Cari Blog Ini

Hak-hak Istri Nabi

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah (wafat 620 H) di dalam kitab Lum'atul I'tiqad berkata,
٢٦ – وَمِنَ السُّنَّةِ التَّرَضِّي عَنۡ أَزۡوَاجِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، أُمَّهَاتِ الۡمُؤۡمِنِينَ الۡمُطَهَّرَاتِ الۡمُبَرَّآتِ مِنۡ كُلِّ سُوءٍ. 
أَفۡضَلُهُنَّ خَدِيجَةُ بِنۡتُ خُوَيۡلِدٍ وَعَائِشَةُ الصِّدِّيقَةُ بِنۡتُ الصِّدِّيقِ الَّتِي بَرَّأَهَا اللهُ فِي كِتَابِهِ، زَوۡجُ النَّبِيِّ ﷺ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، فَمَنۡ قَذَفَهَا بِمَا بَرَّأَهَا اللهُ مِنۡهُ فَقَدۡ كَفَرَ بِاللهِ الۡعَظِيمِ. 
26. Termasuk sunah adalah mendoakan keridaan untuk para istri Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, ibunda kaum mukminin yang disucikan dan dibersihkan dari keburukan. 
Yang paling afdal di antara mereka adalah Khadijah binti Khuwailid dan ‘Aisyah Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq yang telah Allah bebaskan dari tuduhan di dalam kitab-Nya. Yaitu istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menuduhnya dengan tuduhan yang sudah Allah bersihkan beliau darinya, maka dia telah kufur kepada Allah yang Mahaagung.[1]


Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah berkata di dalam syarahnya,

[1] حُقُوقُ زَوۡجَاتِ النَّبِيِّ ﷺ: 

Hak-hak para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

زَوۡجَاتُ النَّبِيِّ ﷺ زَوۡجَاتُهُ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ وَأُمَّهَاتُ الۡمُؤۡمِنِينَ، وَلَهُنَّ مِنَ الۡحُرۡمَةِ وَالتَّعۡظِيمِ مَا يَلِيقُ بِهِنَّ كَزَوۡجَاتٍ لِخَاتَمِ النَّبِيِّينَ، فَهُنَّ مِنۡ آلِ بَيۡتِهِ، طَاهِرَاتُ مُطَهَّرَاتٌ، طَيِّبَاتٌ مُطَيَّبَاتٌ بَرِيئَاتٌ مُبَرَّآتٌ مِنۡ كُلِّ سُوءٍ يَقۡدَحُ فِي أَعۡرَاضِهِنَّ وَفُرُشِهِنَّ، فَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِبَاتِ، فَرَضِيَ اللهُ عَنۡهُنَّ وَأَرۡضَاهُنَّ أَجۡمَعِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّهِ الصَّادِقِ الۡأَمِينِ. 

Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri beliau di dunia dan akhirat, serta ibunda kaum mukminin. Mereka tidak halal dinikahi dan berhak mendapatkan pengagungan yang layak untuk mereka. Seperti predikat sebagai istri-istri penutup para nabi, mereka juga termasuk ahli bait beliau. Mereka suci dan disucikan, baik dan dijaga, bersih dan terbebas dari segala kejelekan yang dituduhkan pada kehormatan mereka dan perkara intern dalam keluarga mereka. Jadi wanita-wanita yang baik untuk pria-pria yang baik. Pria-pria yang baik untuk wanita-wanita yang baik. Allah meridai mereka seluruhnya dan membuat mereka rida. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi-Nya yang jujur lagi tepercaya. 

زَوۡجَاتُهُ ﷺ اللَّاتِي كَانَ فِرَاقُهُنَّ بِالۡوَفَاةِ وَهُنَّ: 

Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berpisah karena wafat adalah: 

١ - خَدِيجَةُ بِنۡتُ خُوَيۡلِدٍ أُمُّ أَوۡلَادِهِ مَا عَدَا إِبۡرَاهِيمَ تَزَوَّجَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ بَعۡدَ زَوۡجَيۡنِ الۡأَوَّلُ عَتِيقُ بۡنُ عَابِدٍ وَالثَّانِي أَبُو هَالَةَ التَّمِيمِيُّ وَلَمۡ يَتَزَوَّجۡ ﷺ عَلَيۡهَا حَتَّى مَاتَتۡ سَنَةَ ١٠ مِنَ الۡبِعۡثَةِ قَبۡلَ الۡمِعۡرَاجِ. 

1. Khadijah binti Khuwailid. Dia adalah ibu dari anak-anak Nabi selain Ibrahim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Khadijah setelah dua mantan suaminya. Yang pertama adalah ‘Atiq bin ‘Abid. Yang kedua adalah Abu Halah At-Tamimi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikah lagi selama beristrikan Khadijah hingga Khadijah meninggal pada tahun 10 sejak diutusnya Nabi sebelum mikraj. 

٢ - عَائِشَةُ بِنۡتُ أَبِي بَكۡرٍ الصِّدِّيقِ أُرِيهَا ﷺ فِي الۡمَنَامِ مَرَّتَيۡنِ أَوۡ ثَلَاثًا وَقِيلَ: هَٰذِهِ امۡرَأَتُكَ فَعَقَدَ عَلَيۡهَا، وَلَهَا سِتُّ سِنِينَ بِمَكَّةَ وَدَخَلَ عَلَيۡهَا فِي الۡمَدِينَةِ وَلَهَا تِسۡعُ سِنِينَ، تُوُفِّيَتۡ سَنَةَ ٥٨هـ. 

2. ‘Aisyah binti Abu Bakr Ash-Shiddiq. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan ‘Aisyah dalam mimpi sebanyak dua atau tiga kali. Dikatakan: Ini adalah istrimu. Maka, Nabi melamarnya ketika berumur enam tahun di Makkah. Dan Nabi menggaulinya di Madinah ketika berumur sembilan tahun. ‘Aisyah wafat tahun 58 H. 

٣ - سَوۡدَةُ بِنۡتُ زَمۡعَةَ الۡعَامِرِيَّةُ تَزَوَّجَهَا بَعۡدَ زَوۡجِ مُسۡلِمٍ هُوَ: السَّكۡرَانُ بۡنُ عَمۡرٍو أَخُو سُهَيۡلِ بۡنِ عَمۡرٍو تُوُفِّيَتۡ آخِرَ خِلَافَةِ عُمَرَ وَقِيلَ: سَنَةَ ٥٤هـ. 

3. Saudah binti Zam’ah Al-‘Amiriyyah. Nabi menikahinya setelah ditinggal suami seorang muslim, yaitu As-Sakran bin ‘Amr, saudara Suhail bin ‘Amr. Saudah wafat di akhir kekhalifahan ‘Umar. Ada yang berpendapat tahun 54 H. 

٤ - حَفۡصَةُ بِنۡتُ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ، تَزَوَّجَهَا ﷺ بَعۡدَ زَوۡجِ مُسۡلِمٍ هُوَ: خُنَيۡسُ بۡنُ حُذَافَةَ الَّذِي قُتِلَ فِي أُحُدٍ وَمَاتَتۡ سَنَةَ ٤١هـ. 

4. Hafshah binti ‘Umar bin Al-Khaththab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya sepeninggal suami muslim, yaitu Khunais bin Hudzafah yang terbunuh di perang Uhud. Hafshah meninggal tahun 41 H. 

٥ - زَيۡنَبُ بِنۡتُ خُزَيۡمَةَ الۡهِلَالِيَّةُ أُمُّ الۡمَسَاكِينِ، تَزَوَّجَهَا بَعۡدَ اسۡتِشۡهَادِ زَوۡجِهَا عَبۡدِ اللهِ بۡنِ جَحۡشٍ فِي أُحُدٍ وَمَاتَتۡ سَنَةَ ٤ هـ بَعۡدَ زَوَاجِهَا بِيَسِيرٍ. 

5. Zainab binti Khuzaimah Al-Hilaliyyah, ibunda orang-orang miskin. Nabi menikahinya setelah suaminya mati syahid, yaitu ‘Abdullah bin Jahsy dalam perang Uhud. Zainab meninggal pada tahun 4 H, tidak lama setelah pernikahannya. 

٦ - أُمُّ سَلَمَةَ هِنۡدُ بِنۡتُ أَبِي أُمَيَّةَ الۡمَخۡزُومِيَّةُ، تَزَوَّجَهَا بَعۡدَ مَوۡتِ زَوۡجِهَا أَبِي سَلَمَةَ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ الۡأَسَدِ مِنۡ جِرَاحَةِ أَصَابَتۡهُ فِي أُحُدٍ وَمَاتَتۡ سَنَةَ ٦١هـ. 

6. Ummu Salamah Hind binti Abu Umayyah Al-Makhzumiyyah. Nabi menikahinya sepeninggal suaminya, yaitu Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abdul Asad karena luka yang didapatkannya dalam perang Uhud. Ummu Salamah meninggal pada tahun 61 H. 

٧ - زَيۡنَبُ بِنۡتُ جَحۡشٍ الۡأَسَدِيَّةُ بِنۡتُ عَمَّتِهِ ﷺ، تَزَوَّجَهَا بَعۡدَ مَوۡلَاهُ زَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ سَنَةَ ٥ هـ وَمَاتَتۡ سَنَةَ ٢٠هـ. 

7. Zainab binti Jahsy Al-Asadiyyah, putri dari bibi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi menikahinya setelah diceraikan oleh maula (bekas budak) Nabi, yaitu Zaid bin Haritsah pada tahun 5 H. Zainab meninggal pada tahun 20 H. 

٨ - جُوَيۡرِيَةُ بِنۡتُ الۡحَارِثِ الۡخُزَاعِيَّةُ، تَزَوَّجَهَا بَعۡدَ زَوۡجِهَا مُسَافِعَ بۡنَ صَفۡوَانَ وَقِيلَ: مَالِكُ بۡنُ صَفۡوَانَ سَنَةَ ٦هـ وَمَاتَتۡ سَنَةَ ٥٦هـ. 

8. Juwairiyah binti Al-Harits Al-Khuza’iyyah. Nabi menikahinya setelah suaminya sebelumnya, yaitu Musafi’ bin Shafwan—ada yang berpendapat: Malik bin Shafwan—pada tahun 6 H. Juwairiyah meninggal pada tahun 56 H. 

٩ - أُمُّ حَبِيبَةَ رَمۡلَةُ بِنۡتُ أَبِي سُفۡيَانَ، تَزَوَّجَهَا بَعۡدَ زَوۡجِ أَسۡلَمَ ثُمَّ تَنَصَّرَ، هُوَ عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ جَحۡشٍ، وَمَاتَتۡ فِي الۡمَدِينَةِ فِي خِلَافَةِ أَخِيهَا سَنَةَ ٤٤هـ. 

9. Ummu Habibah Rahmlah binti Abu Sufyan. Nabi menikahinya setelah suami sebelumnya masuk Islam kemudian masuk agama Nasrani, yaitu ‘Ubaidullah bin Jahsy. Ummu Habibah meninggal di Madinah ketika kekhalifahan saudaranya ada tahun 44 H. 

١٠ - صَفِيَّةُ بِنۡتُ حُيَيِ بۡنِ أَخۡطَبَ مِنۡ بَنِي النَّضِيرِ مِنۡ ذُرِّيَّةِ هَارُونَ بۡنِ عِمۡرَانَ ﷺ، أَعۡتَقَهَا وَجَعَلَ عِتۡقَهَا صَدَاقَهَا بَعۡدَ زَوۡجَيۡنِ أَوَّلُهُمَا سَلَّامُ بۡنُ مِشۡكَمٍ وَالثَّانِي كِنَانَةُ بۡنُ أَبِي الۡحَقِيقِ بَعۡدَ فَتۡحِ خَيۡبَرَ سَنَةَ ٦هـ، وَمَاتَتۡ سَنَةَ ٥٠هـ. 

10. Shafiyyah binti Huyai bin Akhthab dari bani An-Nadhir, dari keturunan Harun bin ‘Imran shallallahu ‘alaih wa sallam. Nabi membebaskannya dari tawanan dan menjadikan pembebasannya itu sebagai maharnya, setelah dua suami sebelumnya. Yang pertama adalah Sallam bin Misykam. Yang kedua adalah Kinanah bin Abu Al-Haqiq. Pernikahan dengan Nabi terjadi setelah penaklukan Khaibar pada tahun 6 H. Shafiyyah meninggal pada tahun 50 H. 

١١ - مَيۡمُونَةُ بِنۡتُ الۡحَارِثِ الۡهِلَالِيَّةُ، تَزَوَّجَهَا سَنَةَ ٧هـ فِي عُمۡرَةِ الۡقَضَاءِ بَعۡدَ زَوۡجَيۡنِ الۡأَوَّلُ ابۡنُ عَبۡدِ يَالِيلَ وَالثَّانِي أَبُو رَهۡمِ بۡنُ عَبۡدِ الۡعُزَّى، بَنَى بِهَا فِي سَرِفَ وَمَاتَتۡ فِيهِ سَنَةَ ٥١هـ. 

11. Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyyah. Nabi menikahinya pada tahun 7 H ketika umrah Al-Qadha` setelah dua suami sebelumnya. Yang pertama adalah Ibnu ‘Abdu Yalil. Yang kedua adalah Abu Rahm bin ‘Abdu Al-‘Uzza. Nabi berumah tangga dengannya di Sarif. Maimunah meninggal di situ pada tahun 51 H. 

فَهَٰذِهِ زَوۡجَاتُ النَّبِيِّ ﷺ اللَّاتِي كَانَ فِرَاقُهُنَّ بِالۡوَفَاةِ اثۡنَتَانِ تَوۡفِيتًا قَبۡلَهُ وَهُمَا: خَدِيجَةُ وَزَيۡنَبُ بِنۡتُ خُزَيۡمَةَ، وَتِسۡعٌ تُوُفِّيَ عَنۡهُنَّ وَهُنَّ الۡبَوَاقِي. 

Inilah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berpisah karena wafat. Dua wafat sebelum Nabi, yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah. Sedangkan sembilan sisanya ditinggal wafat oleh beliau. 

وَبَقَى اثۡنَتَانِ لَمۡ يَدۡخُلۡ بِهِمَا وَلَا يَثۡبُتُ لَهُمَا مِنَ الۡأَحۡكَامِ وَالۡفَضِيلَةِ مَا يَثۡبُتُ لِلسَّابِقَاتِ وَهُمَا: 

Ada dua istri yang tidak beliau gauli dan tidak ada hukum-hukum dan fadilat yang berlaku untuk mereka berdua sebagaimana berlaku untuk istri-istri beliau yang telah disebutkan. Mereka berdua adalah: 

١ - أَسۡمَاءُ بِنۡتُ النُّعۡمَانِ الۡكِنۡدِيَّةُ تَزَوَّجَهَا النَّبِيُّ ﷺ ثُمَّ فَارَقَهَا، وَاخۡتُلِفَ فِي سَبَبِ الۡفِرَاقِ فَقَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ إِنَّهُ وَجَدَ فِي كَشۡحِهَا بَيَاضًا فَفَارَقَهَا، فَتَزَوَّجَهَا بَعۡدَهُ الۡمُهَاجِرُ بۡنُ أَبِي أُمَيَّةَ. 

1. Asma` binti An-Nu’man Al-Kindiyyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya kemudian menceraikannya. Diperselisihkan sebab penceraian beliau. Ibnu Ishaq berkata bahwa beliau mendapati belang putih di antara pinggang dan rusuk, lalu beliau menceraikannya. Setelah itu dia dinikahi oleh Al-Muhajir bin Abu Umayyah. 

٢ - أُمَيۡمَةُ بِنۡتُ النُّعۡمَانِ بۡنِ شَرَاحِيلَ الۡجَوۡنِيَّةُ، وَهِيَ الَّتِي قَالَتۡ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنۡكَ فَفَارَقَهَا وَاللهُ أَعۡلَمُ. 

2. Umaimah binti An-Nu’man bin Syarahil Al-Jauniyyah. Dia adalah wanita yang berkata: Aku berlindung kepada Allah darimu. Maka Nabi pun menceraikannya. Wallahualam. 

وَأَفۡضَلُ زَوۡجَاتِ النَّبِيِّ ﷺ خَدِيجَةُ وَعَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، وَلِكُلٍّ مِنۡهُمَا مَزِيَّةٌ عَلَى الۡأُخۡرَى، فَلِخَدِيجَةَ فِي أَوَّلِ الۡإِسۡلَامِ مَا لَيۡسَ لِعَائِشَةَ مِنَ السَّبۡقِ وَالۡمُؤَازَرَةِ وَالنُّصۡرَةِ، وَلِعَائِشَةَ فِي آخِرِ الۡأَمۡرِ مَا لَيۡسَ لِخَدِيجَةَ مِنۡ نَشۡرِ الۡعِلۡمِ وَنَفۡعِ الۡأُمَّةِ، وَقَدۡ بَرَّأَهَا اللهُ مِمَّا رَمَاهَا بِهِ أَهۡلُ النِّفَاقِ مِنَ الۡإِفۡكِ فِي سُورَةِ النُّورِ. 

Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling afdal adalah Khadijah dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma. Setiap masing-masing dari mereka berdua memiliki keistimewaan atas yang lainnya. Khadijah memiliki keistimewaan di awal Islam yang tidak dimiliki ‘Aisyah, seperti kepeloporan, bantuan, dan pembelaan. Sementara ‘Aisyah memiliki keistimewaan di akhirnya yang tidak dimiliki Khadijah, seperti penyebaran ilmu dan memberi manfaat kepada umat. Allah juga telah membersihkan ‘Aisyah dari tuduhan berita bohong yang dilontarkan oleh orang-orang munafik di dalam surah An-Nur. 

قَذۡفُ أُمَّهَاتِ الۡمُؤۡمِنِينَ: 

قَذۡفُ عَائِشَةَ بِمَا بَرَّأَهَا اللهُ مِنۡهُ كُفۡرٌ لِأَنَّهُ تَكۡذِيبٌ لِلۡقُرۡآنِ. 

وَفِي قَذۡفِ غَيۡرِهَا مِنۡ أُمَّهَاتِ الۡمُؤۡمِنِينَ قَوۡلَانِ لِأَهۡلِ الۡعِلۡمِ: أَصَحُّهُمَا: أَنَّهُ كُفۡرٌ لِأَنَّهُ قَدۡحٌ فِي النَّبِيِّ ﷺ فَإِنَّ الۡخَبِيثَاتِ لِلۡخَبِيثِينَ. 

Menuduh ibunda kaum mukminin: 

Menuduh ‘Aisyah dengan tuduhan yang telah Allah bersihkan beliau darinya merupakan kekufuran, karena hal ini berarti mendustakan Alquran. Adapun menuduh ibunda kaum mukminin selain ‘Aisyah, maka ada dua pendapat ulama. Yang lebih sahih adalah hal itu juga merupakan kekufuran, karena sama halnya dengan mencacati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikarenakan wanita-wanita yang jelek adalah untuk laki-laki yang jelek pula.