Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5136 dan 5137

٤٢ - بَابٌ لَا يُنۡكِحُ الۡأَبُ وَغَيۡرُهُ الۡبِكۡرَ وَالثَّيِّبَ إِلَّا بِرِضَاهَا
42. Bab seorang ayah atau wali lainnya tidak boleh menikahkan perawan atau janda kecuali dengan ridanya

٥١٣٦ - حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ فَضَالَةَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ حَدَّثَهُمۡ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا تُنۡكَحُ الۡأَيِّمُ حَتَّى تُسۡتَأۡمَرَ، وَلَا تُنۡكَحُ الۡبِكۡرُ حَتَّى تُسۡتَأۡذَنَ). قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيۡفَ إِذۡنُهَا؟ قَالَ: (أَنۡ تَسۡكُتَ).
[الحديث ٥١٣٦ – طرفاه في: ٦٩٦٨، ٦٩٧٠].
5136. Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami, dari Yahya, dari Abu Salamah: Bahwa Abu Hurairah menceritakan kepada mereka:
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan sehingga ia dimintai pendapat dan seorang perawan tidak boleh dinikahkan sehingga ia dimintai izin.”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bentuk izinnya?”
Beliau menjawab, “Bentuk izinnya adalah ia diam.”
٥١٣٧ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ الرَّبِيعِ بۡنِ طَارِقٍ قَالَ: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ، عَنِ ابۡنِ أَبِي مُلَيۡكَةَ، عَنۡ أَبِي عَمۡرٍو مَوۡلَى عَائِشَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الۡبِكۡرَ تَسۡتَحِي، قَالَ: (رِضَاهَا صَمۡتُهَا).
[الحديث ٥١٣٧ – طرفاه في: ٦٩٤٦، ٦٩٧١].
5137. ‘Amr bin Ar-Rabi’ bin Thariq telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Al-Laits mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Abu ‘Amr maula ‘Aisyah, dari ‘Aisyah, bahwa beliau mengatakan: Wahai Rasulullah, sesungguhnya gadis itu pemalu. Beliau bersabda, “Ridanya adalah diamnya.”