Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1567, 1568, dan 1569

١٥٦٧ – حَدَّثَنَا آدَمُ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: أَخۡبَرَنَا أَبُو جَمۡرَةَ نَصۡرُ بۡنُ عِمۡرَانَ الضُّبَعِيُّ، قَالَ: تَمَتَّعۡتُ، فَنَهَانِي نَاسٌ، فَسَأَلۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، فَأَمَرَنِي، فَرَأَيۡتُ فِي الۡمَنَامِ كَأَنَّ رَجُلًا يَقُولُ لِي: حَجٌّ مَبۡرُورٌ، وَعُمۡرَةٌ مُتَقَبَّلَةٌ، فَأَخۡبَرۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ، فَقَالَ: سُنَّةُ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ لِي: أَقِمۡ عِنۡدِي فَأَجۡعَلُ لَكَ سَهۡمًا مِنۡ مَالِي، قَالَ شُعۡبَةُ: فَقُلۡتُ: لِمَ؟ فَقَالَ: لِلرُّؤۡيَا الَّتِي رَأَيۡتُ. [الحديث ١٥٦٧ – طرفه في: ١٦٨٨].
1567. Adam telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: Abu Jamrah Nash bin ‘Imran Adh-Dhuba’i mengabarkan kepada kami, beliau mengatakan: Aku melakukan haji tamatuk, namun orang-orang melarangku. Lalu aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau memerintahkanku untuk tetap haji tamatuk. Kemudian aku bermimpi seakan-akan seseorang mengatakan kepadaku: Haji yang mabrur dan umrah yang diterima. Lalu aku kabarkan kepada Ibnu ‘Abbas, lantas beliau mengatakan: Ini adalah sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abbas mengatakan lagi kepadaku: Tetaplah di sisiku, aku akan memberikan sebagian hartaku untukmu. Syu’bah mengatakan: Aku bertanya: Untuk apa? Abu Jamrah menjawab: Untuk mimpi yang telah aku lihat.
١٥٦٨ – حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو شِهَابٍ: قَالَ: قَدِمۡتُ مُتَمَتِّعًا مَكَّةَ بِعُمۡرَةٍ، فَدَخَلۡنَا قَبۡلَ التَّرۡوِيَةِ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، فَقَالَ لِي أُنَاسٌ مِنۡ أَهۡلِ مَكَّةَ: تَصِيرُ الۡآنَ حَجَّتُكَ مَكِّيَّةً، فَدَخَلۡتُ عَلَى عَطَاءٍ أَسۡتَفۡتِيهِ، فَقَالَ: حَدَّثَنِي جَابِرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّهُ حَجَّ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ يَوۡمَ سَاقَ الۡبُدۡنَ مَعَهُ، وَقَدۡ أَهَلُّوا بِالۡحَجِّ مُفۡرَدًا، فَقَالَ لَهُمۡ: (أَحِلُّوا مِنۡ إِحۡرَامِكُمۡ بِطَوَافِ الۡبَيۡتِ وَبَيۡنَ الصَّفَا وَالۡمَرۡوَةِ، وَقَصِّرُوا ثُمَّ أَقِيمُوا حَلَالًا، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوۡمُ التَّرۡوِيَةِ فَأَهِلُّوا بِالۡحَجِّ، وَاجۡعَلُوا الَّتِي قَدِمۡتُمۡ بِهَا مُتۡعَةً). فَقَالُوا: كَيۡفَ نَجۡعَلُهَا مُتۡعَةً، وَقَدۡ سَمَّيۡنَا الۡحَجَّ؟ فَقَالَ: (افۡعَلُوا مَا أَمَرۡتُكُمۡ، فَلَوۡ لَا أَنِّي سُقۡتُ الۡهَدۡيَ لَفَعَلۡتُ مِثۡلَ الَّذِي أَمَرۡتُكُمۡ، وَلَكِنۡ لَا يَحِلُّ مِنِّي حَرَامٌ حَتَّى يَبۡلُغَ الۡهَدۡيُ مَحِلَّهُ). فَفَعَلُوا. قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: أَبُو شِهَابٍ لَيۡسَ لَهُ مُسۡنَدٌ إِلَّا هَٰذَا. [طرفه في: ١٥٥٧].
1568. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Abu Syihab menceritakan kepada kami, beliau mengatakan: Aku berangkat ke Makkah untuk umrah dalam rangka haji tamatuk. Lalu kami masuk Makkah tiga hari sebelum hari tarwiah. Orang-orang penduduk Makkah mengatakan kepadaku: Hajimu sekarang menjadi haji yang dilakukan penduduk Makkah. Aku lalu masuk menemui ‘Atha` untuk meminta fatwa kepada beliau. Beliau mengatakan: Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan kepadaku: Bahwa beliau melakukan haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari saat beliau membawa serta unta. Dan kaum muslimin telah memulai ihram untuk haji saja (haji ifrad). Lantas Nabi bersabda kepada mereka, “Tahalullah dari ihram kalian setelah tawaf di Ka’bah dan sai antara bukit Shafa dan Marwah. Lalu cukurlah rambut kalian kemudian tetaplah dalam keadaan halal (tidak ihram). Sampai apabila sudah hari tarwiah, mulailah kalian ihram untuk haji dan jadikanlah yang telah kalian lalui sebagai haji tamatuk.” Para sahabat bertanya: Bagaimana kami menjadikannya tamatuk, padahal kami telah menyebutnya sebagai haji? Beliau menjawab, “Lakukanlah apa yang aku perintahkan kepada kalian. Seandainya aku tidak membawa hewan hadyu, niscaya aku akan melakukan semisal yang telah aku perintahkan pada kalian. Akan tetapi tidak halal bagiku apa saja yang diharamkan selama ihram sampai hewan hadyu ini sampai tempat penyembelihannya.” Maka, mereka pun melakukannya. Abu ‘Abdullah mengatakan: Abu Syihab tidak memiliki sanad kecuali ini.
١٥٦٩ – حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مُحَمَّدٍ الۡأَعۡوَرُ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ قَالَ: اخۡتَلَفَ عَلِيٌّ وَعُثۡمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، وَهُمَا بِعُسۡفَانَ، فِي الۡمُتۡعَةِ، فَقَالَ عَلِيٌّ: مَا تُرِيدُ إِلَى أَنۡ تَنۡهَى عَنۡ أَمۡرٍ فَعَلَهُ النَّبِيُّ ﷺ، فَلَمَّا رَأَى ذٰلِكَ عَلِيٌّ أَهَلَّ بِهِمَا جَمِيعًا. [طرفه في: ١٥٦٣].
1569. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Hajjaj bin Muhammad Al-A’war menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari ‘Amr bin Murrah, dari Sa’id bin Al-Musayyab, beliau mengatakan: ‘Ali dan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhuma telah berbeda pendapat mengenai haji tamatuk ketika keduanya berada di ‘Usfan. ‘Ali mengatakan: Apa engkau ingin melarang dari perkara yang telah dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ketika ‘Ali melihat pelarangan itu, beliau memulai ihram dengan haji dan umrah sekaligus.