Anak yang Diculik

Kala itu ibundanya tengah membawanya berkunjung ke keluarganya. Anak kecil itu diculik oleh sepasukan berkuda Bani Al Qain bin Jisr, saat mereka menyerang perkampungan Bani Ma’an, kabilah ibundanya tersebut. Para penculik membawanya ke ‘Ukazh, salah satu dari tiga pusat perdagangan terbesar bangsa Arab di masa Jahiliyah. Kemudian ia dibeli oleh Hakim bin Hizam sebagai budak seharga empat ratus dirham. Lalu Hakim memberikannya kepada bibinya, yaitu Khadijah bintu Khuwailid. Tatkala Khadijah menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia memberikan anak kecil itu kepada beliau.

PUTRA ANGKAT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM


Dialah Zaid bin Haritsah bin Syarahil bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Beliau dilahirkan 47 tahun sebelum hijriah di perkampungan kaumnya yaitu Bani Kalb, salah satu bagian dari kabilah Qudha’ah. Sementara ibunda beliau adalah Su’da bintu Tsa’labah bin Abdi Amir dari Bani Ma’an yang merupakan bagian dari kabilah Thayyi.

Setelah sekian waktu lamanya Zaid lalui bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga ia dapat mengenal beliau dengan baik, datanglah beberapa orang dari kabilahnya untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka melihat Zaid. Ia mengenali mereka dan mereka pun mengenalinya. Kemudian mereka kembali dan memberitahu Haritsah, ayah Zaid, akan keberadaannya. Lalu ayahnya bertolak bersama pamannya yang bernama Ka’ab dengan penuh harapan dapat menebusnya dan membawanya pulang. Mereka menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengungkapkan keinginan mereka. Namun beliau mengajak mereka agar pilihan diserahkan kepada Zaid sendiri. Apakah dia memilih tetap tinggal ataukah kembali bersama keluarganya dan beliau pun akan membiarkan tanpa menuntut ganti.

Aku adalah orang yang telah kau kenal. Kau pun telah melihat bagaimana pergaulanku bersamamu. Maka silakan pilihlah aku atau mereka berdua”, demikian kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya seperti yang diriwayatkan. Zaid menjawab, “Aku tidak akan lebih memilih seorang pun dibanding Anda. Kedudukan Anda bagiku menggantikan ayah dan paman.” Ayah dan pamannya pun terheran-heran lantas mengatakan, “Duhai Zaid! Apakah engkau lebih memilih tetap sebagai budak daripada kebebasan, berkumpul kembali dengan ayah, paman, dan familimu?” Zaid menjawab, “Ya. Sungguh aku telah melihat pada dirinya sesuatu yang sangat mengesankan. Aku tak akan lebih memilih seorang pun dibandingkan beliau selama-lamanya.”

Sedemikian luhur akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, meski sebelum Allah memilihnya sebagai nabi, telah membuat Zaid cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala melihat hal itu Nabi pergi membawanya menuju Hijr, sebuah bangunan setengah lingkaran sebelah utara Ka’bah, dan menyerukan di hadapan seluruh jama’ah yang hadir bahwa beliau membebaskannya dan mengangkatnya sebagai anak, yang beliau mewarisinya dan dia pun mewarisi beliau. Ayah dan paman Zaid menjadi tenang dan beranjak pulang. Sejak saat itu, ia disebut Zaid bin Muhammad, sampai kemudian Allah melarang anak angkat dinasabkan kepada orang yang mengangkatnya anak seperti dalam surat Al Ahzab ayat kelima. Ia pun kembali disebut Zaid bin Haritsah.

KOMANDAN PERANG


Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengemban amanah risalah dan mulai mengajak manusia berislam agar mempersembahkan segala macam ibadah hanya untuk Allah, sahabat Nabi yang juga dikenal dengan Abu Usamah ini adalah salah satu dari golongan yang pertama berislam. Dia menerima dakwah Islam setelah keislaman Khadijah bintu Khuwailid dan Ali bin Abi Thalib, serta sebelum Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhum menyatakan Islam. Bahkan Zaid adalah yang pertama berislam dari kalangan mawali, yakni orang-orang yang pernah menjadi hamba sahaya.

Semenjak berislam, Zaid terus menyertai Nabi hingga beliau memerintahkannya untuk lebih dulu berhijrah ke Yatsrib atau Madinah. Setibanya di Madinah ia singgah bertamu di kediaman Kultsum bin Al Hidm, salah seorang yang telah berislam sebelum kedatangan Rasulullah ke Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu. Adapula yang mengatakan dia dipersaudarakan dengan Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu ‘anhu.

Zaid mengikuti pertempuran Badar tahun dua Hijriah dan beliaulah yang membawa berita gembira ke Madinah tentang kemenangan pasukan Islam di Badar sebelum mereka tiba di Madinah. Kemudian pria berkulit putih ini juga ikut serta dalam perang Uhud tahun tiga Hijriah, perang Khandaq tahun lima Hijriah dan perang Khaibar tahun tujuh Hijriah. Beliau juga menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjanjian Hudaibiyah.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin pasukan dalam perang Bani Mushthaliq di Muraisi’, urusan Madinah beliau percayakan kepada sosok yang juga mahir memanah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan kepadanya bendera satuan pasukan dalam tujuh pertempuran, yaitu pertempuran Qaradah, kemudian Jamum, kemudian Al Ish, kemudian Tharaf, kemudian Hisma, kemudian Ummu Qirfah, dan yang ketujuh adalah perang Mu’tah pada tahun delapan Hijriah.

Dalam perang Mu’tah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya komandan pertama pasukan yang berjumlah tiga ribu prajurit dalam menghadapi pasukan musuh dari kekaisaran Romawi Timur dan Ghassaniyah yang jauh lebih besar jumlah dan perlengkapan perangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada pasukan, “Komandan kalian adalah Zaid. Jika ia terbunuh maka Ja’far. Jika dia terbunuh maka Abdullah bin Rawahah.” Firasat Rasulullah benar. Zaid terbunuh dalam pertempuran terkena tusukan tombak. Beliau meninggal pada tanggal delapan Jumadil awal di usia 55 tahun.

KELUARGA YANG DIBERKAHI


Zaid bin Haritsah dinikahkan oleh Nabi dengan bekas budak perempuan beliau yang beliau warisi dari ibundanya dan pernah mengasuh beliau di masa kecil, yaitu Ummu Aiman. Ummu Aiman melahirkan untuk Zaid seorang putra yang diberi nama Usamah. Zaid juga menikahi Durrah bintu Abi Lahab, Hindun bintul ‘Awwam saudari Zubair ibnul ‘Awwam, dan Ummu Kultsum bintu ‘Uqbah. Ummu Kultsum melahirkan untuknya seorang putra yang juga diberi nama Zaid dan seorang anak perempuan yang diberi nama Ruqayyah. Namun keduanya meninggal dalam keadaan masih kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sempat menikahkannya dengan Zainab bintu Jahsy, putri bibi beliau, namun kemudian hari Zaid menceraikannya. Dialah Zainab yang kemudian dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

TOKOH ISTIMEWA


Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu adalah sosok yang istimewa, figur yang sama sekali tak mungkin bisa dipandang sebelah mata. Ikatan yang dekat lagi erat antara dia dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membuatnya amat sangat beliau cinta. Beliau adalah hibbu Rasulillah (kekasih Rasulullah). Beliau adalah anak angkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau satu-satunya sahabat yang Allah sebut namanya dalam Al Quran. Beliau adalah sang komandan pasukan Islam. Beliau adalah letak kepercayaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa besar Zaid di mata Rasulullah hingga Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,
مَا بَعَثَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَيۡدَ بۡنَ حَارِثَةَ فِي سَرِيَّةٍ إِلَّا أَمَّرَهُ عَلَيۡهِمۡ، وَلَوۡ بَقِيَ لَاسۡتَخۡلَفَهُ بَعۡدَهُ
Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim Zaid bin Haritsah dalam satuan pasukan kecuali beliau menjadikannya sebagai komandannya. Andaikan dia masih hidup, tentu beliau mengangkatnya sebagai khalifah setelah beliau.

Tidak ada di antara sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari sahabat-sahabat para Nabi selain beliau yang Allah sebut namanya di dalam Al Quran selain Zaid bin Haritsah, Allah sebut namanya dalam surat Al Ahzab ayat 37. Rasulullah bersabda kepada Zaid dan mengungkapkan betapa dekat dan cinta beliau kepadanya,
يَا زَيۡدُ أَنۡتَ مَوۡلَايَ وَمِنِّي وَإِلَيَّ وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ
Wahai Zaid! Engkau adalah sahabat dekatku, bagian dariku, untukku, dan orang yang paling aku cinta.

Dahulu para sahabat Nabi menjulukinya dengan Hibbu Rasulillah (kekasih Rasulullah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersaksikan bahwa ia terbunuh sebagai syahid. Beliau mengisahkan,
وَإِنَّ زَيۡدًا أَخَذَ الرَّايَةَ فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ وَاسۡتُشۡهِدَ
Dan sesungguhnya Zaid mengambil bendera lalu dia berperang hingga terbunuh dan mati syahid.

Bahkan Rasulullah telah menyatakan bahwa Zaid masuk ke dalam janah. Diriwayatkan dalam hadis yang dinilai shahih oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, bahwa beliau bersabda,
دَخَلۡتُ الۡجَنَّةَ فَاسۡتَقۡبَلَتۡنِي جَارِيَةٌ شَابَّةٌ فَقُلۡتُ: لِمَنۡ أَنۡتِ؟ قَالَتۡ: لِزَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ
“Aku masuk ke dalam janah. Lalu ada satu pelayan wanita menyambutku. Aku pun bertanya, ‘Pelayan siapa kamu?’ Dia menjawab, ‘Milik Zaid bin Haritsah.’”

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengirim pasukan sepeninggal Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengamanahkan komando pasukan kepada putranya yaitu Usamah. Lalu sebagian orang mencela kepemimpinannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit membela dan berkata (artinya), “Jika kalian mencela kepemimpinannya, maka sungguh kalian pun telah mencela kepemimpinan ayahnya sebelum dia. Padahal demi Allah, dia (ayahnya) benar-benar pantas untuk memimpin dan benar-benar termasuk orang-orang yang paling kucinta. Dan demi Allah, sungguh yang ini (yakni Usamah) benar-benar layak untuk memimpin dan sungguh dia pun termasuk orang-orang yang paling kucinta setelahnya (yakni Zaid).

Dan ketika Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu menjabat sebagai khalifah yang kedua, dia menetapkan untuk Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu sejumlah pemberian dari baitulmal yang lebih banyak daripada pemberian yang dia tetapkan untuk putranya sendiri, yakni Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Abdullah menanyakan hal itu kepada Umar. Lalu Umar menjawab, “Sesungguhnya dia (Usamah) lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kamu. Dan sungguh ayahnya (Zaid) dahulu lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada ayahmu ini.”

Semoga Allah meridai para sahabat Nabi seluruhnya dan mempertemukan kita dengan mereka di jannah-Nya. Amiin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 48 vol.05 1438 H, rubrik Khairul Ummah. Pemateri: Al Ustadz Abu Haidar Haris.