Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4972

٢ - بَابٌ قَوۡلُهُ: ﴿وَتَبَّ * مَا أَغۡنَى عَنۡهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ﴾ [٢-٣]
2. Bab Firman Allah, “Dan celakalah ia. Harta dan segala yang ia usahakan tidak berfaedah untuknya” (QS Al-Lahab: 2-3)


٤٩٧٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سَلَامٍ: أَخۡبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَرَجَ إِلَى الۡبَطۡحَاءِ، فَصَعِدَ إِلَى الۡجَبَلِ فَنَادَى: (يَا صَبَاحَاهۡ). فَاجۡتَمَعَتۡ إِلَيۡهِ قُرَيۡشٌ، فَقَالَ: (أَرَأَيۡتُمۡ إِنۡ حَدَّثۡتُكُمۡ أَنَّ الۡعَدُوَّ مُصَبِّحُكُمۡ أَوۡ مُمَسِّيكُمۡ، أَكُنۡتُمۡ تُصَدِّقُونِي؟) قَالُوا: نَعَمۡ، قَالَ: (فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمۡ بَيۡنَ يَدَيۡ عَذَابٍ شَدِيدٍ). فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ: أَلِهٰذَا جَمَعۡتَنَا؟ تَبًّا لَكَ، فَأَنۡزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿تَبَّتۡ يَدَا أَبِي لَهَبٍ﴾ إِلَى آخِرِهَا. [طرفه في: ١٣٩٤].

4972. Muhammad bin Salam telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Murrah, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar ke lembah Makkah lalu naik ke gunung lalu menyeru, “Tolong!”

Orang-orang Quraisy berkumpul ke tempat beliau. Lalu beliau berkata, “Apa pendapat kalian jika aku menceritakan kepada kalian bahwa musuh akan menyerang kalian pagi ini atau sore ini? Apakah kalian memercayaiku?”

Orang-orang menjawab, “Iya.”

Nabi berkata, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang keras.”

Abu Lahab berkata, “Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami? Binasalah engkau.”

Lalu Allah—‘azza wa jalla—menurunkan ayat “Binasalah kedua tangan Abu Lahab ...” sampai akhir surah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4971

١ - بَابٌ
1. Bab


٤٩٧١ – حَدَّثَنَا يُوسُفُ بۡنُ مُوسَى: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ مُرَّةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ ﴿وَأَنۡذِرۡ عَشِيرَتَكَ الۡأَقۡرَبِينَ﴾ [الشعراء: ٢١٤] وَرَهۡطَكَ مِنۡهُمُ الۡمُخۡلَصِينَ، خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّى صَعِدَ الصَّفَا، فَهَتَفَ: (يَا صَبَاحَاهۡ). فَقَالُوا: مَنۡ هٰذَا؟ فَاجۡتَمَعُوا إِلَيۡهِ، فَقَالَ: (أَرَأَيۡتُمۡ إِنۡ أَخۡبَرۡتُكُمۡ أَنَّ خَيۡلًا تَخۡرُجُ مِنۡ سَفۡحِ هٰذَا الۡجَبَلِ، أَكُنۡتُمۡ مُصَدِّقِيَّ؟). قَالُوا: مَا جَرَّبۡنَا عَلَيۡكَ كَذِبًا، قَالَ: (فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمۡ بَيۡنَ يَدَىۡ عَذَابٍ شَدِيدٍ). قَالَ أَبُو لَهَبٍ: تَبًّا لَكَ، مَا جَمَعۡتَنَا إِلَّا لِهٰذَا؟ ثُمَّ قَامَ. فَنَزَلَتۡ: ﴿تَبَّتۡ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ﴾ وَقَدۡ تَبَّ. هَكَذَا قَرَأَهَا الۡأَعۡمَشُ يَوۡمَئِذٍ. [طرفه في: ١٣٩٤].

4971. Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami: ‘Amr bin Murrah menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan:

Ketika ayat “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang paling dekat!” (QS Asy-Syu’ara`: 214) dan keluargamu di antara mereka yang ikhlas, turun, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar hingga naik ke bukit Shafa lalu berteriak, “Tolong!”

Orang-orang bertanya-tanya, “Siapa ini?”

Mereka berkumpul ke tempat beliau, lalu beliau berkata, “Apa pendapat kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda yang keluar dari lereng gunung ini (untuk menyerang kalian)? Apakah kalian memercayaiku?”

Mereka berkata, “Kami tidak pernah mendapatimu berdusta.”

Rasulullah berkata, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang keras.”

Abu Lahab berkata, “Celaka engkau. Engkau mengumpulkan kami hanya untuk ini?!” Kemudian dia bangkit.

Lalu turunlah ayat “Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan celakalah dia.” Wa qad tabb, demikian yang dibaca oleh Al-A’masy di hari itu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4801

٢ - بَابٌ: ﴿‏إِنۡ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمۡ بَيۡنَ يَدَىۡ عَذَابٍ شَدِيدٍ﴾ [٤٦]
2. Bab “Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras” (QS Saba`: 46)


٤٨٠١ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ خَازِمٍ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: صَعِدَ النَّبِيُّ ﷺ الصَّفَا ذَاتَ يَوۡمٍ، فَقَالَ: (يَا صَبَاحَاهۡ). فَاجۡتَمَعَتۡ إِلَيۡهِ قُرَيۡشٌ، قَالُوا: مَا لَكَ؟ قَالَ: (أَرَأَيۡتُمۡ لَوۡ أَخۡبَرۡتُكُمۡ أَنَّ الۡعَدُوَّ يُصَبِّحُكُمۡ أَوۡ يُمَسِّيكُمۡ، أَمَا كُنۡتُمۡ تُصَدِّقُونِي؟). قَالُوا: بَلَى، قَالَ: (فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمۡ بَيۡنَ يَدَيۡ عَذَابٍ شَدِيدٍ). فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ: تَبًّا لَكَ، أَلِهٰذَا جَمَعۡتَنَا؟ فَأَنۡزَلَ اللهُ: ﴿تَبَّتۡ يَدَا أَبِي لَهَبٍ﴾‏. [طرفه في: ١٣٩٤].

4801. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Khazim menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Murrah, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—naik bukit Shafa pada suatu hari, lalu beliau berkata, “Tolong!”

Orang-orang Quraisy berkumpul ke tempat beliau. Mereka bertanya, “Ada apa denganmu?”

Nabi bertanya, “Apa pendapat kalian andai aku kabarkan kepada kalian bahwa musuh akan menyerbu kalian di pagi atau sore hari? Apakah kalian akan memercayaiku?”

Mereka menjawab, “Tentu.”

Nabi berkata, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang keras.”

Abu Lahab berkata, “Celaka engkau. Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?”

Lalu Allah menurunkan ayat “Celakalah kedua tangan Abu Lahab.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4770

٤٧٧٠ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصِ بۡنِ غِيَاثٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ مُرَّةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿وَأَنۡذِرۡ عَشِيرَتَكَ الۡأَقۡرَبِينَ﴾ [٢١٤]. صَعِدَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى الصَّفَا، فَجَعَلَ يُنَادِي: (يَا بَنِي فِهۡرٍ، يَا بَنِي عَدِيٍّ) لِبُطُونِ قُرَيۡشٍ، حَتَّى اجۡتَمَعُوا، فَجَعَلَ الرَّجُلُ إِذَا لَمۡ يَسۡتَطِعۡ أَنۡ يَخۡرُجَ أَرۡسَلَ رَسُولًا لِيَنۡظُرَ مَا هُوَ، فَجَاءَ أَبُو لَهَبٍ وَقُرَيۡشٌ، فَقَالَ: (أَرَأَيۡتَكُمۡ لَوۡ أَخۡبَرۡتُكُمۡ أَنَّ خَيۡلًا بِالۡوَادِي تُرِيدُ أَنۡ تُغِيرَ عَلَيۡكُمۡ أَكُنۡتُمۡ مُصَدِّقِيَّ؟). قَالُوا: نَعَمۡ، مَا جَرَّبۡنَا عَلَيۡكَ إِلَّا صِدۡقًا، قَالَ: (فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمۡ بَيۡنَ يَدَيۡ عَذَابٍ شَدِيدٍ). فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ: تَبًّا لَكَ سَائِرَ الۡيَوۡمِ، أَلِهٰذَا جَمَعۡتَنَا؟ فَنَزَلَتۡ: ﴿تَبَّتۡ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ * مَا أَغۡنَى عَنۡهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ﴾. [طرفه في: ١٣٩٤].

4770. ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Amr bin Murrah menceritakan kepadaku dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan:

Ketika ayat “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat!” (QS Asy-Syu’ara`: 214) turun, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—naik ke bukit Shafa lalu memanggil, “Wahai bani Fihr, wahai bani ‘Adi,” kepada kabilah-kabilah cabang Quraisy hingga mereka berkumpul. Sampai-sampai orang yang tidak mampu keluar mengutus utusan untuk melihat perkaranya. Lalu Abu Lahab dan orang-orang Quraisy datang.

Nabi berkata, “Apa pendapat kalian kalau aku mengabarkan kepada kalian ada pasukan berkuda di lembah yang ingin menyerbu kalian? Apakah kalian akan memercayaiku?”

Mereka menyahut, “Iya. Kami tidak pernah mendapatimu kecuali jujur.”

Nabi berkata, “Sesungguhnya aku pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang dahsyat.”

Abu Lahab berkata, “Celakalah engkau sepanjang hari! Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”

Lalu turunlah ayat “Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan celakalah dia. Harta bendanya dan segala yang ia usahakan tidaklah berfaedah untuknya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3525 dan 3526

١٣ - بَابُ مَنِ انۡتَسَبَ إِلَى آبَائِهِ فِي الۡإِسۡلَامِ وَالۡجَاهِلِيَّةِ‏
13. Bab Barang Siapa Menasabkan Diri kepada Kakek Moyangnya di Masa Islam dan Jahiliah


وَقَالَ ابۡنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (إِنَّ الۡكَرِيمَ، ابۡنَ الۡكَرِيمِ، ابۡنِ الۡكَرِيمِ، ابۡنِ الۡكَرِيمِ، يُوسُفُ بۡنُ يَعۡقُوبَ بۡنِ إِسۡحَاقَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ خَلِيلِ اللهِ).

Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah berkata dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Sesungguhnya orang yang mulia putra orang yang mulia, putra orang yang mulia, putra orang yang mulia adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim khalilullah.”

وَقَالَ الۡبَرَاءُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (أَنَا ابۡنُ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ).

Al-Bara` berkata dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Aku adalah putra ‘Abdul Muththalib.”

٣٥٢٥ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ مُرَّةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ ﴿وَأَنۡذِرۡ عَشِيرَتَكَ الۡأَقۡرَبِينَ﴾ [الشعراء: ٢١٤] جَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ يُنَادِي: (يَا بَنِي فِهۡرٍ، يَا بَنِي عَدِيٍّ) بِبُطُونِ قُرَيۡشٍ. [طرفه في: ١٣٩٤].

3525. ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami: ‘Amr bin Murrah menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan: Ketika ayat “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat!” (QS Asy-Syu’ara`: 214) turun, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memanggil, “Wahai bani Fihr, wahai bani ‘Adi,” yaitu kabilah cabang dari Quraisy.

٣٥٢٦ - وَقَالَ لَنَا قَبِيصَةُ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ حَبِيبِ بۡنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿وَأَنۡذِرۡ عَشِيرَتَكَ الۡأَقۡرَبِينَ﴾ جَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ يَدۡعُوهُمۡ قَبَائِلَ قَبَائِلَ. [طرفه في: ١٣٩٤].

3526. Qabishah berkata kepada kami: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Habib bin Abu Tsabit, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata: Ketika ayat “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat!” turun, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memanggil mereka kabilah per kabilah.

Shahih Muslim hadis nomor 2639

٥٠ - بَابٌ الۡمَرۡءُ مَعَ مَنۡ أَحَبَّ
50. Bab Seseorang Akan Bersama Siapa Saja yang Dicintainya


١٦١ - (٢٦٣٩) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ بۡنِ قَعۡنَبٍ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، أَنَّ أَعۡرَابِيًّا قَالَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا أَعۡدَدۡتَ لَهَا؟) قَالَ: حُبَّ اللهِ وَرَسُولِهِ. قَالَ: (أَنۡتَ مَعَ مَنۡ أَحۡبَبۡتَ).

161. (2639). ‘Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah, dari Anas bin Malik:

Seorang badui Arab bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Kapan hari kiamat?”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—balik bertanya kepadanya, “Apa yang sudah kausiapkan untuknya?”

Si badui Arab menjawab, “Mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah bersabda, “Engkau akan bersama dengan siapa saja yang kaucintai.”

١٦٢ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَعَمۡرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَمُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ وَابۡنُ أَبِي عُمَرَ، وَاللَّفۡظُ لِزُهَيۡرٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: (وَمَا أَعۡدَدۡتَ لَهَا؟) فَلَمۡ يَذۡكُرۡ كَبِيرًا. قَالَ: وَلَٰكِنِّي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ. قَالَ: (فَأَنۡتَ مَعَ مَنۡ أَحۡبَبۡتَ).

162. Abu Bakr bin Abu Syaibah, ‘Amr bin An-Naqid, Zuhair bin Harb, Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair, dan Ibnu Abu ‘Umar telah menceritakan kepada kami. Lafaz hadis ini milik Zuhair. Mereka berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Anas. Beliau berkata:

Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”

Beliau menjawab, “Apa yang sudah engkau siapkan untuknya?”

Orang itu tidak menyebutkan suatu amalan yang besar. Dia berkata, “Akan tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah bersabda, “Engkau akan bersama dengan siapa saja yang kaucintai.”

(...) - حَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ. قَالَ عَبۡدٌ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ ابۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: حَدَّثَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ، أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَعۡرَابِ أَتَىٰ رَسُولَ اللهِ ﷺ... بِمِثۡلِهِ. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: مَا أَعۡدَدۡتُ لَهَا مِنۡ كَثِيرٍ أَحۡمَدُ عَلَيۡهِ نَفۡسِي.

Muhammad bin Rafi’ dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakannya kepadaku. ‘Abd berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Ibnu Rafi’ berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri: Anas bin Malik menceritakan kepadaku bahwa seorang pria badui Arab datang kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—... Semisal riwayat tersebut. Hanya saja dia berkata, “Aku tidak melakukan banyak persiapan yang bisa kuandalkan.”

١٦٣ - (...) - حَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الۡعَتَكِيُّ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، يَعۡنِي ابۡنَ زَيۡدٍ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ. قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَىٰ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: (وَمَا أَعۡدَدۡتَ لِلسَّاعَةِ؟) قَالَ: حُبَّ اللهِ وَرَسُولِهِ. قَالَ: (فَإِنَّكَ مَعَ مَنۡ أَحۡبَبۡتَ).

قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحۡنَا بَعۡدَ الۡإِسۡلَامِ، فَرَحًا أَشَدَّ مِنۡ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (فَإِنَّكَ مَعَ مَنۡ أَحۡبَبۡتَ).

قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكۡرٍ وَعُمَرَ. فَأَرۡجُو أَنۡ أَكُونَ مَعَهُمۡ، وَإِنۡ لَمۡ أَعۡمَلۡ بِأَعۡمَالِهِمۡ.


163. Abu Ar-Rabi’ Al-‘Ataki telah menceritakan kepadaku: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik. Beliau berkata:

Seorang pria datang menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”

Rasulullah balik bertanya, “Apa yang sudah kausiapkan untuk hari kiamat?”

Pria itu menjawab, “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah bersabda, “Sungguh engkau akan bersama dengan siapa saja yang kaucintai.”

Anas berkata: Setelah memeluk Islam, kami tidak pernah lebih bahagia daripada saat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kamu akan bersama siapa saja yang kamu cintai.”

Anas berkata: Maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakr, dan ‘Umar. Aku berharap bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.

(...) - حَدَّثَنَاهُ مُحَمَّدُ بۡنُ عُبَيۡدٍ الۡغُبَرِيُّ: حَدَّثَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ قَوۡلَ أَنَسٍ: فَأَنَا أُحِبُّ، وَمَا بَعۡدَهُ.

Muhammad bin ‘Ubaid Al-Ghubari telah menceritakannya kepada kami: Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau tidak menyebutkan ucapan Anas: Maka aku mencintai... dan seterusnya.

١٦٤ - (...) - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ عُثۡمَانُ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ أَبِي الۡجَعۡدِ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ قَالَ: بَيۡنَمَا أَنَا وَرَسُولُ اللهِ ﷺ خَارِجَيۡنِ مِنَ الۡمَسۡجِدِ. فَلَقِينَا رَجُلًا عِنۡدَ سُدَّةِ الۡمَسۡجِدِ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا أَعۡدَدۡتَ لَهَا؟) قَالَ: فَكَأَنَّ الرَّجُلَ اسۡتَكَانَ. ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَعۡدَدۡتُ لَهَا كَبِيرَ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ وَلَا صَدَقَةٍ، وَلَٰكِنِّي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ. قَالَ: (فَأَنۡتَ مَعَ مَنۡ أَحۡبَبۡتَ).


164. ‘Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Ishaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami. ‘Utsman berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Salim bin Abu Al-Ja’d: Anas bin Malik menceritakan kepada kami. Beliau berkata:

Ketika aku dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar dari masjid, lalu kami bertemu dengan seorang pria di dekat pintu masjid.

Pria itu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—balik bertanya, “Apa yang sudah kausiapkan untuknya?”

Anas berkata: Pria itu seperti tertunduk, kemudian pria itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak mempersiapkan salat atau siam atau sedekah yang istimewa untuk itu, akan tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah bersabda, “Engkau akan bersama siapa saja yang kaucintai.”

(...) - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ يَحۡيَىٰ بۡنِ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ الۡيَشۡكُرِيُّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُثۡمَانَ بۡنِ جَبَلَةَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ أَبِي الۡجَعۡدِ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِنَحۡوِهِ.

Muhammad bin Yahya bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Yasykuri telah menceritakan kepadaku: ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Jabalah menceritakan kepada kami: Ayahku mengabarkan kepadaku dari Syu’bah, dari ‘Amr bin Murrah, dari Salim bin Abu Al-Ja’d, dari Anas, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—... seperti riwayat tersebut.

(...) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ الۡمُثَنَّىٰ وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ. سَمِعۡتُ أَنَسًا. (ح) - وَحَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ الۡمِسۡمَعِيُّ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ. قَالَا: حَدَّثَنَا مُعَاذٌ، يَعۡنِي ابۡنَ هِشَامٍ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، بِهٰذَا الۡحَدِيثِ.

Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas. (Dalam riwayat lain) Ibnu Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah: Aku mendengar Anas. (Dalam riwayat lain) Abu Ghassan Al-Misma’i dan Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan hadis ini kepadaku dari Qatadah, dari Anas, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7207

٧٢٠٧ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ أَسۡمَاءَ: حَدَّثَنَا جُوَيۡرِيَةُ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَنَّ حُمَيۡدَ بۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ الۡمِسۡوَرَ بۡنَ مَخۡرَمَةَ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ الرَّهۡطَ الَّذِينَ وَلَّاهُمۡ عُمَرُ اجۡتَمَعُوا فَتَشَاوَرُوا، قَالَ لَهُمۡ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: لَسۡتُ بِالَّذِي أُنَافِسُكُمۡ عَلَى هٰذَا الۡأَمۡرِ، وَلَكِنَّكُمۡ إِنۡ شِئۡتُمُ اخۡتَرۡتُ لَكُمۡ مِنۡكُمۡ، فَجَعَلُوا ذٰلِكَ إِلَى عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، فَلَمَّا وَلَّوۡا عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ أَمۡرَهُمۡ، فَمَالَ النَّاسُ عَلَى عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، حَتَّى مَا أَرَى أَحَدًا مِنَ النَّاسِ يَتۡبَعُ أُولَئِكَ الرَّهۡطَ وَلَا يَطَأُ عَقِبَهُ، وَمَالَ النَّاسُ عَلَى عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ يُشَاوِرُونَهُ تِلۡكَ اللَّيَالِيَ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ اللَّيۡلَةُ الَّتِي أَصۡبَحۡنَا مِنۡهَا فَبَايَعۡنَا عُثۡمَانَ، قَالَ الۡمِسۡوَرُ:

7207. ‘Abdullah bin Muhammad bin Asma` telah menceritakan kepada kami: Juwairiyah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Az-Zuhri: Humaid bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadanya: Al-Miswar bin Makhramah mengabarkan kepadanya: Beberapa orang yang ditunjuk oleh ‘Umar (sebagai kandidat khalifah) mengadakan pertemuan dan bermusyawarah. ‘Abdurrahman berkata kepada mereka, “Aku tidak ingin bersaing dengan kalian dalam urusan ini. Akan tetapi jika kalian mau, aku akan pilihkan untuk kalian dari kalian.”

Mereka menyerahkan urusan itu kepada ‘Abdurrahman. Ketika mereka menyerahkan urusan kepada ‘Abdurrahman, orang-orang pergi mengikuti ‘Abdurrahman sampai-sampai aku tidak melihat ada seorang pun yang mengikuti kandidat khalifah lainnya dan berjalan di belakang mereka. Orang-orang pergi mengikuti ‘Abdurrahman untuk bermusyawarah dengannya di malam itu. Sampai ketika malam sebelum hari kami berbaiat kepada ‘Utsman, Al-Miswar berkata:

طَرَقَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بَعۡدَ هَجۡعٍ مِنَ اللَّيۡلِ، فَضَرَبَ الۡبَابَ حَتَّى اسۡتَيۡقَظۡتُ، فَقَالَ: أَرَاكَ نَائِمًا، فَوَاللهِ مَا اكۡتَحَلۡتُ هٰذِهِ اللَّيۡلَةَ بِكَبِيرِ نَوۡمٍ، انۡطَلِقۡ فَادۡعُ الزُّبَيۡرَ وَسَعۡدًا، فَدَعَوۡتُهُمَا لَهُ فَشَاوَرَهُمَا ثُمَّ دَعَانِي فَقَالَ: ادۡعُ لِي عَلِيًّا، فَدَعَوۡتُهُ فَنَاجَاهُ حَتَّى ابۡهَارَّ اللَّيۡلُ، ثُمَّ قَامَ عَلِيٌّ مِنۡ عِنۡدِهِ وَهُوَ عَلَى طَمَعٍ، وَقَدۡ كَانَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ يَخۡشَى مِنۡ عَلِيٍّ شَيۡئًا، ثُمَّ قَالَ: ادۡعُ لِي عُثۡمَانَ، فَدَعَوۡتُهُ، فَنَاجَاهُ حَتَّى فَرَّقَ بَيۡنَهُمَا الۡمُؤَذِّنُ بِالصُّبۡحِ،

‘Abdurrahman datang malam-malam ke tempatku setelah sebagian malam berlalu, lalu beliau mengetuk pintu sampai aku terbangun. Beliau berkata, “Aku mengira engkau sudah tidur. Demi Allah, aku tidak bisa tidur malam ini. Pergilah lalu panggilkan Az-Zubair dan Sa’d!”

Aku memanggil mereka berdua untuk bertemu dengan ‘Abdurrahman lalu beliau bermusyawarah dengan mereka berdua. Kemudian ‘Abdurrahman memanggilku lalu berkata, “Panggilkan ‘Ali untuk menemuiku!”

Aku memanggil ‘Ali lalu ‘Abdurrahman berbicara dengannya secara pribadi sampai tengah malam. Kemudian ‘Ali beranjak meninggalkan ‘Abdurrahman dalam keadaan ingin dipilih menjadi khalifah. ‘Abdurrahman mengkhawatirkan sesuatu dari diri ‘Ali. Kemudian ‘Abdurrahman berkata, “Panggilkan ‘Utsman untuk menemuiku!”

Aku memanggil ‘Utsman lalu ‘Abdurrahman berbicara dengannya secara pribadi sampai muazin salat Subuh memisahkan mereka berdua.

فَلَمَّا صَلَّى لِلنَّاسِ الصُّبۡحَ، وَاجۡتَمَعَ أُولَئِكَ الرَّهۡطُ عِنۡدَ الۡمِنۡبَرِ، فَأَرۡسَلَ إِلَى مَنۡ كَانَ حَاضِرًا مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ وَالۡأَنۡصَارِ، وَأَرۡسَلَ إِلَى أُمَرَاءِ الۡأَجۡنَادِ، وَكَانُوا وَافَوۡا تِلۡكَ الۡحَجَّةَ مَعَ عُمَرَ، فَلَمَّا اجۡتَمَعُوا تَشَهَّدَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعۡدُ يَا عَلِيُّ، إِنِّي قَدۡ نَظَرۡتُ فِي أَمۡرِ النَّاسِ، فَلَمۡ أَرَهُمۡ يَعۡدِلُونَ بِعُثۡمَانَ، فَلَا تَجۡعَلَنَّ عَلَى نَفۡسِكَ سَبِيلًا. فَقَالَ: أُبَايِعُكَ عَلَى سُنَّةِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَالۡخَلِيفَتَيۡنِ مِنۡ بَعۡدِهِ، فَبَايَعَهُ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ، وَبَايَعَهُ النَّاسُ الۡمُهَاجِرُونَ، وَالۡأَنۡصَارُ، وَأُمَرَاءُ الۡأَجۡنَادِ، وَالۡمُسۡلِمُونَ. [طرفه في: ١٣٩٢].

Ketika ‘Abdurrahman selesai mengimami salat Subuh kaum muslimin dan orang-orang yang ditunjuk ‘Umar telah berkumpul di dekat mimbar, ‘Abdurrahman mengutus utusan kepada orang-orang Muhajirin dan Ansar yang hadir di situ dan mengutus utusan kepada para pemimpin pasukan yang telah menunaikan haji bersama ‘Umar. Ketika mereka telah berkumpul, ‘Abdurrahman membaca syahadat kemudian berkata, “Amabakdu. Wahai ‘Ali, sesungguhnya aku telah melihat kapabilitas orang-orang itu, namun aku tidak melihat mereka bisa menandingi ‘Utsman, maka jangan sampai engkau disalahkan karena tidak menyetujuinya.”

Lalu ‘Abdurrahman berkata, “Aku membaiatmu (‘Utsman) dengan syarat engkau mengikuti hukum Allah, sunah Rasul-Nya, dan dua khalifah setelahnya.”

Lalu ‘Abdurrahman berbaiat kepada ‘Utsman. Orang-orang Muhajirin, Ansar, para pemimpin pasukan, dan kaum muslimin juga berbaiat kepadanya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3700

٨ - بَابُ قِصَّةُ الۡبَيۡعَةِ، وَالۡاِتِّفَاقُ عَلَى عُثۡمَانَ بۡنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ
8. Bab Kisah Baiat dan Kesepakatan terhadap ‘Utsman bin ‘Affan—radhiyallahu ‘anhu


٣٧٠٠ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ حُصَيۡنٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مَيۡمُونٍ قَالَ: رَأَيۡتُ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَبۡلَ أَنۡ يُصَابَ بِأَيَّامٍ بِالۡمَدِينَةِ، وَقَفَ عَلَى حُذَيۡفَةَ بۡنِ الۡيَمَانِ وَعُثۡمَانَ بۡنِ حُنَيۡفٍ قَالَ: كَيۡفَ فَعَلۡتُمَا، أَتَخَافَانِ أَنۡ تَكُونَا قَدۡ حَمَّلۡتُمَا الۡأَرۡضَ مَا لَا تُطِيقُ؟ قَالَا: حَمَّلۡنَاهَا أَمۡرًا هِيَ لَهُ مُطِيقَةٌ، مَا فِيهَا كَبِيرُ فَضۡلٍ. قَالَ: انۡظُرَا أَنۡ تَكُونَا حَمَّلۡتُمَا الۡأَرۡضَ مَا لَا تُطِيقُ، قَالَ: قَالَا: لَا، فَقَالَ عُمَرُ: لَئِنۡ سَلَّمَنِي اللهُ، لَأَدَعَنَّ أَرَامِلَ أَهۡلِ الۡعِرَاقِ لَا يَحۡتَجۡنَ إِلَى رَجُلٍ بَعۡدِي أَبَدًا،

3700. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Hushain, dari ‘Amr bin Maimun. Beliau berkata:

Aku melihat ‘Umar bin Al-Khaththab—radhiyallahu ‘anhu—di Madinah beberapa hari sebelum ditusuk, beliau berdiri bersama Hudzaifah bin Al-Yaman dan ‘Utsman bin Hunaif.

Beliau bertanya, “Bagaimana yang kalian berdua lakukan? Aku khawatir kalian membebani penduduk negeri itu dengan beban yang tidak dimampuinya.”

Keduanya berkata, “Kami membebaninya dengan suatu kewajiban yang mereka mampu tanggung. Beban tersebut tidaklah berlebihan.”

‘Umar berkata, “Hati-hatilah kalau kalian membebani penduduk negeri itu dengan beban yang tidak mereka mampu.”

‘Amr berkata: Keduanya berkata, “Tidak.”

‘Umar berkata, “Jika Allah memberikan keselamatan kepadaku niscaya aku tinggalkan janda-janda penduduk Irak dalam keadaan tidak butuh kepada seorang pria selainku selama-lamanya.”

قَالَ: فَمَا أَتَتۡ عَلَيۡهِ إِلَّا رَابِعَةٌ حَتَّى أُصِيبَ، قَالَ إِنِّي لَقَائِمٌ مَا بَيۡنِي وَبَيۡنَهُ إِلَّا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبَّاسٍ غَدَاةَ أُصِيبَ، وَكَانَ إِذَا مَرَّ بَيۡنَ الصَّفَّيۡنِ قَالَ: اسۡتَوُوا، حَتَّى إِذَا لَمۡ يَرَ فِيهِنَّ خَلَلًا تَقَدَّمَ فَكَبَّرَ، وَرُبَّمَا قَرَأَ سُورَةَ يُوسُفَ أَوِ النَّحۡلَ أَوۡ نَحۡوَ ذٰلِكَ فِي الرَّكۡعَةِ الۡأُولَى حَتَّى يَجۡتَمِعَ النَّاسُ، فَمَا هُوَ إِلَّا أَنۡ كَبَّرَ فَسَمِعۡتُهُ يَقُولُ: قَتَلَنِي - أَوۡ أَكَلَنِي – الۡكَلۡبُ، حِينَ طَعَنَهُ، فَطَارَ الۡعِلۡجُ بِسِكِّينٍ ذَاتِ طَرَفَيۡنِ، لَا يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا إِلَّا طَعَنَهُ، حَتَّى طَعَنَ ثَلَاثَةَ عَشَرَ رَجُلًا، مَاتَ مِنۡهُمۡ سَبۡعَةٌ، فَلَمَّا رَأَى ذٰلِكَ رَجُلٌ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ طَرَحَ عَلَيۡهِ بُرۡنُسًا، فَلَمَّا ظَنَّ الۡعِلۡجُ أَنَّهُ مَأۡخُوذٌ نَحَرَ نَفۡسَهُ،

‘Amr berkata: Tidak sampai hari keempat datang kecuali beliau telah ditikam.

‘Amr berkata: Sungguh aku berdiri (di dalam saf) di posisi yang tidak ada orang antara aku dengan ‘Umar kecuali ‘Abdullah bin ‘Abbas di pagi hari ‘Umar ditikam. Kebiasaan ‘Umar adalah bila lewat di antara dua saf, beliau berkata, “Luruskan!” Sampai ketika beliau melihat sudah tidak ada celah di saf-saf, beliau maju lalu bertakbir. Kadang-kadang beliau membaca surah Yusuf, atau An-Nahl, atau surah lain semacam itu di rakaat pertama supaya orang-orang berkumpul. Begitu beliau membaca takbiratulihram, aku mendengar beliau berkata, “Anjing itu telah membunuhku atau memangsaku,” ketika beliau ditusuk.

Seorang pria kafir non-Arab itu berjalan cepat dengan membawa sebilah pisau bermata dua. Tidaklah dia melewati seseorang di sebelah kanan dan kiri kecuali ditusuknya sampai-sampai dia menusuk tiga belas pria. Tujuh di antara mereka meninggal. Melihat itu, salah seorang muslimin melemparkan burnus kepadanya. Ketika pria kafir itu menyadari dirinya telah tertangkap, dia menusuk dirinya.

وَتَنَاوَلَ عُمَرُ يَدَ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ فَقَدَّمَهُ، فَمَنۡ يَلِي عُمَرَ فَقَدۡ رَأَى الَّذِي أَرَى، وَأَمَّا نَوَاحِي الۡمَسۡجِدِ فَإِنَّهُمۡ لَا يَدۡرُونَ، غَيۡرَ أَنَّهُمۡ قَدۡ فَقَدُوا صَوۡتَ عُمَرَ، وَهُمۡ يَقُولُونَ: سُبۡحَانَ اللهِ سُبۡحَانَ اللهِ، فَصَلَّى بِهِمۡ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ صَلَاةً خَفِيفَةً، فَلَمَّا انۡصَرَفُوا قَالَ: يَا ابۡنَ عَبَّاسٍ، انۡظُرۡ مَنۡ قَتَلَنِي، فَجَالَ سَاعَةً ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: غُلَامُ الۡمُغِيرَةِ، قَالَ: الصَّنَعُ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: قَاتَلَهُ اللهُ، لَقَدۡ أَمَرۡتُ بِهِ مَعۡرُوفًا، الۡحَمۡدُ لِلهِ الَّذِي لَمۡ يَجۡعَلۡ مَنِيَّتِي بِيَدِ رَجُلٍ يَدَّعِي الۡإِسۡلَامَ، قَدۡ كُنۡتَ أَنۡتَ وَأَبُوكَ تُحِبَّانِ أَنۡ تَكۡثُرَ الۡعُلُوجُ بِالۡمَدِينَةِ – وَكَانَ أَكۡثَرَهُمۡ رَقِيقًا – فَقَالَ: إِنۡ شِئۡتَ فَعَلۡتُ، أَيۡ: إِنۡ شِئۡتَ قَتَلۡنَا؛ قَالَ: كَذَبۡتَ، بَعۡدَ مَا تَكَلَّمُوا بِلِسَانِكُمۡ، وَصَلَّوۡا قِبۡلَتَكُمۡ، وَحَجُّوا حَجَّكُمۡ.

‘Umar meraih tangan ‘Abdurrahman bin ‘Auf lalu memajukannya. Orang-orang yang berada di dekat ‘Umar melihat seperti yang kulihat. Adapun orang-orang yang berada di tepi masjid, mereka tidak tahu kejadian sebenarnya. Mereka hanya kehilangan suara ‘Umar dan mereka mengucapkan, “Subhanallah subhanallah.”

Lalu ‘Abdurrahman salat mengimami mereka dengan ringkas. Ketika mereka selesai salat, ‘Umar berkata, “Wahai Ibnu ‘Abbas, lihatlah siapa yang menyerangku!”

Ibnu ‘Abbas pergi menyelidiki sebentar, kemudian dia datang lalu berkata, “Budak milik Al-Mughirah.”

‘Umar berkata, “Si perajin itu?”

Ibnu ‘Abbas menjawab, “Iya.”

‘Umar berkata, “Semoga Allah memeranginya. Sungguh aku telah memerintahkan kebaikan untuknya. Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seseorang yang mengaku Islam. Dahulu engkau dan ayahmu senang apabila banyak orang kafir non-Arab berada di Madinah.”

Al-‘Abbas dahulu merupakan penduduk Madinah yang paling banyak budaknya. Ibnu ‘Abbas berkata, “Jika engkau mau, tentu aku lakukan.” Maksudnya, jika engkau mau, kami akan bunuh (mereka).

‘Umar berkata, “Engkau keliru. (Engkau tidak dapat membunuh mereka) setelah mereka berbicara dengan lisan kalian, salat menghadap kiblat kalian, dan berhaji seperti haji kalian.”

فَاحۡتُمِلَ إِلَى بَيۡتِهِ، فَانۡطَلَقۡنَا مَعَهُ، وَكَأَنَّ النَّاسَ لَمۡ تُصِبۡهُمۡ مُصِيبَةٌ قَبۡلَ يَوۡمَئِذٍ، فَقَائِلٌ يَقُولُ: لَا بَأۡسَ، وَقَائِلٌ يَقُولُ: أَخَافُ عَلَيۡهِ، فَأُتِيَ بِنَبِيذٍ فَشَرِبَهُ، فَخَرَجَ مِنۡ جَوۡفِهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِلَبَنٍ فَشَرِبَهُ، فَخَرَجَ مِنۡ جُرۡحِهِ، فَعَلِمُوا أَنَّهُ مَيِّتٌ، فَدَخَلۡنَا عَلَيۡهِ، وَجَاءَ النَّاسُ يُثۡنُونَ عَلَيۡهِ، وَجَاءَ رَجُلٌ شَابٌّ فَقَالَ: أَبۡشِرۡ يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ بِبُشۡرَى اللهِ لَكَ، مِنۡ صُحۡبَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَقَدَمٍ فِي الۡإِسۡلَامِ مَا قَدۡ عَلِمۡتَ، ثُمَّ وَلِيتَ فَعَدَلۡتَ، ثُمَّ شَهَادَةٌ، قَالَ: وَدِدۡتُ أَنَّ ذٰلِكَ كَفَافٌ لَا عَلَيَّ وَلَا لِي، فَلَمَّا أَدۡبَرَ إِذَا إِزَارُهُ يَمَسُّ الۡأَرۡضَ، قَالَ: رُدُّوا عَلَيَّ الۡغُلَامَ، قَالَ: ابۡنَ أَخِي ارۡفَعۡ ثَوۡبَكَ، فَإِنَّهُ أَبۡقَى لِثَوۡبِكَ، وَأَتۡقَى لِرَبِّكَ. يَا عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ، انۡظُرۡ مَا عَلَيَّ مِنَ الدَّيۡنِ،

‘Umar digotong ke rumahnya lalu kami pergi bersamanya. Orang-orang seperti belum pernah tertimpa musibah sebelum hari itu. Ada yang berkata, “Beliau tidak apa-apa.” Ada pula yang berkata, “Aku mengkhawatirkan beliau.”

Lalu ada yang datang membawa nabidz (air rendaman kurma). ‘Umar meminumnya lalu minuman itu keluar dari perutnya. Kemudian ada yang datang membawa susu. ‘Umar meminumnya lalu susu itu keluar dari lukanya. Mereka pun tahu kalau ‘Umar akan meninggal. Kami masuk menemuinya dan orang-orang datang menyanjungnya. Seorang pemuda datang lalu berkata, “Bergembiralah wahai amirulmukminin dengan kabar gembira Allah untukmu berupa persahabatan dengan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan keutamaan dalam Islam yang telah engkau ketahui, kemudian engkau menjadi pemimpin dan berbuat adil, kemudian engkau mendapat kesyahidan.”

‘Umar berkata, “Aku berharap itu semua bisa impas, sehingga seimbang antara dosa dan kebaikanku.”

Ketika pemuda itu berbalik ternyata izar (pakaian bagian bawah)-nya menyentuh tanah. ‘Umar berkata, “Panggilkan pemuda itu untuk menemuiku!”

‘Umar berkata, “Wahai putra saudaraku, angkatlah pakaianmu karena lebih awet untuk pakaianmu dan lebih bertakwa kepada Rabmu. Wahai ‘Abdullah bin ‘Umar, lihatlah utang yang harus kulunasi!”

فَحَسَبُوهُ فَوَجَدُوهُ سِتَّةً وَثَمَانِينَ أَلۡفًا أَوۡ نَحۡوَهُ، قَالَ: إِنۡ وَفَى لَهُ مَالُ آلِ عُمَرَ فَأَدِّهِ مِنۡ أَمۡوَالِهِمۡ، وَإِلَّا فَسَلۡ فِي بَنِي عَدِيِّ بۡنِ كَعۡبٍ، فَإِنۡ لَمۡ تَفِ أَمۡوَالُهُمۡ فَسَلۡ فِي قُرَيۡشٍ، وَلَا تَعۡدُهُمۡ إِلَى غَيۡرِهِمۡ، فَأَدِّ عَنِّي هٰذَا الۡمَالَ. انۡطَلِقۡ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ، فَقُلۡ: يَقۡرَأُ عَلَيۡكِ عُمَرُ السَّلَامَ، وَلَا تَقُلۡ أَمِيرُ الۡمُؤۡمِنِينَ، فَإِنِّي لَسۡتُ الۡيَوۡمَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ أَمِيرًا، وَقُلۡ: يَسۡتَأۡذِنُ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ أَنۡ يُدۡفَنَ مَعَ صَاحِبَيۡهِ.

Mereka menghitungnya lalu mendapatinya berjumlah sekitar 86.000. ‘Umar berkata, “Jika harta keluarga ‘Umar bisa melunasinya, maka lunasilah dari harta mereka. Jika tidak cukup, mintalah bani ‘Adi bin Ka’b. Jika harta mereka masih belum mencukupi, mintalah kepada Quraisy. Jangan minta harta kepada selain mereka untuk melunasi utangku! Pergilah kepada ‘Aisyah ibunda kaum mukminin lalu katakan bahwa ‘Umar menyampaikan salam kepadamu. Jangan engkau katakan amirulmukminin karena hari ini aku sudah bukan pemimpin kaum mukminin. Katakanlah: ‘Umar bin Al-Khaththab meminta izin agar dikubur bersama dua sahabatnya.”

فَسَلَّمَ وَاسۡتَأۡذَنَ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَيۡهَا، فَوَجَدَهَا قَاعِدَةً تَبۡكِي، فَقَالَ: يَقۡرَأُ عَلَيۡكِ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ السَّلَامَ، وَيَسۡتَأۡذِنُ أَنۡ يُدۡفَنَ مَعَ صَاحِبَيۡهِ، فَقَالَتۡ: كُنۡتُ أُرِيدُهُ لِنَفۡسِي، وَلَأُوثِرَنَّ بِهِ الۡيَوۡمَ عَلَى نَفۡسِي، فَلَمَّا أَقۡبَلَ، قِيلَ: هٰذَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ قَدۡ جَاءَ، قَالَ ارۡفَعُونِي، فَأَسۡنَدَهُ رَجُلٌ إِلَيۡهِ، فَقَالَ: مَا لَدَيۡكَ؟ قَالَ: الَّذِي تُحِبُّ يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ أَذِنَتۡ، قَالَ: الۡحَمۡدُ لِلهِ، مَا كَانَ مِنۡ شَيۡءٍ أَهَمُّ إِلَيَّ مِنۡ ذٰلِكَ، فَإِذَا أَنَا قَضَيۡتُ فَاحۡمِلُونِي، ثُمَّ سَلِّمۡ، فَقُلۡ: يَسۡتَأۡذِنُ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ، فَإِنۡ أَذِنَتۡ لِي فَأَدۡخِلُونِي، وَإِنۡ رَدَّتۡنِي رُدُّونِي إِلَى مَقَابِرِ الۡمُسۡلِمِينَ.

Ibnu ‘Umar mengucapkan salam dan minta izin kemudian masuk menemuinya. Ibnu ‘Umar mendapati ‘Aisyah sedang duduk menangis lalu Ibnu ‘Umar berkata, “‘Umar bin Al-Khaththab menyampaikan salam kepadamu dan meminta izin agar dikubur bersama dua sahabatnya.”

‘Aisyah berkata, “Dulu aku menginginkannya untuk diriku, namun hari ini aku akan mendahulukannya atas diriku.”

Ketika Ibnu ‘Umar datang, ada yang berkata (kepada ‘Umar), “Ini ‘Abdullah bin ‘Umar sudah datang.”

‘Umar berkata, “Bangkitkan aku!”

Seseorang menyandarkan ‘Umar kepada dirinya. ‘Umar bertanya, “Engkau bawa kabar apa?”

Ibnu ‘Umar menjawab, “Keinginanmu sudah diizinkan wahai amirulmukminin.”

‘Umar berkata, “Alhamdulillah. Tidak ada hal yang lebih penting bagiku daripada hal itu. Apabila aku sudah meninggal, usunglah aku kemudian bersalamlah. Lalu katakanlah: ‘Umar bin Al-Khaththab meminta izin. Jika aku diizinkan, masukkanlah aku. Jika ‘Aisyah menolakku, kembalikan aku ke pekuburan kaum muslimin.”

وَجَاءَتۡ أُمُّ الۡمُؤۡمِنِينَ حَفۡصَةُ وَالنِّسَاءُ تَسِيرُ مَعَهَا، فَلَمَّا رَأَيۡنَاهَا قُمۡنَا، فَوَلَجَتۡ عَلَيۡهِ، فَبَكَتۡ عِنۡدَهُ سَاعَةً، وَاسۡتَأۡذَنَ الرِّجَالُ، فَوَلَجَتۡ دَاخِلًا لَهُمۡ، فَسَمِعۡنَا بُكَاءَهَا مِنَ الدَّاخِلِ، فَقَالُوا: أَوۡصِ يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ، اسۡتَخۡلِفۡ، قَالَ: مَا أَجِدُ أَحَقَّ بِهٰذَا الۡأَمۡرِ مِنۡ هَؤُلَاءِ النَّفَرِ، أَوِ الرَّهۡطِ، الَّذِينَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ عَنۡهُمۡ رَاضٍ، فَسَمَّى عَلِيًّا وَعُثۡمَانَ وَالزُّبَيۡرَ وَطَلۡحَةَ وَسَعۡدًا وَعَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ، وَقَالَ: يَشۡهَدُكُمۡ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ، وَلَيۡسَ لَهُ مِنَ الۡأَمۡرِ شَيۡءٌ - كَهَيۡئَةِ التَّعۡزِيَةِ لَهُ - فَإِنۡ أَصَابَتِ الۡإِمۡرَةُ سَعۡدًا فَهُوَ ذَاكَ، وَإِلَّا فَلۡيَسۡتَعِنۡ بِهِ أَيُّكُمۡ مَا أُمِّرَ، فَإِنِّي لَمۡ أَعۡزِلۡهُ عَنۡ عَجۡزٍ وَلَا خِيَانَةٍ.

Ibunda kaum mukminin Hafshah datang bersama beberapa wanita. Ketika kami melihatnya, kami bangkit. Hafshah masuk menemui ‘Umar lalu dia menangis di sisinya beberapa saat lamanya. Beberapa pria meminta izin masuk, lalu Hafshah masuk ruangan dalam agar mereka bisa masuk. Lalu kami mendengar tangisannya dari ruangan dalam.

Mereka berkata, “Berilah wasiat, tunjuklah penggantimu, wahai amirulmukminin!”

‘Umar berkata, “Aku tidak mendapati orang yang lebih berhak untuk urusan ini kecuali beberapa orang yang diridai oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau wafat.”

Lalu ‘Umar menyebut nama ‘Ali, ‘Utsman, Az-Zubair, Thalhah, Sa’d, dan ‘Abdurrahman. ‘Umar berkata, “‘Abdullah bin ‘Umar yang akan menjadi saksi untuk kalian namun dia tidak berhak dalam urusan kepemimpinan sedikitpun—sebagai bentuk penghiburan untuk Ibnu ‘Umar—. Jika kepemimpinan nanti jatuh kepada Sa’d, maka dia memang ahlinya, namun jika tidak, maka siapapun dari kalian yang menjadi pemimpin hendaknya meminta bantuan kepada Sa’d, karena aku tidak melengserkannya karena tidak mampu, tidak pula karena pengkhianatan.”

وَقَالَ: أُوصِي الۡخَلِيفَةَ مِنۡ بَعۡدِي، بِالۡمُهَاجِرِينَ الۡأَوَّلِينَ، أَنۡ يَعۡرِفَ لَهُمۡ حَقَّهُمۡ، وَيَحۡفَظَ لَهُمۡ حُرۡمَتَهُمۡ، وَأُوصِيهِ بِالۡأَنۡصَارِ خَيۡرًا، الَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالۡإِيمَانَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ، أَنۡ يُقۡبَلَ مِنۡ مُحۡسِنِهِمۡ، وَأَنۡ يُعۡفَى عَنۡ مُسِيئِهِمۡ، وَأُوصِيهِ بِأَهۡلِ الۡأَمۡصَارِ خَيۡرًا، فَإِنَّهُمۡ رِدۡءُ الۡإِسۡلَامِ، وَجُبَاةُ الۡمَالِ، وَغَيۡظُ الۡعَدُوِّ، وَأَنۡ لَا يُؤۡخَذَ مِنۡهُمۡ إِلَّا فَضۡلُهُمۡ عَنۡ رِضَاهُمۡ. وَأُوصِيهِ بِالۡأَعۡرَابِ خَيۡرًا، فَإِنَّهُمۡ أَصۡلُ الۡعَرَبِ، وَمَادَّةُ الۡإِسۡلَامِ، أَنۡ يُؤۡخَذَ مِنۡ حَوَاشِي أَمۡوَالِهِمۡ، وَتُرَدَّ عَلَى فُقَرَائِهِمۡ، وَأُوصِيهِ بِذِمَّةِ اللهِ تَعَالَى، وَذِمَّةِ رَسُولِهِ ﷺ أَنۡ يُوفَى لَهُمۡ بِعَهۡدِهِمۡ، وَأَنۡ يُقَاتَلَ مِنۡ وَرَائِهِمۡ، وَلَا يُكَلَّفُوا إِلَّا طَاقَتَهُمۡ.

‘Umar berkata, “Aku mewasiatkan khalifah sepeninggalku dengan kaum muhajirin yang awal, agar dia mengetahui hak mereka dan agar dia menjaga kehormatan mereka. Aku juga mewasiatkan dia agar berbuat baik dengan orang-orang Ansar, yaitu orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum mereka, agar dia menerima kebaikan dari orang Ansar yang berbuat baik dan memaafkan kejelekan dari orang Ansar yang berbuat jelek. Aku mewasiatkannya agar berbuat baik dengan penduduk negeri (kaum muslimin), karena mereka menolong Islam, mengumpulkan harta, dan menjengkelkan musuh, serta agar tidak mengambil harta dari mereka kecuali kelebihan harta mereka dengan keridaan mereka. Aku mewasiatkannya agar berbuat baik dengan orang-orang badui Arab karena mereka adalah asal-usul bangsa Arab dan komponen agama Islam, yaitu agar harta yang diambil adalah bukan dari harta berharga mereka lalu harta tersebut dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. Aku juga mewasiatkan dia dengan ahli kitab yang berada di bawah perjanjian Allah taala dan perjanjian Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—agar menepati perjanjian dengan mereka, agar berperang melindungi mereka, dan agar mereka tidak dibebani melebihi kemampuan mereka.”

فَلَمَّا قُبِضَ خَرَجۡنَا بِهِ، فَانۡطَلَقۡنَا نَمۡشِي، فَسَلَّمَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ قَالَ: يَسۡتَأۡذِنُ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ، قَالَتۡ: أَدۡخِلُوهُ، فَأُدۡخِلَ، فَوُضِعَ هُنَالِكَ مَعَ صَاحِبَيۡهِ، فَلَمَّا فُرِغَ مِنۡ دَفۡنِهِ اجۡتَمَعَ هَؤُلَاءِ الرَّهۡطُ، فَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: اجۡعَلُوا أَمۡرَكُمۡ إِلَى ثَلَاثَةٍ مِنۡكُمۡ، فَقَالَ الزُّبَيۡرُ: قَدۡ جَعَلۡتُ أَمۡرِي إِلَى عَلِيٍّ، فَقَالَ طَلۡحَةُ: قَدۡ جَعَلۡتُ أَمۡرِي إِلَى عُثۡمَانَ، وَقَالَ سَعۡدٌ: قَدۡ جَعَلۡتُ أَمۡرِي إِلَى عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ،

Ketika ‘Umar wafat, kami mengeluarkan jenazahnya. Kami pergi dengan berjalan. Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar mengucapkan salam seraya berkata, “‘Umar bin Al-Khaththab meminta izin.”

‘Aisyah berkata, “Masukkan dia!”

Jenazah ‘Umar dibawa masuk lalu diletakkan di sana bersama dua sahabatnya. Ketika penguburan ‘Umar selesai, beberapa sahabat (yang disebut oleh ‘Umar) mengadakan pertemuan.

‘Abdurrahman berkata, “Serahkan urusan kalian kepada tiga orang dari kalian!”

Az-Zubair berkata, “Aku serahkan urusanku kepada ‘Ali.”

Thalhah berkata, “Aku serahkan urusanku kepada ‘Utsman.”

Sa’d berkata, “Aku serahkan urusanku kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf.”

فَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: أَيُّكُمَا تَبَرَّأَ مِنۡ هٰذَا الۡأَمۡرِ، فَنَجۡعَلُهُ إِلَيۡهِ وَاللهُ عَلَيۡهِ وَالۡإِسۡلَامُ، لَيَنۡظُرَنَّ أَفۡضَلَهُمۡ فِي نَفۡسِهِ؟ فَأُسۡكِتَ الشَّيۡخَانِ، فَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: أَفَتَجۡعَلُونَهُ إِلَيَّ وَاللهُ عَلَيَّ أَنۡ لَا آلُوَ عَنۡ أَفۡضَلِكُمۡ؟ قَالَا: نَعَمۡ، فَأَخَذَ بِيَدِ أَحَدِهِمَا فَقَالَ: لَكَ قَرَابَةٌ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَالۡقَدَمُ فِي الۡإِسۡلَامِ مَا قَدۡ عَلِمۡتَ، فَاللهُ عَلَيۡكَ لَئِنۡ أَمَّرۡتُكَ لَتَعۡدِلَنَّ وَلَئِنۡ أَمَّرۡتُ عُثۡمَانَ لَتَسۡمَعَنَّ وَلَتُطِيعَنَّ، ثُمَّ خَلَا بِالۡآخَرِ فَقَالَ لَهُ مِثۡلَ ذٰلِكَ، فَلَمَّا أَخَذَ الۡمِيثَاقَ قَالَ: ارۡفَعۡ يَدَكَ يَا عُثۡمَانُ، فَبَايَعَهُ، فَبَايَعَ لَهُ عَلِيٌّ، وَوَلَجَ أَهۡلُ الدَّارِ فَبَايَعُوهُ. [طرفه في: ١٣٩٢].

‘Abdurrahman berkata, “Siapa dari kalian berdua (‘Ali dan ‘Utsman) yang berlepas diri dari urusan ini lalu kita serahkan urusan pemilihan pemimpin ini kepadanya? Allah yang akan mengawasinya dan (begitu pula) Islam. Supaya dia mempertimbangkan dalam hatinya siapa orang yang paling utama dari mereka.”

Keduanya (‘Ali dan ‘Utsman) terdiam. Lalu ‘Abdurrahman berkata, “Apakah kalian menyerahkannya kepadaku dan Allah yang mengawasiku agar aku tidak keliru dalam menentukan yang paling utama dari kalian?”

Keduanya menjawab, “Iya.”

‘Abdurrahman menyendiri dengan salah seorang dari mereka berdua lalu berkata, “Engkau memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan sumbangsih untuk Islam yang telah engkau ketahui. Allah yang mengawasimu, jika aku memilihmu sebagai pemimpin, maka engkau harus berbuat adil, dan jika aku memilih ‘Utsman sebagai pemimpin, maka engkau harus mendengar dan taat.”

Kemudian ‘Abdurrahman menyendiri dengan seorang yang lain lalu mengatakan ucapan semisal itu. Ketika ‘Abdurrahman telah mengambil janji, beliau berkata, “Angkat tanganmu, wahai ‘Utsman!”

Lalu ‘Abdurrahman berbaiat kepadanya, lalu ‘Ali berbaiat kepadanya, dan penduduk Madinah masuk lalu berbaiat kepadanya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4888

٤ - بَابُ ﴿وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالۡإِيمَانَ﴾ ۝٩
4. Bab “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman” (QS Al-Hasyr: 9)


٤٨٨٨ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرٍ، عَنۡ حُصَيۡنٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مَيۡمُونٍ قَالَ: قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أُوصِي الۡخَلِيفَةَ بِالۡمُهَاجِرِينَ الۡأَوَّلِينَ: أَنۡ يَعۡرِفَ لَهُمۡ حَقَّهُمۡ، وَأُوصِي الۡخَلِيفَةَ بِالۡأَنۡصَارِ، الَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالۡإِيمَانَ مِنۡ قَبۡلِ أَنۡ يُهَاجِرَ النَّبِيُّ ﷺ: أَنۡ يَقۡبَلَ مِنۡ مُحۡسِنِهِمۡ وَيَعۡفُوَ عَنۡ مُسِيئِهِمۡ. [طرفه في: ١٣٩٢].

4888. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Abu Bakr menceritakan kepada kami dari Hushain, dari ‘Amr bin Maimun. Beliau berkata: ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—mengatakan, “Aku mewasiatkan khalifah (setelahku) dengan kaum muhajirin yang awal, agar dia mengetahui hak mereka. Aku juga mewasiatkan dia dengan orang-orang Ansar, yaitu orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berhijrah, agar dia menerima kebaikan dari orang Ansar yang berbuat baik dan memaafkan kejelekan dari orang Ansar yang berbuat jelek.”

Shahih Muslim hadis nomor 2382

٢ - (٢٣٨٢) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ جَعۡفَرِ بۡنِ يَحۡيَىٰ بۡنِ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا مَعۡنٌ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي النَّضۡرِ، عَنۡ عُبَيۡدِ بۡنِ حُنَيۡنٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ جَلَسَ عَلَى الۡمِنۡبَرِ فَقَالَ: (عَبۡدٌ خَيَّرَهُ اللهُ بَيۡنَ أَنۡ يُؤۡتِيَهُ زَهۡرَةَ الدُّنۡيَا وَبَيۡنَ مَا عِنۡدَهُ. فَاخۡتَارَ مَا عِنۡدَهُ). فَبَكَىٰ أَبُو بَكۡرٍ، وَبَكَىٰ. فَقَالَ: فَدَيۡنَاكَ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا. قَالَ: فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ هُوَ الۡمُخَيَّرُ. وَكَانَ أَبُو بَكۡرٍ أَعۡلَمَنَا بِهِ.

وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي مَالِهِ وَصُحۡبَتِهِ أَبُو بَكۡرٍ، وَلَوۡ كُنۡتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذۡتُ أَبَا بَكۡرٍ خَلِيلًا، وَلَٰكِنۡ أُخُوَّةُ الۡإِسۡلَامِ. لَا تُبۡقَيَنَّ فِي الۡمَسۡجِدِ خَوۡخَةٌ إِلَّا خَوۡخَةَ أَبِي بَكۡرٍ).


2. (2382). ‘Abdullah bin Ja’far bin Yahya bin Khalid telah menceritakan kepada kami: Ma’n menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Abu An-Nadhr, dari ‘Ubaid bin Hunain, dari Abu Sa’id:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—duduk di mimbar lalu bersabda, “Ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah antara Allah berikan bunga perhiasan dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Lalu si hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya.”

Abu Bakr menangis dan menangis, lalu berkata, “Kami tebus engkau dengan ayah-ayah dan ibu-ibu kami.”

Abu Sa’id berkata: Ternyata, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lah hamba yang diberi pilihan itu dan ternyata Abu Bakr adalah orang yang paling berilmu tentangnya di antara kami.

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling berjasa bagiku dalam hartanya dan persahabatannya adalah Abu Bakr. Andai aku boleh menjadikan seorang khalil (teman yang sangat dicintai) dari umatku, niscaya aku jadikan Abu Bakr orangnya. Akan tetapi yang lebih baik adalah persaudaraan Islam. Jangan biarkan satu pintu pun di dalam masjid ini (terbuka) kecuali pintu Abu Bakr!”

(...) - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ: حَدَّثَنَا فُلَيۡحُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ سَالِمٍ، أَبِي النَّضۡرِ، عَنۡ عُبَيۡدِ بۡنِ حُنَيۡنٍ وَبُسۡرِ بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ. قَالَ: خَطَبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ النَّاسَ يَوۡمًا... بِمِثۡلِ حَدِيثِ مَالِكٍ.

Sa’id bin Manshur telah menceritakan kepada kami: Fulaih bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Salim Abu An-Nadhr, dari ‘Ubaid bin Hunain dan Busr bin Sa’id, dari Abu Sa’id Al-Khudri. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkhotbah kepada manusia pada suatu hari… Semisal hadis Malik.

Al-Isti'ab - 2695. An-Nawwas bin Sam’an

٢٦٩٥ - [النواس بن سمعان الكلابي]:
2695. An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi


النواس بن سمعان بن خالد بن عبد الله بن أبى بكر بن كلاب بن ربيعة الكلابي. معدود في الشاميين؛ يقال: إن أباه سمعان بن خالد وفد على النبي ﷺ فدعا له رسول الله ﷺ، وأعطاه نعليه، فقبلهما رسول الله ﷺ وزوجه أخته. فلما دخلت على النبي ﷺ تعوذت منه فتركها وهي الكلابية، روى عن النواس بن سمعان جبير بن نفير، ونفير بن عبد الله، وجماعة.

An-Nawwas bin Sam’an bin Khalid bin ‘Abdullah bin Abu Bakr bin Kilab bin Rabi’ah al-Kilabi. Ia termasuk orang-orang Syam.

Diriwayatkan bahwa ayahnya, Sam’an bin Khalid, datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendoakannya. Sam’an memberi beliau sandal, yang diterima oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Sam’an menikahkan saudara perempuannya dengan Rasulullah. Ketika saudara perempuannya masuk menemui Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, ia meminta perlindungan dari beliau, sehingga beliau meninggalkannya. Ia berasal dari suku Kilab.

Para perawi dari An-Nawwas bin Sam’an antara lain Jubair bin Nufair, Nufair bin ‘Abdullah, dan beberapa orang lainnya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3162

٣ - بَابُ الۡوَصَاةِ بِأَهۡلِ ذِمَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ
3. Bab Wasiat dengan Orang-Orang Kafir Zimi yang Dijamin oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam


وَالذِّمَّةُ: الۡعَهۡدُ، وَالۡإِلُّ: الۡقَرَابَةُ.

Adz-Dzimmah adalah janji dan Al-Ill adalah kerabat.

٣١٦٢ - حَدَّثَنَا آدَمُ بۡنُ أَبِي إِيَاسٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: حَدَّثَنَا أَبُو جَمۡرَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ جُوَيۡرِيَةَ بۡنَ قُدَامَةَ التَّمِيمِيَّ قَالَ: سَمِعۡتُ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، قُلۡنَا: أَوۡصِنَا يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ، قَالَ: أُوصِيكُمۡ بِذِمَّةِ اللهِ، فَإِنَّهُ ذِمَّةُ نَبِيِّكُمۡ، وَرِزۡقُ عِيَالِكُمۡ. [طرفه في: ١٣٩٢].

3162. Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: Abu Jamrah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Juwairiyah bin Qudamah At-Tamimi berkata: Aku mendengar ‘Umar bin Al-Khaththab—radhiyallahu ‘anhu—.

Kami berkata, “Berilah wasiat kepada kami, wahai amirulmukminin!”

Beliau berkata, “Aku mewasiatkan kalian dengan perjanjian Allah (tentang orang-orang kafir zimi), karena dia adalah perjanjian Nabi kalian dan sumber rezeki keluarga kalian.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2760

١٩ – بَابُ مَا يُسۡتَحَبُّ لِمَنۡ يُتَوَفَّى فَجۡأَةً أَنۡ يَتَصَدَّقُوا عَنۡهُ وَقَضَاءِ النُّذُورِ عَنِ الۡمَيِّتِ
19. Bab Hal yang Disukai bagi Orang yang Mendadak Meninggal adalah Keluarganya Bersedekah atas Namanya dan Menunaikan Nazar atas Nama Orang yang Meninggal


٢٧٦٠ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: إِنَّ أُمِّي افۡتُلِتَتۡ نَفۡسَهَا، وَأُرَاهَا لَوۡ تَكَلَّمَتۡ تَصَدَّقَتۡ، أَفَأَتَصَدَّقُ عَنۡهَا؟ قَالَ: (نَعَمۡ، تَصَدَّقۡ عَنۡهَا). [طرفه في: ١٣٨٨].

2760. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—:

Seorang pria berkata kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Sesungguhnya ibuku meninggal mendadak dan aku menduga apabila ibuku sempat berbicara, niscaya dia akan bersedekah. Bolehkah aku bersedekah atas namanya?”

Nabi berkata, “Iya. Bersedekahlah atas namanya!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6597 dan 6598

٣ - بَابٌ اللهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ
3. Bab Allah Lebih Mengetahui dengan Apa yang Akan Mereka Amalkan


٦٥٩٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَبِي بِشۡرٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنۡ أَوۡلَادِ الۡمُشۡرِكِينَ، فَقَالَ: (اللهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ). [طرفه في: ١٣٨٣].

6597. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau berkata:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang anak-anak kaum musyrikin lalu beliau bersabda, “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka amalkan.”

٦٥٩٨ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ يُونُسَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: وَأَخۡبَرَنِي عَطَاءُ بۡنُ يَزِيدَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنۡ ذَرَارِيِّ الۡمُشۡرِكِينَ، فَقَالَ: (اللهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ). [طرفه في: ١٣٨٤].

6598. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: ‘Atha` bin Yazid mengabarkan kepadaku bahwa beliau mendengar Abu Hurairah berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang keturunan orang-orang musyrikin lalu beliau berkata, “Allah lebih mengetahui tentang amalan yang akan mereka kerjakan.”

Tafsir Surah At-Takasur

تفسير سورة ألهاكم التكاثر
Tafsir Surah At-Takasur


وهي مكية

Surah ini makiyah.


﴿أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ * حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ * كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ * ثُمَّ كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ * كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ * لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ * ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ * ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ﴾‏.

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  1. Berbangga dengan banyaknya jumlah telah melalaikan kalian,
  2. sampai kalian telah mengunjungi kuburan
  3. Janganlah begitu! Kalian kelak mengetahui.
  4. Kemudian janganlah begitu! Kalian kelak mengetahui.
  5. Janganlah begitu! Andai kalian mengetahui dengan penglihatan yang meyakinkan,
  6. niscaya kalian akan melihat neraka Jahim,
  7. kemudian kalian akan melihatnya dengan penglihatan yang yakin,
  8. kemudian kalian pasti akan ditanya tentang kenikmatan.

۝١ يقول تعالى موبخًا عباده عن اشتغالهم عما خلقوا له من عبادته وحده لا شريك له، ومعرفته والإنابة إليه، وتقديم محبته على كل شيء:

Allah taala berfirman menegur hamba-hamba-Nya karena terlalu sibuk (sampai lalai) dari tujuan mereka diciptakan, yaitu beribadah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, mengenal-Nya, bertobat kepada-Nya, dan mengutamakan cinta kepada-Nya di atas segala sesuatu.

﴿أَلۡهَىٰكُمُ﴾ عن ذلك المذكور ﴿ٱلتَّكَاثُرُ﴾ ولم يذكر المتكاثر به ليشمل ذلك كل ما يتكاثر به المتكاثرون، ويفتخر به المفتخرون، من التكاثر في الأموال، والأولاد، والأنصار، والجنود، والخدم، والجاه، وغير ذلك مما يقصد منه مكاثرة كل واحد للآخر، وليس المقصود به الإخلاص لله تعالى.

“Berbangga-bangga dengan banyaknya jumlah telah melalaikan kalian” dari apa yang disebutkan. Allah tidak menyebutkan hal yang dibanggakan agar mencakup segala sesuatu yang dibanggakan banyaknya oleh manusia, seperti harta, anak, pendukung, tentara, pelayan, kedudukan, dan hal-hal lain yang diniatkan untuk membanggakan jumlahnya di hadapan orang lain dan tidak dimaksudkan untuk ikhlas kepada Allah taala.

۝٢ فاستمرت غفلتكم ولهوتكم [وتشاغلكم] ﴿حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ﴾ فانكشف لكم حينئذ الغطاء، ولكن بعد ما تعذر عليكم استئنافه.

Kelalaian, permainan, dan kesibukan kalian berlanjut “sampai kalian mengunjungi (masuk ke dalam) kubur”. Di saat itu tabir (kehidupan akhirat) disingkap untukmu, akan tetapi engkau sudah tidak bisa untuk kembali (hidup sekali lagi).

ودل قوله: ﴿ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ﴾ أن البرزخ دار مقصود منها النفوذ إلى الدار الباقية، لأن الله سماهم زائرين ولم يسمهم مقيمين.

Firman Allah, “Sampai kalian mengunjungi kuburan,” menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk menuju ke tempat tinggal abadi. Juga bahwa Allah menyebut mereka pengunjung dan tidak menyebut mereka penduduk.

فدل ذلك على البعث والجزاء بالأعمال، في دار باقية غير فانية، ولهذا توعدهم بقوله:

Ayat ini menandakan adanya kebangkitan dan pahala atas amal di tempat yang kekal yang tidak fana. Karena itulah Allah mengancam mereka dengan firman-Nya,

۝٣-۝٥ ﴿كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ * ثُمَّ كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ * كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ﴾ أي: لو تعلمون ما أمامكم علمًا يصل إلى القلوب، لما ألهاكم التكاثر ولبادرتم إلى الأعمال الصالحة. ولكن عدم العلم الحقيقي صيركم إلى ما ترون.

“Janganlah begitu! Kalian kelak mengetahui. Kemudian janganlah begitu! Kalian kelak mengetahui. Janganlah begitu! Andai kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin," Artinya: seandainya kalian mengetahui apa yang ada di hadapan kalian dengan ilmu yang sampai ke hati, niscaya kalian tidak akan terlalaikan untuk berbangga dengan banyaknya jumlah dan kalian akan bersegera untuk beramal saleh. Tetapi ketiadaan ilmu yang benar telah membawa kalian kepada apa yang kalian lihat.

۝٦ ﴿لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ﴾ أي: لتردن القيامة فلترون الجحيم التي أعدها الله للكافرين.

“Kalian pasti akan melihat neraka Jahim”, yakni: kalian akan mendatangi hari kiamat dan kalian akan melihat neraka Jahim yang telah disediakan Allah untuk orang-orang kafir.

۝٧ ﴿ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ﴾ أي: رؤية بصرية، كما قال تعالى: ﴿وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُوا۟ عَنۡهَا مَصۡرِفًا﴾.

“Kemudian kalian pasti akan melihatnya dengan ‘ain al-yaqin.” Yaitu: penglihatan mata, sebagaimana Allah taala berfirman, “Dan orang-orang yang berdosa akan melihat neraka dan mereka yakin bahwa mereka akan terjerumus ke dalamnya, dan mereka tidak akan menemukan jalan keluar darinya.”

۝٨ ﴿ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ﴾ الذي تنعمتم به في دار الدنيا، هل قمتم بشكره وأديتم حق الله فيه ولم تستعينوا به على معاصيه؟ فينعمكم نعيمًا أعلى منه وأفضل.

“Kemudian sesungguhnya kalian akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan” yang telah kalian nikmati di dunia. Sudahkah kalian bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut, memenuhi hak-hak-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya, agar Dia memberi kalian dengan nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik?

أم اغتررتم به ولم تقوموا بشكره؟ بل ربما استعنتم به على معاصي الله؟ فيعاقبكم على ذلك، قال تعالى: ﴿وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِى حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ﴾ الآية.

Atau apakah kalian tertipu olehnya dan tidak mensyukurinya? Mungkin kalian malah memanfaatkannya untuk berbuat dosa terhadap Allah, sehingga Dia akan menghukum kalian karenanya. Allah taala berfirman, “Dan pada hari orang-orang kafir dihadapkan ke dalam neraka, (akan dikatakan), ‘Kalian telah menghabiskan rezeki-rezeki kalian yang baik dalam kehidupan dunia dan kalian telah menikmatinya, maka pada hari ini kalian akan dibalas dengan azab yang menghinakan…”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3255

٣٢٥٥ - حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مِنۡهَالٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: عَدِيُّ بۡنُ ثَابِتٍ أَخۡبَرَنِي قَالَ: سَمِعۡتُ الۡبَرَاءَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: لَمَّا مَاتَ إِبۡرَاهِيمُ قَالَ: (إِنَّ لَهُ مُرۡضِعًا فِي الۡجَنَّةِ). [طرفه في: ١٣٨٢].

3255. Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Adi bin Tsabit mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar Al-Bara`—radhiyallahu ‘anhu—dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Al-Bara` berkata: Ketika Ibrahim (putra Nabi Muhammad) meninggal, Nabi berkata, “Sesungguhnya ada yang menyusuinya di dalam janah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3240

٨ - بَابُ مَا جَاءَ فِي صِفَةِ الۡجَنَّةِ وَأَنَّهَا مَخۡلُوقَةٌ
8. Bab Riwayat tentang Sifat Janah dan bahwa Janah Sudah Diciptakan


قَالَ أَبُو الۡعَالِيَةِ: ﴿مُطَهَّرَةٌ﴾ مِنَ الۡحَيۡضِ وَالۡبَوۡلِ وَالۡبُزَاقِ، ﴿كُلَّمَا رُزِقُوا﴾ أُتُوا بِشَيۡءٍ، ثُمَّ أُتُوا بِآخَرَ. ﴿قَالُوا هٰذَا الَّذِي رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ﴾ أُتِينَا مِنۡ قَبۡلُ ﴿وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا﴾ [البقرة: ٢٥]: يُشۡبِهُ بَعۡضُهُ بَعۡضًا وَيَخۡتَلِفُ فِي الطُّعُومِ

Abu Al-‘Aliyah berkata: “muṭahharah (suci)” dari haid, kencing, dan liur.

Kullamā ruziqū (setiap kali mereka diberi rezeki” artinya: mereka diberi suatu rezeki kemudian diberi rezeki yang lain. “Mereka berkata: Inilah yang ruziqnā min qabl” artinya: pernah diberikan kepada kami dahulu. “Mereka diberikan yang serupa” (QS Al-Baqarah: 25) artinya sebagiannya menyerupai sebagian yang lain namun rasanya berbeda.

﴿قُطُوفُهَا﴾ يَقۡطِفُونَ كَيۡفَ شَاؤُوا ﴿دَانِيَةٌ﴾ [الحاقة: ٢٣]: قَرِيبَةٌ. ﴿الۡأَرَائِكُ﴾ [الكهف: ٣١]: السُّرُرُ.

Quṭūfuhā” artinya mereka memetik dengan semau mereka. “Dāniyah” (QS Al-Haqqah: 23) artinya dekat.

Al-Arā’ik” (QS Al-Kahfi: 31) artinya dipan-dipan.

وَقَالَ الۡحَسَنُ: النَّضۡرَةُ فِي الۡوُجُوهِ، وَالسُّرُورُ فِي الۡقَلۡبِ.

Al-Hasan berkata: an-naḍrah (keceriaan) di wajah dan as-surūr (kegembiraan) di hati.

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: ﴿سَلۡسَبِيلًا﴾ [الإنسان: ١٨]: حَدِيدَةُ الۡجِرۡيَةِ

Mujahid berkata: “salsabīlā” (QS Al-Insan: 18) artinya adalah sungai yang mengalir deras.

﴿غَوۡلٌ﴾ وَجَعُ الۡبَطۡنِ ﴿يُنۡزَفُونَ﴾ [الصافات: ٤٧] لَا تَذۡهَبُ عُقُولُهُمۡ.

Gaul” artinya penyakit perut. “Yunzafūn” (QS Ash-Saffat: 47) artinya akal-akal mereka tidak hilang.

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿دِهَاقًا﴾ [النبأ: ٣٤] مُمۡتَلِئًا. ﴿كَوَاعِبَ﴾ [النبأ: ٣٣] نَوَاهِدَ.

Ibnu ‘Abbas berkata: “dihāqā” (QS An-Naba: 34) artinya penuh. “Kawā‘ib” (QS An-Naba: 33) artinya wanita-wanita yang berpayudara montok.

الرَّحِيقُ: الۡخَمۡرُ. التَّسۡنِيمُ: يَعۡلُو شَرَابَ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ ﴿خِتَامُهُ﴾ طِينُهُ ﴿مِسۡكٌ﴾ [المطففين: ٢٦].

Ar-Raḥīq adalah khamar. At-Tasnīm adalah sesuatu yang berada di atas minuman penghuni janah. “Khitāmuh” artinya tanahnya adalah “misk (kesturi).” (QS Al-Mutaffifin: 26).

﴿نَضَّاخَتَانِ﴾ [الرحمن: ٦٦] فَيَّاضَتَانِ. يُقَالُ ﴿مَوۡضُونَةٌ﴾ [الواقعة: ١٥] مَنۡسُوجَةٌ، مِنۡهُ وَضِينُ النَّاقَةِ وَالۡكُوبُ: مَا لَا أُذُنَ لَهُ وَلَا عُرۡوَةَ، وَالۡأَبَارِيقُ: ذَوَاتُ الۡآذَانِ وَالۡعُرَا.

Naḍḍākhatān” (QS Ar-Rahman: 66) artinya banyak airnya. Ada yang berkata “mauḍūnah” (QS Al-Waqi’ah: 15) artinya ditenun. Waḍīn an-nāqah (sabuk pelana unta) berasal dari kata tersebut.

Al-Kūb adalah gelas yang tidak mempunyai telinga dan pegangan, sedangkan al-abārīq mempunyai telinga dan pegangan.

﴿عُرُبًا﴾ [الواقعة: ٣٧] مُثَقَّلَةً، وَاحِدُهَا عَرُوبٌ، مِثۡلُ صَبُورٍ وَصُبُرٍ، يُسَمِّيهَا أَهۡلُ مَكَّةَ: الۡعَرِبَةَ، وَأَهۡلُ الۡمَدِينَةِ: الۡغَنِجَةَ، وَأَهۡلُ الۡعِرَاقِ الشَّكِلَةَ.

‘Urubā” (QS Al-Waqi’ah: 37) dengan huruf ra diberi harakat damah. Bentuk tunggalnya adalah ‘arūb, seperti pola kata ṣabūr dan ṣubur. Penduduk Makkah menyebut wanita yang baik terhadap suaminya dengan istilah al-‘aribah, sedangkan penduduk Madinah menyebutnya al-ganijah, sedangkan penduduk Irak menyebutkan asy-syakilah.

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: ﴿رَوۡحٌ﴾ [الواقعة: ٨٩] جَنَّةٌ وَرَخَاءٌ، وَالرَّيۡحَانُ: الرِّزۡقُ. وَالۡمَنۡضُودُ: الۡمَوۡزُ. وَالۡمَخۡضُودُ: الۡمُوقَرُ حَمۡلًا، وَيُقَالُ أَيۡضًا: لَا شَوۡكَ لَهُ. وَالۡعُرُبُ: الۡمُحَبَّبَاتُ إِلَى أَزۡوَاجِهِنَّ. وَيُقَالُ: ﴿مَسۡكُوبٌ﴾ [الواقعة: ٣١] جَارٍ. ﴿وَفُرُشٍ مَرۡفُوعَةٍ﴾ [الواقعة: ٣٤] بَعۡضُهَا فَوۡقَ بَعۡضٍ.

Mujahid berkata, “Rauḥ” (QS Al-Waqi’ah: 89) artinya janah dan ketenangan. Ar-Raiḥān artinya rezeki.

Al-Manḍūd artinya pisang. Al-Makhḍūd artinya banyak buahnya; ada pula yang mengatakan: tidak berduri. Al-‘Urub adalah wanita-wanita yang dicintai oleh suaminya. Ada yang mengatakan “maskūb” (QS Al-Waqi’ah: 31) artinya yang mengalir. “Wa furusyin marfū‘ah” (QS Al-Waqi’ah: 34) sebagiannya di atas sebagian yang lain.

﴿لَغۡوًا﴾ بَاطِلًا ﴿تَأۡثِيمًا﴾ [الواقعة: ٢٥] كَذِبًا.

Lagwā” artinya batil, “ta’ṡīmā” (QS Al-Waqi’ah: 25) artinya kebohongan.

﴿أَفۡنَانٌ﴾ [الرحمن: ٤٨] أَغۡصَانٌ. ﴿وَجَنَى الۡجَنَّتَيۡنِ دَانٍ﴾ [الرحمن: ٥٤] مَا يُجۡتَنَى قَرِيبٌ ﴿مُدۡهَامَّتَانِ﴾ [الرحمن: ٦٤] سَوۡدَاوَانِ مِنَ الرِّيِّ.

Afnān” (QS Ar-Rahman: 48) artinya dahan-dahan. “Wa janal-jannataini dān” (QS Ar-Rahman: 54) segala yang dipetik dekat. “Mudhāmmatān” (QS Ar-Rahman: 64) berwarna hijau tua karena pengairan yang bagus.

٣٢٤٠ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمۡ، فَإِنَّهُ يُعۡرَضُ عَلَيۡهِ مَقۡعَدُهُ بِالۡغَدَاةِ وَالۡعَشِيِّ، فَإِنۡ كَانَ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ فَمِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ، وَإِنۡ كَانَ مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ فَمِنۡ أَهۡلِ النَّارِ). [طرفه في: ١٣٧٩].

3240. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Al-Laits bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian meninggal, tempat duduknya (di akhirat) diperlihatkan di waktu pagi dan sore. Jika dia termasuk penghuni janah, maka (diperlihatkan tempat duduk) dari penghuni janah. Jika dia termasuk penghuni neraka, maka (diperlihatkan tempat duduk) dari penghuni neraka.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4026

٤٠٢٦ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡمُنۡذِرِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ فُلَيۡحِ بۡنِ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ مُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: هٰذِهِ مَغَازِي رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَذَكَرَ الۡحَدِيثَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ يُلۡقِيهِمۡ: (هَلۡ وَجَدۡتُمۡ مَا وَعَدَكُمۡ رَبُّكُمۡ حَقًّا؟).

قَالَ مُوسَى: قَالَ نَافِعٌ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ: قَالَ نَاسٌ مِنۡ أَصۡحَابِهِ: يَا رَسُولَ اللهِ، تُنَادِي نَاسًا أَمۡوَاتًا؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا أَنۡتُمۡ بِأَسۡمَعَ لِمَا قُلۡتُ مِنۡهُمۡ).

قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: فَجَمِيعُ مَنۡ شَهِدَ بَدۡرًا مِنۡ قُرَيۡشٍ، مِمَّنۡ ضُرِبَ لَهُ بِسَهۡمِهِ، أَحَدٌ وَثَمَانُونَ رَجُلًا، وَكَانَ عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ يَقُولُ: قَالَ الزُّبَيۡرُ: قُسِمَتۡ سُهۡمَانُهُمۡ فَكَانُوا مِائَةً، وَاللهُ أَعۡلَمُ. [طرفه في: ١٣٧٠].

4026. Ibrahim bin Al-Mundzir telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Fulaih bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Musa bin ‘Uqbah, dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Ini adalah peperangan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu beliau menyebutkan hadis berikut. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata ketika melemparkan mayat orang-orang kafir (ke dalam sumur), “Apakah kalian mendapatkan apa yang dahulu dijanjikan oleh tuhan kalian terbukti?”

Musa berkata: Nafi’ berkata: ‘Abdullah berkata:

Beberapa orang dari sahabat beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau menyeru orang-orang yang sudah mati?”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjawab, “Tidaklah kalian lebih mendengar ucapanku daripada mereka.”

Abu ‘Abdullah berkata: Keseluruhan orang Quraisy yang mengikuti perang Badr yang mendapat jatah ganimah ada delapan puluh satu orang. ‘Urwah bin Az-Zubair pernah berkata: Az-Zubair berkata: Jatah mereka dibagi dan mereka waktu itu berjumlah seratus. Wallahualam.