Urwah bin Az-Zubair rahimahullah

Sosok Kesabaran Ulama Besar Tabi’in


Sabar, sebuah kata yang ringan diucapkan. Pun betapa sering telinga ini mendengar. Kenyataannya, sangat berat mewujudkannya. Apalagi menjadikannya sebagai denyut nadi, sebagai sifat melekat yang tak lekang dimakan waktu, tak pula pudar diterpa cuaca. Kapan pun dan bagaimana pun, sabar tercermin dalam rona kehidupan. Seideal ini, kayaknya hanya hamba pilihan yang mampu memilikinya.

وَمَنۡ يَتَصَبَّرۡ يُصَبِّرۡهُ اللهُ وَمَا أُعۡطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيۡرًا وَأَوۡسَعَ مِنَ الصَّبۡرِ
“Dan siapa yang berupaya untuk bisa sabar, Allah akan memberikan kesabaran kepadanya. Dan tidaklah seseorang diberi dengan pemberian yang lebih baik dan lapang daripada kesabaran.” [H.R. Al Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Said Al Khudri radhiyallahu ‘anhu].

Berikut ini kisah kesabaran seorang ulama besar zaman tabiin, murid para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah Urwah bin Az Zubair rahimahullah, salah seorang dari tujuh ulama yang dikenal dengan Fuqahau Sab’ah. Dalam bait syair dikatakan:
إِذَا قِيلَ مَنۡ فِي الۡعِلۡمِ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٍ
رِوَايَتُهُمۡ فِي الۡعِلۡمِ لَيۡسَةۡ خَارِجَةۡ
فَقُلۡ هُمۡ عُبَيۡدُ اللهِ عُرۡوَةُ قَاسِمٌ
سَعِيدٌ أَبُو بَكۡرٍ سُلَيۡمَانُ خَارِجَةۡ
Apabila dikatakan siapakah tujuh samudra ilmu
riwayat mereka tidak keluar darinya
Jawablah, mereka Ubaidullah, Urwah, Qasim,
Said, Abu Bakar, Sulaiman, dan Kharijah

Urwah bin Abdullah bin Zubair rahimahullah. Seorang penghulu ulama Madinah, putra bangsawan Arab. Garis keturunan ayah ibunya adalah nasab yang mulia. Putra seorang sahabat yang dijamin masuk surga. Putra seorang yang dikenal sebagai hawari Rasulillah, pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek dari jalur ayah adalah Shafiyyah radhiyallahu ‘anha, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunda Urwah adalah seorang sahabiyah pemberani, Dzatu Nithaqaini, pemilik dua selendang. Beliaulah Asma’ putri Abu Bakar Ash Shiddiq. Saudari Aisyah radhiyallahu ‘anha, salah seorang Ibunda kaum Mukminin.

Terlahir pada tahun 23 Hijriyah, di masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Urwah tumbuh dalam keluarga kuat berpegang dengan Agama. Hal ini mewarnai kepribadian Urwah menjadi sosok yang luar biasa. Kuat dalam menuntut ilmu, berbalut kesabaran, berhias kedermawanan.

Suatu dekat, di dekat Hijr Ismail, duduk berkumpul para pemuda mulia. Mereka adalah Mush’ab, Abdullah, dan Urwah-ketiganya adalah putra Az Zubair-, dan Abdullah bin Umar. Mereka mengatakan, “Bercita-citalah kalian!” Abdullah mengatakan, “Aku bercita-cita menjadi khilafah.” Urwah menyahut, “Aku berharap, orang-orang akan mengambil ilmu dariku.” Adapun Mush’ab, “Aku ingin menguasai Irak, menikahi Aisyah bintu Thalhah dan Sukainah bintu Al Husain.” Berbeda dengan Abdullah bin Umar, ia bercita-cita, “Aku mendamba ampunan.” Maka mereka pun mendapatkan apa yang mereka cita-citakan. Biidznillah.

Abdullah bin Az Zubair berhasil menjadi khalifah setelah Yazid bin Mu’awiyah. Kekuasaan beliau meliputi Hijaz, Yaman, Khurasan, Mesir, dan Irak. Demikian pula Mush’ab bin Az Zubair mendapatkan keinginannya. Menjadi gubernur Irak serta menikahi Aisyah bintu Thalhah dan Sukainah bintu Al Husain. Abdullah bin Umar dan Urwah pun terkabul cita-citanya.

Demikianlah, Urwah tidak berhenti sebatas doa. Namun, terus berjuang mencari ilmu. Segala daya dan upaya pun dikerahkan. Hisyam, putra beliau mengisahkan, “Ayah sering menyampaikan kepada kami ketika kami masih belia, “Kenapa kalian tidak mencari ilmu. Sekarang kalian kecil, kelak akan menjadi dewasa dan tua. Sementara tidak ada kebaikan pada orang yang sudah tua sementara ia bodoh terhadap agamanya. Aku melihat pada diriku sendiri, empat tahun sebelum wafatnya Aisyah radhiyallahu ‘anha aku mengatakan, ‘Seandainya beliau wafat sekarang pun aku tidak akan bersedih terhadap ilmu hadisnya, karena aku telah menguasai semuanya.’ Pernah dahulu ada sebuah hadis yang sampai kepadaku dari seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku mendatanginya. Aku dapatkan ketika itu sedang tidur siang. Kemudian aku tetap menunggu di depan pintunya sampai bangun, baru setelahnya aku bertanya tentang hadis tersebut.”

Begitu kuat tekad Urwah, tinggi pula semangat beliau. Qabishah bin Dzuaib mempersaksikan, “Kami biasa duduk berhalaqah malam hari di masjid pada masa khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan; Aku, Mush’ab bin Az Zubair, Urwah bin Az Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abdul Malik bin Marwan, Abdurrahman bin Al Miswar, Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, dan Ubaidullah bin Abdullah bin Uthbah. Di siang hari, kami berpencar mencari guru sendiri-sendiri. Aku sendiri bermajelis dengan Zaid bin Tsabit, penghulu dalam kehakiman, fatwa, Qira’ah Al Quran, ilmu waris, di Madinah pada masa Umar, Utsman, dan Ali. Aku dan Abu Bakar bin Abdurahman juga biasa bermajelis dengan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Sementara Urwah mengalahkan kami dengan leluasanya ia masuk belajar kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Guru beliau sangat banyak, kepada ayahnya beliau tidak banyak mengambil hadis karena waktu itu beliau masih kecil. Namun belajar kepada Ibundanya Asma’ binti Abi Bakar, bermulazamah dengan bibinya Aisyah, berguru kepada Said bin Zaid, Ali bin Abi Thalib, Sahl bin Abi Hatsmah, Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafy, Jabir, Al Hasan, Al Husain, Muhammad bin Maslamah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, dan masih banyak lagi.

Sebuah perjuangan besar dalam menuntut ilmu, sehingga sangat wajar beliau menjadi penghulu para ulama di zamannya. Az Zuhri mengatakan, “Aku melihat Urwah adalah lautan yang tidak pernah keruh airnya sebab timba-timba yang mengambil airnya.” Hisyam bin Urwah menyebutkan, “Demi Allah, kita belum belajar satu bagian dari dua ribu atau seribu bagian hadis yang dimiliki ayah.”

Abdurrahman bin Humaid bin Abdurrahman pernah bercerita kepada Abu Zinad bahwa, “Suatu waktu, aku dan ayahku masuk ke masjid. Aku melihat manusia berkumpul pada seseorang. Ayahku mengatakan, “Lihat siapa itu!” Aku pun melihat, ternyata Urwah. Kemudian aku sampaikan kepada ayah juga kekagumanku. Ayah berkata, “Jangan heran anakku, bahkan aku melihat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepadanya.”

Az Zuhri berkata, “Aku bertanya kepada Abdullah bin Tsa’labah bin Shu’air Al Mazini tentang permasalahan fikih. Ia menjawab, ‘Tanyalah kepadanya!’ Sambil mengisyaratkan kepada Ibnu Musayyib. Aku pun bermajelis dengannya selama tujuh tahun, aku tidak melihat ada seorang yang lebih alim darinya. Kemudian aku pindah bermajelis kepada Urwah, seolah aku menyemplung ke tengah samudra.”

Sosok ahli ibadah yang selalu mengkhatamkan Al Quran tiap empat hari sekali ini bukan hanya tidak pelit dalam hal ilmu, bahkan berjiwa derma terhadap harta. Beliau memiliki sumur sangat terkenal di wilayah ‘Aqiq. Air sumur yang tawar menyegarkan. Siapa saja boleh minum darinya. Apabila kebun kurma beliau sedang ranum berbuah, beliau membuat pagar agar terlindung dan tetap terjaga sampai benar-benar matang. Lalu beliau membuka, mengizinkan siapa saja masuk kebun untuk makan dan membawa pulang. Subhanallah, sikap derma yang beliau warisi dari ibunda dan kakek beliau, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Beliau memang sangat kuat bukan hanya ilmunya, bahkan amalannya pula. Setiap hari, beliau selalu membaca mushaf seperempat Al Quran, kemudian malamnya beliau baca ulang dalam salat tahajjud. Hanya semalam beliau meninggalkan kebiasaan ini, yaitu malam ketika beliau diamputasi kakinya. Kisah selengkapnya dituturkan oleh putranya, Hisyam bin Urwah.

Suatu ketika, Khalifah Al Walid bin Abdul Malik, khalifah keenam dari penguasa Bani Umayyah, mengundang Urwah bin Az Zubair rahimahullah untuk datang ke ibu kota negara, di Damaskus, Syam. Beliau pun berangkat dari kota beliau, Madinah. Setibanya di lembah Al Qura’, Urwah merasakan sesuatu pada kakinya. Ternyata nampak luka yang menganga. Rupanya luka itu membusuk dan terus menjalar. Akhirnya tiba menghadap khalifah, dalam keadaan beliau ditandu. Sementara kakinya mulai parah. Al Walid sedih melihat kondisi tamunya itu. Dipanggillah dokter untuk segera mengobati. Dokter memvonis untuk diamputasi. Tidak ada jalan lain. Al Walid pun menyarankan untuk diamputasi. Awalnya Urwah menolak. Ia tidak ingin bagian tubuhnya terpotong. Namun, sakit itu terus menjalar sampai ke lutut.

Dikatakan kepada Urwah, bahwa kalau sampai lutut, bisa jadi akan mengancam keselamatannya. Akhirnya beliau mau diamputasi. Sebelum diamputasi, dokter menawarkan obat tidur atau bius kepada Urwah. Namun Urwah tidak mau. Kata dokter, “Kami akan memberi Anda minuman yang akan menghilangkan akal Anda?” Urwah menjawab, “Laksanakan saja tugasmu! Aku tidak menyangka ada orang yang mau minum minuman yang menghilangkan akalnya, sehingga ia tidak bisa mengingat Rabbnya.”

Diletakkanlah gergaji di atas lutut kirinya. Orang yang ikut hadir menyaksikan mengatakan, “Kami tidak mendengar keluhan sama sekali saat proses operasi berlangsung.” Al Walid sampai keheranan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih sabar darinya.” Padahal, anaknya, Muhammad, juga mengalami musibah dalam safar itu. Anaknya meninggal tersepak seekor bighal ketika bermain di kandang kuda. Tidak terdengar keluhan sedikit pun dari mulutnya, kecuali sebuah doa, “Ya Allah, aku memiliki tujuh anak. Engkau ambil satu dan masih Engkau sisakan enam. Aku memiliki empat anggota badan, Engkau ambil satu dan Engkau sisakan tiga. Apabila Engkau memberikan ujian, Engkau pula yang akan memberikan keselamatan. Apabila Engkau mengambil, Engkau masih menyisakannya.”

Melihat kakinya yang terpotong tergeletak di sebuah bejana, Urwah mengatakan, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah membawamu berjalan kepada maksiat sama sekali. Aku mengetahui hal itu.”

Sesampai di Madinah, orang-orang menyampaikan bela sungkawa kepada beliau. Isa bin Thalhah mengatakan, “Demi Allah, wahai Abu Abdillah (Urwah), kami tidak bersiap diri untuk bergulat atau adu lari denganmu. Sungguh Allah masih menjaga darimu sesuatu yang lebih kami butuhkan, yaitu pendapat dan ilmumu.”

Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah menyampaikan bela sungkawanya, “Demi Allah, engkau tidak butuh berjalan, tidak perlu pula berlari. Telah mendahuluimu satu anggota tubuhmu, juga seorang anakmu menuju surga. Seluruhnya nanti akan mengikut yang sebagian itu, Insya Allah. Allah masih menjagamu untuk kami sesuatu yang kami sangat membutuhkannya. Yaitu ilmu dan pendapatmu. Allah subhanahu wa ta’ala lah yang mengatur pahalamu, dan menjamin hisabmu.”

Sangat banyak murid-murid mumpuni yang terbentuk dari madrasah ilmiyah beliau. Di antaranya putra-putra beliau; Yahya, Utsman, Hisyam, dan Muhammad. Sulaiman bin Yasar, Abu Salamah bin Abdurrahman, Ibnu Syihab, Shafwan bin Sulaim, Bakar bin Sawadah, Yazid bin Abi Habib, Abu Zinad, Muhammad bin Al Munkadir, Abul Aswad Muhammad bin Abdurrahman, Shalih bin Kaisan, Amr bin Abdillah bin Urwah, Muhammad bin Ja’far bin Az Zubair, dan masih banyak lagi.

Urwah bin Az Zubair meninggal dalam usia 67 dalam keadaan berpuasa. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati beliau. Amin. Allahu a’lam. [Ustadz Farhan]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 55 vol.05 1437H-2016M rubrik Figur.