Al Qasim bin Muhammad

Kota Madinah pernah menjadi saksi keberadaan fuqaha sab’ah (ahli fikih yang berjumlah 7 orang) yang mewarnai masa-masa keemasan Islam. Merekalah tujuh ahli fikih dari generasi tabiin yang menjadi penghulu para ulama dan rujukan kaum muslimin di masanya. Mereka adalah penerus tongkat estafet dakwah yang sebelumnya dibawa oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kapasitas keilmuan mereka tidak hanya diakui dan diperhitungkan oleh para ulama di kota tersebut namun juga para ulama di berbagai penjuru negeri.

Di antara ketujuh ahli fikih Madinah tersebut adalah Al Qasim bin Muhammad, cucu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu manusia terbaik dalam umat ini setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Al Qasim adalah cucu Abu Bakar yang secara fisik paling mirip dengan kakeknya tersebut sebagaimana penuturan Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan Ali radhiyallahu ‘anhu dari pasangan Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan putri raja persia yang terakhir.

Al-Qasim kecil tumbuh dan berkembang ketika terjadi gejolak fitnah di tengah kaum muslim setelah terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Muncul perselisihan antara pihak Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan pihak Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang berada di Syam. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dibawalah Al Qasim bersama saudara perempuannya ke Mesir. Yang demikian ini karena ayahanda beliau telah diangkat oleh Ali bin Abi Thalib menjadi pemimpin Mesir.

Namun saat itu kondisi fitnah semakin memanas dan berujung kepada terbunuhnya ayahanda beliau. Akhirnya datanglah paman Al Qasim yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar untuk membawa beliau dan saudara perempuannya kembali ke Madinah. Di kota Nabi tersebut, Al Qasim diasuh dan dirawat oleh bibinya Aisyah radhiyallahu ‘anha sepeninggal ayahandanya. Al Qasim menjalani hidup sebagai seorang anak yatim dan diasuh oleh Ummul Mukminin Aisyah.

Qosim kecil diasuh dalam buaian Ummul Mukminin Aisyah sehingga ia pun mendalami ilmu agama dan banyak meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Seiring dengan perjalanan waktu, Al Qasim benar-benar terdidik oleh curahan kasih sayang dan ilmu dari bibinya tersebut. Al Qasim menuturkan bahwa Aisyah adalah seorang mufti (pemberi fatwa) semenjak dari zamannya Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum hingga beliau meninggal. Tidak mengherankan jika akhirnya Al Qasim menjadi seorang imam, panutan, Hafizh, Hujjah, seorang alim di Kota Madinah pada zamannya di samping Salim dan Ikrimah rahimahullah.

GURU-GURU DAN MURID-MURIDNYA


Menginjak usia dewasa, Al Qasim rahimahullah benar-benar menjelma menjadi seorang pemuda yang cerdas dan bertalenta tinggi. Waktu demi waktu pun berjalan sementara Al Qasim semakin matang ilmu dan kepribadiannya karena berkesempatan untuk menghadiri majelisnya para sahabat. Selain kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia juga berguru dan meriwayatkan hadis dari sekian banyak sahabat yang pernah beliau temui sepanjang hidupnya. Di antara mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Zainab bintu Jahsy, Fatimah bintu Qais, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Asma’ bintu ‘Umais yang merupakan nenek beliau sendiri, Abu Hurairah, Rafi’ bin Khadij, Abdullah bin Khabbab, Abdullah bin Amr, Mu’awiyah dan sahabat yang lainnya radhiyallahu ‘anhum. Al Qasim juga menegaskan bahwa beliau juga menimba ilmu dari lautan ilmu, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Beliau pun bermulazamah (menuntut ilmu) kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma untuk memperbanyak riwayat dari keduanya. Sementara Ibnu Umar dikenal sebagai seorang sahabat mulia yang wara’ (berhati-hati dari dosa dan kesalahan), luas keilmuannya dan mengambil sikap diam terhadap berbagai hal yang tidak beliau ketahui ilmunya. Sehingga sifat-sifat gurunya tersebut melekat dan mewarnai kepribadaian Al Qasim bin Muhammad rahimahullah.

Tidak membutuhkan waktu yang panjang akhirnya Al Qasim menjadi seorang ulama besar di Kota Madinah. Tidak hanya keilmuannya yang mendalam yang membuat Al Qasim dicari dan disegani oleh kaum muslimin, namun juga karena ketakwaan dan sifat wara’ yang ada pada dirinya. Sehingga wajar jika murid-murid beliau sangat banyak dan di antaranya adalah putra beliau sendiri yang bernama Abdurrahman. Murid beliau yang lain adalah sederetan nama ulama-ulama besar seperti, Asy Sya’bi, Nafi’ Al Umari, Salim bin Abdillah, Abu Bakr bin Hazm, Az-Zuhri, Ibnu Abi Mulaikah, Humaid Ath Thawil, Ayyub As Sikhtiyani, Rabi’ah Ar Ray, Ubaidullah bin Umar, Ibnu ‘Aun, Rabi’ah bin Atha, Yahya bin Said Al Anshari, Abu Zinad, Ja’far bin Muhammad, Shalih bin Kaisan, dan masih banyak yang lainnya.

PUJIAN PARA ULAMA


Ibnu Sa’d rahimahullah memberikan sederet pujian kepada beliau dengan mengatakan, “Al Qasim adalah seorang yang terpercaya, berilmu, tinggi kedudukannya, ahli fikih, imam, wara’ dan banyak meriwayatkan hadis.” Yahya bin Said rahimahullah mengatakan, “Kami belum pernah mendapati seorang pun di Kota Madinah yang lebih kami utamakan daripada Al Qasim.” Ini menggambarkan tingginya kedudukan Al Qasim dalam pandangan para ulama mengingat di sana masih ada tokoh tabi’in senior seperti Said bin Al Musayyib atau yang lain.

Sikap wara’ juga sangat mewarnai kehidupan Al Qasim dalam bermuamalah. Salah satu buktinya adalah ucapan Ayyub As Sakhtiyani berikut ini, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih utama daripada Al Qasim. Sungguh ia pernah meninggalkan uang seratus ribu dinar padahal uang tersebut halal baginya.” Dalam kesempatan lain Umar bin Ubaidullah At Taimi mengutus seseorang untuk menghadiahkan uang sebanyak seratus lima puluh dinar kepada Al Qasim namun beliau menolaknya.

Berkata Abu Zinad rahimahullah, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui tentang sunnah daripada Al Qasim bin Muhammad. Seseorang tidaklah dianggap sebagai seorang lelaki hingga dia mengetahui Sunnah dan belum pernah melihat seorang lelaki yang lebih cemerlang akalnya daripada Al Qasim.” Ibnu Uyainah rahimahullah berkata, “Orang yang paling mengetahui hadisnya Aisyah ada tiga orang, “Al Qasim, Urwah, dan Amrah.”

Keilmuan beliau yang luas dengan ketenaran dan berbagai pujian di atas tidak membuat Al Qasim sombong dan bangga diri. Justru beliau sangat jauh dari sifat tersebut dan penuh dengan ketawadhuan. Simak penuturan Ibnu Ishaq berikut ini, “Aku pernah melihat Al Qasim bin Muhammad mengerjakan salat dan setelah selesai datanglah seorang Arab badui lantas dia bertanya, “Siapa di antara kalian berdua yang lebih berilmu. Engkau atau Salim?” Al Qasim pun menjawab, “Subhanallah, masing-masing akan memberikan jawaban kepadamu sesuai dengan pengetahuannya.” Orang itu kembali bertanya, “Siapa di antara kalian berdua yang lebih berilmu?” Ia menjawab, “Subhanallah!” Badui itu terus mengulangi pertanyaannya hingga akhirnya Al Qasim berkata, “Itu Salim, pergi dan bertanyalah kepadanya.” Ia pun bangkit dan pergi meninggalkannya. Ibnu Ishaq mengomentari kisah ini, “Al Qasim tidak suka mengatakan, ‘Aku lebih berilmu’ sehingga menjadi tazkiyah (rekomendasi) untuk diri beliau sendiri. Beliau juga tidak suka mengatakan, ‘Salim lebih berilmu daripada aku.’ Karena dengan demikian Al Qasim telah berdusta karena ia lebih berilmu daripada Salim.”

Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Al Qasim adalah ahli fikihnya umat ini.” Al ‘Ijli rahimahullah berkata, “Al Qasim termasuk salah satu tabi’in dan ahli fikih terbaik. Ahli Madinah, tabi’in, terpercaya, sosok yang bersih dari hal-hal yang tidak baik, dan lelaki yang saleh.”

UNTAIAN NASIHATNYA


Yahya bin Sa’id rahimahullah berkata bahwa aku pernah mendengar Al Qasim bin Muhammad berkata, “Seseorang hidup dalam keadaan bodoh setelah mengetahui hak Allah subhanahu wa ta’ala itu lebih baik baginya daripada dia mengucapkan sesuatu yang tidak dia ketahui.” Suatu hari ada seorang pembesar Kota Madinah yang datang menemui Al Qasim lantas menanyakan sesuatu kepadanya. Maka Al Qasim pun berkata, “Sesungguhnya di antara bentuk pemuliaan seseorang terhadap dirinya sendiri adalah dia tidak berucap melainkan apa yang dia ketahui ilmunya.” Beliau juga mengatakan, “Allah telah menjadikan pada diri seorang teman yang baik lagi dekat dengan kita sebagai pengganti dari kerabat yang durhaka lagi berpaling.”

Beliau juga memiliki akidah yang lurus dan kokoh dalam menegakkan amar makruf nahi munkar. Ikrimah bin Ammar mengatakan, “Aku pernah mendengar Al Qasim dan Salim melaknat orang-orang Qadariyah.”

AKHIR HAYATNYA


Al Qasim meninggal pada tahun 108 H dalam usia 70 tahun di sebuah wilayah yang bernama Qudaid. Yaitu sebuah tempat di jalan antara Mekkah-Madinah, yang berjarak sekitar 27 mil dari Juhfah (Miqat penduduk Syam). Beliau sempat mengalami kebutaan di akhir hayatnya dan meninggal pada masa pemerintahan Yazid bin Abdul Malik bin Marwan. Beliau berwasiat supaya beliau dikuburkan dengan baju yang biasa digunakan untuk salat bersama dengan gamis dan rida’nya sebagaimana kakek beliau Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu dikafani dan dimakamkan. Al Qasim juga berwasiat agar kuburannya tidak dibangun. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan rahmat dan ampunan kepada Al Qasim bin Muhammad rahimahullah serta kita semua. Aamiin.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 39 vol.04 2016 rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah.