipergauli dengan baik


٥٩٧١ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ الۡقَعۡقَاعِ بۡنِ شُبۡرُمَةَ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنۡ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسۡنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: (أُمُّكَ)، قَالَ: ثُمَّ مَنۡ؟ قَالَ: (أُمُّكَ). قَالَ: ثُمَّ مَنۡ؟ قَالَ: (أُمُّكَ). قَالَ: ثُمَّ مَنۡ؟ قَالَ: (ثُمَّ أَبُوكَ). وَقَالَ ابۡنُ شُبۡرُمَةَ وَيَحۡيَى بۡنُ أَيُّوبَ: حَدَّثَنَا أَبُو زُرۡعَةَ: مِثۡلَهُ.

5971. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari ‘Umarah bin Al-Qa’qa’ bin Syubrumah, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan:

Seseorang mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak kupergauli dengan baik?”

Rasulullah menjawab, “Ibumu.”

Orang tadi bertanya, “Lalu siapa?”

Beliau menjawab, “Ibumu.”

Orang tadi bertanya, “Kemudian siapa?”

Beliau menjawab, “Ibumu.”

Orang itu bertanya, “Lalu siapa?”

Beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.”

Ibnu Syubrumah dan Yahya bin Ayyub berkata: Abu Zur’ah menceritakan kepada kami semisal hadis tersebut.