Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2015 dan 2016

٢ – بَابُ الۡتِمَاسِ لَيۡلَةِ الۡقَدۡرِ فِي السَّبۡعِ الۡأَوَاخِرِ
2. Bab mencari lailatulkadar di tujuh malam terakhir

٢٠١٥ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رِجَالًا مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ أُرُوا لَيۡلَةَ الۡقَدۡرِ فِي الۡمَنَامِ فِي السَّبۡعِ الۡأَوَاخِرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَرَى رُؤۡيَاكُمۡ قَدۡ تَوَاطَأَتۡ فِي السَّبۡعِ الۡأَوَاخِرِ، فَمَنۡ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلۡيَتَحَرَّهَا فِي السَّبۡعِ الۡأَوَاخِرِ). [طرفه في: ١١٥٨].
2015. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa beberapa orang lelaki dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi bahwa lailatulkadar adalah di tujuh malam terakhir, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku mengetahui mimpi kalian telah saling bersepakat dalam tujuh malam terakhir, maka siapa saja yang berusaha untuk mendapatkannya, maka hendaknya ia bersungguh-sungguh mendapatkannya pada tujuh malam terakhir.” 
٢٠١٦ – حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ فَضَالَةَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ: سَأَلۡتُ أَبَا سَعِيدٍ، وَكَانَ لِي صَدِيقًا، فَقَالَ: اعۡتَكَفۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ الۡعَشۡرَ الۡأَوۡسَطَ مِنۡ رَمَضَانَ، فَخَرَجَ صَبِيحَةَ عِشۡرِينَ فَخَطَبَنَا، وَقَالَ: (إِنِّي أُرِيتُ لَيۡلَةَ الۡقَدۡرِ، ثُمَّ أُنۡسِيتُهَا – أَوۡ: نُسِّيتُهَا – فَالۡتَمِسُوهَا فِي الۡعَشۡرِ الۡأَوَاخِرِ فِي الۡوَتۡرِ، وَإِنِّي رَأَيۡتُ أَنِّي أَسۡجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ، فَمَنۡ كَانَ اعۡتَكَفَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَلۡيَرۡجِعۡ). فَرَجَعۡنَا وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً، فَجَاءَتۡ سَحَابَةٌ فَمَطَرَتۡ حَتَّى سَالَ سَقۡفُ الۡمَسۡجِدِ، وَكَانَ مِنۡ جَرِيدِ النَّخۡلِ، وَأٌقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَرَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَسۡجُدُ فِي الۡمَاءِ وَالطِّينِ حَتَّى رَأَيۡتُ أَثَرَ الطِّينِ فِي جَبۡهَتِهِ. [طرفه في: ٦٦٩].
2016. Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami, dari Yahya, dari Abu Salamah, beliau mengatakan: Aku bertanya kepada Abu Sa’id, beliau adalah temanku. Beliau mengatakan: Kami pernah iktikaf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadan. Beliau keluar pada pagi hari kedua puluh, lalu berkhotbah kepada kami, beliau bersabda, “Sesungguhnya aku telah diperlihatkan lailatulkadar (dalam mimpi), kemudian aku dibuat lupa (kepastian waktunya), maka kalian carilah lailatulkadar di sepuluh malam ganjil terakhir. Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku sujud di atas air dan tanah. Sehingga, siapa saja yang telah iktikaf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya ia kembali ke tempat iktikafnya.” Kami pun kembali ke tempat iktikaf dan kami tidak melihat satu awan kecil pun di langit. Tiba-tiba, mendung datang lalu hujan sampai air menetes dari atap masjid. Atap masjid waktu itu terbuat dari pelepah pohon kurma. Lalu salat dilaksanakan. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud di air dan tanah sehingga aku melihat ada bekas tanah di dahi beliau.”