Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3360

٣٣٦٠ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصِ بۡنِ غِيَاثٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ قَالَ: حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمۡ يَلۡبِسُوا إِيمَانَهُمۡ بِظُلۡمٍ﴾ [الأنعام: ٨٢]. قُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّنَا لَا يَظۡلِمُ نَفۡسَهُ؟ قَالَ: (لَيۡسَ كَمَا تَقُولُونَ ﴿لَمۡ يَلۡبِسُوا إِيمَانَهُمۡ بِظُلۡمٍ﴾ بِشِرۡكٍ، أَوَلَمۡ تَسۡمَعُوا إِلَى قَوۡلِ لُقۡمَانَ لِابۡنِهِ: ﴿يَا بُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِاللهِ إِنَّ الشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ﴾؟!) [لقمان: ١٤]. [طرفه في: ٣٢]. 

3360. ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibrahim menceritakan kepadaku dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan: 

Ketika turun ayat yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman,” (QS. Al-An’am: 82), kami bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?” 

Nabi bersabda, “Bukan sebagaimana yang kalian katakan. Tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman artinya adalah dengan kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada putranya: Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya kesyirikan benar-benar kezaliman yang besar. (QS. Luqman: 14).”