Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2864

٥٢ - بَابُ مَنۡ قَادَ دَابَّةَ غَيۡرِهِ فِي الۡحَرۡبِ
52. Bab barang siapa menuntun hewan yang ditunggangi oleh orang lain dalam perang


٢٨٦٤ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا سَهۡلُ بۡنُ يُوسُفَ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ: قَالَ رَجُلٌ لِلۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَفَرَرۡتُمۡ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَوۡمَ حُنَيۡنٍ؟ قَالَ: لَكِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ لَمۡ يَفِرَّ، إِنَّ هَوَازِنَ كَانُوا قَوۡمًا رُمَاةً، وَإِنَّا لَمَّا لَقِينَاهُمۡ حَمَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ فَانۡهَزَمُوا، فَأَقۡبَلَ الۡمُسۡلِمُونَ عَلَى الۡغَنَائِمِ وَاسۡتَقۡبَلُونَا بِالسِّهَامِ، فَأَمَّا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَلَمۡ يَفِرَّ، فَلَقَدۡ رَأَيۡتُهُ وَإِنَّهُ لَعَلَى بَغۡلَتِهِ الۡبَيۡضَاءِ، وَإِنَّ أَبَا سُفۡيَانَ آخِذٌ بِلِجَامِهَا وَالنَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ: (أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبۡ، أَنَا ابۡنُ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبۡ).

[الحديث ٢٨٦٤ - أطرافه في: ٢٨٧٤، ٢٩٣٠، ٣٠٤٢، ٤٣١٥، ٤٣١٦، ٤٣١٧].

2864. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Sahl bin Yusuf menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Abu Ishaq: Seseorang bertanya kepada Al-Bara` bin ‘Azib—radhiyallahu ‘anhuma—, “Apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari Hunain?”

Beliau menjawab,

Akan tetapi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak kabur. Sesungguhnya Hawazin adalah orang-orang yang pandai memanah. Ketika kami menghadapi mereka, kami menyerbu mereka hingga mereka kocar-kacir. Lalu pasukan muslimin maju untuk mengambil ganimah dan merekapun menyambut kami dengan lemparan anak panah. Adapun Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak kabur. Sungguh aku melihat beliau berada di atas bagal putihnya, sementara Abu Sufyan memegangi tali kekangnya. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku adalah nabi. Aku tidak berdusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2863

٥١ - بَابُ سِهَامِ الۡفَرَسِ
51. Bab bagian kuda


٢٨٦٣ - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ، عَنۡ أَبِي أُسَامَةَ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ جَعَلَ لِلۡفَرَسِ سَهۡمَيۡنِ وَلِصَاحِبِهِ سَهۡمًا.

وَقَالَ مَالِكٌ: يُسۡهَمُ لِلۡخَيۡلِ، وَالۡبَرَاذِينِ مِنۡهَا، لِقَوۡلِهِ: ‏﴿‏وَالۡخَيۡلَ وَالۡبِغَالَ وَالۡحَمِيرَ لِتَرۡكَبُوهَا‏﴾ [النحل: ٨]. وَلَا يُسۡهَمُ لِأَكۡثَرَ مِنۡ فَرَسٍ. [الحديث ٢٨٦٣ - طرفه في: ٤٢٢٨].

2863. ‘Ubaid bin Isma’il telah menceritakan kepada kami dari Abu Usamah, dari ‘Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menentukan dua bagian untuk kuda dan satu bagian untuk penunggangnya.

Malik berkata: Kuda perang diberi bagian dan birdzaun (kuda turki) termasuk kuda perang berdasarkan firman Allah, “Kuda, bagal, dan keledai untuk kalian tunggangi.” (QS. An-Nahl: 8). Dia tidak diberi bagian lebih banyak dari satu kuda.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2862

٥٠ - بَابُ الرُّكُوبِ عَلَى الدَّابَّةِ الصَّعۡبَةِ وَالۡفُحُولَةِ مِنَ الۡخَيۡلِ
50. Bab menunggangi hewan tunggangan yang sulit dikuasai dan kuda jantan


وَقَالَ رَاشِدُ بۡنُ سَعۡدٍ: كَانَ السَّلَفُ يَسۡتَحِبُّونَ الۡفُحُولَةَ، لِأَنَّهَا أَجۡرَى وَأَجۡسَرُ.

Rasyid bin Sa’d berkata, “Dahulu para salaf menyukai kuda perang jantan karena lebih kuat dan lebih berani.”

٢٨٦٢ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَ بِالۡمَدِينَةِ فَزَعٌ، فَاسۡتَعَارَ النَّبِيُّ ﷺ فَرَسًا لِأَبِي طَلۡحَةَ يُقَالُ لَهُ مَنۡدُوبٌ، فَرَكِبَهُ، وَقَالَ: (مَا رَأَيۡنَا مِنۡ فَزَعٍ، وَإِنۡ وَجَدۡنَاهُ لَبَحۡرًا). [طرفه في: ٢٦٢٧].

2862. Ahmad bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Qatadah: Aku mendengar Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—mengatakan: Pernah perasaan takut melanda Madinah, lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meminjam seekor kuda milik Abu Thalhah yang dijuluki Mandub. Beliau menungganginya. (Sekembalinya) beliau bersabda, “Kami tidak menemukan ada yang perlu dikhawatirkan. Kami malah mendapati kuda ini kuat larinya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2860

٤٨ - بَابٌ الۡخَيۡلُ لِثَلَاثَةٍ
48. Bab kuda untuk tiga


وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَالۡخَيۡلَ وَالۡبِغَالَ وَالۡحَمِيرَ لِتَرۡكَبُوهَا وَزِينَةً﴾[النحل: ٨].

Dan firman Allah taala, “Kuda, bagal, dan keledai untuk kalian tunggangi dan sebagai perhiasan.” (QS. An-Nahl: 8).

٢٨٦٠ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (الۡخَيۡلُ لِثَلَاثَةٍ: لِرَجُلٍ أَجۡرٌ، وَلِرَجُلٍ سِتۡرٌ، وَعَلَى رَجُلٍ وِزۡرٌ، فَأَمَّا الَّذِي لَهُ أَجۡرٌ فَرَجُلٌ رَبَطَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ، فَأَطَالَ فِي مَرۡجٍ أَوۡ رَوۡضَةٍ، فَمَا أَصَابَتۡ فِي طِيَلِهَا ذٰلِكَ مِنَ الۡمَرۡجِ أَوِ الرَّوۡضَةِ كَانَتۡ لَهُ حَسَنَاتٍ، وَلَوۡ أَنَّهَا قَطَعَتۡ طِيَلَهَا، فَاسۡتَنَّتۡ شَرَفًا أَوۡ شَرَفَيۡنِ، كَانَتۡ أَرۡوَاثُهَا وَآثَارُهَا حَسَنَاتٍ لَهُ، وَلَوۡ أَنَّهَا مَرَّتۡ بِنَهَرٍ فَشَرِبَتۡ مِنۡهُ وَلَمۡ يُرِدۡ أَنۡ يَسۡقِيَهَا كَانَ ذٰلِكَ حَسَنَاتٍ لَهُ، وَرَجُلٌ رَبَطَهَا فَخۡرًا وَرِئَاءً وَنِوَاءً لِأَهۡلِ الۡإِسۡلَامِ فَهِيَ وِزۡرٌ عَلَى ذٰلِكَ). وَسُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الۡحُمُرِ، فَقَالَ: (مَا أُنۡزِلَ عَلَيَّ فِيهَا إِلَّا هٰذِهِ الۡآيَةُ الۡجَامِعَةُ الۡفَاذَّةُ: ‏﴿‏فَمَنۡ يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَرَهُ ۞ وَمَنۡ يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ‏﴾ [الزلزلة: ٧ - ٨].‏ [طرفه في: ٢٣٧١].

2860. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Zaid bin Aslam, dari Abu Shalih As-Samman, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—:

Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda,

Kuda untuk tiga hal: bagi seseorang menjadi pahala, bagi orang lain menjadi penutup, dan bagi orang lainnya menjadi dosa. Adapun yang menjadi pahala adalah seseorang yang mengikat kuda di jalan Allah, lalu dia ulurkan di padang rumput atau kebun, maka rumput atau kebun yang diinjak atau dimakan oleh kuda itu, akan menjadi kebaikan untuk pemiliknya. Andai kuda itu memutuskan tali tambatnya lalu melaju melewati satu atau dua tanjakan, kotoran dan jejak kuda itu akan menjadi kebaikan untuk pemiliknya. Andai kuda itu melewati sungai lalu minum darinya padahal dia tidak ingin memberinya minum darinya, itupun akan menjadi kebaikan untuk pemiliknya.

Sedangkan orang yang mengikat kuda dalam rangka sombong, ria, dan permusuhan terhadap muslimin, maka kuda itu akan menjadi dosa.

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang himar, lantas beliau bersabda,

Tidak ada wahyu yang diturunkan kepadaku tentangnya kecuali satu-satunya ayat yang komprehensif berikut ini, “Barang siapa beramal kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa beramal keburukan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

Isra Mikraj

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah di dalam kitab Syarh Lum'atil I'tiqad berkata:

الۡإِسۡرَاءُ لُغَةً: السَّيۡرُ بِالشَّخۡصِ لَيۡلًا وَقِيلَ: بِمَعۡنَى سَرَى.

وَشَرۡعًا: سَيۡرُ جِبۡرِيلُ بِالنَّبِيِّ ﷺ مِنۡ مَكَّةَ إِلَى بَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿سُبۡحَانَ الَّذِي أَسۡرَى بِعَبۡدِهِ لَيۡلًا مِنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ إِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡأَقۡصَا﴾ الۡآيَة [الإسراء: ١].

Isra secara bahasa Arab artinya memperjalankan seseorang di malam hari. Ada pula yang berpendapat isra semakna dengan sara (berjalan di malam hari). Adapun secara syariat artinya perjalanan malam Jibril dengan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari Makkah sampai Baitulmakdis, berdasarkan firman Allah taala, “Mahasuci Allah yang memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari Masjidilharam sampai Masjidilaqsa...” (QS. Al-Isra`: 1).

وَالۡمِعۡرَاجُ: لُغَةً: الۡآلَةُ الَّتِي يُعۡرَجُ بِهَا وَهِيَ الۡمِصۡعَدُ.

وَشَرۡعًا: السُّلَّمُ الَّذِي عَرَجَ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنَ الۡأَرۡضِ إِلَى السَّمَاءِ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَٱلنَّجۡمِ إِذَا هَوَىٰ ۝١ مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوَىٰ﴾ [النجم: ١، ٢] إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ﴾ [النجم: ١٨].

Mikraj secara bahasa Arab artinya alat yang digunakan untuk naik. Secara syariat artinya tangga yang digunakan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—untuk naik dari bumi ke langit, berdasarkan firman Allah taala, “Demi bintang ketika telah terbenam. Sahabat kalian tidak tersesat dan tidak keliru.” (QS. An-Najm: 1-2). Sampai firman-Nya, “Dia telah melihat sebagian tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 18).

وَكَانَا فِي لَيۡلَةٍ وَاحِدَةٍ عِنۡدَ الۡجُمۡهُورِ.

وَلِلۡعُلَمَاءِ خِلَافٌ مَتَى كَانَتۡ؟

فَيُرۡوَى بِسَنَدٍ مُنۡقَطِعٍ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ وَجَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ أَنَّهَا لَيۡلَةُ الۡاِثۡنَيۡنِ الثَّانِي عَشَرَ مِنۡ رَبِيعِ الۡأَوَّلِ وَلَمۡ يُعَيِّنَا السَّنَةَ. رَوَاهُ ابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ.

Kedua kejadian ini terjadi dalam satu malam menurut jumhur ulama. Ulama berbeda pendapat kapan peristiwa ini terjadi. Diriwayatkan dengan sanad yang terputus dari Ibnu ‘Abbas dan Jabir—radhiyallahu ‘anhum—bahwa peristiwa ini terjadi pada malam Senin tanggal dua belas Rabiulawal namun tahunnya tidak disebutkan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah.

وَيُرۡوَى عَنِ الزُّهۡرِيِّ وَعُرۡوَةَ: أَنَّهَا قَبۡلَ الۡهِجۡرَةِ بِسَنَةٍ، رَوَاهُ الۡبَيۡهَقِيُّ فَتَكُونُ فِي رَبِيعِ الۡأَوَّلِ وَلَمۡ يُعَيِّنَا اللَّيۡلَةَ، وَقَالَهُ ابۡنُ سَعۡدٍ وَغَيۡرُهُ وَجَزِمَ بِهِ النَّوَوِيُّ.

وَيُرۡوَى عَنِ السُّدِّيِّ: أَنَّهَا قَبۡلَ الۡهِجۡرَةِ بِسِتَّةِ عَشَرَ شَهۡرًا، رَوَاهُ الۡحَاكِمُ، فَتَكُونُ فِي ذِي الۡقَعۡدَةِ

وَقِيلَ: قَبۡلَ الۡهِجۡرَةِ بِثَلَاثِ سِنِينَ.

وَقِيلَ: بِخَمۡسٍ.

وَقِيلَ: بِسِتٍّ.

Juga diriwayatkan dari Az-Zuhri dan ‘Urwah bahwa peristiwa ini terjadi satu tahun sebelum hijrah. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Berarti peristiwa ini terjadi di bulan Rabiulawal namun tidak disebutkan malam apa. Ini adalah pendapat Ibnu Sa’d dan selain beliau. An-Nawawi memastikan kebenaran pendapat ini.

Diriwayatkan pula dari As-Suddi bahwa peristiwa ini terjadi enam belas bulan sebelum hijrah. Ini diriwayatkan oleh Al-Hakim. Berarti peristiwa ini terjadi di bulan Zulkaidah.

Ada juga yang berpendapat tiga tahun sebelum hijrah. Ada yang berpendapat lima tahun dan ada yang berpendapat enam tahun.

وَكَانَ يَقۡظَةً لَا مَنَامًا؛ لِأَنَّ قُرَيۡشًا أَكۡبَرَتۡهُ وَأَنۡكَرَتۡهُ وَلَوۡ كَانَ مَنَامًا لَمۡ تُنۡكِرۡهُ لِأَنَّهَا لَا تُنۡكَرُ الۡمَنَامَاتُ.

Beliau dalam keadaan terjaga dan tidak tertidur karena orang-orang Quraisy mengingkarinya. Kalau beliau mimpi dalam keadaan tertidur, tentu mereka tidak mengingkarinya karena kalau hanya mimpi, tentu tidak akan diingkari.

وَقِصَّتُهُ أَنَّ جِبۡرِيلَ أَمَرَهُ اللهُ أَنۡ يَسۡرِيَ بِالنَّبِيِّ ﷺ إِلَى بَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ عَلَى الۡبُرَاقِ ثُمَّ يَعۡرُجَ بِهِ إِلَى السَّمَوَاتِ الۡعُلَا سَمَاءً سَمَاءً، حَتَّى بَلَغَ مَكَانًا سَمِعَ فِيهِ صَرِيفَ الۡأَقۡلَامِ وَفَرَضَ اللهُ عَلَيۡهِ الصَّلَوَاتِ الۡخَمۡسَ وَاطَّلَعَ عَلَى الۡجَنَّةِ وَالنَّارِ وَاتَّصَلَ بِالۡأَنۡبِيَاءِ الۡكِرَامِ وَصَلَّى بِهِمۡ إِمَامًا، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مَكَّةَ فَحَدَثَ النَّاسَ بِمَا رَأَى فَكَذَّبَهُ الۡكَافِرُونَ وَصَدَّقَ بِهِ الۡمُؤۡمِنُونَ وَتَرَدَّدَ فِيهِ آخَرُونَ.

Kisahnya bahwa Jibril diperintah oleh Allah untuk memperjalankan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ke Baitulmaqdis di atas Buraq kemudian menaikkannya ke langit yang tinggi. Satu langit demi satu langit hingga beliau sampai di suatu tempat yang beliau bisa mendengar goresan pena. Allah mewajibkan kepada beliau salat lima waktu dan memperlihatkan janah dan neraka. Beliau bisa bertemu langsung dengan para nabi yang mulia. Beliau salat mengimami mereka kemudian kembali ke Makkah. Beliau menceritakan apa yang beliau lihat kepada orang-orang. Orang-orang kafir mendustakan beliau, kaum mukminin membenarkan beliau, sedangkan yang lain meragukannya.